<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; anti-kapitalisme</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/anti-kapitalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>MENJELANG HILANG</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/menjelang-hilang/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/menjelang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 07:13:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Pipa itu membelah jalan kecil sepanjang 2 KM di Dusun Janganasem, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Pipa yang diperuntukkan bagi distribusi gas yang dikelola oleh Pertamina bagi pabrik-pabrik yang berada di wilayah Pasuruan, ditanam tak lebih dari 5 meter di depan rumah para warga. Bagaimana para warga tidak uring-uringan dan protes, pihak PT. PGN Tbk. saja tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pipa itu membelah jalan kecil sepanjang 2 KM di Dusun Janganasem, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Pipa yang diperuntukkan bagi distribusi gas yang dikelola oleh Pertamina bagi pabrik-pabrik yang berada di wilayah Pasuruan, ditanam tak lebih dari 5 meter di depan rumah para warga. Bagaimana para warga tidak uring-uringan dan protes, pihak PT. PGN Tbk. saja tidak pernah mensosialisasikan dampak-dampak negatif dari proyek tersebut – selain hanya ilusi kebaikan yang sama sekali tidak dapat dirasakan oleh warga.</p>
<p>Proyek pipanisasi ini mulai dicetuskan pada April 2008, yang rencana awalnya membelah 5 desa: Desa Permisan, Desa Tambak kalisongo, Desa Balong Tani, Desa Jemirahan, dan Desa Trompoasri Kecamatan Jabon – tetangga Kecamatan Porong dan Tanggulangin di mana 13.000 kepala keluarga harus menderita kehilangan rumah, sejarah, dan harta benda akibat luapan lumpur panas Lapindo. Dusun Janganasem, yang merupakan bagian dari Kelurahan Trompoasri sama sekali tidak dilirik. Pada kenyataannya, beberapa bulan lalu, proyek ini mengambil tumbal para warga Dusun Janganasem, yang mulai kini di dalam hidup mereka telah ditanamkan ketakutan dan rasa was-was akan adanya kebocoran maupun resiko-resiko lainnya dari proyek pipanisasi ini.</p>
<p><span id="more-256"></span></p>
<p>PT. PGN Tbk. juga sama sekali tidak mensosialisasikan ganti-rugi bagi para warga. Seolah manusia-manusia yang tinggal di dusun tersebut merupakan properti yang bisa seenaknya ditumbalkan dan diam. Rencana pipanisasi awalnya ditolak oleh 70 persen dari 438 kepala keluarga yang tinggal di sana. Dalam perjalanannya, PT. PGN Tbk. melakukan intimidasi dari yang implisit sampai yang eksplisit. Politik uang juga mulai bermain. Para warga yang menolak proyek ini diberi uang Rp. 250.000 agar diam dan menerima. Tak hanya itu, pihak PT. PGN Tbk. yang berkolaborasi dengan pemerintah (dari Bupati sampai Camat, dari polisi sampai tentara) juga memalsukan data. Mereka mengklaim 600an kepala keluarga telah menyepakati proyek ini dan karenanya mereka yang tetap menolak proyek ini tidak diindahkan sama sekali. Sekali lagi, eksistensi negara dan korporasi adalah menghisap dan menghancurkan masyarakat – merekalah krisis itu sendiri.</p>
<p>Pembangunan proyek ini sendiri tidak kurang dari melecehkan kemanusiaan. Mereka bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 04.00 dinihari. Tentu saja aktifitas ini meresahkan dan mengganggu para warga yang butuh istirahat. Di tengah dunia di mana kompetisi dan hukum jual-beli berkuasa, kerja upahan untuk bertahan hidup adalah keharusan. Para warga umumnya adalah para petani dan pekerja pabrik, yang dari pagi sampai senja menjelang harus menghabiskan tenaga dengan bekerja. Dengan aktifitas yang cukup melelahkan tersebut mereka masih harus diperas lagi untuk tidak dapat beristirahat dengan tenang akibat aktifitas penyambungan pipa, pengelasan, maupun suara bising dari eskavator. Bayangkan juga bagaimana perasaan para bayi dan anak-anak yang paginya harus bersekolah.</p>
<p>Tak sekali para warga melaporkan PT. PGN Tbk. ke pihak-pihak pemerintah, dari birokrasi terkecil seperti Kecamatan, Bupati, sampai Kapolres Sidoarjo. Tapi seperti yang telah diketahui dalam rahasia umum, pihak-pihak tersebut tak pernah mengambil tindakan apa pun, selain hanya melindungi korporasi karena mereka pun memiliki kepentingan untuk menghancurkan masyarakat. Aksi langsung yang spontan sampai aksi blokade pun telah dilakukan oleh para warga yang mayoritasnya kaum perempuan. Terakkhir, aksi blokade untuk menghentikan aktifitas pipanisasi yang dilakukan pada tanggal 04 Juni 09, yang disingkirkan dengan paksa oleh tentara dibantu polisi yang memerkan alat kekerasan modern: senjata api laras panjang. Kaum perempuan yang paling banyak dalam komposisi perlawanan ini pun dibuat takut. Tak sedikit juga yang diseret menjauh dari lokasi agar proyek ini tetap berlangsung. Salah seorang anggota divisi keamanan PT. PGN Tbk. yang tanggungjawabnya menyingkirkan penolakan proyek ini sempat mengancam para warga yang menolak. Orang ini pun dengan bangganya mengaku bahwa dirinya adalah anggota Koppasus. Alat kekerasan memang tak pernah netral.</p>
<p>Proyek pipanisasi ini merupakan pemindahan jalur pipa dari Desa Renokenongo yang meledak akibat terendam lumpur panas Lapindo pada November 06 lalu. Berangkat dari pengalaman itulah para warga Dusun Janganasem menolak pipa gas memasuki wilayah mereka, apalagi mengingat pipa tersebut ditanam di tengah pemukiman padat warga. Pengerjaan pipa tersebut pun sepertinya jauh dari standar keamanan yang ketat. Tak jarang sambungan pipa yang dalamnya kurang dari 2 meter tersebut tampak bengkok. Belum lagi pengelasannya yang terlihat asal-asalan menguber setoran borongan.</p>
<p>Kini, tinggal 200an meter pipa tersebut selesai ditanam. Para warga Dusun Janganasem masih belum kehilangan semangat meski banyak teman-teman mereka yang telah dibeli dan pro-pipanisasi. Dengan kekuatan yang tersisa dari kurang lebih 20 orang, yang banyak kaum perempuannya, mereka akan terus memaksimalkan kekuatan mereka untuk menolak proyek pipanisasi ini, setidaknya untuk memberi penghormatan bagi kemanusiaan mereka yang masih percaya dunia tanpa industri – beserta segala ilusi dan penghancuran-penghancuran yang menyertainya. Mari saling bersolidaritas.</p>
<p>Panjangumur perjuangan masyarakat yang menolak jadi korban. Panjangumur perjuangan masyarakat anti-korporasi.</p>
<p>p/s: jika kawan-kawan sekalian merasa menjadi bagian dari perjuangan ini, kontak teman kami Sdr. Fadholly untuk menyampaikan dukungan dan semangat lewat nomor handphone: 081 231 571 800</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/menjelang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Bumi &#8211; Sama, Korban Kapitalisme</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 02:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kevlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Redefinisi Kapitalisme Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia. Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><strong><span lang="IN">Redefinisi Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang pemilik modal besar. Tidak sukar membayangkannya. Perumpamaannya<span> </span>seperti ini, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia kemudian membentuk lingkaran setan yang rapat sehingga orang–orang di dalamnya sulit keluar karena seolah dimanjakan (padahal diperbudak) segelintir pemilik modal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia melegitimasi penghisapan manusia atas manusia lain karena hanya cara tersebut yang ampuh mempertahankan eksistensinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia pintar, cerdas, tapi satu hal yang dapat menghancurkannya, ia licik dan culas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kepintarannya dapat dilihat dari bagaimana ia berperan sebagai tuhan ketika hamba mengemis, meminta kepadanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, mari kita masuk dalam lingkup ekonomi kapitalisme. Kasarnya seperti ini, daripada dapur kosong, tidak berasap, akhirnya hamba menuhankannya sembari bersabar dan berharap hari esok jauh lebih baik, padahal itu semua nihil jikalau kawan–kawan tidak frontal melawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kelicikan Humanisme Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lebih jauh, konsep ekonomi tersebut melahirkan kelas–kelas sosial dalam masyarakat atau pengotakan status manusia. Dikotomi si kaya dan si miskin adalah manifestasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tidak berhenti di sini. Ironis ketika percabangan tersebut tidak lagi berperikemanusiaan. Yang kaya semakin merajalela, yang miskin semakin menjerit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kawan–kawan tahu bahwa idealnya kondisi tersebut dapat memunculkan kedermawanan. Ingat ! Pilantropis murni tanpa embel-embel bukanlah seorang kapitalis, walaupun kebanyakan orang menganggap mereka kapitalis. Ia tahu betul ketidakseimbangan ajaran kapitalisme dan kemudian memilih menjadi pilantropis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia-kapitalisme melegalkan penghisapan yang dilakukan si kaya atas si miskin (baca: perbudakan). Sungguh sempit humanisme yang diartikulasikan kapitalisme. Bahkan perbudakan tersebut seolah dikondisikan terjadi dan bersifat tidak memaksa. Mengapa hal ini bisa terjadi ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kenyamanan semu perbudakan dalam lingkaran setan dapat menjadi sebuah jawaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Oleh karena itu, marilah sama-sama matangkan idealisme untuk keluar dari lingkaran tersebut walaupun terasa berat, lebih khusus bagi kapitalis muda mapan yang sudah merasa nyaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kapitalisasi Pendidikan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme tidak segan–segan melebarkan sayap di dunia pendidikan, tentu dengan idealismenya bahwa kepemilikan modal adalah segalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia berhasil mendisfungsikan esensi pendidikan, mensubstitusi ruang kelas menjadi sebuah perusahaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Bagaimana tidak ? Kawan-kawan dapat melihat kondisi saat ini, yang bersekolah hanya yang mampu membayar, bagaimana dengan yang ingin sekolah tetapi tidak mampu membayar ? Kenyataan di lapangan, mereka tidak dapat menikmati bahkan sekedar untuk mencicipi suasana ruang kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, itu tadi sekelumit tentang pra-ruang<span> </span>kelas. Sekarang bagaimana dengan yang sedang menikmati ruang kelas ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aura intelektualisme pun didistorsi menjadi sebuah rutinitas formalitas berbuah kemalasan kontinu. Memang hal tersebut merupakan pilihan masing-masing individu<strong>. </strong>Tetapi penting diingat ! Jikalau ruang kelas masih dipenuhi perasaan dan aktivitas yang “salah”, adalah mimpi di siang bolong melahirkan individu-individu berkualitas unggul. Akhirnya, peserta didik hanya mencari nilai tetapi tidak lagi memikirkan, memanifestasikan apalagi mensyukuri arti sebuah proses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lanjut dengan pascaruang kelas. Walhasil, lulusan ruang kelas pencari nilai akhir akan berpenyakit mental bahkan cenderung amoral. Di kemudian hari mereka enggan berpikir dan berusaha. Pragmatisme sempit akan melekat di masing-masing individu dengan meniadakan nilai-nilai murni yang dianugrahi di dalam diri. Korupsi adalah salah satu contoh sederhana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Sungguh, hal-hal tersebut yang diinginkan kapitalisme. Sebuah bahan perenungan perihal agenda busuk kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kontinuitas Pergerakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Jadi, pergerakan radikal, frontal tanpa melupakan hal–hal fundamental adalah syarat mutlak menghancurkan eksistensinya-kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aksi kolektif cerdas pemogokan kerja<span> </span>yang dilakukan kawan-kawan pekerja secara besar–besaran adalah salah satu cara membuatnya kebakaran jenggot walaupun tak sampai membuatnya mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Perlu sebuah kontinuitas sabar sembari melakukan pengecekan ulang terhadap infiltrasi yang dilakukan kapitalis dalam pergerakan (hal ini sangat penting demi menjaga kemurnian cita–cita pergerakan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mengapa pergerakan harus bersifat kolektif, cerdas, tulus, dan murni ? Ya, karena jikalau dilakukan tanpa konsep matang, anorganisir akan melahirkan pergerakan bersifat emosional saja, kemudian mengonsekuensikan sebuah stagnasi pergerakan yang tidak diharapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mari kawan, singsingkan lengan baju, kencangkan ikat pinggang dan jangan lupa rapatkan barisan !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ingat ! Pergerakan emosional terorganisir tidak lebih baik ketimbang pergerakan cerdas terkonsep.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan dimulai saat ini !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ayo, tunggu apa lagi !!! Bangun dari tidur panjang !!! Wujudkan impian !!! Bergerak !!<strong></strong></span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarchist Communist Statement On The Global Economic Crisis And G20 Meeting</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2008/11/24/anarchist-communist-statement-on-the-global-economic-crisis-and-g20-meeting/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2008/11/24/anarchist-communist-statement-on-the-global-economic-crisis-and-g20-meeting/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 09:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[1.The current crisis is typical of the crises that regularly appear in the capitalist economy. &#8220;Overproduction&#8221;, speculation and subsequent collapse are inherent to the system. (As Alexander Berkman and others have pointed out, what capitalist economists call overproduction is actually underconsumption: capitalism prevents large numbers of people from fulfilling their needs, and so undermines its [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.The current crisis is typical of the crises that regularly appear in the capitalist economy. &#8220;Overproduction&#8221;, speculation and subsequent collapse are inherent to the system. (As Alexander Berkman and others have pointed out, what capitalist economists call overproduction is actually underconsumption: capitalism prevents large numbers of people from fulfilling their needs, and so undermines its own markets.)</p>
