<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; opini &amp; analisis</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/opini-analisis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Satu Bumi &#8211; Sama, Korban Kapitalisme</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 02:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kevlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Redefinisi Kapitalisme Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia. Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><strong><span lang="IN">Redefinisi Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang pemilik modal besar. Tidak sukar membayangkannya. Perumpamaannya<span> </span>seperti ini, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia kemudian membentuk lingkaran setan yang rapat sehingga orang–orang di dalamnya sulit keluar karena seolah dimanjakan (padahal diperbudak) segelintir pemilik modal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia melegitimasi penghisapan manusia atas manusia lain karena hanya cara tersebut yang ampuh mempertahankan eksistensinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia pintar, cerdas, tapi satu hal yang dapat menghancurkannya, ia licik dan culas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kepintarannya dapat dilihat dari bagaimana ia berperan sebagai tuhan ketika hamba mengemis, meminta kepadanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, mari kita masuk dalam lingkup ekonomi kapitalisme. Kasarnya seperti ini, daripada dapur kosong, tidak berasap, akhirnya hamba menuhankannya sembari bersabar dan berharap hari esok jauh lebih baik, padahal itu semua nihil jikalau kawan–kawan tidak frontal melawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kelicikan Humanisme Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lebih jauh, konsep ekonomi tersebut melahirkan kelas–kelas sosial dalam masyarakat atau pengotakan status manusia. Dikotomi si kaya dan si miskin adalah manifestasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tidak berhenti di sini. Ironis ketika percabangan tersebut tidak lagi berperikemanusiaan. Yang kaya semakin merajalela, yang miskin semakin menjerit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kawan–kawan tahu bahwa idealnya kondisi tersebut dapat memunculkan kedermawanan. Ingat ! Pilantropis murni tanpa embel-embel bukanlah seorang kapitalis, walaupun kebanyakan orang menganggap mereka kapitalis. Ia tahu betul ketidakseimbangan ajaran kapitalisme dan kemudian memilih menjadi pilantropis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia-kapitalisme melegalkan penghisapan yang dilakukan si kaya atas si miskin (baca: perbudakan). Sungguh sempit humanisme yang diartikulasikan kapitalisme. Bahkan perbudakan tersebut seolah dikondisikan terjadi dan bersifat tidak memaksa. Mengapa hal ini bisa terjadi ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kenyamanan semu perbudakan dalam lingkaran setan dapat menjadi sebuah jawaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Oleh karena itu, marilah sama-sama matangkan idealisme untuk keluar dari lingkaran tersebut walaupun terasa berat, lebih khusus bagi kapitalis muda mapan yang sudah merasa nyaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kapitalisasi Pendidikan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme tidak segan–segan melebarkan sayap di dunia pendidikan, tentu dengan idealismenya bahwa kepemilikan modal adalah segalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia berhasil mendisfungsikan esensi pendidikan, mensubstitusi ruang kelas menjadi sebuah perusahaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Bagaimana tidak ? Kawan-kawan dapat melihat kondisi saat ini, yang bersekolah hanya yang mampu membayar, bagaimana dengan yang ingin sekolah tetapi tidak mampu membayar ? Kenyataan di lapangan, mereka tidak dapat menikmati bahkan sekedar untuk mencicipi suasana ruang kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, itu tadi sekelumit tentang pra-ruang<span> </span>kelas. Sekarang bagaimana dengan yang sedang menikmati ruang kelas ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aura intelektualisme pun didistorsi menjadi sebuah rutinitas formalitas berbuah kemalasan kontinu. Memang hal tersebut merupakan pilihan masing-masing individu<strong>. </strong>Tetapi penting diingat ! Jikalau ruang kelas masih dipenuhi perasaan dan aktivitas yang “salah”, adalah mimpi di siang bolong melahirkan individu-individu berkualitas unggul. Akhirnya, peserta didik hanya mencari nilai tetapi tidak lagi memikirkan, memanifestasikan apalagi mensyukuri arti sebuah proses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lanjut dengan pascaruang kelas. Walhasil, lulusan ruang kelas pencari nilai akhir akan berpenyakit mental bahkan cenderung amoral. Di kemudian hari mereka enggan berpikir dan berusaha. Pragmatisme sempit akan melekat di masing-masing individu dengan meniadakan nilai-nilai murni yang dianugrahi di dalam diri. Korupsi adalah salah satu contoh sederhana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Sungguh, hal-hal tersebut yang diinginkan kapitalisme. Sebuah bahan perenungan perihal agenda busuk kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kontinuitas Pergerakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Jadi, pergerakan radikal, frontal tanpa melupakan hal–hal fundamental adalah syarat mutlak menghancurkan eksistensinya-kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aksi kolektif cerdas pemogokan kerja<span> </span>yang dilakukan kawan-kawan pekerja secara besar–besaran adalah salah satu cara membuatnya kebakaran jenggot walaupun tak sampai membuatnya mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Perlu sebuah kontinuitas sabar sembari melakukan pengecekan ulang terhadap infiltrasi yang dilakukan kapitalis dalam pergerakan (hal ini sangat penting demi menjaga kemurnian cita–cita pergerakan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mengapa pergerakan harus bersifat kolektif, cerdas, tulus, dan murni ? Ya, karena jikalau dilakukan tanpa konsep matang, anorganisir akan melahirkan pergerakan bersifat emosional saja, kemudian mengonsekuensikan sebuah stagnasi pergerakan yang tidak diharapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mari kawan, singsingkan lengan baju, kencangkan ikat pinggang dan jangan lupa rapatkan barisan !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ingat ! Pergerakan emosional terorganisir tidak lebih baik ketimbang pergerakan cerdas terkonsep.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan dimulai saat ini !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ayo, tunggu apa lagi !!! Bangun dari tidur panjang !!! Wujudkan impian !!! Bergerak !!<strong></strong></span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Negeri Kaya Tapi Miskin</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/30/negeri-kaya-tapi-miskin/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/30/negeri-kaya-tapi-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 02:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kevlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin menjerit. Mungkin kalimat tersebut dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya di negeri kita, Indonesia. Dunia menganggap Indonesia adalah negara berkembang atau lebih kasarnya negara miskin. Persepsi tersebut setengah benar dan setengah salah. Benar ketika banyak orang di Indonesia hidup di garis kemiskinan dan bahkan di bawah garis kemiskinan. Sementara persepsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin menjerit. Mungkin kalimat tersebut dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya di negeri kita, Indonesia. Dunia menganggap Indonesia adalah negara berkembang atau lebih kasarnya negara miskin. Persepsi tersebut setengah benar dan setengah salah. Benar ketika banyak orang di Indonesia hidup di garis kemiskinan dan bahkan di bawah garis kemiskinan. Sementara persepsi tersebut dikatakan salah bila dilihat dari sudut pandang lain. Banyak orang kaya, bisnis perumahan elit merajalela, pengusaha kaya yang sarat dengan modal tersenyum manis melihat bisnisnya berkembang pesat di atas penderitaan pengusaha kecil yang berpaham “ hidup enggan mati tak mau “. Hal – hal tersebut sudah bisa menggambarkan bahwa Indonesia negeri yang kaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sekarang pertanyaannya adalah mengapa rakyat semakin susah ?, mengapa rakyat semakin menjerit ? Jawabannya bisa beragam. Salah satunya adalah rakyat sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Kita ketahui bersama bahwa lapangan kerja di Indonesia atau lebih tepat di Jakarta sudah semakin menyempit. Hal tersebut dikarenakan Jakarta masih menjadi surga bagi pencari pekerjaan dari seluruh penjuru nusantara. Ironis ketika semangat mencari pekerjaan tidak dibarengi dengan kemampuan memadai. Sebuah konsekuensi logis adalah pengangguran menjamur di mana – mana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Penderitaan rakyat semakin sempurna ketika pemerintah seenak udelnya menaikkan harga bahan kebutuhan pokok dan harga bahan bakar. Hal tersebut semakin mengeratkan cekikan di leher rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Rakyat semakin susah jelas karena pemerintah tidak mengerti dan mengurusi rakyatnya dengan baik. Lihat saja saudara kita di Yahukimo yang kelaparan masal. Padahal di Papua kaya sumber daya alam. Kelihatannya saudara kita di Papua hanya berhak menjadi tamu di rumahnya sendiri. Hal tersebut tidak perlu terjadi apabila pemerintah tegas, tidak mau didikte pihak asing yang mengeruk sumber daya alam melimpah di Papua dan dibawa pulang ke negara mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Apa yang Salah ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Rakyat semakin menderita jelas karena pemerintah salah urus. Banyak program pemerintah yang salah sasaran. Pemerintah hanya menyisakan setengah hatinya untuk rakyat. Walhasil, rakyat semakin menjerit karena banyak masalah yang harus mereka hadapi dan selesaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Banyak program pemerintah yang bertujuan meringankan beban rakyat justru menambah berat beban yang harus dipikul rakyat. Operasi pasar yang dilakukan pemerintah banyak yang salah sasaran dan terbukti tidak ampuh menurunkan harga bahan kebutuhan pokok. Bantuan Langsung Tunai yang diperuntukkan bagi rakyat yang benar – benar miskin justru diterima ibu gemuk yang mengendarai motor dengan kalung emas menggantung di lehernya. Sungguh ironis mendengarnya bukan&#8230;? Inilah Indonesia&#8230; Begitupula dengan program konversi minyak tanah ke gas. Tabung gas untuk rakyat miskin diterima dengan senang hati oleh keluarga berkecukupan ketika rakyat yang benar – benar membutuhkan sulit mendapatkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jumlah tenaga tidak terdidik yang banyak juga menjadi kesalahan fatal dalam sebuah negara. Banyak rakyat Indonesia yang tidak sempat menyicipi bangku sekolah penuh selama 9 tahun, seperti program yang dicanangkan pemerintah. Hal tersebut jelas menjadi faktor utama pengangguran di Indonesia. Banyak dari ratusan juta rakyat Indonesia hanya bisa sekolah sampai tahap SD, bahkan tidak bisa sekolah sama sekali karena kekurangan biaya. Kita tahu bahwa negara Indonesia masih mewajibkan rakyatnya membayar untuk mendapatkan pendidikan di bangku sekolah yang seharusnya hal tersebut merupakan hak bagi rakyat Indonesia dan kewajiban pemerintah untuk membiayainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Solusi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Semua masalah pasti ada solusi. Kita tidak perlu takut, karena Allah S.W.T memberikan masalah satu paket beserta jalan keluarnya. Semangat inilah yang harus kita junjung tinggi untuk membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan dan ketidakberdayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Reasumsi saya, ada banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyenangkan hati rakyat. Pertama, pemerintah harus benar – benar tulus turun ke bawah sembari menghilangkan mental – mental pragmatis sempit. Kedua, pemerintah harus memperbanyak lahan pekerjaan untuk rakyat yang semakin susah. Ketiga, ini adalah faktor penentu kemajuan rakyat. Pemerintah harus menyekolahkan rakyat sampai ke jenjang SMA atau perguruan tinggi. Dananya bisa didapat dari pajak yang dikelola secara baik dan bijaksana. Keempat, pemerintah harus berusaha membebaskan biaya perawatan di rumahsakit untuk rakyat miskin yang benar – benar membutuhkan, jangan lagi salah sasaran. Kelima, jangan lagi ada kecemburuan seperti saudara kita di Papua. Pemerintah harus tegas menasionalisasikan perusahaan milik negara untuk kepentingan rakyat umum. Keenam, perlahan, sedikit demi sedikit kurangi ketergantungan dengan pihak asing. Giatkan sektor perekonomian lokal agar dapat memenuhi kebutuhan rakyat tanpa tekanan pihak asing. Dan akhir tidak terakhir, pemerintah harus menjadi suri tauladan yang baik bagi rakyat. Meliputi hal mental, gaya hidup, kejujuran, dan terutama akhlak yang mulia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri “.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">( sebuah persembahan untuk apa yang dinamakan indonesia dari seorang di seberang sana ).</span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/30/negeri-kaya-tapi-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ORGANISASIKAN KOMUNITASMU: JANGAN MEMILIH!</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 06:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton, Program Musik Dahsyat di RCTI 19 Feb 09 Semua revolusi modern telah berakhir dengan kembalinya kekuatan negara—Albert Camus Dewasa ini, “demokrasi” menguasai dunia. Runtuhnya rezim komunis Rusia, pendudukan di Afghanistan dan Irak yang mengatasnamakan demokrasi, sistem Pemilu multipartai yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton, Program Musik Dahsyat di RCTI 19 Feb 09</p>
<p>Semua revolusi modern telah berakhir dengan kembalinya kekuatan negara—Albert Camus</p>
<p>Dewasa ini, “demokrasi” menguasai dunia. Runtuhnya rezim komunis Rusia, pendudukan di Afghanistan dan Irak yang mengatasnamakan demokrasi, sistem Pemilu multipartai yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia Ketiga, pertemuan-pertemuan tingkat dunia yang membahas persoalan demokrasi ekonomi, pembantaian warga sipil palestina di Jalur Gaza dan serangan balas dendam pada warga Israel yang tidak bersalah demi kekuasaan modal, juga jadwal Pemilu pada bulan April 2009 di Indonesia—yang selalu diklaim dan digembar-gemborkan sebagai pesta demokrasi. Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah kita dan dunia? Kenyataannya dunia masih juga berjalan di antara kemiskinan, pengangguran, penghancuran ekologi, penghancuran hak-hak warga oleh korporasi, dan masalah-masalah lainnya. Lebih dari itu, kemandirian komunitas telah menjadi sesuatu yang benar-benar langka. Apakah ada yang salah dengan “demokrasi”? Apakah ada alternatif yang lebih memungkinkan dari “demokrasi”?<br />
<span id="more-224"></span><br />
Setiap Anak Kecil Dapat Tumbuh Menjadi Seorang Presiden</p>
