MENGUBAH tanpa MENGAMBIL

Dapatkah kita mengubah dunia tanpa mengambil-alih kekuasaan?

Saya tidak tahu jawabannya. Mungkin saja kita bisa mengubah dunia tanpa merebut kekuasaan. Mungkin juga tidak. Titik berangkat–bagi kita semua, menurut saya–adalah ketidakmenentuan, ketidaktahuan, sebuah pencarian bersama kedepan. Kita mencari sebuah jalan kedepan, karena sudah semakin jelas bahwa kapitalisme adalah sebuah bencana bagi kemanusiaan. Revolusi, sebagai sebuah perubahan radikal dari masyarakat, adalah sesuatu yang tidak dapat menunggu. Dan revolusi ini haruslah revolusi (yang terjadi di seluruh) dunia kalau kita memang menginginkan sebuah revolusi yang efektif. Namun revolusi ini tidak dapat terjadi dengan satu kali hentakan. Ini berarti satu-satunya cara dimana kita bisa menyiapkan revolusi adalah serupa dengan revolusi insterstisial, sebuah revolusi yang akan terjadi di antara celah-celah kapitalisme, revolusi yang menduduki ruang-ruang diseluruh dunia ketika kapitalisme masih terus berjalan. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menyusun celah-celah ini, apakah di dalam bentuk negara-negara atau dengan cara-cara yang lainnya.

Di dalam memikirkannya, kita harus memulai dari dimana kita berada, dari berbagai pemberontakan dan insubordinasi yang telah membawa kita ke tempat dimana kita berada. Dunia dipenuhi dengan pemberontakan-pemberontakan, orang-orang yang berkata tidak kepada kapitalisme: TIDAK, kami tidak akan menghidupi kehidupan kami menurut gerak kapitalisme, kami akan melakukan apa yang menurut kami diperlukan atau diinginkan dan tidak menurut apa yang kapital perintahkan kepada kami. Terkadang kita melihat kapitalisme sebagai sebuah sistem dominasi yang meliputi semuanya dan lupa bahwa pemberontakan-pemberontakan tersebut terjadi dimana-mana. Terkadang pemberontakan semacam itu sangatlah kecil sehingga mereka yang terlibatpun tidak menganggapnya sebagai sebuah pemberontakan, tapi seringkali mereka adalah proyek-proyek kolektif yang mencari sebuah jalan alternatif kedepan dan adakalanya mereka sebesar para pemberontak di hutan Lacandon (Zapatista) atau Argentina beberapa tahun lalu serta pemberontakan di Bolivia. Berbagai bentuk insubordinasi semacam ini dikarakteristikan oleh sebuah gerak menuju kemandirian diri, sebuah impuls yang berkata “Tidak, kamu tidak akan mengatakan apa yang harus kami lakukan, kami harus menentukan sendiri apa yang harus kami lakukan.”

Berbagai penolakan ini dapat dipahami sebagai celah-celah, seperti halnya retakan di dalam sistem dominasi kapitalisme. Kapitalisme bukanlah (dari awalnya) sebuah sistem ekonomi, tapi sebuah sistem perintah. Kaum Kapitalis, melalui uang, memerintah kita. Untuk melakukan penolakan kita harus menghancurkan perintah dari kapital. Pertanyaan bagi kita, sekarang, adalah bagaimana kita memperluas penolakan-penolakan semacam ini, memperbanyak retakan di dalam tekstur dominasi. Ada dua cara yang bisa dipertimbangkan.

a) Yang pertama mengajukan bahwa gerakan-gerakan ini, berbagai macam insubordinasi ini, kurang kematangan dan efektifitas apabila tidak difokuskan, serta tidak diarahkan pada sebuah gol. Untuk bisa menjadi efektif, mereka harus diarahkan menuju pengambil-alihan kekuasaan negara–entah itu melalui pemilihan-pemilihan atau dengan menggulingkan negara dan menggantinya dengan sebuah bentuk negara baru yang revolusioner. Bentuk organisasional untuk melangkah menuju gol tersebut adalah melalui partai. Pertanyaan mengenai pengambil-alihan kekuasaan negara bukanlah sebuah pertanyaan tujuan-tujuan kedepan, tapi lebih pada bentuk organisasi yang sekarang ada. Bagaimana seharusnya kita mengorganisasikan diri kita sekarang ini? Haruskah kita bergabung dengan sebuah partai, sebuah bentuk organisasional yang memanfaatkan kesengsaraan kita untuk dapat meraih kekuasaan negara? Ataukah kita harus mengorganisasikannya dengan cara yang berbeda?

