<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; Announcement</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/announcement/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Satu Bumi &#8211; Sama, Korban Kapitalisme</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 02:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kevlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Redefinisi Kapitalisme Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia. Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><strong><span lang="IN">Redefinisi Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang pemilik modal besar. Tidak sukar membayangkannya. Perumpamaannya<span> </span>seperti ini, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia kemudian membentuk lingkaran setan yang rapat sehingga orang–orang di dalamnya sulit keluar karena seolah dimanjakan (padahal diperbudak) segelintir pemilik modal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia melegitimasi penghisapan manusia atas manusia lain karena hanya cara tersebut yang ampuh mempertahankan eksistensinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia pintar, cerdas, tapi satu hal yang dapat menghancurkannya, ia licik dan culas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kepintarannya dapat dilihat dari bagaimana ia berperan sebagai tuhan ketika hamba mengemis, meminta kepadanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, mari kita masuk dalam lingkup ekonomi kapitalisme. Kasarnya seperti ini, daripada dapur kosong, tidak berasap, akhirnya hamba menuhankannya sembari bersabar dan berharap hari esok jauh lebih baik, padahal itu semua nihil jikalau kawan–kawan tidak frontal melawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kelicikan Humanisme Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lebih jauh, konsep ekonomi tersebut melahirkan kelas–kelas sosial dalam masyarakat atau pengotakan status manusia. Dikotomi si kaya dan si miskin adalah manifestasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tidak berhenti di sini. Ironis ketika percabangan tersebut tidak lagi berperikemanusiaan. Yang kaya semakin merajalela, yang miskin semakin menjerit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kawan–kawan tahu bahwa idealnya kondisi tersebut dapat memunculkan kedermawanan. Ingat ! Pilantropis murni tanpa embel-embel bukanlah seorang kapitalis, walaupun kebanyakan orang menganggap mereka kapitalis. Ia tahu betul ketidakseimbangan ajaran kapitalisme dan kemudian memilih menjadi pilantropis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia-kapitalisme melegalkan penghisapan yang dilakukan si kaya atas si miskin (baca: perbudakan). Sungguh sempit humanisme yang diartikulasikan kapitalisme. Bahkan perbudakan tersebut seolah dikondisikan terjadi dan bersifat tidak memaksa. Mengapa hal ini bisa terjadi ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kenyamanan semu perbudakan dalam lingkaran setan dapat menjadi sebuah jawaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Oleh karena itu, marilah sama-sama matangkan idealisme untuk keluar dari lingkaran tersebut walaupun terasa berat, lebih khusus bagi kapitalis muda mapan yang sudah merasa nyaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kapitalisasi Pendidikan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme tidak segan–segan melebarkan sayap di dunia pendidikan, tentu dengan idealismenya bahwa kepemilikan modal adalah segalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia berhasil mendisfungsikan esensi pendidikan, mensubstitusi ruang kelas menjadi sebuah perusahaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Bagaimana tidak ? Kawan-kawan dapat melihat kondisi saat ini, yang bersekolah hanya yang mampu membayar, bagaimana dengan yang ingin sekolah tetapi tidak mampu membayar ? Kenyataan di lapangan, mereka tidak dapat menikmati bahkan sekedar untuk mencicipi suasana ruang kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, itu tadi sekelumit tentang pra-ruang<span> </span>kelas. Sekarang bagaimana dengan yang sedang menikmati ruang kelas ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aura intelektualisme pun didistorsi menjadi sebuah rutinitas formalitas berbuah kemalasan kontinu. Memang hal tersebut merupakan pilihan masing-masing individu<strong>. </strong>Tetapi penting diingat ! Jikalau ruang kelas masih dipenuhi perasaan dan aktivitas yang “salah”, adalah mimpi di siang bolong melahirkan individu-individu berkualitas unggul. Akhirnya, peserta didik hanya mencari nilai tetapi tidak lagi memikirkan, memanifestasikan apalagi mensyukuri arti sebuah proses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lanjut dengan pascaruang kelas. Walhasil, lulusan ruang kelas pencari nilai akhir akan berpenyakit mental bahkan cenderung amoral. Di kemudian hari mereka enggan berpikir dan berusaha. Pragmatisme sempit akan melekat di masing-masing individu dengan meniadakan nilai-nilai murni yang dianugrahi di dalam diri. Korupsi adalah salah satu contoh sederhana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Sungguh, hal-hal tersebut yang diinginkan kapitalisme. Sebuah bahan perenungan perihal agenda busuk kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kontinuitas Pergerakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Jadi, pergerakan radikal, frontal tanpa melupakan hal–hal fundamental adalah syarat mutlak menghancurkan eksistensinya-kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aksi kolektif cerdas pemogokan kerja<span> </span>yang dilakukan kawan-kawan pekerja secara besar–besaran adalah salah satu cara membuatnya kebakaran jenggot walaupun tak sampai membuatnya mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Perlu sebuah kontinuitas sabar sembari melakukan pengecekan ulang terhadap infiltrasi yang dilakukan kapitalis dalam pergerakan (hal ini sangat penting demi menjaga kemurnian cita–cita pergerakan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mengapa pergerakan harus bersifat kolektif, cerdas, tulus, dan murni ? Ya, karena jikalau dilakukan tanpa konsep matang, anorganisir akan melahirkan pergerakan bersifat emosional saja, kemudian mengonsekuensikan sebuah stagnasi pergerakan yang tidak diharapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mari kawan, singsingkan lengan baju, kencangkan ikat pinggang dan jangan lupa rapatkan barisan !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ingat ! Pergerakan emosional terorganisir tidak lebih baik ketimbang pergerakan cerdas terkonsep.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan dimulai saat ini !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ayo, tunggu apa lagi !!! Bangun dari tidur panjang !!! Wujudkan impian !!! Bergerak !!<strong></strong></span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A global mayday call</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/15/a-global-mayday-call/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/15/a-global-mayday-call/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 04:52:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[mayday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[To All Those Who Fight 4: Anarchy, Autonomy, Ecology, Queerness To all media activists, creative workers, radical artists, union organizers, immigrant and precarious youth In 2009, as millions are made unemployed by stupidity and greed, we call onto all insurgent people and networks out there to unite on the 1st of May for a global [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>To All Those Who Fight 4: Anarchy, Autonomy, Ecology, Queerness</p>
<p>To all media activists, creative workers, radical artists, union organizers, immigrant and precarious youth</p>
<p>In 2009, as millions are made unemployed by stupidity and greed, we call onto all insurgent people and networks out there to unite on the 1st of May for a global mayday against financial capitalism and state repression, and for social redistribution and self-emancipation.</p>
<p><span id="more-228"></span><br />
<strong>MAYDAY, MAYDAY, MAYDAY, THE FIRST OF MAY WE&#8217;LL MAKE YOU PAY!</strong></p>
<p>YOU, the financial and political élites, we&#8217;ll make YOU pay for your crisis.</p>
<p>The economic and moral collapse of capitalism is for all to see. But it&#8217;s us who&#8217;s paying for the crisis with our money and jobs. They&#8217;re robbing us blind! States are throwing trillions at bankers, while jobs, wages, incomes, services are savagely cut, and millions are thrown into poverty.</p>
<p>We can fight and reverse this process. The Great Recession, the biggest crisis of capitalism in 80 years, opens up opportunities for social conflict and radical transformation.</p>
<p>We the Precarious, We the Unemployed, We the Immigrants, We the Antiracist, We the Antiauthoritarians, we are already fighting together from Athens to Reykjavik, from Capetown to Gaza, from Los Angeles to Buenos Aires, to Tokyo, from Shanghai to Mumbai, and across all seas and states where migrants risk their lives and freedom, in all the cities where dissident and discriminated people are fighting for social equality, autonomous culture, a better life.</p>
<p>Let&#8217;s unite in an ideal world brotherhood all our actions and demonstrations on the 1st of may in all the cities large and small around the globe. Let&#8217;s make our states and corporations know that at least on that day we are ONE against their capitalist crisis that threatens us all.</p>
<p>Let&#8217;s make&#8217;em pay on the 1st of May, and in London (vs G20) and Strasbourg (vs NATO) in the coming weeks.</p>
<p>MAYDAY: make&#8217;em pay&#8230;</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/15/a-global-mayday-call/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1000 Wajah Pram</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/01/14/215/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/01/14/215/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 08:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[pramoedya ananta toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini, tidak semua orang tahu, bahwa sosok kelahiran kota yang dikelilingi bukit kapur, jati dan minyak bumi dengan para pejabatnya yang korup ini sudah sangat mendunia. Buku-buku hasil karyanya sampai saat ini sudah diterjemahkan dalam 42 bahasa, bahkan di Malaysia, Jepang dan Belanda menjadi bacaan wajib bagi siswa sekolah.Walau di luar negeri namanya begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/new2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-214" title="1000 Wajah Pram" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/new2-212x300.jpg" alt="1000 Wajah Pram" width="175" /></a><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/posterpram1000hari_ralat2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-216" title="1000 Wajah Pram" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/posterpram1000hari_ralat2-210x300.jpg" alt="1000 Wajah Pram" width="175" /></a></p>
<p>Saat ini, tidak semua orang tahu, bahwa sosok kelahiran kota yang dikelilingi bukit kapur, jati dan minyak bumi dengan para pejabatnya yang korup ini sudah sangat mendunia. Buku-buku hasil karyanya sampai saat ini sudah diterjemahkan dalam 42 bahasa, bahkan di Malaysia, Jepang dan Belanda menjadi bacaan wajib bagi siswa sekolah.Walau di luar negeri namanya begitu terkenal namun ironisnya tak banyak mendapat nama baik di kota kelahirannya: Blora, hingga maut menjemputnya di Jakarta, 30 April 2006 silam.</p>
