Larang-melarang dalam hal “Pemikiran” dan “Ide” di Indonesia

Oleh :anonim

Indonesia negara yang katanya adalah negara “demokrasi” dan menjungjung tinggi perbedaan, entah itu perbedaan suku, agama, ras, dan lainnya, ternyata tidak seindah apa yang dibayangkan…

Begitu banyak hal yang saling jepit menjepit di negara ini, dimana golongan mayoritas selalu ingin berkuasa dan merasa paling benar diantara golongan yang lainnya…

Sering saya mendengar dan melihat berita-berita yang disiarkan oleh stasiun televisi atau stasiun radio, yang beritanya mengatakan; “aliran agama si A ini tidak diizinkan untuk ada di indonesia karena sesat” atau “PKI itu sesat, dan mengajarkan atheisme”, begitu piciknya mereka melarang-larang tanpa menbedah dan mengkaji lebih detail apa-apa yang diajarkan oleh Agama dan Organisasi yang bersangkutan, kita selalu menggampangkan sesuatu yang sebenarnya harus dipelajari dengan detail tanpa pemahaman yang sempit.

Bukankah negara ini menjunjung “demokrasi”, dimana kebebasan untuk memilih dan meyakini sesuatu itu adalah hak pribadi yang tak bisa diganggu gugat oleh orang lain, lagipula apa efeknya ketika seseorang yang meyakini suatu aliran agama yang katanya sesat itu?, bila ada yang terpengaruh, ya salahkan sama orangnya yang terpengaruh, kenapa dia mau main percaya-percaya aja dan mau menerima dogma-dogma yang diberikan si agama yang dibilang sesat?, toh alirannya gak salah apa-apa, yang salah adalah individunya yang mau aja di doktrin.

Seperti halnya agama, ideologi adalah sesuatu yang personal dan sangat pribadi, dan setiap orang juga berhak untuk mengaspirasikan suaranya pada organisasi yang dia yakini cukup aspiratif untuk menyuarakan suaranya.

Diperparah lagi selain main larang melarang dan sikat sana dan sikat sini, kekerasan dan pengerusakan terhadap sarana dan prasana juga ikut serta dalam setiap aksinya, apa sih hak kita untuk menentukan pilihan hidup orang lain, dan apa hak kita untuk memberikan pilihan mana yang benar dan mana yang salah untuk orang lain?, biarkan orang lain yang menilai mana yang baik untuk dirinya, dan mana yang harus dia terima dan pilih dalam hidupnya, biarkan hati dan pikiran mereka yang akan menjawab semuanya.

Masih hangat dalam pikiran kita ketika golongan “Ahmadiyah” yang dilarang ajarannya di Indonesia karena mengajarkan ajaran sesat karena mengakui “Mirza Ghulam Ahmad” sebagai nabi terakhir sesudah nabi Muhammad Saw, ya bila memang aliran “Ahmadiyah” adalah aliran sesat, jadi kenapa?, apa hak kita untuk melarang orang yang meyakini ajaran ghulam ahmad dan mengakui ghulam ahmad sebagai nabi?, toh bila ghulam ahmad itu nabi atau bukan?, bukan itu yang penting, yang penting adalah ajarannya mengajarkan kedamaian, itu yang penting.

Biarkan mereka ada dan tetap eksis dalam masyarakat, biarkan masyarakat mempelajari secara mendalam dan detail, sehingga masyarakat bisa menilai, mana yang benar dan mana yang keliru?, biarkan masyarakat mengenal lebih dalam untuk mempelajari apa dan siapa itu mirza ghulam ahmad, dan ajaran apa yang diajarkan oleh ajarannya?, dan mengetahui darimana asal usul mirza ghulam ahmad?, biarkan masyarakat mengetahui sendiri kekeliruan yang ada didalam ajaran “Ahmadiyah” bila memang ada kekeliruan, jadi masyarakat bisa tau mana yang benar dan mana yang keliru, dan dari sini akan ada proses pendewasaan dalam masyarakat.

Saling menghargai dan menghormati terhadap perbedaan pandangan diantara setiap individu adalah keharusan, mulailah berpikiran untuk tidak merasa paling benar, sehingga kita bisa menghargai perbedaan yang ada, dan singkirkan ketakutan-ketakutan terhadap sesuatu yang berbeda dari kita.

Sumber tulisan : MaduRacun.org 

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Berikan komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback URI | RSS Komentar