*FREEPORT*

freeport.jpgfreeport1.jpg

Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969.
“Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya” (oleh Adjat Sudradjat)

Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska sebab mereka mesti melawan suhu sedingin 0-4 Celsius, kabut, dan hujan. Mereka mendirikan kemah di pelataran Cartensz Weide. Mereka diterbangkan ke situ dari Timika menggunakan helikopter selama 40 menit.

Sementara itu, tiga orang kepala suku berhiaskan bulu burung, kalung merjan, dan tusuk hidung merayap menuju Ertsberg tiga hari tiga malam bersama bala tentaranya tanpa selembar benangpun melekat di badannya, tak peduli hawa sedingin es pun. Akhirnya, mereka sampai di perkemahan para pembor tersebut. Suasana tidak menyenangkan terjadi sebab tidak ada saling pengertian di antara tim Freeport dan suku setempat, maklum tidak ada yang saling mengerti bahasa masing2. Orang2 Indonesia di tim Freeport pun tak mengerti bahasa mereka sebab sebagian besar datang dari luar Papua.

Keesokan harinya, saat para pekerja bangun tidur, mereka menemukan perkemahan sudah dipagari tonggak seperti salib digantungi berbagai bunga dan daun. Di tengah kecemasan itu, untung terpikir untuk memberi suku-suku Papua itu makanan. Makanan diterima dan suku2 itu pulang. Keesokan harinya datang lagi, tetapi kali ini untuk membantu tim mengangkati batu-batu dari Ertsberg. Lalu mereka pulang.

Kedatangan yang berikutnya, suku2 ini membawa seorang anak bernama Karel didikan misionaris. Anak ini bisa berbahasa Indonesia walaupun patah-patah. Akhirnya, terungkaplah bahwa keinginan suku2 ini yaitu mereka minta ganti rugi atas gunung mereka yang telah digali. Tentu saja suku2 ini tidak tahu bahwa di Jakarta kontrak pertambangan antara Pemerintah Indonesia dan Freeport telah ditandatangani setahun sebelumnya, 1966.

Minta ganti rugi ? Dengan serentak, sang superintendent Freeport tanpa segan-segan memberikan berbilah-bilah parang sebagai ganti Ertsberg. Ternyata, belasan parang itu diterima dengan sangat sukacita oleh para anggota suku. Seorang kepala suku lalu menyerahkan sebilah pisau batu kepada si “pembeli gunung” sebagai hadiah tanda sukacita. Lalu, si kepala suku menari-nari di depan tim Freeport sambil mengeluarkan bunyi seperti ribuan burung. Tangannya mencabut bulu cenderawasih di kepalanya dan mengacungkannya ke depan. Upacara ini diikuti dengan khidmat oleh seluruh anggota suku. Ketika ditanyakan kepada Karel apa arti upacara itu, dijawabnya bahwa itu adalah upacara agar Sang Hyang merelakan gunungnya digali dan sekaligus memberikan berkat kepada para pembeli gunung itu. Tak lama kemudian para suku pulang.

Dan, kita tahu Ertsberg yang menjulang pun digali habis tidak sampai 20 tahun (Adjat Sudradjat, 1996).

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 9 Komentar

9 Komentar untuk “*FREEPORT*”

  1. Pada tanggal 18 Sep 2007 jam 6:36 pm Ran Boreel

    wah.. saya terkejut banget bacanya. Gak habis pikir ternyata suku2 itu sebetulnya tidak mengerti dan tidak tahu apa2 tentang pertambangan, sungguh pembodohan yang luar biasa! tapi, saya juga jadi bingung, mereka senang diberi alat2 parang itu (ya sama aja contohnya Bos Usaha Sambit HAM seneng dui ya pasti seneng nerima duit walau disuruh invasi Irak!).
    tapi, kok kayaknya kurang sreg deh ama artikel ini, soalnya kurang detail ngebahsanya… tambah dong..
    ditunggu ye ama anak2 disini!
    thx b4!

  2. Pada tanggal 22 Sep 2007 jam 9:18 am RS

    Well gimana lagi? Suku-suku tadi tau apa kalau bahasa indonesia sendiri ga bisa? Sama aja lah kayak perbudakan dulu di Afrika, kepala suku dikasih garam tapi gantinya anggota2 suku harus mau dibawa sama mereka
    Yang salah itu kita tidak pernah mau menggali duluan! Udah tau Indonesia kaya kayak gini dibiarin aja, saat ketauan sama bangsa asing kita cuma bisa dibodoh2in doang sama mereka!

