<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; kontra kultur</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/kontra-kultur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Solid Fest</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2010/07/19/solid-fest/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2010/07/19/solid-fest/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, bulan Agustus ini Institut-A- akan melewati 1 tahun pertamanya, dan untuk melanjutkan ke tahun berikutnya kita perlu membayar sewa rumah kami. Karena selama ini kami mengelola dan membangun Infoshop kami secara otonom, kolektif dan swadaya, namun bagaimanapun juga usaha kami, kami belum mampu untuk menutupi biaya sewa rumah. Kami percaya bahwa solidaritas dan mutualis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="Solid Fest" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/hs338.snc4/41815_136336763054194_4250_n.jpg" alt="" width="200" height="470" /></p>
<p>Kawan, bulan Agustus ini Institut-A- akan melewati 1 tahun pertamanya, dan untuk melanjutkan ke tahun berikutnya kita perlu membayar sewa rumah kami. Karena selama ini kami mengelola dan membangun Infoshop kami secara otonom, kolektif dan swadaya, namun bagaimanapun juga usaha kami, kami belum mampu untuk menutupi biaya sewa rumah.</p>
<p>Kami percaya bahwa solidaritas dan mutualis masih eksis diantara kita, untuk itu kami mengundang kamu semua untuk berpartisipasi dan bersolidaritas. Karena Institut-A- Infohouse bukan milik kami, tapi milik kamu semua!</p>
<p>Datang dan partisipasi yah pada acara:</p>
<div id="_mcePaste"><strong>Solid Fest</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>&#8220;SEBUAH PAMERAN BERSAMA UNTUK BENEFIT INSTITUT-A INFOHOUSE&#8221;</em></strong></div>
<div id="_mcePaste">Hari/Tanggal : Sabtu-Minggu, 31 Juli &amp; 1 Agustus 2010</div>
<div id="_mcePaste">Waktu : Pameran dibuka sejak pagi</div>
<div id="_mcePaste">Acara musik dimulai pada jam 19.00</div>
<div></div>
<div>Ada apa aja?</div>
<div id="_mcePaste">- Pameran karya dari teman2 komunitas</div>
<div id="_mcePaste">- Tabling literatur</div>
<div id="_mcePaste">- Sablon on the Spot</div>
<div id="_mcePaste">- Gelar tembakau lokal</div>
<div id="_mcePaste">- Musik</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Ps. Tolong bantu sebarkan undangan ini ke kawan2mu, komunitas, dan siapapun yaaa&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Info: instituta@gmail.com</div>
<div id="_mcePaste">Web: <a href="http://instituta.webs.com" target="_blank">instituta.webs.com</a></div>
<div id="_mcePaste">Foto: <a href="http://picasaweb.google.co.id/institutA/INSTITUTA" target="_blank">http://picasaweb.google.co.id/institutA/INSTITUTA</a>#</div>
<div></div>
<div>Facebook : <a href="http://www.facebook.com/event.php?eid=136336763054194">http://www.facebook.com/event.php?eid=136336763054194</a></div>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2010/07/19/solid-fest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patriarki, Peradaban, dan Asal Usul Gender</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 13:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[patriarki]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: John Zerzan Pada dasarnya, peradaban, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sinonim? Filsafat telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagi-bagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai ayah-ayah.” Perempuan, seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: John Zerzan</p>
<p>Pada dasarnya, peradaban, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sinonim?</p>
<p>Filsafat telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagi-bagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai ayah-ayah.” Perempuan, seperti halnya penderitaan, selalu absen dari hal tersebut, dan tentunya (mereka: penderitaan dan perempuan) adalah saudara dekat.</p>
<p>Seperti Camille Paglia, seorang pemikir anti-feminis, ketika ia merenungi peradaban dan perempuan:</p>
<p><em>“Ketika Aku melihat seekor burung bangau besar melewati sebuah truk panjang, sejenak Aku terdiam dan tertunduk, seperti yang akan dilakukan orang-orang ketika sedang berada dalam ibadah gereja. Konsepsi kekuatan macam apa: kebesaran macam apa: yang dihubungkan oleh bangau-bangau ini dengan peradaban Mesir kuno, ketika arsitektur monumental pertama kali dibayangkan dan dicapai. Apabila peradaban diserahkan ke tangan perempuan, mestilah kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk  jerami.”</em> (1)</p>
<p><span id="more-176"></span><br />
“Kejayaan” peradaban dan bagaimana hal tersebut tidak menarik bagi perempuan. Bagi sebagian dari kita “gubuk-gubuk jerami” mewakili acuan untuk tidak mengambil jalan yang salah, yaitu penindasan dan pengrusakan. Di dalam kemajuan peradaban teknologi global yang mengarah pada kehancuran dan kematian, andai saja kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk jerami!</p>
<p>Perempuan dan alam secara universal telah dihilangkan nilainya oleh paradigma dominan dan siapa yang tak melihat pertanda-tanda dari ini? Ursula Le Guin memberikan kita koreksi yang tepat dari ketidakpercayaan Paglia akan keduanya (perempuan dan alam):</p>
<p>“Manusia beradab berkata: Aku adalah diri, Aku adalah tuan, segala sesuatu diluar dari Aku adalah yang lain—berada di luar, di bawah, tak terlihat, bawahan. Aku memiliki, Aku menggunakan, Aku mengeksplorasi, Aku mengeksploitasi, Aku mengontrol. Apa yang kulakukan adalah yang penting.  Apa yang Aku inginkan adalah alasan mengapa semua ini ada. Aku adalah Aku, dan selain dari itu adalah keperempuanan dan keliaran yang, harus digunakan sesuai kemauanku.” (2)</p>
<p>Banyak orang percaya bahwa peradaban mula-mula itu matriarkal. Namun tak seorangpun ahli antropologi atau arkeologi, termasuk feminis, menemukan bukti dari asumsi tersebut. “Pencarian akan sebuah budaya egalitarian asli yang, taruhlah matriarkal, tak pernah membuahkan hasil,” terang Sherry Ortner. (3)</p>
<p>Meskipun demikian, memang ada masanya, sebelum budaya lelaki menjadi sesuatu yang universal, ketika perempuan secara garis besar tidak selalu berada di bawah pria. Sejak 1970an antropolog semacam Adrienne Zihlman, Nancy tanner dan Frances Dahlberg (4) membenarkan stereotip mula-mula era prasejarah di mana ”Lelaki adalah sang pemburu” dan ”Perempuan adalah sang peramu.” Kuncinya di sini adalah data bahwa secara garis besar, komunitas-komunitas pra-agrikultur memperoleh 80 persen kebutuhan makan dari mengumpul (mengumpulkan makanan) dan 20 persen dari berburu. Sangat  mungkin untuk mencurigai pemisahan antara berkumpul/berburu dan mengabaikan bahwa komunitas-komunitas tersebut, dalam tingkatan-tingkatan signifikan, dapat membuktikan bahwa perempuan yang berburu dan pria yang meramu (5). Namun otonomi perempuan di dalam masyarakat semacam ini mengacu pada fakta, melalui penilaian pola aktivitas mereka, bahwa sumberdaya untuk hidup bagi perempuan cukup setara dengan pria.</p>
<p>Dalam konteks etos-etos egalitarian kelompok pemburu (hunter gatherer) atau peramu makanan (foraging society), ahli-ahli antropologi seperti Eleanor Leacock, Patricia Draper dan Mina Caufield telah menjelaskan, secara garis besar, terdapat bukti adanya hubungan setara antara perempuan dan pria (6). Di dalam tatanan masyarakat semacam itu ketika seseorang memperoleh sesuatu Ia pula yang akan membagikannya dan ketika perempuan memperoleh 80 persen makanan, maka mereka jugalah yang menentukan aturan bagi gerak kelompok serta lokasi-lokasi untuk menetap. Serupa dengan adanya bukti bahwa perempuan dan pria yang membuat alat-alat dari batu yang digunakan oleh masyarakat-masyarak at pra-agrikultur. (7)</p>
<p>Dalam komunitas-komunitas matriarkal Pueblo, Iroquois, Crow dan kelompok-kelompok Indian Amerika lainnya, perempuan dapat memutuskan tali perkawinan kapan saja. Secara garis besar, pria dan perempuan di dalam masyarakat semacam ini lebih leluasa bergerak dengan bebas dan damai dari satu kelompok ke kelompok lainnya, seperti halnya juga ketika mereka berada di dalam atau di luar suatu hubungan. (8) Menurut Rosalind Miles, pria tidak hanya tidak memerintah ataupun mengeksploitasi perempuan, “mereka memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki kendali atas tubuh perempuan maupun anak-anak mereka, sehingga tidak ada yang namanya penyakralan akan suatu keperawanan atau kesucian, dan (kaum lelaki) tidak menuntut apapun dari eksklusivitas aktivitas seksual perempuan.” (9) Zubaeeda Banu Quraishy memberikan satu contoh dari Afrika: “Hubungan-hubungan gender suku Mbuti dikarakteristikan oleh harmoni dan kerjasama.” (10)</p>
<p>Seseorang akan berpikir, benarkah situasinya semenyenangkan itu? Melihat terjadinya penghapusan makna keperempuanan yang beragam bentuknya namun tidak secara esensi, pertanyaan bahwa kapan dan bagaimana, cukup jelas berkata sebaliknya. Terdapat sebuah pemisahan mendasar eksistensi sosial menurut gender, serta hirarki dari pemisahan tersebut. Bagi filosof Jane Flax, dualisme yang paling mapan, termasuk pemisahan subyek-obyek serta tubuh-pikiran, merupakan suatu refleksi dari perpecahan gender. (11)</p>
<p>Gender tidaklah serupa dengan pemisahan kealamian/fisiologi s menurut jenis kelamin. Ia adalah suatu kategorisasi kultural dan tingkatan yang bersandar pada sebuah pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin yang, bisa jadi merupakan bentuk tunggal kultural yang terpenting. Apabila gender membawa dan melegitimasi ketidaksetaraan serta dominasi, apa yang penting untuk dipertanyakan? Jadi dalam pengertian asal-usulnya— serta dalam pengertian masa depan kita—pertanyaan mengenai masyarakat manusia tanpa gender yang menjadi pertanyaannya.</p>
<p>Kita semua mengerti bahwa pembagian divisi kerja memperlebar jalan terciptanya domestikasi dan peradaban yang menjadi penggerak sistem dominasi global sekarang ini. Juga terlihat bahwa bentukan-bentukan pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin merupakan bentuknya yang paling awal dan juga, sebagai efeknya, membentuk formasi gender.</p>
<p>Saling berbagi makanan telah lama diketahui sebagai suatu capaian terbaik dari cara hidup meramu bahan makanan (foraging society). Sama halnya dengan membagi-bagi kewajiban untuk merawat keturunan yang masih dapat dilihat dari sisa-sisa masyarakat semacam itu, dan pola semacam ini cukuplah berbeda dengan kehidupan keluarga dalam peradaban (“yang beradab”) yang terisolasi dan terprivatisasi. Keluarga tidak dipandang sebagai suatu institusi yang abadi, begitupula dengan peran ibu yang sekarang ini dimaknai sebagai suatu hal yang tak terhindarkan dari evolusi manusia.</p>
<p>Masyarakat terintegrasikan melalui pembagian divisi kerja dan keluarga melalui pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin. Kebutuhan untuk integrasi memperlihatkan sebuah tegangan, sebuah keterpisahan yang mengundang suatu dasaran kohesi atau solidaritas. Dalam pengertian ini, anggapan Testart cukup tepat: ”hal yang inheren di dalam hubungan kekerabatan adalah hirarki.” (13) Dengan berdasar pada pembagian divisi kerja, hubungan di dalam keluarga menjadi hubungan produksi. ”Gender adalah sesuatu yang inheren di dalam sifat alami hubungan keluarga,” seperti yang dijelaskan oleh Cucchiari, ”yang tak dapat eksis tanpanya.” Di dalam wilayah inilah akar dari dominasi terhadap alam dan perempuan dapat dieskplorasi.</p>
<p>Seperti yang telah diketahui, suku-suku peramu makanan di dalam masyarakat semacam itu membuka jalan bagi peran-peran yang terspesialisasi, struktur hubungan kekerabatan membentuk infrastruktur hubungan yang akan berkembang menuju ketidaksetaraan dan pembeda-bedaan kekuatan. Lumrahnya perempuan menjadi pasif akibat suatu peran khusus menjaga anak; pola semacam ini selanjutnya semakin berkembang melampui kriteria-kriteria yang tadinya terbentuk sebagai peran gender. Pemisahan dan pembagian divisi kerja menurut gender ini mulai hadir selama transisi dari era Pertengahan sampai era Paleolitikum Lanjut. (15)</p>
<p>Gender dan sistem hubungan kekerabatan merupakan konstruksi kultural yang di bentuk berdasarkan dan bertentangan dengan subyek-subyek biologis yang, menurut Juliet Mitchell, melibatkan “lebih dari apapun sebuah organisasi simbolik dari perilaku.” (16) Seperti yang telah eksis di dalam masyarakat berbasis gender, mungkin akan lebih menjelaskan apabila melihat langsung pada budaya simbolik itu sendiri, dengan melihat “kebutuhan untuk memediasi secara simbolis suatu pendikotomian kosmos yang hebat.” (17) Pertanyaan siapa-yang-lebih- dulu-muncul, datang dengan sendirinya dan sulit untuk diketahui. Kendati demikian, cukup jelas bahwa tak ada pembuktian aktivitas-aktivitas simbolik (seperti misalnya yang terdapat di dalam lukisan-lukisan goa) sebelum sistem gender, yang didasari pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, terlihat berlangsung di era tersebut. (18)</p>
<p>Memasuki era Paleolitikum Lanjut, yang merupakan awalan dari Revolusi era Neolitikum di mana terbentuknya peradaban dan domestikasi, revolusi gender telah mencapai masanya. Tanda-tanda maskulin dan feminim mulai hadir sekitar 35,000 tahun lalu di dalam seni-seni goa. Kesadaran gender bangkit sebagai pencapaian keseluruhan dualitas, suatu spektral dari masyarakat yang terpilah-pilah. Di dalam suatu polarisasi aktivitas baru ini, aktivitas menjadi berorientasi dan terdefinisikan oleh gender. Peran pemburu, misalnya, berkembang menjadi sesuatu yang kelaki-lakian, kriteria-kriteriany a terkhususkan pada gender pria sebagai suatu sifat yang diinginkan.</p>
<p>Ketika telah menjadi sangat menyatu atau menyeluruh, aktivitas semacam kelompok-kelompok peramu makanan dan tanggung jawab komunal untuk merawat anak, sekarang ini menjadi bidang-bidang yang terpisah di mana kecemburuan seksual dan kepemilikan (posesif) mulai hadir. Di saat yang bersamaan, hal-hal simbolis muncul sebagai suatu bidang ataupun realitas yang terpisah. Bukti-bukti ini bisa dilihat dalam praktik-praktik seni dan ritual. Sangatlah beresiko untuk mengandaikan masa lalu yang jauh menggunakan titik berangkat masa sekarang, meskipun budaya-budaya non-industrial yang masih tersisa dapat menunjukan titik terang. Suku Bimin-Kushumin Papua Nugini, misalnya, mengalami pemisahan maskulin dan feminim sebagai sesuatu yang mendasar dan menegaskan. ”Esensi” maskulin, yang diistilahkan sebagai finiik, tidak hanya melambangkan kualitas-kualitas kekuatan ala ksatria perang, tapi juga berhubungan dengan ritual dan kontrol. ”Esensi” feminim, atau khaapkhabuurien, adalah sesuatu yang liar, impulsif, sensual, dan acuh pada ritual. Sama halnya dengan Mansi di daerah barat-daya Siberia yang memberlakukan aturan-aturan keras pada keterlibatan perempuan di dalam praktik-praktik ritual. (20) Dengan bukti suku-suku seperti ini, bukanlah hal yang berlebihan untuk mengatakan bahwa peran ritual merupakan sesuatu yang menentukan bagi subordinasi perempuan. (21) Gayle Rubin menyimpulkan bahwa ”kekalahan universal perempuan secara historis hadir melalui asal-usul budaya dan merupakan prasyarat dari terjadinya budaya.” (22)</p>
<p>Kebangkitan bersamaan budaya simbolis dan kehidupan gender bukanlah suatu kejadian yang kebetulan. Kedua-duanya melibatkan suatu perubahan mendasar dari kehidupan yang tadinya tidak terpilah-pilah dan non-hirarkis. Logika perkembangan dan perluasan kedua hal tersebut merupakan sebuah respon dari tegangan-tegangan dan ketidaksetaraan yang mereka ciptakan; keduanya saling-terhubung secara dialektis dengan awal-mula pemisahan divisi kerja yang artifisial.</p>
<p>Secara cukup relatif, Lompatan Besar Menuju era agrikultur dan peradaban mulai hadir ketika terjadinya alterasi gender atau budaya simbolik. Ini merupakan era yang menentukan bagi istilah ”berdiri diatas alam”, dengan mulai mengenyampingkan keharmonisan dan kecerdasan non dominatif dengan alam. Perubahan ini cukup menentukan bagi konsolidasi dan intensifikasi pembagian divisi kerja. Meillasoux mengingatkan kita tentang permulaannya:</p>
<p>Alam sama sekali tidak menjelaskan mengenai pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, tidak pula dengan institusi semacam pernikahan, keterikatan suami-istri, maupun paternalitas. Semuanya dipaksakan kepada perempuan, maka dari itu semua ini haruslah dijelaskan melalui peradaban, bukan malah menggunakannya untuk menjelaskan secara sebaliknya. (23)</p>
<p>Kelkar dan Nathan, misalnya, tidak banyak menemukan bukti adanya spesialisasi gender pada suku-suku kelompok pemburu di India bagian barat, apabila dibandingkan dengan kondisi masyarakat agrikultur disana. (24) Transisi dari cara-cara mengumpulkan makanan menuju pada produksi makanan mengarah pada perubahan-perubahan radikal di dalam masyarakat di mana saja. Cukuplah menjelaskan, apabila mencermati contoh yang mendekati jaman sekarang, bahwa suku Muskogee di Amerika Tenggara yang menjunjung tinggi nilai-nilai intrinsik dari hutan yang belum terjamah, dan terdomestikasi; dijajah oleh kaum kolonial dan menggantikan tradisi Muskogee yang matrilineal dengan hubungan patrilineal. (25)</p>
<p>Tempat terjadinya transformasi dari gaya hidup alami (liar) menuju yang berbudaya adalah ketika manusia mulai berdomisili secara tetap, sebagaimana perempuan mulai terbatasi horison-horisonnya. Domestikasi berangkat dari sini (juga secara etimologi, yang latinnya domus, atau rumah tangga): kerja-kerja membosankan- -yang tidak sesulit seperti meramu bahan makanan&#8211;, reproduksi berlebihan, dan pengharapan hidup yang lebih rendah daripada kaum pria. Indikasi-indikasi ini hadir di dalam masyarakat agrikultur sebagai peran perempuan. (26) Dari sini dikotomi yang lain lagi muncul, pembedaan antara kerja dan non-kerja, sesuatu yang bagi banyak generasi tidak pernah eksis. Melalui produksi gender ini beserta perluasannya yang konstan, mulai berkembanglah fondasi-fondasi budaya dan mentalitas kita.</p>
<p>Setelah dibatas-batasi seperti ini, perempuan, meski belum sepenuhnya dipasifkan, mulai didefinisikan sebagai pasif. Seperti halnya alam, sebagai nilai yang dijadikan sumber untuk diproduksi; yang menunggu penyuburan dan pengaktivan dari luar tubuhnya. Perempuan mengalami pelepasan otonomi dan kesetaraan yang relatif di dalam suku-suku kecil yang bersifat nomadik dan anarkik menjadi kediaman-kediaman yang besar, kompleks, dan dikontrol.</p>
<p>Mitologi dan agama, sebagai kompensasi-kompensa si dari masyarakat yang terpilah-pilah, bersaksi atas direduksinya posisi perempuan. Dalam cerita Yunani versi Homer, tanah kosong (yang belum didomestikasi oleh budaya bercocok-tanam) , kediaman Calypso asal Circa, Sirens yang menggoda Odysseus untuk meninggalkan kerja-kerja peradaban, dikategorikan sebagai feminin. Baik tanah dan perempuan, sekali lagi, menjadi subyek dominasi. Namun imperialisme semacam ini mengkhianati asal muasal rasa bersalah, sebagaimana hukuman bagi mereka yang berkaitan dengan domestikasi dan teknologi, di dalam dongeng-dongeng Promotheus dan Sisifus. Proyek-proyek agrikultur di banyak tempat, menjadi semacam pelanggaran; seperti halnya pemerkosaan di dalam cerita-cerita Demeter. Seiring lewatnya waktu dan kekalahan-kekalahan , hubungan-hubungan ibu dan anak perempuan di dalam mitos Yunani—seperti cerita-cerita Demeter-Kore, Clytemnestra- Iphigenia, Jocastra-Antigone, misalnya—mulai hilang.</p>
<p>Di dalam kitab Kejadian, bagian awal dari Alkitab, perempuan lahir dari rusuk pria. Pengusiran dari taman Eden mewakili kematian kehidupan berburu dan berkumpul, pemaksaan menuju agrikultur dan kerja-kerja keras. Tentunya, semua itu disalahkan pada Hawa, yang menjadi stigma dari pengusiran ini. (27) Cukup ironis memang, di dalam cerita tersebut domestikasi terasa seperti rasa takut dan penolakan terhadap sifat alami perempuan, sementara mitos Eden, dalam kenyataannya, justru menyalahkan korban utama dari skenarionya.</p>
<p>Agrikultur adalah penaklukan yang mengisi lahirnya formasi dan berkembangnya gender. Terlepas dari adanya figur-figur dewi-dewi, yang dijadikan sebagai lambang kesuburan, secara garis besar budaya Neolitikum sangatlah menjunjung tinggi kejantanan. Melalui dimensi-dimensi emosional maskulinisme, sebagaimana yang dilihat Cauvin, domestikasi hewan-hewan mestilah datang dari inisiatif kaum pria. (28) Semenjak itu pemisahan dan tekanan pada kekuasaan mulai hadir bersama kita; ekspansi daerah-daerah, misalnya, di mana energi pria menundukan sifat alami perempuan mulai diperluas.</p>
<p>Hal ini telah mencapai proporsinya yang dashyat, dan dari segala sisi kita diberitahu bahwa kita tidak dapat menghindari hubungan dengan teknologi yang sudah sangat menyeluruh. Namun patriarki, juga, ada di mana-mana, dan sekali lagi inferioritas alam dipertahankan. Untungnya, ”banyak kaum feminis”, menurut Carol Stabile, percaya bahwa “penolakan terhadap teknologi sangatlah identik dengan penolakan terhadap patriarki.” (29)</p>
<p>Ada kaum feminis lain yang mengklaim bahwa bagian dari sumber-sumber teknologi, mengakui adanya suatu “pelepasan dari tubuh” secara virtual, cyborg (organisme sibernetik) dan sejarah penaklukan gendernya. Namun titik berangkat semacam ini salah kaprah, suatu pelupaan akan keseluruhan angkutan dan logika menindas dari institusi yang menciptakan patriarki. Masa depan high-tech yang mengoyak tubuh ini hanya merupakan unsur dan jalan yang sama destruktifnya.</p>
<p>Menurut Freud, menganalisa orang menurut subyek gendernya merupakan sesuatu yang mendasar, baik secara kultural dan psikologis. Namun teori-teorinya mengasumsikan masa yang telah mengekspresikan subyektivitas gender, dan karenanya memicu banyak pertanyaan. Berbagai macam pertimbangan tetap tak terpetakan, seperti halnya gender sebagai suatu ekspresi relasi kekuasaan, dan fakta bahwa manusia datang di dunia sebagai mahkluk biseksual.</p>
<p>Carla Freeman memiliki pertanyaan yang berkaitan di dalam esainya yang berjudul, ‘Is Local: Global as Feminine: Masculine? Rethinking the Gender of Globalization” .(30)</p>
