NEGARA … TAK BERGUNA

Sebuah kelompok musik anak-anak muda beraliran crust-punk mengajakku kolaborasirekaman indi. Sebab posing membayangkan adonan crust-punk yang ngeblues atau bluesyang ngecrust jadinya macam apa, lagipula aku main gitar tak penuh ringkik-geberanmelainkan melengkih-lengkih nada terlunta saja oldfashion jika ala with blues dantak jauh dari gaya New Orleans – Chicago jika black blues, kulolongkan puisisajalah, modal conthong doang, di sela gebalau distorsi dan pekik growling.

Anak-anak muda ini agaknya termasuk dalam punk politis dan tahu yang namanya sastrapengacau kemapanan RedHotKiriPapers, dan mereka memintaku membikin ‘racauan’ sekitar– kata mereka, “Pokoknya yang tentang kebusukan negara, ngancurin negara, gitulahBos …” Menarik juga, dan ‘lucu’ juga mengingat diri sendiri waktu dulu seusia‘anak-anak band’ ini suatu kali sekian malam menyuntuk di Kaliurang; paketpenggemblengan kader marhaenis GMNI. Kala itu aku sudah (maunya sih) anti Soeharto,anti Golkar, mulai anti militer tapi masih beride Indonesia Raya nusantara baru nanjaya adil makmur sentosa revitalisasi Singosari – Majapahit, kerakyatan …

Maka lantas ketika aba-aba sahur mulai terdengar dari berbagai penjuru, sudahkusiapkan sahur buat adik-adik Sarasvati, dan ibuku yang kusayang mulai meredah iba-rintih-pilunya … (oleh masuk angin bangsat – keparat – anjing – edan – setan – koruptor – kapitalis – pemimpin – selebritis – fasis – reaksioner – neoliberal – feudal – puritan – elit – totaliter kali ini saja serasa ingin kubunuh kau angin … Salah satu aspek ibuku adalah denganilustrasi jawabannya atas suatu hari yang keji iseng kubertanya, demikian :

“Jika ibu jadi turis di Bali, begitu pengeboman itu, ibu tetap meneruskan piknik,atau cabut?”
“Pulang.”
“Kenapa? Merasa tak aman?”
“Bukan. Aku setuju, celaka – selamat itu tergantung Tuhan. Aku pulang sebab manabisa bersenang-senang dalam lingkungan kedukaan? Memang yang mati dia, dia, diaentah siapa … Tapi aku berpendapat dalam hal ini kemanusiaan terluka. Dan tentu akujuga manusia …”) …
begitulah akupun mencoba menulis puisi-lagu tentang ‘kebusukan negara, ngancurinnegara’, demikian :
NEGARA … TAK BERGUNA Syahdan ada retorika usang kelicinan politik kekuasaan :
“Jangan tanya apa yang telah diberikan negara …
Tapi apa yang telah kau berikan bagi negara”
Sebab usang maka kuganti yang sahaja :
“Ngapain tanya-jawab dengan negara? Peduli setan saja!”

Sebuah bendera …
Di atas sejuta kepala
Di atas bendera …
Majikan pemilik bendera
Cuma segelintir dua
Menghitung laba
Dari kerja sejuta kepala
Negara …
Alat resmi penghisapan

Minoritas orang atasan
Pemimpin Boss
Mayoritas orang bawahan
Budak obyek tundukan
Sebagian budak …
Penggali lobang
Sebagian budak …
Pembikin tiang
Sebagian budak …
Penjahit kain
Sebagian budak …
Pengerek tali
Semua budak …
Hormat dan hormat dan berprasetia
pada telikungnya
Negara …
Alat resmi penindasan

Angkatan bersenjata …
Mengokangkan patriotisme
Politisi senjata …
Mengelola sengketa
Majikan senjata …
Bisnis perang
Bendera-bendera dipersenjatai
Antar bendera basmi-membasmi
Papan catur kaum berdasi
Negara …
Alat resmi pembunuhan

Penjajahan atas nama nasionalisme
Kemerdekaan dikebiri nasionalisme
Jelata jajahan sengsara tak bernama
Elit kemerdekaan berproklamasi di atas bangkainya
Tokoh pergerakan membintangi gerakan
Tokoh bersenjata tak mau kalah
Rayah-merayah kepahlawanan sejarah
Jelata biasa tak ada catetannya
Selain massa tak bernama
Budak sepanjang jaman
Diinjak-injak perebutan kekuasaan
Berbandrol bendera pusaka
Semua budak …
Nonton dan nonton dan nonton saja
pada megah kibarnya
Negara …
Alat resmi peminggiran

Presiden budak …
Diberi makan nasional republik
Parlemen budak …
Diberi makan nasional demokrasi
Majikan budak …
Cukong pembangunan nasional
Budak nasional …
Korban kemiskinan struktural
Struktur nasional-nasional …
Skrup mesin global
Majikan global …
Korporasi multi nasional
Budak global …
Dipatok-patok bendera
Tak bisa apa-apa
Selain memberi makan aneka majikannya
Negara …
Alat resmi ketidakadilan

Sebuah bendera …
Di atas sejuta kepala
Puncak tempurung kuasa …
Katak-katak merdeka
Negara …
Adalah penjara!!!

