<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; feminisme</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/feminisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>KENDALA DALAM TUBUH DIY PUNK &amp; UG</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/27/kendala-dalam-tubuh-diy-punk-ug/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/27/kendala-dalam-tubuh-diy-punk-ug/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 12:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[punk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/27/kendala-dalam-tubuh-diy-punk-ug/</guid>
		<description><![CDATA[Ada kiriman dari kawan di Sukabumi nih&#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; OLEH : RANDT BOREEL (iseng2 pengen kirim uneg2. hahahaha) Kita udah sering lihat banyak sekali biduan wanita seksi baik di layar kaca alias TiPi, radio, en media2 lainnya. Dari Beyonce hingga Krisdayanti. Rocker selewat-lewat ampe penyanyi dangdut yang pantatnya bergoyang nan seksi aduhai.. aaghhh.. tidaaaak!! Siapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada kiriman dari kawan di Sukabumi nih&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>OLEH : RANDT BOREEL</p>
<p>(iseng2 pengen kirim uneg2. hahahaha)</p>
<p>Kita udah sering lihat banyak sekali biduan wanita seksi baik di layar kaca alias TiPi, radio, en media2 lainnya. Dari Beyonce hingga Krisdayanti. Rocker selewat-lewat ampe penyanyi dangdut yang pantatnya bergoyang nan seksi aduhai.. aaghhh.. tidaaaak!! Siapa yang gak konak lihat aksi mereka? Munafik lo semua kalo gak suka ama goyangan Titi Kamal dengan lagunya yang terkenal.. JABLAY! Gw yakin semua laki-laki akan ngaceng tititnya, bahkan seorang Presiden sekali pun! Alim ulama, pendeta, siapa tau ya kan?? Iya gak? Iya dooooonx. Bener gak? Bener dooooonx….</p>
<p><span id="more-195"></span> Tapi, kawan.. gw lagi ogah ngomongin ttg seberapa pandai seorang TITI membangunkan para TITIT. Gw adalah musisi, yg gw mau omongin itu ya musik, bukan pantat. Ngaco aja lu..</p>
<p>“tapi kan musik itu untuk didengarkan, bukan utk diperdebatkan..” celetuk seorang bayangan di kepala gw.</p>
<p>“ye.. niat gw bukan untuk mengkritik kayak juri2 Negara Idol or Super Mamamia Lezatos, dodol! So, jangan berpikir ini suatu ajang debat. Just Relax, My Friends.”</p>
<p>OK! HERE WE GO!</p>
<p>Industri musik saat ini bagi gw udah kayak negara (lihat aja dari pembendaharaan katanya : “INDUSTRI musik”). Ada kepala pemerintahannya, menteri2nya, paduka permaisuri, berduka tiada yang peduli. Kita harus begini, kita harus begitu. Band harus kayak gini, band harus mirip itu. Jargon2 pembusukan seperti MUSIK KITA SAMPAI MANA? Seolah-olah secara gak langsung: “musisi yang baik dan benar, haruslah terkenal kayak Michael Jackson dan Nirvana.” Dikenal dimana-mana. Di pelosok desa maupun kota. Di surga atau neraka. Yang penting terkenal, apapun jalan yang harus ditempuh. Harus siap rela mati berkorban. GILA!!</p>
<p>But..my friends.. siapa sih yg gak mau terkenal?? Ketika hidup banyak dipuji, ketika mati dikenang banyak orang. Seantero dunia. Sejagad raya. Sealam semesta. Seperti TUHAN. Gak mungkin lah yaw!! Kita ini hanya manusia, seperti rumput yang jika dibakar ikut2an mampus!</p>
<p>Musik zaman sekarang lebih berorientasi kepada bisnisnya dibanding musik itu sendiri. Bertujuan untuk memberi keuntungan profit bagi pihak2 tertentu. Ya perusahaan label kek, manajemen artis kek, bebek2 wek wek kek.. WHATEVER! Yang gw tahu, dan Anda pun pasti tahu… jiwa musik yang murni adalah yang bebas dari pemaksaan! Gak peduli mereka suka or kagak, gak peduli harus terkenal, gak peduli untung or rugi. Yang penting nyanyian jiwa kita tercurahkan sesuai dengan apa yang ada dalam diri kita. Jadi diri sendiri. Bukan jadi boneka perusahaan label rekaman ataupun kepentingan pihak or komunitas tertentu. Mana mau gw disuruh bikin lagu kayak anu en itu kalo jiwa musik gw gak nemu di titiknya. Tapi andaikan gw saat ini ada dalam kontrak perusahaan anu, gw pasti dituntut untuk mengejar ketertinggalan. Harus bikin lagu hits, harus masuk top 40. walaaaaaahhhh!!! Kapan gw bisa enjoy hidup ini, man???</p>
<p>Of course, I know.. bahwa berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ngumpulin duit banyak dahulu, walau harus mati kemudian. Yang penting kaya dulu, berleha-leha kemudian, katanya biar ntar kalo udah tua renta, kita gak perlu makan ikan asin. Harus ada pengorbanan : masa muda, keluarga, teman2, kerabat… idih, sori lah yaw! Gw kagak mau mengorbankan waktu gw hanya demi sebuah ketenaran yang semu. Jatuh bangun kayak lagu dangdut. Buat apa susah? Buat apa? Hanya dgn genjreng2 memainkan lagu gw sendiri di kamar pun: AKU BAHAGIA WALAU MAKANANKU SEHARI-HARI CUMA IKAN ASIN!</p>
<p>Ya ya ya, mungkin harus dikaji ulang nih.. ada apa denganmu, musik? Hingga tak tahan diri ini apabila tiada musik dalam menjalani hari-hariku. Aku mencintaimu karena engkau terus menggodaku. Aku mencoba melupakanmu, tapi engkau terus datang di relung hatiku. Hahahahahaha! Musik itu memang edan. EDAN! Biarpun gw budek, tetep aja masih bisa mendengarmu, oh musik. Parahnya lagi, walau tak ada musik yang terdengar di sekitar gw, kan masih ada hati en pikiran gw. Terbius dalam alunan nada dari imaji gw. Bukan candu, tapi ya begitulah adanya. Gw coba berkali-kali utk tidak terlalu memikirkan berjuta-juta nada hasil kreatifitas belahan otak gw. Tapi gak bisa, man! Jujur.. gw gak bisa.. udah takdir kali ya. Oh Tuhan, kenapa engkau memberikan bakat musik kepada orang yang budek ini??? Pendengaran itu penting, lho. Hahahahahaha!! Bodo amat.. Lebih baik nyanyinya fals, daripada pemerintah yang fals. Gw bangga jadi diri sendiri walau ternyata nyanyianku terdengar “sumbang” banget.</p>
<p>Yeah right, everybody loves a winner sih. Orang-orang mencintai seorang pemenang. Tapi musik bukan untuk ajang kompetisi. Apalagi jadi ajang permusuhan antar satu komunitas dgn komunitas yg lain, genre anu dgn genre itu, band anu dgn band itu. Dasar kita memang bego kali ya, dari zaman dulu diajarin di sekolah harus dan HARUS dan HARUS jadi yang terunggul. WAJIB BELAJAR 9 TAHUN supaya jadi ranking pertama. Otak kita dilatih secara tidak sadar untuk menjadi pribadi yg super-ego. Meski sebetulnya seniman itu memang egonya tinggi semua, kebayang kan apa jadinya kalo ditambah unsur2 “harus jadi juara”. Uuggghh… lingkungan musik kita akan penuh dengan pertikaian, baku hantam, pembunuhan karakter, de el el… (dalam scene DIY Punk dan UG, hal inilah yang jadi kendala utama saat ini, bos!)</p>