<p>Krisis umum modernitas berakar pada imposisi gender. Pemisahan dan ketidaksetaraan dimulai pada periode lahirnya budaya simbolik, yang pada tingkatan lanjutnya menjadi sesuatu yang menentukan seperti halnya dengan domestikasi dan peradaban: patriarki. Hirarki gender tidak dapat direformasikan seperti halnya sistem kelas atau globalisasi. Tanpa konsep pembebasan perempuan yang benar-benar radikal, kita akan terjebak di dalam pengecohan dan pengerudungan yang sekarang ini telah menjadi hasil yang menakutkan di manapun. Keseluruhan otentik ketiadaan gender mungkin bisa menjadi prasyarat bagi penyelamatan kita.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>1. Camille Paglia, Sexual Personae: Art and Decadence from Nefertiti to Emily Dickinson (Yale University Press: New Haven, 1990), p. 38.</p>
<p>2. Ursula Le Guin, &#8220;Women/Wildness, &#8221; Judith Plant, ed., Healing the Wounds (New Society: Philadelphia, 1989), Hal. 45.</p>
<p>3. Sherry B. Ortner, Making Gender: the Politics and Erotics of Culture (Beacon Press: Boston, 1996), Hal. 24. Lihat juga Cynthia Eller, The Myth of Matriarchal Prehistory: Why an Invented Past Won’t Give Women a Future (Beacon Press: Boston, 2000).</p>
<p>4. Sebagai contoh, Adrienne L. Zihlman dan Nancy Tanner, &#8220;Gathering and Hominid Adaptation,&#8221; dalam Lionel Tiger and Heather Fowler, eds., Female Hierarchies (Beresford: Chicago, 1978); Adrienne L. Zihlman, &#8220;Women in Evolution,&#8221; Signs 4 (1978); Frances Dahlberg, Woman the Gatherer (Yale University Press: New Haven, 1981); Elizabeth Fisher, Woman’s Creation: Sexual Evolution and the Shaping of Society (Anchor/ Doubleday: Garden City NY, 1979).</p>
<p>5. James Steele dan Stephan Shennan, eds., The Archaeology of Human Ancestry (Routledge: New York, 1995), hal. 349. Also, M. Kay Martin and Barbara Voorhies, Female of the Species (Columbia University Press: New York, 1975), hal 210-211.</p>
<p>6. Leacock merupakan salah satu yang paling ngotot di antara semuanya, dengan mengatakan bahwa apapun bentuk dari dominasi pria yang ada dalam masyarakat tersebut yang bertahan, disebabkan oleh efek dominasi kolonial. LIhat Eleanor Burke Leacock, &#8220;Women’s Status in Egalitarian Society,&#8221; Current Anthropology 19 (1978); dan Myths of Male Dominance (Monthly Review Press: New York, 1981). Lihat juga &#8220;Powerful Women and the Myth of Male Dominance in Aztec Society,&#8221;  karya S. dan G. Cafferty Archaeology from Cambridge 7 (1988).</p>
<p>7. Joan Gero dan Margaret W. Conkey, eds., Engendering Archaeology (Blackwell: Cambridge MA, 1991); C.F.M. Bird, &#8220;Woman the Toolmaker,&#8221; Dalam Women in Archaeology (Research School of Pacific and Asian Studies: Canberra, 1993).</p>
<p>8. Claude Meillasoux, Maidens, Meal and Money (Cambridge University Press: Cambridge, 1981), p. 16.</p>
<p>9. Rosalind Miles, The Women’s History of the World (Michael Joseph: London, 1986), p. 16.</p>
<p>10. Zubeeda Banu Quraishy, &#8220;Gender Politics in the Socio-Economic Organization of Contemporary Foragers,&#8221; dalam Ian Keen dan Takako Yamada, eds., Identity and Gender in Hunting and Gathering Societies (National Museum of Ethnology: Osaka, 2000), p. 196.</p>
<p>11. Jane Flax, &#8220;Political Philosophy and the Patriarchal Unconscious, &#8221; dalam Sandra Harding adan Merrill B. Hintikka, eds., Discovering Reality (Reidel: Dortrecht, 1983), pp 269-270.</p>
<p>12. LIhat Patricia Elliott, From Mastery to Analysis: Theories of Gender in Psychoanalytic Feminism (Cornell University Press: Ithaca, 1991), e.g. p. 105.</p>
<p>13. Alain Testart, &#8220;Aboriginal Social Inequality and Reciprocity, &#8221; Oceania 60 (1989), p. 5.</p>
<p>14. Salvatore Cucchiari, &#8220;The Gender Revolution and the Transition from Bisexual Horde to Patrilocal Band,&#8221; dalam , Sexual Meanings: The Cultural Construction of Gender and Sexuality (Cambridge University Press: Cambridge UK, 1984), karya Sherry B. Ortner dan Harriet Whitehead hal. 36. Essay ini sangatlah penting.</p>
<p>15. Olga Soffer, &#8220;Social Transformations at the Middle to Upper Paleolithic Transition,&#8221; dalam Replacement: Controversies in Homo Sapiens Evolution (A.A. Balkema: Rotterdam 1992) karya Günter Brauer dan Fred H. Smith, hal. 254.</p>
<p>16. Juliet Mitchell, Women: The Longest Revolution (Virago Press: London, 1984), hal. 83.</p>
<p>17. Cucchiari, op.cit., hal. 62.</p>
<p>18. Robert Briffault, The Mothers: the Matriarchal Theory of Social Origins (Macmillan: New York, 1931), hal. 159.</p>
<p>19. Theodore Lidz and Ruth Williams Lidz, Oedipus in the Stone Age (International Universities Press: Madison CT, 1988), hal. 123.</p>
<p>20. Elena G. Fedorova, &#8220;The Role of Women in Mansi Society,&#8221; in Peter P. Schweitzer, Dalam Hunters and Gatherers in the Modern World (Berghahn Books: New York, 2000), karya Megan Biesele dan Robert K. Hitchhock, hal. 396.</p>
<p>21. Steven Harrall, Human Families (Westview Press: Boulder CO, 1997), hal. 89. &#8220;Contoh-contoh hubungan antar ritual dan ketidaksetaraan di dalam masyarakat forager tersebar luas,” menurut Stephan Shennan di &#8220;Social Inequality and the Transmission of Cultural Traditions in Forager Societies,&#8221; karya Steele and Shennan, op.cit., hal. 369.</p>
<p>22. Gayle Rubin, &#8220;The Traffic in Women,&#8221; Toward an Anthropology of Women (Monthly Review Press: New York, 1979), hal. 176.</p>
<p>23. Meillasoux, op.cit., hal 20-21.</p>
<p>24. Disebut oleh Indra Munshi, &#8220;Women and Forest: A Study of the Warlis of Western India,&#8221; dalam Gender Relations in Forest Societies in Asia: Patriarchy at Odds (Sage: New Delhi, 2003), karya Govind Kelkar, Dev Nathan dan Pierre Walter, hal. 268.</p>
<p>25. Joel W. Martin, Sacred Revolt: The Muskogees’ Struggle for a New World (Beacon Press: Boston, 1991), hal 99, 143.</p>
<p>26. The production of maize, one of North America’s contributions to domestication, &#8220;had a tremendous effect on women’s work and women’s health.&#8221; Women’s status &#8220;was definitely subordinate to that of males in most of the horticultural societies of [what is now] the eastern United States&#8221; by the time of first European contact. The reference is from Karen Olsen Bruhns and Karen E. Stothert, Women in Ancient America (University of Oklahoma Press: Norman, 1999), p. 88. Also, for example, Gilda A. Morelli, &#8220;Growing Up Female in a Farmer Community and a Forager Community,&#8221; in Mary Ellen Mabeck, Alison Galloway and Adrienne Zihlman, eds., The Evolving Female (Princeton University Press: Princeton, 1997): &#8220;Young Efe [Zaire] forager children are growing up in a community where the relationship between men and women is far more egalitarian than is the relationship between farmer men and women&#8221; (p. 219). See also Catherine Panter- Brick and Tessa M. Pollard, &#8220;Work and Hormonal Variation in Subsistence and Industrial Contexts,&#8221; in C. Panter-Brick and C.M. Worthman, eds., Hormones, Health, and Behavior (Cambridge University Press: Cambridge, 1999), in terms of how much more work is done, compared to men, by women who farm vs. those who forage.</p>
<p>27. The Etoro people of Papua New Guinea have a very similar myth in which Nowali, known for her hunting prowess, bears responsibility for the Etoros’ fall from a state of well-being. Raymond C. Kelly, Constructing Inequality (University of Michigan Press: Ann Arbor, 1993), p. 524.</p>
<p>28. Jacques Cauvin, The Birth of the Gods and the Origins of Nature (Cambridge University Press: Cambridge, 2000), p. 133.</p>
<p>29. Carol A. Stabile, Feminism and the Technological Fix (Manchester University Press: Manchester, 1994), p. 5.</p>
<p>30. Carla Freeman, &#8220;Is Local:Global as Feminine:Masculine? Rethinking the Gender of Globalization, &#8221; Signs 26 (2001).</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/10/15/patriarki-peradaban-dan-asal-usul-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaringan Autonomous Kota // hotspot : Salatiga Desentral !</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2006 15:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/</guid>
		<description><![CDATA[Seruan NOPEMBER 1 Juta Kota-kota Merdeka Seluruh Dunia Saodara-saodara sepengharapan akan ufuk kemanusiaan. Salam sejahtera. Kota ini milik kita bersama; warganya. Kota ini adalah lingkungan hidup kita bersama. Kota ini adalah kepentingan hidup kita bersama. Bagaimana mungkin kota ini kita pasrahkan ke tangan jahat segelintir elit politik dan ekonomi / kekuasaan berpelindung senapan yang mengancam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seruan NOPEMBER<br />
1 Juta Kota-kota Merdeka Seluruh Dunia</strong></p>
<p>Saodara-saodara sepengharapan akan ufuk kemanusiaan. Salam  sejahtera. Kota ini milik kita bersama; warganya. Kota ini adalah  lingkungan hidup kita bersama. Kota ini adalah kepentingan hidup  kita bersama. Bagaimana mungkin kota ini kita pasrahkan ke tangan  jahat segelintir elit politik dan ekonomi / kekuasaan berpelindung  senapan yang mengancam kita ? Bagaimana mungkin hidup ini kita  serahkan untuk diperkosa oleh segelintir elit politik dan ekonomi /  kekuasaan dengan topeng demokrasi perwakilan (politisi), otoritas  hirarkis (pemerintahan) dan pembangunan hanya demi yang maha  segalanya uang (kapitalisme) ? Bagaimana mungkin hidup ini kita  serahkan untuk diperlakukan seenaknya demi kepentingan-kepentingan  yang tak ada hubungannya dengan hidup kita ? Bagaimana mungkin kita  percaya bahwa kita tak bisa mengurus dan mengatur hidup kita  sendiri ? Bagaimana mungkin kita mau tak merdeka ? Kita adalah sel- sel otonom yang membentuk jaringan otonom dan akan merebut kembali  kota kita &#8230; lingkungan bebas kita &#8230; hidup sejati kita &#8230; tanpa  sekali-kali pernah berpikir jahat untuk menguasainya. Kita akan  hidup bersama, bekerjasama, bantu-membantu dengan kehendak, daya dan  tindakan kita sendiri sebagai individu merdeka dalam kebersamaan  yang merdeka. Segenap kekuatan beserta dan di dalam kita Saodara,  selamat berjuang dengan riang untuk kehidupan yang lebih baik. Amin.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/27/jaringan-autonomous-kota-hotspot-salatiga-desentral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kutukan Bertubi Sambut Parade Sejuta Gay di Jerusalem</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/kutukan-bertubi-sambut-parade-sejuta-gay-di-jerusalem/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/kutukan-bertubi-sambut-parade-sejuta-gay-di-jerusalem/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2006 06:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/kutukan-bertubi-sambut-parade-sejuta-gay-di-jerusalem/</guid>
		<description><![CDATA[Jerusalem &#8211; Israel dilanda kerusuhan dan konflik besar menyusul rencana parade satu juta gay dan lesbian di Jerusalem, besok Sabtu (9/11). Kaum gay dan lesbian merupakan aktivis gerakan perdamaian dan antiperang paling kuat di Israel. Polisi Israel Kamis (9/11) kemarin menyepakati proposal penyelenggara parade, organisasi Jerusalem Open House, untuk memindahkan parade itu ke stadion Universitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jerusalem &#8211; Israel dilanda kerusuhan dan konflik besar menyusul rencana parade satu juta gay dan lesbian di Jerusalem, besok Sabtu (9/11). Kaum gay dan lesbian merupakan aktivis gerakan perdamaian dan antiperang paling kuat di Israel.</p>