<p><span id="more-215"></span></p>
<p>Untuk itu dalam rangka memperingati 1000 hari meninggalnya beliau, tanggal 1-7 Februari 2009 rencana kami bersama kawan-kawan komunitas akan mengadakan acara yang berjudul “1000 Wajah Pram dalam Kata &amp; Sketsa” bertempat di rumahnya di Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora.</p>
<p>Sebagai bentuk penghargaan terhadap konsekwensi perjuangannya, kami berencana menyelenggarakan pameran lukisan dan membuat sebuah buku kecil semacam bunga rampai yang berisi kumpulan cerita, pendapat, kesan, maupun pengalaman dari kawan-kawan tentang penulis yang beberapa kali menjadi Kandidat Pemenang Nobel Sastra ini.</p>
<p>Kawan-kawan yang berminat bisa mengirimkan tulisan berbentuk essay, artikel, cerpen, maupun puisi. Diketik maksimal 2 halaman. Pengiriman tulisan paling lambat tgl.15 Januari 2009 ke email: supersamin_inc@yahoo.com. Sedangkan lukisan/ poster/ foto/ stensil bisa dikirim langsung ke sekretariat Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora atau via email dalam format JPEG paling lambat 20 Januari 2009.</p>
<p>Semoga melalui langkah kecil pendokumentasian ini bisa memberikan sesuatu yang lebih baik bagi perkembangan bangsa dan kemanusiaan di masa mendatang.</p>
<p>Rencana manual acara:</p>
<p>-Pameran lukisan/ poster/ foto dan cover buku karya Pramoedya Ananta Toer terjemahan dari berbagai bahasa.</p>
<p>-Apresiasi seni dan budaya</p>
<p>-Pemutaran film dan diskusi bersama</p>
<p>Acara ini didukung oleh Lentera Dipantara dan Keluarga Besar Pramoedya Ananta Toer. Untuk pengiriman karya dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi:</p>
<p>Komunitas Pasang Surut</p>
<p>Sekretariat: Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora Jawa Tengah</p>
<p>Kontak person:</p>
<p>Bpk. Soesilo Toer Telp. (0296) 5100233</p>
<p>Koko&#8217; HP. 081328775879</p>
<p>Email: supersamin_inc@yahoo.com</p>
<p><a href="http://1000wajahpram.blogspot.com/" target="_blank">http://1000wajahpram.blogspot.com/</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/01/14/215/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabi Rounin atau Rebel_Jill ditangkap</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2008/06/08/tabi-rounin-atau-rebel_jill-ditangkap/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2008/06/08/tabi-rounin-atau-rebel_jill-ditangkap/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 10:07:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>
		<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Anarchist Black Cross]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabi Rounin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Tabi Rounin, yang dikenal sebagai Rebel_Jill, ditangkap oleh kepolisian Jepang berhubungan dengan pengorganisiran protes terhadap G8 Juli nanti. Kami mengutuk penangkapan kawan kami, Tabi Rounin! Bebaskan dia sekarang juga! 4 Juni, pagi hari. Kawan Tabi Rounin, seorang aktivis pembebasan pendudukan, ditangkap. Tabi ditangkap atas tuduhan &#8216;Illegal Address Registration&#8221; (dalam kata lain, tinggal di suatu tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tabi Rounin, yang dikenal sebagai Rebel_Jill, ditangkap oleh kepolisian Jepang berhubungan dengan pengorganisiran protes terhadap G8 Juli nanti.</p>
<p>Kami mengutuk penangkapan kawan kami, Tabi Rounin! Bebaskan dia sekarang juga!</p>
<p>4 Juni, pagi hari. Kawan Tabi Rounin, seorang aktivis pembebasan pendudukan, ditangkap. Tabi ditangkap atas tuduhan &#8216;Illegal Address Registration&#8221; (dalam kata lain, tinggal di suatu tempat di mana ia tidak terdaftar). Rumahnya digeledah dan lebih dari 14 barang bukti disita termasuk komputer, telepon, dokumen dan selebaran. Sudah jelas bahwa tuduhan di atas sangat tidak sesuai dengan penggeledahan dan tindakan yang diambil kepolisian Jepang.</p>
<p><span id="more-205"></span></p>
<p>Ini adalah represi untuk mencegah eskalasi protes terhadap pertemuan G8 juli nanti. Sekarang ini ia ditahan di markas polisi Koriyama dan lima hari kemudian baru akan menuju sidang. Ada ratusan orang setiap tahunnya yang ktpnya terdaftar di rumah keluarganya. Ditangkap atas tuduhan &#8220;Illegal Address Registration&#8221; merupakan sesuatu yang ganjil.</p>
<p>Tabi Rounin beraktivitas di kota Osaka, di mana terdapat banyak apertemen mewah terhampar bermil-mil, ia juga aktif di komunitas kelas pekerja kota di sekitar Osaka dan Kawachi, bergandengan dengan para squatters/gembel tanpa bantuan lembaga atau instansi politis manapun, ia juga membantu para buruh migran yang bekerja di pabrik dengan upah rendah di areanya. Tabib Rounin merupakan seorang revolusioner yang berasa dari kalangan kelas pekerja yang berjuang di tingkatan bawah. Ada banyak kaum anarkis dari luar sering berkomunikasi dengannya karena aktivitasnya ini. Penangkapan Tabi merupakan taktik kepolisian Jepang, hal ini pun sudah pernah dibeberkan:</p>
<p>Interview with Comrade &#8216;M&#8217;<br />
<a href="http://www.325collective.com/social-control_m.html" target="_blank">http://www.325collective.com/social-control_m.html</a></p>
<p>Interview with Rebel-Jill<br />
<a href="http://www.325collective.com/interviews_rebel-jill.html" target="_blank">http://www.325collective.com/interviews_rebel-jill.html</a></p>
<p>Kami memprotes represi terhadap gerakan yang telah kami bangun bersama-sama. Bebaskan kawan kami!</p>
<p>6 Juni, <strong>Anarchist Black Cross Osaka</strong>.</p>
<p>Solidaritas dan kontribusi dapat dikirim ke alamat di bawah ini:</p>
<p>Osaka city, Kita-ku Nakazakichou 3-3-1-401<br />
Jiyuu Roudousha Rengou Kizuke<br />
Anarchist Black Cross</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2008/06/08/tabi-rounin-atau-rebel_jill-ditangkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kronologi Kasus Penangkapan Partisipan Aksi Karnaval Perayaan Mayday 2008</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2008/05/18/kronologi-penangkapan-mayday-2008/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2008/05/18/kronologi-penangkapan-mayday-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 12:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[anarki]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan anti-otoritarian]]></category>
		<category><![CDATA[mayday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[187 aktivis Jaringan Anti Otoritarian dihadang dan ditangkap dengan tindakan represif oleh personil Polres Jakarta Selatan seusai demonstrasi di depan Wisma Bakrie. Setelah selesai melakukan aksi di Wisma Bakrie, polisi tiba-tiba melakukan tindakan represif dengan memukul, menarik dan menangkap empat demonstran. Tidak lama setelah itu, di depan Monumen 66, polisi mengepung para aktivis dan membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jakarta.indymedia.org/attachments/may2008/12475439826_b4244873c0.jpg" alt="" width="351" /></p>
<p>187 aktivis Jaringan Anti Otoritarian dihadang dan ditangkap dengan tindakan represif oleh personil Polres Jakarta Selatan seusai demonstrasi di depan Wisma Bakrie. Setelah selesai melakukan aksi di Wisma Bakrie, polisi tiba-tiba melakukan tindakan represif dengan memukul, menarik dan menangkap empat demonstran. Tidak lama setelah itu, di depan Monumen 66, polisi mengepung para aktivis dan membawa mereka ke Polres Jakarta Selatan. Beberapa aktivis masih dipukuli saat perjalanan menuju Polres dan saat pemeriksaan. Para aktivis Jaringan Anti Otoritarian ditahan dan diperiksa di polres Jakarta Selatan selama lebih dari 12 jam, dan baru dibebaskan pada pukul 12 malam.</p>
<p><span id="more-202"></span></p>
<p><strong>Kronologi Penangkapan</strong></p>
<p><strong class="subheading">Jakarta, 1 Mei 2008</strong></p>
<p><strong>09.00</strong></p>
<p>Partisipan aksi dari berbagai kelompok, seperti Urban Poor Concortium [UPC] (c.q. Jaringan Rakyat Miskin Kota [JRMK], Anak Jalanan [ANJAL]), Jaringan Anti Otoritarian [JAO], Low Rider, Atap Alis, Red Rebel, Jaringan Aksi Mahasiswa Untuk Rakyat [JAMOER], BEM Mercubuana, Sel FnB Pondok Jati [Ponti], Kolektif Rumput Liar, Sapitalis, Goa Beruang, dan beberapa individu/kelompok lain berkumpul di STIE Perbanas untuk melakukan briefing tentang yel-yel, lagu-lagu, evakuasi (jalur, cara, dan hal lain yang berkaitan), pemeriksaan ulang instrumen aksi, penegasan ulang (untuk mengingatkan) posisi koordinator, kemudian juga “pengingatan ulang” akan posisi tiap tim atau instrumen dalam barisan (i.e marching band, bendera, sweeper, grafiti, pembagian toa, dll.), dan hal lainnya di dalam aksi karnaval.</p>
<p><strong>10.00</strong></p>
<p>Aksi karnaval dimulai, partisipan aksi berjalan dari STIE Perbanas menuju ke Wisma Bakrie. Selama dalam perjalanan menuju Wisma Bakrie, aksi karnaval diiringi marching band, yel-yel, dan lagu-lagu, serta tarian bendera, bermain lompat karet (skiping), bermain lempar bola akrobatik atau ala sirkus, dll.. Pada barisan aksi bagian depan terlihat spanduk berukuran 3 m x 1.5 m yang bertuliskan “Bos tak peduli hidupmu. Ambil alih hidupmu,” dan “Berhentilah membela kami! Kami pasti bicara dan melawan tirani! Antikapitalisme.”</p>
<p><strong>10.15</strong></p>
<p>Partisipan aksi karnaval sampai di Wisma Bakrie. Setiba di Wisma Bakrie, tepatnya Wisma Bakrie II, partisipan aksi karnaval meneriakkan yel-yel, menari, dan melakukan pelbagai permainan (i.e. seperti lompat karet, tari topeng, tarian bendera, bermain bola sepak, dll.). Setelah beberapa menit, kemudian partisipan aksi karnaval melakukan orasi, kurang lebih selama 30 menit. Orasi dilakukan, diantaranya oleh pelbagai partisipan dari JAO, BEM Universitas Mercubuana, JRMK, JAMOER, dan dari komunitas lainnya. Sewaktu orasi, beberapa polisi sudah berdatangan ke Wisma Bakrie.</p>
<p>Menjadikan Wisma Bakrie II sebagai titik awal kegiatan aksi karnaval didasarkan pada alasan bahwa Wisma Bakrie merupakan representatif kuat atas kapitalisme dalam konteks Indonesia, maupun konteks global ketika dilihat dari nilai-nilai yang diusung oleh Bakrie Grup. Selain itu, Wisma Bakrie, baik itu Wisma Bakrie I dan II (segera menyusul pembangunan Bakrie Tower seluas 85.000 m2), merupakan suatu upaya dan aksi langsung untuk menyatakan bahwa para pelaku kapitalistik yang telah menimbulkan kerugian material (i.e. harta, lingkungan) dan nonmaterial (i.e patologis psikologis, jiwa/nyawa, harapan, mimpi)—seperti Bakrie Grup—memunyai alamat rumah dan properti mewah (bangunan fisik) yang tegak berdiri angkuh di kawasan publik yang centang-perentang. Mereka hadir di tengah kita. Sudah selayaknya kita tidak diam ketika mereka tetap hadir di tengah keseharian atau kehidupan kita, meskipun mereka menciptakan dan menimbulkan banyak kemudaratan dan kerusakan pada kehidupan kita, seperti lumpur Lapindo, misalnya.</p>
