Organisasi, Hirarki, & Kritik Anarkis
Dikirim pada 13-08-2007 oleh: Anarch[Oi]!
Tag: anarkisme
“Open your eyes, time to wake up, enough is enough, is enough, is enough.”
Dari lagunya Chumbawamba, Enough Is Enough
Bila suatu ketika kita bertemu seseorang yang sedang dirundung masalah, kemudian meminta saran kepada kita dengan mengatakan, “Bagaimana ya kira-kira cara yang tepat untuk mengatasi masalahku?” Dan, setelah kita kemukakan satu saran, dia menanggapinya dengan bertanya lagi atau bahkan menetang saran kita dengan, “Mengapa harus begitu?” Jangan buru-buru jengkel, boleh jadi orang ini justru berpikiran maju, kritis dan independen.
Ilustrasi di atas mungkin bisa dianalogikan bila kita hendak bicara tentang konstelasi gerakan anti-kapitalisme. Bagaimana melawan sebuah sistem yang penuh ketidakadilan, irrasionalitas, dan yang mengasingkan manusia dari kemanusiaannya? Ada beberapa resep yang dengan percaya diri akan disodorkan beberapa kalangan untuk menjawab pertanyaan ini, seperti: Revolusi permanen! Dua taktik sosial-demokrasi! Kediktatoran proletariat! Gerilya desa mengepung kota ! dan lain-lain. Agar tidak terjebak hanya mengkonsumsi menu dari sebuah resep, mari kita cari tahu komposisinya dengan menanyakan mengapa harus begitu.
Sejauh pemahaman kami, dari berbagai gerakan anti-kapitalisme, dua yang paling percaya diri adalah Leninis dan Trotskyis. Gerakan Leninis cenderung percaya diri karena merasa paling solid/siap dan realistis dalam melawan kapitalisme (misalnya, dengan sentralisme-demokrasi, dua taktik sosial-demokrasi, dewan-dewan rakyat, sampai kediktatoran proletariat).
Serupa dengan itu, meski agak berbeda, gerakan Trotskyis cenderung percaya diri karena merasa paling radikal & total dalam melawan kapitalisme (misalnya, dengan revolusi permanen dan konsep satu partai sosialis-revolusioner internasional). Karena itu, kedua gerakan ini sering saling mengecam dengan mengatakan yang lainnya sebagai gegabah & tidak realistis, ataupun terjebak dalam pembagian tahapan & kolaborasi kelas; atau bersama-sama mereka mencap gerakan-gerakan lain, seperti anarkis dan otonomis, sebagai utopis (pengkhayal), terlalu liberal (tidak disiplin), borjuis kecil, dan membuntut pada kesadaran massa .
Betulkah demikian? Ada apa dengan kepercayaan diri mereka yang begitu berlebih? Karena tak ingin terjebak hanya berprasangka reaksioner, di sini, kami berusaha mengungkapkan kritik mengenai — sekurangnya — dua hal prinsipil atas resep-resep di atas: 1) konsep adanya pemimpin dan massa , dan 2) organisasi dan sentralisme-demokrasi.
Tidak salah kalau dikatakan bahwa orang yang ditindas belum tentu melawan. Juga benar bahwa ada banyak orang tertindas yang tidak tahu kalau dirinya ditindas. Tetapi, kalau ini kemudian dijadikan pembenaran bagi adanya pemimpin dan massa dalam perjuangan melawan penindasan, dijadikan alasan untuk penyuntikan kesadaran, dijadikan pijakan bahwa dengan demikian massa memang sah untuk dimobilisasi, nanti dulu! Siapa yang bisa menjamin bahwa pemimpin tidak akan membawa massa-nya ke arah yang keliru?
Catatan sejarah justru membeberkan daftar panjang pemimpin-pemimpin yang membawa jutaan manusia ke jurang kehancuran: Hitler, Mussolini, Stalin, Polpot, Pinochet, Soeharto, Bush, (Aidit, iya nggak ya? Mao? Lenin? Castro? Masih ragu? Cari aja data-faktanya).