<p>Polisi Israel Kamis (9/11) kemarin menyepakati proposal penyelenggara parade, organisasi Jerusalem Open House, untuk memindahkan parade itu ke stadion Universitas Yahudi di daerah tertutup Givat Ram, Jerusalem.</p>
<p><span id="more-125"></span>Menurut situs haaretz.com, Kamis (9/11), penyelenggara memindahkan parade dengan alasan situasi keamanan yang tegang antara Israel dan Palestina menyusul serangan mematikan Israel ke kota Gaza yang menewaskan 19 warga Palestina.</p>
<p>Parade kaum homoseksual di Israel ini juga mendapat persetujuan Mahkamah Tinggi Israel, kemarin.</p>
<p>Namun, kaum Yahudi Ultra-Ortodoks Minggu lalu menentang parade tersebut. Kaum Yahudi ektrem menyerang polisi dan memblokade Shabbat Square di Jerusalem. Mereka juga membakar tong-tong sampah dan mobil. Beberapa kelompok bahkan mencoba memblokade sejumlah titik jalan tol di Jerusalem. Setelah peristiwa tersebut polisi menahan lima orang militan Yahudi untuk diinterogasi.</p>
<p>Demonstrasi sengit juga dilakukan di sejumlah tempat lain, di antaranya di kota Bnei Brak.</p>
<p>Kekerasan tersebut dikecam sejumlah kalangan. Seluruh lembaga mahasiswa dan pelajar di Jerusalem, Senin (6/11), mengirim surat protes kepada pemerintah dan memintah menghentikan kekerasan itu.</p>
<p>&#8220;Hari-hari belakangan ini kita melihat berlanjutnya kekerasan dan tindakan membahayakan atas nama penduduk Yahudi Ortodok di seluruh kota Jerusalem,&#8221; tulis surat itu.&#8221;Kaum ekstrem mengancam kita untuk meningkatkan aktivitasnya dan mengancam melukai penduduk Jerusalem.”</p>
<p>Pendapat menentang parade kaum homoseks juga datang dari Vatikan. Rabu (7/11) lalu secara resmi Gereja Katolik Roma meminta pemerintah Israel malarang parade itu. Gereja melihat arak-arakan di kota suci tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam itu sebagai serangan terhadap keyakinan.</p>
<p>Meski demikian, Gereja menyatakan kaum gay dan lesbian mesti didekati dengan penuh rasa kasih. Tahun 2000 Vatikan dengan sengit menolak festival parade kaum homoseks yang diselenggarakan di Roma, Italia, dengan menyebutnya sebagai “penghinaan” kepada orang Kristen.</p>
<p>Sementara itu, kaum sayap kanan dan kalangan Orthodok Yahudi kemarin turun ke jalan-jalan di Jerusalem. Mereka menggiring kambing dan keledai di jalan-jalan dan memegang spanduk bertulis “Jerusalem, Aku Geram&#8221; dan &#8220;Cukup Semua Kekotoran Ini”. Aksi terpusat di Rose Garden di seberang gedung Parlemen Israel,  Knesset.</p>
<p>Dari Palestina, Otoritas Palestina juga menyatakan prihatin terhadap aksi parede yang mereka sebut merusak “moral”itu. Dalam konferensi pers di Hebron, Syech Abu Sneineh dan Azmi Shiukhi, tokoh terkemuka Fatah di kota itu, memperingatkan &#8220;pembantaian moral&#8221; sedang terjadi Jerusalem.</p>
<p>&#8220;Pendudukan Isael telah melukai kami. Memperbolehkan arak-arakan gay tidak bisa diterima. Tindakan ini merupakan kanker yang bertujuan merusak bangsa Islam dengan mempermalukan Jerusalem. Seluruh dunia mesti bersatu melawan keburukan dan kejahatan ini,&#8221; kata Syech Abu Sneineh.</p>
<p>Setahun yang lalu, dalam perayaan yang sama, seorang anggota sayap kanan Yahudi menikam tiga orang peserta parade kaum gay dan lesbian.</p>
<p>Dalam iinterogasi, sang pelaku, Yishai Schlissel, mengaku datang atas kehendak Tuhan. “Saya datang membunuh atas nama Tuhan. Kami tak bisa menerima kebencian seperti ini tumbuh di negeri kami,” tegasnya. Atas kebrutalannya itu Schlissel diganjar 12 tahun penjara oleh pengadilan Israel.</p>
<p>Author : Yerry Niko Borang<br />
Fri, 10 Nov 2006 12:29:26 +0700</p>
<p>Sumber : VHRmedia.net &#8211; Voice of Human Rights News Center</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=}" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/kutukan-bertubi-sambut-parade-sejuta-gay-di-jerusalem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mustahilnya Tuhan</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Nov 2006 09:25:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut ini diambil dari majalah Free Inquiry, Vol. 18, No. 3. BANYAK dari yang dilakukan orang, dilakukan atas nama Tuhan. Orang Irlandia marah kepada satu sama lain atas nama Tuhan. Orang Arab mengutuki dirinya sendiri atas nama Tuhan. Para imam dan ayatollah menindas perempuan atas nama Tuhan. Para paus dan pendeta yang hidup membujang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Artikel berikut ini diambil dari majalah <em>Free Inquiry</em>, Vol. 18, No. 3.</strong></p>
<p>BANYAK dari yang dilakukan orang, dilakukan atas nama Tuhan. Orang Irlandia marah kepada satu sama lain atas nama Tuhan. Orang Arab mengutuki dirinya sendiri atas nama Tuhan. Para imam dan ayatollah menindas perempuan atas nama Tuhan. Para paus dan pendeta yang hidup membujang mengacaukan kehidupan seks orang lain atas nama Tuhan. Para shohet Yahudi memotong tenggorokan binatang-binatang hidup atas nama Tuhan. Prestasi agama dalam sejarah masa lalu—perang-perang berdarah, inkuisisi yang penuh penyiksaan, para penakluk yang melakukan pembunuhan massal, para misionaris yang menghancurkan kebudayaan, perlawanan hingga detik terakhir yang diperkuat secara hukum terhadap setiap keping baru kebenaran ilmiah—bahkan lebih mengesankan. Dan apa manfaat dari itu semua? Saya yakin bahwa kini menjadi semakin jelas, jawabannya: tidak ada samasekali. Tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa semacam apapun dari Tuhan itu eksis, dan justru ada alasan yang sangat kuat untuk meyakini bahwa Tuhan-Tuhan itu tidak eksis, dan tak pernah eksis. Segala macam kepercayaan tentang Tuhan itu merupakan penyia-nyiaan waktu yang sangat besar, bahkan penyia-nyiaan hidup. Kepercayaan itu hanya akan menjadi lelucon dengan proporsi kosmis, kalau bukan malah sangat tragis.</p>
<p><span id="more-117"></span>Mengapa orang percaya Tuhan? Bagi kebanyakan orang, jawabannya tetap adalah suatu versi kuno dari Argumen berdasarkan Bentuk-Rancang. Kita melihat di sekitar kita adanya keindahan dan seluk-beluk dunia — adanya sayap burung layang-layang yang aerodinamis, adanya keindahan bunga-bunga dan kupu-kupu yang menyuburkannya, lewat sebuah mikroskop kita melihat begitu padatnya kehidupan dalam setiap tetes air kolam, lewat sebuah teleskop kita melihat pucuk sebuah pohon redwood raksasa. Kita berefleksi pada kompleksitas elektronik dan kesempurnaan optik dari mata kita sendiri yang melakukan aktivitas melihat. Jika kita punya imajinasi apapun, maka hal-hal ini mendorong kita pada suatu perasaan terpesona dan keta’ziman. Terlebih lagi, kita tidak bisa mengelak dari fakta adanya kemiripan yang nyata pada organ-organ hidup, hingga kita harus mengakui adanya bentuk-rancang yang direncanakan dengan sangat cermat oleh perekayasa manusia. Argumen ini paling masyhur diungkapkan dalam analogi tentang pembuat arloji oleh pendeta abad ke delapanbelas, William Paley. Kendati anda tidak tahu apa itu arloji, namun sifat dari gigi-gigi roda dan pegas-pegasnya yang jelas dirancang—dan cara bagaimana elemen-elemen itu ditautkan—untuk satu tujuan tertentu akan memaksa anda untuk menyimpulkan bahwa “arloji itu pasti ada pembuatnya: bahwa pastilah pernah ada pada suatu waktu, dan di tempat tertentu ataupun kondisi lainnya, satu pencipta dari segala pencipta, yang membentuknya untuk tujuan tertentu, hal mana kita benar-benar mendapatkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan siapa yang mengerti konstruksinya dan merancang kegunaannya.” Jika ini benar berlaku untuk sebuah arloji yang sederhana, bukankah ia makin benar berlaku untuk mata, telinga, ginjal, sendi siku, otak? Struktur-struktur yang indah, rumit, sangat berlika-liku, dan jelas-jelas dibuat untuk tujuan tertentu ini pastilah memiliki perancangnya sendiri, pembuat arlojinya sendiri — Tuhan.</p>
<p>Begitulah argumen Paley; dan ini adalah sebuah argumen yang mana hampir semua orang yang berpikir dan sensitif menemuinya pada suatu saat tertentu dari masa kanak-kanak mereka. Di sepanjang sebagian besar sejarah, argumen Paley ini pastilah dianggap sangat meyakinkan, dianggap oleh diri sendiri sebagai terbukti benar. Namun demikian, sebagai hasil dari salah satu revolusi intelektual yang paling menakjubkan dalam sejarah, kini kita tahu bahwa hal itu salah, atau setidaknya berlebihan. Kini kita mengetahui bahwa tatanan dan tujuan nyata dari dunia hidup telah muncul melalui sebuah proses yang samasekali berbeda, sebuah proses yang berlangsung tanpa perlu adanya perancang macam apapun, dan sebuah proses yang merupakan konsekuensi dari hukum-hukum fisika yang pada dasarnya sangatlah sederhana. Ini adalah proses evolusi dengan seleksi alam yang telah diungkap oleh Charles Darwin, dan secara terpisah juga oleh Alfred Russel Wallace.</p>
<p>Apa yang sama dimiliki oleh semua benda yang nampak seolah pasti memiliki satu perancang itu? Jawabannya adalah kemustahilan statistik. Jika kita mendapati sebuah batu koral transparan yang digerus oleh air laut hingga menjadi sebentuk lensa kasar, kita tidak akan menyimpulkan bahwa ia pasti telah dirancang oleh seorang ahli optik: hukum-hukum fisika yang tak mendapat intervensi apapun mampu mencapai hasil sedemikian itu; bukanlah terlalu mustahil untuk mendapatinya telah “begitu saja terjadi”. Tetapi, kalau kita menemukan sebuah lensa gabungan yang terperinci, yang telah teratur sangat teliti untuk mencegah terjadinya penyimpangan bentuk lingkaran dan kromatis, telah dilapisi untuk mencegah kesilauan, dan ada tulisan “Carl Zeiss” yang dibubuhkan di tepi lingkarannya, maka kita tahu bahwa benda itu tak mungkin begitu saja terwujud secara kebetulan. Jika anda mengambil semua atom dari sebuah lensa gabungan seperti itu, di bawah pengaruh gaya aksi-reaksi hukum-hukum fisika alam yang biasa, maka secara teoritis adalah mungkin bahwa, dengan keberuntungan belaka, atom-atom tersebut akan begitu saja tiba dalam pola lensa gabungan tipe Zeiss, bahkan bisa saja atom-atom tersebut membentuk lingkaran sedemikian rupa sehingga nama Carl Zeiss pun tertorehkan. Akan tetapi, jumlah cara-cara lain yang dengan itu atom-atom tersebut bisa—dengan peluang yang setara—tersusun adalah begitu banyak, sangat luas, tak terhitung banyaknya hingga kita bisa samasekali mengabaikan hipotesis peluang. Peluang adalah di luar pembahasan sebagai sebuah penjelasan.</p>
<p>Ngomong-ngomong, ini bukanlah argumen yang tak berujung-pangkal. Ini barangkali nampak tak berujung-pangkal karena, bisa dikatakan, susunan partikular apapun dari atom-atom adalah—jika ditinjau ke belakang—sangat mustahil. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ketika sebuah bola mendarat di atas sehelai rumput tertentu di lapangan golf, maka adalah bodoh bila kita menyatakan: “Dari jutaan helai rumput di atas mana bola itu bisa jatuh, sebenarnya bola itu memang akan jatuh ke atas rumput yang satu ini. Luarbiasa mustahil!” Sesat-fikir-nya di sini, tentu saja ialah, bahwa bola itu (dikatakan) harus mendarat di suatu tempat. Kita hanya bisa takjub pada kejadian yang seharusnya mustahil terjadi, jika kita terlebih dahulu telah mengkhususkannya: sebagai contoh, jika seseorang yang matanya ditutup rapat berjalan memutari tee , kemudian memukul bola itu secara sembarang dan mampu mencapai hole in one , itu baru benar-benar menakjubkan, karena sasaran yang dituju bola telah dikhususkan sebelumnya.</p>