<p>Bohong. Menjadi seorang Presiden berarti memegang sebuah kekuatan dalam posisi yang hierarkis, sama halnya dengan menjadi seorang milyuner: untuk ada satu orang Presiden, harus ada milyaran orang yang memiliki kekuatan lebih rendah dari dirinya. Dan seperti halnya dengan milyuner, hal yang sama berlaku juga dengan keberadaan seorang Presiden: bukan sebuah kebetulan bahwa kedua tipe tersebut saling menguntungkan, semenjak keduanya datang dari dunia yang memiliki banyak hak-hak istimewa dengan cara membatasi hak-hak kita sebagai orang-orang yang bukan bagian dari mereka. Sistem ekonomi kita, juga sebenarnya tidaklah demokratis, kita semua sudah tahu bahwa sumber kekayaan didistribusikan dengan proporsi yang secara absurd sangatlah tidak adil. Untuk menjadi seorang Presiden engkau harus memulainya dengan memiliki sumber kekayaan, atau setidaknya memiliki kedudukan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi sumber kekayaan. Walaupun apabila memang benar bahwa setiap orang dapat tumbuh menjadi seorang Presiden, hal tersebut tidaklah akan menolong milyaran dari kita yang kebetulan tidak menjadi seorang Presiden—yang masih harus hidup dalam bayang-bayang kekuasaannya. Hal inilah yang menjadi kesulitan mendasar, yang intrinsik, dalam sistem demokrasi representatif[1]—di mana kesulitan tersebut terjadi dalam level paling bawah maupun dalam level teratas. Sebagai contoh: Walikota, bersama beberapa orang politisi profesional, dapat mengagendakan pertemuan-pertemuan yang mendiskusikan masalah-masalah yang dialami oleh warga kota tersebut. Kemudian mereka menghasilkan berbagai keputusan setiap harinya untuk ditaati oleh setiap warga kota, tanpa sekalipun pernah mengkonsultasikannya dengan para warganya. Masalahnya, masalah yang dialami oleh tiap warga pasti berbeda-beda, sehingga mereka yang tidak mengalami masalah yang sama jelas akan merasa keberatan dengan diberlakukannya keputusan sepihak dari Walikota. Tidak perlu heran apabila ketidakpuasan akan terus terjadi. Para warga kota dapat memilih Walikota yang lain, walaupun pilihannya hanya akan kembali ke lingkaran yang itu-itu saja: mereka yang telah disediakan dalam daftar politisi atau calon politisi yang sudah dipilihkan untuk warga kota. Dari pilihan itu, tetap saja kepentingan dan kekuatan kelas dari para politisi tersebut akan selalu bertentangan dengan kepentingan warga kota. Lagipula, para loyalis partai politik selalu saja hanya melakukan hal-hal yang dianggap baik demi mendapatkan kursi kekuasaan dan bagaimana caranya mempertahankan kursi tersebut. Apabila tidak ada Presiden, maka bukan berarti bahwa “demokrasi” kita tersebut kurang demokratis. Masalah mendasarnya adalah korupsi, kepemilikan hak-hak istimewa dan hierarki tidak akan pernah lenyap walaupun kita telah memilih jutaan Presiden; karena cacat tersebut tidak terletak secara personal pada siapa yang menjadi Presiden, melainkan bahwa hal-hal tersebut merupakan metode-metode pemerintahan yang telah melekat erat dalam bentuk pemerintahan apa pun.</p>
<p>Tirani Mayoritas</p>
<p>Apabila anda pernah mengalami suatu masa di mana anda menjadi bagian dari kelompok minoritas yang tidak masuk hitungan sama sekali, sementara kelompok mayoritas memutuskan bahwa anda harus kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi diri anda sendiri tapi dianggap tidak penting oleh kelompok mayoritas, akankah anda hanya menurut demi kepentingan mayoritas? Saat hal tersebut terjadi, benarkah seseorang akan menyadari bahwa kekuasaan sekelompok orang ada karena mereka telah menyingkirkan hak-hak orang lainnya? Kita menerima kebenaran secara mutlak bahwa kepentingan mayoritas lebih penting karena kita tidak pernah percaya bahwa hal tersebut akan mengancam kepentingan kita—dan biasanya mereka, para minoritas yang telah terancam kepentingannya, telah ditutup dulu mulutnya sebelum kita sempat mendengar langsung tentang kondisi yang mereka alami. Tak ada “masyarakat biasa” yang mengakui bahwa dirinya terancam oleh aturan mayoritas, karena setiap orang berpikir ada sebuah “kekuasaan moral” yang menyatakan bahwa kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya: sesuatu yang di dalam kenyataan disebut sebagai fakta dengan merujuk pada standarisasi nilai-nilai yang tidak pernah ditanyakan terlebih dahulu, apakah kita sepakat atau tidak dengan aturan tersebut. Kalaupun hal tersebut tidak disebut sebagai fakta, setidaknya kita begitu sering mendengar hal tersebut dari berbagai teori, yang menyatakan bahwa ide tentang kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya. Dari demokrasi tersentral ala negara-negara Komunis, demokrasi Pancasila, sampai dengan demokrasi pasar yang eksis sekarang ini, kesemuanya tidak pernah mengakomodir kepentingan yang berbeda dari kepentingan mayoritas[2], bahkan jika itu adalah sesuatu yang keliru. Demokrasi dengan aturan mayoritas selalu berakhir dengan keputusan bahwa, apabila segala fakta telah terbukti benar, maka semua orang akan dibuat melihat bahwa hanya ada satu macam cara melakukan sesuatu yang bisa dikatakan benar alias hanya ada satu macam kebenaran. Tak heran jika pola demokrasi seperti demikian tak ada bedanya dengan kediktatoran. Masalahnya, dalam banyak kasus bahkan apabila “fakta” dapat dihadirkan secara jelas pada semua orang (yang jelas tak akan mungkin) beberapa hal tak dapat disetujui begitu saja, yang merupakan bukti bahwa sebenarnya kebenaran tidak hanya satu macam saja. Ada begitu banyak kebenaran di dunia ini, karena masing-masing individu dan lingkungan yang membentuknya punya keunikannya sendiri. Memaksa kebenaran yang bervariatif menjadi kebenaran tunggal akan menghilangkan keindahan yang mewarnai hidup ini. Kita semua membutuhkan bentuk-bentuk demokrasi yang mampu menghitung peristiwa-peristiwa tentang perbedaan kebenaran, di mana kita juga bebas dari sebuah sistem kediktatoran mayoritas sebagaimana kediktatoran kelas yang memiliki hak-hak istimewa.</p>
<p>Aturan Hukum</p>
<p>Perlindungan yang disediakan oleh institusi-institusi legal yang kita miliki sama sekali tidak cukup. “Aturan dan hukum yang adil”, yang dewasa ini diberhalakan oleh mereka yang memang memerlukan perlindungan atas kepentingannya (misalnya tuan tanah atau direktur bank), tidak dapat melindungi setiap orang dari kekacauan atau ketidakadilan; hal tersebut hanya menciptakan arena spesialisasi baru, di mana potensi dan kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh komunitas akan direduksi ke dalam sebuah arena jual beli yang mahal untuk membayar hakim atau pengacara. Masyarakat yang miskin, lemah, dan tidak berdaya, adalah kelompok yang paling akhir diperhatikan oleh aturan hukum yang ada. Di bawah kondisi demikian, potensi mandiri dan kekuatan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat akan disibukkan pada persoalan pemenuhan kemampuan finansial untuk membiayai institusi pengadilan, bukan digunakan untuk merebut kembali hidup yang telah dirampas. Memapankan keadilan dalam masyarakat melalui penguatan dan pemaksaan kontrol oleh hukum tidak akan pernah berhasil: beberapa hukum hanya dapat menginstitusionalkan apa yang telah menjadi aturan dalam masyarakat. Apa yang kita butuhkan adalah meninggalkan demokrasi representatif, untuk sebuah demokrasi partisipatoris[3] sepenuhnya.</p>
<p>Bukan Sebuah Kebetulan Apabila “Kebebasan” Tak Ada Dalam Kotak Pemilu</p>
<p>Kebebasan bukanlah sebuah kondisi—melainkan sesuatu yang lebih dapat dikatakan sebagai sebuah sensasi—dan hal tersebut bukanlah sebuah konsep akan janji kesetiaan untuk dituju, sebuah sebab yang mendasari tindakan, ataupun sebuah standar yang mengharuskan kita berbaris di bawah satu bendera; melainkan sebuah pengalaman yang harus anda alami sehari-hari yang bila tidak dialami, maka kebebasan tersebut akan meninggalkan anda. Kebebasan bukanlah saat kita beraksi ketika bendera dikibarkan dan bom-bom dijatuhkan hanya demi “membuat dunia aman untuk demokrasi”, tak peduli apa pun warna bendera yang dikibarkan (bahkan juga bendera hitam). Kebebasan tak bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan ataupun doktrin filosofis apa pun. Memberikan kebebasan pada orang lain tak akan mampu memperkuat kebebasan, selain hanya mengekang kemampuan orang tersebut untuk menemukan kebebasannya sendiri. Kebebasan muncul pada saat-saat yang sederhana; saat membuat anak kecil percaya pada sesuatu yang dilakukannya, pada momen-momen bersama dengan beberapa teman dekat dan kerabat, ataupun pada saat para pekerja menolak perintah pimpinan serikat buruhnya, dan kemudian mengorganisir pemogokan mandiri tanpa pemimpin. Apabila kita memang memperjuangkan kebebasan kita, maka kita harus mulai berjanji pada diri kita sendiri untuk selalu mengejar dan menghargai momen-momen tersebut dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkannya. Hal ini jelas lebih baik daripada menghabiskan waktu kita untuk melayani kepentingan partai atau ideologi (apa pun). Kebebasan yang nyata tak akan dapat ditemui dalam kotak Pemilu. Kebebasan bukan sekedar kemampuan untuk memilih satu dari beberapa pilihan, melainkan berpartisipasi aktif untuk membuat pilihan sendiri: membentuk dan mendekor ulang lingkungan di mana pilihan-pilihan tersebut dapat terbentuk. Tanpa hal ini, kita tak akan memiliki apa pun, selain hanya menerima pilihan yang telah ada berulang-ulang kali—membuat keputusan yang hasil akhirnya juga akan selalu sama. Apabila pilihan ada di tangan kita, maka segala sesuatu berarti kemungkinan baru. Dan ketika telah tiba saatnya untuk mengambilalih kekuatan dan kekuasaan atas diri kita sendiri, maka tak akan ada seorang pun yang dapat merepresentasikan diri kita—hal itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan secara mandiri. Kedaulatan tak akan pernah bisa direpresentasikan, bukan?!</p>
<p>“Lihat, Kotak Suara Pemilu—Demokrasi!”</p>
<p>Apabila kebebasan adalah sesuatu yang berharga di mana telah banyak generasi yang berjuang dan mati untuknya, maka kotak suara Pemilu adalah sebuah pereduksian makna atas kebebasan itu sendiri; seseorang cukup memasukkan pilihan suaranya pada sebuah kotak, kemudian kembali ke tempat kerjanya di mana dirinya tak lagi memiliki kontrol atas hidupnya, yang juga berarti hal tersebut justru tidak dapat dibilang sebagai upaya untuk meneruskan perjuangan demi kebebasan yang telah dilakukan lebih dulu oleh generasi-generasi sebelum kita. Untuk gambaran yang lebih mudah mengenai kebebasan, lihatlah musisi yang sedang melakukan improvisasi musikal bersama beberapa partnernya; ia melakukannya dalam suasana yang menyenangkan, dengan kerjasama yang benar-benar tanpa paksaan, sehingga mereka dapat aktif mencari nada, tempo, dan suasana yang nyaman di mana mereka dapat eksis—semua berpartisipasi untuk mentransformasikan dunia yang sebaliknya juga mentransformasikan diri mereka. Ambil model tersebut dan terapkan pada setiap interaksi kita dengan orang lain, maka anda akan memiliki sesuatu yang secara kualitas jadi lebih baik daripada sistem yang ada saat ini: sebuah harmoni dalam hubungan dan kehidupan manusia—sebuah demokrasi yang sesungguhnya. Untuk mencapai titik tersebut, kita harus mulai menganggap Pemilu sebagai sebuah ekspresi kebebasan dan partisipasi yang telah ketinggalan zaman dan tak layak dilakukan untuk merengkuh kebebasan yang lebih nyata.</p>
<p>Demokrasi Representatif Memiliki Kontradiksi Dalam Istilahnya Sendiri</p>
<p>Tak ada seorang pun yang dapat merepresentasikan kekuatan dan ketertarikan yang anda miliki—anda hanya akan mendapat kekuatan dengan melakukan sesuatu, dan anda hanya akan dapat tahu apa ketertarikan anda dengan cara melibatkan diri secara langsung. Para politisi telah mengembangkan karirnya dengan mengklaim bahwa mereka merepresentasikan orang lain seolah-olah kebebasan dan kekuatan politis dapat diselenggarakan oleh seorang wakil. Sejujurnya, para politisi yang sering disebut sebagai wakil rakyat, hanya orang-orang yang mewakili kepentingannya sendiri—dan kepentingan kelasnya yang berbeda dengan kita, masyarakat kebanyakan. Kepentingan para politisi yang mencari suara kita adalah mempertahankan sistem yang membeda-bedakan manusia ke dalam kelas-kelas sosial, sehingga mereka dapat menikmati hak istimewa yang hanya tersentral di sekitar mereka saja. Kepentingan kita adalah menghancurkan tersentralnya akses-akses atas hak-hak hidup dan pembagian manusia ke dalam kelas-kelas sosial, di samping memberdayakan dan memandirikan diri kita sendiri. Pemilu adalah ekspresi dari ketidakberdayaan dan ketidakmandirian kita: sebuah ijin yang kita berikan yang menyatakan bahwa kita hanya dapat mengerti kemampuan masyarakat kita melalui orang lain yang nantinya akan mewakili kita. Saat kita membiarkan para politisi tersebut menyediakan pilihan bagi kita, maka hal tersebut tak ada bedanya dengan saat kita menyerahkan urusan teknologi pada para teknokrat, urusan kesehatan pada dokter, tata kota yang kita tinggali pada ahli planologi; kita akan berakhir dengan terus hidup di sebuah dunia yang asing bagi diri kita sendiri, yang walaupun tenaga kita yang menciptakannya, kita tetap tidak mengerti apa yang sedang kita lakukan selain hanya menunggu diberitahu oleh para pemimpin dan para spesialis tentang apa saja kemungkinan yang kita miliki. Faktanya adalah kita tak perlu memilih satu di antara beberapa kandidat Presiden, merk soft-drink, channel televisi, koran, ataupun ideologi politik. Kita dapat membuat keputusan kita sendiri sebagai individu dan komunitas, kita dapat membuat makanan yang enak dengan tangan kita sendiri, membuat koalisi sendiri, media sendiri, hiburan sendiri: kita dapat menciptakan pendekatan individual kita sendiri pada hidup yang memberi kita semua keunikan masing-masing.</p>
<p>Konsensus</p>
<p>Secara radikal, demokrasi partisipatoris juga dikenal sebagai demokrasi konsensus, sesuatu yang di belahan dunia lain telah dikenal cukup akrab dan bahkan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dari komunitas adat di Amerika Latin sampai pada sel-sel aksi politis posmodern (grup affiniti atau kelompok affinitas[4]) di berbagai negara Dunia Pertama ataupun pertanian organik yang dioperasikan secara kooperatif di Australia. Demokrasi konsensus juga telah berlangsung selama sekian waktu dalam komunitas Sedulur Sikep[5] sampai pada aksi gotong-royong para petani di Kulon Progo yang menolak penambangan pasir besi. Demokrasi konsensus adalah sebuah bentuk demokrasi langsung, yang sangat berbeda dengan demokrasi representatif: para partisipan selalu terlibat dalam pengambilan keputusan harian, melalui desentralisasi ilmu pengetahuan dan kekuasaan, sehingga pengambilan kontrol atas hidup sehari-hari menjadi sesuatu yang sangat mungkin. Berbeda dengan demokrasi yang mengandalkan aturan mayoritas, nilai-nilai yang dianut demokrasi konsensus membutuhkan keterlibatan setiap individu secara setara; apabila ada satu saja orang yang tidak setuju dengan sebuah keputusan yang diambil, maka adalah tugas semuanya untuk menemukan solusi baru yang dapat diterima oleh semua. Demokrasi konsensus tidak menuntut agar seseorang menerima kekuatan orang lain atas hidupnya, walaupun hal ini juga bukan berarti bahwa tiap orang tidak membutuhkan orang lain; walaupun dalam soalan efisiensi, hal seperti ini amatlah lamban, tetapi dalam segi kebebasan dan itikad baik, hal tersebut akan mendapat poin yang sangat tinggi. Demokrasi konsensus tidak memaksa orang untuk mengikuti pemimpin ataupun standarisasi nilai, melainkan membiarkan orang lain untuk memiliki tujuannya dan cara pencapaiannya sendiri.</p>
