<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; bencana</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/bencana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Bulan penuh duka&#8230;</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/26/bulan-penuh-duka/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/26/bulan-penuh-duka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 14:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[death]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/26/bulan-penuh-duka/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, saya mendapat sebuah sms dari kekasih saya. Dalam sms tersebut dia memberitahukan satu kabar yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kabar duka bahwa salah seorang teman karib saat kuliah telah meninggal dunia. Kemarin, tepatnya pada tanggal 23 Februari 2008, saya kembali mendengar kabar dari keluarga saya di jakarta, bahwa kakek saya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, saya mendapat sebuah sms dari kekasih saya. Dalam sms tersebut dia memberitahukan satu kabar yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kabar duka bahwa salah seorang teman karib saat kuliah telah meninggal dunia.</p>
<p>Kemarin, tepatnya pada tanggal 23 Februari 2008, saya kembali mendengar kabar dari keluarga saya di jakarta, bahwa kakek saya, yang saya masih ingat persis merupakan orang pertama kali yang memboncengi saya naik sepeda motor pertama kali, meninggal dunia diusianya yang ke 70 tahun&#8230;.</p>
<p>belum lagi bencana alam yang datang melanda beberapa daerah di indonesia&#8230;yang tentu saja mengakibatkan banyaknya korban yang berjatuhan&#8230;</p>
<p>Kematian sebenarnya merupakan fenomena alamiah yang pasti terjadi, bahkan saya-pun akan mengalaminya, namun kenapa hal tersebut merupakan salah satu hal yang paling tidak diharapkan kedatangannya bagi sebagian besar manusia yang hidup di dunia. Yah…karena kematian berarti pergi meninggalkan kita, karena kematian memutus hubungan komunikasi dalam seketika, karena kematian menghentikan aliran kasih sayang antar 2 individu dalam sekejap.</p>
<p>…..semoga semua yang telah meninggal dunia dapat beristirahat dalam damai…..</p>
<p>ah&#8230;ingin rasanya segera meninggalkan februari 2008 ini&#8230;</p>
<blockquote><p><em>this post was dedicated to my grand father “Abdul Madjid” and my coolest friend “Iyus”…</em></p></blockquote>
<p><a href="http://www.harismedia.com">HarisMedia Dot Com</a> | <a href="http://www.vitanouva.net">Vitanouva Community Forum</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/26/bulan-penuh-duka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>*FREEPORT*</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Sep 2007 10:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969. &#8220;Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya&#8221; (oleh Adjat Sudradjat) Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.antigold.gr/images/Freeport.jpg" target="_blank"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2007/09/freeport.jpg" alt="freeport.jpg" /></a><a href="http://www.safecom.org.au/images/freeport1.jpg" target="_blank"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2007/09/freeport1.jpg" alt="freeport1.jpg" /></a></p>
<p>Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969.<br />
&#8220;Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya&#8221; (oleh Adjat Sudradjat)</p>
<p>Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska sebab mereka mesti melawan suhu sedingin 0-4 Celsius, kabut, dan hujan. Mereka mendirikan kemah di pelataran Cartensz Weide. Mereka diterbangkan ke situ dari Timika menggunakan helikopter selama 40 menit.</p>
<p>Sementara itu, tiga orang kepala suku berhiaskan bulu burung, kalung merjan, dan tusuk hidung merayap menuju Ertsberg tiga hari tiga malam bersama bala tentaranya tanpa selembar benangpun melekat di badannya, tak peduli hawa sedingin es pun. Akhirnya, mereka sampai di perkemahan para pembor tersebut. Suasana tidak menyenangkan terjadi sebab tidak ada saling pengertian di antara tim Freeport dan suku setempat, maklum tidak ada yang saling mengerti bahasa masing2. Orang2 Indonesia di tim Freeport pun tak mengerti bahasa mereka sebab sebagian besar datang dari luar Papua.<br />
<span id="more-166"></span><br />
Keesokan harinya, saat para pekerja bangun tidur, mereka menemukan perkemahan sudah dipagari tonggak seperti salib digantungi berbagai bunga dan daun. Di tengah kecemasan itu, untung terpikir untuk memberi suku-suku Papua itu makanan. Makanan diterima dan suku2 itu pulang. Keesokan harinya datang lagi, tetapi kali ini untuk membantu tim mengangkati batu-batu dari Ertsberg. Lalu mereka pulang.</p>
