masa PUNK nggak boleh masuk TIPI sih???
Dikirim pada 20-01-2007 oleh: Anarch[Oi]!
Tag: bebas!, punk, scene report
Hallo…beberapa hari yang lalu (15 Januari 2007) RCTI dengan program URBAN-nya menayangkan episode dengan tajuk “GENERASI PUNK”, dalam program ini pula…nyaris tiap detiknya didominasi oleh liputan tentang MARJINAL dan aktifitas kesehariannya bersama kawan-kawan di TARING BABI…band punk yang gak perlu saya sebutkan lagi seluk-beluknya karena saya yakin banyak yang udah pada enggeh koq.
Selain MARJINAL, RCTI juga meliput keseharian para street-punk, kemudian dengan sudut pandangnya RCTI membandingkan perbedaan dari keduanya. MARJINAL & TARING BABI disebut-sebut sebagai “PUNK IDEALIS” dan mereka yang diliput sedang asik nongkrong dengan sebutan “PUNK JALANAN/STREET PUNK”.
Dari beberapa scene, menurut saya…pesan yang coba disampaikan oleh kawan-kawan MARJINAL & TB cukup positif, secara keseluruhan….setidaknya acara ini nggak seperti kebanyakan acara lainnya di tivi yang senantiasa menampilkan stigma buruk punk keatas publik tanpa investigasi dan informasi yang akuran, sebut saja acara “7 hari menuju taubat” dimana seorang punk digambarkan sebagai sosok pendosa yang sudah seharusnya bertaubat, atau acara “metro realitas” episode punk yang dulu sempat menggemparkan karena lebih banyak menyoroti sisi negatif dari punk tanpa menelaah hal positif yang ada.
Semula saya sempat heran saat mike muncul di iklan acara URBAN di tivi…penasaran akhirnya niat banget buat nonton ;P, selesai nonton…huh…ternyata RCTI cukup sehat kali ini, saya jadi teringat beberapa hari yang lalu saya sempet ngobrol dengan salah satu kawan Taring Babi, saat marjinal bertandang ke Rangkasbitung, Banten, yang kebetulan saya juga sedang berada disana. Dalam obrolan saya bilang…apapun usaha kita dalam menggunakan media komersial sebagai jembatan untuk memperjuangkan kepentingan kita hendaknya dibarengi dengan kewaspadaan, dalam artian jangan lagi “kecolongan” kayak yang lalu-lalu seperti yang saya sebut diatas.
Oke…saya acungi cap jempol momen 15 januari lalu, lantas bagaimana dengan kawan-kawan punk lainnya….ternyata (dari info yang saya dapat via email dari taring babi) kontroversi menyinggung pro-kontra hadirnya sosok taring babi dalam acara tersebut sangat-sangat hebat. Coba deh…baca imel konfirmasi dari TARING BABI yang saya kutip dibawah…semoga pandangan sinis tentang tampilnya kawan baik kita dalam acara tersebut dapat segera kita binasakan dari otak kita
——————–
Kawan-kawan yang baik,
Penayangan acara “Urban” yang berjudul “Generasi Punk” dari RCTI pada 15 Januari yang lalu telah menimbulkan pro dan kontra dalam komunitas punk di seantero tanah-air. Banyak yang memberi komentar lewat SMS pada komunitas Taringbabi yang mempertanyakan, mengapa Marjinal mau muncul dalam program TV, dan masih banyak lagi ledekan sinis atas nama scene punk. Semua itu diterima dengan lapang dada di komunitas Taringbabi. Semua perhatian itu adalah bentuk rasa sayang kawan-kawan pada kami di Taringbabi. Kami merasa tersanjung dan mengucapkan puji syukur atas komentar, pertanyaan, celetukan, sinisme. Semua itu kami anggap sebagai awal dari ajakan dialog secara terbuka.
Perlu kami beritahukan kepada kawan-kawan, kronologi sebagai berikut:
26 Desember 2007, datanglah reporter RCTI, Dicky dan kameramen Wayan bersama rekan kerjanya ke Taringbabi. Dalam awal pembicaraan, mereka bermaksud membuat liputan tentang komunitas punk untuk program bernama “Urban”. Sebelumnya mereka telah melakukan liputan pada scene punk di Bandung, khususnya yang nongkrong di Bandung Indah Plaza (BIP). Tapi mereka tidak mendapatkan sesuatu hal yang bernas, bahkan mereka tidak mengerti apa itu punk. Mendengar hal tersebut, kami menyambut maksud mereka yang ingin melihat sisi lain dari komunitas punk — yang lain dari hasil liputan TV pada umumnya, yang hanya menyorot punk yang nongkrong kagak ngapa-ngapain.
Kameramen mulai merekam suasana di Taringbabi. Dari yang bikin clothing/sablon, nyetak emblem, cukil kayu dan melakukan wawancara kepada Mike dan Een (seorang dosen yang menjadi nara sumber) dengan tema: kegiatan sehari-hari Taringbabi, interaksi dengan tetangga dan masyarakat di Setu Babakan, Jagakarsa. Disamping itu sang reporter banyak menanyakan kawan-kawan yang berada di jalan (street punk). Secara gamblang Mike menjelaskan bahwa pilihan mereka untuk hidup dan menghidupi jalanan adalah sesuatu yang harus diacungi rasa hormat. Masalahnya, sebagian masyarakat (disamping media) yang selalu memojokkan street punk karena melihat dandanannya yang tidak lazim itu, dan memberi stigma negatif.
31 Desember 2007. Marjinal mendapat undangan manggung di Pasir Gombong, Cikarang. Sudah beberapa kali Marjinal selalu mendapat undangan memeriahkan acara tutup tahun di lokasi yang berbeda-beda. Ini kali Marjinal dan scene-scene musik setempat manggung di sebuah lapangan, dekat sebuah pabrik. Selain Marjinal, tampil juga Akal Bangsat. Kami ngompreng naik kendaraan umum dari Setu Babakan menuju lokasi. Ketika sampai di lokasi, panitia mengabarkan bahwa ada reporter RCTI yang telah menanti Marjinal dan hendak membuat liputan di gig. Ya, kami menyambut Dicki dan Wayan yang memanggul kamera. Panitia menyediakan makan malam. Kami makam malam bersama dengan lahap. Lalu Marjinal pergi mencari studio untuk sekadar latihan. Kameramen turut mengambil gambar selama latihan di studio yang selesai pada pukul 11.30. Selanjutnya Marjinal langsung pergi ke lokasi gig. Tepat pukul 00.00 tahun 2007, acara semakin asik. Beberapa band setempat dan dari sekitar Cikarang menghangatkan suasana. Akal Bangsat manggung disusul sebuah band dari Cikarang. Acara ditutup oleh Marjinal.
Minggu pertama Januari 2007. Reporter dan kameramen RCTI masih bertandang ke Taringbabi membuat liputan: Boby pergi ke pasar, Mike masak di dapur.
Tiga hari menjelang “Urban” ditayangkan: RCTI membuat spot/ekstra tentang program itu yang diberi judul: Generasi Punk; Punk Never Die. Taringbabi menerima Beberapa SMS menanggapi acara itu dengan negatif.
15 Januari 2007. “Urban” ditayangkan. Taringbabi menerima kiriman SMS yang menyambut dengan hangat “Urban” dan memberi selamat pada Marjinal. Tapi ada juga yang berkomentar dengan sinis.
16 Januari 2007. Pukul 18.00, kawan-kawan Taringbabi berkumpul untuk membahas respon yang muncul dari SMS, bahkan ada yang mengatasnamakan 12 scene punk di Jakarta. Kami di Taringbabi hanya bisa berbesar hati menerima pesan-pesan itu, dan senyum-senyum membayangkan siapa-siapa aja ya 12 scene punk itu.
17 Januari 2007. Kawan-kawan di Taringbabi memutuskan melakukan dialog dengan kawan-kawan lainnya. Mengundang Dicki (reporter RCTI) lewat telpon untuk datang ke Taringbabi (dia sih oke-oke aja) lalu meminta copy liputannya yang masih utuh (belum disunting). Dia menyambut keinginan itu. Rencananya Taringbabi akan memperbanyak dan menyebarkan pada komunitas punk.
Dari kronologi di atas, adalah cukup jelas bahwa Taringbabi secara sadar… ingat SECARA SADAR menggunakan media TV secara kreatif. Taringbabi tidak pernah membuat kompromi dengan media, apalagi menggunakannya sebagai alat promosi diri. Kami hanya menyadari bahwa media TV memberikan dampak yang besar pada masyarakat, dan digunakan sebagai medium penyampai pesan-pesan (tentu perjuangan punk, lho) yang sampai saat ini masih mendapat stigma negatif dari sebagian masyarakat.