<p>Otonomi</p>
<p>Agar demokrasi langsung dapat menjadi berarti, orang-orang harus memiliki kontrol atas hidup yang berkaitan dengan dirinya maupun sekelilingnya. Otonomi adalah ide di mana pilihan untuk menentukan apa yang terbaik bagi diri kita masing-masing ada di tangan kita, dan bukan orang lain—apalagi orang yang hanya kita kenal dari poster atau baliho yang dipasang menjelang Pemilu. Otonomi juga berarti bahwa tak ada seorang pun yang dapat menentukan pilihan tentang apa yang harus anda lakukan untuk mengisi waktu dan potensi yang anda miliki—ataupun menentukan bagaimana lingkungan sekitarmu harus dibentuk. Jangan kacaukan hal tersebut dengan “kemerdekaan” individual yang sempit—dalam kenyataannya tak ada seorang pun yang benar-benar merdeka dan mandiri sejak banyak hal dalam kehidupan kita saling terhubung dan tergantung dengan sesama kita (kita terbiasa bekerja dan menyebut diri kita mandiri, padahal kita tetap membutuhkan peran orang lain untuk membuat kita dapat hidup mandiri[6])—kedua hal tersebut hanyalah sebuah mitos individualis sempit yang membuat kita menolak mengakui perlunya keberadaan komunitas. Pemujaan yang berlebih terhadap istilah “mandiri” dalam masyarakat kompetitif menegaskan sebuah penyerangan terhadap siapa pun yang tak mau melakukan pengeksploitasian atas orang lain demi kepentingannya sendiri. Contoh jelasnya terdapat pada istilah otonomi dan mandiri seperti yang sering disebut-sebut oleh media massa dan pemerintah (seperti dalam kata “Otonomi Daerah”[7]). Otonomi yang kita tekankan adalah sebuah hubungan saling ketergantungan yang bebas di antara sesama kita yang berbagi konsensus, seperti pilihan dengan siapa kita bertindak secara bebas demi pembangunan swakelola atas seluruh aspek kehidupan, dll. Otonomi adalah sebuah antitesis dari birokrasi (sebuah hal yang jelas membuat kata “Otonomi Daerah” tampak sebagai sebuah lelucon). Agar otonomi dapat terwujud, segala aspek komunitas, dari teknologi hingga sejarah harus diorganisir ulang agar dapat diakses oleh siapa pun. Agar perjuangan ini menemui titik terang, semua orang harus menggunakan kesempatan akan akses tersebut. Grup-grup otonomis dapat dibentuk tanpa perlu sebuah agenda yang jelas, selama sesama anggotanya mendapat keuntungan dari partisipasi anggota lainnya. Beberapa grup dapat mengandung kontradiksinya sendiri, sebagaimana secara individu kita semua juga seperti itu, tetapi masih tetap dapat bekerja bersama-sama.</p>
<p>Momen-momen di mana kita semua harus diseragamkan di bawah satu bendera, satu model dan satu pola, sudah tak mampu lagi untuk menjawab kebutuhan kita akan kebebasan yang setara. Kita harus mencoba memasuki dunia baru. Grup-grup otonomis harus mengambil sikap yang jelas untuk melawan tekanan dari luar (maupun dari dalam) yang menyatakan bahwa tak ada hak bagi individu untuk menentukan hidupnya sendiri, atau mereka yang berusaha mengilfiltrasi otonomi dan konsensus dengan melakukan penghancuran struktur. Kekuasaan atas otonomi harus dilakukan dengan cara apa pun, termasuk penghancuran struktur status quo dan menggantikannya dengan struktur yang lebih demokratis secara radikal. Sangat tidak cukup saat kita menghancurkan jalanan karena menganggap pembangunan jalan hanya menimbulkan lebih banyak lagi polusi. Kita harus mampu mencari cara seperti menyediakan transportasi gratis, misalnya. Atau contoh lainnya, kita tak cukup sekedar mengkritik pola pendidikan di Indonesia tanpa mencoba membentuk sebuah sekolah dengan pola pendidikan yang berbeda. Tak perlu sekolah besar, cukup sekolah kecil non-formal yang menggunakan pola pengajaran yang progresif.</p>
<p>Aksi Langsung</p>
<p>Otonomi juga berarti aksi langsung, tidak menunggu proposal untuk disetujui oleh “jalur legal” yang selalu memakan waktu yang berkepanjangan dan dana yang mengalir terus menerus tanpa jelas ke mana akhirnya. Mari bangun jalur kita sendiri. Kalau kita ingin orang-orang yang kelaparan mendapatkan makanan, jangan berikan uangmu pada institusi legal yang biasanya membutuhkan biaya-biaya administrasi yang akhirnya uangmu akan habis untuk keperluan birokratis mereka—cari di mana sumber makanan murah dan cukup bergizi, kumpulkan, dan bagikan langsung pada mereka yang mengalami kelaparan. Kalau kamu membutuhkan makanan murah, jangan tunggu sampai ada orang kaya memberimu makanan ataupun mencari tanah kosong dan meminta ijin pada insitusi legal untuk menggunakan lahan tersebut—hal itu hanya akan memakan waktu bertahun-tahun dan jalur berbelit-belit yang malahan akan menghabiskan dana yang kamu miliki. Cari lahan-lahan kosong, tanami dengan tanaman pangan yang mampu tumbuh di tempat tersebut. Langkah berikutnya adalah memelihara dan menjaganya agar dapat tumbuh subur. Akan lebih baik jika dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut secara gotong-royong dengan lebih banyak orang. Kita akan mampu untuk memelihara dan menikmati hasilnya bersama-sama. Apabila ada tuan tanah berusaha meratakan lahan panganmu karena kamu dianggap menggunakan lahan kosongnya tanpa izin, pertahankanlah bersama-sama. Para tuan tanah tersebut terlihat benar hanya karena mereka memiliki uang yang jauh lebih banyak daripada dirimu dan hukum memang melindungi mereka, bukan kalian. Jangan tunggu sebuah ijin legal disahkan untukmu, jangan tunggu mereka yang memegang kekuasaan memberitahu padamu apa yang harus dilakukan dengan hidupmu. Lakukan sesuatu. Saat ini juga.</p>
<p>Federasi Tanpa Pemimpin</p>
<p>Grup-grup otonomis independen dapat bekerjasama dalam sebuah federasi tanpa satu kelompok pun yang memiliki hak lebih untuk memutuskan sesuatu yang merupakan kepentingan semua kelompok. Beberapa struktur sosial seperti demikian tampak seperti sebuah utopia. Tapi sebenarnya hal-hal seperti itu mampu direalisasikan—tak perlu berharap akan terjadi dalam skala besar, cukup kita lakukan dalam skala kecil terlebih dahulu. Hal-hal besar sendiri selalu lahir dari hal-hal kecil yang terus terakumulasi dan berkelanjutan. Individu-individu yang merasa setuju sepenuhnya dengan keputusan sebuah grup tidak boleh menutup dirinya untuk bergabung juga dengan grup lainnya untuk mengembangkan keinginannya. Agar hal-hal seperti itu dapat berjalan dalam jangka panjang, kita semua perlu untuk tetap mengembangkan sikap kooperatif, saling membutuhkan dan toleransi terhadap generasi yang muncul berikutnya—hal-hal seperti itulah yang kami usulkan saat ini.</p>
<p>Bagaimana Menyelesaikan Perbedaan Masalah Tanpa Perlu Keberadaan Pemerintah Ataupun<br />
Pemimpin?</p>
<p>Dalam struktur sosial di mana partisipasi tiap individu diutamakan, maka harus ada sebuah tekanan untuk mendorong pereduksian kebiasaan-kebiasaan yang merusak dan penuh kekerasan. Dibutuhkan sebuah pendekatan yang humanis, bukan yang penuh paksaan dan tekanan seperti yang selama ini pemerintah lakukan dengan ancaman penjara dan aparat keamanannya yang terkenal penuh kekerasan—yang hanya memupuk korupsi di antara para petugas hukum dan membenarkan tindakan kriminal yang ada. Mereka yang menolak untuk berintegrasi dengan komunitas manapun, serta menolak bantuan atau masukan dari yang lain, jelas akan menemukan kenyataan bahwa diri mereka akan tersisihkan dari interaksi manusia; tetapi hal tersebut pun lebih baik daripada pengasingan di penjara, seperti yang selama ini selalu berlaku dalam sistem sosial kita. Kekerasan seharusnya hanya dijadikan sebuah alat untuk mempertahankan diri bagi sebuah komunitas, bukannya sebagai alasan untuk menghancurkan komunitas lainnya atas pembenaran superioritas diri seperti yang selama ini juga selalu terjadi dalam sistem sosial kita. Hal ini juga diaplikasikan bagi kelompok masyarakat ataupun grup otonomis yang belum menjalin hubungan baik dengan komunitas kita. Ketidaksetujuan yang memasuki tahapan sangat serius dapat diselesaikan dengan berbagai cara seperti reorganisasi grup ataupun pembubaran. Seringkali individu-individu yang tidak dapat lagi mendapatkan kata setuju dalam sebuah grup ataupun komunitas, justru dapat lebih banyak meraih sukses dalam melakukan pola kooperatif yang dilakukan bersama individu lain di luar komunitasnya yang pertama. Apabila dalam konsensus tak dapat ditemukan kata setuju pada sebuah komunitas, maka grup tersebut perlu untuk dipecah menjadi bagian yang lebih kecil dan saling setuju dalam beberapa aktifitasnya. Hal tersebut memang kadang membuat frustrasi, tetapi hal itu tetap lebih baik daripada akhirnya keputusan dipaksakan oleh sebagian individu yang merasa memiliki kekuatan lebih dari yang lainnya. Semua komunitas independen harus selalu berurusan dengan hal tersebut, suka atau tidak suka, apabila memang tetap ingin membangun sebuah komunitas yang sehat dan terbuka.</p>
<p>Hidup (Ternyata) Tak Memerlukan Ijin</p>
<p>Ini adalah bagian tersulit, tentu saja. Tetapi bukankah kita tidak sedang membicarakan sebuah aturan sosial yang adil? Kita sedang mendiskusikan mengenai sebuah revolusi total atas hubungan manusia sehari-hari—sebuah solusi yang perlu dilakukan untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh spesies kita dewasa ini. Mari hadapi kenyataan—bahwa sebelum kita semua mampu menerapkan hal tersebut, maka tak perlu heran saat kekerasan yang terjadi dalam interaksi kita sehari-hari akan terus berlanjut, dan tak ada sistem ataupun hukum yang dapat menghentikannya dan melindungi kita. Alasan terbaik untuk menggantikan demokrasi representatif adalah dengan cara membangun demokrasi konsensus di mana tak akan ada lagi solusi palsu. Memang tak ada cara yang mudah untuk menekan angka konflik tanpa mencari akar konflik itu sendiri. Mereka semua yang terlibat harus mulai belajar untuk menjadi eksis tanpa harus merendahkan yang lain, serta mengeliminir kebiasaan-kebiasaan menyebalkan kita sendiri yang justru membuat kita lelah untuk membuat sesuatu yang lebih baik di dunia ini. Perkembangan pertama yang dapat diraih dalam dunia baru ini dapat ditemukan dalam hubungan pertemanan dan cinta kita. Saat kita semua terbebaskan dari hubungan yang dipaksakan, hubungan akan menjadi lebih nyaman. Ambil contoh ini, dan terapkan dalam seluruh masyarakat—ini arti yang dimaksud dengan kalimat “melampaui demokrasi”. Adalah sebuah prospek yang menantang untuk mencapai hal tersebut dari tempat kita berada saat ini… tetapi apa yang menjadi menarik dan indah dari konsensus dan otonomi adalah bahwa kita tidak perlu menunggu terpilihnya sebuah pemerintahan yang adil dan mengerti keinginan kita semua untuk mengaplikasikan konsep di atas—kita dapat mempraktekkannya saat ini juga, dengan orang-orang di sekitar kita dan secara langsung menerima keuntungan dari hal tersebut. Sekali saja hal tersebut dipraktekkan, maka akan terbuka jelas pola hidup tersebut bagi orang lainnya; tak perlu ada khotbah mengenai mana yang baik dan mana yang buruk saat kita menghidupi aktifitas-aktifitas secara langsung. Bentuk grup otonomismu sendiri untuk menjawab tantangan bahwa penguasa tak diperlukan untuk menentukan jalan hidupmu, dan untuk membentuk lingkungan di sekitarmu yang berarti juga hidupmu sendiri. Tak ada seorang wakil pun yang dapat melakukannya untukmu—seperti juga bahwa sejak dulu tak pernah ada seorang wakil pun yang mampu melakukan sesuatu untuk hidup kita. Dari hal-hal kecil seperti yang kita lakukanlah maka demokrasi yang sesungguhnya akan terbentuk. Maka, saat seseorang berkata kepada kita di suatu waktu, “Berterimakasihlah bahwa kamu telah hidup di dalam alam yang lebih demokratis dibanding masa lalu,” kita akan menjawabnya: “Tidak cukup sampai di situ! Kita harus mengetahui dengan lebih jelas apa yang kita inginkan dan apa yang harus kita lakukan, lewat pengalaman langsung kita sendiri.”</p>
<p>Aksi Langsung Versus Pemilu<br />
Panduan Bagi Komunitas-Masyarakat Non-Partai</p>
<p>Di Indonesia, Pemilu yang disebut sebagai pesta demokrasi di mana “masyarakat umum” akan memilih calon pemimpin mereka—yang diharapkan akan menciptakan perubahan—telah kehilangan pamornya. Ini bukan berarti bahwa masyarakat itu sendiri telah memiliki kesadaran bahwa sistem demokrasi elit ini sudah busuk dan sepatutnya diganti. Buktinya rutinitas ajang popularitas politisi dan elit borjuis terus saja berlangsung. Mengapa seperti ini? Jawaban yang mungkin paling mudah dan sederhana adalah bahwa, meskipun masyarakat “tidak percaya lagi” terhadap pemilu, mereka tidak punya pilihan lain mengenai pilihan macam apa yang dapat menciptakan perubahan yang berarti, selain memilih politisi.</p>
<p>Inilah mengapa banyak masyarakat merasa tak berdaya. Apalagi menimbang mentalitas budaya dominan masyarakat Indonesia di mana ketergantungan dan pendambaan akan pemimpin politik masih sangat kental. Artinya, rasa percaya diri masyarakat terhadap potensi diri mereka sendiri untuk membuat perubahan sangatlah rendah. Meski begitu, budaya sendiri merupakan sesuatu yang dibuat oleh relasi antar manusia, oleh aktivitas manusia itu sendiri, yang berarti mentalitas yang dihasilkan oleh budaya itu sendiri sangat mungkin untuk dirubah. Untuk merubahnya, kita harus terbiasa untuk melakukan aksi langsung.</p>
<p>Bila memang benar bahwa pemilu hanya akan memperbesar kantong para politisi dan elit borjuis, maka, adakah cara yang lebih efisien dan efektif untuk dapat merubah kehidupan kita? Jawaban yang paling mungkin dan berarti adalah bagaimana kita mewakilkan diri kita sendiri untuk memengaruhi setiap kebijakan yang akan dibuat mengenai kehidupan kita. Bagi sebagian orang, pilihan semacam ini disebut sebagai aksi langsung.</p>
<p>Untuk lebih menjelaskannya, aksi langsung bukanlah cara-cara melobi atau kembali memilih kandidat untuk partisipasi politik, sama sekali bukan. Aksi langsung adalah bagaimana kita membangun suatu cara di mana kita sendiri secara langsung berpartisipasi aktif dalam perencanaan hidup kita. Ini berarti kita memotong peranan para penengah. Aksi langsung adalah juga bagaimana kita menyelesaikan permasalahan tanpa harus kompromi atau mempercayai peranan para elit politik di DPR, kepanjangan tangan korporasi, atau siapa pun yang mengklaim memiliki kekuasaan di atas kita. Contoh konkrit aksi langsung ada di mana-mana. Ketika sekelompok orang mendistribusikan pangan secara cuma-cuma bagi tunawisma tanpa harus menunggu kucuran dana atau izin pemerintah, mereka telah melakukan aksi langsung. Ketika seseorang membuat dan mendistribusikan medianya sendiri tanpa harus tergantung pada media-media milik borjuis untuk memuatnya, dia telah melakukan aksi langsung. Ketika komunitas kampung membangun sekolah mandirinya sendiri dan menginisiatifkan pelajarnya untuk membuat kurikulum pelajaran menurut kebutuhan mereka masing-masing tanpa harus bersandar atau tergantung pada lembaga pendidikan resmi, itu adalah aksi langsung. Aksi langsung merupakan fondasi perjuangan masyarakat yang sebenarnya, ketika mereka ingin melakukan perubahan yang berarti. Artinya, aksi langsung adalah ketika kita tidak lagi menuntut atau mengemis agar perubahan dapat dilakukan oleh seseorang yang berada di luar dari kita dan komunitas kita—tapi bagaimana kita dan komunitas kita sendiri yang mengupayakan perubahan tersebut sekarang juga.</p>