<p>2.Any solution to the crisis prepared by capitalists and governments will remain a solution within capitalism. It will not be a solution for the popular classes. Indeed, as in every crisis, the workers and the poor are paying – while financial capital is being bailed out with huge sums. This is likely to continue. No change within capitalism can resolve the problems of the popular classes; still less can such a solution be expected from individual politicians, such as Barack Obama. The most such politicians can do is play a part in offering the capitalists a way out, and perhaps in throwing the working class some crumbs.</p>
<p><span id="more-206"></span></p>
<p>3.The bank bailouts show not only whose interests the state serves, but the hollowness of capitalist commitment to free markets. Throughout history, capitalists have stood for markets when it suits them, and state regulation and subsidies when they need it. Capitalism could never have existed without state support.</p>
<p>4.In the US, the UK and elsewhere, the bailouts have taken the form of nationalisation of troubled financial institutions – with the full support of capital. This shows that capitalists have no fundamental problem with state ownership, and that nationalisation has nothing to do with socialism. It can also be a method of screwing the working class. We ourselves, not the state, need to take control of the economy.</p>
<p>5.Owing to the globalisation of capital under neo-liberalism, the ruling class recognises that the solution must be global. The G20 is meeting from 15 November to discuss the crisis. This is significant. The rulers of the US, Europe and Japan are coming to realise that they cannot handle the crisis on their own; that they need, not only one another, but other powers, notably China (which is emerging as a top industrial producer, and is on its way to becoming the world&#8217;s third-biggest economy). India, Brazil and other &#8220;emerging&#8221; economies will have seats at the table. This may mark a recognition – under discussion for some years – that the G8 alone are no longer the world&#8217;s economic decision makers. It is likely to signal a shift in the running of the global economic system.</p>
<p>6.We place no hopes in the inclusion of new capitalist powers. China&#8217;s rulers may claim to be socialist; others, such as Lula of Brazil and Motlanthe of South Africa, may present themselves at times as champions of the poor. But in fact, all are defenders of capitalism, exploiters and oppressors of the people of their own countries, and, increasingly, imperialist or sub-imperialist exploiters of the people of other countries.</p>
<p>7.If the crisis is to lead to anything other than complete defeat for the global popular classes, poverty, exploitation and war, the popular classes must mobilise. We must demand bailouts, not for the capitalists, but for us. We anarchist communists will fight for those who got homes on subprime mortgages to be bailed out and keep their homes. We will continue to engage in and support struggles for jobs with better wages and shorter hours, housing, services, health services, welfare and education, protection of the environment. We fight for an end to imperialist wars and to repression of our class and its struggles.</p>
<p>8.We present these demands in response to the G20 meeting, and will continue to present them in the future. Through such demands, and through direct action to bring them about, we will work towards building a global movement of the popular classes that can put an end to capitalism, the state and the crises they create.</p>
<p><em>Signed:</em></p>
<h3><a rel="nofollow" href="http://www.alternativelibertaire.org/" target="_blank"><strong>Alternative Libertaire</strong></a> (France)<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.fdca.it/" target="_blank"><strong>Federazione dei Comunisti Anarchici</strong></a> (Italy)<br />
<a rel="nofollow" href="http://melbourneanarchistcommunistgroup.org/" target="_blank"><strong>Melbourne Anarchist Communist Group</strong></a> (Australia)<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.zabalaza.net/" target="_blank"><strong>Zabalaza Anarchist Communist Front</strong></a> (South Africa)</h3>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2008/11/24/anarchist-communist-statement-on-the-global-economic-crisis-and-g20-meeting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kronologi Kasus Penangkapan Partisipan Aksi Karnaval Perayaan Mayday 2008</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2008/05/18/kronologi-penangkapan-mayday-2008/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2008/05/18/kronologi-penangkapan-mayday-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 12:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[anarki]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan anti-otoritarian]]></category>
		<category><![CDATA[mayday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[187 aktivis Jaringan Anti Otoritarian dihadang dan ditangkap dengan tindakan represif oleh personil Polres Jakarta Selatan seusai demonstrasi di depan Wisma Bakrie. Setelah selesai melakukan aksi di Wisma Bakrie, polisi tiba-tiba melakukan tindakan represif dengan memukul, menarik dan menangkap empat demonstran. Tidak lama setelah itu, di depan Monumen 66, polisi mengepung para aktivis dan membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jakarta.indymedia.org/attachments/may2008/12475439826_b4244873c0.jpg" alt="" width="351" /></p>
<p>187 aktivis Jaringan Anti Otoritarian dihadang dan ditangkap dengan tindakan represif oleh personil Polres Jakarta Selatan seusai demonstrasi di depan Wisma Bakrie. Setelah selesai melakukan aksi di Wisma Bakrie, polisi tiba-tiba melakukan tindakan represif dengan memukul, menarik dan menangkap empat demonstran. Tidak lama setelah itu, di depan Monumen 66, polisi mengepung para aktivis dan membawa mereka ke Polres Jakarta Selatan. Beberapa aktivis masih dipukuli saat perjalanan menuju Polres dan saat pemeriksaan. Para aktivis Jaringan Anti Otoritarian ditahan dan diperiksa di polres Jakarta Selatan selama lebih dari 12 jam, dan baru dibebaskan pada pukul 12 malam.</p>
<p><span id="more-202"></span></p>
<p><strong>Kronologi Penangkapan</strong></p>
<p><strong class="subheading">Jakarta, 1 Mei 2008</strong></p>
<p><strong>09.00</strong></p>
<p>Partisipan aksi dari berbagai kelompok, seperti Urban Poor Concortium [UPC] (c.q. Jaringan Rakyat Miskin Kota [JRMK], Anak Jalanan [ANJAL]), Jaringan Anti Otoritarian [JAO], Low Rider, Atap Alis, Red Rebel, Jaringan Aksi Mahasiswa Untuk Rakyat [JAMOER], BEM Mercubuana, Sel FnB Pondok Jati [Ponti], Kolektif Rumput Liar, Sapitalis, Goa Beruang, dan beberapa individu/kelompok lain berkumpul di STIE Perbanas untuk melakukan briefing tentang yel-yel, lagu-lagu, evakuasi (jalur, cara, dan hal lain yang berkaitan), pemeriksaan ulang instrumen aksi, penegasan ulang (untuk mengingatkan) posisi koordinator, kemudian juga “pengingatan ulang” akan posisi tiap tim atau instrumen dalam barisan (i.e marching band, bendera, sweeper, grafiti, pembagian toa, dll.), dan hal lainnya di dalam aksi karnaval.</p>
<p><strong>10.00</strong></p>
<p>Aksi karnaval dimulai, partisipan aksi berjalan dari STIE Perbanas menuju ke Wisma Bakrie. Selama dalam perjalanan menuju Wisma Bakrie, aksi karnaval diiringi marching band, yel-yel, dan lagu-lagu, serta tarian bendera, bermain lompat karet (skiping), bermain lempar bola akrobatik atau ala sirkus, dll.. Pada barisan aksi bagian depan terlihat spanduk berukuran 3 m x 1.5 m yang bertuliskan “Bos tak peduli hidupmu. Ambil alih hidupmu,” dan “Berhentilah membela kami! Kami pasti bicara dan melawan tirani! Antikapitalisme.”</p>
<p><strong>10.15</strong></p>
<p>Partisipan aksi karnaval sampai di Wisma Bakrie. Setiba di Wisma Bakrie, tepatnya Wisma Bakrie II, partisipan aksi karnaval meneriakkan yel-yel, menari, dan melakukan pelbagai permainan (i.e. seperti lompat karet, tari topeng, tarian bendera, bermain bola sepak, dll.). Setelah beberapa menit, kemudian partisipan aksi karnaval melakukan orasi, kurang lebih selama 30 menit. Orasi dilakukan, diantaranya oleh pelbagai partisipan dari JAO, BEM Universitas Mercubuana, JRMK, JAMOER, dan dari komunitas lainnya. Sewaktu orasi, beberapa polisi sudah berdatangan ke Wisma Bakrie.</p>
<p>Menjadikan Wisma Bakrie II sebagai titik awal kegiatan aksi karnaval didasarkan pada alasan bahwa Wisma Bakrie merupakan representatif kuat atas kapitalisme dalam konteks Indonesia, maupun konteks global ketika dilihat dari nilai-nilai yang diusung oleh Bakrie Grup. Selain itu, Wisma Bakrie, baik itu Wisma Bakrie I dan II (segera menyusul pembangunan Bakrie Tower seluas 85.000 m2), merupakan suatu upaya dan aksi langsung untuk menyatakan bahwa para pelaku kapitalistik yang telah menimbulkan kerugian material (i.e. harta, lingkungan) dan nonmaterial (i.e patologis psikologis, jiwa/nyawa, harapan, mimpi)—seperti Bakrie Grup—memunyai alamat rumah dan properti mewah (bangunan fisik) yang tegak berdiri angkuh di kawasan publik yang centang-perentang. Mereka hadir di tengah kita. Sudah selayaknya kita tidak diam ketika mereka tetap hadir di tengah keseharian atau kehidupan kita, meskipun mereka menciptakan dan menimbulkan banyak kemudaratan dan kerusakan pada kehidupan kita, seperti lumpur Lapindo, misalnya.</p>
<p>Lumpur Lapindo memang memberikan kemudaratan dan kerusakan langsung kepada masyarakat di sana. Kendati demikian, ketika domisili kita yang berada jauh dari domisili korban lumpur hanya terdiam dan mendiamkan “bencana sosial” (bukan bencana alam) tersebut terjadi, maka kita pun mengidap patologis psikologis dan apatis akut. Kita terlalu sibuk dengan dunia kerja yang pada dasarnya sebagian besar alasan kita untuk bekerja karena tidak ada pilihan lain selain itu, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita—yang mana kebutuhan hidup kita pun telah terkomodifikasikan sedemikian rupa—sampai kita meninggal dunia. Karena bekerja, kita pun lupa akan hal-hal yang telah terjadi di luar kehidupan kita. Pada akhirnya, kita pun lupa bahwa di bawah rezim tirani ekonomi kapitalistik semua orang yang tidak memiliki kapital adalah korban. Masyarakat Porong dan sekitarnya adalah korban. Pun kita, yang berdomisili di luar daerah tersebut, adalah korban. Kita tetap diam walaupun telah terjadi ketidakadilan di sana. Kita diam karena kita tidak memiliki waktu untuk memeriksa kehidupan kita selain hanya untuk bekerja. Dengan demikian, ketidakadilan tidak hanya terjadi di Porong, melainkan juga di dalam keseharian dan kehidupan kita sepenuhnya. Mahasiswa atau pelajar diarahkan sedemikian untuk tetap sibuk memikirkan pelajarannya agar dapat segera lulus dan bekerja; ibu rumah tangga senantiasa sibuk untuk melayani keperluan anggota rumah tangganya agar suami dapat bekerja dengan lebih baik dan sang anak pun dapat belejar dengan baik untuk dapat meraih cita-citanya, yakni bekerja dengan penghasilan tinggi; para pekerja dikepung sana-sini oleh pelbagai benda-benda yang perlu dikonsumsi agar dapat menjalani hidup sejahtera, pada akhirnya membuat mereka untuk tetap giat bekerja agar dapat mengonsumsi pelbagai benda; masyarakat adat, masyarakat pedesaan dan kaum miskin kota kelimpungan bertahan dari terpaan logika instrumental yang selalu mengintai daerah pertanahan mereka untuk dijadikan pabrik dan pusat perbelanjaan; kita, kaum yang tidak memiliki kapital selalu menjadi korban, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.</p>
<p>Di bawah rezim tirani kapitalistik, kita semua adalah korban. Entah, satu detik kemudian, satu menit kemudian, satu jam kemudian, satu hari atau minggu berikutnya, atau bulan atau tahun berikutnya, kita bisa saja kehilangan hidup dan mimpi kita yang tergerus oleh logika akumulasi kapital. Wisma Bakrie, serta gedung-gedung korporasi lainnya, hadir di tengah kita dengan aman, sementara kehidupan dan mimpi kita selalu terancam dan tergerus oleh logika mereka, yakni kapitalisme. Wisma Bakrie merupakan manifestasi material atas kapitalisme.</p>
<p>Aksi karnaval ini kali merupakan, selain sebagai suatu sikap langsung untuk merayakan hidup secara otonom dan bebas dari dominasi rezim tiranik ekonomi kapitalisme, sebuah upaya perlawanan terhadap kapitalisme—meskipun perayaan hidup dan merengkuh makna hidup tersebut berlangsung sesaat. Ketika kita menuntut niat baik mereka, selalu saja pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah mereka penuhi. Oleh karena itu, tidak cukup hanya sekedar mendesak dan menekan mereka, melainkan kita harus mengambil alih hidup kita sendiri, merayakan hidup kita sendiri.</p>
<p><strong>10. 45</strong></p>
<p>Setelah orasi, barisan partisipan aksi karnaval merapat ke pagar depan Wisma Bakrie II untuk melakukan pembakaran patung yang dibuat dengan kardus sebagai material simbolik. Pertama, sebagai simbolik personal, dan kedua sebagai simbolik korporat. Personal dimaksud adalah bahwa Bakrie Grup terdiri dari para pejabat tinggi negara dan kapitalis kakap. Salah satu pemilik dari Bakrie Grup bahkan selain menjadi menteri pemerintahan SBY-JK juga merupakan orang terkaya di Indonesia. Di sini terlihat bahwa ekonomi erat kaitannya dengan kekuasaan. Dengan demikian, pendominasian atas kehidupan orang banyak oleh segelintir pihak tidak hanya direpresentasikan oleh negara melulu, melainkan juga oleh kapitalis(me). Dimaksud korporat adalah bahwa Bakrie Grup merupakan korporasi kapitalisme terbesar di Indonesia, yang mana dalam operasionalnya begitu banyak menimbulkan kemudaratan dan kesengsaraan terhadap orang banyak atau publik (baik itu secara psikologis maupun fisik) dan lingkungan—salah satu contohnya adalah kasus lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.</p>
<p><strong>10. 55</strong></p>
<p>Ketika partisipan aksi karnaval melakukan pembakaran patung kardus tersebut, beberapa polisi mulai mendekati barisan aksi dan kemudian mematikan (dengan menginjak-injak) api yang masih membakar patung kardus tersebut sambil berteriak-teriak dengan nada ancaman pada partisipan aksi karnaval agar tidak melakukan pembakaran atau menghentikan pembakaran.</p>
<p>Ketika lumpur Lapindo terjadi atas ulah kelalaian manusia, para pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut samasekali tidak diberikan kecaman oleh aparatus negara atau pemerintahan. Tidak ada samasekali polisi berpakaian resmi maupun polisi berpakaian preman yang berteriak-teriak mengumpat dan memberikan ancaman kepada para pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa lumpur Lapindo tersebut. Tragedi lumpur Lapindo tidak hanya membuat banyak orang kehilangan tempat tinggalnya, melainkan juga kehilangan pekerjaan atau mata pencahariannya. Itu berarti semakin bertambah jumlah pengangguran di dunia yang tidak damai dan tentram bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan ini. Itu juga mengapa bahwa 1 Mei tidak hanya sekadar Hari Buruh Internasional, melainkan juga Hari Perlawanan terhadap Kapitalisme Internasional atau Hari Antikapitalisme Internasional.</p>
