Patriarki, Peradaban, dan Asal Usul Gender

Oleh: John Zerzan

Pada dasarnya, peradaban, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sinonim?

Filsafat telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagi-bagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai ayah-ayah.” Perempuan, seperti halnya penderitaan, selalu absen dari hal tersebut, dan tentunya (mereka: penderitaan dan perempuan) adalah saudara dekat.

Seperti Camille Paglia, seorang pemikir anti-feminis, ketika ia merenungi peradaban dan perempuan:

“Ketika Aku melihat seekor burung bangau besar melewati sebuah truk panjang, sejenak Aku terdiam dan tertunduk, seperti yang akan dilakukan orang-orang ketika sedang berada dalam ibadah gereja. Konsepsi kekuatan macam apa: kebesaran macam apa: yang dihubungkan oleh bangau-bangau ini dengan peradaban Mesir kuno, ketika arsitektur monumental pertama kali dibayangkan dan dicapai. Apabila peradaban diserahkan ke tangan perempuan, mestilah kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk  jerami.” (1)

[…]

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 3 Komentar

Jaringan Autonomous Kota // hotspot : Salatiga Desentral !

Seruan NOPEMBER
1 Juta Kota-kota Merdeka Seluruh Dunia

Saodara-saodara sepengharapan akan ufuk kemanusiaan. Salam sejahtera. Kota ini milik kita bersama; warganya. Kota ini adalah lingkungan hidup kita bersama. Kota ini adalah kepentingan hidup kita bersama. Bagaimana mungkin kota ini kita pasrahkan ke tangan jahat segelintir elit politik dan ekonomi / kekuasaan berpelindung senapan yang mengancam kita ? Bagaimana mungkin hidup ini kita serahkan untuk diperkosa oleh segelintir elit politik dan ekonomi / kekuasaan dengan topeng demokrasi perwakilan (politisi), otoritas hirarkis (pemerintahan) dan pembangunan hanya demi yang maha segalanya uang (kapitalisme) ? Bagaimana mungkin hidup ini kita serahkan untuk diperlakukan seenaknya demi kepentingan-kepentingan yang tak ada hubungannya dengan hidup kita ? Bagaimana mungkin kita percaya bahwa kita tak bisa mengurus dan mengatur hidup kita sendiri ? Bagaimana mungkin kita mau tak merdeka ? Kita adalah sel- sel otonom yang membentuk jaringan otonom dan akan merebut kembali kota kita … lingkungan bebas kita … hidup sejati kita … tanpa sekali-kali pernah berpikir jahat untuk menguasainya. Kita akan hidup bersama, bekerjasama, bantu-membantu dengan kehendak, daya dan tindakan kita sendiri sebagai individu merdeka dalam kebersamaan yang merdeka. Segenap kekuatan beserta dan di dalam kita Saodara, selamat berjuang dengan riang untuk kehidupan yang lebih baik. Amin.

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Kutukan Bertubi Sambut Parade Sejuta Gay di Jerusalem

Jerusalem – Israel dilanda kerusuhan dan konflik besar menyusul rencana parade satu juta gay dan lesbian di Jerusalem, besok Sabtu (9/11). Kaum gay dan lesbian merupakan aktivis gerakan perdamaian dan antiperang paling kuat di Israel.

Polisi Israel Kamis (9/11) kemarin menyepakati proposal penyelenggara parade, organisasi Jerusalem Open House, untuk memindahkan parade itu ke stadion Universitas Yahudi di daerah tertutup Givat Ram, Jerusalem.

[…]

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Mustahilnya Tuhan

Artikel berikut ini diambil dari majalah Free Inquiry, Vol. 18, No. 3.

BANYAK dari yang dilakukan orang, dilakukan atas nama Tuhan. Orang Irlandia marah kepada satu sama lain atas nama Tuhan. Orang Arab mengutuki dirinya sendiri atas nama Tuhan. Para imam dan ayatollah menindas perempuan atas nama Tuhan. Para paus dan pendeta yang hidup membujang mengacaukan kehidupan seks orang lain atas nama Tuhan. Para shohet Yahudi memotong tenggorokan binatang-binatang hidup atas nama Tuhan. Prestasi agama dalam sejarah masa lalu—perang-perang berdarah, inkuisisi yang penuh penyiksaan, para penakluk yang melakukan pembunuhan massal, para misionaris yang menghancurkan kebudayaan, perlawanan hingga detik terakhir yang diperkuat secara hukum terhadap setiap keping baru kebenaran ilmiah—bahkan lebih mengesankan. Dan apa manfaat dari itu semua? Saya yakin bahwa kini menjadi semakin jelas, jawabannya: tidak ada samasekali. Tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa semacam apapun dari Tuhan itu eksis, dan justru ada alasan yang sangat kuat untuk meyakini bahwa Tuhan-Tuhan itu tidak eksis, dan tak pernah eksis. Segala macam kepercayaan tentang Tuhan itu merupakan penyia-nyiaan waktu yang sangat besar, bahkan penyia-nyiaan hidup. Kepercayaan itu hanya akan menjadi lelucon dengan proporsi kosmis, kalau bukan malah sangat tragis.

[…]

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 4 Komentar

Seruan Aksi : Hari Tanpa Belanja 2006

Hari Tanpa Belanja 2006Sudah lazim memang setiap menjelang hari perayaan Idul Fitri selalu disambut dengan suka cita bagi umat pemeluk agama Islam. Namun, di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, ajang sukacita ini kerap kali dimanfaatkan oleh korporasi untuk memancing mereka menuju konsumerisme. Bukan hanya memancing, saat ini konsumerisme justru telah merebak dengan dahsyatnya ditengah-tengah budaya masyarakat Islam (atau bahkan umat-umat beragama lainnya pada hari-hari perayaan besar keagamaannya masing-masing).

Hal inilah yang mengundang kami untuk mencoba berbuat sesuatu agar budaya yang kian merusak ini setidaknya dapat berkurang atau bahkan dihentikan. Hari Tanpa Belanja adalah budaya baru yang senantiasa kami rayakan untuk mencoba menghentikan budaya konsumerisme yang sengaja diciptakan oleh kapitalis untuk mereduksi pemikiran seseorang bahwa ia butuh segalanya. Konsumerisme juga berarti masyarakat ditipu untuk mendapatkan image yang terbaik dalam lingkungan sosial bermasyarakat dengan cara berbelanja. Konsumerisme juga berarti masyarakat dibuat terhalusinasi bahwa tanpa belanja mereka tidak dapat bertahan hidup lebih lama lagi.

[…]

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 1 Komentar