<p>So.. it’s all about scenario behind the scenes. Apa yang sesungguhnya terjadi dalam “tubuh” musik kita? kenapa? Ada apa? Bagaimana? Apakah kalian peduli? Apakah kalian mau berpikir sejenak bahwa kalian nih para musisi yang pastinya dikenal karena musiknya, kok malah ribut2 band anu harus gini gitu, ini itu, api apu, abi abu?? Kenapa dalam banyak acara kolektifan yang diundang adalah band2 sesuai agama genre para panitianya? Kenapa gak pernah lagi terdengar gaung kebersamaan dalam satu acara semua genre kompak serentak goyang berdansa bareng2??? Ya mungkin inilah akar dari pengkotakan baik musik dan komunitas, yang melahirkan jurang pemisah, semakin hari semakin jelas.. semakin maju semakin dibatas. Panitia metal yang maennya juga band2 metal, panitia punk yang maen haruslah band punk juga. TERBAKAR KALIAN SEMUA HINGGA TINGGAL JADI ARANG!</p>
<p>Waduh.. sori.. aku memang kurang ajar. Gak tau diri. Gak ngehargai senior-senior (wuhakakakakakkkk!!!!!). Memangnya aku junior?? Kalo misalkan memang aku seorang junior dan kalian masih maen senioritas kayak di sekolahan, ayo terapkan sekalian penataran bagi calon2 Punkers di seluruh ENDONESIA. Mau jadi Punk harus lulus ujian negara, ujian kena pukul kakak2 senior, ujian di adu domba, ujian hormat bendera, ujian dijemur di lapangan, ayo! Ayo! Ayo!! Kalo memang kalian berani dan tinggi hati sebagai senior,gw saranin untuk tidak lupa bikin undang2 peraturan kapan hari masuk tes dan kapan hari libur. Tak lupa rapor tahunan, yang banyak angka merah ditelikung. SUNGGUH SENIORITAS ITU MEMALUKAN!</p>
<p>Kenapa kalo jadi Punkers harus lahir di zaman orde baru melulu? Semakin tua semakin diakui…???? Ok, berarti kalian harus bikin mesin waktu mulai sekarang2, agar para Punkers yang lahir di tahun 3000 mendatang menggunakan mesin tersebut supaya bisa balik ke zaman Soeharto dan ikut ujian tes masuk khusus Punkers yang diciptakan permainan busuk kalian!</p>
<p>Kenapa masih ada band yang gak mau masuk pamflet sih? Pamflet itu kan berbahan dasar kertas, yang lebih murah daripada gitar listrik, drum, bass, microphone yang kalian gunakan di panggung. Lebih murah daripada kaset, cd, vcd, mp3 yang kalian gunakan untuk mempublikasikan band kalian. Lebih murah daripada baju yang kalian kenakan. So what’s the problem?? Saat ini udah banyak kok acara yang gak pake sponsor2 gede, jadi…apa yg salah sih? Ya boleh2 aja lah kalo masih gak mau, gw kan Cuma nanya..Cuma ingin tahu.. maklum lah.. gw masih ecek-ecek! Hahahahah!!!</p>
<p>Lagi nih..( masih banyak lho bro, lur, sist, bang!), kenapa setiap harus diskusikan sesuatu seperti misalnya beredar rumor2 tak sedap dalam suatu acara di jakarta (misalnyaaaaaaaa booooos!), kita tuh kayak harus tau dulu gimana Jakarta Punx, apakah kita dekat dgn mereka, apakah kita so close dengan orang2 di komunitasnya. Bagi gw itu gak perlu sama sekali. Ya sama aja kayak elo ngomongin band Discharge anu en itu, apa kita dituntut mesti kenal ama mereka? Elo ngomongin insiden WTC 9 september en BOM Bali I dan II, apakah kita mesti kenal semua orang yang disitu???? Semua ini gak ada yang sempurna, bos! So calm down! Inget dong, punk itu bukan Cuma ada di Jakarta. Tapi di seluruh penjuru dunia. Jangan memikirkan kepentingan komunitas sendiri lah apalagi diri pribadi.</p>
<p>Ini berlaku buat semua di pelosok kota dan desa di seluruh ENDONESIA (bukan INDONESIA). Bandung, Sukabumi, Depok, Bogor, Medan, Kotamubagu, Bali, Makassar, Surabaya, Pasuruan, de el el dimanapun kalian berada. Tunjukkanlah kebersamaan. Enggak harus satu seragam tapi damai. Saling bantu. Saling memahami kelebihan dan kekurangan masing2. Saling mengerti kalo ada seseorang yang masih baru jadi punkers gak usah dibilang bodoh lah, karena gak ada yang benar2 pintar kok.</p>
<p>Berilah dia ilmu yang berguna bagi dirinya, bukan dikasih jamu melulu trus mabok terus2an akhirnya dibiarkan terbuang. Ini sebetulnya adalah apa yg pernah gw alami, sekarang gw sadar ternyata gw ini dibodohi. Untung gw sadar, coba kalo gak! Udah mati gw di jalan. Dan hal ini gak Cuma dialami gw sendiri, tapi berjuta2 Rand Boreel di luar sana masih banyak dimanfaatkan. Ini PEREMPUAN! Banyak sekali band2 punk lokal menciptakan lagu2 hak2 asasi seorang wanita meski band2 yang bersangkutan personilnya cowo semua. Gw salut. Salut banget.</p>
<p>Tapi jangan Cuma di mulut doang dong. Dari ujung ke ujung negeri ini banyak anarcho-feminist yang kecimpung di Scene DIY Punk &amp; UG malah dimanfaatkan menjadi groupiest. Kalo mau cari groupiest, cari sono di diskotik. Yang diperlukan bagi para feminis ini adalah dukungan dalam aksi dan kreasi. Bukan aksi di ranjang en kreasi bikin anak doang. Dukunglah mereka dengan saling bertukar ilmu dan pendapat. Hargailah mereka. Jangan mentang2 lenggoknya kayak Madonna lantas kalian cari ide gimana spy dia bisa ditiduri malam ini. Hahahahah!! Sori juragan, ane makin kurang ajar. Tapi, fakta membuktikan..memang begitulah kenyataannya. Kenyataan membuktikan…memang begitulah faktanya.</p>
<p>Bantulah para cewe2 ini untuk membuat records, buku, fanzine sebagai bentuk apresiasi sesuai karakter mereka. Jadikan mereka wanita2 yang kuat. Wonder women gitu loh. Dukunglah potensi yang mereka miliki, baik di musik atau luar musik. Yang penting mereka berkreasi. Gak jadi pelacur murahan. Gak perlu nebeng di mobil om-om cukong demi dapet duit. Dimanapun kita bertemu dengan mereka, ingatkanlah selalu dirinya, kawan! Negara kita ini adalah negara kedua terbesar di Asia yang mengirim banyak Pekerja Sex Komersial ke luarnegeri. Ada yang sukarela, ada yang ditipu, ada yang diculik lalu dipaksa. Bahkan anak gadis 8 tahun pun dipaksa melayani para fedofilia. S<strong>UNGGUH, REALITA ADALAH PERTUMPAHAN DARAH DAN TANGISAN IBU PERTIWI YANG BAGI SETAN HANYALAH SEBUAH PESTA!</strong></p>
<p>Kita…. adalah satu2nya kelompok yang bisa menghancurkan semua itu. Maka dari sekarang… <strong>BERSATULAH! </strong></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2008/02/27/kendala-dalam-tubuh-diy-punk-ug/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patriarki, Peradaban, dan Asal Usul Gender</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 13:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[patriarki]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: John Zerzan Pada dasarnya, peradaban, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sinonim? Filsafat telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagi-bagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai ayah-ayah.” Perempuan, seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: John Zerzan</p>
