Musibah kebakaran yang terjadi dikawasan Tanah Pasir, Pluit, Jakarta Utara pada tanggal 15 Agustus 2005, menyisakan puing-puing kesedihan yang begitu mendalam bagi para korban. Banyak korban yang akhirnya harus terpaksa kehilangan rumah-rumah, pakaian, tempat tidur, maupun surat-surat berharganya, bahkan akhirnya para korban harus bingung untuk mendapatkan makanan yang dapat dimakan oleh mereka. Tentunya makanan yang memang layak makan serta bergizi untuk kesehatan mereka.

Musibah kebakaran yang telah menelan kerugian yang sangat besar tersebut, dan telah menghanguskan sekitar 400-an rumah yang telah didiami oleh sekitar 800-an kepala keluarga, benar-benar seperti telah menyayat urat nadi kami yang telah melihat sendiri kejadian yang sangat menakutkan tersebut.

Tepat pada hari rabu tanggal 15 agustus 2005, sekitar pukul 18.00 WIB, kejadian itu mulai terjadi, api yang terus berkobar dengan sangat ganasnya baru dapat dipadamkan oleh dan atas kerjasama masyarakat yang telah bahu membahu tanpa pamrih turun untuk membantu sekitar pukul 02.00 dini hari.

Pada saat kejadian berlangsung, tak jarang banyak yang melihat para petugas pemadam kebakaran yang terlihat malas dengan nongkrong dan minum kopi, padahal saat itu api sedang berkobar dengan dahsyatnya. Petugas pemadam kebakaran yang sebenarnya telah ditunjuk oleh negara, dan mempunyai berbagai fasilitas canggih dibanding warga yang hanya mengandalkan ember. Seharusnya dapat bersikap lebih arif, terlebih untuk urusan kemanusiaan. Memang, negara tidak akan pernah rela dan mau tanpa pamrih membantu “rakyat kelas miskin” yang sedang kesusahan, pemadam kebakaran lebih disiapkan untuk memadamkan api yang membakar mall meupun gedung perkantoran ketimbang komplek perumahan kumuh seperti di Tanah Pasir ini. Beruntunglah warga lebih memilih untuk terus bahu membahu sesama mereka ketimbang mengandalkan aparat pemerintahan itu.

Posko Kemanusiaan

Paska kejadian, tak sedikit datang berbagai organisasi-organisasi mulai dari militer sampai LSM-LSM yang tidak terlihat pada malam harinya pada saat kejadian, kemudian berlagak sok pahlawan dengan memberikan bantuan-bantuan. Bantuan ini memang sangat membantu warga, tetapi motif “kepentingan” dibalik bala bantuan tersebut benar-benar membuat kami gerah dan akhirnya enggan untuk bekerja sama dengan mereka.

Banyak bendera-bendera golongan yang berkibar disana-sini, seraya ingin menunjukkan bahwa lembaga sang empunya bendera adalah lembaga suci yang rela membantu orang yang sedang kesusahan.

Atas hal inilah, kami merasa perlu melakukan gerakan independent bawah tanah non golongan dengan sepenuhnya melibatkan warga baik pemuda dan orang tua untuk menswadaya-kan diri mereka. Juga atas inisiatif pemuda setempat kami mendirikan lumbung-lumbung bantuan, yang kemudian akan kami salurkan secara langsung kepada korban.

Tidak ada motif kepentingan apa-apa dibalik aksi kami, karena memang banyak juga dari kami yang memang juga menjadi korban, kemanusiaan adalah segalanya bagi kami.

untuk penyaluran bantuan, bisa dikirimkan atau dititipkan kelumbung-lumbung dibawah ini :

Speak Out! distro
Jl. Bandengan Utara 80
Rt.013 Rw.16 No.175
Penjaringan, Jakarta Utara
14440 indonesia

Hp. 0815 111 53143 (Bucek)

Peniti Pink / Propiracy Distro
Jln.Masjid Rt.005/06 No.9
Blok A
Jakarta Selatan

Telpon.021-7266438

Taring Babi
telp. (021) 727 0 666

atau salah satu dari kami akan datang keanda untuk mengambilnya sendiri, hubungi bucek 0815 111 53143, atau juga transfer melalui Bank (nasional maupun internasional) ke : (jangan lupa hubungi bucek sebelum/setelah transfer)

————

Account No. : 5290115975
Account Holder : Haris Hidayattullah

Bank : Bank Central Asia (BCA)
SWIFT Code : CENAIDJA

Branch Office : Capem Pejagalan
Branch Address :
Jl. Pejagalan I/2 Blok B/10
Jakarta 11240
phone. (021) 6915667 / 6918906

————-

segala bentuk bantuan akan kami terima dan akan sangat berguna bagi mereka yang saat ini sedang membutuhkan.

Sumber artikel : Indymedia Jakarta

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar