Kami ingin menjadikan setiap tempat adalah panggung—di mana batas antara pemain dan penonton menemui ajalnya—dengan pesta-pesta penuh perayaan atas hidup. Setiap hal adalah media, alat serta pesan itu sendiri. Umur panjang bagi komunikasi, hancurkan “telekomunikasi”!
Sekali lagi, di tengah semua rutinitas dan kesibukan masyarakat modern yang tidak memiliki nyawa untuk dikatakan hidup, Kami ingin membangun ulang konstruksi tembok-tembok negeri utopia yang telah hancur berkeping-keping. Mulai tahun 2000an awal dari mulai Zine personal sampai komunitas, blablabla. Dan sekarang yang tersisa hanya segelintir orang, sebagian lagi sibuk dengan urusan bisnisnya, lainnya membangun keluarga sakinah, [atau sengaja menyibukkan diri dengan dunia aktifisme sebagai eskapis dari masalah rumah tangganya??] dan dunia mungkin menjadi tidak sesengit hari kemarin lagi bagi mereka. Di sini, beberapa orang idiot masih ngotot dan percaya layaknya Iman Kristiani yang membangkitkan Lazaurus serta beberapa orang di bangku belakang gereja ketika upacara karismatik, yang percaya dan bersikeras untuk berdiri dan sembuh dari lumpuh berpuluh-puluh tahunnya. A better world is possible! Nor God Neither Master.. Kami ingin kesemuanya menjadi genap dan apa yang pernah menginspirasi kami, film, komedi, insureksi semua, semuanya ada di samping kami. Berdiri sama tegak dengan bayangan 180 derajat disiang hari.
Depression is the obvious extention of boredom in consumer capitalism
Kira-kira dua bulan kemarin terbesit di beberapa kepala kami untuk mengadakan acara ini. Sayang, kalo seandainya media-media (baik cetak, audio dan visual,dll) di telantarkan begitu saja. Teman-teman kita semua memiliki potensi! Dan mengapa tidak jika kesemuanya itu di satukan dalam acara ini untuk dipamerkan dan sekalian membuka sebuah komunikasi antara orang-orang yang punya ketertarikan dengan media-media di luar mainstream. Pasukan Food Not Bombs mengusulkan agar acara itu digabung dan lainnya menginginkan agar beberapa band-band indie yang ada dalam koleksi MP3 mereka diundang untuk maen. Bukanlah hal yang sulit jika semuanya dikerjakan dengan semangat di antara kita. Hari-hari penuh rapat, dari pelataran kampus UNY sampai Kinoki (ruang interaksi audio visual yogyakarta, publik dan Gratis). Dari cemilan nasi kucing, gelas yang terisi air putih sampai bir, akhirnya terwujudlah acara ini. Walau seperti biasa, momen yang lahir prematur, publikasi yang baru dilakukan H minus dua, yang mana menurut rencananya 4-5 hari sebelum hari H. Pembicara diskusi dari Affintas, Tjuan yang telat tanpa konfirmasi jelas. Alat-alat band yang telat datang dan mengalami kesalahan teknis, hingga akhirnya satu band membatalkan diri untuk main di acara. dll (kalo ada yang kurang mohon saya diingatkan yah..).
Kebetulan acara jatuh pada akhir pekan, hari sabtu, saat di mana orang-orang biasanya “mengambil nafas dan mengobati diri” dari rutinitas aktifitas dan dunia kerjanya. Kamis sore team Food Not Bombs mulai beraksi, menginventarisir barang-barang, alat-alat masak yang akan dipinjam dari beberapa teman-teman dan belanja keperluan. Jumat malam semua barang telah terkumpul dan mulai masak beberapa makanan yang akan disajikan. Semakin malam semakin ramai dengan datangnya dua kamrad, Didot dan Ucok dari salatiga ke kontrakkan. Dan menyusul aktifis tua yang masih percaya untuk mewujudkan surga di bumi yang kian seperti neraka ini: Goen (tua ya goen??hehe..)
Yeah, Memotong sayuran sambil diledekin oleh teman-teman memang bukan hal yang menyenangkan bagi beberapa orang, tapi disini kami justru mencoba mentertawakan hal-hal “sensitif” yang seringkali memicu konflik di antara kita. Hop..hop..tralala! Prankster of the world, Unite!! Huahahaa… Action di depan Handycam, dua orang lainnya sibuk membajak zine-zine yang baru dibawa dari bandung(aduh, sepi nih bandung pada kemana tuh orang-orang kerennya??), lainnya lagi sibuk menyetting tempat menjadi seasik mungkin untuk beraktifitas. Adu panco jadi selingan untuk ke semuanya (lalu apakah kami akan di cap machoist hanya karena beradu pancho? Peduli setanlah!hahaha..). Setelah semuanya selesai dan beberapa teman sudah terbawa ngantuk, berpindah posisi dan tidur, beberapa dari kami masih sibuk mempermainkan semiotika, mengusung obsesi mengalahkan srimulat dan plesetan body language-nya Aming di Indosiar. Yeah, enyahlah malam-malam panjang yang dingin, selamat datang di dunia kami p.e.n.d.e.r.i.t.a.a.n.
Entah energi dari mana, satu jam setengah tidur, cukup bagi beberapa dari kami yang malas untuk bangun pagi jika kuliah(yeah, school is sucks. As boring as fuck like your political bullshit!!) Lalu beranjak dan Berangkatlah pagi hari kami ke lokasi, mempersiapkan alat-alat dan team Food Not Booms mulai memasak lagi. Beberapa orang mempersiapkan display dan setting tempat, lainnya muter-muter mencari mobil yang bisa dipinjam untuk mengangkut alat-alat band. Hingga siang hari jam sebelas (11.00 wib), sesuai jadwal, para personel band yang di undang mulai berdatangan untuk check sounds. Ternyata alat belum datang di karenakan kesulitan menemukan mobil yang bisa dipinjam. Siang hari yang terik, dan karena kekurangan orang untuk mengangkut alat-alat band yang dipinjamkan gratis oleh seorang teman (thanks ya alon), maka beberapa personel dari team Food Not Boombs (lagi-lagi..) di minta bantuannya untuk mengangkat sound system, jauh dari lantai dua tempat penyimpanan alat-alat tersebut. Belum lagi memakan waktu untuk menurunkan alat ke lokasi yang sudah direncanakan, maka jadwal check sound yang di rencanakan mundur sekitar 2 jam-an. Akhirnya beberapa band pulang dan check sound dibatalkan, lanjut dengan otak-atik instalasi listrik (berhubung kita menyewa gedung bekas Bank BHS, maka instalasi listrik di situ agak kacau, dan sebetulnya koordinasi juga kacau di bagian team yang mengurus hal tersebutè
kenapa tuh???). Hal tersebut juga akhirnya menyebabkan beberapa orang dari team Food Not Boombs sedikit kerepotan untuk menutup tugas-tugas yang telah dibagi, padahal beberapa orang Cuma duduk santai dan menikmati es teh manis dan asap rokoknya. Hahahaha…
Seketika teman-teman dari Australia, Black Rose (Anarchist Bookshop) Collective berdatangan dan tanpa disuruh ini itu, mereka langsung mengambil partisipasinya, melihat ada hal-hal yang belum terlengkapi, Amity, Mike, dkk membuat banner yang akan dipasang di depan Gedung. Mempersiapkan display untuk pameran zine serta beberapa kepingan CD musik yang mereka bawa. Hingga tiba pukul 14.00 wib, waktu untuk acara diskusi dimulai Tjuan ternyata belum datang juga, setelah dihubungi, dia bilang sebentar lagi. Menunggu beberapa saat, mungkin karena cuaca di dalam gedung agak sedikit gerah para pembicara diskusi yang lain mengusulkan untuk mulai saja. Moderator mulai membuka pembicaraan dan menjelaskan situasi yang ada, dan karena Tjuan adalah salah satu pembicara dari kolektif Affinitas, maka pembicara dan peserta yang lain mengusulkan agar langsung di ganti oleh teman-teman Affinitas lainnya. Jicek tampak gelisah dari tadi, rasa lelah yang telah mengusiknya ditambah kekecewaan dengan kesalahan teknis di sana sini sedang di ceritakannya kepada saya. Maklumlah, memang kebetulan belakangan kami berdua sedang terlibat affair sehingga semua hal menjadi menarik untuk diperbincangkan. Di tengah derasnya hujanan retorika dan semiotika, disaat pembebasan dan kosakata revolusi menghianati dan hanya menikam dari belakang. Tidak ada rasa sakit, kami bersenda gurau, duduk untuk menikmati segelas teh hangat sembari berharap dapat menikam beberapa potong buah mangga untuk di santap. Any petit bourgeoisie habit?????
Karena pertimbangan-pertimbangan di atas, maka akhirnya saya yang menggantikan Tjuan sebagai pembicara, dengan tidak adanya makalah (yang menurut saya penting untuk sebuah diskusi semacam ini)untuk peserta dan persiapan sama sekali, saya akhirnya harus berbicara dan dengan jujur saya akui bahwa saat itu saya teramat kesal dengan sikap Tjuan. Akhirnya saya menyampaikan kepada peserta bahwa saya saat itu berbicara sebagai paul dan personal. Bukan affintas. Titik. Asiknya, pembicaraan malah menjadi menarik (menurut saya). Terutama konflik pandangan dan strategi antara saya dengan Djenggot (wakil dari Yogya Cultural Studies), saya mendapatkan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan baru, hingga pembicaraan berlanjut sedikit setelah acara diskusi berakhir. Pembicara lainnya yang hadir saat itu antara lain, Haris (Jakarta Indymedia), setelah Roni dari Ruang Rupa dan Hollyshit tidak dapat dapat hadir.
Makanan dan beberapa menu minuman yang hangat serta dingin telah tersedia di atas meja panjang berbentuk kurva “U” bekas Bank BHs ini. Semua orang yang berdatangan tampaknnya sudah mencicipi sajian cooky-cooky ini. Beberapa orang mendatangi stan-stan yang ada di sana,melihat dan membolak-balik halaman-halaman zine, buku, dll yang ditampilkan disana. Beberapa ada yang memesan buku untuk di fotokopikan, beberapa orang lagi tak sadar sedang mendekonstruksi sistem jual beli yang busuk ini dengan berbincang-bincang akrab, bertukar cerita sampai barang-barang yang di pamerkan. Semua kesepakatan mereka yang buat, terjadi dan berlangsung tanpa dominasi pasar.
Di lantai atas, teman-teman yang lain otak-atik instalasi listrik, memasang lampu di sana-sini, mengulur kabel, dll karena sebentar lagi memang Hari sudah tidak akan bersahabat, ia akan gelap dan tidak akan berkompromi dengan kebutuhan kita semua. Jam enam-an seluruh ruangan berganti rupa menjadi Rave party, sinar matahari yang hilang telah tergantikan dengan instalasi lampu hasil kerja keras teman-teman dari tadi. Yeah, orang-orang mulai semakin ramai, keluar masuk gedung, Amity mulai nge-mix musik-musik electronic yang telah di bawanya dalam format CD. Beberapa orang mengiringi bit-bit yang ada dengan kakinya, sebagian lagi mencari dan mengumpulkan beberapa batang sapu lidi untuk di jadikan stick drum yang belum ada saat itu. Lainnya mengambil nasi dan soup lagi dari hidangan Food Not Boombs, setelah kenyang beranjak ke atas lagi dan starts to dance! Yuhuu…one,two,three,go!! Haris yang mungkin baru pertama kali bertemu kami, dari tadi terlihat gelisah langsung di tarik tangannya oleh jicek, dan ternyata! Cukup liar juga ini orang..hahaha (hallo?udah sembuh dari sakitnya ris?). Dan karena Haris sudah mulai “memanas”, bucek (teman haris yang sama-sama datang dari jakarta) ikut-ikutan juga. Ya! Saya membayangkan situasi malam itu seperti aksi Dennis, dkk (the International Noise Conspiracy) dalam video klipnya berjudul Up For SalE, mereka yang tidak terlihat cemas sedikit pun ketika seluruh gedung telah di kepung oleh pasukan polisi. Dan malam itu kita pun hampir di kepung oleh penduduk di sekitar.
Sekitar jam sembilan malam, ketika orang-orang di dalam gedung semakin hot untuk mengguncang seluruh isi gedung itu dengan bunyi-bunyian dan musik, beberapa orang memberitahukan kepada kami agar salah satu dari panitia bertemu dengan ketua RW setempat untuk membicarakan acara “ilegal” tanpa ijin dan proposal ini. Setelah lobi sana sini, akhirnya acara dapat dilanjutkan dengan syarat harus selesai jam 22.30 dan mulai pukul 22.00 musik yang dimainkan tidak boleh yang bising. Tapi anehnya bapak yang menempati Bekas Gedung BHS ini gelisah dan merasa tidak nyaman dengan acara ini. Padahal dari tadi siang sudah kita ajak untuk ke atas dan melihat acara yang kita adakan, atau sekedar mencicipi menu masakan teman-teman Food Not Boombs. Si-bapak merasa heran dengan “suara gaduh“ musik di dalam gedung dan keluar masuknya orang-orang yang rata-rata berpakaian berwarna gelap, gondrong dan atribut-atribut perhiasan Rocks-nya, di tambah lagi dress to kill-nya teman-teman punks yang juga hadir di acara tersebut. Nah, disinilah tergenapinya “Dunia Tontonan” yang sering kita perbincangkan itu. Ketika orang-orang hanya lebih memilih pasif, bertahan dengan prasangka dan mencaci maki sana-sini, serta penilaian yang di berikan hanya sebatas permukaan, imaji, dan tekstur yang tidak pernah mempertanyakan bahan serta proses.