<p>Pada waktu hampir bersamaan, tim stensil, graffiti, dan pelempar cat yang dibungkus dengan menggunakan plastik ukuran kecil, mulai melakukan aksi karnavalnya di pagar depan Wisma Bakrie dengan membuat tulisan-tulisan seperti “Markas Pembunuh”, “Bahaya Neoliberalisme”, “Antikapitalisme”, dan lainnya, sebagai simbol: penanda atas petanda bahwa Bakrie Grup (simbolik atas kapitalisme) harus dilawan, karena telah menyebabkan kemudaratan dan kesengsaraan masyarakat sekaligus lingkungan hidup. Pada saat yang sama, polisi berseragam dalam jumlah banyak dan polisi berpakaian berpreman mulai berdatangan. Partisipan aksi karnaval hendak berniat melanjutkan perjalanan menuju Bundaran Hotel Indonesia, di belakang ternyata ada partisipan aksi karnaval lain yang baru datang dan segera menyusul sehingga barisan aksi harus menunggu. Dalam perjalanan, tim stensil dan graffiti juga membuat tulisan-tulisan protes tentang antikapitalisme dan sebagainya di sepanjang jalan yang  dilalui (masih belum jauh [sekitar 100 m] dari Wisma Bakrie).</p>
<p>Selama menunggu partisipan aksi karnaval yang datang terlambat tersebut, yang mayoritas adalah remaja yang hendak merayakan karnaval tersebut dengan cara performance art, yakni dengan mengikatkan kaleng pada kakinya.</p>
<p><strong>11. 10</strong></p>
<p>Polisi berkendaraan motor trail mulai melakukan intimidasi, baik psikologis maupun nonpsikologis, pada masa aksi karnaval dengan cara memain-mainkan gas motor dan mengejar beberapa orang yang diduga oleh polisi telah melakukan vandalisme dengan cara menulisi tembok dengan phylox. Beberapa orang ditarik dari belakang, baik itu lelaki maupun perempuan, namun partisipan aksi karnaval yang ditarik oleh polisi berpakaian preman dapat melepaskan diri dari cengkramannya, setelah melawan. Pada akhirnya, hal tersebut menyebabkan situasi memanas dan menyebabkan barisan aksi tidak lagi solid. Polisi berkendaraan motor trail tidak hanya sekadar memainkan gas, melainkan juga hendak menerobos barisan untuk membuat kecaman psikologis.</p>
<p><strong>11. 15</strong></p>
<p>Karena khawatir polisi berkendaraan motor trail akan menabrak barisan belakang, maka salah satu partisipan aksi menjatuhkan tubuhnya ke samping di mana polisi berkendaraan itu melaju, agar polisi berkendaraan itu tidak masuk ke dalam barisan mengacau barisan. Tubuh partisipan aksi itu berbenturan dengan motor trail polisi. Keduanya tidak jatuh, hanya bertumbukan dan menyebabkan mundur ke belakang. Setelah itu, partisipan tersebut jalan lagi ke depan. Para polisi, terutama polisi berpakaian preman, seakan mendapat alasan untuk menangkap, tidak mendiamkan hal tersebut. Mereka, polisi berpakaian preman, mulai mengejar partisipan tersebut dan menangkapnya. Partisipan tersebut ditarik dari belakang dan dipukul hingga terjatuh. Kemudian ia diseret ke arah seberang jalan untuk dijauhkan dari barisan partisipan aksi, kemudian dimasukkan ke dalam mobil polisi. Selama proses penangkapan tersebut, sekitar lima sampai enam polisi berseragam dan berpakaian preman melakukan tindakan kekerasan fisik kepada partisipan tersebut. Bahkan tidak hanya kepada partisipan tersebut aksi kekerasan fisik dilakukan, kekerasan fisik juga dialami oleh partisipan lain yang hendak membantu untuk melepaskan partisipan yang ditangkap tersebut, dengan cara menariknya dari “kepungan” polisi. Pada saat sama, tiap partisipan aksi karnaval yang diincar untuk ditangkap, dikepung sekitar lima sampai tujuh polisi per partisipan. Perlu dicatat bahwa proses penangkapan yang disertai dengan kekerasan fisik tersebut disaksikan dan direkam oleh wartawan media massa elektronik dan kampus—salah satu wartawan dari pers kampus malah ketika mengambil gambar proses penangkapan tersebut ditepis tangannya dengan kencang yang sedang mengambil gambar oleh polisi, sehingga handphonenya terjatuh dan hancur.</p>
<p>Kita bisa melihat bahwa orang yang hanya sekadar mengutarakan sikapnya kepada sistem yang mendominasi sekarang ini dengan cara melakukan penulisan phylox pada tembok pagar gedung korporat yang telah menciptakan dan menyebabkan kemudaratan serta kerusakan kehidupan orang banyak dan lingkungan dikejar dan diincar polisi berpakaian preman untuk segera ditangkap. Dalam proses penangkapan tersebut, polisi berpakaian preman tersebut tidak segan melakukan tindakan kekerasan fisik. Pada kesempatan yang lain, para polisi, baik itu berpakaian dinas maupun berpakaian preman, tidak berbuat apa-apa terhadap para pihak yang bertanggung jawab atas tragedi lumpur Lapindo, yang ada malah menjadi “tukang-pukul” mereka.</p>
<p><strong>11. 25</strong></p>
<p>Kemudian, ada tiga orang partisipan aksi karnaval lainnya yang juga ditarik paksa dengan disertai pemukulan oleh polisi. Bahkan salah satu dari ketiga orang tersebut diseret dari jalanan ke belakang menuju mobil polisi. Dia diseret dengan posisi terlentang; dua polisi menarik dirinya dengan memegang kedua tangannya, walaupun dia berteriak-teriak “civil right” berkali-kali. Selain itu, ada juga yang dipukul dengan gagang pistol oleh polisi ketika menangkap salah satu dari ketiga orang tersebut; juga ada polisi berpakaian preman yang mengacung-acungkan pistolnya kepada para partisipan aksi karnaval.</p>
<p>Akhirnya empat orang yang tertangkap tersebut dimasukkan ke dalam mobil sedan polisi. Setelah penangkapan empat orang tersebut, polisi berpakaian preman semakin brutal melakukan represivitas pada partisipan aksi karnaval yang sedang mencoba untuk menyolidkan diri lagi di bagian depan. Ada beberapa partisipan aksi karnaval lain, baik itu lelaki dan perempuan, yang ditarik paksa dan coba ditangkap oleh polisi dengan disertai tindakan kekerasan fisik seperti pemukulan dan penendangan, meskipun pada akhirnya dapat diselamatkan oleh partisipan aksi karnaval lainnya dengan melakukan aksi tarik-menarik dengan polisi. Beberapa partisipan aksi karnaval yang berusaha untuk menyelamatkan partisipan aksi karnaval yang tertangkap pun mengalami kekerasan fisik. Selain melakukan kekerasan fisik kepada partisipan aksi karnaval yang berusaha menyelamatkan partisipan aksi karnaval lainnya, salah satu polisi berpakaian preman mengeluarkan pistol ketika partisipan lain berusaha menyelamatkan temannya. Hal tersebut membuat sebagian partisipan tidak melanjutkan usaha penyelamatan tersebut karena takut ditembak, dan sebagian tetap berupaya menarik partisipan aksi karnaval yang diringkus oleh polisi.</p>
<p><strong>11. 35</strong></p>
<p>Partisipan aksi karnaval yang cair akibat represivitas aparat, yang sebagian besar dilakukan oleh polisi berpakaian preman, dimanfaatkan oleh aparat polisi untuk melakukan pengejaran pada partisipan aksi karnaval yang lain. Hal tersebut membuat barisan pecah. Pada akhirnya, beberapa partisipan aksi karnaval berteriak bahwa tidak akan ada aksi melakukan tulisan di tembok, asal polisi menghentikan aksinya. Sejurus kemudian, barisan aksi tetap melakukan perjalanan walaupun cair, setelah salah satu polisi berpakaian seragam, yang diduga atasan polsek setempat, menyarankan agar partisipan aksi tetap berjalan tanpa melakukan aksi menulisi tembok dan jalanan dengan phylox agar tidak ditangkap.</p>
<p><strong>11. 40</strong></p>
<p>Mendadak, beberapa menit kemudian, satu mobil elf polisi yang penuh dengan polisi datang dari belakang seberang jalan dan mengepung barisan partisipan aksi karnaval dari berbagai arah (tapal kuda) dan akhirnya berhasil menyudutkan barisan di sudut jalan di sekitar Tugu 66, Jl. H.R. Rasuna Said. Segerombolan polisi tersebut berteriak kepada barisan aksi untuk berhenti dan mengancam jika ada yang kabur, walaupun dalam perjalanan lanjutan itu sudah tidak ada kegiatan menulisi pagar tembok gedung dan jalanan dengan phylox.</p>
<p><strong>11. 43</strong></p>
<p>Dengan sekejap, semua partisipan aksi sudah berhasil dikumpulkan di sudut jalan, di tepi selokan, kemudian diperintahkan untuk jongkok. Polisi berpakaian preman berteriak-teriak pada masa aksi dengan mengumpat dan mengancam. Seperti, “Anjing,” “Jangan macem-macem lo, gw bunuh lo!” dll.. Hanya sekadar menulisi tembok pagar dengan phylox, partisipan aksi karnaval langsung diancam hendak dibunuh jika berbuat macam-macam lagi. Pada sisi lain, tidak ada polisi yang memberikan ancaman pembunuhan kepada pelaku kejahatan korporasional atau ekonomi.</p>
<p><strong>11. 47</strong></p>
<p>Polisi menyita semua peralatan aksi, termasuk spanduk, bendera, flier, alat permainan anak-anak (i.e. kelereng, monopoli), kamera—ada kamera manual yang rol filmnya dicabut paksa—, handycam. Dan, polisi kemudian melakukan penggeledahan tas dan badan. Partisipan aksi karnaval yang membawa tas, baik itu didapati atau tidak didapati barang-barang tersebut (atau yang berkaitan dengan aksi seperti ketapel yang tidak digunakan, phylox, bola, karet lompat tali, dll.) dikelompokkan terpisah dan identitasnya (KTP, SIM, KTM dll) disita. Penyortiran juga dilakukan pada partisipan aksi karnaval remaja, yang sebenarnya merupakan kelompok performance art yang memakai kaleng-kaleng di kaki mereka.</p>
<p>Polisi yang lain memberhentikan beberapa kopaja (empat kopaja) untuk mengangkut partisipan aksi karnaval (total berjumlah sekitar 200 orang yang tertangkap) ke kantor Polres Metro Jakarta Selatan—setelah para polisi tersebut berdebat hendak ke mana partisipan aksi karnaval ini dibawa. Mulai dari proses penyortiran hingga waktu naik ke dalam kopaja, proses tersebut disertai dengan caci-maki atau umpatan kasar, pemukulan, panamparan, bahkan ketika di dalam kopaja ada yang kepalanya dibenturkan ke dinding/tubuh bagian dalam kopaja. Bahkan pemeriksaan dan penggeledahan dilakukan dua kali. Pertama, ketika dikumpulkan dan kemudian melakukan pemisahan; dan kedua, ialah ketika hendak menaiki kopaja. Pada kesempatan itu juga, ada juga satu orang berkewarganegaraan Polandia ikut tertangkap karena mengikuti aksi solidaritas untuk May Day ini. Salah seorang partisipan aksi karnaval yang pada awalnya membantu polisi untuk menerjemahkan, malah ikut dipisahkan bersama orang Polandia tersebut. Selama proses penangkapan tersebut, ada juga beberapa orang yang samasekali tidak terlibat dalam aksi ikut ditangkap.</p>
<p>Alasan pihak kepolisian menangkap seluruh partisipan aksi karnaval ialah pelanggaran ketertiban umum, yakni tidak mengajukan izin aksi karnaval dan “corat-coret” tembok pagar menggunakan phylox, serta pelanggaran kekuasaan umum, yakni kedapatan membawa 3-5 ketapel yang samasekali tidak digunakan dan beberapa kelereng, bahkan oleh polisi aksi karnaval tersebut dianggap sebagai aksi kudeta.</p>
<p><strong>12. 19</strong></p>
<p>Partisipan aksi karnaval tiba di Polres Metro Jakarta Selatan dan dikumpulkan dan dikelompokkan. Ada dua kelompok: Kelompok pertama, adalah kelompok partisipan aksi yang waktu penggeledahan di dalam tasnya didapati peralatan yang berkaitan dengan aksi—walaupun pada kenyataannya partisipan aksi yang masuk ke dalam kelompok ini tidak semuanya kedapatan membawa barang apa pun yang bisa dijadikan barang bukti yang berkaitan dengan aksi oleh pihak kepolisian. Di sini terlihat pihak kepolisian bekerja dengan sembarangan dalam mengidentifikasi partisipan yang membawa barang yang bisa dijadikan barang bukti. Kelompok kedua, adalah kelompok partisipan aksi yang waktu penggeledahan tidak ditemukan barang yang berkaitan dengan aksi. Ada satu kelompok yang tidak ikut dikumpulkan bersama kelompok lain, yakni kelompok empat orang pertama yang ditangkap paksa pada waktu aksi.</p>
<p><strong>12. 30</strong></p>
<p>Kelompok partisipan aksi yang dituduh sembarangan—mengingat tidak semua membawa atau kedapatan barang bukti—kedapatan membawa barang bukti yang berkaitan dengan aksi atau kelompok pertama, digelandang ke lantai tiga, sedangkan yang tidak membawa barang yang berkaitan dengan aksi atau kelompok kedua, digelandang ke lantai dua.</p>
<p>Kelompok pertama mulai dimintai soal keterangan identitasnya. Beberapa polisi yang ada di tempat, dalam arti tidak mengetahui proses penangkapan tersebut, mulai menanyakan kepada sebagian partisipan kelompok pertama alasan mengapa mereka ditangkap.</p>
<p><strong>13. 00</strong></p>
<p>Polisi mulai meminta sebagian partisipan untuk di-BAP-kan. Namun, partisipan aksi tidak mau di-BAP-kan selama tidak didampingi kuasa hukum atau pengacara. Kendati demikian, polisi tetap memaksa untuk meminta kesediaan partisipan agar mau di-BAP-kan. Tidak puas dengan memaksa, polisi akhirnya merayu kepada partisipan untuk di-BAP-kan agar bisa pulang cepat.</p>
<p><strong>13. 30</strong></p>
<p>Mendadak muncul suara yang agak kencang di sudut lorong ruangan pemeriksaan di lantai tiga tersebut yang menyemangati partisipan. “Kalian masih bersemangat, kan?”. Ternyata suara tersebut berasal dari salah satu keempat partisipan aksi yang ditangkap kali pertama, yang baru saja datang ke polres tersebut. Dia dan ketiga teman lainnya, sebelum dipindahkan ke polres, digelandang ke Polsek Setia Budi. Satu polisi yang berpakaian preman mendengar hal tersebut segera menghampiri orang tersebut dan membentak. ”Kamu jangan berisik, ini kantor polisi!”. Segera polisi berpakaian preman yang lain pun turut memarahi. Orang tersebut mengatakan tidak akan berteriak. Dia tidak bermaksud untuk membuat kegaduhan, melainkan menyemangati. Walaupun sudah minta maaf, polisi berpakaian preman tersebut tetap tidak surut kemarahannya, malah semakin menjadi. Spontan saja partisipan tersebut menaikkan nada suaranya untuk membela diri, bahwa jangan memarahinya begitu saja. Dan, polisi malah semakin tinggi nada suaranya. Entah bagaimana, “perdebatan” tersebut reda dengan sendirinya. Mungkin polisi menyadari bahwa ia memang tidak memiliki hak untuk memarahi orang begitu saja.</p>
<p>Setelah “perdebatan” tersebut, polisi kembali meminta partisipan untuk melakukan BAP. Partisipan tetap bersikukuh tidak mau di-BAP-kan jika tidak didampingi pengacara. Polisi tetap memaksa. Bahkan kadang kala dengan membentak dan mulai bersikap angkuh. “Saya mengerti prosedur hukum. Jangan ajari saya,” ketus salah satu polisi sembari tetap memaksa partisipan untuk di-BAP saat partisipan menolak di-BAP-kan jika tanpa ada pengacara yang mendampingi. Sebagian partisipan pun tidak tinggal diam melihat hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa kita tidak akan di-BAP-kan tanpa ada pengacara kepada polisi untuk menegaskan bahwa tidak ada BAP tanpa pengacara, selain itu mereka juga sekaligus mengingatkan kepada partisipan lainnya agar jangan mau dan takut sehingga mau di-BAP-kan tanpa didampingi pengacara.</p>
