TV-TurnOff Week 2005

TV-TurnOff Week 2005

It’s time to fight back. For TV-Turnoff 2005 we’ve teamed up with the good folks at TV-B-Gone, makers of a pint-size remote control that shuts off any television, anywhere. You’re in an airport, classroom, bank or bar and want to silence the idiot box? No problemo.

In a few weeks, JammerGroups all over the world will start reclaiming public space with this ingenious device. You can organize with others in your area by joining your city’s JammerGroup . Share ideas and plans at the TV-Turnoff forum . And get your own TV-B-Gone at cost ($10US plus shipping).

TV-Turnoff week is a statement against dead-end couch culture. And it’s about cleaning up the mental environment. Like our oceans and air, our shared mindscape is littered with pollutants — distorted news, manipulative ads, violence and top-down culture.

The goal is simple. With a seven day tube-fast we shake up routines and get people questioning the role of TV in their lives.

Let’s get started.

Join Jakarta Jammers Groups

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Melampaui Ilusi Protes Kenaikan BBM

Protes terhadap kenaikan BBM, jika memang hanya sebatas pada penolakkanterhadap kenaikan BBM, hanya akan berhasil menaikkan profil daneksistensi kelompok-kelompok oposisi formal – segelintir anggota DPR,organ-organ kampus reformis dan beragam jenis oposisi legal lainnya.Protes-protes ini hanya bergerak pada suatu siklus protes yang bersifatrutin, dimana setelah terjadi gelombang protes yang reaksioner terhadapkeputusan pemerintah, gelombang protes akan kebingungan mencari isu-isulain – dan kemudian akan berujung pada protes-protes lain yang seluruhnyabersifat reaktif. Dan di akhir setiap gelombang aksi, kondisi berada padatitik awal tersebut lagi, tidak ada suatu arah menuju titik yangmenawarkan lepas landas menuju suatu kondisi yang baru atau setidaknyamelalui proses dan tahapan yang tidak absurd.
Kenaikan BBM hanya merupakan suatu gejala dari pemiskinan ekonomi secarakeseluruhan. Tentunya kita mengetahui bahwa keputusan seperti ini hanyamerupakan suatu konsekwensi logis dari suatu bentuk pemutusan kebijakanyang didominasi segelintir orang.
Aku ingin mencoba untuk memulai suatu diskusi tentang perspektif antiotoritarian – secara strategis dan taktis menghadapi isu-isu yang akupikir adalah “high profile politic”. Sebagai isu popular, kenaikan BBMmemunculkan gejolak sosial yang sedikit banyak menunjukkan ketidak-puasansebenarnya orang-orang pada banyak hal (kenaikan BBM hanya menjadi suatuisu di permukaan). Jujur saja aku harus mengatakan meskipun isu inimerupakan isu populer, tetapi ketika protes hanya dibatasi pada penolakkanterhadap kenaikan BBM, tanpa melakukan protes secara total terhadapdominasi pengelolaan dan kebijakan ekonomi oleh segelintir orang -protes-protes ini menjadi hampir tidak berarti jika kita berbicara tentangperubahan ataupun . Aku berusaha untuk tidak hanya melakukan dekonstruksipada kondisi yang ada dan pada beragam gerakan reformis – tapi jugamencoba melihat bagaimana perspektif anti otoritarian (AO) dapatdiartikulasikan lebih jauh dan berkembang menjadi bentuk-bentuk praksisyang memungkinkan. Melihat lebih jauh strategi dan taktik yang akanmembawa kita pada suatu titik tolak yang akan membawa pada suatu prosesyang tidak absurd. Ini adalah suatu awal dari diskusi, dan tentunyadiskusi ini tidak hanya berlaku bagi isu seputar kenaikan BBM, tapi jugakontekstual dengan konteks seputar isu-isu politik populer.
Isu-isu seperti kenaikan BBM memberikan ruang gerak dan legitimasi luasbagi kelompok-kelompok oposisi formal. Memang, oposisi formal merupakansuatu biner yang diperlukan untuk terus menerus melegitimasikan sistemyang sedang berlangsung. Oposisi formal bukanlah oposisi sebenarnya,tetapi hanya merupakan kelompok-kelompok yang bermain pada batasan-batasanyang telah ditentukan oleh sistem keseluruhan. Apa yang lahir dari oposisiformal adalah protes yang hanya berujung pada penolakan terhadap suatukebijakan rezim yang berkuasa – protes-protes yang mendapat tempatterhormat dalam suatu demokrasi formal.