<p>Dari trilyunan cara berbeda untuk menyusun atom-atom dari sebuah teleskop, hanya suatu minoritas yang benar-benar akan berfungsi dalam suatu cara yang berguna. Hanya suatu minoritas kecil yang akan mengukir kata Carl Zeiss di atas lensanya, atau kata-kata apapun yang bisa dikenali dari bahasa manusia manapun. Hal yang sama juga berlaku untuk bagian-bagian dari sebuah arloji: dari milyaran cara yang mungkin untuk menyusun elemen-elemen itu menjadi satu, hanya suatu minoritas kecil yang akan menunjukkan waktu atau melakukan apapun yang berguna. Dan tentu saja hal yang sama berlaku, secara a fortiori, untuk bagian-bagian sebuah badan yang hidup. Dari trilyunan cara untuk menyusun bagian-bagian dari sebuah badan, hanya minoritas sangat kecil yang akan hidup, mencari makanan dan ber-reproduksi. Benar bahwa memang ada banyak cara berbeda untuk hidup—setidaknya ada sepuluh juta cara berbeda bila kita menghitung jumlah spesies tersendiri yang hidup sekarang ini—tetapi, betapapun banyaknya cara yang mungkin untuk hidup, yang pasti ialah bahwa ada jauh lebih banyak cara untuk mati!</p>
<p>Kita bisa dengan aman menyimpulkan bahwa benda-benda hidup adalah milyaran kali terlalu rumit—secara statistik terlalu mustahil—untuk muncul ke keberadaan secara kebetulan belaka. Lantas, bagaimana benda-benda hidup itu muncul ke keberadaan? Jawabannya ialah, bahwa peluang memang masuk ke dalam cerita, tetapi bukan satu babak peluang yang tunggal, monolitik. Bukan itu, melainkan keseluruhan rangkaian langkah peluang yang kecil, masing-masingnya cukup kecil untuk menjadi produk yang bisa dipercaya dari pendahulunya, yang terjadi satu per satu secara berurutan. Langkah-langkah peluang yang kecil ini disebabkan oleh mutasi-mutasi genetik, perubahan-perubahan acak—sungguh merupakan kesalahan-kesalahan—dalam materi genetik. Hal-hal tersebut memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam struktur jasmaniah yang kini ada. Sebagian besar dari perubahan-perubahan ini bersifat merugikan dan menggiring pada kematian. Suatu minoritas di antaranya berubah hingga mengalami penyempurnaan-penyempurnaan kecil, yang menggiring pada daya tahan hidup serta reproduksi yang meningkat. Dengan proses seleksi alam ini, perubahan-perubahan acak yang jadi menguntungkan itu pada akhirnya menyebar lewat spesies dan menjadi norma. Tahapan pun kemudian tersetel untuk perubahan kecil berikutnya dalam proses evolusioner. Setelah, katakanlah, seribuan dari perubahan-perubahan kecil dalam rangkaian ini, yang mana masing-masing perubahan menyediakan basis bagi perubahan berikutnya, maka hasil akhirnya telah jadi—lewat sebuah proses akumulasi—terlalu kompleks untuk bisa muncul dalam sebuah babak peluang yang tunggal.</p>
<p>Sebagai contoh, secara teoritis adalah mungkin bagi sebuah mata untuk muncul ke keberadaan—dalam satu langkah tunggal yang beruntung—dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa: katakanlah hanya dari kulit saja. Ini secara teoritis mungkin dalam arti bahwa, sebuah formula bisa saja dituliskan dalam bentuk sejumlah besar mutasi. Apabila semua mutasi ini terjadi secara serentak, maka sungguh sebuah mata yang sempurna bisa muncul dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa. Tetapi, meski secara teoritis mungkin, namun hal ini dalam prakteknya tak terbayangkan. Kuantitas faktor keberuntungan yang terlibat terlalu besar. Formula yang “tepat” melibatkan perubahan-perubahan dalam sejumlah sangat besar gen-gen secara serentak. Formula yang tepat adalah satu kombinasi tertentu perubahan-perubahan dari trilyunan kombinasi peluang yang setara kemungkinannya. Kita tentu saja bisa tidak mengakui kebetulan yang ajaib seperti itu. Akan tetapi, sangat masuk akal bahwa mata moderen bisajadi terwujud dari sesuatu yang hampir sama dengan mata moderen, namun tidak persis sama: sebuah mata yang sedikit sekali kurang-terperincinya [dibandingkan mata moderen]. Dengan argumen yang sama, mata yang sedikit sekali kurang-terperincinya ini juga terwujud dari sebuah mata sebelumnya yang sedikit sekali kurang-terperincinya, dan begitu seterusnya. Jika anda mengasumsikan suatu jumlah yang cukup besar dari perbedaan-perbedaan yang cukup kecil di antara masing-masing tahap evolusioner dan pendahulunya, maka anda—mau tidak mau—harus mengakui bahwa sebuah mata moderen yang sempurna bisa berasal dari kulit melulu. Ada berapa banyak tahap-antara yang bisa kita dalilkan? Itu tergantung pada berapa panjang rentang waktu yang harus kita bahas. Apakah ada cukup banyak waktu bagi mata untuk berevolusi dengan langkah-langkah kecil dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa?</p>
<p>Fosil-fosil menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan telah dan sedang berevolusi di bumi ini selama lebih dari 3.000 juta tahun. Nyaris mustahil bagi pikiran manusia untuk menjangkau panjangnya rentang waktu seperti itu. Kita, secara alami dan untungnya memang seperti ini, cenderung melihat masa hidup kita yang kita harapkan sendiri sebagai suatu masa yang cukup panjang, tetapi kita jelas tidak bisa berharap untuk hidup sampai satu abad. Kini telah 2.000 tahun berlalu sejak masa Yesus hidup — suatu rentang waktu yang cukup panjang untuk mengaburkan garis pemisah antara sejarah dan mitos. Bisakah anda membayangkan satu juta periode waktu seperti itu sejak pangkal hingga ujungnya? Misalkan kita ingin menulis keseluruhan sejarah di atas sebuah gulungan kertas tunggal yang panjang. Jika kita menjejalkan seluruh sejarah Common Era dalam gulungan kertas sepanjang satu meter, berapa panjang bagian pra-Common Era di gulungan itu? Lalu masa permulaan evolusi, berapa panjang? Jawabannya ialah, bahwa bagian pra-Common Era di gulungan itu akan membentang dari Milan ke Moskow. Pikirkanlah implikasi-implikasi dari hal ini terhadap kuantitas perubahan evolusioner yang bisa diakomodir. Semua keturunan domestik anjing—peking, pudel, spaniel, Saint Bernard dan chihuahua—berasal dari srigala dalam suatu rentang waktu yang diukur dalam ratusan atau paling banter ribuan tahun: tak lebih dari dua meter sepanjang jalan dari Milan ke Moskow. Pikirkanlah kuantitas perubahan yang terlibat dalam proses beranjak dari seekor srigala menjadi seekor anjing peking; kemudian kalikan kuantitas itu dengan satu juta. Kalau anda memandangnya seperti itu, maka mudahlah untuk mempercayai bahwa sebuah mata bisajadi telah berevolusi dari tidak ada mata, dengan tingkat-tingkat yang kecil.</p>
<p>Tetaplah saja perlu kiranya memuaskan rasa ingin tahu kita bahwa setiap orang di masa-masa antara dalam jalur evolusioner, katakanlah dari hanya kulit menjadi sebuah mata moderen, telah diuntungkan oleh seleksi alam; bisajadi berupa suatu penyempurnaan dari pendahulunya dalam deretan itu, atau, setidaknya, bentuk yang mampu bertahan. Tidaklah baik kiranya berupaya membuktikan kepada diri kita bahwa, secara teoritis ada sebuah mata rantai dari masa-masa antara yang nyaris jelas, yang menggiring pada sebuah mata, jika banyak dari masa-masa antara itu bisa saja telah mati. Kadang-kadang ada yang berargumen bahwa bagian-bagian dari sebuah mata harus ada lengkap semuanya, atau, jika tidak, maka mata itu samasekali tidak bisa berfungsi. Sebelah mata, lanjut argumen itu, tidaklah lebih baik daripada tidak ada mata samasekali. Anda tidak bisa terbang hanya dengan sebelah sayap; anda tidak bisa mendengar hanya dengan sebelah telinga. Karenanya, tak mungkin ada serangkaian masa-antara setahap demi setahap yang menggiring pada terwujudnya sebuah mata, sayap ataupun telinga moderen.</p>
<p>Tipe argumen seperti ini begitu naifnya, hingga orang hanya bisa penasaran dalam dorongan bawah-sadar untuk mempercayainya. Jelas tidaklah benar bahwa sebelah mata itu tidak berguna. Para penderita katarak, yang lensa-lensa matanya telah diangkat lewat operasi, tidak bisa melihat dengan baik tanpa kacamata, tapi nasib mereka jauh lebih baik ketimbang orang yang tidak punya mata samasekali. Tanpa sebuah lensa, anda tidak bisa memfokuskan penglihatan pada suatu sosok yang detil, namun anda bisa menghindar untuk tidak menabrak rintangan-rintangan dan bisa mendeteksi bayangan sesosok predator yang sedang melintas.</p>
<p>Adapun argumen bahwa anda tidak bisa terbang dengan hanya sebelah sayap, ini disangkal oleh sejumlah besar hewan peluncur yang sangat sukses, termasuk mamalia dari banyak jenis berbeda, kadal, katak, ular dan cumi-cumi. Banyak jenis berbeda dari hewan penghuni pohon memiliki kepak kulit di antara sendi-sendinya yang betul-betul merupakan sayap fraksional. Jika anda terjatuh dari sebuah pohon, maka kepak kulit atau bagian datar dari tubuh yang meningkatkan luas daerah permukaan anda bisa menyelamatkan nyawa anda. Dan, betapapun kecil atau besarnya kepak anda, pasti akan selalu ada ketinggian kritis sedemikian rupa hingga jika anda terjatuh dari sebuah pohon dengan ketinggian seperti itu, maka nyawa anda akan terselamatkan hanya dengan daerah permukaan yang sedikit lebih luas. Lalu, ketika anak-keturunan anda telah meng-evolusi-kan daerah permukaan tambahan itu, maka nyawa mereka akan terselamatkan hanya oleh sedikit perluasan daerah permukaan lagi apabila mereka terjatuh dari pohon yang agak lebih tinggi. Dan begitu seterusnya, lewat langkah-langkah bertahap yang tak terbayangkan sampai ratusan generasi berikutnya, kita sampai pada sayap yang lengkap (sempurna).</p>
<p>Mata dan sayap tidak bisa muncul ke keberadaan dengan sebuah langkah tunggal. Itu akan sama saja dengan tak terhingganya keberuntungan untuk bisa memutar kombinasi angka yang membuka sebuah lemari besi besar di bank. Tetapi jika anda memutar angka-angka kunci secara acak, dan setiap kali anda tiba sedikit lebih mendekati angka keberuntungan itu, celah pintu pun terbuka sedikit demi sedikit, maka anda akan segera mendapati pintu lemari besi itu terbuka! Secara esensial, itulah rahasia bagaimana evolusi oleh seleksi alam bisa mencapai apa yang dahulu nampak mustahil. Hal-hal yang secara masuk akal tidak mungkin berasal dari para pendahulu yang sangat berbeda, bisa secara masuk akal berasal dari pendahulu-pendahulu yang hanya sedikit berbeda. Jika saja ada serangkaian cukup panjang pendahulu-pendahulu yang hanya sedikit berbeda seperti itu, maka anda bisa menelusuri asal apapun dari apapun lainnya.</p>
<p>Lantas, evolusi secara teoritis mampu melakukan pekerjaan yang, pada suatu ketika dahulu, nampaknya hanya merupakan kewenangan mutlak Tuhan. Akan tetapi, apakah ada bukti bahwa evolusi benar-benar telah terjadi? Jawabannya adalah ya; buktinya sangat berlimpah. Jutaan fosil ditemukan di tempat-tempat serta kedalaman-kedalaman persis seperti yang kita perkirakan apabila evolusi benar telah terjadi. Tak ada satupun fosil pernah ditemukan di tempat yang mana teori evolusi tidak memperkirakannya, meski hal ini bisa saja dengan sangat mudah terjadi: sebuah fosil mamalia di bebatuan karang yang begitu tuanya sampai-sampai ikan pun belum tiba, misalnya, sudah cukup untuk menggugurkan teori evolusi.</p>