<p>Pada dasarnya, peradaban, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sinonim?</p>
<p>Filsafat telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagi-bagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai ayah-ayah.” Perempuan, seperti halnya penderitaan, selalu absen dari hal tersebut, dan tentunya (mereka: penderitaan dan perempuan) adalah saudara dekat.</p>
<p>Seperti Camille Paglia, seorang pemikir anti-feminis, ketika ia merenungi peradaban dan perempuan:</p>
<p><em>“Ketika Aku melihat seekor burung bangau besar melewati sebuah truk panjang, sejenak Aku terdiam dan tertunduk, seperti yang akan dilakukan orang-orang ketika sedang berada dalam ibadah gereja. Konsepsi kekuatan macam apa: kebesaran macam apa: yang dihubungkan oleh bangau-bangau ini dengan peradaban Mesir kuno, ketika arsitektur monumental pertama kali dibayangkan dan dicapai. Apabila peradaban diserahkan ke tangan perempuan, mestilah kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk  jerami.”</em> (1)</p>
<p><span id="more-176"></span><br />
“Kejayaan” peradaban dan bagaimana hal tersebut tidak menarik bagi perempuan. Bagi sebagian dari kita “gubuk-gubuk jerami” mewakili acuan untuk tidak mengambil jalan yang salah, yaitu penindasan dan pengrusakan. Di dalam kemajuan peradaban teknologi global yang mengarah pada kehancuran dan kematian, andai saja kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk jerami!</p>
<p>Perempuan dan alam secara universal telah dihilangkan nilainya oleh paradigma dominan dan siapa yang tak melihat pertanda-tanda dari ini? Ursula Le Guin memberikan kita koreksi yang tepat dari ketidakpercayaan Paglia akan keduanya (perempuan dan alam):</p>
<p>“Manusia beradab berkata: Aku adalah diri, Aku adalah tuan, segala sesuatu diluar dari Aku adalah yang lain—berada di luar, di bawah, tak terlihat, bawahan. Aku memiliki, Aku menggunakan, Aku mengeksplorasi, Aku mengeksploitasi, Aku mengontrol. Apa yang kulakukan adalah yang penting.  Apa yang Aku inginkan adalah alasan mengapa semua ini ada. Aku adalah Aku, dan selain dari itu adalah keperempuanan dan keliaran yang, harus digunakan sesuai kemauanku.” (2)</p>
<p>Banyak orang percaya bahwa peradaban mula-mula itu matriarkal. Namun tak seorangpun ahli antropologi atau arkeologi, termasuk feminis, menemukan bukti dari asumsi tersebut. “Pencarian akan sebuah budaya egalitarian asli yang, taruhlah matriarkal, tak pernah membuahkan hasil,” terang Sherry Ortner. (3)</p>
<p>Meskipun demikian, memang ada masanya, sebelum budaya lelaki menjadi sesuatu yang universal, ketika perempuan secara garis besar tidak selalu berada di bawah pria. Sejak 1970an antropolog semacam Adrienne Zihlman, Nancy tanner dan Frances Dahlberg (4) membenarkan stereotip mula-mula era prasejarah di mana ”Lelaki adalah sang pemburu” dan ”Perempuan adalah sang peramu.” Kuncinya di sini adalah data bahwa secara garis besar, komunitas-komunitas pra-agrikultur memperoleh 80 persen kebutuhan makan dari mengumpul (mengumpulkan makanan) dan 20 persen dari berburu. Sangat  mungkin untuk mencurigai pemisahan antara berkumpul/berburu dan mengabaikan bahwa komunitas-komunitas tersebut, dalam tingkatan-tingkatan signifikan, dapat membuktikan bahwa perempuan yang berburu dan pria yang meramu (5). Namun otonomi perempuan di dalam masyarakat semacam ini mengacu pada fakta, melalui penilaian pola aktivitas mereka, bahwa sumberdaya untuk hidup bagi perempuan cukup setara dengan pria.</p>
<p>Dalam konteks etos-etos egalitarian kelompok pemburu (hunter gatherer) atau peramu makanan (foraging society), ahli-ahli antropologi seperti Eleanor Leacock, Patricia Draper dan Mina Caufield telah menjelaskan, secara garis besar, terdapat bukti adanya hubungan setara antara perempuan dan pria (6). Di dalam tatanan masyarakat semacam itu ketika seseorang memperoleh sesuatu Ia pula yang akan membagikannya dan ketika perempuan memperoleh 80 persen makanan, maka mereka jugalah yang menentukan aturan bagi gerak kelompok serta lokasi-lokasi untuk menetap. Serupa dengan adanya bukti bahwa perempuan dan pria yang membuat alat-alat dari batu yang digunakan oleh masyarakat-masyarak at pra-agrikultur. (7)</p>
<p>Dalam komunitas-komunitas matriarkal Pueblo, Iroquois, Crow dan kelompok-kelompok Indian Amerika lainnya, perempuan dapat memutuskan tali perkawinan kapan saja. Secara garis besar, pria dan perempuan di dalam masyarakat semacam ini lebih leluasa bergerak dengan bebas dan damai dari satu kelompok ke kelompok lainnya, seperti halnya juga ketika mereka berada di dalam atau di luar suatu hubungan. (8) Menurut Rosalind Miles, pria tidak hanya tidak memerintah ataupun mengeksploitasi perempuan, “mereka memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki kendali atas tubuh perempuan maupun anak-anak mereka, sehingga tidak ada yang namanya penyakralan akan suatu keperawanan atau kesucian, dan (kaum lelaki) tidak menuntut apapun dari eksklusivitas aktivitas seksual perempuan.” (9) Zubaeeda Banu Quraishy memberikan satu contoh dari Afrika: “Hubungan-hubungan gender suku Mbuti dikarakteristikan oleh harmoni dan kerjasama.” (10)</p>
<p>Seseorang akan berpikir, benarkah situasinya semenyenangkan itu? Melihat terjadinya penghapusan makna keperempuanan yang beragam bentuknya namun tidak secara esensi, pertanyaan bahwa kapan dan bagaimana, cukup jelas berkata sebaliknya. Terdapat sebuah pemisahan mendasar eksistensi sosial menurut gender, serta hirarki dari pemisahan tersebut. Bagi filosof Jane Flax, dualisme yang paling mapan, termasuk pemisahan subyek-obyek serta tubuh-pikiran, merupakan suatu refleksi dari perpecahan gender. (11)</p>
<p>Gender tidaklah serupa dengan pemisahan kealamian/fisiologi s menurut jenis kelamin. Ia adalah suatu kategorisasi kultural dan tingkatan yang bersandar pada sebuah pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin yang, bisa jadi merupakan bentuk tunggal kultural yang terpenting. Apabila gender membawa dan melegitimasi ketidaksetaraan serta dominasi, apa yang penting untuk dipertanyakan? Jadi dalam pengertian asal-usulnya— serta dalam pengertian masa depan kita—pertanyaan mengenai masyarakat manusia tanpa gender yang menjadi pertanyaannya.</p>
<p>Kita semua mengerti bahwa pembagian divisi kerja memperlebar jalan terciptanya domestikasi dan peradaban yang menjadi penggerak sistem dominasi global sekarang ini. Juga terlihat bahwa bentukan-bentukan pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin merupakan bentuknya yang paling awal dan juga, sebagai efeknya, membentuk formasi gender.</p>
