Sundalah Anarkis!!!
Dikirim pada 03-07-2006 oleh: Anarch[Oi]!
Tag: anarkisme, bebas!, opini & analisis
Anarchism is the name for both a political philosophy and manner of organizing society, derived from the Greek αναρχία (“without archons” or “without rulers”). Thus “anarchism,” in its most general meaning, is the belief that all forms of rulership are undesirable and should be abolished. For many anarchists, this includes not only the state but also the institution of capitalism. The word “anarchy“, as most anarchists use it, does not imply chaos, nihilism, or anomie, but rather a harmonious anti-authoritarian society that is based on voluntary association of free individuals in autonomous communities, mutual aid, and self-governance. – Wikipedia
anarchos, prefix a, meaning “not,” “the want of,” “the absence of,” or “the lack of”, plus archos, meaning “a ruler”, “director”, “chief”, “person in charge”,”commander.” -The Harper Collins Dictionary of Philosophy
Seringkali sebuah sejarah hilang tanpa menyisakan jejak. Setiap detil dari apa yang telah ia sumbangkan ke dalam kehidupan manusia dihapus begitu saja, selayaknya secarik kertas syair yang terbakar. Abunya beterbangan keatas udara–seperti jiwa yang tak kasat mata. Seperti kebenaran yang sulit hadir disebuah dunia dimana kebenaran satu-satunya adalah kepalsuan yang sejati–yang kemudian menghantar bisikan ke setiap jantung yang berdetak: ‘percayalah, percaya dirimu sendiri, percaya padaku. Aku ada disini, di dalam dirimu. Karena dirimu adalah segala-galanya’.
Anarki berbisik. Sebuah kata sundal yang dalam seketika kaum relijius, politisi, akademik, aktivis kiri*, bahkan seniman akan bereaksi keras begitu mendengarnya. Dihampir setiap media cetak dan visual belakangan ini kita dapat mendengar kata ‘anarkis’, ‘anarkisme’, ‘anarkistik’ yang selalu di dahului dan diakhiri dengan kata-kata, ‘jangan bertindak’, ‘akan ditindak tegas’, ‘kami mengutuk aksi’, dan seterusnya. Apakah ini sebuah gejala kebangkitan anarkisme di Indonesia? Tentu bukan. Hingar-bingar anarkisme yang disuarakan oleh setiap politisi dan jurnalis belakangan ini merupakan sebuah respon terhadap gejolak radikalisme Islam (FPI) dan aliansinya dengan organ mafia ‘chauvinistik’(FBR) yang tidak hanya meresahkan masyarakat, tetapi juga pemerintah serta demokrasi liberal.
Gejolak ini merupakan sebuah reaksi dari elemen-elemen muslim fundamentalis yang mulai kehilangan pamor dan bermaksud untuk merestorasi otoritas Islam (Majelis Ulama Indonesia) di dalam sebuah negara yang menganut demokrasi liberal*. Dari sini kita bisa melihat bahwa gejolak ini merupakan sebuah ancaman bagi stabilitas institusi kekuasan–dalam hal ini MPR-DPR–yang sekarang tampaknya mulai terpecah menjadi dua kubu: mereka yang mempertahankan dan ingin menyuburkan demokrasi liberal pancasilais melawan mereka yang ingin menaruh semua elemen islam dikursi kekuasaan dan ingin menaruh syariat islam disetiap ragam-relung kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Tindakan-tindakan para pasukan jalanan ini dimulai dengan melakukan tindakan pelarangan sejumlah komunitas dan praktik-praktik berbau relijius yang tidak memiliki izin legal; seperti tindakan penutupan beberapa gereja kecil dan rumah-rumah ibadah kecil yang bersifat swadaya di daerah Jawa barat dan Jakarta. Organ ini juga menyatakan perang terhadap organ Muslim manapun yang tidak termasuk didalam struktur kekuasaan MUI, seperti yang terjadi terhadap muslim Ahmadiyah beberapa waktu lalu yang langsung dideskriditkan sebagai organisasi bid’ah (sesat). Dan puncak paling meresahkan dari sepak terjang aliansi fasis ini adalah advokasi mereka akan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi. Isu ini tampaknya membawa kepermukaan konflik ‘ideologis’ yang sukar untuk dipadamkan di dalam sistem kekuasaan yang katanya ‘demokratik’. Terciptanya jarak yang semakin lebar antara muslim liberal dan fundamentalis adalah satu contohnya. Meskipun ulah pasukan fasis ini, bisa jadi merupakan sebuah strategi politisi untuk mendorong mereka ke kursi kekuasaan lebih cepat. Ini bisa kita lihat dari posisi yang membunglon Partai Keadilan Sosial. Dimana sudah bukan rahasia lagi kalau PKS mendukung aliansi fasis dengan merekrut pasukan fasis jalanannya sendiri; sementara di lain pihak, A’a Gym menjual tipe muslim yang moderat, demokratis, dan lebih konformis dibanding Habib Rizieq dan para ulama sakit jiwa di MUI. Isu RUU-APP yang telah diaplikasikan di wilayah Tangerang ini menghasilkan reaksi di setiap level organisasi masyarakat. Beberapa aksi seperti penyerangan terhadap kantor Playboy serta tindakan-tindakan kekerasan acak mulai menjadi sorotan publik, dan tindakan mereka ini dikategorikan sebagai tindakan yang anarkistik oleh para politisi dan media.