<p>Lumpur Lapindo memang memberikan kemudaratan dan kerusakan langsung kepada masyarakat di sana. Kendati demikian, ketika domisili kita yang berada jauh dari domisili korban lumpur hanya terdiam dan mendiamkan “bencana sosial” (bukan bencana alam) tersebut terjadi, maka kita pun mengidap patologis psikologis dan apatis akut. Kita terlalu sibuk dengan dunia kerja yang pada dasarnya sebagian besar alasan kita untuk bekerja karena tidak ada pilihan lain selain itu, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita—yang mana kebutuhan hidup kita pun telah terkomodifikasikan sedemikian rupa—sampai kita meninggal dunia. Karena bekerja, kita pun lupa akan hal-hal yang telah terjadi di luar kehidupan kita. Pada akhirnya, kita pun lupa bahwa di bawah rezim tirani ekonomi kapitalistik semua orang yang tidak memiliki kapital adalah korban. Masyarakat Porong dan sekitarnya adalah korban. Pun kita, yang berdomisili di luar daerah tersebut, adalah korban. Kita tetap diam walaupun telah terjadi ketidakadilan di sana. Kita diam karena kita tidak memiliki waktu untuk memeriksa kehidupan kita selain hanya untuk bekerja. Dengan demikian, ketidakadilan tidak hanya terjadi di Porong, melainkan juga di dalam keseharian dan kehidupan kita sepenuhnya. Mahasiswa atau pelajar diarahkan sedemikian untuk tetap sibuk memikirkan pelajarannya agar dapat segera lulus dan bekerja; ibu rumah tangga senantiasa sibuk untuk melayani keperluan anggota rumah tangganya agar suami dapat bekerja dengan lebih baik dan sang anak pun dapat belejar dengan baik untuk dapat meraih cita-citanya, yakni bekerja dengan penghasilan tinggi; para pekerja dikepung sana-sini oleh pelbagai benda-benda yang perlu dikonsumsi agar dapat menjalani hidup sejahtera, pada akhirnya membuat mereka untuk tetap giat bekerja agar dapat mengonsumsi pelbagai benda; masyarakat adat, masyarakat pedesaan dan kaum miskin kota kelimpungan bertahan dari terpaan logika instrumental yang selalu mengintai daerah pertanahan mereka untuk dijadikan pabrik dan pusat perbelanjaan; kita, kaum yang tidak memiliki kapital selalu menjadi korban, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.</p>
<p>Di bawah rezim tirani kapitalistik, kita semua adalah korban. Entah, satu detik kemudian, satu menit kemudian, satu jam kemudian, satu hari atau minggu berikutnya, atau bulan atau tahun berikutnya, kita bisa saja kehilangan hidup dan mimpi kita yang tergerus oleh logika akumulasi kapital. Wisma Bakrie, serta gedung-gedung korporasi lainnya, hadir di tengah kita dengan aman, sementara kehidupan dan mimpi kita selalu terancam dan tergerus oleh logika mereka, yakni kapitalisme. Wisma Bakrie merupakan manifestasi material atas kapitalisme.</p>
<p>Aksi karnaval ini kali merupakan, selain sebagai suatu sikap langsung untuk merayakan hidup secara otonom dan bebas dari dominasi rezim tiranik ekonomi kapitalisme, sebuah upaya perlawanan terhadap kapitalisme—meskipun perayaan hidup dan merengkuh makna hidup tersebut berlangsung sesaat. Ketika kita menuntut niat baik mereka, selalu saja pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah mereka penuhi. Oleh karena itu, tidak cukup hanya sekedar mendesak dan menekan mereka, melainkan kita harus mengambil alih hidup kita sendiri, merayakan hidup kita sendiri.</p>
<p><strong>10. 45</strong></p>
<p>Setelah orasi, barisan partisipan aksi karnaval merapat ke pagar depan Wisma Bakrie II untuk melakukan pembakaran patung yang dibuat dengan kardus sebagai material simbolik. Pertama, sebagai simbolik personal, dan kedua sebagai simbolik korporat. Personal dimaksud adalah bahwa Bakrie Grup terdiri dari para pejabat tinggi negara dan kapitalis kakap. Salah satu pemilik dari Bakrie Grup bahkan selain menjadi menteri pemerintahan SBY-JK juga merupakan orang terkaya di Indonesia. Di sini terlihat bahwa ekonomi erat kaitannya dengan kekuasaan. Dengan demikian, pendominasian atas kehidupan orang banyak oleh segelintir pihak tidak hanya direpresentasikan oleh negara melulu, melainkan juga oleh kapitalis(me). Dimaksud korporat adalah bahwa Bakrie Grup merupakan korporasi kapitalisme terbesar di Indonesia, yang mana dalam operasionalnya begitu banyak menimbulkan kemudaratan dan kesengsaraan terhadap orang banyak atau publik (baik itu secara psikologis maupun fisik) dan lingkungan—salah satu contohnya adalah kasus lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.</p>
<p><strong>10. 55</strong></p>
<p>Ketika partisipan aksi karnaval melakukan pembakaran patung kardus tersebut, beberapa polisi mulai mendekati barisan aksi dan kemudian mematikan (dengan menginjak-injak) api yang masih membakar patung kardus tersebut sambil berteriak-teriak dengan nada ancaman pada partisipan aksi karnaval agar tidak melakukan pembakaran atau menghentikan pembakaran.</p>
<p>Ketika lumpur Lapindo terjadi atas ulah kelalaian manusia, para pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut samasekali tidak diberikan kecaman oleh aparatus negara atau pemerintahan. Tidak ada samasekali polisi berpakaian resmi maupun polisi berpakaian preman yang berteriak-teriak mengumpat dan memberikan ancaman kepada para pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa lumpur Lapindo tersebut. Tragedi lumpur Lapindo tidak hanya membuat banyak orang kehilangan tempat tinggalnya, melainkan juga kehilangan pekerjaan atau mata pencahariannya. Itu berarti semakin bertambah jumlah pengangguran di dunia yang tidak damai dan tentram bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan ini. Itu juga mengapa bahwa 1 Mei tidak hanya sekadar Hari Buruh Internasional, melainkan juga Hari Perlawanan terhadap Kapitalisme Internasional atau Hari Antikapitalisme Internasional.</p>
<p>Pada waktu hampir bersamaan, tim stensil, graffiti, dan pelempar cat yang dibungkus dengan menggunakan plastik ukuran kecil, mulai melakukan aksi karnavalnya di pagar depan Wisma Bakrie dengan membuat tulisan-tulisan seperti “Markas Pembunuh”, “Bahaya Neoliberalisme”, “Antikapitalisme”, dan lainnya, sebagai simbol: penanda atas petanda bahwa Bakrie Grup (simbolik atas kapitalisme) harus dilawan, karena telah menyebabkan kemudaratan dan kesengsaraan masyarakat sekaligus lingkungan hidup. Pada saat yang sama, polisi berseragam dalam jumlah banyak dan polisi berpakaian berpreman mulai berdatangan. Partisipan aksi karnaval hendak berniat melanjutkan perjalanan menuju Bundaran Hotel Indonesia, di belakang ternyata ada partisipan aksi karnaval lain yang baru datang dan segera menyusul sehingga barisan aksi harus menunggu. Dalam perjalanan, tim stensil dan graffiti juga membuat tulisan-tulisan protes tentang antikapitalisme dan sebagainya di sepanjang jalan yang  dilalui (masih belum jauh [sekitar 100 m] dari Wisma Bakrie).</p>
<p>Selama menunggu partisipan aksi karnaval yang datang terlambat tersebut, yang mayoritas adalah remaja yang hendak merayakan karnaval tersebut dengan cara performance art, yakni dengan mengikatkan kaleng pada kakinya.</p>
<p><strong>11. 10</strong></p>
<p>Polisi berkendaraan motor trail mulai melakukan intimidasi, baik psikologis maupun nonpsikologis, pada masa aksi karnaval dengan cara memain-mainkan gas motor dan mengejar beberapa orang yang diduga oleh polisi telah melakukan vandalisme dengan cara menulisi tembok dengan phylox. Beberapa orang ditarik dari belakang, baik itu lelaki maupun perempuan, namun partisipan aksi karnaval yang ditarik oleh polisi berpakaian preman dapat melepaskan diri dari cengkramannya, setelah melawan. Pada akhirnya, hal tersebut menyebabkan situasi memanas dan menyebabkan barisan aksi tidak lagi solid. Polisi berkendaraan motor trail tidak hanya sekadar memainkan gas, melainkan juga hendak menerobos barisan untuk membuat kecaman psikologis.</p>
<p><strong>11. 15</strong></p>
<p>Karena khawatir polisi berkendaraan motor trail akan menabrak barisan belakang, maka salah satu partisipan aksi menjatuhkan tubuhnya ke samping di mana polisi berkendaraan itu melaju, agar polisi berkendaraan itu tidak masuk ke dalam barisan mengacau barisan. Tubuh partisipan aksi itu berbenturan dengan motor trail polisi. Keduanya tidak jatuh, hanya bertumbukan dan menyebabkan mundur ke belakang. Setelah itu, partisipan tersebut jalan lagi ke depan. Para polisi, terutama polisi berpakaian preman, seakan mendapat alasan untuk menangkap, tidak mendiamkan hal tersebut. Mereka, polisi berpakaian preman, mulai mengejar partisipan tersebut dan menangkapnya. Partisipan tersebut ditarik dari belakang dan dipukul hingga terjatuh. Kemudian ia diseret ke arah seberang jalan untuk dijauhkan dari barisan partisipan aksi, kemudian dimasukkan ke dalam mobil polisi. Selama proses penangkapan tersebut, sekitar lima sampai enam polisi berseragam dan berpakaian preman melakukan tindakan kekerasan fisik kepada partisipan tersebut. Bahkan tidak hanya kepada partisipan tersebut aksi kekerasan fisik dilakukan, kekerasan fisik juga dialami oleh partisipan lain yang hendak membantu untuk melepaskan partisipan yang ditangkap tersebut, dengan cara menariknya dari “kepungan” polisi. Pada saat sama, tiap partisipan aksi karnaval yang diincar untuk ditangkap, dikepung sekitar lima sampai tujuh polisi per partisipan. Perlu dicatat bahwa proses penangkapan yang disertai dengan kekerasan fisik tersebut disaksikan dan direkam oleh wartawan media massa elektronik dan kampus—salah satu wartawan dari pers kampus malah ketika mengambil gambar proses penangkapan tersebut ditepis tangannya dengan kencang yang sedang mengambil gambar oleh polisi, sehingga handphonenya terjatuh dan hancur.</p>
<p>Kita bisa melihat bahwa orang yang hanya sekadar mengutarakan sikapnya kepada sistem yang mendominasi sekarang ini dengan cara melakukan penulisan phylox pada tembok pagar gedung korporat yang telah menciptakan dan menyebabkan kemudaratan serta kerusakan kehidupan orang banyak dan lingkungan dikejar dan diincar polisi berpakaian preman untuk segera ditangkap. Dalam proses penangkapan tersebut, polisi berpakaian preman tersebut tidak segan melakukan tindakan kekerasan fisik. Pada kesempatan yang lain, para polisi, baik itu berpakaian dinas maupun berpakaian preman, tidak berbuat apa-apa terhadap para pihak yang bertanggung jawab atas tragedi lumpur Lapindo, yang ada malah menjadi “tukang-pukul” mereka.</p>
<p><strong>11. 25</strong></p>
<p>Kemudian, ada tiga orang partisipan aksi karnaval lainnya yang juga ditarik paksa dengan disertai pemukulan oleh polisi. Bahkan salah satu dari ketiga orang tersebut diseret dari jalanan ke belakang menuju mobil polisi. Dia diseret dengan posisi terlentang; dua polisi menarik dirinya dengan memegang kedua tangannya, walaupun dia berteriak-teriak “civil right” berkali-kali. Selain itu, ada juga yang dipukul dengan gagang pistol oleh polisi ketika menangkap salah satu dari ketiga orang tersebut; juga ada polisi berpakaian preman yang mengacung-acungkan pistolnya kepada para partisipan aksi karnaval.</p>
<p>Akhirnya empat orang yang tertangkap tersebut dimasukkan ke dalam mobil sedan polisi. Setelah penangkapan empat orang tersebut, polisi berpakaian preman semakin brutal melakukan represivitas pada partisipan aksi karnaval yang sedang mencoba untuk menyolidkan diri lagi di bagian depan. Ada beberapa partisipan aksi karnaval lain, baik itu lelaki dan perempuan, yang ditarik paksa dan coba ditangkap oleh polisi dengan disertai tindakan kekerasan fisik seperti pemukulan dan penendangan, meskipun pada akhirnya dapat diselamatkan oleh partisipan aksi karnaval lainnya dengan melakukan aksi tarik-menarik dengan polisi. Beberapa partisipan aksi karnaval yang berusaha untuk menyelamatkan partisipan aksi karnaval yang tertangkap pun mengalami kekerasan fisik. Selain melakukan kekerasan fisik kepada partisipan aksi karnaval yang berusaha menyelamatkan partisipan aksi karnaval lainnya, salah satu polisi berpakaian preman mengeluarkan pistol ketika partisipan lain berusaha menyelamatkan temannya. Hal tersebut membuat sebagian partisipan tidak melanjutkan usaha penyelamatan tersebut karena takut ditembak, dan sebagian tetap berupaya menarik partisipan aksi karnaval yang diringkus oleh polisi.</p>
<p><strong>11. 35</strong></p>
<p>Partisipan aksi karnaval yang cair akibat represivitas aparat, yang sebagian besar dilakukan oleh polisi berpakaian preman, dimanfaatkan oleh aparat polisi untuk melakukan pengejaran pada partisipan aksi karnaval yang lain. Hal tersebut membuat barisan pecah. Pada akhirnya, beberapa partisipan aksi karnaval berteriak bahwa tidak akan ada aksi melakukan tulisan di tembok, asal polisi menghentikan aksinya. Sejurus kemudian, barisan aksi tetap melakukan perjalanan walaupun cair, setelah salah satu polisi berpakaian seragam, yang diduga atasan polsek setempat, menyarankan agar partisipan aksi tetap berjalan tanpa melakukan aksi menulisi tembok dan jalanan dengan phylox agar tidak ditangkap.</p>
<p><strong>11. 40</strong></p>
<p>Mendadak, beberapa menit kemudian, satu mobil elf polisi yang penuh dengan polisi datang dari belakang seberang jalan dan mengepung barisan partisipan aksi karnaval dari berbagai arah (tapal kuda) dan akhirnya berhasil menyudutkan barisan di sudut jalan di sekitar Tugu 66, Jl. H.R. Rasuna Said. Segerombolan polisi tersebut berteriak kepada barisan aksi untuk berhenti dan mengancam jika ada yang kabur, walaupun dalam perjalanan lanjutan itu sudah tidak ada kegiatan menulisi pagar tembok gedung dan jalanan dengan phylox.</p>
<p><strong>11. 43</strong></p>
<p>Dengan sekejap, semua partisipan aksi sudah berhasil dikumpulkan di sudut jalan, di tepi selokan, kemudian diperintahkan untuk jongkok. Polisi berpakaian preman berteriak-teriak pada masa aksi dengan mengumpat dan mengancam. Seperti, “Anjing,” “Jangan macem-macem lo, gw bunuh lo!” dll.. Hanya sekadar menulisi tembok pagar dengan phylox, partisipan aksi karnaval langsung diancam hendak dibunuh jika berbuat macam-macam lagi. Pada sisi lain, tidak ada polisi yang memberikan ancaman pembunuhan kepada pelaku kejahatan korporasional atau ekonomi.</p>
<p><strong>11. 47</strong></p>
<p>Polisi menyita semua peralatan aksi, termasuk spanduk, bendera, flier, alat permainan anak-anak (i.e. kelereng, monopoli), kamera—ada kamera manual yang rol filmnya dicabut paksa—, handycam. Dan, polisi kemudian melakukan penggeledahan tas dan badan. Partisipan aksi karnaval yang membawa tas, baik itu didapati atau tidak didapati barang-barang tersebut (atau yang berkaitan dengan aksi seperti ketapel yang tidak digunakan, phylox, bola, karet lompat tali, dll.) dikelompokkan terpisah dan identitasnya (KTP, SIM, KTM dll) disita. Penyortiran juga dilakukan pada partisipan aksi karnaval remaja, yang sebenarnya merupakan kelompok performance art yang memakai kaleng-kaleng di kaki mereka.</p>
<p>Polisi yang lain memberhentikan beberapa kopaja (empat kopaja) untuk mengangkut partisipan aksi karnaval (total berjumlah sekitar 200 orang yang tertangkap) ke kantor Polres Metro Jakarta Selatan—setelah para polisi tersebut berdebat hendak ke mana partisipan aksi karnaval ini dibawa. Mulai dari proses penyortiran hingga waktu naik ke dalam kopaja, proses tersebut disertai dengan caci-maki atau umpatan kasar, pemukulan, panamparan, bahkan ketika di dalam kopaja ada yang kepalanya dibenturkan ke dinding/tubuh bagian dalam kopaja. Bahkan pemeriksaan dan penggeledahan dilakukan dua kali. Pertama, ketika dikumpulkan dan kemudian melakukan pemisahan; dan kedua, ialah ketika hendak menaiki kopaja. Pada kesempatan itu juga, ada juga satu orang berkewarganegaraan Polandia ikut tertangkap karena mengikuti aksi solidaritas untuk May Day ini. Salah seorang partisipan aksi karnaval yang pada awalnya membantu polisi untuk menerjemahkan, malah ikut dipisahkan bersama orang Polandia tersebut. Selama proses penangkapan tersebut, ada juga beberapa orang yang samasekali tidak terlibat dalam aksi ikut ditangkap.</p>
<p>Alasan pihak kepolisian menangkap seluruh partisipan aksi karnaval ialah pelanggaran ketertiban umum, yakni tidak mengajukan izin aksi karnaval dan “corat-coret” tembok pagar menggunakan phylox, serta pelanggaran kekuasaan umum, yakni kedapatan membawa 3-5 ketapel yang samasekali tidak digunakan dan beberapa kelereng, bahkan oleh polisi aksi karnaval tersebut dianggap sebagai aksi kudeta.</p>
<p><strong>12. 19</strong></p>
<p>Partisipan aksi karnaval tiba di Polres Metro Jakarta Selatan dan dikumpulkan dan dikelompokkan. Ada dua kelompok: Kelompok pertama, adalah kelompok partisipan aksi yang waktu penggeledahan di dalam tasnya didapati peralatan yang berkaitan dengan aksi—walaupun pada kenyataannya partisipan aksi yang masuk ke dalam kelompok ini tidak semuanya kedapatan membawa barang apa pun yang bisa dijadikan barang bukti yang berkaitan dengan aksi oleh pihak kepolisian. Di sini terlihat pihak kepolisian bekerja dengan sembarangan dalam mengidentifikasi partisipan yang membawa barang yang bisa dijadikan barang bukti. Kelompok kedua, adalah kelompok partisipan aksi yang waktu penggeledahan tidak ditemukan barang yang berkaitan dengan aksi. Ada satu kelompok yang tidak ikut dikumpulkan bersama kelompok lain, yakni kelompok empat orang pertama yang ditangkap paksa pada waktu aksi.</p>
<p><strong>12. 30</strong></p>
<p>Kelompok partisipan aksi yang dituduh sembarangan—mengingat tidak semua membawa atau kedapatan barang bukti—kedapatan membawa barang bukti yang berkaitan dengan aksi atau kelompok pertama, digelandang ke lantai tiga, sedangkan yang tidak membawa barang yang berkaitan dengan aksi atau kelompok kedua, digelandang ke lantai dua.</p>
<p>Kelompok pertama mulai dimintai soal keterangan identitasnya. Beberapa polisi yang ada di tempat, dalam arti tidak mengetahui proses penangkapan tersebut, mulai menanyakan kepada sebagian partisipan kelompok pertama alasan mengapa mereka ditangkap.</p>
<p><strong>13. 00</strong></p>
<p>Polisi mulai meminta sebagian partisipan untuk di-BAP-kan. Namun, partisipan aksi tidak mau di-BAP-kan selama tidak didampingi kuasa hukum atau pengacara. Kendati demikian, polisi tetap memaksa untuk meminta kesediaan partisipan agar mau di-BAP-kan. Tidak puas dengan memaksa, polisi akhirnya merayu kepada partisipan untuk di-BAP-kan agar bisa pulang cepat.</p>
<p><strong>13. 30</strong></p>
<p>Mendadak muncul suara yang agak kencang di sudut lorong ruangan pemeriksaan di lantai tiga tersebut yang menyemangati partisipan. “Kalian masih bersemangat, kan?”. Ternyata suara tersebut berasal dari salah satu keempat partisipan aksi yang ditangkap kali pertama, yang baru saja datang ke polres tersebut. Dia dan ketiga teman lainnya, sebelum dipindahkan ke polres, digelandang ke Polsek Setia Budi. Satu polisi yang berpakaian preman mendengar hal tersebut segera menghampiri orang tersebut dan membentak. ”Kamu jangan berisik, ini kantor polisi!”. Segera polisi berpakaian preman yang lain pun turut memarahi. Orang tersebut mengatakan tidak akan berteriak. Dia tidak bermaksud untuk membuat kegaduhan, melainkan menyemangati. Walaupun sudah minta maaf, polisi berpakaian preman tersebut tetap tidak surut kemarahannya, malah semakin menjadi. Spontan saja partisipan tersebut menaikkan nada suaranya untuk membela diri, bahwa jangan memarahinya begitu saja. Dan, polisi malah semakin tinggi nada suaranya. Entah bagaimana, “perdebatan” tersebut reda dengan sendirinya. Mungkin polisi menyadari bahwa ia memang tidak memiliki hak untuk memarahi orang begitu saja.</p>
<p>Setelah “perdebatan” tersebut, polisi kembali meminta partisipan untuk melakukan BAP. Partisipan tetap bersikukuh tidak mau di-BAP-kan jika tidak didampingi pengacara. Polisi tetap memaksa. Bahkan kadang kala dengan membentak dan mulai bersikap angkuh. “Saya mengerti prosedur hukum. Jangan ajari saya,” ketus salah satu polisi sembari tetap memaksa partisipan untuk di-BAP saat partisipan menolak di-BAP-kan jika tanpa ada pengacara yang mendampingi. Sebagian partisipan pun tidak tinggal diam melihat hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa kita tidak akan di-BAP-kan tanpa ada pengacara kepada polisi untuk menegaskan bahwa tidak ada BAP tanpa pengacara, selain itu mereka juga sekaligus mengingatkan kepada partisipan lainnya agar jangan mau dan takut sehingga mau di-BAP-kan tanpa didampingi pengacara.</p>
<p>Karena mengetahui bahwa partisipan memiliki hak untuk didamping pengacara ketika di-BAP-kan, polisi pun mulai lunak dalam meminta kepada partisipan agar mau di-BAP-kan. Tapi tetap saja gagal.</p>
<p>Karena tidak berhasil juga, akhirnya polisi melakukan pemisahan (split) kepada kelompok pertama dengan cara memisahkan lelaki dan perempuan. Setelah dilakukan pemisahan berdasarkan jenis kelamin, polisi pun kembali meminta kepada partisipan untuk di-BAP-kan, ini kali kepada partisipan perempuan. Partisipan tetap tidak mau. Polisi pun merajuk “Tolong saya, saya diperintah atasan saya untuk memeriksa kalian!” Tetap saja partisipan tidak mau. Pada akhirnya polisi pun kesal sendiri. Karena gagal, akhirnya polisi pun menggunakan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan sebelumnya, ini kali polisi tidak meminta kepada partisipan untuk mengikutinya ke dalam ruangan untuk di-BAP-kan, melainkan memanggil begitu saja agar mengikutinya. Akan tetapi, hal tersebut segera dicegah oleh partisipan yang lain. “Pak, mereka memiliki pengacara. Tidak bisa diperiksa begitu saja sebelum pengacara datang!”</p>
<p>Karena gagal terus, akhirnya polisi melakukan pemisahan kembali. Ini kali, setelah sebelumnya berdasarkan jenis kelamin, menggunakan dasar usia. Kelompok lelaki dipisah atau di-split kembali menggunakan dasar kriteria usia tersebut. Kurang lebih belasan remaja tanggung di bawah usia tujuh belas tahun dipisahkan. Kemudian, sisanya displit kembali menjadi beberapa kelompok; tiap kelompok kurang lebih sepuluh orang. Kelompok tersebut ada yang langsung dipisahkan menuju ruangan lain, ada yang tetap tinggal di lorong.</p>
<p>Kelompok remaja tanggung itu segera di bawa ke ujung lorong bagian kiri dari arah pintu masuk. Kemudian polisi langsung bertanya. “Siapa yang membawa kalian?” “Siapa yang mengajak kalian?” “Kamu diajak ama orang yang marah-marah tadi itu yah (orang tersebut yang dimaksud adalah partisipan yang membalas bentakan polisi ketika sedang menyemangati partisipan lain)?” Para remaja tersebut menjawab tidak tahu dan mengaku tidak kenal dengan orang tersebut. Kendati demikian, tetap saja polisi mengarahkan jawaban para remaja tersebut untuk menggiring atau mendapatkan suatu konklusi untuk menetapkan tersangka. Para remaja tersebut diinterogasi tanpa ada yang mendampingi. Kemudian, beberapa menit kemudian, beberapa kelompok yang masih di lorong di bawa ke ruangan lain. Ketika semuanya, per kelompok tersebut, dipisah satu sama lain, polisi mulai melakukan interogasi dan BAP. Beberapa orang tetap menolak di-BAP-kan tanpa ada pengacara samasekali. Kendati demikian, polisi tetap memaksa. Akhirnya, polisi memberikan batas waktu. Kelompok partisipan yang tersisa mengatakan bahwa paling lambat dua jam lagi tim advokasi atau tim pengacara akan datang.</p>
<p>Pun demikian, tetap saja ada polisi yang datang untuk meminta melakukan pemeriksaan atau BAP. Hampir bisa dipastikan, satu polisi gagal, polisi lain datang untuk menanyakan hal sama. Tampaknya ini dilakukan untuk memberikan efek psikologis dan motorik, sehingga partisipan menjadi stress dan kelelahan sedemikian rupa.</p>
<p>Pada saat yang sama, ternyata baru diketahui bahwa salah satu partisipan aksi dibawa terpisah, yakni digelandang ke Polda Metro Jaya, bersama WNA Polandia. Hal ini diketahui setelah partisipan tersebut memberitahukan keberadaannya kepada partisipan yang berada di polres. Partisipan tersebut menduga keberadaannya di polda diketahui, padahal tidak. Partisipan tersebut pada dasarnya hanya hendak membantu polisi agar dapat berkomunikasi dengan baik dengan WNA Polandia tersebut. Ternyata, dia malah juga dibawa ke polda dan diperiksa di bagian intelkam (intelejen dan keamanan). Para polisi di sana (polda) mulai menanyakan partisipan tersebut dengan berbagai cara, mulai dari cara formal, cara informal, cara halus, dan cara sedikit kasar.</p>