<p>Karena mengetahui bahwa partisipan memiliki hak untuk didamping pengacara ketika di-BAP-kan, polisi pun mulai lunak dalam meminta kepada partisipan agar mau di-BAP-kan. Tapi tetap saja gagal.</p>
<p>Karena tidak berhasil juga, akhirnya polisi melakukan pemisahan (split) kepada kelompok pertama dengan cara memisahkan lelaki dan perempuan. Setelah dilakukan pemisahan berdasarkan jenis kelamin, polisi pun kembali meminta kepada partisipan untuk di-BAP-kan, ini kali kepada partisipan perempuan. Partisipan tetap tidak mau. Polisi pun merajuk “Tolong saya, saya diperintah atasan saya untuk memeriksa kalian!” Tetap saja partisipan tidak mau. Pada akhirnya polisi pun kesal sendiri. Karena gagal, akhirnya polisi pun menggunakan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan sebelumnya, ini kali polisi tidak meminta kepada partisipan untuk mengikutinya ke dalam ruangan untuk di-BAP-kan, melainkan memanggil begitu saja agar mengikutinya. Akan tetapi, hal tersebut segera dicegah oleh partisipan yang lain. “Pak, mereka memiliki pengacara. Tidak bisa diperiksa begitu saja sebelum pengacara datang!”</p>
<p>Karena gagal terus, akhirnya polisi melakukan pemisahan kembali. Ini kali, setelah sebelumnya berdasarkan jenis kelamin, menggunakan dasar usia. Kelompok lelaki dipisah atau di-split kembali menggunakan dasar kriteria usia tersebut. Kurang lebih belasan remaja tanggung di bawah usia tujuh belas tahun dipisahkan. Kemudian, sisanya displit kembali menjadi beberapa kelompok; tiap kelompok kurang lebih sepuluh orang. Kelompok tersebut ada yang langsung dipisahkan menuju ruangan lain, ada yang tetap tinggal di lorong.</p>
<p>Kelompok remaja tanggung itu segera di bawa ke ujung lorong bagian kiri dari arah pintu masuk. Kemudian polisi langsung bertanya. “Siapa yang membawa kalian?” “Siapa yang mengajak kalian?” “Kamu diajak ama orang yang marah-marah tadi itu yah (orang tersebut yang dimaksud adalah partisipan yang membalas bentakan polisi ketika sedang menyemangati partisipan lain)?” Para remaja tersebut menjawab tidak tahu dan mengaku tidak kenal dengan orang tersebut. Kendati demikian, tetap saja polisi mengarahkan jawaban para remaja tersebut untuk menggiring atau mendapatkan suatu konklusi untuk menetapkan tersangka. Para remaja tersebut diinterogasi tanpa ada yang mendampingi. Kemudian, beberapa menit kemudian, beberapa kelompok yang masih di lorong di bawa ke ruangan lain. Ketika semuanya, per kelompok tersebut, dipisah satu sama lain, polisi mulai melakukan interogasi dan BAP. Beberapa orang tetap menolak di-BAP-kan tanpa ada pengacara samasekali. Kendati demikian, polisi tetap memaksa. Akhirnya, polisi memberikan batas waktu. Kelompok partisipan yang tersisa mengatakan bahwa paling lambat dua jam lagi tim advokasi atau tim pengacara akan datang.</p>
<p>Pun demikian, tetap saja ada polisi yang datang untuk meminta melakukan pemeriksaan atau BAP. Hampir bisa dipastikan, satu polisi gagal, polisi lain datang untuk menanyakan hal sama. Tampaknya ini dilakukan untuk memberikan efek psikologis dan motorik, sehingga partisipan menjadi stress dan kelelahan sedemikian rupa.</p>
<p>Pada saat yang sama, ternyata baru diketahui bahwa salah satu partisipan aksi dibawa terpisah, yakni digelandang ke Polda Metro Jaya, bersama WNA Polandia. Hal ini diketahui setelah partisipan tersebut memberitahukan keberadaannya kepada partisipan yang berada di polres. Partisipan tersebut menduga keberadaannya di polda diketahui, padahal tidak. Partisipan tersebut pada dasarnya hanya hendak membantu polisi agar dapat berkomunikasi dengan baik dengan WNA Polandia tersebut. Ternyata, dia malah juga dibawa ke polda dan diperiksa di bagian intelkam (intelejen dan keamanan). Para polisi di sana (polda) mulai menanyakan partisipan tersebut dengan berbagai cara, mulai dari cara formal, cara informal, cara halus, dan cara sedikit kasar.</p>
<p>Cara formal, partisipan tersebut ditanyai di depan komputer oleh seorang petugas—padahal jelas-jelas dia hanya penerjemah dalam kasus penangkapan WNA tersebut, dan pemeriksaan yang dilakukan oleh intelkam tidak memiliki implikasi hukum, berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh bareksrim atau BAP.</p>
<p>Cara informal, partisipan tersebut ditanyai oleh seorang komandan yang memulainya dengan menyapa dan mengajaknya mengobrol tentang berbagai hal, namun kemudian menjurus pada hal lain, seperti pertanyaan yang arah pembicaraannya pada identitas massa aksi, pemimpin organisasi dan arti simbol pada bendera yang digunakan pada saat aksi.</p>
<p>Cara halus, di mana beberapa polisi Batak dimasukkan untuk ngobrol dengan partisipan tersebut, yang memang bersuku Batak. Hal ini dilakukan mungkin untuk membangkitkan sentimental kedaerahan. Lalu juga ada beberapa polisi muda yang ngobrol dengan partisipan tersebut tentang naik gunung dan selam—setelah mengetahui bahwa partisipan aksi tersebut menggemari kedua hal tersebut—supaya partisipan tersebut merasa nyaman dan mau menjawab semua pertanyaan mereka.</p>
<p>Lalu ada juga cara sedikit kasar di mana salah satu komandan masuk dan menanyainya dengan nada sedikit membentak dan menghinanya dengan mengatakan, &#8220;Katanya mahasiswa, kok ditanya gini aja gak ngerti. Mahasiswa &#8230;  pula, masa gak ngerti dan muter-muter jawabnya!&#8221;.</p>
<p>Lalu, tidak hanya berhenti di situ, setiap petugas yang masuk ke ruangan di mana partisipan tersebut berada atau menemuinya juga menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang, untuk membuat partisipan tersebut lelah dan tertekan secara psikologis. Pada intinya mereka mempermainkan kondisi psikologisnya untuk mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.</p>
<p>Kemudian, ketika kakak lelaki partisipan datang untuk mengecek keberadaannya ke Polda Metro Jaya, pihak Polda Metro Jaya mengatakan bahwa pada hari itu tidak ada orang yang “masuk” yang ditangkap di Wisma Bakrie. Akhirnya orang tersebut menelpon adiknya untuk memperjelas apakah dia memang diberada di Polda Metro Jaya. Sang adik pun kembali menyatakan bahwa dirinya memang ditahan di sana. Kembali, sang kakak menanyakan kepada pihak polda soal kabar dan keberadaan adiknya di polda. Lagi, petugas polisi tidak mengakui bahwa adiknya berada di dalam. Akhirnya, sang kakak menelpon sang adik lagi, kemudian ketika tersambung dengan sang adik, sang adik memberikan kepada polisi untuk berbicara kepada sang kakak sebagai bukti bahwa memang dirinya ditahan di polda, tidak di tempat lain. Akhirnya, sang kakak dapat masuk ke dalam untuk melihat keberadaan sang adik.</p>
<p><strong>14.30</strong></p>
<p>Salah satu pengacara dari KONTRAS akhirnya datang ke polres. Segera dia langsung mendata partisipan. Pengacara tersebut juga menanyakan apakah ada tindakan kekerasan yang dilakukan polisi selama proses penangkapan dan pemeriksaan, selain meminta kepada partisipan untuk membuat catatan kronologis detail atas peristiwa tersebut. Beberapa partisipan mengatakan bahwa dirinya sempat dipukuli, ditendang, diinjak kepalanya, bahkan ada yang dipukul kepalanya oleh gagang pistol. Pengacara tersebut meminta agar kepada para korban untuk mengingat nama aparat tersebut, yang sayangnya aparat yang memukul mereka menggunakan pakaian preman. Jadi, hanya wajah saja yang mereka dapat kenali. Mendadak, salah satu polisi yang memukul salah satu korban pemukulan lewat di depannya. Sontan saja korban tersebut menunjukkan jarinya ka arah muka polisi tersebut. “Ini, nih, orang yang memukul saya tadi,” tunjuk korban tersebut kepada aparat yang memukulnya. Polisi tersebut langsung ketakutan dan mencepatkan langkahnya menuju kamar kecil (toilet). Setelah dari kamar kecil, polisi tersebut kembali melewati korban, dan tampaknya korban pemukulan tersebut sudah menantikan polisi yang memukulnya tersebut. Segera beberapa partisipan dan pengacara menanyakan nama atau identitas kepada polisi yang telah melakukan pemukulan tersebut. Namun, polisi tersebut tidak mengaku dan jalan cepat ketakutan meninggalkan ruangan tersebut, sambil mengatakan bahwa dia tidak memukul.</p>
<p>Polisi melakukan interogasi dan BAP kepada seluruh partisipan yang berjumlah ratusan tersebut (sekitar 150-an orang); Semuanya difoto; Semuanya kembali diminta menuliskan alamat dan telepon yang bisa dihubungi; Sebagian diperiksa sebagai saksi dan disuruh menandatangani BAP sebanyak empat rangkap.</p>
<p>Selama pemeriksaan, terutama pemeriksaan awal, sebagian besar hal atau proses tersebut dilakukan oleh pihak kepolisian tanpa samasekali didampingi tim advokasi. Sehingga banyak sekali terjadi kekerasan psikologis yang dilakukan polisi dalam pemeriksaan tersebut.</p>
<p>Karena begitu banyak yang diperiksa, yakni ratusan, maka terlihat kelelahan pada wajah partisipan yang menunggu giliran untuk diperiksa; dan juga stress atau tertekan karena polisi tiada hentinya bergiliran menanyakan dan meminta untuk segera melakukan BAP. Bahkan para polisi pun terlihat pusing dan stress. Kadang mereka, para polisi itu, satu sama lain berdebat, mempertanyakan pasal yang dijatuhkan kepada partisipan yang tidak nyambung kepada polisi lainnya, dsb&#8230;</p>
<p>Pada saat sama, partisipan aksi karnaval pun kelaparan. Akhirnya, sebagian ada yang membeli makanan ketika ada penjual makanan atau warung nasi di dalam ruangan tersebut yang menanyakan apakah ada yang mau makan. Kurang lebih 20 menit kemudian, makanan tiba. Mendadak beberapa polisi menanyakan makanan tersebut; polisi khawatir mereka mengambil jatah orang lain. Padahal mereka membeli makanan dan minuman tersebut dengan menggunakan uang masing-masing yang dikumpulkan (patungan). Bahkan seorang polwan yang disebut-disebut sebagai petinggi di polres tersebut, dengan angkuh dan tanpa ada rasa bersalah samasekali mengatakan “Saya hanya membelikan makanan untuk perempuan saja, tidak untuk lelaki. Saya menyayangi anak perempuan (yang diperiksa), tidak anak lelaki!”</p>
<p><strong>18.00</strong></p>
<p>Partisipan aksi baru diberi makan oleh polisi, setelah sebelumnya tidak diberi makan siang. Setelah itu masing-masing kelompok menjalani pemeriksaan lanjutan, seperti dimintai sidik jari dan interogasi yang lebih dalam dalam kondisi yang sangat lelah. Pada jam tersebut, partisipan aksi belum mengetahui kabar dari partisipan aksi yang berasal dari Polandia dan penerjemah yang turut tertangkap.</p>
<p>Mendadak terdengar suara di salah satu ruangan pemeriksaan yang cukup terdengar jelas dari luar pintu masuk ke dalam ruangan tersebut. “Makanya, jangan main-main dengan Bakrie!”</p>
<p><strong>22. 00</strong></p>
<p>Para petinggi kepolisian melakukan rapat tertutup dengan beberapa orang dari tim advokasi mengenai permasalahan ini. Tim advokasi mengatakan bahwa partisipan aksi karnaval melakukan aksi biasa sebagaimana yang sering terjadi ketika pada tiap 1 Mei—pada laporan awal kepolisian semula partisipan aksi karnaval diduga melakukan kudeta. Suatu tuduhan yang sangat banal. Bahkan salah satu polisi pun turut mengamini kebanalan tersebut ketika salah satu partisipan aksi karnaval yang kedapatan ketapel di dalam tasnya diinterogasi bahwa ia menggunakan ketapel untuk mengudeta. “Ya, Bapak, coba pikir, bagaimana saya bisa melawan kekuasaan umum, menggunakan ketapel melawan polisi saja kalah. Polisi senjata, saya ketapel,” jawab partisipan tersebut ketika diperiksa. “Iya, ya, bener juga kamu,” timpal penyidik mengamini.</p>
<p>Akhirnya, rapat antara petinggi kepolisan dengan beberapa perwakilan tim advokasi menghasilkan keputusan untuk membebaskan partisipan aksi karnaval. Rapat tersebut berlangsung sekitar satu jam lebih.</p>
<p>Sebelum dibebaskan, pihak kepolisian kembali mendata siapa-siapa saja yang belum difoto. Kemudian, pihak kepolisian meminta kepada seluruh partisipan aksi karnaval untuk memberikan sidik jari, sebelum mereka dapat benar-benar bebas.</p>
<p><strong>00.05</strong></p>
<p>Seluruh partisipan aksi dibebaskan dengan bantuan hukum dari LBH Jakarta, LBH Apik dan Kontras, komnas hak anak dan perempuan, Aliansi Bhineka Tunggal Ika, dll.. Barang-barang yang disita polisi, belum semuanya dapat diambil. Barang-barang yang disita oleh polisi antara lain KTP, handphone, bendera, toa, snare drum, spanduk, kamera, handycam, dll..</p>
<p>KTP, handphone, handycam, kamera sudah dapat diambil. Adapun barang sisanya belum bisa diambil. Untuk kamera, beberapa foto yang merekam aksi pemukulan polisi terhadap partisipan sebagian besar dihapus oleh polisi ketika dalam penyitaan.</p>
<p>Masih tersisa satu persoalan yakni ketidakjelasan posisi partisipan aksi yang berasal dari Polandia. Dikatakan ia berada di Polda Metro Jaya. Dan kemudian tersiar kabar bahwa justru pihak Polda Metro Jaya tidak pernah mengakui pernah masuk ke Polda Metro jaya seorang warga negara Polandia tersebut ketika tim advokasi mendatangi polda untuk menjadi kuasa hukum WNA tersebut.</p>
<p><strong>02 Mei 2008</strong></p>
<p><strong>10.00</strong></p>
<p>Tiga orang mendatangi kantor Direktorat Jendral Keimigrasian, setelah sebelumnya hendak mendatangi kantor Polda Metro Jaya untuk menanyakan kabar soal penangkapan WNA tersebut. Tiga orang tersebut adalah saksi atas penangkapan WNA tersebut. Tiga orang itu akan didampingi pengacara—pengacara tersebut menanti di polda—untuk mengurus WNA tersebut. Jika polda masih tetap tidak mengakui bahwa mereka menangkap WNA pada aksi kemarin setelah tiga orang saksi tersebut memberikan kesaksian, tim kuasa hukum akan memperkarakan permasalahan ini sebagai penculikan oleh Polda Metro Jaya, penculikan WNA. Mendadak di tengah jalan, kurang lebih 200 m dari letak Polda Metro Jaya, para saksi mendapatkan kabar bahwa WNA tersebut sekarang berada di Kantor Dirjen Keimigrasian. Akhirnya para saksi tersebut menuju kantor keimigrasian pusat.</p>
<p><strong>11. 30</strong></p>
<p>Para saksi tiba di kantor keimigrasian pusat. Mereka, para saksi, membenarkan bahwa WNA tersebut memang berada di sana. Mereka menanyakan kepada staff atau pegawai imigrasi mengenai WNA tersebut, yakni WNA itu dikirim ke kantor keimigrasian oleh siapa. Ternyata pegawai di sana mengatakan bahwa yang melimpahkan perkara WNA tersebut kepada kantor keimigrasian adalah pihak Polda Metro Jaya. WNA Polandia tersebut ketika ditanyakan keberadaannya sebelum dibawa ke kantor keimigrasian membenarkan hal tersebut, bahwa ia memang ditahan di polda.</p>
<p>WNA tersebut akhirnya diputuskan dideportasi oleh pihak keimigrasian. Dan, proses pendeportasian tersebut harus dilakukan secepatnya. Akhirnya, ditentukan bahwa besoknya, Sabtu, 03 Mei 2008, pukul 11.00, WNA tersebut harus berangkat atau dideportasi ke luar dari Indonesia, sesuai dengan jadwal tiket keberangkatannya.</p>
<p>Setelah memakan waktu enam jam, akhirnya para saksi dapat melobi pihak keimigrasian agar tidak menahan WNA tersebut, dengan jaminan UPC sebagai penjamin bahwa WNA tersebut tidak akan kabur selama dalam masa mengurusi pendeportasiannya. Jadi, tidak ditahan di sel dirjen keimigrasian; akan dilepaskan ketika sudah memasuki waktu berangkat ke bandara.</p>
<p>Selama masa pemeriksaan di polda, pihak polda banyak mengajukan pertanyaan yang berada di luar konteks aksi penangkapan dirinya, yakni aksi Hari Buruh Internasional. Seperti, apakah dia sudah pernah “merasakan” wanita Indonesia.</p>
<p><strong>:: Jaringan Anti-Otoritarian ::</strong></p>
<p>Sumber tulisan : <a href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=1799" target="_blank">IMC Jakarta</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2008/05/18/kronologi-penangkapan-mayday-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Feodalisme &amp; Kapitalisme</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 08:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[feodalisme]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalis]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[diambil dari milis ubur-ubur, milis anti-otoritarian nusantara &#8212;&#8212; FEODALISME &#38; KAPITALISME : Tentang transformasi mode produksi dan suprastruktur di wilayah2 pasca kolonial Kenapa feodalisme tidak seluruhnya terkikis dari Indonesia (Jawa?)? Kayanya ini adalah gejala dari negara-negara pasca kolonial. Beralihnya dari mode produksi feodal dan suprastruktur monarki absolut menuju mode produksi kapitalis dan superstruktur negara bangsa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>diambil dari <a href="http://groups.yahoo.com/group/ubur-ubur/" target="_blank">milis ubur-ubur</a>, milis anti-otoritarian nusantara</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>FEODALISME &amp; KAPITALISME : Tentang transformasi mode produksi dan suprastruktur di wilayah2 pasca kolonial</strong></p>
<p>Kenapa feodalisme tidak seluruhnya terkikis dari Indonesia (Jawa?)? Kayanya ini adalah gejala dari negara-negara pasca kolonial. Beralihnya dari mode produksi feodal dan suprastruktur monarki absolut menuju mode produksi kapitalis dan superstruktur negara bangsa melewati tahapan kolonialisme, lebih spesifik lagi kolonialisme Belanda untuk konteks Indonesia.</p>
<p>Ada perbedaan yang bisa jadi cukup fundamental dalam peralihan dari feodalisme ke negara bangsa, diantara negara bangsa di wilayah Eropa dan negara bangsa di wilayah pasca kolonial. Di Eropa, peralihan tersebut hanya dapat terjadi ketika monarki absolut dihabisi; sedangkan di wilayah pasca kolonial, peralihan ini menyisakan puing-puing monarki karena yang dihabisi bukanlah monarki, tapi rezim kolonial.</p>
<p><span id="more-187"></span>Kenapa rezim kolonial yang menjadi sasaran utama? Kelihatannya pembentukan identitas (pribumi versus asing) adalah salah satu faktor yang signifikan dalam perjuangan pembebasan nasional di wilayah pasca kolonial. Jadinya perjuangan pembebasan nasional terlalu bersemangat dalam perang identitas (dalam memerangi yang asing), hingga perjuangan ini agak luput untuk mentarget monarki-monarki sebagai aktor-aktor penindas juga.</p>
<p>Sejauh aku memahaminya, nilai-nilai budaya feodal itu paling kental berada di wilayah Jawa, terutama DIY dan Solo (?). Pemosisian kekuaan-kekuatan feodal merupakan faktor penting yang menentukan kadar eksistensinya seiring dengan waktu. Monarki yang paling pro aktif dalam perjuangan pembebasan nasional adalah Mataram, karena sultannya ngerti situasi politik dan berpolitik. Ketika banyak kerajaan-kerajaan lain plin plan apakah ingin mendukung kemerdekaan Indonesia, Sultan Mataram tanpa ragu mendukung kemerdekaan tersebut – karena dia tau situasi politik internasional dan akan terjadinya kesuksesan bagi perjuangan2 pembebasan nasional. Dia memperoleh hasil yang gemilang – dia masih memegang previlase-previlase monarki secara signifikan hingga saat ini. Tentunya dia lihai sekali ketika membuat konsensus-konsensus selama periode perjuangan pembebasan nasional. Sementara monarki-monarki yang samasekali tidak cerdas, yang tidak tau situasi politik, masih loyal pada rezim kolonial dan akhirnya tinggal nama saja dalam sejarah.</p>
<p>Lebih jauh lagi, ada kekhususan dengan Belanda sebagai penjajah. Tidak seperti rezim-rezim kolonial lain seperti Inggris, yang menghabis-habiskan waktu mereka untuk menghancurkan budaya feodal, dalam artian ingin membawa peradaban modern, atau tuan-tuan Prtugis &amp; Spanyol yang sangat gemar berdakwah, kolonial Belanda adalah rezim yang sangat efisien dalam urusan ekonomi dan tidak peduli dengan pemeradaban. Mereka lebih tertarik untuk memanfaatkan struktur yang ada dan mengintegrasikannya ke dalam matriks efisiensi akumulasi modal. Kira-kira artinya, Belanda itu tidak peduli dengan struktur kekuasaan feodal sejauh bisa diintegrasikan ke dalam kepentingannya. Mungkin ini kenapa budaya feodal masih bercokol cukup mantap di relung-relung tertentu dalam masyarakat Indonesia, karena memang tidak dihabisi, baik oleh penduduk lokal maupun oleh rezim kolonial.</p>
<p>..bagaimana feodalisme bisa bergandengan dengan kapitalisme? Jelas bisa. Seperti bagaimana kolonial Belanda mengintegrasikan struktur feodal ke dalam kapitalisme agrikulturnya dan industri ekstraktifnya.</p>
<p>Aku jadi ada pertanyaan lain:</p>
<p>1. bagaimana dengan Inggris, Belanda, Finlandia dan beberapa negara maju lain yang masih mempertahankan monarkinya? Tapi jelas, ada perbedaan signifikan dengan apa yang terjadi di Indonesia; perbedaan-perbedaan tentang signifikansi previlase2 feodal dalam konteks sosial&amp;politik.</p>
<p>2. Apakah feodalisme masih bercokol di seluruh Indonesia? atau hanya di wilayah-wilayah spesifik, mis Yogyakarta dan Solo, pulau Jawa pada umumnya?</p>
<p>3. (Mungkin ada kaitannya dengan pertanyaan #2) Udah ada beberapa postingan, tapi kayanya belum jelas definisi feodalismenya. Apakah feodalisme hanya kita pakai untuk merujuk pada mode produksi dan struktur kekuasaan feodal? Atau termasuk juga budaya? Kayanya sih mencakup semuanya aja ya??</p>
<p>Tj</p>
<p>p.s.. buat si sipil romantis: Aku pikir sejarah Indonesia hanya dimulai ketika ada cakrawala, konsepsi dan artikulasi tentang Indonesia sebagai negara bangsa. Kalao menurut Simon Philpott (bukunya “Meruntuhkan Indonesia”), itu mungkin terjadi sekitar awal abad ke 19, ketika sistem tanam paksa diberlakukan. Periode sebelumnya dikatakan sebagai sejarah masyrakat Nusantara. Bagiku ini masuk akal. kita ga akan ngebayangin kerajaan-kerajaan di Nusantara terutama dalam sejarah prakolonial merasa menjadi Indonesia kan? Sementara sejarah konvensional (yang dibajak untuk kepentingan pelegitimasian negara bangsa) cenderung mengatakan keseluruhan catatan kronologis tentang masyarakat Nusantara (dan lebih banyak lagi tentang monarki2nya) sebagai sejarah Indonesia. Semacam pengklaiman dalam diskursus sejarah nasionsentris tersebut &#8211; semakin panjang sejarah suatu bangsa, semakin kuat legitimasinya. Kayanya cukup penting juga pembedaan itu, dalam rangka &#8220;ngebangun&#8221; sejarah yang tidak nasionsentris.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>*FREEPORT*</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Sep 2007 10:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969. &#8220;Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya&#8221; (oleh Adjat Sudradjat) Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.antigold.gr/images/Freeport.jpg" target="_blank"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2007/09/freeport.jpg" alt="freeport.jpg" /></a><a href="http://www.safecom.org.au/images/freeport1.jpg" target="_blank"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2007/09/freeport1.jpg" alt="freeport1.jpg" /></a></p>
<p>Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969.<br />
&#8220;Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya&#8221; (oleh Adjat Sudradjat)</p>
<p>Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska sebab mereka mesti melawan suhu sedingin 0-4 Celsius, kabut, dan hujan. Mereka mendirikan kemah di pelataran Cartensz Weide. Mereka diterbangkan ke situ dari Timika menggunakan helikopter selama 40 menit.</p>
<p>Sementara itu, tiga orang kepala suku berhiaskan bulu burung, kalung merjan, dan tusuk hidung merayap menuju Ertsberg tiga hari tiga malam bersama bala tentaranya tanpa selembar benangpun melekat di badannya, tak peduli hawa sedingin es pun. Akhirnya, mereka sampai di perkemahan para pembor tersebut. Suasana tidak menyenangkan terjadi sebab tidak ada saling pengertian di antara tim Freeport dan suku setempat, maklum tidak ada yang saling mengerti bahasa masing2. Orang2 Indonesia di tim Freeport pun tak mengerti bahasa mereka sebab sebagian besar datang dari luar Papua.<br />
<span id="more-166"></span><br />
Keesokan harinya, saat para pekerja bangun tidur, mereka menemukan perkemahan sudah dipagari tonggak seperti salib digantungi berbagai bunga dan daun. Di tengah kecemasan itu, untung terpikir untuk memberi suku-suku Papua itu makanan. Makanan diterima dan suku2 itu pulang. Keesokan harinya datang lagi, tetapi kali ini untuk membantu tim mengangkati batu-batu dari Ertsberg. Lalu mereka pulang.</p>
<p>Kedatangan yang berikutnya, suku2 ini membawa seorang anak bernama Karel didikan misionaris. Anak ini bisa berbahasa Indonesia walaupun patah-patah. Akhirnya, terungkaplah bahwa keinginan suku2 ini yaitu mereka minta ganti rugi atas gunung mereka yang telah digali. Tentu saja suku2 ini tidak tahu bahwa di Jakarta kontrak pertambangan antara Pemerintah Indonesia dan Freeport telah ditandatangani setahun sebelumnya, 1966.</p>
<p>Minta ganti rugi ? Dengan serentak, sang superintendent Freeport tanpa segan-segan memberikan berbilah-bilah parang sebagai ganti Ertsberg. Ternyata, belasan parang itu diterima dengan sangat sukacita oleh para anggota suku. Seorang kepala suku lalu menyerahkan sebilah pisau batu kepada si &#8220;pembeli gunung&#8221; sebagai hadiah tanda sukacita. Lalu, si kepala suku menari-nari di depan tim Freeport sambil mengeluarkan bunyi seperti ribuan burung. Tangannya mencabut bulu cenderawasih di kepalanya dan mengacungkannya ke depan. Upacara ini diikuti dengan khidmat oleh seluruh anggota suku. Ketika ditanyakan kepada Karel apa arti upacara itu, dijawabnya bahwa itu adalah upacara agar Sang Hyang merelakan gunungnya digali dan sekaligus memberikan berkat kepada para pembeli gunung itu. Tak lama kemudian para suku pulang.</p>
<p>Dan, kita tahu Ertsberg yang menjulang pun digali habis tidak sampai 20 tahun (Adjat Sudradjat, 1996).</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MayDay 2007 in Review: Global Roundup</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/mayday-2007-in-review-global-roundup/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/mayday-2007-in-review-global-roundup/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2007 10:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/mayday-2007-in-review-global-roundup/</guid>
		<description><![CDATA[source : theagitator&#8217;s blog On Tuesday, May1, tens of millions of working people and their supporters took to the streets on International Workers’ Day to stand up for their rights and interests against the growing pressure of globalized corporate capitalism. In places as varied as Los Angeles and Istanbul, from San Luis Potosi to Zimbabwe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>source : <a href="http://theagitator.wordpress.com/2007/05/06/mayday-2007-global-roundup/" target="_blank">theagitator&#8217;s blog</a></p>
<p>On Tuesday, May1, tens of millions of working people and their supporters took to the streets on International Workers’ Day to stand up for their rights and interests against the growing pressure of globalized corporate capitalism. In places as varied as Los Angeles and Istanbul, from San Luis Potosi to Zimbabwe to Teheran, demonstrators were met with stiff, even brutal, repression from the ruling regimes. The zeitgeist of our time is clearly moving in the direction of a unity between globalized corporate interests and repressive national regimes. There is only one force that can counter this encroachment on liberty and equality, still best summed up in that venerable clarion call: “Workers of the World, Unite!” This past Tuesday, workers on every continent did just that, and my roundup of Global MayDay 2007 is in the extended copy.</p>
<p><span id="more-153"></span></p>
<p align="center"><a href="http://cpasa.blogspot.com/2007/05/watch-may-day-video-from-adelaide.html"><strong>Adelaide</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Adelaide.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=jc1LH8bv95g">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.cnt.es/sagunto/index_archivos/1deMayo2007.htm"><strong>Alicante</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/image18931.gif" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.ainfos.ca/ainfos336/ainfos29129.html"><strong>Ankara </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/photo-0093.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://athens.indymedia.org/front.php3?lang=el&amp;article_id=696900"><strong>Athens </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/dsc00331.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://indymedia.org.nz/newswire/display/72975/index.php"><strong>Auckland</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/dscf7351edit.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://barcelona.indymedia.org/newswire/display/301960/index.php"><strong>Barcelona</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/mani1mayounitaria10507.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://de.indymedia.org/2007/05/174855.shtml"><strong>Berlin</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/175215.png" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=qHrOi4kwQuA">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://movimientoira.blogspot.com/2007/05/resmen-primero-de-mayo.html"><strong>Bogota</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/PICT1563.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://movimientoira.blogspot.com/2007/05/resmen-primero-de-mayo.html">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.bostonmayday.org/index.html"><strong>Boston</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Boston.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.izquierda.info/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=3567"><strong>Buenos Aires</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/IMG_0787.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><a href="http://transpont.blogspot.com/2007/05/workers-of-world-relax.html">Camberwell</a> </strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/maypole.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.venezuelanalysis.com/news.php?newsno=2287"><strong>Caracas</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/venezuela2.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.dailytimes.com.pk/default.asp?page=2007%5C05%5C02%5Cstory_2-5-2007_pg4_8"><strong>Changwon</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://charlotteaction.blogspot.com/2007/05/over-500-rally-for-immigrant-rights-in.html"><strong>Charlotte</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.chicagotribune.com/news/local/chi-070501immigration-march,1,5324791.story?track=rss"><strong>Chicago</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Chicago.jpg" /></p>
<p align="center">Videos [<a href="http://www.youtube.com/watch?v=UFwrFhao0rg">1</a>] [<a href="http://www.youtube.com/watch?v=KQlyxydCSBg">2</a>]</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://estrecho.indymedia.org/newswire/display/68253/index.php"><strong>Cordoba</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/local029-1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indymedia.ie/article/82289"><strong>Cork</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/dscf4640.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indymedia.ie/article/82261"><strong>Dublin</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/mayday4.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.raisemyvoice.com/mayday07.html"><strong>Edmonton</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://intelligentsiya.blogspot.com/2007/05/journey-has-just-begun.html"><strong>Fiji</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Florence/Firenze</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/20070501_firenze_mayday01.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"> <a href="http://aaog.blogsport.de/2007/05/03/preisausschreiben/"><strong>Freiburg</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/175012.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=fb8K5mXqHmU"><strong>Gainesville</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.voanews.com/english/2007-05-01-voa55.cfm"><strong> Ghana</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://ovl.indymedia.org/news/2007/05/16341_comment.php#16353"><strong> Ghent/Gent</strong></a></p>
<p align="center"> <a href="http://www.youtube.com/watch?v=I99FfjTFlr0">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.yelah.net/news/20070501204601"><strong>Goteborg </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Goteborg.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"> <a href="http://www.metasynapse.de/herzog/udo/?p=256"><strong>Hamburg</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/480216665_fbe369e9b1.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://video.google.de/videoplay?docid=3774728481600539097">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.tbo.com/news/metro/MGBDKSX871F.html"><strong>Havana</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/far10-g.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Helsinki</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Helsinki.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=env9VHcmuH4">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><a href="http://ipsnews.net/news.asp?idnews=37570">Iran</a></strong></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.atilim.org/haberler/2007/05/01/1st_of_May__victory_of_the_working_class_in_Turkey.html"><strong>Istanbul</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/anarsi_taksimde5.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=KTKF5UVlkog">video </a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=2BdhMIVfk_E"><strong>Ithaca</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.alinteri.org/?p=4737"><strong>Izmir </strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/izmir_1mayis_07_4.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=1394"><strong>Jakarta</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/003a01a.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.yelah.net/news/20070502094452"><strong>Karlstad</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Karlstad.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.gorkhapatra.org.np/content.php?nid=17919"><strong>Kathmandu</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"> <a href="http://www.dgb-kern.de/"><strong>Kiel</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/20070501a.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"> <a href="http://liege.indymedia.org/news/2007/05/15878.php"><strong>Liege/Luik</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/--9.jpg" height="240" width="320" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=ajFPhWG0XfQ">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://dn.sapo.pt/2007/05/01/nacional/trabalhadores_precarios_crescem_como.html"><strong>Lisbon/Lisboa</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/precario1b.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=4nOXjsp-oWU">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://johnnyvoid.blogspot.com/2007/05/mayday-2007-round-up.html"><strong>London</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/London.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://xicanopwr.com/2007/05/may-day-violence-at-los-angeles-macarthur-park/"><strong>Los Angeles</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/29524816.jpg" /></p>
<p align="center">videos [ <a href="http://one.revver.com/watch/254524/flv">1</a> ] [ <a href="http://www.liveleak.com/view?i=90c_1178121179">2</a> ]</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.cnn.com/2007/WORLD/asiapcf/05/01/macau.protest.ap/index.html"><strong>Macau</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/2maymacau1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indymedia.org.uk/en/2007/05/369701.html"><strong>Madrid </strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://estrecho.indymedia.org/newswire/display/68249/index.php"><strong>Malaga</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/mayday07.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.dailymotion.com/video/x1uley_maydaysur07mani">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.yelah.net/news/20070501184756"><strong>Malmo</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Malmo.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.dailymotion.com/video/x1uley_maydaysur07mani"><br />
</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong> <a href="http://www.cub.it/article/1185/mayday007-1-maggio-2007-milano-porta-ticinese-ore-1500-i-diritti-nel-lavoro-il-diritto-alla-continuita-del-reddito-guarda-nella-sezione-foto-la-mayday-007-a-milano">Milan/Milano</a></strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Milan.jpg" height="280" width="420" /><br />
videos  [ <a href="http://www.youtube.com/watch?v=WcG4XcN8nvY">1</a> ] [ <a href="http://www.youtube.com/watch?v=yJtcZLpIHMw">2</a> ] [ <a href="http://www.youtube.com/watch?v=qy7E4xtDo1Y">3</a> ]</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Moscow</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/_42870731_moscow_416_afp.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.hindu.com/2007/05/02/stories/2007050219240500.htm"><strong>New Delhi</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/2007050219240501.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.1010wins.com/pages/408477.php?contentType=4&amp;contentId=459168"><strong>New York </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/514398.jpg" height="280" width="420" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=8RstfALrC1s">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.socialistparty.org.uk/2007/484/index.html?id=np1174.htm"><strong> Nigeria</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indymedia.org.uk/en/regions/nottinghamshire/2007/05/369864.html"><strong>Nottingham</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/369728.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><a href="http://cml.vientos.info/es/node/8729">Oaxaca</a></strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/1mayomegamarchaOaxaca.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://chiapas.indymedia.org/local/webcast/uploads/1_de_mayo.mp4">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Panama</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/panama1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.yelah.net/news/20070503042458"><strong>Paris </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Paris1-1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://nyc.indymedia.org/en/2007/05/85725.shtml"><strong>Philippines</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/85726.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.azcentral.com/arizonarepublic/news/articles/0502march0502.html"><strong>Phoenix</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/marcha_004.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Port-au-Prince</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/haiti2.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://portland.indymedia.org/en/2007/05/358679.shtml"><strong>Portland </strong></a></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=UnWxXSoeNmo">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.ainfos.ca/ainfos336/ainfos29136.html"><strong>Poznan </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Poland5.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=X5_LYkErbHU"><strong>Providence</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.izquierda.info/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=3571"><strong>Quito</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/ecuador2.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=txqAWs2HM68">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>San Francisco</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/may20120049.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=JGXV9K5jTwQ">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://sanluiscapital.laotramx.org/wordpress/"><strong>San Luis Potosi</strong> </a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"> <strong>San Salvador</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/elsalvador1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=0xbZSTXiHRc">Santa Ana </a> </strong></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indybay.org/newsitems/2007/05/03/18408927.php"><strong>Santa Cruz</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/stop-exploiting_5-1-07.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.izquierda.info/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=3571"><strong>Santiago</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/chile2.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://atonais.blogspot.com/2007/05/1-de-maio-em-so-paulo-aponta-dia-23.html"><strong>Sao Paulo</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/SaoPaulo.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.yakima-herald.com/page/dis/288789535174316"><strong>Seattle</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/450immigration02_ms_naranjo.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=Dom8YBYttMI">video</a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.cnt.es/sevilla/ait/modules/news/article.php?storyid=1293"><strong>Seville</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/1mayo2007_001.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indymedia.org.uk/en/2007/05/369268.html"><strong>Sheffield</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/369282.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://bulgaria.indymedia.org/newswire/display/16136/index.php"><strong>Sofia</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/19_8.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.theherald.co.za/herald/news/n03_02052007.htm"><strong>South Africa</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/mayours2.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.antifasthlm.org/nyheter/1maj.php"><strong>Stockholm</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/4.jpg" height="236" width="320" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=foImzNgDNcI">video </a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://aaog.blogsport.de/2007/05/02/1mai-in-strasbourg/"><strong> Strasbourg</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/174976.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://de.indymedia.org/2007/05/174816.shtml"><strong>Stuttgart</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/174959.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Tarragona</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Tara1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.itar-tass.com/eng/level2.html?NewsID=11489251&amp;PageNum=0"><strong>Tbilisi </strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong> Tegucigalpa</strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/honduras2.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.ainfos.ca/ainfos336/ainfos29130.html"><strong>Tel Aviv</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://canarias.indymedia.org/newswire/display/14703/index.php"><strong>Tenerife</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/1mayo1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.1m2007en.blogspot.com/"><strong>Thessaloniki </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Salonika.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.globalvoicesonline.org/2007/05/05/japan-precariat-may-day-march-sparks-debate/"><strong>Tokyo</strong></a></p>
<p align="center"> <img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/japan.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://de.indymedia.org/2007/05/175163.shtml"><strong>Tubingen</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/175176.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://arizona.indymedia.org/news/2007/05/57240.php"><strong> Tucson</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/05.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.repubblica.it/2007/04/sezioni/cronaca/primo-maggio/sindacati/sindacati.html"><strong>Turin/Torino</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/phot_10285922_38110.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.yelah.net/news/20070502122643"><strong>Umea</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Umea.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.yelah.net/news/20070501225222"><strong>Uppsala </strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.amoryrabia.org/cntvalladolid/spip.php?article387"><strong>Valladolid</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/1_Mayo_2007_12.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://no-racism.net/article/2071/"><strong>Vienna/Wien </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/Vienna.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indybay.org/newsitems/2007/05/03/18408890.php"><strong>Watsonville</strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/1.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Wellington </strong></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/100_1983.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.cnt.es/aragon/?p=296"><strong>Zaragoza </strong></a></p>
<p align="center"><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/1Mayo_zaragoza_b.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.zimbabwejournalists.com/story.php?art_id=2212&amp;cat=1"><strong>Zimbabwe</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://www.indymedia.org.uk/en/2007/05/369511.html"><strong>Zurich</strong></a></p>
<p align="center"><a href="http://www.indymedia.org.uk/en/2007/05/369511.html"></a><img src="http://i8.photobucket.com/albums/a34/PeachBasket/369513.jpg" /></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>*********MayDay Music Videos*********</strong></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=3rKycrmYjN8"><strong>Los Angeles </strong></a></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=EjRcGKlS3xk"><strong>Berlin</strong></a></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>******************</strong></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><em><strong>iViva el Primero de Mayo!</strong></em></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/mayday-2007-in-review-global-roundup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Barisan Rakyat Oaxaca Mencapai Mexico City</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Oct 2006 17:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/</guid>
		<description><![CDATA[Mexico City &#8211; Mereka telah menempuh 480 kilo meter selama 19 hari dan melalui 25 kota untuk tiba di Ibu Kota. Dewan Masyarakat Oaxaca (APPO) dan organisasi guru SNTE divisi 22 menuduh Gubernur Oaxaca, Ulises Ruiz terpilih secara tidak sah dan menggunakan cara-cara brutal untuk menindas protes masyarakat. Dalam demonstrasi masyarakat yang telah berlangsung sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="327" height="216" id="image109" alt="oaxaca" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2006/10/oaxaca.jpg" /></p>
<p>Mexico City &#8211; Mereka telah menempuh 480 kilo meter selama 19 hari dan melalui 25 kota untuk tiba di Ibu Kota. Dewan Masyarakat Oaxaca (APPO) dan organisasi guru SNTE divisi 22 menuduh Gubernur Oaxaca, Ulises Ruiz terpilih secara tidak sah dan menggunakan cara-cara brutal untuk menindas protes masyarakat.</p>
<p>Dalam demonstrasi masyarakat yang telah berlangsung sejak bulan Mei, 5 pejuang telah gugur di tangan aparat keamanan Meksiko.</p>
<p>Sementara, Gubernur Ruiz menyatakan tidak bertanggung jawab atas kekerasan yang dituduhkan dan menolak untuk turun dari jabatannya.</p>
<p>Demonstrasi yang bermula dari tuntutan upah layak par aguru berkembang menjadi pendudukan kota Oaxaca dan perebutan kekuasaan</p>
<p>The demonstrators have walked from Oaxaca city, waving banners and shouting slogans.</p>
<p>Aksi berjalan kaki ke Ibu Kota ini dimaksudkan untuk menekan Senat agar mendesak Ruiz mundur dari jabatan.</p>
<p>sumber : <a target="_blank" href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=1080">IMC Jakarta</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=n" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapitalisme : Penyebab Kemiskinan dan Pengangguran !</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/kapitalisme-penyebab-kemiskinan-dan-pengangguran/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/kapitalisme-penyebab-kemiskinan-dan-pengangguran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 May 2006 06:45:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/kapitalisme-penyebab-kemiskinan-dan-pengangguran/</guid>
		<description><![CDATA[SELALU MENYEBARKAN KEMISKINAN Kapitalisme berlaku bak seorang yang baik hati yang berkata, “Saya begitu cinta terhadap orang miskin, sehingga saya berpikir bahwa tidak pernah ada cukup banyak orang miskin.” Di Brazil, sistem ini membunuh ribuan anak setiap tahun akibat penyakit dan kelaparan. Dengan atau tanpa proses pemilihan, kapitalisme adalah anti demokrasi, karena mayoritas orang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SELALU MENYEBARKAN KEMISKINAN</strong></p>
<p>Kapitalisme berlaku bak seorang yang baik hati yang berkata, “Saya begitu cinta terhadap orang miskin, sehingga saya berpikir bahwa tidak pernah ada cukup banyak orang miskin.” Di Brazil, sistem ini membunuh ribuan anak setiap tahun akibat penyakit dan kelaparan. Dengan atau tanpa proses pemilihan, kapitalisme adalah anti demokrasi, karena mayoritas orang menjadi terpenjara oleh kebutuhan-kebutuhan.</p>
<p>Empat-perlima penduduk dunia ‘secara resmi’ hidup dalam kemiskinan, dan sistem ini tetap mempertahankan mereka pada posisi kemiskinan itu. Sebagian besar dari Dunia Ketiga dihambat untuk berkembang maju secara ekonomi. Negara-negara Dunia Ketiga dibuat tergantung pada bantuan dari negara-negara industri, dan kekayaan alam mereka dikering tandaskan oleh kekuatan-kekuatan imperialis ini. Pada tahun 1990, Dunia Ketiga menerima bantuan resmi sebesar 44 milyar dolar AS. Di tahun yang sama, 165 milyar dollar AS mengalir dari Dunia Ketiga ke negara-negara imperialis hanya untuk melayani pembayaran hutang luar negeri.</p>
<p><span id="more-70"></span>Teknologi dan uang yang diperlukan untuk proses industrialisasi di Dunia Ketiga dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan transnasional di negara-negara kaya. Kurang dari 700 perusahaan-perusahaan seperti ini mengontrol hampir keseluruhan produksi dunia. Untuk mengumpulkan bahan-bahan mentah dan menjual produk-produk pertanian ke negara-negara maju, ekonomi-ekonomi Dunia Ketiga harus bekerja sama dengan perusahaan transnasional yang mengambil sebagian besar keuntungan. Kemudian produk-produk jadi, yaitu barang-barang manufaktur, dijual kembali ke Dunia Ketiga.</p>
<p>Kontrol transnasional atas tekhnologi dan keuangan memungkinkan negara-negara maju untuk mendominasi industri manufaktur. Jika itupun tidak cukup, maka mereka dengan angkuh akan menggunakan blok-blok perdagangan dan kekuatan militer untuk memaksakan kehendak. Ekonomi Dunia Ketiga menyediakan buruh dan bahan mentah murah, dan mengkonsumsi apa yang dijual oleh perusahaan-perusahaan multinasional tersebut. Untuk tetap kompetitif, perusahaan-perusahaan itu semakin membayar murah untuk Dunia Ketiga dan menuntut harga tinggi untuk bahan-bahan jadi yang mereka produksi. Maka wajarlah yang miskin menjadi semakin miskin. Pada permulaan dekade ini, pendapatan rata-rata penduduk Dunia Ketiga hanya 6% dari besarnya pendapatan rata-rata penduduk di negara-negara imperialis kaya. Jika datang krisis ekonomi, maka mereka menggenjot persaingan yang lebih ketat demi keuntungan perusahaan, dengan menyalahkan pertambahan jumlah penduduk ‘negara paling terbelakang’. Tahun 1990, 11 negara lagi masuk kedalam daftar ini (sehingga menjadi 42 negara).</p>
<p>Hanya ada satu negara Dunia Ketiga tidaklah cukup. Kapitalisme perlu menyebarkan kemiskinan seluas mungkin. Dan saat ini sudah ada ‘Dunia Ketiga’ dalam Dunia Pertama.</p>
<p>Di Dunia Pertama yang kaya, kini semakin banyak jumlah pengangguran baru dan buruh yang diupah rendah. Di Australia terdapat dua juta orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, dan dua juta orang yang sebenarnya ingin bekerja jika bisa. Di AS, kemiskinan pada 1990an, kini kembali ke tingkat 1960an. Seperempat jumlah penduduknya hidup dalam kemiskinan; bukan hanya para penganggur. Sepertiga dari ratusan juta nagkatan kerja AS yang kuat adalah buruh yang diupah rendah, yang bertahan hidup hanya sedikit diatas garis kemiskinan resmi.</p>
<p><strong>MENGHASILKAN PENGANGGURAN</strong></p>
<p>Makin dan makin banyak orang menjadi miskin, karena mereka menganggur (tidak bekerja). Tetapi mengapa orang yang mencari pekerjaan tidak bisa mendapatkan pekerjaan? Tentu saja sebetulnya ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan. Ada banyak rumah, gedung sekolah, dan rumah sakit yang perlu dibangun; ada banyak pakaian yang perlu dibuat; daerah rekreasi yang perlu dikembangkan; bahan pangan yang perlu ditumbuhkan; lahan-lahan gersang yang perlu dihijaukan; dan sungai-sungai tercemar yang perlu dibersihkan. Dan tentu saja semakin banyak orang yang bekerja, semakin banyak pula yang diperlukan untuk membayar mereka, yaitu harus disediakan pula lebih banyak rumah, pangan, sandang, dan layanan-layanan lainnya. Inilah semua yang diwaklili oleh uang. Adalah tugas yang mendesak untuk menyesuaikan jumlah penduduk dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Lalu apa persoalannya ?</p>
<p>Diantara orang-orang yang ingin bekerja dan mesin-mesin yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan, terdapat sekelompok kecil kapitalis, yang dikenal sebagai orang bisnis (pengusaha). Usaha mereka adalah untuk menghasilkan uang. Dan anda tidak bisa menggunakan mesin yang mereka miliki, kecuali jika digunakan untuk menghasilkan uang bagi mereka. Mereka lebih memilih untuk menjalankan pabrik-pabrik mereka dengan kapasitas 50 atau 70%, untuk mempertahankan agar produk-produk yang dihasilkan tetap langka dan mereka bisa menjualnya dengan harga tinggi. Dan para kapitalis ini perlu mempertahankan adanya pengangguran agar upah pekerja bisa tetap rendah. Buruh yang berjuang untuk mendapatkan upah yang lebih baik setiap saat bisa mereka pecat, dan digantikan dengan calon buruh baru yang telah menunggu dalam antrian panjang. Kapitalisme tidak bisa membiarkan buruh bangunan pergi bekerja, dan membangun rumah cukup untuk semua orang.</p>
<p>Pengangguran adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam sebuah masyarakat yang didasarkan atas pencarian keuntungan. Tujuan utama dari produksi bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, melainkan untuk memproduksi secepat mungkin dan semurah mungkin. Dengan cara ini, perusahaan-perusahaan bisa memaksimalkan keuntungan mereka di pasaran.</p>
<p>Dalam perjalanan prosesnya, kapitalisme memproduksi terlalu banyak: terlalu banyak pangan, terlalu banyak pakaian, terlalu banyak gedung, terlalu banyak mebel, dst. Kemudian ‘mau tidak mau’ mereka harus mengalami krisis untuk melepaskan diri dari perusahaan-perusahaan yang paling tidak mampu bersaing, dan menggenjot perolehan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan lainnya. Dan kita harus menanggung itu semua dalam bentuk dipotongnya upah buruh dan standar hidup yang semakin rendah.</p>
<p>Persoalannya bukanlah bahwa buruh memproduksi lebih banyak dari yang dibutuhkan, melainkan lebih banyak dari yang bisa dijual untuk mendapatkan keuntungan. Ini menyebabkan tekanan agar harga turun, yang mengancam perolehan keuntungan bagi kapitalis lainnya. Dan ketika para kapitalis tidak bisa menjual produk-produk mereka dengan harga yang menghasilkan keuntungan, maka mereka akan memotong produksi. Memotong produksi berarti mereka hanya membutuhkan sedikit buruh.</p>
<p>Tekhnologi baru juga berarti pengangguran. Bukan karena mereka memang begitu seharusnya, namun ditangan para kapitalis, tekhnologi bukan digunakan untuk membuat semua orang bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit untuk mendapatkan bayaran yang sama, melainkan digunakan untuk menurunkan beban upah yang harus dibayarkan kepada para buruh.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=F" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/kapitalisme-penyebab-kemiskinan-dan-pengangguran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uang : Peranannya Dalam Masyarakat dan Kehidupan</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/uang-peranannya-dalam-masyarakat-dan-kehidupan/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/uang-peranannya-dalam-masyarakat-dan-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 May 2006 05:25:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/uang-peranannya-dalam-masyarakat-dan-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Film “Mary Poppins” (1964) yang dibintangi oleh Julie Andrews adalah film yang mentertawakan soal uang dan para bankir, seraya merayakan kebebasan dan kebahagiaan dari nanny, pengamen jalanan yang bernama Bert (diperankan oleh Dick van Dijk), pembersih cerobong asap, pengemis dan merpati-merpati di katedral, serta anak-anak kecil dengan mata yang masih jernih. Disitu ada adegan orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Bakar uangmu!!!" class="imagelink" href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2006/05/dollar-burn.jpg"><img width="150" border="0" align="left" alt="Bakar uangmu!!!" id="image71" title="Bakar uangmu!!!" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2006/05/dollar-burn.jpg" /></a>Film “Mary Poppins” (1964) yang dibintangi oleh Julie Andrews adalah film yang mentertawakan soal uang dan para bankir, seraya merayakan kebebasan dan kebahagiaan dari nanny, pengamen jalanan yang bernama Bert (diperankan oleh Dick van Dijk), pembersih cerobong asap, pengemis dan merpati-merpati di katedral, serta anak-anak kecil dengan mata yang masih jernih. Disitu ada adegan orang terbahak-bahak dan mereka yang terbahak-bahak akan ditinggikan. Kemudian muncul pertanyaan, yang mungkin cukup fundamental untuk diajukan sebagai pertanyaan dalam kehidupan modern masyarakat, terutama masyarakat urban. Masalahnya, kita tak pernah memikirkan berbagai hal-hal yang kecil dan sudah terlanjur dianggap sebagai sebuah kewajaran dalam hidup kita.</p>
<p>Tapi kini, apabila kalian memiliki waktu lebih untuk membaca dan berpikir mengenai hal-hal yang terlanjur dianggap sepele, mari kita lihat secara lebih detail mengenai apa itu uang dan bagaimana peranannya dalam mengatur hidup kita sehari-hari.</p>
<p><span id="more-69"></span><strong>Uang, hukum dan nominalisme</strong></p>
<p>Uang sering didefinisikan sebagai alat pertuaran, alat pembayaran yang “sah” dengan mana terjadi transfer nilai dari satu pihak ke pihak lain. Satu pihak menyerahkan produk berupa barang atau jasa, pihak lain (yang membayar) menukar “nilai” produk itu dalam bentuk uang. Pertukaran “nilai” itu bisa juga dalam bentuk barter, namun sesuai dengan perkembangan dalam sejarah manusia, lambat laun manusia belajar bahwa ternyata hal tersebut tidak praktis. Ada proses pertukaran yang lebih praktis: menggunakan uang.</p>