Menolak kenaikan BBM adalah absurd mengingat bahwa sistem ini dibuat bukandengan kelonggaran bahwa keputusan yang dibuat oleh para elit politik akandapat diputarbalikan oleh suara massa. Apalagi besarnya massa hanyaseperti gelombang aksi baru-baru ini. Kita harus melihat dari aksi-aksiseperti ini yang terdahulu, kebanyakan aksi-aksi ini hanya merupakan suaturutinitas tanpa ada suatu titik tolak untuk keluar dari siklus rutintersebut. Siklus akan dimulai dengan kebijakan pemerintah yang diikutioleh reaksi untuk menolak kebijakan tersebut, penolakan berakhir padatitik tertentu dimana protes mengalami kehabisan enerji, dengan protesyang tanpa hasil; sampai kemudian siklus kembali pada titik awal, yaitukebijakan pemerintah yang dikeluarkan berikutnya, yang kemudian diikutidengan reaksi dengan pola yang sama, dan seterusnya siklus terulang.Siklus seperti itu akan terulang tanpa ada suatu perubahan yang berarti.Memang, aksi-aksi ini dikendalikan oleh rezim sebagai rutinitas dalamdemokrasi formal. Lihat bagaimana aksi-aksi tersebut dengan dukungan parathink-tank gerakan, selalu diarahkan untuk menjadi tidak lebih daritontonan politik.
Ketika terjadi perkembangan dari tuntutan, seperti misalnya, radikalismemassa ke arah yang lebih intense, para pemimpin dan panitia aksi akanmeredakannya dan bahkan membubarkan aksi itu. Demikianlah aksi-aksi iniberada dalam keharmonisan dengan sistem yang ada. Aksi-aksi ini ada untuksekedar tontonan seremonial tentang suatu demokrasi dengan oposisinya.Begitulah kita akan melihat semangat membara dan nyali besar dari paramahasiswa militan tapi yang seringkali dibodohi oleh para pemimpin gerakan– dan semuanya berakhir sebagai pengulangan skenario demonstrasi mahasiswayang kemudian hasilnya begitu-begitu saja. Aksi-aksi ini hanya memberikansuatu rasa nyaman pada kebanyakan orang bahwa “mereka telah melakukansesuatu” dan biasanya dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok formal untukmenaikkan eksistensi organisasi dan tokoh-tokoh dan merekrut lebih banyakkader. Sementara itu lebih banyak lagi mahasiswa masokis, yang menikmatiilusi dan pembodohan, terus mengalir untuk bergabung padaorganisasi-organisasi seperti itu.
Biar bagaimanapun harus diakui bahwa sebagian dari aksi yang dilakukanadalah sangat berani dan militan, seperti penyegelan SPBU ataupenyabotasean truk-truk tangki BBM. Sialnya, aksi-aksi yang sangat beranitersebut keburu diredam ataupun tidak dibarengi oleh suatu kejelasanperspektif untuk membawanya pada tuntutan-tuntutan yang lebih total danmenyeluruh untuk mengimbangi totalitas aksi tersebut. Sayang, sangatdisayangkan….
Pemahaman yang memang miskin tentang politik radikal juga berujung padaketaatan yang tolol, secara disadari atau tidak. Salah satunya adalahketaatan pada segala jenis formalitas. Aku yakin bahwa sebagian mahasiswatolol tersebut akan menjadi sangat defensif misalnya, ketika aksi merekadituduh sebagai sesuatu yang tidak konstitusional. Dengan begitu sajamereka sudah mulai meredam diri mereka sendiri untuk selalu menjaga aksimereka supaya berada pada koridor-koridor yang konstitusional. Inilahmahasiswa Indonesia yang modis dalam sikap pemberontakan mereka – akanmenjadi sangat takut jika dicap tidak konstitusional. Tentunya hal inimerupakan kebutaan mereka terhadap perangkat negara dan sistem kenegaraanitu sendiri. Bagaimana sebenarnya konstitusi sendiri adalah suatu produkyang dihasilkan dari sumber yang sama (beragam lembaga kekuasaan elitis)dengan kebijakan yang sedang mereka tolak. Namun, ketika mereka beraniuntuk menolak kebijakan, mereka sama sekali tidak mempunyai keberanianuntuk menolak kesakralan konstitusi dan pengkondisian-pengkondisian yangmengekang yang diciptakan dari ketaatan pada “yang konstitusional”.
Tuntutan lain yang sudah mentradisi dan terutama digemari oleh kaum yangkekirian yang samasekali tidak ada gunanya, adalah tentang penggulinganrezim. Ini adalah tuntutan yang samasekali kontraproduktif bagi perbaikankondisi dan transformasi ke arah partisipasi aktif yang luas, selainmemunculkan para broker kekuasaan, elit-elit “oposisi” opportunis yangmenyambut dan lebih banyak lagi ilusi lagi tentang kebutuhan untuk terusmenerus mempertahankan elit penguasa. Kepentingan gerakan kiri untukmemunculkan isu penggulingan rezim tidak lebih dari sekedar memanipulasikondisi dengan menaikkan isu bombastis yang tidak relevan ini, memberikanilusi tentang sosok yang harus dilawan dan memberi ruang untuk menaikkaneksistensi politik untuk mencari massa. Selebihnya adalah impian setiapkaum vanguardis untuk mencuri pengaruh dan mengambil alih kekuasaan(meskipun hampir sangat tidak mungkin pengambil alihan kekuasaan oleh paravanguardis terjadi dalam konteks Indonesia saat ini).