  3. Pada tanggal 05 Oct 2007 jam 4:15 pm Mita

    Hmmmm… dari awal baca tulisan ini udah nyangka bakal berakhir seperti apa. Dan begitulah kondisinya dari dulu sampe sekarang. Pemerintahan yang di”pusat”kan membuat hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Siapa yang tau kalo hutan2 di Sumatera dibalak untuk kepentingan perusahaan asing or lokal dan untuk memenuhi permintaan ‘pasar’ (fuck! ini salah satu kata yg gw benci) dengan cara melakukan pendekatan melalui pesta dengan masyarakat pedalamam bermalam2 suntuk dengan belasan babi + kerbau yang dipotong? dan hasil pembalakan hutan itu tidak ada satupun yang dirasakan keuntungannya oleh masyarakat sekitar. Berhektar2 hutan ditukar dengan pesta & hewan saja. Siapa yang tau 5-10 tahun kedepan air tanah mereka sudah bercampur dengan limbah dan bikin masyarakat dihinggapi penyakit menahun? Siapa yang tau 5-10 tahun kedepan tiba2 ditengah pagi yg damai rumah warga diterjang banjir bandang? Siapa yg tau 5-10 tahun kedepan warga harus berjalan kaki 5 kilo untuk mendapat air bersih? Siapa yg tau 5-10 tahun kedepan hasil kebun warga mengalami gagal panen? Siapa yg tau…?!? Negara melalui pemerintahannya (Fuck! another word i hate!)bersekongkol menjual alam negara & melacurkan diri pada kepentingan modal. Rapatkan barisan kita & LAWAN!!!

  4. Pada tanggal 06 Oct 2007 jam 11:03 am zhein

    Waow…..Klau tidak bisa baca kapan taunya masalah tambang,yah wajarlah kalau freeport di dominasi oleh kelompok Infestor.

  5. Pada tanggal 08 Oct 2007 jam 6:40 pm ran

    yupz.. gw setuju ama MITA!!

  6. Pada tanggal 08 Oct 2007 jam 10:33 pm Chadex

    Dasar manusia, maunya untung sendiri. Coba pemerintah mau bertindak baik.

  7. Pada tanggal 15 Oct 2007 jam 10:23 pm dina

    trus sekarang, LNG tangguh…situs terbesar di dunia
    selama 40 tahun kedepan dikuasain asing….

  8. Pada tanggal 13 Nov 2007 jam 11:19 am fanaticanz

    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT !!!!
    HANCURKAN FREEPORT HANCURKAN FREEPORT HANCURKAN FREEPORT !!!!

    KORPORAT KEPARAT!!!

    HANCURKAN SEGALAU BENTUK PENIDASAN !!

    KAUM HITAM DI TANAH PAPUA BANGKITALAH…. TANAH KALIAN DIRAMPOK ATAS RESTU PEMERINTAH !!

    KALIAN DIBODOHI SECARA SISTEMATIS !!!!
    KALIAN DICURANGI !!

    BANGKIT HEY KAUM HITAM…

    MARI BERSAMA MELAWAN SEGALA BENTUK PENINDASAN!!

  9. Pada tanggal 15 Feb 2008 jam 4:52 pm Don Jon (asli indonesia)

    lebih tololnya kita orang indonesia hanya lebar kaleeeeeee di mulut.
    nda masalah toh dari dulu freeport sudah menyumbangkan fasilitas di IRja.
    mereka sudah menikmati.
    dasar orang jawa aja yg jual negara ini.
    rasanya mari kita bentuk kembali Jong Sumatra, Jong Kalimantan, Jong Papua, jong sulawesi, dan jong java nda usah kaleeee ya.
    namun kita hrs benar2 berkualitas.berani berdiplomasi.
    orang papua sudah ada wakilnya Karel yang tiada kekuatan tapi dgn cinta kasih dr misionaris itu yg dilaksanakan dia menyampaikan aspirasi kepala suku utkminta bayar (tapi mereka tdk mateerial).
    dari sini pemerintahlah yg bodoh 41 tahun bo menggali si bule anteng2 aja. pemerintah yg makan duitnya atas nama pribadi2 yg hormat itu.
    bubarkan Indonesia yg jawaisme. mari bentuk semangat nasionalisme jaman sisingamangaraja, sultan hasnuddin, imam bonjol dsb. bukan semangat bung karno -hatta, terutama soeharto, dan lebih2 [pemerintahan era reformasi yg makin kacau……….
    jgn bubarkan freeport, mari kita mencuri ilmu mereka, khan msh ada waktu……..
    Jgn banyak bacot, CEMOH, CACI MAKI, EMOSI……

Berikan komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback URI | RSS Komentar