<p>Saling berbagi makanan telah lama diketahui sebagai suatu capaian terbaik dari cara hidup meramu bahan makanan (foraging society). Sama halnya dengan membagi-bagi kewajiban untuk merawat keturunan yang masih dapat dilihat dari sisa-sisa masyarakat semacam itu, dan pola semacam ini cukuplah berbeda dengan kehidupan keluarga dalam peradaban (“yang beradab”) yang terisolasi dan terprivatisasi. Keluarga tidak dipandang sebagai suatu institusi yang abadi, begitupula dengan peran ibu yang sekarang ini dimaknai sebagai suatu hal yang tak terhindarkan dari evolusi manusia.</p>
<p>Masyarakat terintegrasikan melalui pembagian divisi kerja dan keluarga melalui pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin. Kebutuhan untuk integrasi memperlihatkan sebuah tegangan, sebuah keterpisahan yang mengundang suatu dasaran kohesi atau solidaritas. Dalam pengertian ini, anggapan Testart cukup tepat: ”hal yang inheren di dalam hubungan kekerabatan adalah hirarki.” (13) Dengan berdasar pada pembagian divisi kerja, hubungan di dalam keluarga menjadi hubungan produksi. ”Gender adalah sesuatu yang inheren di dalam sifat alami hubungan keluarga,” seperti yang dijelaskan oleh Cucchiari, ”yang tak dapat eksis tanpanya.” Di dalam wilayah inilah akar dari dominasi terhadap alam dan perempuan dapat dieskplorasi.</p>
<p>Seperti yang telah diketahui, suku-suku peramu makanan di dalam masyarakat semacam itu membuka jalan bagi peran-peran yang terspesialisasi, struktur hubungan kekerabatan membentuk infrastruktur hubungan yang akan berkembang menuju ketidaksetaraan dan pembeda-bedaan kekuatan. Lumrahnya perempuan menjadi pasif akibat suatu peran khusus menjaga anak; pola semacam ini selanjutnya semakin berkembang melampui kriteria-kriteria yang tadinya terbentuk sebagai peran gender. Pemisahan dan pembagian divisi kerja menurut gender ini mulai hadir selama transisi dari era Pertengahan sampai era Paleolitikum Lanjut. (15)</p>
<p>Gender dan sistem hubungan kekerabatan merupakan konstruksi kultural yang di bentuk berdasarkan dan bertentangan dengan subyek-subyek biologis yang, menurut Juliet Mitchell, melibatkan “lebih dari apapun sebuah organisasi simbolik dari perilaku.” (16) Seperti yang telah eksis di dalam masyarakat berbasis gender, mungkin akan lebih menjelaskan apabila melihat langsung pada budaya simbolik itu sendiri, dengan melihat “kebutuhan untuk memediasi secara simbolis suatu pendikotomian kosmos yang hebat.” (17) Pertanyaan siapa-yang-lebih- dulu-muncul, datang dengan sendirinya dan sulit untuk diketahui. Kendati demikian, cukup jelas bahwa tak ada pembuktian aktivitas-aktivitas simbolik (seperti misalnya yang terdapat di dalam lukisan-lukisan goa) sebelum sistem gender, yang didasari pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, terlihat berlangsung di era tersebut. (18)</p>
<p>Memasuki era Paleolitikum Lanjut, yang merupakan awalan dari Revolusi era Neolitikum di mana terbentuknya peradaban dan domestikasi, revolusi gender telah mencapai masanya. Tanda-tanda maskulin dan feminim mulai hadir sekitar 35,000 tahun lalu di dalam seni-seni goa. Kesadaran gender bangkit sebagai pencapaian keseluruhan dualitas, suatu spektral dari masyarakat yang terpilah-pilah. Di dalam suatu polarisasi aktivitas baru ini, aktivitas menjadi berorientasi dan terdefinisikan oleh gender. Peran pemburu, misalnya, berkembang menjadi sesuatu yang kelaki-lakian, kriteria-kriteriany a terkhususkan pada gender pria sebagai suatu sifat yang diinginkan.</p>
<p>Ketika telah menjadi sangat menyatu atau menyeluruh, aktivitas semacam kelompok-kelompok peramu makanan dan tanggung jawab komunal untuk merawat anak, sekarang ini menjadi bidang-bidang yang terpisah di mana kecemburuan seksual dan kepemilikan (posesif) mulai hadir. Di saat yang bersamaan, hal-hal simbolis muncul sebagai suatu bidang ataupun realitas yang terpisah. Bukti-bukti ini bisa dilihat dalam praktik-praktik seni dan ritual. Sangatlah beresiko untuk mengandaikan masa lalu yang jauh menggunakan titik berangkat masa sekarang, meskipun budaya-budaya non-industrial yang masih tersisa dapat menunjukan titik terang. Suku Bimin-Kushumin Papua Nugini, misalnya, mengalami pemisahan maskulin dan feminim sebagai sesuatu yang mendasar dan menegaskan. ”Esensi” maskulin, yang diistilahkan sebagai finiik, tidak hanya melambangkan kualitas-kualitas kekuatan ala ksatria perang, tapi juga berhubungan dengan ritual dan kontrol. ”Esensi” feminim, atau khaapkhabuurien, adalah sesuatu yang liar, impulsif, sensual, dan acuh pada ritual. Sama halnya dengan Mansi di daerah barat-daya Siberia yang memberlakukan aturan-aturan keras pada keterlibatan perempuan di dalam praktik-praktik ritual. (20) Dengan bukti suku-suku seperti ini, bukanlah hal yang berlebihan untuk mengatakan bahwa peran ritual merupakan sesuatu yang menentukan bagi subordinasi perempuan. (21) Gayle Rubin menyimpulkan bahwa ”kekalahan universal perempuan secara historis hadir melalui asal-usul budaya dan merupakan prasyarat dari terjadinya budaya.” (22)</p>
<p>Kebangkitan bersamaan budaya simbolis dan kehidupan gender bukanlah suatu kejadian yang kebetulan. Kedua-duanya melibatkan suatu perubahan mendasar dari kehidupan yang tadinya tidak terpilah-pilah dan non-hirarkis. Logika perkembangan dan perluasan kedua hal tersebut merupakan sebuah respon dari tegangan-tegangan dan ketidaksetaraan yang mereka ciptakan; keduanya saling-terhubung secara dialektis dengan awal-mula pemisahan divisi kerja yang artifisial.</p>
<p>Secara cukup relatif, Lompatan Besar Menuju era agrikultur dan peradaban mulai hadir ketika terjadinya alterasi gender atau budaya simbolik. Ini merupakan era yang menentukan bagi istilah ”berdiri diatas alam”, dengan mulai mengenyampingkan keharmonisan dan kecerdasan non dominatif dengan alam. Perubahan ini cukup menentukan bagi konsolidasi dan intensifikasi pembagian divisi kerja. Meillasoux mengingatkan kita tentang permulaannya:</p>
<p>Alam sama sekali tidak menjelaskan mengenai pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, tidak pula dengan institusi semacam pernikahan, keterikatan suami-istri, maupun paternalitas. Semuanya dipaksakan kepada perempuan, maka dari itu semua ini haruslah dijelaskan melalui peradaban, bukan malah menggunakannya untuk menjelaskan secara sebaliknya. (23)</p>
<p>Kelkar dan Nathan, misalnya, tidak banyak menemukan bukti adanya spesialisasi gender pada suku-suku kelompok pemburu di India bagian barat, apabila dibandingkan dengan kondisi masyarakat agrikultur disana. (24) Transisi dari cara-cara mengumpulkan makanan menuju pada produksi makanan mengarah pada perubahan-perubahan radikal di dalam masyarakat di mana saja. Cukuplah menjelaskan, apabila mencermati contoh yang mendekati jaman sekarang, bahwa suku Muskogee di Amerika Tenggara yang menjunjung tinggi nilai-nilai intrinsik dari hutan yang belum terjamah, dan terdomestikasi; dijajah oleh kaum kolonial dan menggantikan tradisi Muskogee yang matrilineal dengan hubungan patrilineal. (25)</p>
<p>Tempat terjadinya transformasi dari gaya hidup alami (liar) menuju yang berbudaya adalah ketika manusia mulai berdomisili secara tetap, sebagaimana perempuan mulai terbatasi horison-horisonnya. Domestikasi berangkat dari sini (juga secara etimologi, yang latinnya domus, atau rumah tangga): kerja-kerja membosankan- -yang tidak sesulit seperti meramu bahan makanan&#8211;, reproduksi berlebihan, dan pengharapan hidup yang lebih rendah daripada kaum pria. Indikasi-indikasi ini hadir di dalam masyarakat agrikultur sebagai peran perempuan. (26) Dari sini dikotomi yang lain lagi muncul, pembedaan antara kerja dan non-kerja, sesuatu yang bagi banyak generasi tidak pernah eksis. Melalui produksi gender ini beserta perluasannya yang konstan, mulai berkembanglah fondasi-fondasi budaya dan mentalitas kita.</p>
<p>Setelah dibatas-batasi seperti ini, perempuan, meski belum sepenuhnya dipasifkan, mulai didefinisikan sebagai pasif. Seperti halnya alam, sebagai nilai yang dijadikan sumber untuk diproduksi; yang menunggu penyuburan dan pengaktivan dari luar tubuhnya. Perempuan mengalami pelepasan otonomi dan kesetaraan yang relatif di dalam suku-suku kecil yang bersifat nomadik dan anarkik menjadi kediaman-kediaman yang besar, kompleks, dan dikontrol.</p>
<p>Mitologi dan agama, sebagai kompensasi-kompensa si dari masyarakat yang terpilah-pilah, bersaksi atas direduksinya posisi perempuan. Dalam cerita Yunani versi Homer, tanah kosong (yang belum didomestikasi oleh budaya bercocok-tanam) , kediaman Calypso asal Circa, Sirens yang menggoda Odysseus untuk meninggalkan kerja-kerja peradaban, dikategorikan sebagai feminin. Baik tanah dan perempuan, sekali lagi, menjadi subyek dominasi. Namun imperialisme semacam ini mengkhianati asal muasal rasa bersalah, sebagaimana hukuman bagi mereka yang berkaitan dengan domestikasi dan teknologi, di dalam dongeng-dongeng Promotheus dan Sisifus. Proyek-proyek agrikultur di banyak tempat, menjadi semacam pelanggaran; seperti halnya pemerkosaan di dalam cerita-cerita Demeter. Seiring lewatnya waktu dan kekalahan-kekalahan , hubungan-hubungan ibu dan anak perempuan di dalam mitos Yunani—seperti cerita-cerita Demeter-Kore, Clytemnestra- Iphigenia, Jocastra-Antigone, misalnya—mulai hilang.</p>
<p>Di dalam kitab Kejadian, bagian awal dari Alkitab, perempuan lahir dari rusuk pria. Pengusiran dari taman Eden mewakili kematian kehidupan berburu dan berkumpul, pemaksaan menuju agrikultur dan kerja-kerja keras. Tentunya, semua itu disalahkan pada Hawa, yang menjadi stigma dari pengusiran ini. (27) Cukup ironis memang, di dalam cerita tersebut domestikasi terasa seperti rasa takut dan penolakan terhadap sifat alami perempuan, sementara mitos Eden, dalam kenyataannya, justru menyalahkan korban utama dari skenarionya.</p>
<p>Agrikultur adalah penaklukan yang mengisi lahirnya formasi dan berkembangnya gender. Terlepas dari adanya figur-figur dewi-dewi, yang dijadikan sebagai lambang kesuburan, secara garis besar budaya Neolitikum sangatlah menjunjung tinggi kejantanan. Melalui dimensi-dimensi emosional maskulinisme, sebagaimana yang dilihat Cauvin, domestikasi hewan-hewan mestilah datang dari inisiatif kaum pria. (28) Semenjak itu pemisahan dan tekanan pada kekuasaan mulai hadir bersama kita; ekspansi daerah-daerah, misalnya, di mana energi pria menundukan sifat alami perempuan mulai diperluas.</p>
<p>Hal ini telah mencapai proporsinya yang dashyat, dan dari segala sisi kita diberitahu bahwa kita tidak dapat menghindari hubungan dengan teknologi yang sudah sangat menyeluruh. Namun patriarki, juga, ada di mana-mana, dan sekali lagi inferioritas alam dipertahankan. Untungnya, ”banyak kaum feminis”, menurut Carol Stabile, percaya bahwa “penolakan terhadap teknologi sangatlah identik dengan penolakan terhadap patriarki.” (29)</p>
<p>Ada kaum feminis lain yang mengklaim bahwa bagian dari sumber-sumber teknologi, mengakui adanya suatu “pelepasan dari tubuh” secara virtual, cyborg (organisme sibernetik) dan sejarah penaklukan gendernya. Namun titik berangkat semacam ini salah kaprah, suatu pelupaan akan keseluruhan angkutan dan logika menindas dari institusi yang menciptakan patriarki. Masa depan high-tech yang mengoyak tubuh ini hanya merupakan unsur dan jalan yang sama destruktifnya.</p>
<p>Menurut Freud, menganalisa orang menurut subyek gendernya merupakan sesuatu yang mendasar, baik secara kultural dan psikologis. Namun teori-teorinya mengasumsikan masa yang telah mengekspresikan subyektivitas gender, dan karenanya memicu banyak pertanyaan. Berbagai macam pertimbangan tetap tak terpetakan, seperti halnya gender sebagai suatu ekspresi relasi kekuasaan, dan fakta bahwa manusia datang di dunia sebagai mahkluk biseksual.</p>
<p>Carla Freeman memiliki pertanyaan yang berkaitan di dalam esainya yang berjudul, ‘Is Local: Global as Feminine: Masculine? Rethinking the Gender of Globalization” .(30)</p>
<p>Krisis umum modernitas berakar pada imposisi gender. Pemisahan dan ketidaksetaraan dimulai pada periode lahirnya budaya simbolik, yang pada tingkatan lanjutnya menjadi sesuatu yang menentukan seperti halnya dengan domestikasi dan peradaban: patriarki. Hirarki gender tidak dapat direformasikan seperti halnya sistem kelas atau globalisasi. Tanpa konsep pembebasan perempuan yang benar-benar radikal, kita akan terjebak di dalam pengecohan dan pengerudungan yang sekarang ini telah menjadi hasil yang menakutkan di manapun. Keseluruhan otentik ketiadaan gender mungkin bisa menjadi prasyarat bagi penyelamatan kita.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>1. Camille Paglia, Sexual Personae: Art and Decadence from Nefertiti to Emily Dickinson (Yale University Press: New Haven, 1990), p. 38.</p>
<p>2. Ursula Le Guin, &#8220;Women/Wildness, &#8221; Judith Plant, ed., Healing the Wounds (New Society: Philadelphia, 1989), Hal. 45.</p>
<p>3. Sherry B. Ortner, Making Gender: the Politics and Erotics of Culture (Beacon Press: Boston, 1996), Hal. 24. Lihat juga Cynthia Eller, The Myth of Matriarchal Prehistory: Why an Invented Past Won’t Give Women a Future (Beacon Press: Boston, 2000).</p>
<p>4. Sebagai contoh, Adrienne L. Zihlman dan Nancy Tanner, &#8220;Gathering and Hominid Adaptation,&#8221; dalam Lionel Tiger and Heather Fowler, eds., Female Hierarchies (Beresford: Chicago, 1978); Adrienne L. Zihlman, &#8220;Women in Evolution,&#8221; Signs 4 (1978); Frances Dahlberg, Woman the Gatherer (Yale University Press: New Haven, 1981); Elizabeth Fisher, Woman’s Creation: Sexual Evolution and the Shaping of Society (Anchor/ Doubleday: Garden City NY, 1979).</p>
<p>5. James Steele dan Stephan Shennan, eds., The Archaeology of Human Ancestry (Routledge: New York, 1995), hal. 349. Also, M. Kay Martin and Barbara Voorhies, Female of the Species (Columbia University Press: New York, 1975), hal 210-211.</p>
<p>6. Leacock merupakan salah satu yang paling ngotot di antara semuanya, dengan mengatakan bahwa apapun bentuk dari dominasi pria yang ada dalam masyarakat tersebut yang bertahan, disebabkan oleh efek dominasi kolonial. LIhat Eleanor Burke Leacock, &#8220;Women’s Status in Egalitarian Society,&#8221; Current Anthropology 19 (1978); dan Myths of Male Dominance (Monthly Review Press: New York, 1981). Lihat juga &#8220;Powerful Women and the Myth of Male Dominance in Aztec Society,&#8221;  karya S. dan G. Cafferty Archaeology from Cambridge 7 (1988).</p>
<p>7. Joan Gero dan Margaret W. Conkey, eds., Engendering Archaeology (Blackwell: Cambridge MA, 1991); C.F.M. Bird, &#8220;Woman the Toolmaker,&#8221; Dalam Women in Archaeology (Research School of Pacific and Asian Studies: Canberra, 1993).</p>
<p>8. Claude Meillasoux, Maidens, Meal and Money (Cambridge University Press: Cambridge, 1981), p. 16.</p>
<p>9. Rosalind Miles, The Women’s History of the World (Michael Joseph: London, 1986), p. 16.</p>
<p>10. Zubeeda Banu Quraishy, &#8220;Gender Politics in the Socio-Economic Organization of Contemporary Foragers,&#8221; dalam Ian Keen dan Takako Yamada, eds., Identity and Gender in Hunting and Gathering Societies (National Museum of Ethnology: Osaka, 2000), p. 196.</p>
<p>11. Jane Flax, &#8220;Political Philosophy and the Patriarchal Unconscious, &#8221; dalam Sandra Harding adan Merrill B. Hintikka, eds., Discovering Reality (Reidel: Dortrecht, 1983), pp 269-270.</p>
<p>12. LIhat Patricia Elliott, From Mastery to Analysis: Theories of Gender in Psychoanalytic Feminism (Cornell University Press: Ithaca, 1991), e.g. p. 105.</p>
<p>13. Alain Testart, &#8220;Aboriginal Social Inequality and Reciprocity, &#8221; Oceania 60 (1989), p. 5.</p>
<p>14. Salvatore Cucchiari, &#8220;The Gender Revolution and the Transition from Bisexual Horde to Patrilocal Band,&#8221; dalam , Sexual Meanings: The Cultural Construction of Gender and Sexuality (Cambridge University Press: Cambridge UK, 1984), karya Sherry B. Ortner dan Harriet Whitehead hal. 36. Essay ini sangatlah penting.</p>
<p>15. Olga Soffer, &#8220;Social Transformations at the Middle to Upper Paleolithic Transition,&#8221; dalam Replacement: Controversies in Homo Sapiens Evolution (A.A. Balkema: Rotterdam 1992) karya Günter Brauer dan Fred H. Smith, hal. 254.</p>
<p>16. Juliet Mitchell, Women: The Longest Revolution (Virago Press: London, 1984), hal. 83.</p>
<p>17. Cucchiari, op.cit., hal. 62.</p>
<p>18. Robert Briffault, The Mothers: the Matriarchal Theory of Social Origins (Macmillan: New York, 1931), hal. 159.</p>
<p>19. Theodore Lidz and Ruth Williams Lidz, Oedipus in the Stone Age (International Universities Press: Madison CT, 1988), hal. 123.</p>
<p>20. Elena G. Fedorova, &#8220;The Role of Women in Mansi Society,&#8221; in Peter P. Schweitzer, Dalam Hunters and Gatherers in the Modern World (Berghahn Books: New York, 2000), karya Megan Biesele dan Robert K. Hitchhock, hal. 396.</p>
<p>21. Steven Harrall, Human Families (Westview Press: Boulder CO, 1997), hal. 89. &#8220;Contoh-contoh hubungan antar ritual dan ketidaksetaraan di dalam masyarakat forager tersebar luas,” menurut Stephan Shennan di &#8220;Social Inequality and the Transmission of Cultural Traditions in Forager Societies,&#8221; karya Steele and Shennan, op.cit., hal. 369.</p>
<p>22. Gayle Rubin, &#8220;The Traffic in Women,&#8221; Toward an Anthropology of Women (Monthly Review Press: New York, 1979), hal. 176.</p>
<p>23. Meillasoux, op.cit., hal 20-21.</p>
<p>24. Disebut oleh Indra Munshi, &#8220;Women and Forest: A Study of the Warlis of Western India,&#8221; dalam Gender Relations in Forest Societies in Asia: Patriarchy at Odds (Sage: New Delhi, 2003), karya Govind Kelkar, Dev Nathan dan Pierre Walter, hal. 268.</p>
<p>25. Joel W. Martin, Sacred Revolt: The Muskogees’ Struggle for a New World (Beacon Press: Boston, 1991), hal 99, 143.</p>
<p>26. The production of maize, one of North America’s contributions to domestication, &#8220;had a tremendous effect on women’s work and women’s health.&#8221; Women’s status &#8220;was definitely subordinate to that of males in most of the horticultural societies of [what is now] the eastern United States&#8221; by the time of first European contact. The reference is from Karen Olsen Bruhns and Karen E. Stothert, Women in Ancient America (University of Oklahoma Press: Norman, 1999), p. 88. Also, for example, Gilda A. Morelli, &#8220;Growing Up Female in a Farmer Community and a Forager Community,&#8221; in Mary Ellen Mabeck, Alison Galloway and Adrienne Zihlman, eds., The Evolving Female (Princeton University Press: Princeton, 1997): &#8220;Young Efe [Zaire] forager children are growing up in a community where the relationship between men and women is far more egalitarian than is the relationship between farmer men and women&#8221; (p. 219). See also Catherine Panter- Brick and Tessa M. Pollard, &#8220;Work and Hormonal Variation in Subsistence and Industrial Contexts,&#8221; in C. Panter-Brick and C.M. Worthman, eds., Hormones, Health, and Behavior (Cambridge University Press: Cambridge, 1999), in terms of how much more work is done, compared to men, by women who farm vs. those who forage.</p>
<p>27. The Etoro people of Papua New Guinea have a very similar myth in which Nowali, known for her hunting prowess, bears responsibility for the Etoros’ fall from a state of well-being. Raymond C. Kelly, Constructing Inequality (University of Michigan Press: Ann Arbor, 1993), p. 524.</p>
<p>28. Jacques Cauvin, The Birth of the Gods and the Origins of Nature (Cambridge University Press: Cambridge, 2000), p. 133.</p>
<p>29. Carol A. Stabile, Feminism and the Technological Fix (Manchester University Press: Manchester, 1994), p. 5.</p>
<p>30. Carla Freeman, &#8220;Is Local:Global as Feminine:Masculine? Rethinking the Gender of Globalization, &#8221; Signs 26 (2001).</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan di sekitar kita&#8230;</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/10/perempuan-di-sekitar-kita/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/10/perempuan-di-sekitar-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 16:32:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/10/perempuan-di-sekitar-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : RedRebel Zine Kita sering mengagung-agungkan dan meneriakan tentang kesetaraan,equality, persamaan, all human being are equal bla&#8230;bla&#8230;bla&#8230; Tapi aku ajak lagi SEMUA untuk mengingat kembali&#8230; Ajakan ini untuk semua, perempuan dan laki2&#8230; Apakah bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan yang mengambil keputusan dengan keputusan dari sang pacar?!? Contohnya “Elo minta izin dulu dong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : RedRebel Zine</p>
<p>Kita sering mengagung-agungkan dan meneriakan tentang kesetaraan,equality, persamaan, all human being are equal bla&#8230;bla&#8230;bla&#8230; Tapi aku ajak lagi SEMUA untuk mengingat kembali&#8230; Ajakan ini untuk semua, perempuan dan laki2&#8230;</p>
<p>Apakah bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan yang mengambil keputusan dengan keputusan dari sang pacar?!? Contohnya “Elo minta izin dulu dong ke gw kalo mao pergi sama temen2 elo”, alih2 ‘kekhawatiran’ dari sang pacar&#8230;</p>
<p>Apakah bisa disebut kesetaraan jika masih banyak cowok yang menuntut sang pacar untuk bersikap seperti apa yang diinginkannya?, misalnya “Elo jangan pake baju yang kaya gini lagi ah, mulai besok gw gak mao lagi liat elo pake paju kaya gini ya”, alih2 ‘rasa sayang’ dari sang pacar&#8230;</p>
<p>Apakah bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan tidak boleh pergi atau melakukan sesuatu tanpa kesepakatan dari sang pacar?, misalnya “Gw gak ikutan kereuni yah, soalnya gak dizinin sama cowok gw, nanti dia marah”, alih2 ‘takut mengecewakan’ sang pacar&#8230;</p>
<p><span id="more-173"></span></p>
<p>Apakah bisa disebut kesetaraan jika selalu keputusan salah satu pihak saja dalam mengambil keputusan, bahkan hal sekecil apapun, misalnya “Malam ini kita nonton.”, “Besok elo temenin aku kerumah Dudung.”, “Ambil yang merah aja.”, dan keputusan2 yang tidak boleh digubris lainnya&#8230;</p>
<p>Apakah bisa disebut kesetaraan jika perempuan masih saja maunya diboncengin melulu ketika naik motor, atau duduk disebelah setir ketika naik mobil, atau digandeng ketika menyebrang jalan, atau minta dibawakan tas atau ranselnya ketika naik gunung&#8230;</p>
<p>Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan diragukan kemampuannya dalam melakukan sesuatu, misalnya “diskusi dan berdebat itu ‘a man’s thing” atau “Mana bisa lo baca buku setebel ini?” atau “Gak osah ikutan hiking deh lo, entar lecet lagi kakinya&#8230;”</p>
<p>Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih saja perempuan diidentikan dengan urusan rumah tangga, misalnya “Eh masak dong, elo kan cewe” atau “Nyapu dong, kan elo cewe”&#8230;</p>
<p>Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan menganggap dirinya sebagai perempuan yang ‘CANTIK’ dan ‘IDEAL’ dengan memakai parameter fisik (wajah, payudara besar, kulit putih, kurus langsing,dll) untuk sebuah pembuktian&#8230;</p>
<p>Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan yang dilarang pulang malam dan kemudian dicap ‘perempuan gak benar’ oleh keluarga dan lingkungannya? Misalnya “Eh udah kemaleman nih, elo kan cewe, jangan pulang kemaleman deh. Besok kita kabarin hasil diskusinya ya”. Alih-alih pulang malam berbahaya buat perempuan&#8230;</p>
<p>Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak tubuh perempuan dijadikan objek lelucon dan objek obrolan yang ‘panas’ dalam sebuah perbincangan yang seru&#8230;</p>
<p>Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan menyerahkan, menyalahkan, dan tidak mau melawan segala yang terjadi pada dirinya atas nama takdir&#8230;</p>
<p>Aku mempertanyakan kembali pada diriku dan kalian semua, mempertanyakan mengenai kesetaraan&#8230; equality&#8230;?!?</p>
<p>Cheers&#8230;</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/10/perempuan-di-sekitar-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Feminisme dan Vegetarianisme</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/14/hubungan-feminisme-dan-vegetarianisme/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/14/hubungan-feminisme-dan-vegetarianisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2006 10:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[animal right]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/14/hubungan-feminisme-dan-vegetarianisme/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dosa terburuk terhadap sesama makhluk hidup bukan dengan membenci, namun dengan mengacuhkan mereka. Ini adalah bibit dari ketidakmanusiawian.&#8221; (George Bernard Shaw) KITA memaksa binatang melayani &#8216;kebutuhan&#8217; manusia. Sebagai contoh dalam hal makanan, pakaian, ilmu pengetahuan, hiburan, teman, olah raga, dan berbagai macam lainnya. Dalam kehidupannya, perempuan dalam beberapa hal mengalami eksploitasi serupa. Keduanya berada dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>&#8220;Dosa terburuk terhadap sesama makhluk hidup bukan dengan membenci, namun  dengan mengacuhkan mereka. Ini adalah bibit dari ketidakmanusiawian.&#8221;</em>  <small>(George Bernard Shaw)</small></p></blockquote>
<p>KITA memaksa binatang melayani &#8216;kebutuhan&#8217; manusia. Sebagai contoh dalam hal  makanan, pakaian, ilmu pengetahuan, hiburan, teman, olah raga, dan berbagai  macam lainnya. Dalam kehidupannya, perempuan dalam beberapa hal mengalami  eksploitasi serupa. Keduanya berada dalam tekanan budaya garis laki-laki, dan  mengalami pengurangan kebebasan &#8211; meskipun biasanya hal yang lebih parah terjadi  pada binatang. Sebagian besar masyarakat tidak menyadari diskriminasi seperti  pengubahan fungsi bahasa sehingga dapat digolongkan ke dalam pelecehan. Dan  lebih banyak lagi, kita tidak (mau) melihat ketidakadilan dan kekejaman yang  mengatasnamakan kelebihan kelompok (tertentu) manusia dari sesama makhluk.</p>
<p><span id="more-134"></span></p>