<p>Pola-pola persebaran hewan dan tumbuhan hidup di benua-benua dan kepulauan-kepulauan dunia adalah tepat seperti yang diperkirakan apabila mereka berevolusi dari nenek moyang yang sama dengan tingkat-tingkat yang lambat dan perlahan. Pola-pola kemiripan di kalangan hewan dan tumbuhan adalah tepat seperti yang kita perkirakan apabila beberapa diantaranya merupakan kerabat dekat, dan beberapa lainnya merupakan kerabat jauh satu sama lain. Fakta bahwa kode genetik adalah sama pada semua mahluk hidup, sungguh menunjukkan bahwa semuanya diturunkan dari satu nenek moyang tunggal. Bukti untuk evolusi begitu kuat, sehingga satu-satunya cara untuk menyelamatkan teori penciptaan adalah dengan mengasumsikan bahwa Tuhan telah dengan sengaja menanamkan sejumlah besar bukti untuk membuatnya nampak seolah-olah evolusi telah terjadi. Dengan kata lain, fosil-fosil, persebaran geografis hewan, dan sebagainya, semua itu adalah satu trik keyakinan yang maha besar. Apakah orang mau menyembah suatu Tuhan yang mampu memainkan trik seperti itu? Tentu saja jauh lebih terhormat, juga secara ilmiah jauh lebih masuk akal, bila kita menerima segala bukti yang ada. Semua mahluk hidup adalah kerabat dari satu sama lain, dan diturunkan dari satu nenek moyang jauh yang hidup lebih dari 3.000 juta tahun yang lalu.</p>
<p>Dengan demikian, Argumen berdasarkan Bentuk-Rancang pun gugur sebagai sebuah alasan untuk mempercayai adanya suatu Tuhan. Adakah argumen lainnya? Beberapa orang percaya akan Tuhan dikarenakan apa yang nampak bagi mereka sebagai pewahyuan yang bersifat pribadi. Wahyu-wahyu seperti itu tidak selalu mendatangkan manfaat, tapi tak ragu lagi terasa nyata bagi individu yang meyakininya. Banyak penghuni rumah sakit jiwa yang memiliki keyakinan pribadi yang tak tergoyahkan bahwa dirinya adalah Napoleon, atau bahkan Tuhan itu sendiri. Tak ragu lagi bahwa keyakinan seperti itu punya kekuatan sangat dahsyat bagi mereka yang memilikinya, namun ini bukanlah alasan bagi orang-orang lain di antara kita untuk mempercayainya. Sesungguhnya, karena kepercayaan-kepercayaan seperti itu bertentangan satu sama lain, maka kita tidak bisa mempercayainya sama sekali.</p>
<p>Ada sedikit lagi yang perlu disampaikan disini. Evolusi melalui seleksi alam menjelaskan banyak hal, namun evolusi ini tidak bisa mulai terjadi dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa. Evolusi tidak bisa mulai sampai ada semacam reproduksi dan hereditas elementer. Hereditas moderen didasarkan atas kode DNA, yang ini sendiri terlalu rumit untuk muncul secara spontan ke keberadaan lewat sebuah aktivitas tunggal yang bersifat kebetulan. Nampaknya ini berarti bahwa pasti telah ada suatu sistem hereditas terdahulu—kini telah sirna—yang pada waktu itu cukup sederhana untuk muncul secara kebetulan, dan hukum-hukum kimia yang menyediakan medium di mana suatu bentuk primitif seleksi alam kumulatif bisa mulai berlangsung. DNA adalah produk berikutnya dari seleksi kumulatif yang terdahulu ini. Sebelum sebentuk seleksi alam awal ini, ada suatu periode ketika campuran-campuran kimiawi yang kompleks tersusun dari campuran-campuran yang lebih sederhana, dan sebelum itu ada suatu periode ketika unsur-unsur kimiawi tersusun dari unsur-unsur yang lebih sederhana, mengikuti hukum-hukum fisika yang secara umum sudah sangat dipahami. Sebelum itu, pada akhirnya segala sesuatu tersusun dari hidrogen murni sebagai akibat segera dari dentuman besar, yang telah memulakan alam semesta.</p>
<p>Ada godaan untuk berargumen bahwa, meski Tuhan mungkin tidak diperlukan untuk menjelaskan evolusi tatanan kompleks yang mana alam semesta—dengan hukum-hukum fisikanya yang fundamental—suatu ketika dulu telah mulai, namun kita memerlukan suatu Tuhan untuk menjelaskan asal-usul segala sesuatu. Ide ini tidaklah menghasilkan Tuhan dengan banyak hal yang dilakukan-Nya: hanya menyetel dentuman besar, kemudian duduk santai menunggu segalanya terjadi. Ahli kimia fisikal, Peter Atkins, dalam bukunya yang ditulis dengan indah, Penciptaan, mendalilkan adanya suatu Tuhan pemalas yang berupaya keras untuk melakukan sesedikit mungkin kerja agar bisa memulakan segala sesuatu. Atkins menjelaskan bagaimana setiap langkah dalam sejarah alam semesta merupakan lanjutan—dengan hukum fisika yang sederhana—dari langkah pendahulunya. Maka, Atkins pun mengupas jumlah kerja yang akan perlu dilakukan si pencipta yang malas ini, dan akhirnya menyimpulkan bahwa si pencipta ini pada kenyataannya tidak perlu melakukan apa-apa samasekali!</p>
<p>Detil-detil fase awal alam semesta merupakan bagian dari dunia ilmu fisika, sedangkan saya adalah seorang ahli biologi, lebih memusatkan perhatian pada fase-fase berikutnya dari evolusi kompleksitas. Bagi saya, poin pentingnya ialah bahwa, kendatipun ahli fisika perlu mendalilkan suatu titik minimum yang tak bisa dibagi lagi, yang harus hadir pada permulaan agar alam semesta bisa mulai, namun titik minimum itu tentu saja sangat sederhana. Secara pengertian dasar (definisi), penjelasan yang dibangun berdasarkan dalil-dalil yang sederhana adalah lebih masuk akal serta lebih memuaskan ketimbang penjelasan yang harus mendalilkan permulaan-permulaan yang kompleks dan secara statistik tidak mungkin. Dan anda tidak bisa mendapatkan yang jauh lebih kompleks selain suatu Tuhan Yang Maha Kuasa!</p>
<p>Richard Dawkins adalah seorang profesor di Universitas Oxford untuk kajian Pemahaman Publik tentang Sains. Dia adalah penulis buku Si Buta Pembuat Arloji (sebagian dari artikel ini didasarkan atas isi buku tersebut) dan Mendaki Puncak yang Mustahil. Dia adalah editor senior pada jurnal Free Inquiry.</p>
<p>Karya-karya Dawkins antara lain adalah “The Blind Watchmaker” dan “The Selfish Gene” (yang merupakan bestseller internasional yang diterbitkan dalam 13 bahasa). Dalam bidang evolusioner biologi, Dawkins merupakan ilmuwan yang diakui telah memberikan sumbangan besar dalam biologi sosial- pada telaah-telaah yang berkaitan dengan teori genetis mengenai seleksi alam (natural selection). Dawkins juga dikenal sebagai “tokoh” yang memberikan sumbangan signifikan dalam wacana sains/agama – dalam tulisan-tulisan populernya, acara-acara televisi dan debat-debat. Selain itu, Dawkins merupakan salah satu kontributor tetap pada Free Inquiry, buletin yang diterbitkan oleh Secular Humanism (www.secularhumanism.org/), sebuah organisasi yang memperjuangkan sekularisme.</p>
<p><a href="mailto:Webmaster@SecularHumanism.org">Webmaster@SecularHumanism.org</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=u" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seruan Aksi : Hari Tanpa Belanja 2006</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Oct 2006 10:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lazim memang setiap menjelang hari perayaan Idul Fitri selalu disambut dengan suka cita bagi umat pemeluk agama Islam. Namun, di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, ajang sukacita ini kerap kali dimanfaatkan oleh korporasi untuk memancing mereka menuju konsumerisme. Bukan hanya memancing, saat ini konsumerisme justru telah merebak dengan dahsyatnya ditengah-tengah budaya masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="150" vspace="4" hspace="8" height="144" align="left" alt="Hari Tanpa Belanja 2006" title="Hari Tanpa Belanja 2006" src="http://www.ubq.it/gruppo11/img/upload/1097434890buy.gif" />Sudah lazim memang setiap menjelang hari perayaan <a target="_blank" title="Idul Fitri di Wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri">Idul Fitri</a>  selalu disambut dengan suka cita bagi umat pemeluk agama Islam. Namun, di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, ajang sukacita ini kerap kali dimanfaatkan oleh korporasi untuk memancing mereka menuju konsumerisme. Bukan hanya memancing, saat ini konsumerisme justru telah merebak dengan dahsyatnya ditengah-tengah budaya masyarakat Islam (atau bahkan umat-umat beragama lainnya pada hari-hari perayaan besar keagamaannya masing-masing).</p>
<p>Hal inilah yang mengundang kami untuk mencoba berbuat sesuatu agar budaya yang kian merusak ini setidaknya dapat berkurang atau bahkan dihentikan. <a target="_blank" title="Hari Tanpa Belanja di Wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Tanpa_Belanja">Hari Tanpa Belanja</a>  adalah budaya baru yang senantiasa kami rayakan untuk mencoba menghentikan budaya konsumerisme yang sengaja diciptakan oleh kapitalis untuk mereduksi pemikiran seseorang bahwa ia butuh segalanya. Konsumerisme juga berarti masyarakat ditipu untuk mendapatkan image yang terbaik dalam lingkungan sosial bermasyarakat dengan cara berbelanja. Konsumerisme juga berarti masyarakat dibuat terhalusinasi bahwa tanpa belanja mereka tidak dapat bertahan hidup lebih lama lagi.</p>
<p><span id="more-111"></span>Hari Tanpa Belanja lazimnya selalu dikampanyekan pada akhir bulan November, namun di Indonesia kami merasa perlu meninjau ulang hari kampanye ini kehari yang kami rasa lebih tepat, untuk itulah kami menetapkan Hari Tanpa Belanja dikampanyekan pada hari Sabtu tanggal 21 Oktober 2006, atau 3 Hari menjelang hari raya Idul Fitri, dimana pada hari itu biasanya merupakan klimaks masyarakat Indonesia mendatangi pusat-pusat perbelanjaan didaerahnya masing-masing.<br />
Kami menentang budaya konsumerisme karena kami percaya bahwa kehidupan manusia seharusnya diisi dengan saling mengisi dan bekerja sama antara satu dengan yang lainnya, dan bukan malah bersaing untuk mendapatkan image yang terbaik. Kami menentang karena budaya konsumerisme sengaja diciptakan oleh Kapitalisme, dan oleh karena itu konsumerisme ada sebagai wujud eksploitasi besar-besaran terhadap kemanusiaan. Oleh karena itulah kami merasa memiliki keharusan untuk terlibat aktif dalam mematikan budaya konsumerisme yang berarti juga akan memperlemah posisi kapitalisme dari kerakusannya.</p>
<p>Atas konsekuensi ini, kami akan hadir dipusat-pusat perbelanjaan untuk mengkampanyekan  hal ini. Dukung kami dalam aksi ini dengan mengkampanyekan aksi serupa ditempat anda.Kampanyekan bahwa seharusnya masyarakat dapat benar-benar menyadari segala hal yang ingin mereka lakukan, kampanyekan bahwa masyarakat dapat hidup lebih baik TANPA KAPITALISME.</p>
<p><strong>Info lainnya tentang Hari Tanpa Belanja :</strong></p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Tanpa_Belanja">Hari Tanpa Belanja</a>  di Wikipedia Indonesia</li>
<li><a target="_blank" href="http://adbusters.org/metas/eco/bnd/">Situs Adbusters.org tentang Buy Nothing Day</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://www.kunci.or.id/htb/">Situs Hari Tanpa Belanja di kunci.or.id</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://www.kunci.or.id/htb/statis.htm">Statistik Konsumsi</a></li>
</ul>
<div style="text-align: center"><img width="400" height="284" alt="Work, Buy, Consume, Die!!!" title="Work, Buy, Consume, Die!!!" src="http://www.kill-more-people.de/images/news/23.jpg" /></div>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=o" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/18/seruan-aksi-hari-tanpa-belanja-2006/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Barisan Rakyat Oaxaca Mencapai Mexico City</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Oct 2006 17:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/</guid>