Ini bukanlah sebuah tuduhan baru bagi anarkisme. Sudah berapa sering kita mendengar seruan ‘jangan anarkis’ yang diteriakan para aktivis mahasiswa disetiap demonstrasi. Setiap ada aksi kekerasan acak, dari pemukulan massa sampai kerusuhan pilkada, didefinisikan sebagai aksi anarkisme. Ini adalah sebuah eror, bukan hanya secara definisi dan sejarah dari pergerakan anarkisme sendiri, tetapi juga secara penggunaan bahasa. Apabila setiap tindakan kekerasan ‘tanpa legalitas’ didefiniskan sebagai anarkis, maka seorang orang tua yang memukul anaknya pun bisa dikategorikan sebagai tindakan yang anarkis. Sejak kapan bahasa indonesia menjadi sebuah bahasa carut-marut yang bisa seenaknya dimainkan oleh politisi dan media tanpa pernah mempertimbangkan asal-usul kata maupun sejarah yang melatar-belakanginya. Ini mirip dengan demonologi yang terjadi pada kata komunis. Istilah komunis bukan saja mengaitkannya dengan sejarah PKI ala orde baru, tetapi juga mengisinya dengan segala macam imaji buruk seperti: tak bertuhan, pembunuh berdarah dingin, anti-demokrasi dan sebagainya. Secara historis praktik orang-orang Komunis (dengan K besar)–seperti Leninis, Stalinis, Maois, sampai Pol-pot–memang memperkuat tipe Komunis semacam itu. Tetapi apa yang dilakukan Soeharto dan rezimnya adalah penghapusan sejarah beserta pemahaman menyeluruh terhadap definisi-definisi kata yang ikut serta bersamanya, penghapusan ini kemudian diikuti dengan pembelokan makna yang semena-mena. Jejak yang diikuti Soeharto ini merupakan jejak kampanye internasional yang dilaksanakan oleh AS pada masa-masa ‘Red Scare’ di tahun 1919-1920, era dimana banyak dari aktivis kiri (sosialis dan anarkis) dipenjara dan dideportasi kenegara asalnya. Kampanye semacam ini diteruskan oleh AS disepanjang era perang dingin. Bukan sesuatu yang mengherankan kalau sekarang ini banyak dari kalangan akademisipun tidak memahami makna kata sebenarnya dari komunis dan unsur-unsur positif yang ikut serta bersamanya. Komunis* adalah orang-orang yang mengadvokasikan sistem sosial yang berbasis komunalisme: yaitu dimana segala sesuatu dimiliki secara bersama, tiada seorangpun memiliki hak untuk menguasai sumber daya alam ataupun alat produksi. Dan praktik komunalisme merupakan kecenderungan dari hampir setiap masyarakat di dunia sebelum mereka bertransformasi menjadi feodalisme menuju kapitalisme industri. Kaum anarkis sendiri, adalah mereka yang mengadvokasikan anarkisme: visi sebuah masyarakat anti-otoritarian harmonis yang didasari atas kerjasama dari setiap individu yang bebas, ini berarti pemerintahan-mandiri, otonom yang saling mengisi tanpa mengekalkan adanya kekuasaan. Beberapa kaum anarkis seperti Kropotkin menggabungkan ide anarkisme dengan komunalisme: anarkis-komunis.
Namun apakah para anarkis memiliki visi serupa dengan para fundamentalis yang memecahkan kaca jendela kantor playboy dan melarang orang untuk beribadah dengan mengatasnamakan moralitas?