b) Cara kedua di dalam memikirkan tentang perluasan dan penggandaan dari insubordinasi adalah dengan berkata “Tidak, berbagai bentuk pemberontakan tersebut tidak seharusnya dihubungkan bersama di dalam sebuah bentuk partai, mereka harus berkembang secara bebas, dan melangkah kemana saja perjuangan membawa mereka. Ini bukan berarti tanpa koordinasi, namun koordinasinya harus lebih longgar. Kesimpulannya, tujuan nyatanya bukanlah negara tapi masyarakat yang ingin kita ciptakan.

Argumen prinsipil yang menentang bentuk pertama adalah karena itu akan membawa kita menuju arah yang keliru. Negara bukan sebuah benda, juga bukan sebuah obyek yang netral: ia adalah sebuah bentuk hubungan sosial, sebuah bentuk organisasi, sebuah cara untuk melakukan sesuatu yang telah berkembang selama beberapa abad dengan tujuan melestarikan dan mengembangkan kekuasaan kapital. Apabila kita memfokuskan perjuangan di dalam negara, atau kita menganggap negara sebagai tujuan prinsipil, kita harus memahami bahwa negara mempengaruhi kita untuk mengarah menuju sebuah jalan tertentu. Terlebih lagi, negara akan menjadi alat untuk memisahkan perjuangan kita dengan masyarakat, untuk mengubah perjuangan kita menjadi sebuah perjuangan mewakili, atau atas nama (rakyat). Ia memisahkan pemimpin dari massanya, sang perwakilan dari yang diwakilkan, ia menarik kita menuju sebuah cara yang berbeda di dalam berpikir dan berbicara. Ia menarik kita menuju sebuah proses rekonsiliasi dengan realita, dan realita tersebut adalah realita dari kapitalisme, sebuah bentuk organisasi sosial yang didasari atas eksploitasi dan ketidakadilan, pembantaian serta penghancuran. Ia juga akan menarik kita menuju sebuah definisi spasial mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu, sebuah definisi spasial yang menciptakan pemisahan nyata antara teritori negara dan dunia luar, dan sebuah pemisahan nyata antara warga negara dan orang asing. Ia menarik kita menuju sebuah definisi spasial mengenai perjuangan yang tidak akan sepadan dengan gerak global dari kapital.

Ada satu konsep kunci di dalam sejarah negara-negara yang berorientasi kekirian, dan konsep itu adalah pengkhianatan. Dari waktu ke waktu, para pemimpin selalu mengkhianati pergerakan, dan penyebabnya bukanlah karena mereka (para pemimpin tersebut) adalah orang-orang yang tidak baik, namun karena negara sebagai sebuah bentuk organisasi memisahkan para pemimpin dari pergerakan dan lebih jauh lagi, membawa mereka menuju sebuah proses rekonsiliasi dengan kapital. Pengkhianatan sudah menjadi sebuah prinsip organiasasi dari negara. Bisakah kita menolaknya? Ya, tentu saja kita bisa, dan ini adalah sesuatu yang selalu saja terjadi. Kita dapat menolak pemimpin-pemimpin atau perwakilan yang ditunjuk oleh negara untuk pergerakan, kita dapat menolak para delegasi untuk melakukan negosiasi secara tertutup dengan para perwakilan dari negara. Namun ini mengisyaratkan pemahaman bahwa bentuk organisasi kita sangatlah berbeda dengan yang ada pada negara, dan tidak ada kemiripan diantara keduanya. Negara adalah bentuk organisasi yang mewakilkan, dan apa yang kita inginkan adalah organisasi mandiri, sebuah organisasi yang mengizinkan kita untuk dapat mengartikulasikan apa yang kita inginkan, apa yang kita putuskan, apa yang kita pertimbangkan penting dan dihasratkan. Apa yang kita inginkan, dengan kata lain, adalah sebuah bentuk organisasi yang tidak memiliki orientasi untuk mengambil-alih negara.