Nothing is True, Everything is Permitted
Setelah beberapa panitia berdiplomasi sana sini lagi dengan bapak tadi, acara di lanjutkan. Dan karena memang panitia yang melakukan lobi tadi juga rada usil :=D , acara “dipaksa sedikit” untuk dilanjutkan (dengan perhitungan karena alasan-alasan si-bapak untuk menghentikan acara yang sedang seru-serunya itu tidak jelas dan rasional) sampai akhirnya si-bapak ngomel sana sini dan mengangkat sebilah pisau, dan seorang panitia masih berusaha untuk persuasif, tapi ternyata setelah di beri tambahan uang rp 50.000, si-bapak langsung diam seketika! Terbukti bahwa ternyata keikhlasan si-bapak untuk di bayar seratus ribu rupiah (Rp 100.000,-) untuk biaya penyewaan gedung kosong itu selama dua hari di tarik kembali. Yang mana kami semua sudah sangat senang dengan dikuranginya biaya penyewaan awal sebesar seratus lima puluh ribu rupiah menjadi Rp 100.000,- dan kami berpikir mungkin si-bapak support terhadap acara ini sewaktu kita menjelaskan acara apa saja yang akan dilakukan selama dua hari itu.
Dan setelah acara di berhentikan mendadak karena situasi semakin tegang, semua alat di bereskan dan di susun rapi untuk di tinggal di tempat malam itu, karena esok hari acara akan di lanjutkan lagi dengan workshop-workshop, dan nonton film. Setelah jam dua belas malam lewat, teman-teman masih ngumpul dan nongkrong di depan gedung. Tiba-tiba datang seorang pemuda sekitar (kami mencurigainya intel atau seseorang yang merasa iri dengan keceriaan kami malam itu), ia lantas bertanya dengan nada ketus kepada seorang teman, acara apa yang dilangsungkan, tujuannya, dll. Karena hal tersebut juga, dia langsung menelepon teman-temannya yang (oh..) gagah, para polisi dan intel-intel berpakaian hitam itu untuk segera datang. Setelah itu mereka langsung mengecek kondisi dalam gedung, mengambil beberapa poster yang kami display serta mencatat identitas dari beberapa teman-teman kami. Dan malam itu gedung yang tadinya begitu Hidup menjadi tidak kalah sepi lagi dengan suasana di Taman Makam P(ah)lawan Kalibata, setelah sore tadi kita sulap menjadi sebuah tempat yang tak kalah seru dari pasar-pasar malam, akhirnya kini mereka sulap balik. Jadilah demikian halnya..
Masing-masing pulang ke rumah, beberapa masih memperbincangkan dan menganalisa kejadian tadi. Esok harinya kami sepakat untuk mengangkut semua barang yang masih ada di dalam gedung tersebut. Setelah ngobrol kembali dengan si-Bapak itu, semua masalah menjadi lumayan jelas. Kami pulang, beres-beres, mandi segar dan menuju ke Kinoki (ruang interaksi audio visual yogyakarta, publik dan Gratis) untuk melanjutkan acara nonton film. Ternyata teman-teman pun masih ada yang berdatangan, makan, minum serta melantunkan irama-irama lama dengan gitar sembari bernyanyi, seolah semua kejadian malam tadi tidak penah terjadi dan tidak pernah ada. Live for the moment! Say goodbye to the Time. Olala..trap..trap..bili..bili..bom..bom. Pulang dan istirahat nyenyak.
Sekian liputan seputar di adakannya acara Mediafair tanggal 26-27 di Yogyakarta. Tertarik untuk membuat acara serupa, gratis dan publik? Buatlah sedikit gosip, mulailah menyusun beberapa rencana dan bersiaplah bermain. Lemparkan bom waktu yang telah begitu lama tersimpan di dalam hati dan hasratmu, sahabat. Kami menunggu!
Love and Rage,
Barikade Idiotik Arogan Affinitas
Foto-foto :
















convert this post to pdf.
Print This Post
| Tidak ada komentar