Apa Yang Membedakan Anarkisme Dengan Kekerasan Acak Seperti yang sudah dipertanyakan diatas, bisakah tindakan orang tua yang memukul anaknya sampai kerusuhan pilkada yang dilakukan oleh partisan-partisan dari partai-partai yang bersiteru dikategorikan sebagai tindakan yang anarkis? Atau lebih jauh menganut anarkisme? Pertama, satu-satunya alasan tindakan mereka mungkin bisa dikategorikan anarkis, adalah karena mereka bertindak diluar hukum, karena mereka menyatakan keberatan tidak melalui otoritas legal (lewat polisi atau pengadilan), tetapi dengan bertindak sendiri. Pada awalnya argumen ini cukup meyakinkan, tapi jangan dulu terburu-buru. Di sepanjang sejarah para anarkis selalu mengajak setiap individu untuk bertindak dan berpikir untuk dirinya sendiri. Tetapi berpikir dan bertindak secara mandiri tidak ada hubungannya dengan diperintah. Seperti yang kita semua tahu, kebanyakan dari kerusuhan pilkada ini adalah konflik kepentingan kekuasaan yang ditindak lanjuti secara vulgar oleh pendukung-pendukung calon penguasa daerah, entah pengikut yang fanatik ataupun dari mereka yang dibayar. Adalah suatu kesalahkaprahan untuk mendefinisikan tindakan tersebut dengan anarkisme, karena perilaku anarkis yang sejati tidak ada hubungannya dengan menjadi penjilat bokong pemimpin ataupun jadi pengikut loyal seorang tuan tanah. Kaum anarkis menentang demokrasi parlementer, karena menurut mereka demokrasi semacam ini tidak merubah apapun selain hanya gonta-ganti pemimpin tanpa pernah bisa menciptakan perubahan dan memperbaiki kondisi sosial. Sedangkan tindakan perusuh pilkada lebih cocok dilihat sebagai kecenderungan kontradiktif sistem demokrasi parlementer. Kerusuhan seperti ini bukan hal baru, coba lihat disepanjang sejarah perpolitikan Indonesia, hampir disetiap ajang pemilu/pesta demokrasi bentrok antar pengikut partai merupakan hal yang lumrah, meskipun nyawa sudah seringkali melayang. Pada faktanya kompetisi antar kekuatan ekonomi, sebagai logika tunggal dari kapitalisme, membutuhkan politisi untuk mengaturnya, dan masing-masing kekuatan membutuhkan utusan yang bisa mereka percayai di dalam insititusi birokratik untuk mempermudah mereka di dalam mengerup keuntungan (mengeksploitasi pekerja) dan memenangkan kompetisi bisnis. Bukan suatu kejutan kalau mereka juga punya mafia jalanan apabila target tidak kena sasaran.
Tindakan orang tua memukul anaknya, apakah anarkis? Bisa juga dikategorikan anarkis karena tindakan ini memang diluar dari otoritas legal (polisi dan negara), semenjak tidak pernah ada hak istimewa tertulis bagi orang tua untuk dapat menyiksa anaknya. Tapi pengertian sebenarnya dari anarki adalah ‘kekosongan dari kekuasaan’, dan ideolog anarkisme seperti Max Stirner beserta kaum anarkis sepanjang sejarah menjunjung tinggi ‘hak daulat individu’ tanpa terkecuali. Secara idenya, tindakan tersebut bukan tindakan anarkis. Itu lebih bisa dianalogikan dengan hubungan totaliter seorang raja terhadap rakyatnya, yang dimana ia memiliki kekuasaan penuh atas segala hajat hidup dan hak polik mereka, ia bisa merampas dan memberikan sesukanya. Tindakan ini orang tua memukul anaknya adalah wajah dari sebuah masyarakat yang memiliki watak otoritarian. Ini bukanlah anarkis, melainkan sesuatu yang selalu ditentang oleh para pemikir maupun praktisi anarkisme.
Darisini kita bisa memahami bahwa tiada satupun kekerasan yang biasanya dikaitkan dengan anarkisme ini sesuai dengan ide dari anarkisme itu sendiri. Ini terjadi karena beberapa hal yang remeh. Entah para jurnalis dan praktisi media yang kurang bisa membaca bahasa Inggris, ataukah mereka terlalu malas untuk membuka kamus maupun membaca buku untuk mempelajari sesuatu yang akan sering mereka gunakan. Walau disaat yang bersamaan mempercayai apapun yang disuapi oleh para politisi (pemimpin politik), termasuk demagogi dan kebodohan mereka?