Selama ini dalam program-program TV nasional/lokal dengan gamblang menempatkan punk secara negatif. Ingat program “7 Hari Menuju Tobat” dari La Tivi yang memposisikan punker sebagai pendosa. Belum lagi iklan obat influenza yang menggunakan model punker secara negatif, konyol dan oon. Belum lagi pemberitaan media koran: ingat berita “Punk merusak mushola” di Bogor, berita yang tidak akurat dan tanpa proses verifikasi. Belum lagi aksi penggarukan terhadap kawan-kawan di jalanan dalam operasi yustisia oleh aparat trantib. Semua itu… harus disikapi!
Adalah satu hal yang ganjil, apabila kawan-kawan, scene-scene punker di seantero Jakarta hanya berdiam diri, duduk manis, dan tidak memberikan informasi tandingan (counter information). Menurut hemat kami, masalahnya adalah, masyarakat tidak mengetahui secara jelas aktivitas komunitas punk, di luar panggung musik. Mereka hanya melihat punk secara fisikal (kasat mata). Untuk itu, secara sadar, kami ingin membangun dialog dengan masyarakat, contohnya dengan para tetangga kami di Gg. Setia Budi, Setu Babakan. Semua itu bukanlah proses yang instant. Semua dilalui dengan proses panjang. Apa salahnya apabila kami menggunkan media TV sebagai pembuka menuju dialog lebih jauh dan hangat, ramah dan tamah! Toh, akhirnya Taringbabi diterima secara terbuka oleh masyarakat, tetangga kami: Baba, Mpok Romlah, Jibung, Pak RT, Pak Ustad dan lain-lainnya menerima tamu-tamu kami, para punker seantero Indonesia yang bersilaturahmi ke Taringbabi, dengan bebas dan merdeka, sopan dan santun.
Karena itu Taringbabi sangat terbuka terhadap liputan media TV, tentunya berangkat dari referensi kawan-kawan punk, dan melalui serentetan pertanyaan: maksud dan tujuan liputan itu. Sebelumnya Taringbabi menerima pembuat film dokumenter dari Jerman yang datang bersamaan dengan pertunjukkan keliling CBU, band punk dari Jerman. Melalui referensi dari seorang kawan, kami menerima maksud dan tujuan crew film dari Jerman yang ingin mengetahui kehidupan komunitas punk di Indonesia. Mereka melakukan wawancara seharian selain mengambil gambar kegiatan sehari-hari di Taringbabi. Selain itu, mereka membuat liputan di scene-scene punk lainnya. Semua punker di Jakarta dengan bahagia menyambut crew TV Jerman itu – walau mereka belum tentu menyaksikan hasil film itu dan apa dampaknya dengan publik di Indonesia.
Apa yang dilakukan crew TV Jerman dan apa yang mereka dapatkan, menurut hemat kami di Taringbabi, adalah sama seperti apa yang dilakukan crew RCTI ketika meliput untuk “Urban”, tapi secara langsung dapat disaksikan oleh publik (khususnya: para punker yang masih melek pada pukul 11.30 lewat: kasihan deh lho!) Lalu so wahat gitu lho! Mengapa kita menaruh syak wasangka pada liputan “Urban” kalau itu menyampaikan pesan perjuangan punk: “Anti penindasan, anti fasisme, hidup mandiri, selalu kreatif dan peduli sesama”.
Wassalam,











PERLUKAH KITA BERPROPAGANDA?
waw… jadi nyesel krn ga tau liputan 15 januari itu.
komen dikit,
aku rasa idealis bukan berarti menolak semua yang tidak kita suka.
ketika hal itu memberi sesuatu yang tidak merugikan dan memang kita butuhkan, kenapa tidak ?
dengan tampilnya TARING BABI di URBAN bukankah sedikit banyak bisa membuka pandangan masyarakat yang selama ini memandang kita sebelah mata.
ya sudahlah..
Sebuah novel dari tangan penulis bergaya METAL.
>>’BENUEL’
masa punk masuk tV…he…ANZING.. mencoba menyebarkan propaganda lewat media kapitalist…marjinal TERKUTUK.
boleh….aja asal!!!kita gak saling jual idealis sudut pandang boleh beda…itu wajar tapi apa salahnya kalau kita sedikit terbuka dan belajar bersama,apa dan mengapa kita harus tahu???bukankah selama ini yang kita inginkan adlh sebuah solidaritas dari berbagai macam aspek kehidupan???
lebih baik masyarakat tahu apa yang kita perjuangkan , dari pada hanya teriakan keadilan dan kebiadabpan bangsa lain tapi mareka sendiri ga tahu apa yang sebenarnya mereka perjuangkan selama ini , semoga dengan adanya tayangngan tersebut mereka sadar dan bisa membenahi hidup mereka yamg memandang kita sebelah mata!!!!
terus berjuang demi bangsa tanpa mengharapkan semua yang sudah di cita-citakan oleh para pendosa!!!!!