<p>Uang bermutu tinggi ialah uang yang amat dipercayai nilainya sebagai alat tukar. Sejak zaman kuno, peranan pemerintah merupakan salah satu penentu dari terpeliharanya mutu tinggi dari suatu jenis mata uang. Aristoteles, dianggap sebagai perintis teori tentang pengelolaan uang oleh pemerintah. Dalam karyanya beritel “Ethica Nichomachea”, ia menulis: “Money has become by convention ‘money’ (nomina)—because it is exists not only by nature but by law (nomos) and it is in our power to change it and make it useless”. Nilai uang itu tidak ditentukan secara kodrati, melainkan ditentukan oleh hukum yang dibuat oleh manusia sendiri. Kita masih ingat bukan, bagaimana nilai rupiah berubah (turun) dalam kaitannya dengan dollar, adalah sebagai akibat dari keputusan pemerintah, baik dalam sanering (kasus Indonesia tahun 1959 dan 1966) maupun devaluasi (kasus tahun 1983 dan 1986). Nilai nominal uang kitapun ditentukan oleh pemerintah, terlepas dari nilai intrinsiknya. Hukum pemerintah (nomos) memberi nama (nomina) kepada uang (nomisma). Nomos memberi nomina kepada nomisma.</p>
<p>Sejarah uang sejak jaman kuno penuh dengan kasus-kasus pemerintah yang disibukkan dengan teori nominal tentang uang ini. Patologi uang untuk sebagian besar ialah sejarah nominalisme dalam tindakan. Uang adalah perwujudan dari filsafat “nominalisme”. Dalam bertransaksi dengan uang berlaku adagium nominalisme yang dikutip pada akhir novel terkenal Umberto Eco yang bertitel “The Name of the Rose” yaitu: “stat rosa pristina nomine nomina nuda tenemus”, atau dalam terjemahannya kira-kira begini, bunga mawar telah ada jauh sebelum nama ‘mawar’ itu ada, namun kita selalu berpegang pada namanya belaka dan mengesampingkan bunga mawar itu sendiri. Secara intrinsik, selembar uang Rp. 100.000,- mungkin lebih murah dari selembar uang Rp. 20.000,- tetapi kita sudah terbiasa untuk berpegang pada ‘nama’nya saja, bahwa seratus ribu adalah lebih bernilai daripada duapuluh ribu. Sesudah era barter, memang kemudian muncul ‘uang komoditi’, dimana salah satu bentuk komoditi (misalnya emas) dijadikan alat tukar standar. Tetapi kemudian yang lebih populer ialah uang fiat, yaitu uang yang nilainya dinyatakan oleh pemerintah yang dianggap sah tanpa ada fondasinya dalam uang standar dan tanpa nilai intrinsik atau nominalnya jauh di atas nilai intrinsik yang tak seberapa dan secara legal memiliki daya kekuatan sebagai alat tukar.</p>
<p>Masalahnya, nominalisme ini dapat membawa pada kemerosotan nilai uang sebagai “alat tukar” dan “penyimpan nilai” sedemikian rupa hingga pada tidak bernilainya uang saa sekali. Kita mengalami krisis moneter semacam ini pada paruh kedua tahun 1997 dan seterusnya hingga kini. Kalau pada bulan Juli 1997 orang yang memiliki upah kerja Rp. 5.000.000,- itu sama dengan yang memiliki upah lebih dari 2000 USD, maka pada bulan Juni 2004, upah tersebut menjadi sekitar 550 USD saja. Bahkan seandainya upah dalam rupaih naik dua kali lipat menjadi Rp. 10.000.000,- misalnya, maka jumlah tersebut tetap hanya bernilai setengah dari upah bulan Juli 1997. setelah tujuh tahun bekerja, maka upah dalam rupiah naik dua kali, namun bila dikurskan ke dollar akan turun menjadi setengahnya. Orang-orang yang hidup dar gaji dan upah adalah mereka yang paling menderita akibat krisis moneter yang diakibatkan oeh berlakunya nominalisme dalam sistem per-uang-an ini.</p>
<p>Mungkin perlu dilihat juga sifat saling keterkaitannya dari ‘rezim moneter’ dan ‘rezim politik’ ini. Kredibilitas moneter dan kredibilitas politik memiliki hubungan yang timbal balik. Kredibilitas politik untuk sebagian besar berisi legitimiasi politik (misalnya dengan diadakannya Pemilu) dan supremasi hukum. Karena itu, nominalisme uang berhubungan dengan diskursus dan relasi kekuasaan. Atau dengan kata lain, nominalisme uang lebih merupakan nominalisme postmodern, bukannya nominalisme Abad Pertengahan. Nominalisme postmodern ini sifatnya publik atau komunitarian, berhubungan dengan diskursus dan relasi kekuasaan yang senantiasa menyertainya.</p>
<p><strong> Uang sebagai relasi sosial</strong></p>
<p>Sejauh pengetahuan kami, satu-satunya buku yang membahas soal uang adalah yang berjudul “Philosophie des Geldes” (Filsafat Uang) yang ditulis oleh Georg Simmel, seorang filsuf dan sosiolog berkebangsaan Jerman yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Berlin.</p>
<p>Salah satu dalil pokok dari filsafat Simmel ialah bahwa “semua hal harus dianggap saling terhubung atau masing-masing merupakan fungsi dari hal yang lain”. (Pandangan ini biasa disebut ‘relasionisme’, yang kadang dimisinterpretasikan dengan ‘relativisme’. Padahal relasionisme hanya menggarisbawahi bahwa semua yang ada saat ini terhubung dengan hal-hal lain, sementara relativisme menggarisbawahi kenisbian atau ketidakmutlakan dari hal-hal yang ada, utamanya kebenaran, etika dan keindahan). Relasionisme Simmel bertolak dari asumsi dasar filosofisnya yang menganggap bahwa realitas atau kenyataan itu pada hakekatnya ialah gerak, perubahan terus menerus, sebuah proses. Akan tetapi hakekat kenyataan sebagai sesuatu yang senantiasa mengalir ini, sebagai ‘gelombang’ atau ‘vibrasi’ dari energi menurut novel “Celestine Prophecy” karya James Redfield, hanya dapat ditangkap oleh manusia apabila intelek dan akal budi manusia mengejar pengetahuan adalah demi pengetahuan itu sendiri. Kebanyakan manusia menggunakan intelek atau akal budinya untuk mencari pengetahuan demi alasan-alasan pragmatis atau instrumental ini, realitas tampil sebagai fenomena yang solid, yang telah fix, yang dapat disebut sebagai ‘substansi’. Manusia selalu beranggapan bahwa realitas adalah ‘apa yang tetap’, ‘yang tak berubah’, yang kelak disebut ‘substansi’ itu tadi. Seorang filsuf modern, Rene Descartes, misalnya, sangat menggaris bawahi konsep substansi ini sebagai “sesuatu yang untuk menjadi ada, tidak membutuhkan sesuatu yang lain lagi”. Konsep ini bertentangan dengan ‘relasionisme’. Pergeseran ‘substansialisme’ ke ‘relasionisme’ ini juga dapat diamati dalam pergeseran teori fisika: dari Newton ke Einstein, misalnya.</p>
<p>Pandangan dasar ini sangat tampak dalam uraian Simmel tentang masyarakat dan tentang uang. Masyarakat, bagi Simmel, adalah jumlah total interaksi dan saling ketergantungan antar individu, adalah jumlah ‘gerak’ dan ‘aliran’. Namun, kita sudah terbiasa untuk sering menganggap masyarakat itu sebagai sebuah ‘organisme’, sebagai ‘substansi’, sebagai ‘entitas yang utuh’, padahal—padahal itu semua hanya imagined community.</p>
<p>Begitu juga uang. Bagi Simmel, uang bukanlah ‘substansi’ yang pada dirinya sendiri bernilai dan karenanya dapat ditukarkan dengan apa saja. Tidak. Uang pada hakekatnya ialah relasi, yakni relasi pertukaran, yang diwujudkan secara jasmaniah. Uang, dengan kata lain ialah sebuah simbol dari relasi pertukaran.</p>
<p>Ini sesuai dengan definisi uang menurut John Eatwell, Murray Mullgate dan Peter Newman, bahwa: “Money is a social relation. Like the meaning of a word, or the proper form of a ritual, it exists as a part of a system of behaviour shared by a group of people. Thought it is the joint creation of a whole society, money is external to any particular individual, a reality as unyielding to an individual’s will as any natural phenomenon.” (The New Palgrave: A Dictionary of Economics). Untuk memahami sistem hubungan sosial dimana uang memainkan peranan penting, kita harus memakai perspektif historis komparatif. Sifat khas uang hanya dapat dilihat bila sistem sosial kita dibandingkan dengn sistem sosial yang tidak melibatkan uang. Analisis Karl Marx tentang produksi komoditi memberi kita perspektif itu.</p>
<p>Dalam setiap masyarakat, orang haruslah berproduksi (memproduksi sesuatu) agar dapat bertahan hidup dan mengembangkan diri. Namun cara berproduksi atau berhubungan dalam produksi itu sebenarnya dapat diorganisir melalui berbagai cara yang berbeda satu sama lain. Salahs atu dimensi yang membedakan cara-cara berproduksi ini ialah sejauh mana produk yang dihasilkan itu dikontrol oleh individu-individu pemili (perodusen) yang bertindak berdasarkan kepentingan pribadinya. Dalam sistem produksi komoditi, suatu produk yang dihasilkan ialah ‘hak milik’ seorang pemilik, yang dapat ditukarkannya dengan produk yang dimiliki orang lain, mula-mula dengan sistem barter, lalu melalui uang komoditi, dan saat ini akhirnya dengan nominalisme.</p>
<p>Sebagai seorang sosiolog, Simmel juga meletakkan uang dalam perspektif sosiologi. Yang menarik dan relevan disini ialah pernyataan bahwa uang memperbesar kebebasan individu dalam masyarakat dan itu memberi keleluasaan individu untuk, katakanlah, mengaktualkan diri. Semakin luas lingkup sosial, semakin terdiferensiasi masyarakat, semakin ‘terspresialisasi’ pula ‘kewajiban-kewajiban sosial’ yang harus dijalani oleh individu. Bila lingkup sosial kecil, setiap anggota harus mampu mengerjakan banyak hal, diferensiasi dan spesialisasi krja hampir tak ada. Semua orang harus mengerjakan semua. Uang memperluas lingkup sosial karena sifatnya yang ‘impersonal’, karena itu berhubungan dengan semakin ringannya kewajiban sosial.</p>
<p>Selain itu, uang dapat menjadi substitusi bagi ‘kewajiban-kewajiban sosial’, setidaknya sampai tingkat tertentu. Misalnya, kakak ipar saya menikahkan anaknya di Bali atau Kalimantan sementara saya tinggal di Jawa, ‘kewajiban sosial’ saya cukup terpenuhi dengan mengirimkan ongkos transportasi sebagai kado (katakanlah Rp. 1.000.000,- termasuk menginap di hotel semalam) daripada saya tetap wajib hadir in person dan memberi kado ala kadarnya (katakanlah “yang lazim” Rp. 100.000,-).</p>
<p>Kita dapat merumuskan, bahwa dengan pemilikan uang terjadi apa yang kini disebut sebagai leisure time, yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk aktualisasi diri. Masalahnya kini, salah satu isu yang berkembang dalam dunia bisnis dewasa ini adalah industri jasa yang fokus utamanya adalah pada leisure time itu sendiri. Di Amerika, majalah “Fortune” pernah membahas mengenai adanya semacam mode semi-retirement di kalangan eksekutif muda. Itu salah satu bukti bahwa uang dapat memperlonggar kewajiban untuk ‘mencari nafkah’ sebagai salah satu ‘kewajiban sosial’. Contoh lain misalnya adalah yang sering terjadi di kompleks-kompleks perumahan urban dewasa ini di Indonesia, tugas ronda atau tugas membuang sampah yang notabene merupakan salah satu ‘kewajiban sosial’, kini dapat dihindari hanya dengan membayarkan uang dalam jumlah tertentu.</p>
<p>Kita sering mendengar pepatah time is money, waktu adalah uang. Namun bagi orang yang dapat memanfaatkan uang (bukan dimanfaatkan oleh uang), mungkin kebalikannyalah yang terjadi. Money is time, uang adalah waktu. Money is time and energy. Individu yang tidak perlu lagi dipusingkan oleh uang, apapun alasannya, adalah mereka yang dapat secara leluasa bermain-main, dengan apapun, baik itu dengan kata-kata (menulis puisi, novel ataukah cerpen), dengan warna (melukis) atau dengan dunia nyata (berpetualang) atau bermain dengan ide-ide (berfilsafat), atau kalau kata Mary Poppins: “Supercalifragilisticexcepialidocious”.</p>
<p><strong> Sikap etis terhadap uang: dari Aristoteles ke Fromm</strong></p>
<p>Dalam “Ethica Nichomachea”, Aristoteles juga membedakan tiga sikap manusia terhadap uang. Sikap yang seimbang dan etis sebagai “sikap murah hati”, sikap yang merupakan ekses sebagai “sikap boros”, dan sikap yang merupakan kekurangan sebagai “sikap pelit”. Sikap murah hati ialah sikap yang dapat memberikan uang atau apapun yang dapat diuangkan kepada pihak yang tepat dan mau menerima dari pihak yang tepat. Tekanan diberikan pada kata “memberi”, karena ia bermakna lebih aktif daripada kata “menerima”. Sebaliknya sikap pelit memberi tekanan pada kata “menerima” saja.</p>
<p>Erich Fromm, seorang dari generasi pertama Frankfurt School, yang sering dianggap sebagai pakar psikologi sosial, mengembangkan etika humanisme yang antara lain merupakan persenyawaan dari etika Aristoteles, psikoanalisis Freud dan filsafat sosial Marx. Sikap yang sehat menurut Fromm adalah sikap generosity atau sikap murah hati. Sikap ini berhubungan dengan biophily, kecenderungan kepada kehidupan, kepada semua yang hidup, tumbuh dan berkembang, mengalir, bergerak. Orang-orang dari ‘kelas atas’ dan ‘kelas bawah’lah yang memiliki kecenderungan murah hati, atau bahkan juga boros.</p>
<p>Kelas atas, karena mereka memiliki sumber yang berlimpah ruah. Kelas bawah, karena mereka tidak memiliki kecemasan akan “turun kelas” dan tidak melihat kemungkinan untuk “naik kelas”. Nah, kelas menengah, terutama kelas menengah bawah inilah yang, menurut Fromm, paling cenderung untuk menjadi pelit. Mereka berdisiplin diri dengan sangat tidak manusiawi dan sangat pelit, bahkan juga pada diri sendiri, tidak hanya dalam soal keuangan, tetapi bahkan juga pada soalan seksual. Sumber sangat “pas-pasan”, kalau hemat bisa “naik kelas” tetapi kalau murah hati bisa “turun kelas”, padahal dalam dirinya mereka selalu ingin bisa “naik kelas” dan amat cemas sepanjang hidupnya kalau kalau nanti “turun kelas”. Mereka inilah yang cenderung menjadi “craving for fame and money”, partisipan tetap acara-acara seperti Akademi Fantasi Indosiar, pemilihan ratu kecantikan, pemilihan calon model, dsb. Bahkan orang-orang seperti mereka ini jugalah yang dalam analisis Fromm, merupakan basis massa utama terkuat dari partai Nazi di Jerman dulu.</p>
<p><strong> Penutup</strong></p>
<p>Jadi bukan kebetulan sepertinya apabila Julie Andrew selain bermain dalam film “Mary Poppins”, seperti yang telah disebut dalam pendahuluan, juga bermain dalam film “The Sound of Music”. Dalam film pertama, yang ditertawakan adalah para bankir, sementara dalam film kedua yang ditertawakan adalah disiplin tentara, atau bekas tentara. Disiplin mati, keseragaman dan regimentasi berakar pada ketidakamanan psikis yang sama dengan sikap pelit.</p>
<p>“I could never answer to a whistle. Whistles are for dogs and cats and other animals, but not for children and definitely not for me. It would be too humiliating.” (dari “The Sound of Music”), maka, “Listen, listen, she’s calling to you: feed the birds, 2 pence a bag, 2 pence, 2 pence, 2 pence a bag.” (dari “Mary Poppins”).</p>
<p>Ambil uangmu, gunakanlah sebaik yang ia mampu. Tataplah matamu dalam cermin, tanyakanlah pada dirimu, apakah engkau ingin menjadi seorang yang sukses, ataukah seorang yang bahagia. Tanyakanlah.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=E" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/05/23/uang-peranannya-dalam-masyarakat-dan-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