Apa Yang Membedakan Anarkisme dengan Fundamentalisme FPI beserta aliansinya
Pertama, sudah jelas kalau FPI dan FBR adalah organisasi dengan struktur hirarkis, absolutis, yang di back-up oleh pengusaha dan para politisi. Ini tidak perlu dijelaskan lagi. Kedua, tindakan-tindakan yang mereka lakukan mengatasnamakan ‘moral religi’ ataupun dogma–atau bisnis? Anarkisme, meskipun banyak dari para pemikirnya memapankan anarkisme sebagai ideologi, tetapi melalui pandangan umum yang lebih adil untuk menjelaskannya–karena luasnya berbagai varian dari ide tersebut–ia adalah sebuah kecenderungan sejarah dimana masyarakat bisa mengorganisir diri tanpa adanya campur tangan kekuasan, entah dilakukan di dalam skala kecil atau besar. Anarkisme jelas bukan sebuah dogma dimana semua orang harus tunduk menaati. Noam Chomsky berkata, “…[anarkisme] adalah sebuah tendensi di dalam sejarah pemikiran dan tindakan manusia yang bertujuan mengidentifikasikan berbagai macam bentuk struktur hirarkis, otoritarian, serta koersif untuk menentang legitimasinya”.
Anarkisme modern, mengembangkan teori dan praktiknya hingga ke level sistem pengorganisiran sosial yang egaliter. Banyak anarkis mempraktikan tipe demokrasi langsung/akar-rumput, dimana setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan komunitas ataupun organisasi dilakukan dengan konsensus: sebuah demokrasi sejati. Jelas sekali ini tidak serupa dengan sehelai janggutpun dari koar-koar orang-gila-hormat seperti Habib Rizieq dan aliansi mafianya (FBR) yang gila uang. Forum Betawi Rempug, terlebih lagi, bukanlah tipe komunitas etnis akan tetapi sebuah organisasi bisnis yang berpolitik atas nama etnis. Posisi seperti ini, seperti halnya dengan moralitas absolut FPI, adalah posisi yang sangat bertentangan dengan anarkisme. Para anarkis memang terkenal dengan penolakannya yang keras terhadap institusi agama ketika agama berkolaborasi dengan kekuasaan (seperti yang kita semua tidak setujui, bukan?) dan ingin mengabsolutkan satu kebenaran tunggal di dunia. Posisi para anarkis terhadap institusi agama ini pun hanya berlangsung dengan vulgar pada abad-abad 18-19 dan permulaan abad 20 di Spanyol. Kalau kalian pernah membaca ataupun menonton ‘Three Musketeers’, disitu kalian bisa melihat karakter para pemuka agama dan institusinya yang ditentang oleh para anarkis. Namun jaman sekarang, peran agama cenderung lebih pasif di dalam perpolitikan (kecuali di negara-negara arab, dan mungkin di Indonesia baru-baru ini?), berbeda pada masa-masa tersebut dimana pemuka agama seringkali memiliki peran ganda yang vulgar*.
Di sisi yang lebih positif, para anarkis tidak didominasi oleh ateis, tapi banyak dari mereka adalah kaum relijius. Pertentangan yang ada diantara anarkis-relijius dan anarkis-ateis hanya termanifestasi melalui kritisisme dan tidak jarang mereka mengadakan proyek bersama untuk merealisasikan cita-cita sosial dari anarkisme, ataupun hanya untuk sekedar tinggal bersama disebuah komune kecil. Tokoh-tokoh anarkis relijius antara lain: Leo Tolstoy, menggabungkan ajaran kristiani dengan anarkisme, warisannya tersebut kemudian menginspirasikan gerakan-gerakan perdamaian dan anti-perang. Dorothy Day dan Catholic Worker (organisasi pasifis libertarian yang terinspirasi oleh anarkisme) pergi ke wilayah kumuh New York untuk memberi makan dan menyediakan tempat penampungan bagi gembel tanpa sama sekali berniat untuk mengkatolikan mereka. Paul Goodman, seorang penyair, penulis, tokoh anti-perang di era 60an Amerika, adalah seorang anarkis yahudi. Peter Lamborn Wilson atau Hakim Bey, penulis T.A.Z (Temporary Autonomous Zone), adalah seorang anarkis muslim. Gary Snyder mengkolaborasikan ajaran Buddhisme dengan anarkisme. Bagi para anarkis–sebagaimana juga yang diyakini banyak orang dan merupakan esensi dari ide anarkis itu sendiri–kepercayaan dan moralitas adalah urusan dari setiap individu dan tidak ada satupun yang berhak mencampurinya.
Yakoub Islam, seorang anarkis muslim, menjelaskan posisinya di dalam Muslim Anarchist Charter:
- Tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusannya;
- Tujuan dari hidup ialah untuk membangun sebuah hubungan kasih yang damai dengan Yang Maha Esa melalui pemahaman untuk bertindak sesuai ajaran, wahyu, serta tanda-tandanya di dalam Penciptaannya juga hati manusia;
- Demi tujuan seperti itu kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk mempelajarinya dengan kehendak hati yang bebas, dan secara sadar menolak setiap bentuk kompromi dengan institusi kekuasaan, entah dalam bentukbnya yang yuridis, relijius, sosial, korporatik maupun politis;
- Demi tujuan seperti itu kita harus aktif di dalam kegiatan merealisasikan keadilan yang bertujuan untuk membangun sebuah komunitas-komunitas dan masyarakat dimana pembangunan jiwa yang spiritual tidak terbatasi lagi oleh kemiskinan, tirani, dan ketidakpedulian.
Muslim Anarchist Charter menolak:
Kekuatan fasis yang bertujuan untuk memapankan kebenaran tunggal yang absolut, termasuk patriarki, kerajaan, dan kapitalisme.
Dilihat dari sini, tipe muslim anarkispun sangat jauh berbeda dengan ormas-ormas macam FPI dan para fatwais di MUI.
Perjuangan melawan lupa
Kalian bisa menilai bahwa yang tertulis disini merupakan sebuah pembelaan ideologis, tapi ini lebih besar dari sekedar pembelaan semacam itu. Karena sesungguhnya ide tidak terpisah dari manusia dan saya menolak peran ideologis. Sebab ideologi itu tunggal dan kehidupan beragam. Ideologi itu diam sementara hidup bergerak. Maka saya lebih suka menyebutnya sebagai pembelaan terhadap gerak-sejarah anarkisme dengan segala ragam kehidupan yang telah terbang bebas bersamanya sampai sekarang. Anarki hadir untuk kehidupan bukan sebaliknya.
Milan Kundera pernah menulis, “perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa,” di dalam novelnya The Book of Laughter and Forgetting. Kelupaan seorang manusia terhadap latar-belakangnya adalah hilangnya jati-diri seorang manusia itu dimana kesadaran dirinya yang utuh tersandera di masa lalu. Orba telah berhasil melakukan proyek pemberangusan sejarah bahkan mewariskan kemunduran yang hebat pada masyarakat Indonesia. Serangkaian pembantaian disepanjang nusantara tidak pernah lengkap kisahnya, karena semuanya telah dihapus dari memori. Selayaknya data di komputer yang hanya perlu menekan tombol del dan sirna semuanya, tak ada satupun huruf yang dapat kita baca untuk bisa memahaminya. Untuk mengerti siapa kita sebenarnya. Maka tidak salah ketika Kundera berkata seperti itu. Bahwa kita harus berhenti untuk melupa dan membiarkan memori kita sirna tanpa jejak. Ini seharusnya mengingatkan kita terhadap apa yang bisa dilakukan oleh institusi kekuasaan di dalam mengendalikan pemikiran dan hidup kita. Puing-puing sejarah masih tersimpan di dalam tanah dan debu peradaban. Ada yang berkata, “kita harus menelusuri masa lalu terlebih dahulu untuk dapat menapaki masa depan.”
Kita belum lagi tinggal di tipe masyarakat Orwellian, tapi sedang melangkah pasti menuju kesana. Jejak-jejaknya telah mulai kita lewati. Dari begitu mudahnya memori kita terhapus, begitu cepatnya manusia hilang tanpa ingatan, begitu ceteknya memprogram pemikiran setiap manusia. KLIK! Dan semua akan menurut. KLIK! Dan kita akan berhenti berpikir. Namun Jalan perubahan tidak jauh, dia ada didepan mata dan di dalam diri kita. Apabila kekuasaan adalah sang pemencet tombol del, maka anarki adalah virus yang akan terus hidup disetiap folder yang tersembunyi. Ia adalah virus yang akan menghantar kembali ingatanmu. Ia adalah rayap disetiap sangkar burung. Ia hadir di dalam detakan jantung ketika kamu marah dan mencintai dunia sepenuh hati, ia hadir untuk mengingatkanmu bahwa kamu masih hidup dan masa depan belum lagi tertulis.
“A strong people don’t need strong leaders.” – Ella Baker
Good Morning, Revolution, I See Your Light Again.
All power thru the people!
Faithfully yours,
Ernesto Setiawan – anarkrisna@yahoo.com











Tapi bukankah pembentukan keteraturan dan struktur adalah suatu keniscayaan alamiah? Lalu apa yang akan mencegah anarkisme untuk berevolusi membentuk suatu hirarki struktur? Bukankah itu yang terlah terjadi pada nenek moyang manusia?
Bagaimana mempertahankan supaya anarkisme tidak berevolusi? Dengan instrumen/organ penekan? Ha..berarti ular makan ekornya, suati siklus yang sia-sia.
siip…saya setuju sama kamu soal evolusi dan struktur…itu bener…alamiah banget….tapi apakah struktur itu mesti “hirarki”??? sejalan dengan proses evolusi yang kamu bilang diatas…anarki membangun keteraturan dan struktur “tanpa” hirarki…gimana kalo aku pake kata-kata tersebut???
penjelasan anda tepat, dan mungkin lebih tepat lagi jikalau penjelasan anda lebih detail dengan melihat secara historis paham anarkisme itu sendiri dahulu tanpa mencampuradukan dengan segi yang lain, seperti yang di tulis max stringer seorang anarkisme “tuhan telah mati”(kalo ngga salah !) yang konsekwensinya mereka seorang atheis maka tidak pantaslah dalam penyebutan anda muslim yang anarkis, lalu mengapa sesuatu yang brutal dan merusak selalu diidentik dengan sesuatu yang anarkisme ? itu karena hegemoni barat sebagai otak kapitalisme yang mempropagandakan lewat medianya sebagai objek kambing hitam setelah komunisme karena wujud dari anarkisme tidak begitu berbahaya maka cukup dengan propaganda, adapun islam, barat telah hampir sukses mengubah “world view ” sebagai musuh dunia dan pada hakikatnya islam adalah peradaban yang telah memajuan dan meny membuhkan dunia khususnya barat dari kebutaan !!!! hidup islam
historis anarkis??? kalo anda cuma memberikan max stirner sebagai patokan…maka anda sama sekali gak akan melihat dinamika filosofis para anarkis keseluruhan….semua anarkis pada dasarnya selalu mengacu pada penolakan keteraturan yang menindas…sejauh ketika para anarkis (yang muslimi) merasa bahwa tuhan (Allah) memberikan peraturan yang tidak menindas…maka selalu akan ada muslim yang anarkis…itu pilihan anda ketika anda hanya melihat islam hanya tunggal sebagai pandangan hidup…tapi maaf saya hanya ingin berkata….anda bohong…nyatanya…banyak faktor eksternal lain diluar islam (namun sejalan dengan islam) yang nyata2 anda juga jalani…(silahkan review sendiri) begitu pula…para anarkis yang memang muslim…mereka mencari kecocokan2 tertentu antara islam dan anarki…kemudian memadukannya sebagai sebuah paduan yang indah…coba baca sekali lagi “anarkis muslim charter”
* Tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusannya;
* Tujuan dari hidup ialah untuk membangun sebuah hubungan kasih yang damai dengan Yang Maha Esa melalui pemahaman untuk bertindak sesuai ajaran, wahyu, serta tanda-tandanya di dalam Penciptaannya juga hati manusia;
* Demi tujuan seperti itu kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk mempelajarinya dengan kehendak hati yang bebas, dan secara sadar menolak setiap bentuk kompromi dengan institusi kekuasaan, entah dalam bentukbnya yang yuridis, relijius, sosial, korporatik maupun politis;
* Demi tujuan seperti itu kita harus aktif di dalam kegiatan merealisasikan keadilan yang bertujuan untuk membangun sebuah komunitas-komunitas dan masyarakat dimana pembangunan jiwa yang spiritual tidak terbatasi lagi oleh kemiskinan, tirani, dan ketidakpedulian.
atau silahkan baca http://anarchoi.gudbug.com/2005/07/22/on-becoming-a-muslim-anarchist/
atau,cari diberbagai sumber lainnya…mengenai paduan lain…silahkan komentar kembali jika paduan tersebut memang menyimpang dari islam