Oi!
Teman-teman…tetaplah berjuang seperti kalimat terakhir kalian “Anti penindasan, anti fasisme, hidup mandiri, selalu kreatif dan peduli sesama”.
Saya pribadi mendukung dialog yang tercipta akibat insiden tersebut!!waduh!!! Oh iya,,hati-hati multi-interpretatif(pemahaman singkat)
Terima kasih..
Oi!
tau tuuuh..Taring babi mo jadi artis ngkalee..
biar tenar ?
wuuuih…
wuuuih…
kasihaaaaan..
punk idealis, punk jalanan. sejak kapan punk dijadikan dua dikotomi ?
marjinal ? cukup politis, tapi cuma di lirik ama omongan doang. emang sih pernah ikut demo waktu anti bush kemarin, tapi cuma ngamen ama mabok doang. ngga bisa lebih nih mas? atau takut ? masa buat aksi yang bener-bener militan aja ngga bisa sih. buktikan dong kalo politis tu ngga cuman di tataran lirik dan diskusi, tapi dalam aksinya. kalo cuma manggung ama nyablon mah apa bedanya marjinal ama band punk lainnya. malu dong ama band-band indie pop, beberapa diantara band indie pop aja wacana politiknya kuat bahkan cukup intens turun ke jalan. oh ya denger-denger marjinal jadi nasionalis nih? sejak kapan ada anarkis jadi nasionalis?…….
soal masuk tipi mah, kayanya marjinal mesti lihat skripnya dulu. kalian lebih nampak sedang dieksploitasi tuh daripada sedang menyebarkan ide-ide anarkis.
cukup aja deh…buat semua orang yang ngakunya anak punk, jangan cuma ngomong doang “lawan sistem kapitalisme!”, aksi nyata dong… tapi tolong kalo aksi lagi jangan bawa-bawa spanduk PUNK DEXTRO ya…jadinya punk identik ama dados…ngga idealis dunks????
menurut gue pribadi sebagai punk roker…
komunitas punk sendiri sebenarnya anti terhadap media di karenakan media sering melakukan dan membuat kebohongan2 yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi tetapi selalu hal itu di lebih2kan…. sehingga akan menyulut pro dan kontra.
kenapa punk ga bisa masuk TV??? dalam komunitas punk itu sendiri sudah ada medianya… ya anda tau lah,,, kalo anda ada dalam komunitas punk pasti anda tau apa yang disebut dengan newslatter atau zine yang berisi tentang IDIOLOGI2 PUNK SENDIRI…
Eh jangan terlalu percaya sama media seperti apa yang di tayangkan oleh media kapitalis RCTI.
tidak semua street punk atau apa yang mereka sebut PUNK jalanan tidak mengerti sama sekali tentang punk(poser atau wanna be ).
saya setuju tuh ma comment nya retired ^__^
tambahin ya…
masa aksi menentang kedatangan bush slogannya aneh sih (mngkn gk perlu si sebutin deh)…gk NGENA bgt!!!!!!
“buktikan dong kalo politis tu ngga cuman di tataran lirik dan diskusi, tapi dalam aksinya”
dlm kehidupan emang perlu pendidikan, but jng sampai punk yg tadinya solidarity menjadi indealis gitu. punk memang dlm arti sempit ‘ bebas ‘ bebas dlm arti kebersamaan .
taring babi2 bau deh
“masyarakat tidak mengetahui secara jelas aktivitas komunitas punk, di luar panggung musik. mereka hanya melihat punk secara fisikal (kasat mata)”
manusia kadang melihat “muka”, judge book by its cover, sedih tapi sayangnya itu naluri alamiah (opini pribadi). sbg orang yang bisa dibilang “buta tentang punk” saya sangat tertarik dengan liputan itu, sayang ga ntn.
pro-kontra sepertinya kian memanas, salut untuk MARJINAL & TARING BABI yang menyikap dengan kepala dingin dan terus semangat untuk perubahan.
“You may never know what results come of your action, but if you do nothing there will be no result” -Mahatma Ghandi
slm kenal
KenApA eNggA pUnK gA bOLeH mASuK TV…
sEkARanG ini PuNk UdAH diLiAT jELek!!!
Ga uSah DiLiatin PuNk Udah JeLeK!!!
THanX bUat ANaK mArJiNaL yANG mAU nGasi Tau,,BaHwA pUnK gA sEJeLek Yang MasyARaKat Kira!!!
KaLian masuk TV bukan karena kaLian ingin tenar kAn?
Tapi ingin Memberitahu kepada masyarakat Lewat suatu media TV,,BAHWA pUnk BuKan se JELEK yang MEREKA kiRa!!!
STAY YOU…STAY TRUE…STAY PUNK
hei jangan bisanya hanya menilai jelek komunitas punk cobalah nilai dirimu sendiri bisakah kamu merubah sesuatu dengan sesaat waktu saja………. stay d.i.y
MAU IKUTAN, BOLEH ?
Tentang insiden 15 Januari, gw rasa tdk sepantasnya acara tersebut masuk dalam kata “insiden” bagi komunitas PUNK. Mungkin lebih pantas bila disebut sebagai “Ajang Cari Muka”.
Buat Marjinal & Taring Babi : Salut buat kalian yang telah terang – terangan menggali kuburan sendiri… Stigma Punk yang (sengaja) terdefinisi oleh kalian sangatlah tidak objektif. Sadar ga ? Dlu kalian juga berada pada posisi yang seperti mereka (street punk)? Atau darimana kalian BESAR, jika bukan dari mereka (Komunitas Ini)?
Cuma mau ingetin ni..Dimana kata “televisi = pembodohan” yang kalian banggakan diatas gigs?
Gw emang bodoh, dan tidak seintelektual kalian !!
Tapi Gw masih punya harga diri, untuk tidak menjadi PELACUR !!
MARI BERDANSA RAME – RAME DI TV…
Lain kali, masuk acara Indonesian Idol, atau Kondang Inn aj, Mas..biar bisa dapt profit lebih thu dari polling sms…
saya setuju 100% klo kmaren tu marjinal masuk tipi.
cz dgn masuknya marjinal n taring babi masuk tipi, memberikan wawasan thd masyarakat ttg apa arti n mksd dari punk itu sndiri…
persetan dgn smua orang yg tdk setuju dgn msknya punk di tipi!!!!
Para punkers di seluruh indonesia harus bersatu kalo bisapun buat situs sendiri,di sisi lain punk juga pintar2 lochhh.. menurut saya merka bisa menginspirasikan kejadian disekitar mereka menjadi seni selain itu para punk jg bisa berdagang yaitu membuka Distro.pokoknya punk diseluruh indonesia harus bersatu dan jangan lupa hindari AIDS
punk never die…fuck mobil mobil,fuck borjuis, fuck kemapanan.
jangan macam macam dengan kami!!!!!!!!!
kita hanya ingin hidup merdeka,tidak mau tertindas dan tdk ingin menindas………….surabaya punk jalanan
Wex! sangkal, segala hal yang terjadi di dunia ini ada kekurangan dan kelebihan masing-masing, ada keburukan dan kebaikan. Contohnya kayak media tipi yang hampir setiap hari acara di dalamnya hampir seluruh otaK umat manusia menelannya setiap hari. tapi kalo ada yang bilang bahwa acara tv mengandung kebusukan media para kaum kapitalist yang selalu ingin membudayakan kita bole aja. tapi jangan lupa bahwa tv juga memilki acara berbentuk Sosial, pesan yang baik, bahkan menguak kebusukan pemerintah. itu mah tergantung setiap ndividu diri kita sendiri, acara mana yang bagus dan bermanfaat untuk kita saksikan.
untuk Abang ama Mpok penghuni Taring Babi, mereka menggunakan media tersebut untuk memaparkan tinadakan, yang selama ini masyarakat berpandangan tentang Punk adalah Tai, di tunjukkan bahwa Punk juga ngaa’ semua Tai. Taring Babi memanfaatkan media tv untuk hal yang negative dan karena tv memiliki pengaruh yang begitu besar dalam masyarakat, maka hal tersebut adalah sebuah tindakan (‘Bukan dimulut doanx!!!……). untuk apa lagi dipermaslahkkan bikin gw pengen berak di mukamu.
pada intinya gw mempermasalahkan apakh punk itu masuk TV atau enggak.
tapi menurut gw asalkan punk yang masuk TV tersebut tdk lupa akan ROOT dari punk tersebut, dalam artian kalau punk masuk TV dengan tujuan sebagai bentuk klarifikasi kepada massa (punk bisa hidup tanpa harus…)gw setuju aja. dan semua yang telah marjinal lakukan menurut gw itu merupakan suatu hal yang wajar bahkan itu bagus, mereka bisa memperlihatkan kepada masyarakat bahwa PUNK tak sejelek atau seburuk yang mereka bayangkan
maRjiNal msUk tiVi???
memANg gpp, tpI kyNY KuraNG menGkriTik Boss!!!