<p>Dalam banyak hal, aksi langsung jelas lebih efektif dibandingkan pemilu. Pemilu itu seperti judi, bila salah satu kandidat tidak terpilih, maka energi yang telah diupayakan oleh komunitas-masyarakat untuk menggolkan kandidatnya akan terbuang sia-sia. Dengan aksi langsung, komunitas-masyarakat akan lebih yakin dengan kerjasama serta energi yang mereka keluarkan. Dan manfaat yang didapat dari aksi langsung akan membuat infrastruktur dalam masing-masing komunitas semakin kuat. Hubungan antar komunitas pun akan lebih hidup—serta manfaat-manfaat lainnya yang tidak akan sia-sia.</p>
<p>Pemilu memusatkan seluruh kekuatan masyarakat ke tangan segelintir politisi. Semua itu dilakukan dengan berbagai intrik, manipulasi politik, serta kongkalikong dengan para pengusaha. Mereka memaksa setiap masyarakat untuk tunduk dan tidak punya partisipasi apa-apa, selain apa yang mereka perintahkan lewat mobilisasi massa dan bayaran yang sangat kecil dibanding keuntungan yang mereka dapatkan. Dengan aksi langsung, engkau akan lebih mengenal kemampuan, inisiatif, serta sumber daya-sumber daya yang ada di sekitarmu, dan memahami sejauh mana kau bisa melakukan perubahan yang sebenarnya.</p>
<p>Pemilu juga memaksa semua orang agar menyepakati suatu landasan yang belum tentu cocok dengan kita. Berbagai bentuk koalisi akan dibangun untuk membuat kompromi—setiap faksi bersikukuh bahwa landasan merekalah yang paling benar dan faksi yang lainnya hanya menjadi perusak semenjak tidak dapat mengikuti landasan faksi tersebut. Namun dari kesemuanya, tak ada satu pun yang memperjuangkan kepentingan kita. Akan ada banyak energi yang terbuang sia-sia dalam rutinitas tuding-menuding ini. Dengan aksi langsung, kita tidak membutuhkan dagelan semacam itu: berbagai kelompok yang berbeda dapat menggunakan cara yang berbeda juga—semua itu dilakukan menurut apa yang mereka percayai dan mereka butuhkan. Berikutnya, yang lebih penting, mereka merasa nyaman melakukannya. Dengan demikian, kemungkinan untuk membangun kerjasama yang saling mengisi dapat terjadi. Masyarakat yang menggunakan aksi langsung yang berbeda-beda tidak perlu berdebat sengit, kecuali mereka memang sedang mencari konflik (mungkin karena ekses pengalaman pemilu bertahun-tahun yang membuat mereka sulit untuk menerima pendapat berbeda dari yang lain). Konflik yang terjadi di masa-masa pemilu seringkali menjadi pengalihan dari permasalahan-permasalahan yang nyata, sebagaimana ketika beberapa kelompok masyarakat terlibat dalam drama dan konflik dari partai politik tertentu. Dengan aksi langsung, permasalahan yang mendesak harus diangkat, dibahas, dan menuntut untuk diselesaikan.</p>
<p>Lagipula, Pemilu hanya dilakukan dalam kurun waktu lima tahun sekali. Aksi langsung dapat dilakukan kapan saja. Pemilu hanya mengangkat beberapa agenda politik yang dibuat oleh elit politik, sementara aksi langsung dapat dilakukan di setiap aspek kehidupanmu dan di mana saja engkau berada. Pemilu dan voting sering dilebih-lebihkan sebagai “kebebasan” yang sedang beraksi. Pemilu bukanlah kebebasan, karena kebebasan berarti secara aktif memikirkan dan memutuskan sesuatu dari awal—bukan sekedar kebebasan dalam memilih apa yang hanya disediakan oleh mereka, para elit politik yang tak pernah kita kenal. Tak ada yang dapat menggantikan aksi langsung. Dengan aksi langsung, engkau sendirilah yang membuat rencana, mencoba pilihan-pilihan dan resiko-resikonya. Dan batas dari semua itu hanyalah langit.</p>
<p>Catatan:<br />
<span> [1] Demokrasi representatif atau demokrasi perwakilan, adalah jenis demokrasi yang paling umum kita ketahui—dari yang dipraktekkan dalam kenegaraan, sampai pada komunitas kecil pada umumnya. Demokrasi model seperti ini sangat rentan terhadap pengkhianatan yang dilakukan oleh para wakil yang diklaim dipilih oleh banyak orang. Selain itu, kendali terhadap pilihan yang akan diambil sangat terpusat hanya pada para pemimpinnya, sehingga mayoritas orang, sebenarnya hanya dijadikan alat saja bagi para pemimpin tersebut. Tak heran jika kemudian demokrasi representatif melahirkan pengkhianatan-pengkhianata</span></p>
<div>n yang dilakukan oleh para pemimpinnya. Demokrasi representatif, secara mudahnya dapat diidentifikasi berbentuk piramida di mana keputusan yang dibuat berasal dari atas (minoritas) ke bawah (mayoritas).</p>
<p>[2] Pada kenyataannya, kepentingan mayoritas ini juga memiliki kontradiksi. Contohnya, saat Partai Golkar memenangkan pemilu dengan suara paling banyak, mayoritas dari para pemilihnya tetap saja berkubang dalam kemiskinan dan rasa frustasi—hanya para pemimpin dan elit-elit partai tersebut saja yang dapat menikmati hak-hak istimewanya. Siapa pun pemimpinnya, selama masyarakat tidak mempunyai kontrol langsung terhadap keputusan-keputusan yang dibuat, masyarakat hanya akan dijadikan sebagai sapi perahan oleh para pemimpin.</p>
<p>[3] Demokrasi partisipatoris atau demokrasi akar-rumput atau biasa juga disebut demokrasi konsensus, adalah kebalikan dari demokrasi representatif. Demokrasi model ini sangat menekankan pada partisipasi aktif dari anggota komunitas bukan hanya untuk menentukan pilihan saja, tapi juga dalam pembuatan pilihan-pilihan. Demokrasi partisipatoris jelas tidak dapat dipraktekkan dalam kenegaraan karena negara membutuhkan birokrasi yang bertingkat, yang memisahkan para wakil dengan para pemilihnya. Demokrasi partisipatoris adalah demokrasi dalam artian sesungguhnya, di mana masing-masing orang memiliki hak untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Jika demokrasi representatif menggunakan metode dari atas ke bawah (top-down), maka demokrasi partisipatoris lebih menekankan pengambilan keputusan dari bawah (bottom-up).</p>
<p>[4] Kelompok affinitas merupakan kelompok kecil berjumlah 5 sampai 20 orang yang bekerjasama secara otonom pada proyek-proyek aksi langsung ataupun proyek lain. Kelompok affinitas menantang pengambilan keputusan dari atas ke bawah, dan memberdayakan mereka yang terlibat untuk mengambil aksi langsung yang kreatif. Kelompok affinitas memampukan orang untuk melihat aksi mereka dengan kemerdekaan penuh dan kekuasaaan untuk pengambilan keputusan. Kelompok affinitas menggunakan prinsip-prinsip desentralis dan non-hierarki.</p>
<p>[5] Sedulur Sikep atau dikenal juga dengan sebutan Masyarakat Samin, adalah komunitas yang di awal kelahirannya memberontak untuk membayar pajak pada pemerintah kolonial Belanda. Metode perlawanan yang mereka lakukan adalah dengan melakukan pembangkangan sosial terhadap kepatuhan yang dipaksakan pada mereka. Komunitas ini menganggap setiap orang setara. Sampai sekarang komunitas ini masih eksis dan tersebar di beberapa wilayah seperti Blora, Pati, Pacitan, dll.</p>
<p>[6] Kemandirian dan keberdayaan yang kami maksud adalah kemandirian yang saling terhubung antar individu maupun antar komunitas—kemandirian yang tidak terpisah dengan hal-hal lainnya. Faktor-faktor ini perlu ditekankan karena sebenarnya setiap individu maupun komunitas punya keunikannya masing-masing. Bandingkan dengan individu maupun komunitas yang hanya bisa membebek pada komunitas-komunitas lainnya: semua hal akan menjadi seragam dan membosankan.</p>
<p>Di sisi lainnya, kemandirian yang dimaksud oleh para individualis sempit adalah kemandirian yang memutuskan relasi sosial dengan sesamanya. Mereka merasa dirinya sendiri jauh lebih baik dari orang lain. Kemandirian yang diklaim oleh para individualis sempit ini biasanya berujung pada tindakan kekerasan terhadap kelompok lain.</p>
<p>[7] Otonomi Daerah adalah sebuah parodi tak lucu akan kemandirian. Bagaimana mungkin sebuah daerah mampu otonom dalam konstelasi birokrasi yang terpusat, yang keputusannya tetap berada di tingkat paling atas? Otonomi daerah hanyalah sebuah restu yang diberikan pejabat-pejabat pusat di Jakarta agar para pejabat daerah bisa korupsi lebih banyak lagi, dan artinya, yang paling menderita lagi-lagi orang-orang seperti kita.</p>
<p>Kunjungi situs online kami:<br />
<span> www.katalis.tk | www.apokalips.org | www.affinitasonline.com | www.satubumi.co.nr | www.pustaka.otonomis.org | www.kontinum.tk | www.amorfatum.wordpress.co</span>m</div>
<div></div>
<div>Sumber tulisan http://timkatalis.blogspot.com/2009/02/organisasikan-komunitasmu-jangan.html</div>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Feodalisme &amp; Kapitalisme</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 08:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[feodalisme]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalis]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[diambil dari milis ubur-ubur, milis anti-otoritarian nusantara &#8212;&#8212; FEODALISME &#38; KAPITALISME : Tentang transformasi mode produksi dan suprastruktur di wilayah2 pasca kolonial Kenapa feodalisme tidak seluruhnya terkikis dari Indonesia (Jawa?)? Kayanya ini adalah gejala dari negara-negara pasca kolonial. Beralihnya dari mode produksi feodal dan suprastruktur monarki absolut menuju mode produksi kapitalis dan superstruktur negara bangsa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>diambil dari <a href="http://groups.yahoo.com/group/ubur-ubur/" target="_blank">milis ubur-ubur</a>, milis anti-otoritarian nusantara</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>FEODALISME &amp; KAPITALISME : Tentang transformasi mode produksi dan suprastruktur di wilayah2 pasca kolonial</strong></p>
<p>Kenapa feodalisme tidak seluruhnya terkikis dari Indonesia (Jawa?)? Kayanya ini adalah gejala dari negara-negara pasca kolonial. Beralihnya dari mode produksi feodal dan suprastruktur monarki absolut menuju mode produksi kapitalis dan superstruktur negara bangsa melewati tahapan kolonialisme, lebih spesifik lagi kolonialisme Belanda untuk konteks Indonesia.</p>
<p>Ada perbedaan yang bisa jadi cukup fundamental dalam peralihan dari feodalisme ke negara bangsa, diantara negara bangsa di wilayah Eropa dan negara bangsa di wilayah pasca kolonial. Di Eropa, peralihan tersebut hanya dapat terjadi ketika monarki absolut dihabisi; sedangkan di wilayah pasca kolonial, peralihan ini menyisakan puing-puing monarki karena yang dihabisi bukanlah monarki, tapi rezim kolonial.</p>
<p><span id="more-187"></span>Kenapa rezim kolonial yang menjadi sasaran utama? Kelihatannya pembentukan identitas (pribumi versus asing) adalah salah satu faktor yang signifikan dalam perjuangan pembebasan nasional di wilayah pasca kolonial. Jadinya perjuangan pembebasan nasional terlalu bersemangat dalam perang identitas (dalam memerangi yang asing), hingga perjuangan ini agak luput untuk mentarget monarki-monarki sebagai aktor-aktor penindas juga.</p>
<p>Sejauh aku memahaminya, nilai-nilai budaya feodal itu paling kental berada di wilayah Jawa, terutama DIY dan Solo (?). Pemosisian kekuaan-kekuatan feodal merupakan faktor penting yang menentukan kadar eksistensinya seiring dengan waktu. Monarki yang paling pro aktif dalam perjuangan pembebasan nasional adalah Mataram, karena sultannya ngerti situasi politik dan berpolitik. Ketika banyak kerajaan-kerajaan lain plin plan apakah ingin mendukung kemerdekaan Indonesia, Sultan Mataram tanpa ragu mendukung kemerdekaan tersebut – karena dia tau situasi politik internasional dan akan terjadinya kesuksesan bagi perjuangan2 pembebasan nasional. Dia memperoleh hasil yang gemilang – dia masih memegang previlase-previlase monarki secara signifikan hingga saat ini. Tentunya dia lihai sekali ketika membuat konsensus-konsensus selama periode perjuangan pembebasan nasional. Sementara monarki-monarki yang samasekali tidak cerdas, yang tidak tau situasi politik, masih loyal pada rezim kolonial dan akhirnya tinggal nama saja dalam sejarah.</p>
<p>Lebih jauh lagi, ada kekhususan dengan Belanda sebagai penjajah. Tidak seperti rezim-rezim kolonial lain seperti Inggris, yang menghabis-habiskan waktu mereka untuk menghancurkan budaya feodal, dalam artian ingin membawa peradaban modern, atau tuan-tuan Prtugis &amp; Spanyol yang sangat gemar berdakwah, kolonial Belanda adalah rezim yang sangat efisien dalam urusan ekonomi dan tidak peduli dengan pemeradaban. Mereka lebih tertarik untuk memanfaatkan struktur yang ada dan mengintegrasikannya ke dalam matriks efisiensi akumulasi modal. Kira-kira artinya, Belanda itu tidak peduli dengan struktur kekuasaan feodal sejauh bisa diintegrasikan ke dalam kepentingannya. Mungkin ini kenapa budaya feodal masih bercokol cukup mantap di relung-relung tertentu dalam masyarakat Indonesia, karena memang tidak dihabisi, baik oleh penduduk lokal maupun oleh rezim kolonial.</p>
<p>..bagaimana feodalisme bisa bergandengan dengan kapitalisme? Jelas bisa. Seperti bagaimana kolonial Belanda mengintegrasikan struktur feodal ke dalam kapitalisme agrikulturnya dan industri ekstraktifnya.</p>
<p>Aku jadi ada pertanyaan lain:</p>
<p>1. bagaimana dengan Inggris, Belanda, Finlandia dan beberapa negara maju lain yang masih mempertahankan monarkinya? Tapi jelas, ada perbedaan signifikan dengan apa yang terjadi di Indonesia; perbedaan-perbedaan tentang signifikansi previlase2 feodal dalam konteks sosial&amp;politik.</p>
<p>2. Apakah feodalisme masih bercokol di seluruh Indonesia? atau hanya di wilayah-wilayah spesifik, mis Yogyakarta dan Solo, pulau Jawa pada umumnya?</p>
<p>3. (Mungkin ada kaitannya dengan pertanyaan #2) Udah ada beberapa postingan, tapi kayanya belum jelas definisi feodalismenya. Apakah feodalisme hanya kita pakai untuk merujuk pada mode produksi dan struktur kekuasaan feodal? Atau termasuk juga budaya? Kayanya sih mencakup semuanya aja ya??</p>
<p>Tj</p>
<p>p.s.. buat si sipil romantis: Aku pikir sejarah Indonesia hanya dimulai ketika ada cakrawala, konsepsi dan artikulasi tentang Indonesia sebagai negara bangsa. Kalao menurut Simon Philpott (bukunya “Meruntuhkan Indonesia”), itu mungkin terjadi sekitar awal abad ke 19, ketika sistem tanam paksa diberlakukan. Periode sebelumnya dikatakan sebagai sejarah masyrakat Nusantara. Bagiku ini masuk akal. kita ga akan ngebayangin kerajaan-kerajaan di Nusantara terutama dalam sejarah prakolonial merasa menjadi Indonesia kan? Sementara sejarah konvensional (yang dibajak untuk kepentingan pelegitimasian negara bangsa) cenderung mengatakan keseluruhan catatan kronologis tentang masyarakat Nusantara (dan lebih banyak lagi tentang monarki2nya) sebagai sejarah Indonesia. Semacam pengklaiman dalam diskursus sejarah nasionsentris tersebut &#8211; semakin panjang sejarah suatu bangsa, semakin kuat legitimasinya. Kayanya cukup penting juga pembedaan itu, dalam rangka &#8220;ngebangun&#8221; sejarah yang tidak nasionsentris.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/12/12/feodalisme-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>*FREEPORT*</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Sep 2007 10:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969. &#8220;Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya&#8221; (oleh Adjat Sudradjat) Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.antigold.gr/images/Freeport.jpg" target="_blank"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2007/09/freeport.jpg" alt="freeport.jpg" /></a><a href="http://www.safecom.org.au/images/freeport1.jpg" target="_blank"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2007/09/freeport1.jpg" alt="freeport1.jpg" /></a></p>
<p>Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969.<br />
