cukup! semuanya sudah cukup! bangun dan berfikirlah!

Menyikapi berbagai situasi yang saat ini terjadi…runyam dan sangat memusingkan, bagaimana tidak bila setiap hari para pekerja yang kebetulan mengendarai sepeda motor harus menyiapkan budget minimal Rp.20.000 untuk sekedar memberi minum sepeda motornya, belum lagi nelayan yang terpaksa harus menaikkan harga ikan dikarenakan mereka akan jarang melaut lantaran harga solar mengila! Petani tradisional yang terpaksa harus cekak kantongnya karena biaya transportasi jelas ikut-ikutan naek. Ditambah ibu-ibu rumah tangga yang terancam harus kembali kejaman primitif karena harga minyak tanah sangat-sangatlah gilaa padahal entah kenapa distribusinya sering menghilang begitu saja yang mengakibatkan langkanya minyak tanah!

Ditelevisi dan media lainnya, dimana-mana semua berbicara atas nama rakyat, yang pro kenaikkan BBM mengaku bahwa ini semua demi rakyat, begitu juga dengan yang kontra! Sayang…..aku sudah terlalu muak untuk menanggapi hal-hal diatas. Kebuntuanku berhenti dalam sebuah solusi yang sama sekali masih dalam anganku, angan kawan-kawanku, angan para pendahuluku!

Apa yang aku percayai itulah yang akan terus kujalani, aku tak mau menggurui namun kuharap alam menganugrahi kesamaan persepsi dalam hal ini kepada seluruh umat manusia dimuka bumi ini.

Kepemimpinan bukanlah solusi

Entah kenapa aku begitu yakin akan kalimat diatas, tapi sungguh, aku cuma ingin berfikir secara rasional dengan apa yang sudah terjadi, ketimpang harus melakukan riset rumit yang bikin ngejelemit.

Sosok pemimpin tidak pernah sekalipun membuat diriku takjub, entahlah….nuraniku mengatakan beda dengan apa yang diajarkan oleh guruku pada saat aku duduk dibangku SD.

Soekarno, Soeharto, Habibie, GusDur, Megawati, Susilo B Yudhoyono jelas tidak memiliki keterikatan apapun dengan diriku, bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali, dan aku rasa merekapun punya pendapat yang sama mengenai aku, buktinya ketika rombongan iring-iringan kepresidenan melintas didepan sepeda motorku, tak sedikitpun salah-satu dari mereka melihat kearahku. Bahkan mereka mengusirku agar tidak menghalangi jalan mereka.

begitupun dengan mereka yang duduk diparlemen disenayan, dari mulai kepala geng sampai antek-anteknya tidak ada satupun yang kukenal, apakah mereka wakil-wakilku? Tidak! aku gak pernah ngasih mandat kesiapa-siapa untuk menjadi wakilku…..

tapi beginilah …. Negara …. organisasi mafia terbesar yang menguasai satu daerah dan memaksa orang yang ada didaerah tersebut untuk patuh terhadap semua aturan yang dibuatnya. Kita telah sama-sama lihat apa yang telah dilakukan oleh para elit terhadap satu-persatu dari kita….

potongan opini ini memang bukan tulisan yang berisi riset bertahun-tahun dan disajikan dengan bahasa intelektual tingkat tinggi. Tapi tulisan ini hanya curahan hatiku yang gak ngerti apa-apa soal linguistik, sebab hanya satu yang kutahu bahwa aku harus bebas!

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Berikan komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback URI | RSS Komentar