***

Argumen yang menentang bentuk pengambil-alihan negara sudah jelas, tapi konsep alternatifnya seperti apa? Argumen dari mereka yang berorientasi menuju pengambil-alihan negara dapat dilihat sebagai konsepsi yang sudah pasti dari perkembangan perjuangan. Perjuangan disusun seperti halnya sebuah tujuan pasti, yaitu pengambil-alihan kekuasaan negara. Pertama kita mengkonsentrasikan setiap usaha kita untuk meraih negara, melakukan pengorganisiran untuk itu, dan baru setelah kita dapat meraih negara, kita dapat memikirkan bentuk organisasi yang lain, dan mempertimbangkan cara untuk merevolusikan masyarakat. Pertama kita bergerak kesatu arah, untuk dapat menuju arah yang lain: masalahnya adalah, dinamika pengambil-alihan pada fase pertama itu cukup sulit dan akan menjadi tidak mungkin dirubah pada fase keduanya. Konsep kedua fokus langsung pada bentuk masyarakat seperti apa yang ingin kita ciptakan, tanpa adanya fase pengambil-alihan negara. Tidak ada titik pasti disini: organisasi dipertimbangkan terlebih dahulu, dan langsung dihubungkan dengan hubungan-hubungan sosial yang ingin diciptakan. Konsep pertama melihat bahwa perubahan radikal dari masyarakat akan terjadi setelah pengambil-alihan kekuasaan, konsep yang kedua menekankan bahwa perubahan radikal itu harus dilakukan sekarang. Bukannya revolusi yang terjadi ketika waktunya sudah tepat, tetapi revolusi yang dilakukan disini dan sekarang.

Pertimbangan awal ini, revolusi yang dilakukan disini dan sekarang ini pada intinya melangkah menuju kemandirian diri. Kemandirian diri tidak dapat hidup di dalam sebuah masyarakat kapitalis. Apa yang bisa dan memang hidup (di dalam masyarakat kapitalis) adalah gerak menuju kemandirian sosial: pergerakan melawan keterasingan diri. Sebuah pergerakan semacam ini adalah sesuatu yang sangat eksperimental, namun ada tiga hal yang sudah jelas:

a) Gerak menuju kemandirian adalah sebuah gerak yang menentang pemerintahan yang dipaksakan oleh elemen lain dengan mengatasnamakan kepentingan kita. Karenanya (pergerakan) ini adalah sebuah pergerakan melawan demokrasi representatif demi penciptaan sebuah bentuk demokrasi langsung.

b) Gerak menuju kemandirian tidak dapat disetarakan dengan negara, yang merupakan sebuah bentuk organisasi yang memutuskannya untuk kita dan lebih lanjut mengesampingkan kita.

c) Gerak menuju kemandirian tidak akan berarti apabila tidak melibatkan titik utama dari kemandirian kerja dan aktivitas kita. Yang seharusnya diarahkan untuk melawan organisasi kerja kapitalis. Apa yang kami bicarakan, oleh karena itu, bukanlah hanya demokrasi tapi juga komunisme, bukan hanya pemberontakan tapi juga revolusi.

Bagi saya, konsepsi kedua mengenai revolusi inilah yang harus kita konsentrasikan. Fakta bahwa kita menolak konsepsi ‘pengambil-alihan negara’ bukan berarti kalau konsepsi ‘tanpa-negara’ tidak memiliki masalahnya sendiri. Saya melihat tiga masalah prinsipil, dan tidak satupun dari argumen dibawah ini merupakan pembenaran untuk mengambil-alih kekuasaan negara:

a) Isu pertama adalah bagaimana cara menangani represi dari negara. Jawabannya menurut saya bukanlah mempersenjatai diri kita agar kita dapat mengalahkan negara di dalam konfrontasi terbuka: cukup diragukan kalau kita akan menang dan malahan kita akan mereproduksi hubungan-hubungan sosial otoritarian yang sedang kita lawan. Bukan juga dengan cara mengambil-alih negara agar kita dapat menguasai kekuatan militer dan polisi: penggunaan tentara dan polisi mengatasnamakan rakyat biasanya akan berakhir menjadi konflik dengan perjuangan yang tidak menginginkan siapapun untuk bertindak mewakili mereka. Ini meninggalkan kita pilihan untuk mencari cara mencegah negara mempraktikan kekerasan kepada kita: ini mungkin melibatkan beberapa tingkat dari gerakan bersenjata (seperti halnya dengan Zapatista), namun kita harus mengaitkannya dengan kekuatan pemberontakan yang berada di dalam komunitas.