<p>Cara formal, partisipan tersebut ditanyai di depan komputer oleh seorang petugas—padahal jelas-jelas dia hanya penerjemah dalam kasus penangkapan WNA tersebut, dan pemeriksaan yang dilakukan oleh intelkam tidak memiliki implikasi hukum, berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh bareksrim atau BAP.</p>
<p>Cara informal, partisipan tersebut ditanyai oleh seorang komandan yang memulainya dengan menyapa dan mengajaknya mengobrol tentang berbagai hal, namun kemudian menjurus pada hal lain, seperti pertanyaan yang arah pembicaraannya pada identitas massa aksi, pemimpin organisasi dan arti simbol pada bendera yang digunakan pada saat aksi.</p>
<p>Cara halus, di mana beberapa polisi Batak dimasukkan untuk ngobrol dengan partisipan tersebut, yang memang bersuku Batak. Hal ini dilakukan mungkin untuk membangkitkan sentimental kedaerahan. Lalu juga ada beberapa polisi muda yang ngobrol dengan partisipan tersebut tentang naik gunung dan selam—setelah mengetahui bahwa partisipan aksi tersebut menggemari kedua hal tersebut—supaya partisipan tersebut merasa nyaman dan mau menjawab semua pertanyaan mereka.</p>
<p>Lalu ada juga cara sedikit kasar di mana salah satu komandan masuk dan menanyainya dengan nada sedikit membentak dan menghinanya dengan mengatakan, &#8220;Katanya mahasiswa, kok ditanya gini aja gak ngerti. Mahasiswa &#8230;  pula, masa gak ngerti dan muter-muter jawabnya!&#8221;.</p>
<p>Lalu, tidak hanya berhenti di situ, setiap petugas yang masuk ke ruangan di mana partisipan tersebut berada atau menemuinya juga menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang, untuk membuat partisipan tersebut lelah dan tertekan secara psikologis. Pada intinya mereka mempermainkan kondisi psikologisnya untuk mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.</p>
<p>Kemudian, ketika kakak lelaki partisipan datang untuk mengecek keberadaannya ke Polda Metro Jaya, pihak Polda Metro Jaya mengatakan bahwa pada hari itu tidak ada orang yang “masuk” yang ditangkap di Wisma Bakrie. Akhirnya orang tersebut menelpon adiknya untuk memperjelas apakah dia memang diberada di Polda Metro Jaya. Sang adik pun kembali menyatakan bahwa dirinya memang ditahan di sana. Kembali, sang kakak menanyakan kepada pihak polda soal kabar dan keberadaan adiknya di polda. Lagi, petugas polisi tidak mengakui bahwa adiknya berada di dalam. Akhirnya, sang kakak menelpon sang adik lagi, kemudian ketika tersambung dengan sang adik, sang adik memberikan kepada polisi untuk berbicara kepada sang kakak sebagai bukti bahwa memang dirinya ditahan di polda, tidak di tempat lain. Akhirnya, sang kakak dapat masuk ke dalam untuk melihat keberadaan sang adik.</p>
<p><strong>14.30</strong></p>
<p>Salah satu pengacara dari KONTRAS akhirnya datang ke polres. Segera dia langsung mendata partisipan. Pengacara tersebut juga menanyakan apakah ada tindakan kekerasan yang dilakukan polisi selama proses penangkapan dan pemeriksaan, selain meminta kepada partisipan untuk membuat catatan kronologis detail atas peristiwa tersebut. Beberapa partisipan mengatakan bahwa dirinya sempat dipukuli, ditendang, diinjak kepalanya, bahkan ada yang dipukul kepalanya oleh gagang pistol. Pengacara tersebut meminta agar kepada para korban untuk mengingat nama aparat tersebut, yang sayangnya aparat yang memukul mereka menggunakan pakaian preman. Jadi, hanya wajah saja yang mereka dapat kenali. Mendadak, salah satu polisi yang memukul salah satu korban pemukulan lewat di depannya. Sontan saja korban tersebut menunjukkan jarinya ka arah muka polisi tersebut. “Ini, nih, orang yang memukul saya tadi,” tunjuk korban tersebut kepada aparat yang memukulnya. Polisi tersebut langsung ketakutan dan mencepatkan langkahnya menuju kamar kecil (toilet). Setelah dari kamar kecil, polisi tersebut kembali melewati korban, dan tampaknya korban pemukulan tersebut sudah menantikan polisi yang memukulnya tersebut. Segera beberapa partisipan dan pengacara menanyakan nama atau identitas kepada polisi yang telah melakukan pemukulan tersebut. Namun, polisi tersebut tidak mengaku dan jalan cepat ketakutan meninggalkan ruangan tersebut, sambil mengatakan bahwa dia tidak memukul.</p>
<p>Polisi melakukan interogasi dan BAP kepada seluruh partisipan yang berjumlah ratusan tersebut (sekitar 150-an orang); Semuanya difoto; Semuanya kembali diminta menuliskan alamat dan telepon yang bisa dihubungi; Sebagian diperiksa sebagai saksi dan disuruh menandatangani BAP sebanyak empat rangkap.</p>
<p>Selama pemeriksaan, terutama pemeriksaan awal, sebagian besar hal atau proses tersebut dilakukan oleh pihak kepolisian tanpa samasekali didampingi tim advokasi. Sehingga banyak sekali terjadi kekerasan psikologis yang dilakukan polisi dalam pemeriksaan tersebut.</p>
<p>Karena begitu banyak yang diperiksa, yakni ratusan, maka terlihat kelelahan pada wajah partisipan yang menunggu giliran untuk diperiksa; dan juga stress atau tertekan karena polisi tiada hentinya bergiliran menanyakan dan meminta untuk segera melakukan BAP. Bahkan para polisi pun terlihat pusing dan stress. Kadang mereka, para polisi itu, satu sama lain berdebat, mempertanyakan pasal yang dijatuhkan kepada partisipan yang tidak nyambung kepada polisi lainnya, dsb&#8230;</p>
<p>Pada saat sama, partisipan aksi karnaval pun kelaparan. Akhirnya, sebagian ada yang membeli makanan ketika ada penjual makanan atau warung nasi di dalam ruangan tersebut yang menanyakan apakah ada yang mau makan. Kurang lebih 20 menit kemudian, makanan tiba. Mendadak beberapa polisi menanyakan makanan tersebut; polisi khawatir mereka mengambil jatah orang lain. Padahal mereka membeli makanan dan minuman tersebut dengan menggunakan uang masing-masing yang dikumpulkan (patungan). Bahkan seorang polwan yang disebut-disebut sebagai petinggi di polres tersebut, dengan angkuh dan tanpa ada rasa bersalah samasekali mengatakan “Saya hanya membelikan makanan untuk perempuan saja, tidak untuk lelaki. Saya menyayangi anak perempuan (yang diperiksa), tidak anak lelaki!”</p>
<p><strong>18.00</strong></p>
<p>Partisipan aksi baru diberi makan oleh polisi, setelah sebelumnya tidak diberi makan siang. Setelah itu masing-masing kelompok menjalani pemeriksaan lanjutan, seperti dimintai sidik jari dan interogasi yang lebih dalam dalam kondisi yang sangat lelah. Pada jam tersebut, partisipan aksi belum mengetahui kabar dari partisipan aksi yang berasal dari Polandia dan penerjemah yang turut tertangkap.</p>
<p>Mendadak terdengar suara di salah satu ruangan pemeriksaan yang cukup terdengar jelas dari luar pintu masuk ke dalam ruangan tersebut. “Makanya, jangan main-main dengan Bakrie!”</p>
<p><strong>22. 00</strong></p>
<p>Para petinggi kepolisian melakukan rapat tertutup dengan beberapa orang dari tim advokasi mengenai permasalahan ini. Tim advokasi mengatakan bahwa partisipan aksi karnaval melakukan aksi biasa sebagaimana yang sering terjadi ketika pada tiap 1 Mei—pada laporan awal kepolisian semula partisipan aksi karnaval diduga melakukan kudeta. Suatu tuduhan yang sangat banal. Bahkan salah satu polisi pun turut mengamini kebanalan tersebut ketika salah satu partisipan aksi karnaval yang kedapatan ketapel di dalam tasnya diinterogasi bahwa ia menggunakan ketapel untuk mengudeta. “Ya, Bapak, coba pikir, bagaimana saya bisa melawan kekuasaan umum, menggunakan ketapel melawan polisi saja kalah. Polisi senjata, saya ketapel,” jawab partisipan tersebut ketika diperiksa. “Iya, ya, bener juga kamu,” timpal penyidik mengamini.</p>
<p>Akhirnya, rapat antara petinggi kepolisan dengan beberapa perwakilan tim advokasi menghasilkan keputusan untuk membebaskan partisipan aksi karnaval. Rapat tersebut berlangsung sekitar satu jam lebih.</p>
<p>Sebelum dibebaskan, pihak kepolisian kembali mendata siapa-siapa saja yang belum difoto. Kemudian, pihak kepolisian meminta kepada seluruh partisipan aksi karnaval untuk memberikan sidik jari, sebelum mereka dapat benar-benar bebas.</p>
<p><strong>00.05</strong></p>
<p>Seluruh partisipan aksi dibebaskan dengan bantuan hukum dari LBH Jakarta, LBH Apik dan Kontras, komnas hak anak dan perempuan, Aliansi Bhineka Tunggal Ika, dll.. Barang-barang yang disita polisi, belum semuanya dapat diambil. Barang-barang yang disita oleh polisi antara lain KTP, handphone, bendera, toa, snare drum, spanduk, kamera, handycam, dll..</p>
<p>KTP, handphone, handycam, kamera sudah dapat diambil. Adapun barang sisanya belum bisa diambil. Untuk kamera, beberapa foto yang merekam aksi pemukulan polisi terhadap partisipan sebagian besar dihapus oleh polisi ketika dalam penyitaan.</p>
<p>Masih tersisa satu persoalan yakni ketidakjelasan posisi partisipan aksi yang berasal dari Polandia. Dikatakan ia berada di Polda Metro Jaya. Dan kemudian tersiar kabar bahwa justru pihak Polda Metro Jaya tidak pernah mengakui pernah masuk ke Polda Metro jaya seorang warga negara Polandia tersebut ketika tim advokasi mendatangi polda untuk menjadi kuasa hukum WNA tersebut.</p>
<p><strong>02 Mei 2008</strong></p>
<p><strong>10.00</strong></p>
<p>Tiga orang mendatangi kantor Direktorat Jendral Keimigrasian, setelah sebelumnya hendak mendatangi kantor Polda Metro Jaya untuk menanyakan kabar soal penangkapan WNA tersebut. Tiga orang tersebut adalah saksi atas penangkapan WNA tersebut. Tiga orang itu akan didampingi pengacara—pengacara tersebut menanti di polda—untuk mengurus WNA tersebut. Jika polda masih tetap tidak mengakui bahwa mereka menangkap WNA pada aksi kemarin setelah tiga orang saksi tersebut memberikan kesaksian, tim kuasa hukum akan memperkarakan permasalahan ini sebagai penculikan oleh Polda Metro Jaya, penculikan WNA. Mendadak di tengah jalan, kurang lebih 200 m dari letak Polda Metro Jaya, para saksi mendapatkan kabar bahwa WNA tersebut sekarang berada di Kantor Dirjen Keimigrasian. Akhirnya para saksi tersebut menuju kantor keimigrasian pusat.</p>
<p><strong>11. 30</strong></p>
<p>Para saksi tiba di kantor keimigrasian pusat. Mereka, para saksi, membenarkan bahwa WNA tersebut memang berada di sana. Mereka menanyakan kepada staff atau pegawai imigrasi mengenai WNA tersebut, yakni WNA itu dikirim ke kantor keimigrasian oleh siapa. Ternyata pegawai di sana mengatakan bahwa yang melimpahkan perkara WNA tersebut kepada kantor keimigrasian adalah pihak Polda Metro Jaya. WNA Polandia tersebut ketika ditanyakan keberadaannya sebelum dibawa ke kantor keimigrasian membenarkan hal tersebut, bahwa ia memang ditahan di polda.</p>
<p>WNA tersebut akhirnya diputuskan dideportasi oleh pihak keimigrasian. Dan, proses pendeportasian tersebut harus dilakukan secepatnya. Akhirnya, ditentukan bahwa besoknya, Sabtu, 03 Mei 2008, pukul 11.00, WNA tersebut harus berangkat atau dideportasi ke luar dari Indonesia, sesuai dengan jadwal tiket keberangkatannya.</p>
<p>Setelah memakan waktu enam jam, akhirnya para saksi dapat melobi pihak keimigrasian agar tidak menahan WNA tersebut, dengan jaminan UPC sebagai penjamin bahwa WNA tersebut tidak akan kabur selama dalam masa mengurusi pendeportasiannya. Jadi, tidak ditahan di sel dirjen keimigrasian; akan dilepaskan ketika sudah memasuki waktu berangkat ke bandara.</p>
<p>Selama masa pemeriksaan di polda, pihak polda banyak mengajukan pertanyaan yang berada di luar konteks aksi penangkapan dirinya, yakni aksi Hari Buruh Internasional. Seperti, apakah dia sudah pernah “merasakan” wanita Indonesia.</p>
<p><strong>:: Jaringan Anti-Otoritarian ::</strong></p>
<p>Sumber tulisan : <a href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=1799" target="_blank">IMC Jakarta</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2008/05/18/kronologi-penangkapan-mayday-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampanye yang Lain (Other Campaign) di utara Meksiko: berucap “Oaxaca” dari atas dan bawah</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/01/09/kampanye-yang-lain-other-campaign-di-utara-meksiko-berucap-%e2%80%9coaxaca%e2%80%9d-dari-atas-dan-bawah/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/01/09/kampanye-yang-lain-other-campaign-di-utara-meksiko-berucap-%e2%80%9coaxaca%e2%80%9d-dari-atas-dan-bawah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jan 2007 14:21:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/01/09/kampanye-yang-lain-other-campaign-di-utara-meksiko-berucap-%e2%80%9coaxaca%e2%80%9d-dari-atas-dan-bawah/</guid>
		<description><![CDATA[Ratusan orang di penjara secara ilegal, lusinan orang lenyap, disiksa, diburu, dan dipukuli. Pemuda dan pemudi, kaum adat, anak-anak, orang tua. Dengan kata lain: orang-orang Oaxaca yang datang dari bawah. Dan dari atas, ada polisi federal (PFP), paramiliternya Ulises Ruiz, media massa, dan politisi. Untuk berdiam diri di hadapan momok yang semacam ini adalah seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Ratusan orang di penjara secara ilegal, lusinan orang lenyap, disiksa, diburu, dan dipukuli. Pemuda dan pemudi, kaum adat, anak-anak, orang tua. Dengan kata lain: orang-orang Oaxaca yang datang dari bawah. Dan dari atas, ada polisi federal (PFP), paramiliternya Ulises Ruiz, media massa, dan politisi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Untuk berdiam diri di hadapan momok yang semacam ini adalah seperti berkata “Oaxaca” dari atas, dan untuk membuat penilaian-penilaian dari atas-kebawah yang penuh lelucon…dan idiotik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Karena dari atas mereka telah bersiap diri untuk mengatakan bahwa semuanya telah kembali normal dan “konflik” telah dikendalikan karena para “pemimpin” telah di tangkap, seakan-akan gerakan ini memiliki “pemimpin-pemimpin” yang dapat dibeli, di penjara, atau dibunuh. Mereka berkata kalau sekarang kita harus melihat ke arah yang berbeda. Yang maksudnya, kita harus kembali patuh kepada yang diatas, kepada keberagaman kekuasaan politik, kepada simulasi-simulasi dan garis depannya, yang memberi komando dan perintah sementara Kekuatan sebenarnya menyuap media-medianya, pundit-punditnya, para politisinya, seniman, kaum intelektual, kepala polisi, militer dan paramiliter.</p>
<p><span id="more-141"></span>Untuk berkata “Oaxaca” dari bawah adalah untuk mengatakan <em>companero </em>dan <em>companera</em>, untuk berada lebih dekat kepada mereka yang dituduh, untuk menggerakan kekuatan kita sendiri demi menuntut mereka yang menghilang agar dikembalikan dan yang ditangkap dibebaskan, untuk memberitahu, bagi dukungan solidaritas internasional, agar tidak tinggal diam, untuk berbicara tentang derita dari selatan dan mengumumkannya ke seluruh negeri melampaui perbatasan-perbatasan dari empat sisi, karena dari bawahlah penderitaan-penderitaan berlangsung, dinamai, dibicarakan dan didengarkan.</p>
<p>Penderitaan Oaxaca masih berlanjut, tetapi juga perjuangannya. Orang-orang ini, seperti bagian dari sebuah puzzle, tersebar di keseluruhan wilayah nasional dan melampaui batas-batas geografisnya, yang, setidaknya dibagian utara, lebih menyedihkan dari yang biasanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Selama dua bulan kami berjalan di bagian-bagian yang berbeda dari Meksiko utara, Oaxaca muncul terus-menerus. Dan ia menempatkan dirinya di dalam penderitaan dan amarah, dan ia berbicara kepada kami dan memerhatikan kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dan Kampanye Yang Lain terdengar dan tetap mendengarkan; dan ia memperlebar tangannya, seperti ratusan Zapatistas yang memblokade jalanan ke Chiapas sebagai sebuah solidaritas untuk Oaxaca dan untuk tempat yang lainnya di seluruh wilayah Meksiko dari Bawah, juga dari tempat lainnya di setiap sudut dunia. Sebagaimana mereka memperlebar juga tangan mereka. Sebagaimana mereka terus memperlebarnya meski ketika tidak satupun menaruh perhatian; sebagaimana kami yang bukan siapa-siapa tidak akan menjadi sebuah kaca yang terpecah-belah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di depan Oaxaca, Untuk Oaxaca dan oleh Oaxac, kami berucap:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal">KOMUNIKE DARI KOMITE KLANDESTIN REVOLUSIONER-KOMANDO UTAMA TENTARA ZAPATISTA UNTUK PEMBEBASAN NASIONAL (EZLN)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">MEKSIKO, 2 DESEMBER 2006</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>UNTUK MASYARAKAT MEKSIKO:</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>UNTUK MASYARAKAT DUNIA:</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal">SAUDARA DAN SAUDARIKU:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">PENYERANGAN TERHADAP PERTALIAN KAMI, MASYARAKAT OAXACA, YANG DALAM PENDERITAAN DAN MENDERITA, TIDAK DAPAT DI ACUHKAN BAGI MEREKA YANG BERJUANG UNTUK KEBEBASAN, KEADILAN, DAN DEMOKRASI DI SETIAP SUDUT DARI PLANET.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">UNTUK ALASAN INI, EZLN MEMANGGIL SEMUA ORANG YANG JUJUR, DI MEKSIKO DAN DISELURUH DUNIA, UNTUK MEMULAI DARI SAAT INI, AKSI SOLIDARITAS BERKELANJUTAN DAN DUKUNGAN BAGI MASYARAKAT OAXACA, DENGAN TUNTUTAN-TUNTUTAN DIBAWAH INI:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">PENGEMBALIAN SECARA UTUH MEREKA YANG MENGHILANG, PEMBEBASAN BAGI MEREKA YANG DITAHAN, PENARIKAN DAN PENGUNDUR DIRIAN ULISES RUIZ DAN KEKUATAN FEDERAL DARI OAXACA, DAN PENGHUKUMAN BAGI MEREKA YANG MENYIKSA, MEMERKOSA DAN MEMBUNUH. SINGKATNYA: UNTUK KEBEBASAN, DEMOKRASI DAN KEADILAN BAGI MASYARAKAT OAXACA.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">KAMI MEMANGGIL KAMPANYE INTERNASIONAL UNTUK MENGATAKAN, DENGAN SETIAP JALAN DAN SETIAP TEMPAT YANG MEMUNGKINKAN, APA YANG TELAH TERJADI DAN MASIH TERJADI DI OAXACA, SETIAP ORANG DENGAN CARA, WAKTU, DAN RUANGNYA SENDIRI-SENDIRI.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">KAMI MENGAJAK AKSI-AKSI INI MEMUNCAK DI SEBUAH MOBILISASI GLOBAL BAGI OAXACA PADA 22 DESEMBER 2006.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">MASYARAKAT OAXACA TIDAK SENDIRIAN. KITA HARUS MENGKLAIM DAN MEMPERLIHATKAN BAHWA INI BENAR, PERLIHATKANNYA PADA MEREKA DAN SEMUA ORANG.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Demokrasi!</p>
<p class="MsoNormal">Kebebasan!</p>
<p class="MsoNormal">Keadilan!</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">DARI KOMITE KLANDESTIN REVOLUSIONER-KOMANDO UTAMA TENTARA ZAPATISTA UNTUK PEMBEBASAN NASIONAL (EZLN)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Subcomandante insurgente Marcos</p>
<p class="MsoNormal">Mexico, Desember 2006</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>II. 45,000 kilometer di rombongan kampanye (YANG LAIN)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di dalam partisipasinya pada tahapan pertama dari Kampanye Yang Lain, Komisi Keenam dari EZLN berkeliling sejauh 45,000 kilometer (47,890 seseorang yang menghitung mencatatnya) di dalam teritori dari apa yang telah kita sebut sebagai, dengan kesamaan misi, efek dan tujuan, yaitu Meksiko Yang Lain: Meksiko yang dimiliki oleh mereka yang berada dibawah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Apa yang kita lihat dan dengar meruntuhkan sesuatu di dalam 31 negara bagian dan satu Distrik Federal, sekarang ketika kita berada bersama <em>companeros </em>serta <em>companeras</em> dari setidaknya 35 entitas: 32 darinya berasal dari geografi atas, banyak dari Comarca Lagunera, Huasteca, dan entitas itu menciptakan identitasnya sendiri sampai ke bagian utara dari Rio Bravo.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Keberanian yang membekali Kampanye Yang Lain sangatlah besar sehingga ia tidak dapat tinggal hanya di dalam batas-batas perbatasan ini: utara Rio Bravo, ada Meksiko yang berbeda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">“Kami takkan pernah kalah. Kami disini. Kami akan selalu berada disini,” ucap seorang perempuan Chicana yang sadar akan apa yang ia katakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kami dengar dan melihat banyak Meksiko, dengan perbedaan warna dan bahasa, dengan cara-cara yang berbeda. Dan bersama kami menyadari bahwa mereka semua membuat satu ucapan tentang penderitaan dan aksi pemberontakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dengan kaki, motor, kuda, sepeda, mobil, kereta dan dengan perahu, kami berjalan sejauh 45,000 kilometer dengan sebuah iringan karavan Kampanye yang sangat berbeda, dan untuk meminjam ucapan seorang perempuan adat Raramuri di Sierra Tarahumara, “kami melihat penyakit dan disana kami menemukan obatnya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Luka terbakar dengan cahayanya sendiri, dan pohon perlawanan yang telah mengakar jauh kebawah beradab-abad, mulai bersinar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kami tidak dapat terus-terusan melawan sendirian, setiap orang berdiri untuk dirinya sendiri. Kita harus bersatu, untuk diri kita sendiri dan untuk semua orang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Singkat kata, Meksiko hanya dapat hidup ketika Meksiko yang daribawah tetap hidup.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dan Meksiko dari bawah hanya dapat hidup apabila para tahanan dari Atenco dibebaskan, juga para tahanan politik diseluruh negeri, yang menghilang harus kembali hidup-hidup, dan semua tuntutan-tuntutan bagi para pejuang keadilan sosial ini dihapuskan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>III. Biru ataupun kuning, Utara Yang Lain masih eksis</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Empat roda kapitalisme—ketidakpunyaan, kekurangan, eksploitasi dan represi—bekerja untuk menyatukan orang-orang bawah sementara biru dan kuning menginginkan mereka tercerai-berai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kampanye Yang Lain telah memulihkan Meksiko, telah menemukan bahwa utara adalah juga Meksiko.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Ini contoh-contoh kecilnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Diatas, ada sebuah kalimat yang menyatukan Teacapan dan Dautillo di Sinaloa, dengan Isla Mujeres di Quintana Roo, dan Puerto Progresso di Yucatan: untuk Joaquin Amaro dan San Isidro di Chiapas, Matamoros di Tamaulipas, dan El Mayor di Baja California.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di delapan sisi Meksiko dari bawah ini, keluarga-keluarga nelayan telah di tuntut karena pekerjaan mereka. Inilah bagaimana kriminalisasi kerja terjadi, dibawah alasan untuk keselamatan lingkungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kebijakan lingkungan dari pemerintah neo-liberal, seperti halnya pemerintah federal dan kabupaten, adalah penghancuran dari alam…atau mengambilnya dari penjaga-penjaganya yang sebenarnya untuk menyerahkannya kepada perusahaan-perusahaan besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di sisi yang lain, di tiga negara bagian—Sonora, Zacaetas dan San Luis Potosi—dikuasai oleh partai-partai seperti PRI, PRD, dan PAN, sudah jelas apa yang mengkonstitusikan “penggarapan variabel makroekonomik ini” ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di dalam negara-negara bagian tersebut, kita dapat melihat penghancuran daerah pedesaan Meksiko dan depopulasi melalui ekspulsi jutaan orang Meksiko ke Amerika Serikat. Dan kita bisa melihat rekonstruksi dari penanaman-penanaman lama ini dengan gaya Porfirio Diaz, melipatgandakan jumlah imigran-imigran kaum adat dari selatan dan barat-daya Meksiko.