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 2 Komentar

cukup! semuanya sudah cukup! bangun dan berfikirlah!

Menyikapi berbagai situasi yang saat ini terjadi…runyam dan sangat memusingkan, bagaimana tidak bila setiap hari para pekerja yang kebetulan mengendarai sepeda motor harus menyiapkan budget minimal Rp.20.000 untuk sekedar memberi minum sepeda motornya, belum lagi nelayan yang terpaksa harus menaikkan harga ikan dikarenakan mereka akan jarang melaut lantaran harga solar mengila! Petani tradisional yang terpaksa harus cekak kantongnya karena biaya transportasi jelas ikut-ikutan naek. Ditambah ibu-ibu rumah tangga yang terancam harus kembali kejaman primitif karena harga minyak tanah sangat-sangatlah gilaa padahal entah kenapa distribusinya sering menghilang begitu saja yang mengakibatkan langkanya minyak tanah!

Ditelevisi dan media lainnya, dimana-mana semua berbicara atas nama rakyat, yang pro kenaikkan BBM mengaku bahwa ini semua demi rakyat, begitu juga dengan yang kontra! Sayang…..aku sudah terlalu muak untuk menanggapi hal-hal diatas. Kebuntuanku berhenti dalam sebuah solusi yang sama sekali masih dalam anganku, angan kawan-kawanku, angan para pendahuluku!

Apa yang aku percayai itulah yang akan terus kujalani, aku tak mau menggurui namun kuharap alam menganugrahi kesamaan persepsi dalam hal ini kepada seluruh umat manusia dimuka bumi ini.

Kepemimpinan bukanlah solusi

Entah kenapa aku begitu yakin akan kalimat diatas, tapi sungguh, aku cuma ingin berfikir secara rasional dengan apa yang sudah terjadi, ketimpang harus melakukan riset rumit yang bikin ngejelemit.

Sosok pemimpin tidak pernah sekalipun membuat diriku takjub, entahlah….nuraniku mengatakan beda dengan apa yang diajarkan oleh guruku pada saat aku duduk dibangku SD.

Soekarno, Soeharto, Habibie, GusDur, Megawati, Susilo B Yudhoyono jelas tidak memiliki keterikatan apapun dengan diriku, bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali, dan aku rasa merekapun punya pendapat yang sama mengenai aku, buktinya ketika rombongan iring-iringan kepresidenan melintas didepan sepeda motorku, tak sedikitpun salah-satu dari mereka melihat kearahku. Bahkan mereka mengusirku agar tidak menghalangi jalan mereka.

begitupun dengan mereka yang duduk diparlemen disenayan, dari mulai kepala geng sampai antek-anteknya tidak ada satupun yang kukenal, apakah mereka wakil-wakilku? Tidak! aku gak pernah ngasih mandat kesiapa-siapa untuk menjadi wakilku…..

tapi beginilah …. Negara …. organisasi mafia terbesar yang menguasai satu daerah dan memaksa orang yang ada didaerah tersebut untuk patuh terhadap semua aturan yang dibuatnya. Kita telah sama-sama lihat apa yang telah dilakukan oleh para elit terhadap satu-persatu dari kita….

potongan opini ini memang bukan tulisan yang berisi riset bertahun-tahun dan disajikan dengan bahasa intelektual tingkat tinggi. Tapi tulisan ini hanya curahan hatiku yang gak ngerti apa-apa soal linguistik, sebab hanya satu yang kutahu bahwa aku harus bebas!

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

112728631950894620


My New Tattoo………it’s new..it’s free

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

A Southern US Anarchist Statement on the Gulf Coast Disaster

As many as 20,000 people have been abandoned in the New Orleans Convention Center with no resources and no anticipated relief. Meanwhile, National Guard units with submachine guns and body armor prevent people from taking necessary food from places where it would otherwise go to waste, and call it “urban warfare”.

Solidarity with the victims of the Gulf Coast disaster!