<p>Di dalam kamus Oxford, &#8220;animal&#8221; (binatang) dijabarkan sebagai benda/makhluk  yang dapat merasakan dan bergerak. Melalui ideologi, istilah &#8220;manusia&#8221; telah  memisahkan diri dari &#8220;binatang&#8221;. Kita telah memutuskan mata rantai yang  menghubungkan kita dengan spesies-spesies lain dari binatang. Sama seperti  batasan-batasan yang memisahkan orang kulit putih dan kulit berwarna, laki-laki  dan perempuan. Rasisme adalah kepercayaan yang menempatkan suatu ras tertentu  lebih tinggi, berdasarkan teori bahwa kemampuan, karakter dan lain-lain dari  seorang manusia ditentukan oleh ras. Sexisme adalah prasangka atau diskriminasi  terhadap seseorang atau suatu kelompok atau orang-orang berdasarkan jenis  kelamin mereka. Garis-garis pemisah ini telah dikenali dan ditolak namun telah  ditanamkan sejak muda. Tidak berbeda dalam kehidupan sehari-hari dengan rasisme  dan sexisme adalah diskriminasi yang telah tertanam dalam terhadap  binatang-binatang lain yang bukan manusia. Diskriminasi jenis ini disebut  <strong>Speciesisme</strong>, yaitu suatu kepercayaan bahwa species-species binatang yang  berbeda (termasuk manusia) memiliki perbedaan kapasitas/kemampuan untuk  merasakan kesenangan dan kesakitan dan hak hidup bebasnya, biasanya mencakup  gagasan bahwa species tertentu memiliki hak menguasai dan  menggunakan/memanfaatkan species-species lainnya. Mungkin banyak orang berpikir  bahwa menyetarakan penderitaan binatang-binatang bukan manusia hal-hal yang  dialami oleh manusia adalah penghinaan.</p>
<p>Disamakan dengan seekor binatang dalam budaya kita adalah sama dengan  dikecilkan artinya, atau dianggap tidak memiliki pikiran dan lepas kontrol. Yang  sering digunakan adalah ejekan dengan meneriakkan &#8220;binatang&#8221; dan melupakan bahwa  manusia itu sendiri adalah salah satu jenis speciesnya. Sama seperti istilah  &#8220;mankind&#8221; <em>(man = laki-laki)</em> yang menempatkan perempuan diluar lingkarang  kemanusiaan. Orang menggunakan nama-nama binatang untuk menempelkan label pada  korban-korban mereka. Ketika seorang perempuan disebut sebagai &#8220;sebodoh  kelinci&#8221;, atau &#8220;segemuk sapi&#8221;, kita mengetahui perempuan tersebut telah  dilecehkan karena binatang biasanya menerima penghormatan yang jauh lebih kurang  daripada yang diterima oleh perempuan. Howard Buchbinder, penulis buku &#8220;Male  Heterosexuality&#8221; mengupas stimulus seksual laki-laki dan tanggapan merreka  terhadap perempuan. Tahapan stimulasi, seperti juga proses pengubahan binatang  menjadi daging, dapat diuraikan dalam tiga tahap:</p>
<p>Penempatan sebagai obyek cara laki-laki melihat perempuan sebagai sebuah  konsep. Sebuah kumpulan, suatu benda, suatu obyek, sebuah kumpulan yang tidak  dipandang sebagai individu per individu. Dengan menempatkannya sebagai obyek,  laki-laki tidak lagi perlu berhubungan dengan perempuan pada tingkat personal.  Feminisme telah menunjukkan kepada kita bahwa bahasa kita tidak hanya berpusat  pada laki-laki, tetapi juga selalu dari sisi manusia.</p>
<p>Bahasa garis laki-laki bersikeras bahwa kata ganti yang diperuntukkan bagi  laki-laki bersifat umum mengacu pada manusia baik laki-laki maupun perempuan,  sekaligus khusus mengacu hanya pada laki-laki. Sama halnya dengan &#8220;it&#8221; yang  mengacu pada benda-benda mati dan tidak bergerak yang jenis kelaminnya tidak  dipersoalkan atau tidak diketahui.</p>
<p>Seperti &#8220;he&#8221; yang mengesampingkan kelompok jenis kelamin perempuan dalam  kemanusiaan, &#8220;it&#8221; tidak menyentuh aspek kehidupan yang ada pada diri para  binatang dan memberi mereka status obyek. Hal ini mengingkari kebebasan hidup  dari binatang tersebut. Binatang-binatang yang dianggap sebagai penghasil  makanan dikembangbiakkan baik dalam jumlah kecil maupun besar tidak dilihat  sebagai individu, tidak sama dengan perlakuan lebih bersahabat yang dialami oleh  binatang peliharaan.</p>
<p>Perempuan dapat dipandang sebagai obyek seksual sebagai akibat dari gambaran  yang diperoleh dari budaya yang sedang berkembang sekarang ini. Para perempuan  mungkin mengungkapkan perasaan mereka dengan berkata bahwa mereka diperlakukan  seperti &#8220;seonggok daging&#8221;, harus ditekankan disini bahwa binatang benar-benar  diperlakukan sedemikian rupa.</p>
<p>Fiksasi/pengkhususan cara laki-laki membagi-bagi tubuh perempuan dari  individu-individu secara keseluruhan menjadi bagian-bagian yang secara khusus  dilihat secara seksual, seperti dada, paha, pantat atau pangkal paha. Pada  binatang, pengkhususan menjadi pemisah-misahan. Ini adalah tahap penjagalan, di  &#8220;jalur/lajur pemisahan&#8221; tempat tubuh binatang dipotong dan dipisahkan menjadi  bagian-bagian yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Kita mencari istilah  terselubung bagi tubuh mati dari binatang, yaitu daging, dan memasak serta  membumbui dan menutupi binatang tersebut dengan berbagai rempah dan saus untuk  menyembunyikan bau dan bentuk asli mereka.</p>
<p>Yang terakhir, penaklukkan, dengan keberhasilannya menempatkan perempuan  sebagai obyek yang terbagi-bagi sebagian laki-laki mencapai suatu tingkatan  kepuasan seksual.</p>
<p>Agar setiap orang dapat menikmati kebebasan, tak seorangpun dapat ditekan.  Seorang pemilik budak menghilangkan dua kebasan. Satu kebebasan budaknya, satu  lagi kebebasan dirinya sendiri.</p>
<p>Ciri-ciri penekanan terhadap perempuan dan penekanan terhadap binatang  menunjukkan begitu banyak persamaan sehingga tidaklah mengherankan jika  feminis-feminis awal kebangsaan Amerika sejak jaman Lucy Stine, Amelia Bloomer,  Susan B. Anthony, dan Elizabeth Cady Stanton sampai ke jaman Morgan (The Descent  of Woman), Elizabeth Gould Davis (The First Sex), Laurier Holliday (The Violent  Sex) telah menjauhi perbudakan binatang.</p>
<p>Jika semua yang mendukung falsafah dasar dari kebebasan menyangkut ras, jenis  kelamin, orientasi seksual, atau species bersatu dalam suatu pergerakan menjauhi  segala bentuk eksploitasi dan penekanan, maka semua binatang manusia dan bukan  manusia, laki-laki dan perempuan akan terbebaskan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Disarikan dari : <em>Feminism dan The Vegetarian Connection by Angela Del  Buono</em> (dengan tambahan dari berbagai sumber).</p>
<p>Sumber tulisan : <a href="http://pustaka.otonomis.org/index.php?title=Hubungan_Feminisme_dan_Vegetarianisme">Pustaka Otonomis </a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/12/14/hubungan-feminisme-dan-vegetarianisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