&#8220;Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya&#8221; (oleh Adjat Sudradjat)</p>
<p>Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska sebab mereka mesti melawan suhu sedingin 0-4 Celsius, kabut, dan hujan. Mereka mendirikan kemah di pelataran Cartensz Weide. Mereka diterbangkan ke situ dari Timika menggunakan helikopter selama 40 menit.</p>
<p>Sementara itu, tiga orang kepala suku berhiaskan bulu burung, kalung merjan, dan tusuk hidung merayap menuju Ertsberg tiga hari tiga malam bersama bala tentaranya tanpa selembar benangpun melekat di badannya, tak peduli hawa sedingin es pun. Akhirnya, mereka sampai di perkemahan para pembor tersebut. Suasana tidak menyenangkan terjadi sebab tidak ada saling pengertian di antara tim Freeport dan suku setempat, maklum tidak ada yang saling mengerti bahasa masing2. Orang2 Indonesia di tim Freeport pun tak mengerti bahasa mereka sebab sebagian besar datang dari luar Papua.<br />
<span id="more-166"></span><br />
Keesokan harinya, saat para pekerja bangun tidur, mereka menemukan perkemahan sudah dipagari tonggak seperti salib digantungi berbagai bunga dan daun. Di tengah kecemasan itu, untung terpikir untuk memberi suku-suku Papua itu makanan. Makanan diterima dan suku2 itu pulang. Keesokan harinya datang lagi, tetapi kali ini untuk membantu tim mengangkati batu-batu dari Ertsberg. Lalu mereka pulang.</p>
<p>Kedatangan yang berikutnya, suku2 ini membawa seorang anak bernama Karel didikan misionaris. Anak ini bisa berbahasa Indonesia walaupun patah-patah. Akhirnya, terungkaplah bahwa keinginan suku2 ini yaitu mereka minta ganti rugi atas gunung mereka yang telah digali. Tentu saja suku2 ini tidak tahu bahwa di Jakarta kontrak pertambangan antara Pemerintah Indonesia dan Freeport telah ditandatangani setahun sebelumnya, 1966.</p>
<p>Minta ganti rugi ? Dengan serentak, sang superintendent Freeport tanpa segan-segan memberikan berbilah-bilah parang sebagai ganti Ertsberg. Ternyata, belasan parang itu diterima dengan sangat sukacita oleh para anggota suku. Seorang kepala suku lalu menyerahkan sebilah pisau batu kepada si &#8220;pembeli gunung&#8221; sebagai hadiah tanda sukacita. Lalu, si kepala suku menari-nari di depan tim Freeport sambil mengeluarkan bunyi seperti ribuan burung. Tangannya mencabut bulu cenderawasih di kepalanya dan mengacungkannya ke depan. Upacara ini diikuti dengan khidmat oleh seluruh anggota suku. Ketika ditanyakan kepada Karel apa arti upacara itu, dijawabnya bahwa itu adalah upacara agar Sang Hyang merelakan gunungnya digali dan sekaligus memberikan berkat kepada para pembeli gunung itu. Tak lama kemudian para suku pulang.</p>
<p>Dan, kita tahu Ertsberg yang menjulang pun digali habis tidak sampai 20 tahun (Adjat Sudradjat, 1996).</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/09/16/freeport/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ILUSI CHÁVIZMO – PERJUANGAN KELAS DI VENEZUELA</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2006 07:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/</guid>
		<description><![CDATA[Ribuan orang menggelar aksi damai di Wina, ibukota Austria pada tanggal 14 Mei 2006 lalu. Dengan membawa bendera merah serta bendera nasional Venezuela dan Kuba, mereka berharap dapat melihat presiden Bolivia, Evo Morales dan presiden Venezuela, Hugo Chávez. Aksi ini merupakan sebuah bentuk dukungan bagi para pemimpin negara latin tersebut, yang juga berafiliasi ketat dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ribuan orang menggelar aksi damai di Wina, ibukota Austria pada tanggal 14  Mei 2006 lalu. Dengan membawa bendera merah serta bendera nasional Venezuela dan  Kuba, mereka berharap dapat melihat presiden Bolivia, Evo Morales dan presiden  Venezuela, Hugo Chávez. Aksi ini merupakan sebuah bentuk dukungan bagi para  pemimpin negara latin tersebut, yang juga berafiliasi ketat dengan pemimpin  Kuba, Fidel Castro. Alasan lain dari dukungan mereka, adalah karena baik  Bolivia, Venezuela dan Kuba kini telah bergabung dalam kesepakatan perdagangan  alternatif yang mereka ciptakan sendiri, yang menjanjikan versi sosialistik  daripada kerjasama perdagangan neoliberalisme yang dimotori oleh AS dan Uni  Eropa.</p>
<p>Tidak hanya di Austria, sebagian besar dari kita di Indonesia—khususnya para  militan Kiri—pasti berpikir bahwa rezim Chávez di Venezuela adalah sebuah  konfirmasi atas analisa Marxis terbaik di era kapitalisme yang sangat advance  sekarang ini. Terlebih lagi setelah kegagalan kudeta militer sayap kanan yang  disponsori CIA pada tahun 2002 lalu, yang seakan membuktikan bahwa seluruh  jajaran publik mendukung Chávez. Perusahaan-perusahaan multinasional memang  direbut oleh negara satu persatu, yang menandakan bahwa ini adalah sebuah  kemajuan terbaik masa kini. Tapi pada kenyataannya, rezim ini masih membutuhkan  kritik yang juga lebih advance semenjak ia masih kurang dalam mendorong publik  untuk mulai membentuk organisasi swakelolanya sendiri yang otonom. Pidato-pidato  Chávez mungkin memang sangat baik dalam membangun kesadaran di tingkatan publik,  tapi ini tak akan berarti apa-apa apabila publik sendiri tidak memiliki  organisasi otonom mereka sendiri. Kesadaran yang tidak menemui ekspresi  materialnya dalam bentuk yang lebih terorganisir tak akan berarti apa-apa.</p>
<p><span id="more-127"></span>Bahkan juga ada sebuah kabut menyelimuti jajaran pemerintahan itu sendiri  antara para kabinet menteri yang berhaluan Kiri maupun Kanan. Menteri Luar  Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Ekonomi, Menteri Hankam semua adalah  orang-orang dari pihak Kanan, termasuk juga menteri kesehatan. Menteri Tenaga  Kerja berdiri di tengah-tengah. Masih ada dua atau tiga menteri yang berhaluan  Kiri seperti Menteri Ekonomi dan Industri, tetapi mayoritas kabinet berpihak di  Kanan—bukan Kanan pro-neoliberal tapi Kanan nasionalis yang tetap berada di  Kanan. Chávez menyandarkan dirinya kadang ke Kiri dan kadang pada sektor militer  di Kanan. Hal ini menciptakan sebuah pemerintahan yang mirip dengan Bonapartisme  Marx, sebuah balance of power, penengah dan penyeimbang antara dua kekuatan yang  berbeda. Mengutip apa yang dikatakan oleh Roland Denis yang aktif dalam  Movimiento 13 de Abril Comuneros (Komune Gerakan 13 April), “Aku tidak tahu  pasti apakah Hugo Chávez akan mempertahankan politik Kiri-nya. Ini semua dapat  berubah. Aku telah melakukan diskusi dengan Eric Toussaint, dan kami menemukan  sebuah kesamaan perilaku antara Kuba dan Venezuela saat diadakan pertemuan WTO  di Hongkong. Venezuela mengambil posisi prinsipil yang beroposisi pada seluruh  agenda privatisasi layanan publik, kesehatan, pendidikan, dsb. Tapi pada  akhirnya Kuba dan Venezuela juga menandatangani persetujuan.” (International  Socialism no.101, Januari 2006).</p>
<p>Chávez memang berhasil dalam membangun wacana di kalangan publik, tapi  masalahnya ia juga masih terjebak dalam konteks logika nasionalisme yang  memposisikan negara sebagai sebuah bagian yang sakral dari prakteknya. Wacana  mereka memang mirip dengan wacana pembebasan, tapi tentu saja dengan demikian  praktek yang terjadi tidak akan sama dengan praktek pembebasan. Mereka berusaha  menginkorporasikan berbagai sektor gerakan popular ke dalam pemerintahan,  mengikatnya erat. Wacana ini juga yang seringkali menjadi ilusi dan jebakan dari  sebuah pembebasan: wacana program popular yang memfokuskan diri pada  nasionalisme, bukannya kelas.</p>
<p>Perjuangan kelas memang terjadi di Venezuela, tetapi revolusi belum berhasil  dimenangkan. Sebuah dunia baru mungkin memang terjadi di Venezuela, tapi itu  baru hanya sebuah kemungkinan yang perlu terus dijajaki.</p>
<p>Apa yang perlu juga dijajaki adalah tentang bagaimana nyaris seluruh gerakan  militan masa kini masih terilusi oleh ‘keberhasilan’ revolusi tipe Bolshevik.  Waktu telah berlalu sejak Lenin dan kegagalannya, yang dilanjutkan oleh  degradasi Leninisme yang diekspresikan oleh para militan Kiri yang saling  beraliansi dan bertempur antara sesamanya sendiri dari berbagai macam  variannya—Khrushchevo-Brezhnevis, Tan Malakais, Maois, Sukarnois, Castrois,  sub-Togliatis, Stalinis dan semi-Stalinis serta berbagai sisi Trotskisme, dsb.  Semua dari mereka menolak dan dipaksa menolak, wajah yang jelas dari  ‘sosialisme’ (dengan kata lain: kekuatan kelas) di Russia, China, Kuba dan  konsekwensinya, Venezuela. Kelemahan utama mereka dalam perjuangan dalam  perebutan kekuasaan negara adalah juga garansi utama untuk transformasi peran  menjadi kontra-revolusioner setiap saat dari mereka mendapatkan kekuasaan  absolut. Para militan Kiri tersebut akan menghadirkan dirinya sebagai sebuah  kelanjutan alamiah dari kemelut politik perjuangan kelas; tapi perjuangan kelas  yang nyata di Venezuela telah semakin dekat.</p>
<p>Pusat perjuangan, baik yang tercadar maupun yang terbuka, sedikit demi  sedikit mulai pecah antar para representatif kelas penguasa baru dan para  pekerja yang berjuang atas isu swakelola. Para Chávista menyadari penuh hal ini,  sehingga mereka berusaha merebut kembali akar rumput dengan menggunakan  bahasa-bahasa radikal, berorasi tentang “kekuatan popular”, “parlementer di  jalanan” (dimana para elit datang ke jalan-jalan dan mendengarkan berbagai  keluhan publik). Dalam hal ini kecenderungan tentang pemerintahan yang lebih  baik, lebih sehat, lebih mendorong partisipasi, memang ada. Tetapi secara  keseluruhan, yang dibutuhkan adalah inisiatif untuk sebuah gerakan pembebasan  yang nyata yang tak dapat diperlambat hanya dengan dikuasainya sebuah negara.  Para Chavista tersebut memang tidak berbohong, tapi itu semua tidak cukup bagi  kepentingan kelas pekerja.</p>
<p>Contoh kasus, pada akhir tahun 2005 dimana banyak pekerja tambang emas di  selatan Venezuela berada dalam pusaran konflik melawan multinasional, 14 pekerja  tambang telah terbunuh tapi hanya sedikit orang yang tahu tentang hal ini karena  tak ada media yang memberitakannya termasuk media pemerintah. Bulan November  2005 terjadi pembunuhan oleh sicarios (preman yang dipersenjatai) dan  paramiliter yang dibiayai serta dipersenjatai oleh multinasional sehingga  terjadi konfrontasi yang sengit. Seluruh pekerja tambang adalah pendukung  Chávez, terlihat dalam aksi mereka yang membawa foto Chávez saat mobilisasinya.  Tetapi masalahnya belum ada sedikitpun tindakan dari negara.</p>
<p>Maka pihak oposisi yang kini berada di Venezuela mulai terbentuk babak  keduanya. Di satu sisi, dilancarkan oleh para pendukung kebijakan neo-liberal  dan kaum kaya raya yang pro-kudeta militer sayap Kanan tahun 2002 yang berusaha  mengembalikan Venezuela pada bentuk lamanya. Di sisi lain, adalah para pekerja  yang mempertahankan diri mereka dalam bentuk organisasi-organisasi otonom,  melawan kaum neoliberal dan korporat sekaligus menentang kemandegan pemerintahan  Chávez; merekalah yang menjadi kontestan utamanya. Seperti Movimiento 13 de  Abril Comuneros—bukan sebuah partai politik—yang beranggotakan 1000-2000 orang  pekerja dan penganggur ataupun serikat pekerja yang menduduki pabrik kertas di  Invepal. Gerakan 13 April adalah organisasi pekerja dan penganggur yang  beraktifitas di tempat-tempat kerja dan lingkungan ketetanggaan, mendiskusikan  relasi kera dan pekerja, serta memiliki ide untuk membentuk sebuah gerakan  pekerja popular. Sekelompok intelektual juga membantu pembentukan formasi ini  tetapi organisasi ini tetap otonom. Sebagian proyek mereka adalah pendudukan  pabrik. Mereka beraliansi dengan Chávez tapi secara taktis, bukan strategis.  Mereka memang mempertahankan posisi Chávez dan menjadikannya simbol kekuatan,  tapi mereka tetap menyimpan banyak keraguan terhadap absolutisme kekuatan  presiden sebuah negara. Sementara, Invepal adalah pabrik kertas yang berjarak  100 mil dari Caracas, ibukota negara Venezuela. Para pekerja di sana telah  mengambil alih pabrik secara penuh sejak akhir tahun 2004 dan memaksa negara  untuk mendanai pengembangan hariannya. Profit yang ada dibagi antara 49% bagi  para pekerja pabriknya sendiri dan 51% diserahkan untuk negara. Tidak puas  dengan hal ini, para pekerja mendeklarasikan bahwa mereka menginginkan  kepemilikan atas pabrik 100%, dimana dari profit tersebut, para pekerja  sendirilah yang berhak menentukan kemana dana tersebut akan disalurkan untuk  memperkuat arus revolusioner.</p>
<p>Jalan satu-satunya menuju masyarakat bebas, di Venezuela atau dimanapun juga,  berjalan melewati “sebuah pakta ofensif dan defensif” sebagaimana seorang  intelektual Hungaria kemukakan saat insureksi melanda negara Eropa Timur  tersebut tahun 1956. Di negara tetangganya, Bolivia, Evo Morales memang  melancarkan isu nasionalisasi tambang minyak bertepatan dengan perayaan May Day  1 Mei 2006 lalu, tapi kebanyakan mengesampingkan fakta bahwa keputusan tersebut  dilakukan atas desakan organisasi-organisasi popular otonom yang merasa bahwa  pemerintah Morales semenjak kemenangan atas pemilu tak sekalipun mendorong pada  isu utama masyarakat Bolivia seperti pengambil alihan kontrol dari seluruh badan  multinasional. Publik di Bolivia telah mengerti penuh soal peran yang harus  mereka ambil. Begitu juga di Venezuela. Saat kondisi-kondisi revolusioner  praksis merebak, tak ada satu teoripun yang dirasa terlalu sulit. Villiers de  l’Isle-Adam, seorang saksi mata dari Komune Paris, mencatat, “Untuk pertama  kalinya seseorang akan mendengar para pekerja bertukar opini tentang berbagai  masalah yang selama ini hanya diperdebatkan oleh para filsuf.”</p>
<p>Realisasi filsafat, kritik dan rekonstruksi atas segala nilai, kebiasaan dan  perilaku yang didorong oleh kehidupan yang teralienasi—adalah program utama dari  swakelola umum. Para militan Kiri yang birokratis akan berkata bahwa tesis  seperti di atas memang benar, tapi itu semua belum tiba waktunya untuk berbicara  pada massa tentang segala-galanya. Tapi mereka yang melancarkan argumen tersebut  tidak memperhatikan bahwa waktu tersebut telah tiba, dan mereka malah beroposisi  menentang tibanya waktu tersebut, dengan alasan Leninis klasik, “Belum waktunya  bagi massa untuk mengetahui semuanya.” Adalah penting untuk memberitahukan pada  publik tentang apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Para intelektual  spesialisasi revolusi adalah para spesialis dari kesadaran palsu, yang pada  momen-momen revolusioner akan menyadari bahwa mereka telah membicarakan sesuatu  yang berbeda dengan yang mereka lakukan. Alienasi politik adalah juga tetap  alienasi. Dan swakelola tidak dapat berharap banyak dari cucu-cucu Bolshevik,  baik yang terang-terangan mengaku Leninis maupun kaum Kiri secara umum.</p>
<p>Swakelola harus menjadi bagian dari proses maupun akhir perjuangan kelas. Dan  di Venezuela, seperti juga di Bolivia, ia adalah satu-satunya kekuatan radikal  modern yang paling advance. Basis-basis produksi swakelola akan secara spontan  terbentuk begitu momen revolusioner hadir—seperti juga di Spanyol tahun 1936,  Paris tahun 1871, Russia 1917 atau juga di pabrik-pabrik yang ditinggalkan di  Argentina 2001 lalu—saat para pemiliknya melarikan diri mengikuti kekalahan  politisnya. Pendudukan tersebut adalah sebuah liburan dari kepemilikan dan  penindasan, sebuah rehat temporer dari kehidupan yang teralienasi.</p>
<p>Kini memang telah terbentuk organisasi-organisasi otonom seperti CTU  (Committee of Urban Lands), Komite Kesehatan, Lingkar Bolivarian di berbagai  distrik Caracas, kolektif-kolektif ketetanggaan, Popular Revolutionary Assembly  of Coche, kelompok-kelompok afinitas penyiar dari ANMCLA dan Radio Ali Primera,  Antiescualidos.com, anggota-anggota Catio TV, UTOPIA, Tupamaros de El Valle,  M13-PNA, Movimiento 13 de Abril Comuneros, AIPO, para militan MOBARE, MDD,  barisan muda MEP, Asosiasi Pengacara Bolivarian, Revolutionary Marxist Current,  di antara lainnya. Tapi itu semua masih jauh dari cukup. Mereka harus juga  belajar untuk membangun jaringan dengan mendelegasikan setiap organisasi otonom  swakelola yang bergerak di berbagai sektor, mempublikasikan seluruh informasi  perjuangan pekerja dan bentuk otonom organisasi yang membentuk mereka, dengan  tujuan mempopularkannya.</p>
<p>Mempopularkan swakelola sehingga “menguasai seluruh alat produksi dan segala  aspek kehidupan sosial” sebagaimana yang ditunjukkan oleh Marx, maka hal  tersebut tidak hanya akhir dari pengangguran yang meliputi sebagian besar kaum  muda Venezuela, tapi juga akhir seluruh aspek kehidupan orde dunia lama,  penindasan spiritual maupun material dan bahkan juga merupakan pengabolisian  sistem relasi tuan-hamba. Swakelola harus menjadi satu-satunya solusi bagi  misteri kekuatan Venezuela, dan mereka juga harus tahu bahwa itulah satu-satunya  solusi yang tersisa.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mustahilnya Tuhan</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Nov 2006 09:25:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut ini diambil dari majalah Free Inquiry, Vol. 18, No. 3. BANYAK dari yang dilakukan orang, dilakukan atas nama Tuhan. Orang Irlandia marah kepada satu sama lain atas nama Tuhan. Orang Arab mengutuki dirinya sendiri atas nama Tuhan. Para imam dan ayatollah menindas perempuan atas nama Tuhan. Para paus dan pendeta yang hidup membujang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Artikel berikut ini diambil dari majalah <em>Free Inquiry</em>, Vol. 18, No. 3.</strong></p>
<p>BANYAK dari yang dilakukan orang, dilakukan atas nama Tuhan. Orang Irlandia marah kepada satu sama lain atas nama Tuhan. Orang Arab mengutuki dirinya sendiri atas nama Tuhan. Para imam dan ayatollah menindas perempuan atas nama Tuhan. Para paus dan pendeta yang hidup membujang mengacaukan kehidupan seks orang lain atas nama Tuhan. Para shohet Yahudi memotong tenggorokan binatang-binatang hidup atas nama Tuhan. Prestasi agama dalam sejarah masa lalu—perang-perang berdarah, inkuisisi yang penuh penyiksaan, para penakluk yang melakukan pembunuhan massal, para misionaris yang menghancurkan kebudayaan, perlawanan hingga detik terakhir yang diperkuat secara hukum terhadap setiap keping baru kebenaran ilmiah—bahkan lebih mengesankan. Dan apa manfaat dari itu semua? Saya yakin bahwa kini menjadi semakin jelas, jawabannya: tidak ada samasekali. Tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa semacam apapun dari Tuhan itu eksis, dan justru ada alasan yang sangat kuat untuk meyakini bahwa Tuhan-Tuhan itu tidak eksis, dan tak pernah eksis. Segala macam kepercayaan tentang Tuhan itu merupakan penyia-nyiaan waktu yang sangat besar, bahkan penyia-nyiaan hidup. Kepercayaan itu hanya akan menjadi lelucon dengan proporsi kosmis, kalau bukan malah sangat tragis.</p>
<p><span id="more-117"></span>Mengapa orang percaya Tuhan? Bagi kebanyakan orang, jawabannya tetap adalah suatu versi kuno dari Argumen berdasarkan Bentuk-Rancang. Kita melihat di sekitar kita adanya keindahan dan seluk-beluk dunia — adanya sayap burung layang-layang yang aerodinamis, adanya keindahan bunga-bunga dan kupu-kupu yang menyuburkannya, lewat sebuah mikroskop kita melihat begitu padatnya kehidupan dalam setiap tetes air kolam, lewat sebuah teleskop kita melihat pucuk sebuah pohon redwood raksasa. Kita berefleksi pada kompleksitas elektronik dan kesempurnaan optik dari mata kita sendiri yang melakukan aktivitas melihat. Jika kita punya imajinasi apapun, maka hal-hal ini mendorong kita pada suatu perasaan terpesona dan keta’ziman. Terlebih lagi, kita tidak bisa mengelak dari fakta adanya kemiripan yang nyata pada organ-organ hidup, hingga kita harus mengakui adanya bentuk-rancang yang direncanakan dengan sangat cermat oleh perekayasa manusia. Argumen ini paling masyhur diungkapkan dalam analogi tentang pembuat arloji oleh pendeta abad ke delapanbelas, William Paley. Kendati anda tidak tahu apa itu arloji, namun sifat dari gigi-gigi roda dan pegas-pegasnya yang jelas dirancang—dan cara bagaimana elemen-elemen itu ditautkan—untuk satu tujuan tertentu akan memaksa anda untuk menyimpulkan bahwa “arloji itu pasti ada pembuatnya: bahwa pastilah pernah ada pada suatu waktu, dan di tempat tertentu ataupun kondisi lainnya, satu pencipta dari segala pencipta, yang membentuknya untuk tujuan tertentu, hal mana kita benar-benar mendapatkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan siapa yang mengerti konstruksinya dan merancang kegunaannya.” Jika ini benar berlaku untuk sebuah arloji yang sederhana, bukankah ia makin benar berlaku untuk mata, telinga, ginjal, sendi siku, otak? Struktur-struktur yang indah, rumit, sangat berlika-liku, dan jelas-jelas dibuat untuk tujuan tertentu ini pastilah memiliki perancangnya sendiri, pembuat arlojinya sendiri — Tuhan.</p>
<p>Begitulah argumen Paley; dan ini adalah sebuah argumen yang mana hampir semua orang yang berpikir dan sensitif menemuinya pada suatu saat tertentu dari masa kanak-kanak mereka. Di sepanjang sebagian besar sejarah, argumen Paley ini pastilah dianggap sangat meyakinkan, dianggap oleh diri sendiri sebagai terbukti benar. Namun demikian, sebagai hasil dari salah satu revolusi intelektual yang paling menakjubkan dalam sejarah, kini kita tahu bahwa hal itu salah, atau setidaknya berlebihan. Kini kita mengetahui bahwa tatanan dan tujuan nyata dari dunia hidup telah muncul melalui sebuah proses yang samasekali berbeda, sebuah proses yang berlangsung tanpa perlu adanya perancang macam apapun, dan sebuah proses yang merupakan konsekuensi dari hukum-hukum fisika yang pada dasarnya sangatlah sederhana. Ini adalah proses evolusi dengan seleksi alam yang telah diungkap oleh Charles Darwin, dan secara terpisah juga oleh Alfred Russel Wallace.</p>
<p>Apa yang sama dimiliki oleh semua benda yang nampak seolah pasti memiliki satu perancang itu? Jawabannya adalah kemustahilan statistik. Jika kita mendapati sebuah batu koral transparan yang digerus oleh air laut hingga menjadi sebentuk lensa kasar, kita tidak akan menyimpulkan bahwa ia pasti telah dirancang oleh seorang ahli optik: hukum-hukum fisika yang tak mendapat intervensi apapun mampu mencapai hasil sedemikian itu; bukanlah terlalu mustahil untuk mendapatinya telah “begitu saja terjadi”. Tetapi, kalau kita menemukan sebuah lensa gabungan yang terperinci, yang telah teratur sangat teliti untuk mencegah terjadinya penyimpangan bentuk lingkaran dan kromatis, telah dilapisi untuk mencegah kesilauan, dan ada tulisan “Carl Zeiss” yang dibubuhkan di tepi lingkarannya, maka kita tahu bahwa benda itu tak mungkin begitu saja terwujud secara kebetulan. Jika anda mengambil semua atom dari sebuah lensa gabungan seperti itu, di bawah pengaruh gaya aksi-reaksi hukum-hukum fisika alam yang biasa, maka secara teoritis adalah mungkin bahwa, dengan keberuntungan belaka, atom-atom tersebut akan begitu saja tiba dalam pola lensa gabungan tipe Zeiss, bahkan bisa saja atom-atom tersebut membentuk lingkaran sedemikian rupa sehingga nama Carl Zeiss pun tertorehkan. Akan tetapi, jumlah cara-cara lain yang dengan itu atom-atom tersebut bisa—dengan peluang yang setara—tersusun adalah begitu banyak, sangat luas, tak terhitung banyaknya hingga kita bisa samasekali mengabaikan hipotesis peluang. Peluang adalah di luar pembahasan sebagai sebuah penjelasan.</p>
<p>Ngomong-ngomong, ini bukanlah argumen yang tak berujung-pangkal. Ini barangkali nampak tak berujung-pangkal karena, bisa dikatakan, susunan partikular apapun dari atom-atom adalah—jika ditinjau ke belakang—sangat mustahil. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ketika sebuah bola mendarat di atas sehelai rumput tertentu di lapangan golf, maka adalah bodoh bila kita menyatakan: “Dari jutaan helai rumput di atas mana bola itu bisa jatuh, sebenarnya bola itu memang akan jatuh ke atas rumput yang satu ini. Luarbiasa mustahil!” Sesat-fikir-nya di sini, tentu saja ialah, bahwa bola itu (dikatakan) harus mendarat di suatu tempat. Kita hanya bisa takjub pada kejadian yang seharusnya mustahil terjadi, jika kita terlebih dahulu telah mengkhususkannya: sebagai contoh, jika seseorang yang matanya ditutup rapat berjalan memutari tee , kemudian memukul bola itu secara sembarang dan mampu mencapai hole in one , itu baru benar-benar menakjubkan, karena sasaran yang dituju bola telah dikhususkan sebelumnya.</p>
<p>Dari trilyunan cara berbeda untuk menyusun atom-atom dari sebuah teleskop, hanya suatu minoritas yang benar-benar akan berfungsi dalam suatu cara yang berguna. Hanya suatu minoritas kecil yang akan mengukir kata Carl Zeiss di atas lensanya, atau kata-kata apapun yang bisa dikenali dari bahasa manusia manapun. Hal yang sama juga berlaku untuk bagian-bagian dari sebuah arloji: dari milyaran cara yang mungkin untuk menyusun elemen-elemen itu menjadi satu, hanya suatu minoritas kecil yang akan menunjukkan waktu atau melakukan apapun yang berguna. Dan tentu saja hal yang sama berlaku, secara a fortiori, untuk bagian-bagian sebuah badan yang hidup. Dari trilyunan cara untuk menyusun bagian-bagian dari sebuah badan, hanya minoritas sangat kecil yang akan hidup, mencari makanan dan ber-reproduksi. Benar bahwa memang ada banyak cara berbeda untuk hidup—setidaknya ada sepuluh juta cara berbeda bila kita menghitung jumlah spesies tersendiri yang hidup sekarang ini—tetapi, betapapun banyaknya cara yang mungkin untuk hidup, yang pasti ialah bahwa ada jauh lebih banyak cara untuk mati!</p>
<p>Kita bisa dengan aman menyimpulkan bahwa benda-benda hidup adalah milyaran kali terlalu rumit—secara statistik terlalu mustahil—untuk muncul ke keberadaan secara kebetulan belaka. Lantas, bagaimana benda-benda hidup itu muncul ke keberadaan? Jawabannya ialah, bahwa peluang memang masuk ke dalam cerita, tetapi bukan satu babak peluang yang tunggal, monolitik. Bukan itu, melainkan keseluruhan rangkaian langkah peluang yang kecil, masing-masingnya cukup kecil untuk menjadi produk yang bisa dipercaya dari pendahulunya, yang terjadi satu per satu secara berurutan. Langkah-langkah peluang yang kecil ini disebabkan oleh mutasi-mutasi genetik, perubahan-perubahan acak—sungguh merupakan kesalahan-kesalahan—dalam materi genetik. Hal-hal tersebut memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam struktur jasmaniah yang kini ada. Sebagian besar dari perubahan-perubahan ini bersifat merugikan dan menggiring pada kematian. Suatu minoritas di antaranya berubah hingga mengalami penyempurnaan-penyempurnaan kecil, yang menggiring pada daya tahan hidup serta reproduksi yang meningkat. Dengan proses seleksi alam ini, perubahan-perubahan acak yang jadi menguntungkan itu pada akhirnya menyebar lewat spesies dan menjadi norma. Tahapan pun kemudian tersetel untuk perubahan kecil berikutnya dalam proses evolusioner. Setelah, katakanlah, seribuan dari perubahan-perubahan kecil dalam rangkaian ini, yang mana masing-masing perubahan menyediakan basis bagi perubahan berikutnya, maka hasil akhirnya telah jadi—lewat sebuah proses akumulasi—terlalu kompleks untuk bisa muncul dalam sebuah babak peluang yang tunggal.</p>
<p>Sebagai contoh, secara teoritis adalah mungkin bagi sebuah mata untuk muncul ke keberadaan—dalam satu langkah tunggal yang beruntung—dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa: katakanlah hanya dari kulit saja. Ini secara teoritis mungkin dalam arti bahwa, sebuah formula bisa saja dituliskan dalam bentuk sejumlah besar mutasi. Apabila semua mutasi ini terjadi secara serentak, maka sungguh sebuah mata yang sempurna bisa muncul dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa. Tetapi, meski secara teoritis mungkin, namun hal ini dalam prakteknya tak terbayangkan. Kuantitas faktor keberuntungan yang terlibat terlalu besar. Formula yang “tepat” melibatkan perubahan-perubahan dalam sejumlah sangat besar gen-gen secara serentak. Formula yang tepat adalah satu kombinasi tertentu perubahan-perubahan dari trilyunan kombinasi peluang yang setara kemungkinannya. Kita tentu saja bisa tidak mengakui kebetulan yang ajaib seperti itu. Akan tetapi, sangat masuk akal bahwa mata moderen bisajadi terwujud dari sesuatu yang hampir sama dengan mata moderen, namun tidak persis sama: sebuah mata yang sedikit sekali kurang-terperincinya [dibandingkan mata moderen]. Dengan argumen yang sama, mata yang sedikit sekali kurang-terperincinya ini juga terwujud dari sebuah mata sebelumnya yang sedikit sekali kurang-terperincinya, dan begitu seterusnya. Jika anda mengasumsikan suatu jumlah yang cukup besar dari perbedaan-perbedaan yang cukup kecil di antara masing-masing tahap evolusioner dan pendahulunya, maka anda—mau tidak mau—harus mengakui bahwa sebuah mata moderen yang sempurna bisa berasal dari kulit melulu. Ada berapa banyak tahap-antara yang bisa kita dalilkan? Itu tergantung pada berapa panjang rentang waktu yang harus kita bahas. Apakah ada cukup banyak waktu bagi mata untuk berevolusi dengan langkah-langkah kecil dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa?</p>
<p>Fosil-fosil menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan telah dan sedang berevolusi di bumi ini selama lebih dari 3.000 juta tahun. Nyaris mustahil bagi pikiran manusia untuk menjangkau panjangnya rentang waktu seperti itu. Kita, secara alami dan untungnya memang seperti ini, cenderung melihat masa hidup kita yang kita harapkan sendiri sebagai suatu masa yang cukup panjang, tetapi kita jelas tidak bisa berharap untuk hidup sampai satu abad. Kini telah 2.000 tahun berlalu sejak masa Yesus hidup — suatu rentang waktu yang cukup panjang untuk mengaburkan garis pemisah antara sejarah dan mitos. Bisakah anda membayangkan satu juta periode waktu seperti itu sejak pangkal hingga ujungnya? Misalkan kita ingin menulis keseluruhan sejarah di atas sebuah gulungan kertas tunggal yang panjang. Jika kita menjejalkan seluruh sejarah Common Era dalam gulungan kertas sepanjang satu meter, berapa panjang bagian pra-Common Era di gulungan itu? Lalu masa permulaan evolusi, berapa panjang? Jawabannya ialah, bahwa bagian pra-Common Era di gulungan itu akan membentang dari Milan ke Moskow. Pikirkanlah implikasi-implikasi dari hal ini terhadap kuantitas perubahan evolusioner yang bisa diakomodir. Semua keturunan domestik anjing—peking, pudel, spaniel, Saint Bernard dan chihuahua—berasal dari srigala dalam suatu rentang waktu yang diukur dalam ratusan atau paling banter ribuan tahun: tak lebih dari dua meter sepanjang jalan dari Milan ke Moskow. Pikirkanlah kuantitas perubahan yang terlibat dalam proses beranjak dari seekor srigala menjadi seekor anjing peking; kemudian kalikan kuantitas itu dengan satu juta. Kalau anda memandangnya seperti itu, maka mudahlah untuk mempercayai bahwa sebuah mata bisajadi telah berevolusi dari tidak ada mata, dengan tingkat-tingkat yang kecil.</p>