GmN c diLirik2 Lo taJAm Tpi d tipi mNA anArkisnYA??
Jgn cUma di LIriK doanK pOlitis,
kesANya Jdi NAsiONaLis!! HrusnYa Lo Liat duLU donK skRipnY kY Gmn!!
Jgn smPe Nak2 PunK TerLihat sisi negatIF doAnk!!
LiatiN sedIKit anarkIs kalian!
Jgn cuMa nOngoL di tipi doank!!!
-benzol-
jGn piKirkan soaL penAMpiLAn, pIkirKan negeri senDiri daN LawaN kapITalISme!!! fuCk emO!!!!
horasss..
Smoga kt ga banyak cakap aja coy!!
ilove PUNK..
cukup sudah kita dimanfaatkan kawan .apakah tidak ada media lain?untuk menyampaikan idealis n perlawanan kita
Saluut buat Taring Babi….
kalo Punk gak boleh masuk Tipi..gimana dengan Punk masuk internet ???
gak boleh jugaa???? mati aja luh !
Gue salut dengan Marjinal dan komunitas Taringbabi yang melabrak kebekuan dan kemapanan berpikir scene punk dalam menyikapi atau menghadapi media massa khususnya, televisi. Kita tahu televisi selama ini selalu menciptakan stigma pada scene punk. Kita masih ingat reality show: “Punk: 7 Hari Menuju Tobat” yang melihat seorang sebagai pendosa atau iklan obat flu yang menjadikan punk sebagai penyebar virus. Tetapi begitu melihat acara “Urban” yang ditayangkan RCTI yang mengangkat kehidupan punk, ada yang sebagai dosen sebuah perguruan tinggi atau komunitas Taringbabi yang hidup berbaur bersama masyarakat kampung Setu Babakan, Srenmgseng Sawah… Kita melihat sesuatu yang berbeda alias positif. Bagaimanapun juga media, dituntut bersikap adil, kalau pun ada istilah “Punk Idealis” dan “Punk Jalanan” itu semata kebijakan redaksi RCTI yang ingin mengangkat kontras agar pemirsa dapat dengan mudah menyerap tayangan dan jadi pembicaraan kelak. Tidak ada dikotomi yang diciptakan. Coba lo-lo oirang dewasa deh ngeliatnya. Toh selama ini Taringbabi sering bekerjasama dengan kawan-kawan yang di jalan. Taringbabi adalah bagian dari street-punk. Dua puluh empat jam pintu terbuka untuk kawan-kawan yang dari mana saja untuk singgah, tukar cerita, iostirahat dan makan-minum bareng tanpa ada hirarki atau sekat-sekat, tidak pandang bulu!
Sebelum acara Urban ditayangkan pada 15 Januari 2007, beberapa SMS datang yang berisi provokasi terhadap Taringbabi atau Marjinal yang mau bekerjasama dengan RCTI. SMS itu datang dari Eko KR atau Bunga Hitam. Padahal pada bulan Desember, dia yang begitu bersemangat ketika televisi Jerman membuat liputan tentang punk dan konser CBU di Bulungan, bahkan terkesan berlebihan, ngejilat sang repoter karena menggotong-gotong tripod segala… Alamaakk! Mengapa dia tidak melakukan protes terhadap televisi Jerman yang jelas tayangannya tidak dapat dilihat publik di Indonesia? Mengapa dia dengan selubung D.I.Y menyebarkan kebencian terhadap Marjinal? Yang gue tangkep sich… Dia sangat berambisi menghancurkan Marjinal, agar dia dan bandnya BH eksis yang dapat dengan lenggang sendiri menjadi penguasa dalam dunia underground. Kalau melihat tabiatnya, dari acara “Jakarta Bersatu”, banyak kasus yang disemburkannya: Kemana uang tiket dan pertanggungjawaban dana acara itu? Lalu perangainya yang kayak jagoan nantang orang-orang di tengah panggung ketika main di Cirebon… Semua itu akan menelanjangi dirinya, kebodohannya, ambisinya, dan kepengecutannya… You are loser on shit!