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di Meksiko, “modernitas” berarti kembali ke jaman Porfirio Diaz.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>IV. Setelah abad 20, diatas mereka melanjutkan dengan…abad 19</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Mesin untuk membuat peralatan menyembunyikan tujuannya bukan efeknya. Kekuatan mereka di dalam sistem bersembunyi dibalik pasar dan upah: yaitu, kendali pribadi atas alat produksi dan pertukaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Sembilan negara yang berpartisipasi di dalam penaklukan Meksiko terdiri dari Bank-bank, industri-industri dan perdagangan, semua itu asing. Dan para tentara penakluk dan pendudukannya adalah representatif, senator, gubernur, walikota, presiden Republik dan sekretaris negara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Inilah sejarah masa ini yang mempersatukan utara, tengah dan selatan Meksiko. Akhir dari abad 19 dan permulaan dari abad 20 telah dimulai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Kehilangan Tanah-tanah</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Penghancuran lingkungan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Penghancuran tatanan sosial</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Penghancuran budaya mengorganisir</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Kekerasan terhadap perempuan berdasarkan gender—kekerasan domestik serta sosial, kultural dan kekerasan institusional</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Komersialisasi dunia anak-anak</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Kriminalisasi anak muda</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Privatisasi pendidikan tinggi</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Ketiadaan sistem pendidikan elementer dan sekunder</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->ketiadaan keamanan sosial</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Penghancuran dan rekonstruksi dari kondisi pekerja kembali ke era Porfirio Diaz.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Menggusur pedagang kaki lima dan mencekik pedagang-pedagang kecil; untuk keuntungan pedagang-pedagang besar asing.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Diskrimnasi dan represi terhadap pembedaan seksual, termasuk yang berada di kiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]-->-<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">          </span><!--[endif]-->Autisme yang berlebihan di dalam Media massa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">“kelaparan melemahkan kita, namun harga diri kaum adat menegakan kami,” seorang perempuan adat, Kepala suku Kumiai, mengucapkannya kepada kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di Meksiko kami bekerja agar tidak mati, dan kami mati di dalam pekerjaan kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>V. Siapakah kami</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Badan utama dari Kampanye Yang Lain terdiri dari kaum adat, pemuda dan perempuan. Semua dari mereka adalah pekerja, dari desa maupun kota.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di bagian utara kita menemui Oaxaca di Triqui, Mixtecs, Zapotecs; dan juga, di Kumiais, Kiliwas, Kukapas, Tohono O’odham atau Papagos, Comca’ac or Seris, Primas, Yaquis, Yoreme Mayos, Raramuris, Caxacenes, Coras, Wixaritari, Kikapoos, Maskovos, Teenek, Pams, Nahuas, Chicchimecas, Tepehuanos, dan Guajiros.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Di kaum adat, suku dan bangsa dari utara seringkali kepala sukunya adalah dari golongan perempuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">“Kami ingin terus menjadi siapa kami,” seorang suku Raramuri berucap kepada kami. Dan itu bisa saja dikatakan oleh seorang perempuan muda, pria, ataupun wanita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">“Kami ingin menyebarkan kata-kata untuk memberi kekuatan pada dunia,” ucap seorang wanita, pemuda dan kaum adat dari utara Meksiko.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>VI. DI bawah, sebuah hati mengenal dirinya sendiri</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Perjuangan anti-kapitalis tidak lahir dari Deklarasi Keenam dan Kampanye Yang Lain. Ia telah mengikuti dan masih mengikuti banyaknya cara di dalam organisasi-organisasi politik non pemerintah, sosial, kaum adat, kolektif-kolektif, kelompok-kelompok, keluarga dan individu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">(Komisi) Keenam dan Kampanye yang Lain telah mengajak pertemuan, mengenal satu sama lain, menghormati satu sama lain dan bersatu bersama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Karena inilah kami mengajak orang-orang untuk berpartisipasi di dalam konsultasi internal dari 4-10 Desember, 2006.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kampanye Yang Lain bukanlah perjuangan dari bawah yang lain lagi; ini adalah perjuangan kita bersama, untuk memperlebar pertaliannya, solidaritas dan dukungan, mereka yang memiliki derita dan pemberontakan yang sama, mereka yang menghormati, mereka yang perbedaannya menjadi hal yang biasa dan mulai mengenal satu sama lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Meksiko yang berbeda dimulai dari bawah. Dan takkan berakhir sampai ia di ciptakan kembali, karena masih ada yang akan datang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kampanye Yang Lain memperlihatkan momok yang lain kepada mereka yang diatas dan cermin-cermin mereka. Kita tidak datang untuk bersatu dengan mereka. Mereka yang menentang Calderon dari atas tidak berjuang untuk sebuah perubahan di negeri ini, tapi untuk memperoleh kekuasaan. Kita yang menolak Calderon dari bawah menentang apapun yang berasal dari atas, ide-ide dan praktik kotornya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Mereka akan dikalahkan, begitu juga dengan para ‘penguasa’; tidaklah berbeda nama apa yang akan digunakan untuk mengasumsikan bahwa segala sesuatunya akan kembali normal dan bahwa keputusan-keputusan akan kembali dibuat dari atas untuk menindas mereka yang dibawah, karena mereka hanya akan mengadministrasikan mimpi buruk yang sama yang sedang kita derita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Negeri ini memiliki banyak sudut, ruang, dan tempat</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dari sudut-sudut itu – dan bukan dari istana-istana, kursi pemerintahan dan bunker-bunker kelas politik –alternatif yang baru akan lahir, berkembang dan hidup.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Setiap bagian dari negeri ini hidup di dalam penjara, namun ada terali yang tidak terlihat dan inilah penjara-penjara tersebut. Untuk alasan ini, perjuangan untuk kembalinya mereka yang menghilang juga tahanan politik dari Atenco, dan sekarang dari Oaxaca, harus menjadi sebuah kampanye nasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Berhubungan dengan ini, gerakan nasional dapat dilakukan dengan mengadakan protes terhadap ongkos tarif listrik, untuk membela dan melndungi lingkungan, untuk mempromosikan bisnis-bisnis kecil informal, dan memboikot korporasi-korporasi besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Sebagai Zapatista’s, kami memanggil untuk fokus terhadap isu perjuangan anti-kapitalis dari berbagai kelompok serta kolektif-kolektif anarkis dan libertarian yang telah berkontribusi melalui perkembangan mandiri politis mereka sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">DI Chihauahua, kami diberitahu mengenai Tlatoleros, pembawa-pembawa pesan kam adat yang telah berkelana kepada orang-orang yang berbeda untuk mengajak mereka melawan kesewenangan ini. Di satu bentuk atau yang lainnya, kami telah dan akan terus menjadi pembawa-pembawa pesan ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Sementara mereka yang berada diatas kembali ke cara-cara quotidian dan isu-isu baru, Kampanye Yang Lain akan melihat ke dirinya sendiri, mendefinisikannya dan bersiap-siap.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Diatas, mereka melihat kedepan, berbicara dan mempertanyakan apa yang akan terjadi di tahun 2012. di bawah, Kampanye Yang Lain akan terus bertanya siapa dan apa yang mengkonstitusikan Program Nasional Perjuangan, lalu bertanya kapan dan bagaimana. Dan rencana dari mereka yang diatas akan dihancurkan dan sebuah bentuk yang baru akan datang dari bawah dan dari bagian kiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Waktunya telah datang. Kami akan tetap menjadi kami, tetapi juga lebih baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Subcommandante Marcos</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Komisi Keenam EZLN, Delegate Zero</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Meksiko, Desember 2006</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Ps: di dalam sebuah kamar kecil tak berjendela, jam hanyalah satu-satunya cara untuk mengetahui siang hari dan malam. Selalu di pagi-pagi sekali. Sekarang bayangan bersiap-siap kembali kepada bayangan-bayangan yang telah melahirkannya dan memeliharanya. Ia mengambil stok dan mengulangnya. Hatinya yang hancur, di baluti oleh goresan-goresan dan perca, memposisikannya kembali. Ia menarik sauh dan melebarkan layar. Ia membawa negeri yang lain jatuh di kakinya, kulitnya, telinga dan pesonanya. Ia membawa derita dan sebuah amarah yang tidak dapat hanya menempati kata-kata dari setiap bahasa. Di pegunungan Meksiko selatan, hati coklat bersama yang membimbing sedang menunggu respon yang telah ia ketahui beradad-abad: ini saatnya subuh berakhir, seperti adanya, mengartikannya dengan derita dan amarah. Bayangan tahu kalau ia akan mendengar dari gunung coklat yang membimbingnya. Melegakan derita dan memberikan harapan pada amarah, gunung akan berucap, dengan lidah nenek-moyang: “jangan terlalu kuatir, jangan takut; hati dari Patria kami tidaklah sedih, karena masih ada lagi yang akan datang.”</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/01/09/kampanye-yang-lain-other-campaign-di-utara-meksiko-berucap-%e2%80%9coaxaca%e2%80%9d-dari-atas-dan-bawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaringan Autonomous Kota // hotspot : Salatiga Desentral !</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2006 15:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/</guid>
		<description><![CDATA[Seruan NOPEMBER 1 Juta Kota-kota Merdeka Seluruh Dunia Saodara-saodara sepengharapan akan ufuk kemanusiaan. Salam sejahtera. Kota ini milik kita bersama; warganya. Kota ini adalah lingkungan hidup kita bersama. Kota ini adalah kepentingan hidup kita bersama. Bagaimana mungkin kota ini kita pasrahkan ke tangan jahat segelintir elit politik dan ekonomi / kekuasaan berpelindung senapan yang mengancam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seruan NOPEMBER<br />
1 Juta Kota-kota Merdeka Seluruh Dunia</strong></p>