<p>Tetaplah saja perlu kiranya memuaskan rasa ingin tahu kita bahwa setiap orang di masa-masa antara dalam jalur evolusioner, katakanlah dari hanya kulit menjadi sebuah mata moderen, telah diuntungkan oleh seleksi alam; bisajadi berupa suatu penyempurnaan dari pendahulunya dalam deretan itu, atau, setidaknya, bentuk yang mampu bertahan. Tidaklah baik kiranya berupaya membuktikan kepada diri kita bahwa, secara teoritis ada sebuah mata rantai dari masa-masa antara yang nyaris jelas, yang menggiring pada sebuah mata, jika banyak dari masa-masa antara itu bisa saja telah mati. Kadang-kadang ada yang berargumen bahwa bagian-bagian dari sebuah mata harus ada lengkap semuanya, atau, jika tidak, maka mata itu samasekali tidak bisa berfungsi. Sebelah mata, lanjut argumen itu, tidaklah lebih baik daripada tidak ada mata samasekali. Anda tidak bisa terbang hanya dengan sebelah sayap; anda tidak bisa mendengar hanya dengan sebelah telinga. Karenanya, tak mungkin ada serangkaian masa-antara setahap demi setahap yang menggiring pada terwujudnya sebuah mata, sayap ataupun telinga moderen.</p>
<p>Tipe argumen seperti ini begitu naifnya, hingga orang hanya bisa penasaran dalam dorongan bawah-sadar untuk mempercayainya. Jelas tidaklah benar bahwa sebelah mata itu tidak berguna. Para penderita katarak, yang lensa-lensa matanya telah diangkat lewat operasi, tidak bisa melihat dengan baik tanpa kacamata, tapi nasib mereka jauh lebih baik ketimbang orang yang tidak punya mata samasekali. Tanpa sebuah lensa, anda tidak bisa memfokuskan penglihatan pada suatu sosok yang detil, namun anda bisa menghindar untuk tidak menabrak rintangan-rintangan dan bisa mendeteksi bayangan sesosok predator yang sedang melintas.</p>
<p>Adapun argumen bahwa anda tidak bisa terbang dengan hanya sebelah sayap, ini disangkal oleh sejumlah besar hewan peluncur yang sangat sukses, termasuk mamalia dari banyak jenis berbeda, kadal, katak, ular dan cumi-cumi. Banyak jenis berbeda dari hewan penghuni pohon memiliki kepak kulit di antara sendi-sendinya yang betul-betul merupakan sayap fraksional. Jika anda terjatuh dari sebuah pohon, maka kepak kulit atau bagian datar dari tubuh yang meningkatkan luas daerah permukaan anda bisa menyelamatkan nyawa anda. Dan, betapapun kecil atau besarnya kepak anda, pasti akan selalu ada ketinggian kritis sedemikian rupa hingga jika anda terjatuh dari sebuah pohon dengan ketinggian seperti itu, maka nyawa anda akan terselamatkan hanya dengan daerah permukaan yang sedikit lebih luas. Lalu, ketika anak-keturunan anda telah meng-evolusi-kan daerah permukaan tambahan itu, maka nyawa mereka akan terselamatkan hanya oleh sedikit perluasan daerah permukaan lagi apabila mereka terjatuh dari pohon yang agak lebih tinggi. Dan begitu seterusnya, lewat langkah-langkah bertahap yang tak terbayangkan sampai ratusan generasi berikutnya, kita sampai pada sayap yang lengkap (sempurna).</p>
<p>Mata dan sayap tidak bisa muncul ke keberadaan dengan sebuah langkah tunggal. Itu akan sama saja dengan tak terhingganya keberuntungan untuk bisa memutar kombinasi angka yang membuka sebuah lemari besi besar di bank. Tetapi jika anda memutar angka-angka kunci secara acak, dan setiap kali anda tiba sedikit lebih mendekati angka keberuntungan itu, celah pintu pun terbuka sedikit demi sedikit, maka anda akan segera mendapati pintu lemari besi itu terbuka! Secara esensial, itulah rahasia bagaimana evolusi oleh seleksi alam bisa mencapai apa yang dahulu nampak mustahil. Hal-hal yang secara masuk akal tidak mungkin berasal dari para pendahulu yang sangat berbeda, bisa secara masuk akal berasal dari pendahulu-pendahulu yang hanya sedikit berbeda. Jika saja ada serangkaian cukup panjang pendahulu-pendahulu yang hanya sedikit berbeda seperti itu, maka anda bisa menelusuri asal apapun dari apapun lainnya.</p>
<p>Lantas, evolusi secara teoritis mampu melakukan pekerjaan yang, pada suatu ketika dahulu, nampaknya hanya merupakan kewenangan mutlak Tuhan. Akan tetapi, apakah ada bukti bahwa evolusi benar-benar telah terjadi? Jawabannya adalah ya; buktinya sangat berlimpah. Jutaan fosil ditemukan di tempat-tempat serta kedalaman-kedalaman persis seperti yang kita perkirakan apabila evolusi benar telah terjadi. Tak ada satupun fosil pernah ditemukan di tempat yang mana teori evolusi tidak memperkirakannya, meski hal ini bisa saja dengan sangat mudah terjadi: sebuah fosil mamalia di bebatuan karang yang begitu tuanya sampai-sampai ikan pun belum tiba, misalnya, sudah cukup untuk menggugurkan teori evolusi.</p>
<p>Pola-pola persebaran hewan dan tumbuhan hidup di benua-benua dan kepulauan-kepulauan dunia adalah tepat seperti yang diperkirakan apabila mereka berevolusi dari nenek moyang yang sama dengan tingkat-tingkat yang lambat dan perlahan. Pola-pola kemiripan di kalangan hewan dan tumbuhan adalah tepat seperti yang kita perkirakan apabila beberapa diantaranya merupakan kerabat dekat, dan beberapa lainnya merupakan kerabat jauh satu sama lain. Fakta bahwa kode genetik adalah sama pada semua mahluk hidup, sungguh menunjukkan bahwa semuanya diturunkan dari satu nenek moyang tunggal. Bukti untuk evolusi begitu kuat, sehingga satu-satunya cara untuk menyelamatkan teori penciptaan adalah dengan mengasumsikan bahwa Tuhan telah dengan sengaja menanamkan sejumlah besar bukti untuk membuatnya nampak seolah-olah evolusi telah terjadi. Dengan kata lain, fosil-fosil, persebaran geografis hewan, dan sebagainya, semua itu adalah satu trik keyakinan yang maha besar. Apakah orang mau menyembah suatu Tuhan yang mampu memainkan trik seperti itu? Tentu saja jauh lebih terhormat, juga secara ilmiah jauh lebih masuk akal, bila kita menerima segala bukti yang ada. Semua mahluk hidup adalah kerabat dari satu sama lain, dan diturunkan dari satu nenek moyang jauh yang hidup lebih dari 3.000 juta tahun yang lalu.</p>
<p>Dengan demikian, Argumen berdasarkan Bentuk-Rancang pun gugur sebagai sebuah alasan untuk mempercayai adanya suatu Tuhan. Adakah argumen lainnya? Beberapa orang percaya akan Tuhan dikarenakan apa yang nampak bagi mereka sebagai pewahyuan yang bersifat pribadi. Wahyu-wahyu seperti itu tidak selalu mendatangkan manfaat, tapi tak ragu lagi terasa nyata bagi individu yang meyakininya. Banyak penghuni rumah sakit jiwa yang memiliki keyakinan pribadi yang tak tergoyahkan bahwa dirinya adalah Napoleon, atau bahkan Tuhan itu sendiri. Tak ragu lagi bahwa keyakinan seperti itu punya kekuatan sangat dahsyat bagi mereka yang memilikinya, namun ini bukanlah alasan bagi orang-orang lain di antara kita untuk mempercayainya. Sesungguhnya, karena kepercayaan-kepercayaan seperti itu bertentangan satu sama lain, maka kita tidak bisa mempercayainya sama sekali.</p>
<p>Ada sedikit lagi yang perlu disampaikan disini. Evolusi melalui seleksi alam menjelaskan banyak hal, namun evolusi ini tidak bisa mulai terjadi dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa. Evolusi tidak bisa mulai sampai ada semacam reproduksi dan hereditas elementer. Hereditas moderen didasarkan atas kode DNA, yang ini sendiri terlalu rumit untuk muncul secara spontan ke keberadaan lewat sebuah aktivitas tunggal yang bersifat kebetulan. Nampaknya ini berarti bahwa pasti telah ada suatu sistem hereditas terdahulu—kini telah sirna—yang pada waktu itu cukup sederhana untuk muncul secara kebetulan, dan hukum-hukum kimia yang menyediakan medium di mana suatu bentuk primitif seleksi alam kumulatif bisa mulai berlangsung. DNA adalah produk berikutnya dari seleksi kumulatif yang terdahulu ini. Sebelum sebentuk seleksi alam awal ini, ada suatu periode ketika campuran-campuran kimiawi yang kompleks tersusun dari campuran-campuran yang lebih sederhana, dan sebelum itu ada suatu periode ketika unsur-unsur kimiawi tersusun dari unsur-unsur yang lebih sederhana, mengikuti hukum-hukum fisika yang secara umum sudah sangat dipahami. Sebelum itu, pada akhirnya segala sesuatu tersusun dari hidrogen murni sebagai akibat segera dari dentuman besar, yang telah memulakan alam semesta.</p>
<p>Ada godaan untuk berargumen bahwa, meski Tuhan mungkin tidak diperlukan untuk menjelaskan evolusi tatanan kompleks yang mana alam semesta—dengan hukum-hukum fisikanya yang fundamental—suatu ketika dulu telah mulai, namun kita memerlukan suatu Tuhan untuk menjelaskan asal-usul segala sesuatu. Ide ini tidaklah menghasilkan Tuhan dengan banyak hal yang dilakukan-Nya: hanya menyetel dentuman besar, kemudian duduk santai menunggu segalanya terjadi. Ahli kimia fisikal, Peter Atkins, dalam bukunya yang ditulis dengan indah, Penciptaan, mendalilkan adanya suatu Tuhan pemalas yang berupaya keras untuk melakukan sesedikit mungkin kerja agar bisa memulakan segala sesuatu. Atkins menjelaskan bagaimana setiap langkah dalam sejarah alam semesta merupakan lanjutan—dengan hukum fisika yang sederhana—dari langkah pendahulunya. Maka, Atkins pun mengupas jumlah kerja yang akan perlu dilakukan si pencipta yang malas ini, dan akhirnya menyimpulkan bahwa si pencipta ini pada kenyataannya tidak perlu melakukan apa-apa samasekali!</p>
<p>Detil-detil fase awal alam semesta merupakan bagian dari dunia ilmu fisika, sedangkan saya adalah seorang ahli biologi, lebih memusatkan perhatian pada fase-fase berikutnya dari evolusi kompleksitas. Bagi saya, poin pentingnya ialah bahwa, kendatipun ahli fisika perlu mendalilkan suatu titik minimum yang tak bisa dibagi lagi, yang harus hadir pada permulaan agar alam semesta bisa mulai, namun titik minimum itu tentu saja sangat sederhana. Secara pengertian dasar (definisi), penjelasan yang dibangun berdasarkan dalil-dalil yang sederhana adalah lebih masuk akal serta lebih memuaskan ketimbang penjelasan yang harus mendalilkan permulaan-permulaan yang kompleks dan secara statistik tidak mungkin. Dan anda tidak bisa mendapatkan yang jauh lebih kompleks selain suatu Tuhan Yang Maha Kuasa!</p>
<p>Richard Dawkins adalah seorang profesor di Universitas Oxford untuk kajian Pemahaman Publik tentang Sains. Dia adalah penulis buku Si Buta Pembuat Arloji (sebagian dari artikel ini didasarkan atas isi buku tersebut) dan Mendaki Puncak yang Mustahil. Dia adalah editor senior pada jurnal Free Inquiry.</p>
<p>Karya-karya Dawkins antara lain adalah “The Blind Watchmaker” dan “The Selfish Gene” (yang merupakan bestseller internasional yang diterbitkan dalam 13 bahasa). Dalam bidang evolusioner biologi, Dawkins merupakan ilmuwan yang diakui telah memberikan sumbangan besar dalam biologi sosial- pada telaah-telaah yang berkaitan dengan teori genetis mengenai seleksi alam (natural selection). Dawkins juga dikenal sebagai “tokoh” yang memberikan sumbangan signifikan dalam wacana sains/agama – dalam tulisan-tulisan populernya, acara-acara televisi dan debat-debat. Selain itu, Dawkins merupakan salah satu kontributor tetap pada Free Inquiry, buletin yang diterbitkan oleh Secular Humanism (www.secularhumanism.org/), sebuah organisasi yang memperjuangkan sekularisme.</p>
<p><a href="mailto:Webmaster@SecularHumanism.org">Webmaster@SecularHumanism.org</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=u" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak untuk memiliki tempat tinggal!!!</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/hak-untuk-memiliki-tempat-tinggal/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/hak-untuk-memiliki-tempat-tinggal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Oct 2006 07:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/hak-untuk-memiliki-tempat-tinggal/</guid>
		<description><![CDATA[Pembangunan, Ketertiban, Keteraturan seringkali dijadikan pembenaran dalam berbagai kasus penggusuran yang marak terjadi selama ini. Perumahan rakyat kecil (baca : kumuh) yang dianggap merusak pemandangan sudah pasti akan menjadi bulan-bulanan petugas trantib yang buta karena doktrin kepatuhan. Penggusuran adalah murni sebuah teror. Teror yang menjadi legal karena dilakukan oleh negara. Negara yang dengan berbagai perangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembangunan, Ketertiban, Keteraturan seringkali dijadikan pembenaran dalam berbagai kasus penggusuran yang marak terjadi selama ini. Perumahan rakyat kecil (baca : kumuh) yang dianggap merusak pemandangan sudah pasti akan menjadi bulan-bulanan petugas trantib yang buta karena doktrin kepatuhan. Penggusuran adalah murni sebuah teror. Teror yang menjadi legal karena dilakukan oleh negara. Negara yang dengan berbagai perangkat aparatnya menganggap bahwa bumi dan segala isinya adalah miliknya dan siapapun bisa untuk diusir dari tempat tinggalnya kapanpun negara menginginkan.<br />
Ada apa sebenarnya dengan penggusuran?? benarkah semua itu dilakukan demi ketertiban bersama??? patutkah kita menerima untuk digusur?? apakah negara memiliki hak untuk mengusir kita???</p>
<p><span id="more-103"></span></p>
<p><a target="_blank" title="UPC" href="http://www.urbanpoor.or.id/">UPC (Urban Poor Consortium)</a> secara garis besar menyebutkan terdapat <a target="_blank" title="akar permasalahan penggusuran" href="http://www.urbanpoor.or.id/content/view/183/74/">4 akar permasalahan kenapa penggusuran terjadi</a>, antara lain adalah :</p>
<ol>
<li><strong>Meningkatnya urbanisasi</strong>. Yang menyebabkan meningkatnya pertumbuhan pembangunan pemukiman informal (perumahan yang dibangun sendiri secara swadaya oleh masyarakat), yang lambat laun dianggap semakin tidak terkontrol dan dapat mengancam sektor-sektor formal yang ada.</li>
<li><strong>Mega Proyek (Pembangunan)</strong>. Yang dilakukan baik oleh swasta maupun pemerintah, lokal maupun internasional.</li>
<li><strong>Politisasi Tanah</strong>. Pengusiran secara paksa terhadap penduduk setempat dari lokasi yang dianggap memiliki nilai yang tinggi.</li>
<li><strong>Tidak adanya hukum</strong>. atau pincangnnya hukum yang mengatur permasalahan penggusuran tersebut.</li>
</ol>
<p>Dari keempat akar tersebut, saya membuang poin keempat yaitu poin tentang aspek hukum. Karena betapapun kuatnya hukum, terkadang hukum dapat diputarbalikkan seenaknya, atau bahkan dibuang begitu saja.</p>
<p>Baik, mari kita tarik akar permasalahan utama dari ketiga akar-akar diatas. Pertama meningkatnya urbanisasi dari desa kekota. Sebenarnya saya kurang setuju dengan poin ini, karena bagaimanapun juga banyak sekali kasus penggusuran yang justru terjadi didesa. Namun baiklah kita ambil saja poin ini. Salah satu penyebab utama urbanisasi terjadi adalah karena tidak meratanya kesejahteraan antara kota dan desa, disamping itu pula, propaganda tidak langsung yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta bahwa kota adalah puncak dari desa-desa menyebabkan minat berlebihan penduduk desa untuk berbondong-bondong ikut andil dalam perputaran ekonomi dikota. Masyarakat adat daerah setempat yang semakin digusur keberadaannya baik budaya maupun ekonomi adat atas nama pariwisata, juga membuat warga daerah kehilangan kebanggaannya karena mereka tidak lagi dianggap manusia, tetapi sebagai makhluk aneh diera millenium yang layak untuk dijadikan bahan tontonan masyarakat kota. Hutan-hutan, lahan perkebunan, sawah-sawah yang selama ini jadi tempat mengais rezeki, dikapitalisasikan oleh orang-orang kota untuk kemudian hasil-hasilnya dilalap habis-habisan.</p>
<p>Baiklah, sampai sini kita bisa melihat siapa, ada-apa dan mengapa masyarakat desa kemudian lari kekota.