Solidarity with those who remain in precarious positions months after the tsunami disaster!

Solidarity with those all across the globe who have lost family or remain in refugee camps due to the disasters which the ruling class magnifies or the wars which it engineers!


A Southern US Anarchist Statement on the Gulf Coast Disaster

The State leaves 100,000 to drown like rats, while people everywhere open their hearts and homes

As many as 20,000 people have been abandoned in the New Orleans Convention Center with no resources and no anticipated relief. Meanwhile, National Guard units with submachine guns and body armor prevent people from taking necessary food from places where it would otherwise go to waste, and call it “urban warfare”. Under capitalism, there is no such thing as “natural” disasters; horrible and unavoidable events are exacerbated by the callous acts of the ruling class. Examples include: the Irish potato famine of the 19th century, and the Somalian of the 20th, where food was taken by imperialist countries, like Britain and the US, instead of being used to save the starving population; the more recent hurricane disasters in Haiti shortly after the U.S. ousted the only government which might have marshaled any aid to the Haitian people and replaced it with a military junta; the tsunami disaster, which was aggravated by years of IMF and World Bank domination in the region that resulted in severe underdevelopment; and the present situation in the Gulf Coast.

How did the ruling class contribute to this disaster? Having full knowledge that this would be a devistating hurricane season, they chose to sink the 79 million dollars designated to repair the antiquated levee system into the Iraq quagmire. Furthermore, although they knew ahead of time that the hurricane would be at least a category 4 hurricane, and that the levee system could withstand no more than a category 3, the ruling class did not invest any serious resources into evacuating the city of New Orleans and the surrounding area as the storm approached (and rich politicians have the gall to accuse working-class people of carelessly staying in the city)! As we mentioned, their first priority is to mobilize heavily-armed National Guard units who will shoot people that are merely trying to find food, rather than to bring the necessary aid to the estimated 20,000 starving people at the Convention Center who will die if nothing is done (not to mention other people in similar situations throughout the city). The politicians continue lying in a desparate attempt to save their careers, making it increasingly clear that they have no concern for the lives of the people they’ve abandoned.

In contrast, thousands of people have opened their homes to survivors in an amazing gesture of solidarity and compassion. Despite the State’s citation of its ability to channel aid in times of need as a justification for its existance, it has again demonstrated how the constraints of capitalism interfere with its ability to provide any sort of assistance. The incredible display of mutual aid on the part of the people gives further support for the anarchist argument that people can indeed develop a stateless society based on the adage “from each according to ability, to each according to necessity.” We hope to see that society become a reality someday, but for now we declare our solidarity with those who have been abandoned, and, in hopes that others will join us, we demand the following:

  • That the government immediately commandeer the necessary resources, such as transportation and shelter, in order to evacuate people from the city and ensure that they have adequate accomodations until it is possible to return to their homes or move on
  • An immediate end to national guard and police units attacking those looking for food
  • Immediate distribution of ALL necessary items (water, food, clothing, etc.) during the process of evacuation
  • The immediate resignation/dismissal and punishment of all decision-makers who neglected the responsibility of repairing the levees or coordinating evacuations from the city while it was possible, or who are responsible for National Guard and police units attacking those who are “stealing” necessary items
  • No conviction for any who were arrested while “stealing” food or any other necessity
  • An end to the price-gouging of oil which is affecting working-class people across the country, by price fixing if necessary
  • Adequate aid to all people wishing to rebuild homes lost due to the negligence of capitalist politicians

Solidarity with the victims of the Gulf Coast disaster! Solidarity with those who remain in precarious positions months after the tsunami disaster! Solidarity with those all across the globe who have lost family or remain in refugee camps due to the disasters which the ruling class magnifies or the wars which it engineers!

The Capital Terminus Collective

(Atlanta, GA)

[To endorse this statement, e-mail capitalterminus (at) gmail (dot) com; visit www.anarkismo.net for an updated list of endorsers]


Translations of the statement

Italian : http://www.anarkismo.net/newswire.php?story_id=1284

Castilian : http://www.anarkismo.net/newswire.php?story_id=1286

Portuguese : http://www.anarkismo.net/newswire.php?story_id=1287

Dutch : http://www.devrije.nl/archives/00000608.htm

German : http://www.fau.org/artikel/art_050903-005008

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Call for Solidarity !!!