<p>Kedatangan yang berikutnya, suku2 ini membawa seorang anak bernama Karel didikan misionaris. Anak ini bisa berbahasa Indonesia walaupun patah-patah. Akhirnya, terungkaplah bahwa keinginan suku2 ini yaitu mereka minta ganti rugi atas gunung mereka yang telah digali. Tentu saja suku2 ini tidak tahu bahwa di Jakarta kontrak pertambangan antara Pemerintah Indonesia dan Freeport telah ditandatangani setahun sebelumnya, 1966.</p>
<p>Minta ganti rugi ? Dengan serentak, sang superintendent Freeport tanpa segan-segan memberikan berbilah-bilah parang sebagai ganti Ertsberg. Ternyata, belasan parang itu diterima dengan sangat sukacita oleh para anggota suku. Seorang kepala suku lalu menyerahkan sebilah pisau batu kepada si &#8220;pembeli gunung&#8221; sebagai hadiah tanda sukacita. Lalu, si kepala suku menari-nari di depan tim Freeport sambil mengeluarkan bunyi seperti ribuan burung. Tangannya mencabut bulu cenderawasih di kepalanya dan mengacungkannya ke depan. Upacara ini diikuti dengan khidmat oleh seluruh anggota suku. Ketika ditanyakan kepada Karel apa arti upacara itu, dijawabnya bahwa itu adalah upacara agar Sang Hyang merelakan gunungnya digali dan sekaligus memberikan berkat kepada para pembeli gunung itu. Tak lama kemudian para suku pulang.</p>
<p>Dan, kita tahu Ertsberg yang menjulang pun digali habis tidak sampai 20 tahun (Adjat Sudradjat, 1996).</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haree geneee masih gak boleh ngomong bebass&#8230;??!!!</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/15/haree-geneee-masih-gak-boleh-ngomong-bebass/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/15/haree-geneee-masih-gak-boleh-ngomong-bebass/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Dec 2006 13:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/15/haree-geneee-masih-gak-boleh-ngomong-bebass/</guid>
		<description><![CDATA[Gila&#8230;Kaget mendengar kabar dari kawan kemarin malam, bahwa diskusi marxisme di ultimus, Bandung dibubarin pemuda panca marga+polisi. Parahnya lagi&#8230;banyak dari peserta diskusi (panitia, pembicara, dll) diangkut polisi kekandanganya&#8230; Sempet nggak percaya karena, bukannya katanya sekarang udah bebas&#8230;akhirnya coba mastiin&#8230;trus kontak sana-sini, lihat internet, dll&#8230;.hasilnya&#8230;anjinnggg&#8230;.temen gw juga banyak yang ditangket euuyy!!! sialannn $#%^Q%@&#038;&#* Gila&#8230;negeri apaan ini&#8230;orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gila&#8230;Kaget mendengar kabar dari kawan kemarin malam, bahwa diskusi marxisme di ultimus, Bandung dibubarin pemuda panca marga+polisi. Parahnya lagi&#8230;banyak dari peserta diskusi (panitia, pembicara, dll) diangkut polisi kekandanganya&#8230;</p>
<p>Sempet nggak percaya karena, bukannya katanya sekarang udah bebas&#8230;akhirnya coba mastiin&#8230;trus kontak sana-sini, lihat internet, dll&#8230;.hasilnya&#8230;anjinnggg&#8230;.temen gw juga banyak yang ditangket euuyy!!! sialannn $#%^Q%@&#038;&#*</p>
<p>Gila&#8230;negeri apaan ini&#8230;orang mau belajar aja dilarang&#8230; anjjiiinggg!!!!!</p>
<p>Nih berita-nya saya copy dari detik.com</p>
<p><span id="more-135"></span></p>
<p><strong>Polisi Bubarkan Diskusi Gerakan Marxisme di Bandung</strong></p>
<p>Erna Mardiana &#8211; detikcom</p>
<p>Bandung &#8211; Sebuah diskusi yang membahas tentang Gerakan Marxisme Internasional yang digelar di Toko Buku Ultimus, Jl Lengkong, Bandung, dibubarkan polisi. Padahal diskusi ini baru berjalan sekitar 20 menit.</p>
<p>Diskusi yang menghadirkan pembicara aktivis buruh di Kanada asal Indonesia Suprapto Marhaen (26) ini dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, Kamis (14/12/2006). Tema yang diangkat adalah mengenai gerakan buruh di Kanada dan dihadiri sekitar 50 peserta yang kebanyakan adalah mahasiswa.</p>
<p>Sebelum acara dimulai, di depan Toko Buku Ultimus itu memang sudah dipenuhi sekitar 30 orang berbaju loreng hijau dan kuning. Di mobil mereka terpampang tulisan Pemuda Panca Marga.</p>
<p>Salah seorang anggota Pemuda Panca Marga yang diketahui bernama Adang Supriyadi kemudian masuk ke dalam toko buku sambil berteriak kepada penjaga toko. &#8220;Rapatnya di mana. Rapatnya di mana,&#8221; ujarnya lantang dengan suara yang berat.</p>
<p>Tidak hanya penjaga toko yang menjadi sasaran, setiap pengunjung yang berada di dalam toko juga diajukan pertanyaan yang sama. &#8220;Kamu dari mana. Ngapain ke sini,&#8221; tanyanya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, anggota Panca Marga yang sebelumnya berada di luar toko buku kemudian menyusul Adang masuk ke dalam toko buku. Dan akhirnya mereka berhasil menemukan lokasi acara diskusi itu, yang tempatnya berada tepat di samping toko buku atau tepatnya berada di halaman.</p>