<p>Saodara-saodara sepengharapan akan ufuk kemanusiaan. Salam  sejahtera. Kota ini milik kita bersama; warganya. Kota ini adalah  lingkungan hidup kita bersama. Kota ini adalah kepentingan hidup  kita bersama. Bagaimana mungkin kota ini kita pasrahkan ke tangan  jahat segelintir elit politik dan ekonomi / kekuasaan berpelindung  senapan yang mengancam kita ? Bagaimana mungkin hidup ini kita  serahkan untuk diperkosa oleh segelintir elit politik dan ekonomi /  kekuasaan dengan topeng demokrasi perwakilan (politisi), otoritas  hirarkis (pemerintahan) dan pembangunan hanya demi yang maha  segalanya uang (kapitalisme) ? Bagaimana mungkin hidup ini kita  serahkan untuk diperlakukan seenaknya demi kepentingan-kepentingan  yang tak ada hubungannya dengan hidup kita ? Bagaimana mungkin kita  percaya bahwa kita tak bisa mengurus dan mengatur hidup kita  sendiri ? Bagaimana mungkin kita mau tak merdeka ? Kita adalah sel- sel otonom yang membentuk jaringan otonom dan akan merebut kembali  kota kita &#8230; lingkungan bebas kita &#8230; hidup sejati kita &#8230; tanpa  sekali-kali pernah berpikir jahat untuk menguasainya. Kita akan  hidup bersama, bekerjasama, bantu-membantu dengan kehendak, daya dan  tindakan kita sendiri sebagai individu merdeka dalam kebersamaan  yang merdeka. Segenap kekuatan beserta dan di dalam kita Saodara,  selamat berjuang dengan riang untuk kehidupan yang lebih baik. Amin.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalin Solidaritas&#8230;berikan dukungan anda untuk rakyat Oaxaca!!!</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/01/jalin-solidaritasberikan-dukungan-anda-untuk-rakyat-oaxaca/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/01/jalin-solidaritasberikan-dukungan-anda-untuk-rakyat-oaxaca/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Nov 2006 13:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/01/jalin-solidaritasberikan-dukungan-anda-untuk-rakyat-oaxaca/</guid>
		<description><![CDATA[Represitas negara yang terjadi di oaxaca, México terhadap masyarakat sudah tidak bisa diterima&#8230; Perjuangan rakyat oaxaca dalam memperjuangkan kebebasannya patut diberikan dorongan serta dukungan maksimal dari seluruh pecinta kebebasan diseluruh dunia. Berikan dukungan anda&#8230;Layangkan surat protes atas apa yang sudah terjadi terhadap rakyat oaxaca oleh pemerintah México kirimkan surat ke : Embassy of México Menara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Represitas negara yang terjadi di oaxaca, México terhadap masyarakat sudah tidak bisa diterima&#8230;</p>
<p>Perjuangan rakyat oaxaca dalam memperjuangkan kebebasannya patut diberikan dorongan serta dukungan maksimal dari seluruh pecinta kebebasan diseluruh dunia.</p>
<p>Berikan dukungan anda&#8230;Layangkan surat protes atas apa yang sudah terjadi terhadap rakyat oaxaca oleh pemerintah México</p>
<p>kirimkan surat ke :</p>
<p><strong>Embassy of México</strong><br />
Menara Mulia Building, 23rd floor<br />
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 9-11<br />
Jakarta Selatan 12930<br />
Telp. (62 21) 520 3980<br />
Fax. (62 21) 520 3978</p>
<p>atau Email ke :</p>
<p><a href="mailto:embmexic@rad.net.id">embmexic@rad.net.id</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=t" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/01/jalin-solidaritasberikan-dukungan-anda-untuk-rakyat-oaxaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Relawan Indymedia New York tewas dalam penyerangan Para-militer di Oaxaca</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/29/relawan-indymedia-new-york-tewas-dalam-penyerangan-para-militer-di-oaxaca/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/29/relawan-indymedia-new-york-tewas-dalam-penyerangan-para-militer-di-oaxaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2006 17:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/29/relawan-indymedia-new-york-tewas-dalam-penyerangan-para-militer-di-oaxaca/</guid>
		<description><![CDATA[beberapa orang lainnya luka-luka dan tewas Polisi Federal dan Para-militer menyerang barisan barikade dekat kantor pengadilan Oaxaca, di kotamadya Calicanto. Penyerangan ini mengakibatkan beberapa orang luka-luka dan beberapa orang lainnya tewas. Reporter Indymedia New York, BRAD WILL, tertembak dibagian dada dan tewas sebelum sempat dibawa kerumah sakit; Oswaldo Ramirez, seorang fotografer untuk Milenio Diario, juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>beberapa orang lainnya luka-luka dan tewas</strong></p>
<p><img width="207" vspace="4" hspace="8" height="137" border="0" align="left" alt="BRAD WILL saat sedang diamankan" title="BRAD WILL saat sedang diamankan" src="http://jakarta.indymedia.org/attachments/oct2006/849303.jpg" />Polisi    Federal dan Para-militer menyerang barisan barikade dekat kantor pengadilan    Oaxaca, di kotamadya Calicanto. Penyerangan ini mengakibatkan beberapa orang    luka-luka dan beberapa orang lainnya tewas.</p>
<p>Reporter Indymedia New York, <strong>BRAD WILL</strong>, tertembak dibagian    dada dan tewas sebelum sempat dibawa kerumah sakit; Oswaldo Ramirez, seorang    fotografer untuk Milenio Diario, juga iku tertembak dan mengalami luka serius    dibagian kaki.</p>
<p><em>(Foto oleh : La Reforma)</em></p>
<p><strong>BEBERAPA INFORMASI TENTANG BRAD YANG KAMI DAPAT DARI SESEORANG YANG  BERADA DIDEKATNYA PADA SAAT KEJADIAN:</strong></p>
<ul>
<li>Dia sedang berada di Barikade Santa Lucia</li>
<li>Dia ditembak dengan jarak sekitar 30-40 meter dan mengenai tepat diatas    perut</li>
<li>Penembaknya adalah seorang anggota Para-militer kota Priistas dengan    pakaian tersingkap</li>
<li>Masyarakat kemudian menggotong dia ketempat yang aman; kemudian diketahui    bahwa ia telah tewas; jasadnya kini berada di palang merah di oaxaca</li>
<li>Terdapat 3 orang lainnya yang tewas (total tewas 4 orang); 1 orang anggota    radio universidad mengalami luka-luka, ia kerumah sakit dengan menggunakan    mobil volkswagen karena tidak ada satupun ambulance datang</li>
</ul>
<p><strong>Informasi lainnya: <a href="http://www.indymedia.org/en/2006/10/849305.shtml">Laporan di situs  Indymedia Global</a> &#8211; <a href="http://indybay.org/newsitems/2006/10/27/18323891.php">Laporan bahasa  Inggris disitus Indybay</a><br />
<a href="http://www.narconews.com/">NarcoNews (bahasa inggris)</a> &#8211; <a href="http://vientos.info/cml/">CML</a> &#8211; <a href="http://www.jornada.unam.mx/">La Jornada</a> &#8211; <a href="http://mexico.indymedia.org/">IMC México</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://radio.indymedia.org:8000/appo.mp3.m3u">Radio APPO  steaming now</a> | <a href="http://vientos.info/cml/?q=node/5821">Live (bahasa  spanyol) coverage at CML</a></strong></p>
<p>Laporan di media berbahasa spanyol lainnya :<br />
<a href="http://www.milenio.com/index.php/2006/10/27/9954/">milenio.com</a> &#8211; <a href="http://www.reforma.com/">reforma.com</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=r" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/29/relawan-indymedia-new-york-tewas-dalam-penyerangan-para-militer-di-oaxaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seruan Aksi : Hari Tanpa Belanja 2006</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Oct 2006 10:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lazim memang setiap menjelang hari perayaan Idul Fitri selalu disambut dengan suka cita bagi umat pemeluk agama Islam. Namun, di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, ajang sukacita ini kerap kali dimanfaatkan oleh korporasi untuk memancing mereka menuju konsumerisme. Bukan hanya memancing, saat ini konsumerisme justru telah merebak dengan dahsyatnya ditengah-tengah budaya masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="150" vspace="4" hspace="8" height="144" align="left" alt="Hari Tanpa Belanja 2006" title="Hari Tanpa Belanja 2006" src="http://www.ubq.it/gruppo11/img/upload/1097434890buy.gif" />Sudah lazim memang setiap menjelang hari perayaan <a target="_blank" title="Idul Fitri di Wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri">Idul Fitri</a>  selalu disambut dengan suka cita bagi umat pemeluk agama Islam. Namun, di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, ajang sukacita ini kerap kali dimanfaatkan oleh korporasi untuk memancing mereka menuju konsumerisme. Bukan hanya memancing, saat ini konsumerisme justru telah merebak dengan dahsyatnya ditengah-tengah budaya masyarakat Islam (atau bahkan umat-umat beragama lainnya pada hari-hari perayaan besar keagamaannya masing-masing).</p>
<p>Hal inilah yang mengundang kami untuk mencoba berbuat sesuatu agar budaya yang kian merusak ini setidaknya dapat berkurang atau bahkan dihentikan. <a target="_blank" title="Hari Tanpa Belanja di Wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Tanpa_Belanja">Hari Tanpa Belanja</a>  adalah budaya baru yang senantiasa kami rayakan untuk mencoba menghentikan budaya konsumerisme yang sengaja diciptakan oleh kapitalis untuk mereduksi pemikiran seseorang bahwa ia butuh segalanya. Konsumerisme juga berarti masyarakat ditipu untuk mendapatkan image yang terbaik dalam lingkungan sosial bermasyarakat dengan cara berbelanja. Konsumerisme juga berarti masyarakat dibuat terhalusinasi bahwa tanpa belanja mereka tidak dapat bertahan hidup lebih lama lagi.</p>
<p><span id="more-111"></span>Hari Tanpa Belanja lazimnya selalu dikampanyekan pada akhir bulan November, namun di Indonesia kami merasa perlu meninjau ulang hari kampanye ini kehari yang kami rasa lebih tepat, untuk itulah kami menetapkan Hari Tanpa Belanja dikampanyekan pada hari Sabtu tanggal 21 Oktober 2006, atau 3 Hari menjelang hari raya Idul Fitri, dimana pada hari itu biasanya merupakan klimaks masyarakat Indonesia mendatangi pusat-pusat perbelanjaan didaerahnya masing-masing.<br />
Kami menentang budaya konsumerisme karena kami percaya bahwa kehidupan manusia seharusnya diisi dengan saling mengisi dan bekerja sama antara satu dengan yang lainnya, dan bukan malah bersaing untuk mendapatkan image yang terbaik. Kami menentang karena budaya konsumerisme sengaja diciptakan oleh Kapitalisme, dan oleh karena itu konsumerisme ada sebagai wujud eksploitasi besar-besaran terhadap kemanusiaan. Oleh karena itulah kami merasa memiliki keharusan untuk terlibat aktif dalam mematikan budaya konsumerisme yang berarti juga akan memperlemah posisi kapitalisme dari kerakusannya.</p>
<p>Atas konsekuensi ini, kami akan hadir dipusat-pusat perbelanjaan untuk mengkampanyekan  hal ini. Dukung kami dalam aksi ini dengan mengkampanyekan aksi serupa ditempat anda.Kampanyekan bahwa seharusnya masyarakat dapat benar-benar menyadari segala hal yang ingin mereka lakukan, kampanyekan bahwa masyarakat dapat hidup lebih baik TANPA KAPITALISME.</p>
<p><strong>Info lainnya tentang Hari Tanpa Belanja :</strong></p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Tanpa_Belanja">Hari Tanpa Belanja</a>  di Wikipedia Indonesia</li>
<li><a target="_blank" href="http://adbusters.org/metas/eco/bnd/">Situs Adbusters.org tentang Buy Nothing Day</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://www.kunci.or.id/htb/">Situs Hari Tanpa Belanja di kunci.or.id</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://www.kunci.or.id/htb/statis.htm">Statistik Konsumsi</a></li>
</ul>
<div style="text-align: center"><img width="400" height="284" alt="Work, Buy, Consume, Die!!!" title="Work, Buy, Consume, Die!!!" src="http://www.kill-more-people.de/images/news/23.jpg" /></div>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=o" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