Demikian juga, bukankah pemimpin dan massa hidup dalam sebuah sistem yang sama, artinya bila boleh digambarkan dengan sederhana, pemimpin juga mengidap penyakit yang sama dengan massa . Lalu siapakah yang demikian berani menyebut dirinya dokter? Menurut kami, sang dokter “maha tahu” itu pun mesti disembuhkan.
Dengan konsep adanya pemimpin dan massa , bukankah semaju apapun fase perjuangan, akan selalu ada sekelompok kecil orang yang merancang (elitis) dan sekian banyak orang yang melulu diarahkan? Dengan demikian, berarti akan selalu terjadi pembagi-bagian manusia ke dalam kelompok elit yang menempati posisi pengambil keputusan, dan kelompok besar yang harus menjalankan keputusan. Kalau seperti ini, bukankah masih serupa dengan logika pembagi-bagian manusia dalam kapitalisme, sekaligus bertentangan dengan cita-cita membangun masyarakat yang egaliter?
Seorang direktur handal bisa saja dengan kepemimpinannya membawa sebuah perusahaan berkembang pesat dan meraih keuntungan besar. Tapi siapa yang mereguk sebagian besar kenikmatan dari keuntungan itu? Tak lain adalah si pemilik modal dan pejabat tinggi di perusahaan itu. Lalu bagaimana pekerja cleaning service-nya? Office boy-nya? Satpam-nya? Inilah salah satu bentuk konsekuensi dari logika pembagi-bagian manusia.
[Mungkin akan ada yang mengatakan: “Itu kan kapitalisme, kalau sosialisme lain, coy! Meski ada pemimpin dan massa , tapi hasil perjuangan akan dibagi untuk semua, sama rasa sama rata, tidak ada privilese (baca: hak istimewa).” — Untuk ini ada satu catatan: Mungkinkah sebuah metode perjuangan yang di dalam dirinya menerapkan pembagi-bagian alias pemisah-misahan akan menghasilkan sesuatu yang setara dan adil?]
Kemudian, kami sendiri jadi bertanya-tanya apakah tidak mungkin ada cara lain untuk mengupayakan terwujudnya perubahan selain dengan konsep pemimpin & massa . Bukankah akan lebih menyenangkan kalau bisa dilakukan dengan kerjasama yang egaliter (dengan prinsip partisipasi-membebaskan, bahasa kerennya emansipatoris-partisipatoris, misalnya)? Melihat, dalam contoh kecil, sebuah kelompok belajar bisa sukses mengerjakan PR tanpa perlu ada ketua; dan, dalam contoh besar, ribuan rakyat Argentina baru-baru ini (2001) bisa melakukan perlawanan radikal terhadap neoliberalisme dan penguasa di sana (malahan dengan meneriakkan yel-yel anti elit politik); kami berpikir bahwa ini mungkin.
Masuk ke persoalan organisasi, dalam pandangan kami, untuk berhasilnya sebuah kegiatan yang menjadi kepentingan bersama beberapa orang, diperlukan suatu mekanisme pengorganisasian (sekecil apapun itu). Dalam kaitan ini, yang tidak kami sepakati adalah mekanisme organisasi yang hirarkis dan otoriter.
Pemahaman sadar dan kemauan sukarela (voluntaristik) — inilah yang seharusnya menyebabkan seorang individu terpanggil untuk bergerak. Jika tidak, adakah alasan yang lebih baik? Karena itu seharunya organisasi adalah wadah tempat berhimpunnya individu-individu yang memiliki pemahaman, kesadaran, kepentingan dan tujuan yang relatif sama. Organisasi diperlukan agar perjuangan, karena dilakukan secara bersama, menjadi lebih kuat — dan lebih mungkin untuk berhasil — ketimbang perjuangan seorang diri. Organisasi juga diperlukan sebagai wadah bagi individu-individu untuk saling belajar. Diharapkan pula dalam perkembangannya, masing-masing individu akan mengalami peningkatan kualitas seiring peningkatan kualitas secara kolektif.
Dengan demikian, kami pikir organisasi merupakan sarana perjuangan, bukan sesuatu untuk disakralkan (lalu, perlu apa lagi heroisme dan vanguardisme?!). Maka, kalau dalam sebuah organisasi ada individu-individu yang terus-terusan berada dalam posisi pengambil keputusan dan, berbarengan dengan itu, ada individu-individu yang melulu menerima instruksi untuk menjalankan keputusan, harusnya ini menimbulkan tanda tanya besar.
Dalam organisasi-organisasi Leninis diterapkan prinsip sentralisme-demokrasi. Dari prinsip ini, mungkin dimaksudkan akan terkombinasi dua keutamaan: 1) terjadi kesatuan tindakan dan kesatuan komando (unity of action & unity of command); dan 2) terjadi demokrasi (dalam pengertian umum, sekurangnya mengandung makna kebebasan & kesetaraan) dalam menentukan kebijakan/keputusan organisasi. Tetapi, ada yang perlu kita perhatikan: sentralisme dan demokrasi sesungguhnya merupakan dua hal yang bertentangan satu sama lain. Sentralisme berarti pemusatan (tentu saja pemusatan kewenangan untuk membuat satu keputusan organisasi — berarti sekaligus ada hirarki dan otoritas), sedangkan demokrasi lebih-kurang bermakna adanya kebebasan dan kesetaraan hak & kewajiban bagi semua orang (kalau dalam sebuah organisasi, bagi semua anggota).
Bahwa sentralisme dan demokrasi itu saling bertentangan dan tidak mungkin dipadukan, sesungguhnya merupakan persoalan primer. Dengan demikian, persoalan-persoalan lain seputar ini (seperti, kapan saatnya menerapkan sentralisme dan kapan menerapkan demokrasi, bagaimana mekanisme pemilihan orang-orang yang akan menempati posisi pemegang wewenang sentral, dll.) menjadi sekunder, atau, dengan kata lain, tidak begitu penting.
Sebagai contoh, bisa saja ada yang mengatakan, “Sebetulnya yang kami maksudkan dan ingin jalankan adalah demokrasi. Tetapi, sentralisme tetap dibutuhkan, terutama dalam kondisi darurat, dimana perlu diambil tindakan-tindakan yang cepat dan serentak demi keselamatan organisasi dan perjuangan, padahal dalam kondisi seperti itu tidak semua anggota bisa bertemu.” Satu pertanyaan saja untuk pernyataan seperti ini: Siapa yang berwenang menentukan darurat/tidaknya sebuah kondisi? Mau tidak mau, persoalan akan kembali ke hal yang primer: hirarki & otoritas versus kebebasan & kesetaraan hak-kewajiban.
Akhir kata, terpulang kepada para pembaca sendiri untuk meng-internalisasi-kannya. Sedang kami, biarlah kami katakan CUKUP ADALAH CUKUP kepada semua perspektif otoritarian, dengan segala konsekuensi logis yang harus kami tanggung, termasuk bagaimana agar tidak berhenti hanya sebatas kritik. Eh, ngomong-ngomong, Chumbawamba pun tak sekadar bilang ENOUGH IS ENOUGH, tetapi juga TIME TO WAKE UP, pertanda kita perlu get up, bangun, bergerak melakukan sesuatu.
Dirilis 2004, ditulis ulang Februari 2007.
Penelusuran:
Album Chumbawamba, Anarchy (1998)
V. I. Lenin: What Is to Be Done? (1902
V. I. Lenin: Two Tactics of Social-Democracy in the Democratic Revolution (1905)
Mao Tse-tung, On Guerrilla Warfare (1937)
Alexander Berkman, Now and After: The ABC of Communist Anarchism, New York : Vanguard Press, 1929.
Rudolf Rocker Anarchosyndicalism, 1938











Hitler, Mussolini, Stalin, Polpot, Pinochet, Soeharto, Bush… bukan pemimpin, tapi diktator.
apakah ini artikel anti-leadership?
sebenernya pemimpin itu sangat dibutuhkan untuk mengarahkan massa. kadang massa yang biasanya menjalankan keputusan emang gak bisa ngambil keputusan karena gak bisa merumuskan masalah (bukannya gak tau masalah). pemimpinlah yang merumuskan masalah, lalu mengambil keputusan dengan bijak (kalo gak bijak, bukan pemimpin).
hahaha…areta…areta…kalo boleh saya analogikan kalimatmu…sama persis kayak…orang jahat itu bukan manusia, dia itu setan….ya mana bisa lah…orang jahat itu tetep manusia tapi (mungkin) berwatak setan….ya kalo mayoritas pemimpin seperti itu…mana bisa kamu sebut dia itu diktator bukan pemimpin…atau pemimpin yang diktator…et..dehh….cetek amat sih….pemimpin dibutuhkan???? masa sih??? kalopun iya…itu pemimpin dilingkungan yang paling kecil…kayak keluarga…pertemanan….tim sepak bola…kalo lingkupnya segede negara…mikir deh…gak ada kepemimpinan yang efektif….
jangan pesimis dunk.. pemimpin dan diktator mah jelas beda. lain cerita dengan manusia dan setan, meskipun setan emang bisa bersarang dalam manusia atau menyamar sebagai manusia.
yaiyalah, pemimpin dibutuhkan. meskipun gak efektif, dan emang gak mungkin bener-bener full efektif, tetep pemimpin tuh dibutuhkan. kan gw udah bilang, untuk mengarahkan massa. kalo gak ada pemimpin, masa gak terarah. semua manusia hidup semau-maunya. gak menghargai manusia lain karena gak ada peraturan. itu kacau.
jangan ngaggep semua orang yang berkuasa itu pemimpin. gak semua orang berkuasa bisa mimpin. kebanyakan cuman nurutin ego sendiri.
Allow… salam independensi deh.. saya sangat mendukung discourse tentang bagaimana mempertahankan diri dari pengaruh korporasi global karena sistem ini banyak membodohi individu yang lemah. seolah-olah rakyat adalah robot yang harus patuh ama si boss!!
dilihat dari artikel2 yang udah kamu tulis, semuanya begitu menggugah dan semakin membuka mata saya. hidup adalah bebas dan jangan samapai kebebasan itu hilang hanya karena aturan2 yang serba mengekang dan sentralistik (yang berarti kekuasaan). salut deh buat kamu and stay rebel! C U!
oya.. boleh gak saya nimbrung juga disini karena jujur nih baru forum ini aja yang menarik di sisi saya pribadi..thnaks a lot.
ini salah satu blog untuk sekedar kamu baca.. thx guy..karena ternyata masih ada mamalia seperti gw yang satu pemikiran.. hafe fun n gw jg butuh masukkan. Ciao..adios..domestos..nomos!
Kalo dikatakan bahwa kebanyakan pemimpin membawa rakyat menuju gerbang kehancuran itu sama saja mengatakan bahwa sekarang ini kita sudah hancur! Kenapa, karena hampir sepanjang sejarah umat manusia kita selalu bergantung pada pemimpin. Bahkan pada kebudayaan yang primitif sekarang pun peran pemimpin (atau pendeta di beberapa tempat) akan ada tampak jelas peran para pemimpin! Justru kemajuan itu dipimpin karena adanya individu yang berusaha untuk memajukanEntah dalam lingkup kecil dan lain2. Kalau memang semua atau hampir seluruh pemimpin itu menjerumuskan rakyatnya gak kan ada yang namanya peradaban mesir, mesopotamia, sumeria, inca atau negara seperti sekarang ini. Pembagian kasta sosial jelas harus ditolak, kita yang lahir ga milih dari rahim siapa kok tau2 bisa dianggap ampas di kehidupan sosial. Tapi tanpa adanya pemimpin? Sabar dulu…
“Seorang direktur handal bisa saja dengan kepemimpinannya membawa sebuah perusahaan berkembang pesat dan meraih keuntungan besar. Tapi siapa yang mereguk sebagian besar kenikmatan dari keuntungan itu? Tak lain adalah si pemilik modal dan pejabat tinggi di perusahaan itu. Lalu bagaimana pekerja cleaning service-nya? Office boy-nya? Satpam-nya? Inilah salah satu bentuk konsekuensi dari logika pembagi-bagian manusia.”
Kebanyakan dari para rakyat memang seperti yang dikatakan pada paragraf di atas yang saya kutip dari artikel di atas. Para rakyat yang dikatakan oleh soekarno sebagai “orang marhaen” ini tidak banyak peduli tentang intrik politik atau keadaan negaranya sendiri. Lalu apakah yang akan dilakukan jika semua orang berpikir seperti itu? Anggap dengan logika yang sama seperti yang anda gunakan, sebuah perusahaan besar mendadak semua perangkatnya ingin menjadi satpam atau office boy. Direkturnya, sekertarisnya, manajernya semua jadi satpam. Lalu apa yang terjadi pada perusahaan tanpa pemimpin tersebut? Tebak saja sendiri… Akan ada dan pasti selalu ada orang yang akan memimpin. Ucapan anarkis (saya lupa namanya) “Kalau semua orang ingin minum wine enak dan makan kalkun, siapa yang akan membersihkan wc?” Malah jadi bumerang bagi dirinya sendiri, anggap jika logika itu dibalik. Apabila semua orang mau membersihkan wc siapa yang akan mempunyai wc untuk dibersihkan? Adanya kemajuan bagi perusahaan itu sendiri sudah membantu bagi para satpam dimana posisi dia lebiah baik dari teman2nya yang tidak bekerja
Mohon dibenarkan logika saya kalau salah
Gitu aja kok repot…
Ehm menurut gw kata-kata si Gus Pur itu cocok sekali dengan artikel diatas. Maksudnya dari mana saja saja kamu dari dulu nggak tahu mana yang benar dan mana yang salah, yang baik dan mana yang nggak baik. Kalo saya bilang sih “tentukan sikapmu, pilih olehmu dan ambilah bagianmu”.
-sucker wrote-
hahahaha….kalian pembuat kritik yang memang handal.. hahaha.. tapi silahkan berpendapat karena opini itu bebas bagi masyarakat.. tapi coba kalian aspirasikan langsung kepada seorang SBY..seorang Gus Pret..seorang Mega Durjana..apakah hak2 kalian sebagai individu yang bebas pasti didengarkan??? Bullshit kalian yang menentang hak2 asasi kita semua hanyalah pecundang yang terikat mamalia globalisasi.. lihatlah, kawan.. kami yang anarki (dan sebetulnya kalo kamu sadar juga kamu itu anarki) tidak memprioritaskan kepemimpinan. Tapi..Areta.. kami tidak anti-leadership..kamu salah paham..rasanya kamu harus lebih mendalami apa itu Anarki. Masa sih Soeharto yang membebankan kamu semua pajak boleh berleha-leha sedangkan kami tidak?! Kami menentang kekuasaan dalam satu tangan. dan kami yakin kok kamu juga pasti marah kalo hak2 kamu semua dicabut. Kamu tau Munir? silahkan selidiki..dan tahukah kamu Peristiwa G30SPKI? silahkan kamu selidiki sampai tuntas, sampai kamu sadar ada apa di balik semua itu.. cobalah cari jawabannya sampai kamu yakin ada apa sebenarnya. buka mata dong.. buka telinga.. kita semua diinjak2 oleh pemerintah karena bagi mereka tuhan itu uang. Indonesia adalah ladang korupsi. Aparat keparat..polisi bangsat!! Militer itu hanya dibutuhkan jika keadaan kita darurat atau istilahnya perang antar negara. Di dunia ini tidak ada yang kriminal. Yang jahat itu kalo seseorang mengatakan orang lain itu jahat. Lihatlah Buser yang notabene kameramennya selalu menyorot kriminal bertato padahal tato itu budaya Asmat.. kenapa gak sekalian Asmat digerebek karena Masberto (masyarakat bertato) kalo tato identik kriminal? kenapa juga seorang anak si pemimpin Orba gak diusut tuntas soal minuman keras dari pabrikan ciptaannya? kenapa??kenapa??kenapa dan bagaimana??! kita semua berjiwa bebas! dan jangan sampai dibungkam oleh aturan2 pemerintah kita yang hukumnya masih turunan kolonial! gak usah sok intelek karena kami bosan dengan orang intelek yang ternyata ujung2nya masih ngemis2 sama benua lain! kamu terbudakkan fashion gila dan benar2 candu pemimpin fasis.
ayo kita demo!!!