b) Isu kedua adalah dapatkah kita membangun kerja-kerja alternatif (aktivitas produktif yang alternatif) di dalam kapitalisme, dan sampai pada tingkat berapa kita dapat menciptakan sebuah ikatan sosial antar tiap aktivitas, yang tidak berupa nilai. Banyak eksperimen yang menunjukan kepada solusi yang mirip (Fabricas Recuperadas di Argentina, misalnya) dan kemungkinan-kemungkinannya seperti biasa bergantung pada skala dari pergerakan itu sendiri, dan ini masih menjadi sebuah masalah yang besar. Bagaimana kita memikirkan sebuah kemandirian sosial dari produksi dan distribusi yang bergerak dari bawah keatas (melalui celah-celah pemberontakan) dan bukannya dari sebuah badan perencanaan pusat.

c) Isu ketiganya adalah organisasi sosial yang mandiri. Bagaimana kita mengorganisir sebuah sistem demokrasi langsung pada sebuah skala yang dapat mejangkau lebih jauh dari wilayah lokal di dalam sebuah masyarakat yang kompleks? Jawaban klasiknya adalah dibentuknya dewan-dewan yang terhubung di dalam dewan utama dimana setiap bentuk dewan dapat mengirim perwakilan yang kapan saja dapat diganti. Secara mendasar pandangan seperti ini cukup baik pada awalnya, tapi cukup jelas, bahwa di dalam kelompok yang kecilpun pelaksanaan demokrasi selalu problematis. Karena itu, menurut saya, satu-satunya cara untuk dapat melaksanakan demokrasi langsung adalah melalui sebuah proses eksperimentasi yang konstan dan refleksi sebagai bentuk pembelajaran. Jadi, dapatkah kita mengubah dunia tanpa merebut kekuasaan?

John Holloway – Adalah seorang pemikir ekonomi Marxis yang berhubungan dekat dengan pergerakan Zapatista di Meksiko – kota yang telah menjadi kampung halamannya semenjak 1991. Holloway merupakan bagian dari lingkaran Marxis otonomis, sebuah kecenderungan varian Marxis pasca-modern untuk membangun perubahan sosial melalui bawah tanpa mengambil-alih kekuasaan. Buku pentingnya – Change The World Without Taking Power – telah menjadi kontroversi diantara kalangan Marxis, dimana ia mengusulkan sebuah revolusi tanpa mengambil alih negara, tapi justru dengan menghancurkan kekuasaan melalui aksi-aksi konstruktif melawan hubungan-hubungan sosial masyarakat kapitalis.

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 1 Komentar

Satu Komentar untuk “MENGUBAH tanpa MENGAMBIL”

  1. Pada tanggal 01 Aug 2007 jam 10:00 am kususanto

    Latar Belakang:

    Karena alasan politik-praktis serta juga ideologis maka Pemerintah RI sejak zaman Suharto sudah memilih mekanisme pasar terbuka dengan membuka diri terhadap perdagangan internasional dan tidak menolak arus globalisasi. Politik alternatip adalah menjalankan nasionalisme ekonomi yang menutup diri, atau politik ideologis yang sosialis-marxis yang menolak ekonomi dunia karena dikuasai oleh kapitalisme-imperialisme. Kedua aliran pandangan ini juga ada penganutnya di Indonesia, atau khususnya di Jakarta. Akan tetapi, di dunia kedua aliran ini sudah susut pengaruhnya. Tetapi, seperti pemerintah di India, maka di Indonesia pun, pemerintah harus selalu melakukan balancing act agar pengaruh jelek dari ekonomi pasar (yakni kesenjangan antara yang berhasil di pasar dan yang gagal) bisa dilunakkan dengan berbagai kebijakan langsung mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Tugas pemerintah demikian memerlukan kemampuan pemerintah, dalam ukuran APBN, yang besar. Di masa sekarang pemerintah tidak punya kekuatan ini karena APBN terlalu dibebani oleh angsuran pembayaran utang dan subsidi (terutama untuk BBM) yang sangat besar. Maka akhirnya kehidupan pemerintah juga senantiasa terancam (precarious) banyak kritik. Untuk sementara tidak ada alternatip. Kemajuan ekonomi (dan politik) masih dicapai akan tetapi secara gonjang-ganjing (muddling through).

    Apakah ada solusi alternatif yang bersifat market freindly untuk bangsa ini? (misalnya bank ability bagi usaha-usaha yang bercapital sangat kecil sekali, sebab mereka walau sangat kecil telah berperan sangat besar sebagai penyetabil gejolak politik & ekonomi di banyak negara periferial)

Berikan komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback URI | RSS Komentar