Melampaui Ilusi dan Menghindari keterjebakan pada absurditas politis danfilosofis
Porsi yang cukup signifikan diberikan oleh berbagai jenis media padapeliputan berbagai hal seputar isu kenaikan BBM. Pembahasan ekonomi,politis dan sosial seputar isu kenaikan BBM oleh para pakar memenuhiruang-ruang media. Isu tersebut menjadi suatu sensasionalisme media yangbiasanya hanya mempertimbangkan seberapa jauhkah suatu isu dapat dijual.Sensasionalisme kenaikan BBM adalah bentuk pereduksian dari suatupermasalahan yang lebih besar – yaitu pemiskinan kehidupan mayoritasmasyarakat secara menyeluruh. Pembahasan terjebak pada kalkulasi danhitung-hitungan mengikuti prinsip ekonomi liberal atau bagi sebagianmereka yang menolak kenaikan BBM, terjebak pada retorika usangmengingatkan pejabat negara tentang tugasnya untuk memberikankesejahteraan pada rakyatnya.
Tidak ada yang lain bagi politik radikal selain menghindari politiknyadari keterjebakan pada absurditas politis dan filosofis.
Anti otoritarian tidak menuntut pada otoritas yang lebih tinggi dantentunya tidak pada birokrasi pemerintah. Anti otoritarian tidak akanmemberikan keuntungan politis bagi kelompok reformis – dengan mendukungisu-isu yang telah tereduksi oleh politik reformis, seperti mendukungprotes kenaikan BBM dan hanya sebatas itu, akan memberikan keuntunganpolitik bagi gerakan-gerakan reformis.
Bagi anti otoritarian, kenaikan BBM seharusnya menjadi pembahasan untuksuatu protes sosial total terhadap sistem ekonomi yang memarjinalkanmayoritas masyarakat, dominasi penguasaan dan pengelolaan sumberdaya olehsegelintir orang serta sistem yang tidak memungkinkan partisipasi politikyang bermakna bagi mayoritas masyarakat. Ketika kit tidak membawa tuntutanterhadap birokrasi pemerintah, di sinilah perlunya politik antiotoritarian menekankan pada kemungkinan-kemungkinan hubungan ekonomi dansosial berdasarkan prinsip swa-kelola dan otonomi.
Kita dapat bersolidaritas dengan kegelisahan orang terhadap isu populerseperti ini tetapi dengan juga melakukan komunikasi tentang ilusi dariisu-isu yang diangkat secara reduksionis tersebut. Kita harus mencobamengkomunikasikan permasalahan secara menyeluruh bukan sekedar isu politikreduksionis seperti yang dikemas oposisi reformis atau oleh gerakanlainnya yang mengidap myopia politik.
Bergerak secara praksis berarti berhadapan langsung dengan berbagai elemenyang turun ke jalan untuk melakukan protes kenaikan BBM. Anti otoritarianakan mencoba berinteraksi, membangun dialog dan jika memungkinkanmembangun relasi-relasi untuk kemungkinan melakukan kegiatan bersama.Momen-momen kemunculan isu-isu populer, meskipun merupakan kemunculansuatu isu yang tereduksi – menciptakan suatu kondisi dimana terjadikeresahan sosial, suatu situasi yang memungkinkan kita untuk melakukandialog politik yang lebih mendalam melampaui ilusi isu-isu populertersebut. Anti otoritarian harus giat membuka dan merebut ruang-ruangpublik untuk berinteraksi – bagaimana bentuk ruang publik itu tentunyaadalah sangat tergantung pada potensi-potensi dalam lokal masing-masing.
convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 3 Komentar

If The KidS Are United !!!

For once in my life I’ve got something to say
I wanna say it now for now is today
A love has been given so why not enjoy
So let’s all grab and let’s all enjoy

If the kids are united then we’ll never be divided
If the kids are united then we’ll never be divided

Just take a look around you
What do you see
Kids with feelings like you and me
Understand him, he’ll understand you
For you are him, and he is you

If the kids are united then we’ll never be divided
If the kids are united then we’ll never be divided
If the kids are united then we’ll never be divided
If the kids are united then we’ll never be divided

I don’t want to be rejected
I don’t want to be denied
Then its not my misfortune
That I’ve opened up your eyes

Freedom is given
Speak how you feel
I have no freedom
How do you feel
They can lie to my face
But not to my heart
If we all stand together
It will just be the start

If the kids are united then we’ll never be divided
If the kids are united then we’ll never be divided

If The Kids Are United
- sham 69 -

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 1 Komentar