<p>Pada saat itu kebetulan acara baru saja dimulai dengan moderator bernama Willi. Saat acara dibuka, Willi menjelaskan, kegiatan ini hanyalah diskusi biasa. &#8220;Ini tidak ada tendensius apa-apa,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Pemuda Panca Marga itu pun pada awalnya hanya duduk-duduk dan berjaga-jaga saja di belakang para peserta. Namun, ketika pembicara aktivis buruh di Kanada asal Indonesia Suprapto Marhaen akan memulai diskusi, tiba-tiba komandan Panca Marga, Adang Supriyadi maju ke meja pembicara.</p>
<p>Dia langsung merampas mikrofon dari tangan Marhaen. Adang yang mengaku sebagai Persatuan Masyarakat Anti Komunis ini kemudian dengan lantang membubarkan acara tersebut.</p>
<p>&#8220;Kegiatan komunis tidak relevan lagi. Kami sebagai warga Bandung tidak setuju ada kegiatan komunis di sini. Jangan jadikan Bandung menjadi celah kecil untuk perkembangan komunis di Indonesia. Kami mohon maaf agar kegiatan ini dibubarkan. Saya harap semua hadirin di sini untuk membubarkan diri,&#8221; ujarnya lantang.</p>
<p>Acara ini pun langsung berubah menjadi kerusuhan. Para anggota Panca Marga yang sebelumnya hanya berjaga-jaga di belakang langsung membalik-balikkan kursi yang diduduki para peserta.</p>
<p>Merasa diincar para anggota Panca Marga, Marhaen yang sebelumnya duduk di meja pembicara langsung kabur menyelamatkan diri bersama panitia lainnya. Mereka langsung kabur ke kampus Universitas Pasundan yang letaknya tepat di depan Toko Buku Ultimus itu. (ary/ary)</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/15/haree-geneee-masih-gak-boleh-ngomong-bebass/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang tumbuh setelah bencana???</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/08/31/yang-tumbuh-setelah-bencana/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/08/31/yang-tumbuh-setelah-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Aug 2006 10:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/08/31/yang-tumbuh-setelah-bencana/</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu tidak terdengar sama sekali ayam berkokok menyambut pagi hari sambil membangunkan manusia dari tidurnya. Pagi itu yang terdengar hanylah jeritan warga yang panik, laki-laki yang berlarian sambil membawa ember-ember yang terisi air yang diambilnya dari kali, tangisan ibu-ibu sambil berusaha tetap menggendong anak-anak mereka kemudian lari menjauh. Pemandangan seperti ini kembali terlihat. 30 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu tidak terdengar sama sekali ayam berkokok menyambut pagi hari sambil membangunkan manusia dari tidurnya. Pagi itu yang terdengar hanylah jeritan warga yang panik, laki-laki yang berlarian sambil membawa ember-ember yang terisi air yang diambilnya dari kali, tangisan ibu-ibu sambil berusaha tetap menggendong anak-anak mereka kemudian lari menjauh.</p>
<p><span id="more-85"></span>Pemandangan seperti ini kembali terlihat. 30 Agustus 2006 sekitar pukul 05.00 WIB, wilayah &#8216;kumuh&#8217; dikawasan kecamatan penjaringan, jakarta utara lagi-lagi dilalap sijago merah. Api yang bermula dari kompor yang meleduk tersebut melalap habis rumah dikawasan tersebut hingga sekitar pukul 08.00 WIB.</p>
<p>Akhirnya, api berhasil padam, komplek perumahan kumuh &#038; padat tersebut dalam sekejap terlihat seperti lapangan luas penuh dengan puing-puing reruntuhan. Tidak sedikit warga yang meneteskan air mata begitu melihat rumahnya hilang&#8230;satu-satunya bangunan tempat mereka bernaung.</p>
<p><strong>yang tumbuh setelah bencana</strong></p>
<p>Siang harinya, iring-iringan bantuan berdatangan&#8230;saking ramainya lokasi paska kebakaran, saya tak ingat lagi pihak mana saja yang datang memberikan bantuan untuk warga. Tapi ada satu hal yang saya ingat dengan jelas&#8230;Bendera PARTAI POLITIK.</p>
<p>Melihat hal tersebut&#8230;.refleks saja benakku berteriak&#8230;gila&#8230;bencana koq dijadikan ajang curi start kampanye&#8230;warga yang tidak mau terlalu perduli soal itu bertepuk tangan menyambut kedatangan mereka. Yang ada dibenak mereka hanyalah &#8220;bagaimana saya bisa mendapatkan makan hari ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Yaaa&#8230;saya tak bisa menyalahkan mereka, mengingat keadaan mereka saat itu. hhhuuhhh&#8230;.bendera partai&#8230;.lagi-lagi bendera partai&#8230;mengapa mereka selalu muncul paska bencana&#8230;.apakah tidak bisa membantu tanpa bendera&#8230;.????</p>
<p>Silahkan anda menilai sendiri&#8230;???</p>
<p>berita terkait : <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/08/tgl/30/time/084030/idnews/664931/idkanal/10">Puluhan rumah diPenjaringan terbakar &#8211; detik.com</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=U" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/08/31/yang-tumbuh-setelah-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