		<description><![CDATA[Mexico City &#8211; Mereka telah menempuh 480 kilo meter selama 19 hari dan melalui 25 kota untuk tiba di Ibu Kota. Dewan Masyarakat Oaxaca (APPO) dan organisasi guru SNTE divisi 22 menuduh Gubernur Oaxaca, Ulises Ruiz terpilih secara tidak sah dan menggunakan cara-cara brutal untuk menindas protes masyarakat. Dalam demonstrasi masyarakat yang telah berlangsung sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="327" height="216" id="image109" alt="oaxaca" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2006/10/oaxaca.jpg" /></p>
<p>Mexico City &#8211; Mereka telah menempuh 480 kilo meter selama 19 hari dan melalui 25 kota untuk tiba di Ibu Kota. Dewan Masyarakat Oaxaca (APPO) dan organisasi guru SNTE divisi 22 menuduh Gubernur Oaxaca, Ulises Ruiz terpilih secara tidak sah dan menggunakan cara-cara brutal untuk menindas protes masyarakat.</p>
<p>Dalam demonstrasi masyarakat yang telah berlangsung sejak bulan Mei, 5 pejuang telah gugur di tangan aparat keamanan Meksiko.</p>
<p>Sementara, Gubernur Ruiz menyatakan tidak bertanggung jawab atas kekerasan yang dituduhkan dan menolak untuk turun dari jabatannya.</p>
<p>Demonstrasi yang bermula dari tuntutan upah layak par aguru berkembang menjadi pendudukan kota Oaxaca dan perebutan kekuasaan</p>
<p>The demonstrators have walked from Oaxaca city, waving banners and shouting slogans.</p>
<p>Aksi berjalan kaki ke Ibu Kota ini dimaksudkan untuk menekan Senat agar mendesak Ruiz mundur dari jabatan.</p>
<p>sumber : <a target="_blank" href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=1080">IMC Jakarta</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=n" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Philosophy of Atheism</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Oct 2006 09:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme&religi]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/</guid>
		<description><![CDATA[by Emma GoldmanFirst published in February 1916 in the Mother Earth journal. To give an adequate exposition of the Philosophy of Atheism, it would be necessary to go into the historical changes of the belief in a Deity, from its earliest beginning to the present day. But that is not within the scope of the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Emma Goldman</strong><strong>First published in February 1916 in the <em>Mother Earth</em> journal.</strong></p>
<p>To give an adequate exposition of the Philosophy of Atheism, it would be necessary to go into the historical changes of the belief in a Deity, from its earliest beginning to the present day. But that is not within the scope of the present paper. However, it is not out of place to mention, in passing, that the concept God, Supernatural Power, Spirit, Deity, or in whatever other term the essence of Theism may have found expression, has become more indefinite and obscure in the course of time and progress. In other words, the God idea is growing more impersonal and nebulous in- proportion as the human mind is learning to understand natural phenomena and in the degree that science progressively correlates human and social events.</p>
<p><span id="more-108"></span>God, today, no longer represents the same forces as in the beginning of His existence; neither does He direct human destiny with the same Iron hand as of yore. Rather does the God idea express a sort of spiritualistic stimalus to satisfy the fads and fancies of every shade of human weakness. In the course of human development the God idea has been forced to adapt itself to every phase of human affairs, which is perfectly consistent with the origin of the idea itself.</p>
<p>The conception of gods originated in fear and curiosity. Primitive man, unable to understand the phenomena of nature and harassed by them, saw in every terrifying manifestation some sinister force expressly directed against him; and as ignorance and fear are the parents of all superstition, the troubled fancy of primitive man wove the God idea.</p>
<p>Very aptly, the world-renowned atheist and anarchist, Michael Bakunin, says in his great work God and the State: &#8220;All religions, with their gods, their demi-gods, and their prophets, their messiahs and their saints, were created by the prejudiced fancy of men who had not attained the full development and full possession of their faculties. Consequently, the religious heaven is nothing but the mirage in which man, exalted by ignorance and faith, discovered his own image, but enlarged and reversed &#8212; that is divinised. The history of religions, of the birth, grandeur, and the decline of the gods who had succeeded one another in human belief, is nothing, therefore, but the development of the collective intelligence and conscience of mankind. As fast as they discovered, in the course of their historically progressive advance, either in themselves or in external nature, a quality, or even any great defect whatever, they attributed it to their gods, after having exaggerated and enlarged it beyond measure, after the manner of children, by an act of their religious fancy. . . . With all due respect, then, to the metaphysicians and religious idealists, philosophers, politicians or poets: the idea of God implies the abdication of human reason and justice; it is the most decisive negation of human liberty, and necessarily ends in the enslavement of mankind, both in theory and practice.&#8221;</p>
<p>Thus the God idea, revived, readjusted, and enlarged or narrowed, according to the necessity of the time, has dominated humanity and will continue to do so until man will raise his head to the sunlit day, unafraid and with an awakened will to himself. In proportion as man learns to realize himself and mold his own destiny theism becomes superfluous. How far man will be able to find his relation to his fellows will depend entirely upon how much he can outgrow his dependence upon God.</p>
<p>Already there are indications that theism, which is the theory of speculation, is being replaced by Atheism, the science of demonstration; the one hangs in the metaphysical clouds of the Beyond, while the other has its roots firmly in the soil. It is the earth, not heaven, which man must rescue if he is truly to be saved.</p>
<p>The decline of theism is a most interesting spectacle, especially as manifested in the anxiety of the theists, whatever their particular brand. They realize, much to their distress, that the masses are growing daily more atheistic, more anti-religious; that they are quite willing to leave the Great Beyond and its heavenly domain to the angels and sparrows; because more and more the masses are becoming engrossed in the problems of their immediate existence.</p>
<p>How to bring the masses back to the God idea, the spirit, the First Cause, etc. &#8211; that is the most pressing question to all theists. Metaphysical as all these questions seem to be, they yet have a very marked physical background. Inasmuch as religion, &#8220;Divine Truth,&#8221; rewards and punishments are the trade-marks of the largest, the most corrupt and pernicious, the most powerful and lucrative industry in the world, not excepting the industry of manufacturing guns and munitions. It is the industry of befogging the human mind and stifling the human heart. Necessity knows no law; hence the majority of theists are compelled to take up every subject, even if it has no bearing upon a deity or revelation or the Great Beyond. Perhaps they sense the fact that humanity is growing weary of the hundred and one brands of God.</p>
<p>How to raise this dead level of theistic belief is really a matter of life and death for all denominations. Therefore their tolerance; but it is a tolerance not of understanding; but of weakness. Perhaps that explains the efforts fostered in all religious publications to combine variegated religious philosophies and conflicting theistic theories into one denominational trust. More and more, the various concepts &#8220;of the only tree God, the only pure spirit, &#8212; the only true religion&#8221; are tolerantly glossed over in the frantic effort to establish a common ground to rescue the modern mass from the &#8220;pernicious&#8221; influence of atheistic ideas.</p>
<p>It is characteristic of theistic &#8220;tolerance&#8221; that no one really cares what the people believe in, just so they believe or pretend to believe. To accomplish this end, the crudest and vulgarest methods are being used. Religious endeavor meetings and revivals with Billy Sunday as their champion -methods which must outrage every refined sense, and which in their effect upon the ignorant and curious often tend to create a mild state of insanity not infrequently coupled with eroto-mania. All these frantic efforts find approval and support from the earthly powers; from the Russian despot to the American President; from Rockefeller and Wanamaker down to the pettiest business man. They blow that capital invested in Billy Sunday, the Y.M.C.A., Christian Science, and various other religious institutions will return enormous profits from the subdued, tamed, and dull masses.</p>
<p>Consciously or unconsciously, most theists see in gods and devils, heaven and hell; reward and punishnient, a whip to lash the people into obedience, meekness and contentment. The truth is that theism would have lost its foeting long before this but for the combined support of Mammon and power. How thoroughly banlrupt it really is, is being demonstrated in the trenches and battlefields of Europe today.</p>
<p>Have not all theists painted their Deity as the god of love and goodness? Yet after thousands of years of such preachments the gods remain deaf to the agony of the human race. Confucius cares not for the poverty, squalor and misery of people of China. Buddha remains undisturbed in his philosophical indifference to the famine and starvation of outraged Hindoos; Jahve continues deaf to the bitter cry of Israel; while Jesus refuses to rise from the dead against his Christians who are butchering each other.</p>
<p>The burden of all song and praise &#8220;unto the Highest&#8221; has been that God stands for justice and mercy. Yet injustice among men is ever on the increase; the outrages committed against the masses in this country alone would seem enough to overflow the very heavens. But where are the gods to make an end to all these horrors, these wrongs, this inhumanity to man? No, not the gods, but MAN must rise in his mighty wrath. He, deceived by all the deities, betrayed by their emissaries, he, himself, must undertake to usher in justice upon the earth.</p>