kalo kata mas tukul mah marjinal katro! taring babi wong ndeso! ternyata bang romi jahat telah menjadi bener2 jahat dengan secara sengaja merusak citra streetpunk… PUAS!! PUAS!!
erm….gw rasa teman2 taring babi membuat satu yg lebih jelas.kenapa?selama ini punk di indonesia di pandang dari segi negative nya aja.yach dengan ditayang kan marjinal di URBAN itu lebih memperjelas kan ke masyarakat bahwa kita itu ada bukan sia2.yah bukan sok pandai dalam hal ini…tapi inilah kenyataan.bahwa kita harus bangkit.bagi gw sendiri mereka mungkin punya aasan sendiri.mungkin bukan untuk mereka tapi semua…
sekarang bukan waktunya utk menyalahkan siapa..skarang waktunya bersatu!!
saudahlah….
sip…………..
oi oi
tmn2 ttp berjuang yah jngn memper dulikan cacian mreka
bangsat yang bilang taring babi sok artis
mreka ga ngerti apa itu PUNK IDEALIS dan PUNK JALANAN/STREET PUNK
GW AKN SLALU BERJUANG SMA SPERTI KALIAN,ANTI PENINDASAN,ANTI FASISME
DAN HIDUP MANDIRI……
skali lgi NGENTOT LO YANG GA NGERTI IDEALIS
ALDI_NGENTOT CORUPTOR
hanya orang sinis aja yang bisa ngomong kalau punker dan ideologinya tidak boleh dipublikasikan di TV tanpa memberi solusinya. ingat sejarah punk masuk indonesia!dengan apa!ya tentu dengan bantuan media dong!media lah yang berperang aktif bisa menyebarkan virus punk keindonesia dan seantero dunia. bukankah media dapat digunakan untuk awarenes/pemahaman mengenai segala punk dan tingkah lakunya. dan perlu dingat bahwa sekarang banyak media yang menyudutkan secara negatif terhadap komunitas punk seperti dandanannya yang urakan, dan juga memberikan informasi kejahatan yang dilakukan oleh punker!ingat tidak ada hukum yang melarang punk boleh masuk TV atau media lainnya!dan saya salut terhadap taring babi dan komunitasnya. dan jangan jadikan liputan generasi punk di RCTI sebagai media untuk bertikai. tolong buat yang merespon secara negatif tolong pelajari dulu punk dan ideologinya secara lengkap.salam kenal dari albet diPemalang buat taring babi. salam punk
marjinal sama saja dengan jeruji dari bandung TAI………….TAI…..TAI……… MEREKA CUMA OMONG DOANG APA LAGI SI DEMPAK POKALISNYA JERUJI PUNK APA NYA DIA???? MARI KITA BOIKOT MEREKA BERDUA
tak apa, yang penting marjinal dan taring babi tidak mengambil keuntungan (materil) dari acara tersebut..
toh dengan hadirnya acara itu, pandangan masyarakat terhadap punk bisa menjadi terbuka..
viva la marjinal!!!!
viva la anarcho-punk!!!!
resista la guerra!!!
knp sih kok jd msalah…..
bkannya ini untuk membawa nama punk mnjadi lbih baik…..
kita ambil sisi positifnya aj…..
menurut gue oke2 aja tuh Marjinal masuk TV kenapa harus tidak senang? atau lo merasa kalo lo juga punk yang idealis dan lo bertanya kenapa g band gue atau scene gue yang di liput !!!