</p>
<p>to be continue&#8230;</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=g" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/hak-untuk-memiliki-tempat-tinggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Philosophy of Atheism</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Oct 2006 09:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme&religi]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/</guid>
		<description><![CDATA[by Emma GoldmanFirst published in February 1916 in the Mother Earth journal. To give an adequate exposition of the Philosophy of Atheism, it would be necessary to go into the historical changes of the belief in a Deity, from its earliest beginning to the present day. But that is not within the scope of the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Emma Goldman</strong><strong>First published in February 1916 in the <em>Mother Earth</em> journal.</strong></p>
<p>To give an adequate exposition of the Philosophy of Atheism, it would be necessary to go into the historical changes of the belief in a Deity, from its earliest beginning to the present day. But that is not within the scope of the present paper. However, it is not out of place to mention, in passing, that the concept God, Supernatural Power, Spirit, Deity, or in whatever other term the essence of Theism may have found expression, has become more indefinite and obscure in the course of time and progress. In other words, the God idea is growing more impersonal and nebulous in- proportion as the human mind is learning to understand natural phenomena and in the degree that science progressively correlates human and social events.</p>
<p><span id="more-108"></span>God, today, no longer represents the same forces as in the beginning of His existence; neither does He direct human destiny with the same Iron hand as of yore. Rather does the God idea express a sort of spiritualistic stimalus to satisfy the fads and fancies of every shade of human weakness. In the course of human development the God idea has been forced to adapt itself to every phase of human affairs, which is perfectly consistent with the origin of the idea itself.</p>
<p>The conception of gods originated in fear and curiosity. Primitive man, unable to understand the phenomena of nature and harassed by them, saw in every terrifying manifestation some sinister force expressly directed against him; and as ignorance and fear are the parents of all superstition, the troubled fancy of primitive man wove the God idea.</p>
<p>Very aptly, the world-renowned atheist and anarchist, Michael Bakunin, says in his great work God and the State: &#8220;All religions, with their gods, their demi-gods, and their prophets, their messiahs and their saints, were created by the prejudiced fancy of men who had not attained the full development and full possession of their faculties. Consequently, the religious heaven is nothing but the mirage in which man, exalted by ignorance and faith, discovered his own image, but enlarged and reversed &#8212; that is divinised. The history of religions, of the birth, grandeur, and the decline of the gods who had succeeded one another in human belief, is nothing, therefore, but the development of the collective intelligence and conscience of mankind. As fast as they discovered, in the course of their historically progressive advance, either in themselves or in external nature, a quality, or even any great defect whatever, they attributed it to their gods, after having exaggerated and enlarged it beyond measure, after the manner of children, by an act of their religious fancy. . . . With all due respect, then, to the metaphysicians and religious idealists, philosophers, politicians or poets: the idea of God implies the abdication of human reason and justice; it is the most decisive negation of human liberty, and necessarily ends in the enslavement of mankind, both in theory and practice.&#8221;</p>
<p>Thus the God idea, revived, readjusted, and enlarged or narrowed, according to the necessity of the time, has dominated humanity and will continue to do so until man will raise his head to the sunlit day, unafraid and with an awakened will to himself. In proportion as man learns to realize himself and mold his own destiny theism becomes superfluous. How far man will be able to find his relation to his fellows will depend entirely upon how much he can outgrow his dependence upon God.</p>
<p>Already there are indications that theism, which is the theory of speculation, is being replaced by Atheism, the science of demonstration; the one hangs in the metaphysical clouds of the Beyond, while the other has its roots firmly in the soil. It is the earth, not heaven, which man must rescue if he is truly to be saved.</p>
<p>The decline of theism is a most interesting spectacle, especially as manifested in the anxiety of the theists, whatever their particular brand. They realize, much to their distress, that the masses are growing daily more atheistic, more anti-religious; that they are quite willing to leave the Great Beyond and its heavenly domain to the angels and sparrows; because more and more the masses are becoming engrossed in the problems of their immediate existence.</p>
<p>How to bring the masses back to the God idea, the spirit, the First Cause, etc. &#8211; that is the most pressing question to all theists. Metaphysical as all these questions seem to be, they yet have a very marked physical background. Inasmuch as religion, &#8220;Divine Truth,&#8221; rewards and punishments are the trade-marks of the largest, the most corrupt and pernicious, the most powerful and lucrative industry in the world, not excepting the industry of manufacturing guns and munitions. It is the industry of befogging the human mind and stifling the human heart. Necessity knows no law; hence the majority of theists are compelled to take up every subject, even if it has no bearing upon a deity or revelation or the Great Beyond. Perhaps they sense the fact that humanity is growing weary of the hundred and one brands of God.</p>
<p>How to raise this dead level of theistic belief is really a matter of life and death for all denominations. Therefore their tolerance; but it is a tolerance not of understanding; but of weakness. Perhaps that explains the efforts fostered in all religious publications to combine variegated religious philosophies and conflicting theistic theories into one denominational trust. More and more, the various concepts &#8220;of the only tree God, the only pure spirit, &#8212; the only true religion&#8221; are tolerantly glossed over in the frantic effort to establish a common ground to rescue the modern mass from the &#8220;pernicious&#8221; influence of atheistic ideas.</p>
<p>It is characteristic of theistic &#8220;tolerance&#8221; that no one really cares what the people believe in, just so they believe or pretend to believe. To accomplish this end, the crudest and vulgarest methods are being used. Religious endeavor meetings and revivals with Billy Sunday as their champion -methods which must outrage every refined sense, and which in their effect upon the ignorant and curious often tend to create a mild state of insanity not infrequently coupled with eroto-mania. All these frantic efforts find approval and support from the earthly powers; from the Russian despot to the American President; from Rockefeller and Wanamaker down to the pettiest business man. They blow that capital invested in Billy Sunday, the Y.M.C.A., Christian Science, and various other religious institutions will return enormous profits from the subdued, tamed, and dull masses.</p>
<p>Consciously or unconsciously, most theists see in gods and devils, heaven and hell; reward and punishnient, a whip to lash the people into obedience, meekness and contentment. The truth is that theism would have lost its foeting long before this but for the combined support of Mammon and power. How thoroughly banlrupt it really is, is being demonstrated in the trenches and battlefields of Europe today.</p>
<p>Have not all theists painted their Deity as the god of love and goodness? Yet after thousands of years of such preachments the gods remain deaf to the agony of the human race. Confucius cares not for the poverty, squalor and misery of people of China. Buddha remains undisturbed in his philosophical indifference to the famine and starvation of outraged Hindoos; Jahve continues deaf to the bitter cry of Israel; while Jesus refuses to rise from the dead against his Christians who are butchering each other.</p>
<p>The burden of all song and praise &#8220;unto the Highest&#8221; has been that God stands for justice and mercy. Yet injustice among men is ever on the increase; the outrages committed against the masses in this country alone would seem enough to overflow the very heavens. But where are the gods to make an end to all these horrors, these wrongs, this inhumanity to man? No, not the gods, but MAN must rise in his mighty wrath. He, deceived by all the deities, betrayed by their emissaries, he, himself, must undertake to usher in justice upon the earth.</p>
<p>The philosophy of Atheism expresses the expansion and growth of the human mind. The philosophy of theism, if we can call it philosophy, is static and fixed. Even the mere attempt to pierce these mysteries represents, from the theistic point of view, non-belief in the all-embracing omnipotence, and even a denial of the wisdom of the divine powers outside of man. Fortunately, however, the human mind never was, and never can be, bound by fixities. Hence it is forging ahead in its restless march towards knowledge and life. The human mind is realizing &#8220;that the universe is not the result of a creative fiat by some divine intelligence, out of nothing, producing a masterpiece chaotic in perfect operation,&#8221; but that it is the product of chaotic forces operating through aeons of time, of clashes and cataclysms, of repulsion and attraction crystalizing through the principle of selection into what the theists call, &#8220;the universe guided into order and beauty.&#8221; As Joseph McCabe well points out in his Existence ot God: &#8220;a law of nature is not a formula drawn up by a legislator, but a mere summary of the observed facts &#8212; a &#8216;bundle of facts.&#8217; Things do not act in a particular way because there is a law, but we state the &#8216;law&#8217; because they act in that way.&#8221;</p>
<p>The philosophy of Atheism represents a concept of life without any metaphysical Beyond or Divine Regulator. It is the concept of an actual, real world with its liberating, expanding and beautifying possibilities, as against an unreal world, which, with its spirits, oracles, and mean contentment has kept humanity in helpless degradation.</p>
<p>It may seem a wild paradox, and yet it is pathetically true, that this real, visible world and our life should have been so long under the influence of metaphysical speculation, rather than of physical demonstrable forces. Under the lash of the theistic idea, this earth has served no other purpose than as a temporary station to test man&#8217;s capacity for immolation to the will of God. But the moment man attempted to ascertain the nature of that will, he was told that it was utterly futile for &#8220;finite human intelligence&#8221; to get beyond the all-powerful infinite will. Under the terrific weight of this omnipotence, man has been bowed into the dust &#8212; a willless creature, broken and sweating in the dark. The triumph of the philosophy of Atheism is to free man from the nightmare of gods; it means the dissolution of the phantoms of the beyond. Again and again the light of reason has dispelled the theistic nightmare, but poverty, misery and fear have recreated the phantoms &#8212; though whether old or new, whatever their external form, they differed little in their essence. Atheism, on the other hand, in its philosophic aspect refuses allegiance not merely to a definite concept of God, but it refuses all servitude to the God idea, and opposes the theistic principle as such. Gods in their individual function are not half as pernicious as the principle of theism which represents the belief in a supernatural, or even omnipotent, power to rule the earth and man upon it. It is the absolutism of theism, its pernicious influence upon humanity, its paralyzing effect upon thought and action, which Atheism is fighting with all its power.</p>
<p>The philosophy of Atheism has its root in the earth, in this life; its aim is the emancipation of the human race from all God-heads, be they Judaic, Christian, Mohammedan, Buddhistic, Brahministic, or what not. Mankind has been punished long and heavily for having created its gods; nothing but pain and persecution have been man&#8217;s lot since gods began. There is but one way out of this blunder: Man must break his fetters which have chained him to the gates of heaven and hell, so that he can begin to fashion out of his reawakened and illumined consciousness a new world upon earth.</p>
<p>Only after the triumph of the Atheistic philosophy in the minds and hearts of man will freedom and beauty be realized. Beauty as a gift from heaven has proved useless. It will, however, become the essence and impetus of life when man learns to see in the earth the only heaven fit for man. Atheism is already helping to free man from his dependence upon punishment and reward as the heavenly bargain- counter for the poor in spirit.</p>
<p>Do not all theists insist that there can be no morality, no justice, honesty or fidelity without the belief in a Divine Power? Based upon fear and hope, such morality has always been a vile product, imbued partiy with self- righteousness, partly with hypocrisy. As to truth, justice, and fidelity, who have been their brave exponents and daring proclaimers? Nearly always the godless ones: the Atheists; they lived, fought, and died for them. They knew that justice, truth, and fidelity are not, conditioned in heaven, but that they are related to and interwoven with the tremendous changes going on in the social and material life of the human race; not fixed and eternal, but fluctuating, even as life itself. To what heights the philosophy of Atheism may yet attain, no one can prophesy. But this much can already be predicted: only by its regenerating fire will human relations be purged from the horrors of the past</p>
<p>Thoughtful people are beginning to realize that moral precepts, imposed upon humanity through religious terror, have become stereotyped and have therefore lost all vitality. A glance at life today, at its disintegrating character, its conflicting interests with their hatreds, crimes, and greed, suffices to prove the sterility of theistic morality.</p>
<p>Man must get back to himself before he can learn his relation to his fellows. Prometheus chained to the Rock of Ages is doomed to remain the prey of the vultures of darkness. Unbind Prometheus, and you dispel the night and its horrors.</p>
<p>Atheism in its negation of gods is at the same time the strongest affirmation of man, and through man, the eternal yea to life, purpose, and beauty.</p>
<p>taken from <a target="_blank" href="http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/goldman/philosophyatheism.html">The Anarchy Archives </a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=l" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SHOPAHOLIC : Apa?, Siapa?, Bagaimana?</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Oct 2006 12:02:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/</guid>
		<description><![CDATA[APAKAH ‘SHOPAHOLIC’ ITU? Beberapa tahun terakhir ini, shopaholic atau compulsive shopper telah menjadi perhatian berbagai program televisi dan majalah perempuan. Mereka juga telah menjadi topik perbincangan psikologi pop. Meski media massa menggunakan istilah dengan agak “serampangan”, sebenarnya seorang shopaholic sering merasa terasing, sangat ketakutan, dan kehilangan kendali diri. Tidak diragukan lagi, kita hidup dalam masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="image101" alt="Shopaholic" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2006/10/shopaholic1.jpg" /><br />
<span id="more-99"></span></p>
<p><strong>APAKAH ‘SHOPAHOLIC’ ITU?</strong></p>
<p>Beberapa tahun terakhir ini, shopaholic atau compulsive shopper telah menjadi perhatian berbagai program televisi dan majalah perempuan. Mereka juga telah menjadi topik perbincangan psikologi pop. Meski media massa menggunakan istilah dengan agak “serampangan”, sebenarnya seorang shopaholic sering merasa terasing, sangat ketakutan, dan kehilangan kendali diri.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, kita hidup dalam masyarakat yang sangat “gemar belanja”. Kita hidup berdasar pada kekayaan yang kita miliki dan banyak dari kita hidup dalam belitan hutang. Banyak orang, berapapun penghasilannya, memandang belanja sebagai sebuah hobi. Mereka menghabiskan akhir pekan dengan berbelanja, menghabiskan uang untuk barang-barang yang tidak mereka miliki, dan sering menyesali perbuatannya di kemudian hari. Apakah ini menunjukkan bahwa mereka bermasalah? Belum tentu.</p>
<p>Seorang shopaholic belanja di luar kendali. Mereka akan terus-menerus belanja meskipun telah jauh terbenam dalam hutang. Mereka akan belanja saat tertekan secara emosional, dan menggunakan belanja sebagai mekanisme bertahan hidup. Mereka tidak berhenti belanja karena mereka sungguh-sungguh menemukan kenikmatan dalam belanja. Mereka membeli barang-barang karena mereka merasa HARUS. Seorang shopaholic adalah seseorang yang lepas kendali.</p>
<p><strong>APAKAH ANDA SEORANG ‘SHOPAHOLIC’?</strong></p>
<p><strong>Pikirkan pernyataan-pernyataan berikut ini dengan membubuhkan “Benar” atau  “Salah” pada masing-masingnya.</strong></p>
<ol>
<li>Ketika saya merasa tertekan, biasanya saya belanja.</li>
<li>Saya menghabiskan banyak uang untuk barang yang tidak saya miliki namun  tidak saya butuhkan.</li>
<li>Saya merasa gila saat saya berbelanja tapi setelah itu saya tidak terlalau  peduli akan barang yang saya beli.</li>
<li>Saya memiliki banyak pakaian yang tidak pernah saya pakai dan sejumlah perkakas/alat yang tidak terhitung jumlahnya dan saya tidak pernah menggunakannya.</li>
<li>Saya sering merasa sembrono/gila-gilaan dan lepas kontrol ketika saya  berbelanja.</li>
<li>Saya sering berbohong kepada teman-teman dan keluarga tentang uang yang saya  habiskan.</li>
<li>Saya merasa sangat kacau dan terganggu dengan kebiasaan berbelanja yang saya  lakukan</li>
<li>Setelah belanja gila-gilaan, saya kadang merasa hilang orientasi dan  tertekan.</li>
<li>Sekalipun saya merasa sangat bingung tertang hutang-hutang saya, saya tetap  berbelanja.</li>
<li>Kegiatan berbelanja saya bnayak disebakan masalah hubungan dengan diri  sendiri atau pun dengan orang lain.</li>
</ol>
<p>Apakah Anda menjawab “benar” sebanyak empat kali atau lebih dari pernyataan-pernyataan di atas? Jika ya, tampaknya Anda memiliki masalah yang serius dengan nafsu belanja.</p>
<p>Jika kebanyakan jawaban Anda atas pernyataan kuis ini “Benar”, mungkin Anda membutuhkan lebih dari sekedar tips-tips yang sifatnya ekonomis untuk mengendalikan pengeluaran Anda. Jika pola belanja Anda mulai mengganggu kehidupan Anda, pertimbangkan untuk mendatangi seorang psikolog. Dia akan membantu Anda untuk mencari tahu mengapa kebiasaan belanja Anda sangat sulit dikendalikan. Shopaholic biasanya digolongkan sebagai “penyimpangan obsesif-kompulsif” yang dapat disembuhkan dengan bantuan psikolog. Dengan kesabaran, ketekunan serta bantuan dari pihak professional, seorang shopaholic dapat kembali mengendalikan hidupnya.</p>
<p><strong>TIPS AGAR TIDAK BOROS DAN TERAPI SEDERHANA UNTUK  ‘SHOPAHOLIC’</strong></p>
<ol>
<li>Biasakan untuk tidak membawa kartu kredit, buku cek dan kartu ATM sebelum  Anda pergi belanja. Gunakanlah uang tunai.</li>
<li>Jika Anda tertarik untuk membeli sesuatu, jangan biarkan diri Anda mengikuti dorongan itu. Buatlah “batas waktu” untuk berpikir. Jika sampai beberapa hari kemudian Anda masih menginginkannya, mungkin kini Anda bisa mempertimbangkan untuk membelinya.</li>
<li>Buatlah anggaran di atas selembar kertas dan jangan membeli apapun di luar  anggaran.</li>
<li>Tulis setiap kebutuhan yang harus dibeli selama dua minggu Ini akan membuat  Anda tahu benar kemana perginya uang Anda.</li>
</ol>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=c" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/05/shopaholic-apa-siapa-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