<p>The philosophy of Atheism expresses the expansion and growth of the human mind. The philosophy of theism, if we can call it philosophy, is static and fixed. Even the mere attempt to pierce these mysteries represents, from the theistic point of view, non-belief in the all-embracing omnipotence, and even a denial of the wisdom of the divine powers outside of man. Fortunately, however, the human mind never was, and never can be, bound by fixities. Hence it is forging ahead in its restless march towards knowledge and life. The human mind is realizing &#8220;that the universe is not the result of a creative fiat by some divine intelligence, out of nothing, producing a masterpiece chaotic in perfect operation,&#8221; but that it is the product of chaotic forces operating through aeons of time, of clashes and cataclysms, of repulsion and attraction crystalizing through the principle of selection into what the theists call, &#8220;the universe guided into order and beauty.&#8221; As Joseph McCabe well points out in his Existence ot God: &#8220;a law of nature is not a formula drawn up by a legislator, but a mere summary of the observed facts &#8212; a &#8216;bundle of facts.&#8217; Things do not act in a particular way because there is a law, but we state the &#8216;law&#8217; because they act in that way.&#8221;</p>
<p>The philosophy of Atheism represents a concept of life without any metaphysical Beyond or Divine Regulator. It is the concept of an actual, real world with its liberating, expanding and beautifying possibilities, as against an unreal world, which, with its spirits, oracles, and mean contentment has kept humanity in helpless degradation.</p>
<p>It may seem a wild paradox, and yet it is pathetically true, that this real, visible world and our life should have been so long under the influence of metaphysical speculation, rather than of physical demonstrable forces. Under the lash of the theistic idea, this earth has served no other purpose than as a temporary station to test man&#8217;s capacity for immolation to the will of God. But the moment man attempted to ascertain the nature of that will, he was told that it was utterly futile for &#8220;finite human intelligence&#8221; to get beyond the all-powerful infinite will. Under the terrific weight of this omnipotence, man has been bowed into the dust &#8212; a willless creature, broken and sweating in the dark. The triumph of the philosophy of Atheism is to free man from the nightmare of gods; it means the dissolution of the phantoms of the beyond. Again and again the light of reason has dispelled the theistic nightmare, but poverty, misery and fear have recreated the phantoms &#8212; though whether old or new, whatever their external form, they differed little in their essence. Atheism, on the other hand, in its philosophic aspect refuses allegiance not merely to a definite concept of God, but it refuses all servitude to the God idea, and opposes the theistic principle as such. Gods in their individual function are not half as pernicious as the principle of theism which represents the belief in a supernatural, or even omnipotent, power to rule the earth and man upon it. It is the absolutism of theism, its pernicious influence upon humanity, its paralyzing effect upon thought and action, which Atheism is fighting with all its power.</p>
<p>The philosophy of Atheism has its root in the earth, in this life; its aim is the emancipation of the human race from all God-heads, be they Judaic, Christian, Mohammedan, Buddhistic, Brahministic, or what not. Mankind has been punished long and heavily for having created its gods; nothing but pain and persecution have been man&#8217;s lot since gods began. There is but one way out of this blunder: Man must break his fetters which have chained him to the gates of heaven and hell, so that he can begin to fashion out of his reawakened and illumined consciousness a new world upon earth.</p>
<p>Only after the triumph of the Atheistic philosophy in the minds and hearts of man will freedom and beauty be realized. Beauty as a gift from heaven has proved useless. It will, however, become the essence and impetus of life when man learns to see in the earth the only heaven fit for man. Atheism is already helping to free man from his dependence upon punishment and reward as the heavenly bargain- counter for the poor in spirit.</p>
<p>Do not all theists insist that there can be no morality, no justice, honesty or fidelity without the belief in a Divine Power? Based upon fear and hope, such morality has always been a vile product, imbued partiy with self- righteousness, partly with hypocrisy. As to truth, justice, and fidelity, who have been their brave exponents and daring proclaimers? Nearly always the godless ones: the Atheists; they lived, fought, and died for them. They knew that justice, truth, and fidelity are not, conditioned in heaven, but that they are related to and interwoven with the tremendous changes going on in the social and material life of the human race; not fixed and eternal, but fluctuating, even as life itself. To what heights the philosophy of Atheism may yet attain, no one can prophesy. But this much can already be predicted: only by its regenerating fire will human relations be purged from the horrors of the past</p>
<p>Thoughtful people are beginning to realize that moral precepts, imposed upon humanity through religious terror, have become stereotyped and have therefore lost all vitality. A glance at life today, at its disintegrating character, its conflicting interests with their hatreds, crimes, and greed, suffices to prove the sterility of theistic morality.</p>
<p>Man must get back to himself before he can learn his relation to his fellows. Prometheus chained to the Rock of Ages is doomed to remain the prey of the vultures of darkness. Unbind Prometheus, and you dispel the night and its horrors.</p>
<p>Atheism in its negation of gods is at the same time the strongest affirmation of man, and through man, the eternal yea to life, purpose, and beauty.</p>
<p>taken from <a target="_blank" href="http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/goldman/philosophyatheism.html">The Anarchy Archives </a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=l" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SHOPAHOLIC : Apa?, Siapa?, Bagaimana?</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Oct 2006 12:02:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/</guid>
		<description><![CDATA[APAKAH ‘SHOPAHOLIC’ ITU? Beberapa tahun terakhir ini, shopaholic atau compulsive shopper telah menjadi perhatian berbagai program televisi dan majalah perempuan. Mereka juga telah menjadi topik perbincangan psikologi pop. Meski media massa menggunakan istilah dengan agak “serampangan”, sebenarnya seorang shopaholic sering merasa terasing, sangat ketakutan, dan kehilangan kendali diri. Tidak diragukan lagi, kita hidup dalam masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="image101" alt="Shopaholic" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2006/10/shopaholic1.jpg" /><br />
<span id="more-99"></span></p>
<p><strong>APAKAH ‘SHOPAHOLIC’ ITU?</strong></p>
<p>Beberapa tahun terakhir ini, shopaholic atau compulsive shopper telah menjadi perhatian berbagai program televisi dan majalah perempuan. Mereka juga telah menjadi topik perbincangan psikologi pop. Meski media massa menggunakan istilah dengan agak “serampangan”, sebenarnya seorang shopaholic sering merasa terasing, sangat ketakutan, dan kehilangan kendali diri.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, kita hidup dalam masyarakat yang sangat “gemar belanja”. Kita hidup berdasar pada kekayaan yang kita miliki dan banyak dari kita hidup dalam belitan hutang. Banyak orang, berapapun penghasilannya, memandang belanja sebagai sebuah hobi. Mereka menghabiskan akhir pekan dengan berbelanja, menghabiskan uang untuk barang-barang yang tidak mereka miliki, dan sering menyesali perbuatannya di kemudian hari. Apakah ini menunjukkan bahwa mereka bermasalah? Belum tentu.</p>
<p>Seorang shopaholic belanja di luar kendali. Mereka akan terus-menerus belanja meskipun telah jauh terbenam dalam hutang. Mereka akan belanja saat tertekan secara emosional, dan menggunakan belanja sebagai mekanisme bertahan hidup. Mereka tidak berhenti belanja karena mereka sungguh-sungguh menemukan kenikmatan dalam belanja. Mereka membeli barang-barang karena mereka merasa HARUS. Seorang shopaholic adalah seseorang yang lepas kendali.</p>
<p><strong>APAKAH ANDA SEORANG ‘SHOPAHOLIC’?</strong></p>
<p><strong>Pikirkan pernyataan-pernyataan berikut ini dengan membubuhkan “Benar” atau  “Salah” pada masing-masingnya.</strong></p>
<ol>
<li>Ketika saya merasa tertekan, biasanya saya belanja.</li>
<li>Saya menghabiskan banyak uang untuk barang yang tidak saya miliki namun  tidak saya butuhkan.</li>
<li>Saya merasa gila saat saya berbelanja tapi setelah itu saya tidak terlalau  peduli akan barang yang saya beli.</li>
<li>Saya memiliki banyak pakaian yang tidak pernah saya pakai dan sejumlah perkakas/alat yang tidak terhitung jumlahnya dan saya tidak pernah menggunakannya.</li>
<li>Saya sering merasa sembrono/gila-gilaan dan lepas kontrol ketika saya  berbelanja.</li>
<li>Saya sering berbohong kepada teman-teman dan keluarga tentang uang yang saya  habiskan.</li>
<li>Saya merasa sangat kacau dan terganggu dengan kebiasaan berbelanja yang saya  lakukan</li>
<li>Setelah belanja gila-gilaan, saya kadang merasa hilang orientasi dan  tertekan.</li>
<li>Sekalipun saya merasa sangat bingung tertang hutang-hutang saya, saya tetap  berbelanja.</li>
<li>Kegiatan berbelanja saya bnayak disebakan masalah hubungan dengan diri  sendiri atau pun dengan orang lain.</li>
</ol>
<p>Apakah Anda menjawab “benar” sebanyak empat kali atau lebih dari pernyataan-pernyataan di atas? Jika ya, tampaknya Anda memiliki masalah yang serius dengan nafsu belanja.</p>
<p>Jika kebanyakan jawaban Anda atas pernyataan kuis ini “Benar”, mungkin Anda membutuhkan lebih dari sekedar tips-tips yang sifatnya ekonomis untuk mengendalikan pengeluaran Anda. Jika pola belanja Anda mulai mengganggu kehidupan Anda, pertimbangkan untuk mendatangi seorang psikolog. Dia akan membantu Anda untuk mencari tahu mengapa kebiasaan belanja Anda sangat sulit dikendalikan. Shopaholic biasanya digolongkan sebagai “penyimpangan obsesif-kompulsif” yang dapat disembuhkan dengan bantuan psikolog. Dengan kesabaran, ketekunan serta bantuan dari pihak professional, seorang shopaholic dapat kembali mengendalikan hidupnya.</p>
<p><strong>TIPS AGAR TIDAK BOROS DAN TERAPI SEDERHANA UNTUK  ‘SHOPAHOLIC’</strong></p>
<ol>
<li>Biasakan untuk tidak membawa kartu kredit, buku cek dan kartu ATM sebelum  Anda pergi belanja. Gunakanlah uang tunai.</li>
<li>Jika Anda tertarik untuk membeli sesuatu, jangan biarkan diri Anda mengikuti dorongan itu. Buatlah “batas waktu” untuk berpikir. Jika sampai beberapa hari kemudian Anda masih menginginkannya, mungkin kini Anda bisa mempertimbangkan untuk membelinya.</li>
<li>Buatlah anggaran di atas selembar kertas dan jangan membeli apapun di luar  anggaran.</li>
<li>Tulis setiap kebutuhan yang harus dibeli selama dua minggu Ini akan membuat  Anda tahu benar kemana perginya uang Anda.</li>
</ol>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=c" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