pikirin aja dulu semua tuh ada baiknya
OIIIII…….BERJUANG….ITU YANG ADA DALAM EBNAK KAMI SAAT LIAT ACARA LIPUTAN RCTI YANG PUNYA ANGEL LAIN DARI PADA YANG LAIN..HANYA ALTERNATIF SALAH SATU MEMPERKENALKAN KEPADA MASYARAKAT SOAL IDEALISME PUNK DARI PADA SALIGN CACI SAMBIL MENCEKIK L;EHER BOTOL ALIAS MABUK ALKOHOL ….TANPA BISA EMMBERI KONTRIBUSI POSITIF PADA YANG KITA ANUT ATAU PAHAMI..SALUT BUAT MARGINAAAAL!!!!!! ANDA SEMUA SOSOK YANG ASYIK UNTUK DIKENAL MASYARAKAT …BUKAN HANYA GAYA DAN TAMPILAN LUAR DOANK…OTAK KALIAN ENCER..HATI KALIAN JAUH KEDEPAN BERPIKIR…DI SANA JUGA SUDAH LAHIR FRONTMAN rAGE AGAINST THE MACHINE YANG JUGA AKTOFIS LSM..TAK JARANG TURUN JELAN BUAT MELAKUKAN AKSI REAL..TAK HANYA OMDO (OMOANG DOANK)…MASAK ANAK PUNK NGGAK BOLEH INTELEK DAN BERADU ARGUMEN????? BODOH JADINYA…BERJUANG DISINI..KALO PERLU MALAH BIKIN KENDARAAN UNTUK CARI MASSA..BERNAMA PARTAI..TERSERAH NAMANYA AP..TAPI INGAT…PARTAI INI HARUS BETUL-BETUL KONSISTEN..JANGAN HANYA BERGAYA MOHOWK DOANK TAPI GAK TAHU ARTINYA….SEKALI LAGI SELAMAT BUAT MARGINAL…KEEP SPIRIT FOR FIGHTIN’ BRO!!!!!!!
Wah tetap exist ya
gue dukung trus buat marjinal tetap exist ya
bonto lo semua
saya setuju dengan apa yg dikatakan yanuar saleh…bunga hitam lambang penghancur!!saya pernah bertemu dengan sesosok manusia yg bener2 munafik di jakarta beberapa bulan yang lalu.saya merasa dia lebih membanggakan band dan wartawan dari jerman itu.kok gimana mo majunya!sebenarnya eko iri kenapa banyak yg menyorot marjinal dan komunitas taringbabi.dan kenapa dia tidak bisa seperti itu.kenapa lebih banyak komentar dari elo sendiri ga bisa berbuat.gw rasa loe tu yg berbau munafik.eh asal loe tau gw jijik ngeliat gaya loe.lain dari apa yg loe tulis kan dilirik band elo..
loe tu lebih memanfaatkan teman2 utk keuntungan loe sendiri.
ah udah lah…itu kritikan dari gw
karena loe sang penghancur!!
Hallo semua…wah…seru juga nih diskusinya…tapi sayangnya gak ketemu-temu nih ujungnya…gini deh intinya…semua balik ke lo semua, masing-masing pasti punya persepsi yang berbeda dalam menanggapi persoalan ini. gue pribadi awalnya gak sreg dengan “peristiwa” masuk tipinya marjinal, cuman mendengar alasan dan manfaat yang masuk akal yaa…”that’s is such a good idea for me”, mengingat kita emang belom punya channel sendiri di kotak penghancur itu, sedangkan kita terus-terusan difitnah didalamnya…intinya semua punya cara untuk berontak, gimanapun dijalanan ataupun di ruang konser punk tetaplah harus menjadi punk, yang memiliki semangat untuk memberontak, semangat untuk membangun, semangat untuk saling bahu-membahu dalam mencapai tujuan kita bersama…yaitu kebebasan…
anyway, sorri yah guys…diskusiannya gw tutup…soalnya, buka halaman ini jadi berat banget…kapan-kapan kita terusin lagi deh.
oh ya…btw…Ada tanggepan menarik dari Bunga Hitam atas salah satu komentar yang ada di sini…komentarnya udah gw salin disini http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/17/bunga-hitam-band-basementhuakakak/
blog ini bukan blog milik marjinal, dan gue sama sekali gak terkait ama marjinal…hubungan gue dan mereka serta punk-punk lainnya hanyalah saudara…gak ada keterpihakan dalam tulisan ini, tulisan ini gw share dari sudut pandang gw pribadi sekaligus penyangkalan dari mereka (marjinal) sendiri yang gue terima dari email (gw yakin beberapa teman disini juga nerima email yang sama kayak yang gue terima).
kalo mo tahu lebih banyak tentang marjinal coba aja kunjungi situs blog koran marjinal di http://koran-marjinal.blogspot.com
okeh sekali lagi sori kalo diskusiannya gue tutup…!!!
[...] lapang dada di komunitas Taringbabi. Semua perhatian itu adalah bentuk rasa sayang kawan-kawan pada kami di Taringbabi. Kami merasa tersanjung dan mengucapkan puji syukur atas komentar, pertanyaan, [...]
[...] punk secara negatif. Ingat program “7 Hari Menuju Tobat” dari La Tivi yang memposisikan punker sebagai pendosa. Belum lagi iklan obat influenza yang menggunakan model punker secara negatif, [...]