Musibah kebakaran yang terjadi dikawasan Tanah Pasir, Pluit, Jakarta Utara pada tanggal 15 Agustus 2005, menyisakan puing-puing kesedihan yang begitu mendalam bagi para korban. Banyak korban yang akhirnya harus terpaksa kehilangan rumah-rumah, pakaian, tempat tidur, maupun surat-surat berharganya, bahkan akhirnya para korban harus bingung untuk mendapatkan makanan yang dapat dimakan oleh mereka. Tentunya makanan yang memang layak makan serta bergizi untuk kesehatan mereka.

Musibah kebakaran yang telah menelan kerugian yang sangat besar tersebut, dan telah menghanguskan sekitar 400-an rumah yang telah didiami oleh sekitar 800-an kepala keluarga, benar-benar seperti telah menyayat urat nadi kami yang telah melihat sendiri kejadian yang sangat menakutkan tersebut.

Tepat pada hari rabu tanggal 15 agustus 2005, sekitar pukul 18.00 WIB, kejadian itu mulai terjadi, api yang terus berkobar dengan sangat ganasnya baru dapat dipadamkan oleh dan atas kerjasama masyarakat yang telah bahu membahu tanpa pamrih turun untuk membantu sekitar pukul 02.00 dini hari.

Pada saat kejadian berlangsung, tak jarang banyak yang melihat para petugas pemadam kebakaran yang terlihat malas dengan nongkrong dan minum kopi, padahal saat itu api sedang berkobar dengan dahsyatnya. Petugas pemadam kebakaran yang sebenarnya telah ditunjuk oleh negara, dan mempunyai berbagai fasilitas canggih dibanding warga yang hanya mengandalkan ember. Seharusnya dapat bersikap lebih arif, terlebih untuk urusan kemanusiaan. Memang, negara tidak akan pernah rela dan mau tanpa pamrih membantu “rakyat kelas miskin” yang sedang kesusahan, pemadam kebakaran lebih disiapkan untuk memadamkan api yang membakar mall meupun gedung perkantoran ketimbang komplek perumahan kumuh seperti di Tanah Pasir ini. Beruntunglah warga lebih memilih untuk terus bahu membahu sesama mereka ketimbang mengandalkan aparat pemerintahan itu.

Posko Kemanusiaan

Paska kejadian, tak sedikit datang berbagai organisasi-organisasi mulai dari militer sampai LSM-LSM yang tidak terlihat pada malam harinya pada saat kejadian, kemudian berlagak sok pahlawan dengan memberikan bantuan-bantuan. Bantuan ini memang sangat membantu warga, tetapi motif “kepentingan” dibalik bala bantuan tersebut benar-benar membuat kami gerah dan akhirnya enggan untuk bekerja sama dengan mereka.

Banyak bendera-bendera golongan yang berkibar disana-sini, seraya ingin menunjukkan bahwa lembaga sang empunya bendera adalah lembaga suci yang rela membantu orang yang sedang kesusahan.

Atas hal inilah, kami merasa perlu melakukan gerakan independent bawah tanah non golongan dengan sepenuhnya melibatkan warga baik pemuda dan orang tua untuk menswadaya-kan diri mereka. Juga atas inisiatif pemuda setempat kami mendirikan lumbung-lumbung bantuan, yang kemudian akan kami salurkan secara langsung kepada korban.

Tidak ada motif kepentingan apa-apa dibalik aksi kami, karena memang banyak juga dari kami yang memang juga menjadi korban, kemanusiaan adalah segalanya bagi kami.

untuk penyaluran bantuan, bisa dikirimkan atau dititipkan kelumbung-lumbung dibawah ini :

Speak Out! distro
Jl. Bandengan Utara 80
Rt.013 Rw.16 No.175
Penjaringan, Jakarta Utara
14440 indonesia

Hp. 0815 111 53143 (Bucek)

Peniti Pink / Propiracy Distro
Jln.Masjid Rt.005/06 No.9
Blok A
Jakarta Selatan

Telpon.021-7266438

Taring Babi
telp. (021) 727 0 666

atau salah satu dari kami akan datang keanda untuk mengambilnya sendiri, hubungi bucek 0815 111 53143, atau juga transfer melalui Bank (nasional maupun internasional) ke : (jangan lupa hubungi bucek sebelum/setelah transfer)

————

Account No. : 5290115975
Account Holder : Haris Hidayattullah

Bank : Bank Central Asia (BCA)
SWIFT Code : CENAIDJA

Branch Office : Capem Pejagalan
Branch Address :
Jl. Pejagalan I/2 Blok B/10
Jakarta 11240
phone. (021) 6915667 / 6918906

————-

segala bentuk bantuan akan kami terima dan akan sangat berguna bagi mereka yang saat ini sedang membutuhkan.

Sumber artikel : Indymedia Jakarta

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar