<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; otonomis</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/otonomis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>ILUSI CHÁVIZMO – PERJUANGAN KELAS DI VENEZUELA</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2006 07:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/</guid>
		<description><![CDATA[Ribuan orang menggelar aksi damai di Wina, ibukota Austria pada tanggal 14 Mei 2006 lalu. Dengan membawa bendera merah serta bendera nasional Venezuela dan Kuba, mereka berharap dapat melihat presiden Bolivia, Evo Morales dan presiden Venezuela, Hugo Chávez. Aksi ini merupakan sebuah bentuk dukungan bagi para pemimpin negara latin tersebut, yang juga berafiliasi ketat dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ribuan orang menggelar aksi damai di Wina, ibukota Austria pada tanggal 14  Mei 2006 lalu. Dengan membawa bendera merah serta bendera nasional Venezuela dan  Kuba, mereka berharap dapat melihat presiden Bolivia, Evo Morales dan presiden  Venezuela, Hugo Chávez. Aksi ini merupakan sebuah bentuk dukungan bagi para  pemimpin negara latin tersebut, yang juga berafiliasi ketat dengan pemimpin  Kuba, Fidel Castro. Alasan lain dari dukungan mereka, adalah karena baik  Bolivia, Venezuela dan Kuba kini telah bergabung dalam kesepakatan perdagangan  alternatif yang mereka ciptakan sendiri, yang menjanjikan versi sosialistik  daripada kerjasama perdagangan neoliberalisme yang dimotori oleh AS dan Uni  Eropa.</p>
<p>Tidak hanya di Austria, sebagian besar dari kita di Indonesia—khususnya para  militan Kiri—pasti berpikir bahwa rezim Chávez di Venezuela adalah sebuah  konfirmasi atas analisa Marxis terbaik di era kapitalisme yang sangat advance  sekarang ini. Terlebih lagi setelah kegagalan kudeta militer sayap kanan yang  disponsori CIA pada tahun 2002 lalu, yang seakan membuktikan bahwa seluruh  jajaran publik mendukung Chávez. Perusahaan-perusahaan multinasional memang  direbut oleh negara satu persatu, yang menandakan bahwa ini adalah sebuah  kemajuan terbaik masa kini. Tapi pada kenyataannya, rezim ini masih membutuhkan  kritik yang juga lebih advance semenjak ia masih kurang dalam mendorong publik  untuk mulai membentuk organisasi swakelolanya sendiri yang otonom. Pidato-pidato  Chávez mungkin memang sangat baik dalam membangun kesadaran di tingkatan publik,  tapi ini tak akan berarti apa-apa apabila publik sendiri tidak memiliki  organisasi otonom mereka sendiri. Kesadaran yang tidak menemui ekspresi  materialnya dalam bentuk yang lebih terorganisir tak akan berarti apa-apa.</p>
<p><span id="more-127"></span>Bahkan juga ada sebuah kabut menyelimuti jajaran pemerintahan itu sendiri  antara para kabinet menteri yang berhaluan Kiri maupun Kanan. Menteri Luar  Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Ekonomi, Menteri Hankam semua adalah  orang-orang dari pihak Kanan, termasuk juga menteri kesehatan. Menteri Tenaga  Kerja berdiri di tengah-tengah. Masih ada dua atau tiga menteri yang berhaluan  Kiri seperti Menteri Ekonomi dan Industri, tetapi mayoritas kabinet berpihak di  Kanan—bukan Kanan pro-neoliberal tapi Kanan nasionalis yang tetap berada di  Kanan. Chávez menyandarkan dirinya kadang ke Kiri dan kadang pada sektor militer  di Kanan. Hal ini menciptakan sebuah pemerintahan yang mirip dengan Bonapartisme  Marx, sebuah balance of power, penengah dan penyeimbang antara dua kekuatan yang  berbeda. Mengutip apa yang dikatakan oleh Roland Denis yang aktif dalam  Movimiento 13 de Abril Comuneros (Komune Gerakan 13 April), “Aku tidak tahu  pasti apakah Hugo Chávez akan mempertahankan politik Kiri-nya. Ini semua dapat  berubah. Aku telah melakukan diskusi dengan Eric Toussaint, dan kami menemukan  sebuah kesamaan perilaku antara Kuba dan Venezuela saat diadakan pertemuan WTO  di Hongkong. Venezuela mengambil posisi prinsipil yang beroposisi pada seluruh  agenda privatisasi layanan publik, kesehatan, pendidikan, dsb. Tapi pada  akhirnya Kuba dan Venezuela juga menandatangani persetujuan.” (International  Socialism no.101, Januari 2006).</p>
<p>Chávez memang berhasil dalam membangun wacana di kalangan publik, tapi  masalahnya ia juga masih terjebak dalam konteks logika nasionalisme yang  memposisikan negara sebagai sebuah bagian yang sakral dari prakteknya. Wacana  mereka memang mirip dengan wacana pembebasan, tapi tentu saja dengan demikian  praktek yang terjadi tidak akan sama dengan praktek pembebasan. Mereka berusaha  menginkorporasikan berbagai sektor gerakan popular ke dalam pemerintahan,  mengikatnya erat. Wacana ini juga yang seringkali menjadi ilusi dan jebakan dari  sebuah pembebasan: wacana program popular yang memfokuskan diri pada  nasionalisme, bukannya kelas.</p>
<p>Perjuangan kelas memang terjadi di Venezuela, tetapi revolusi belum berhasil  dimenangkan. Sebuah dunia baru mungkin memang terjadi di Venezuela, tapi itu  baru hanya sebuah kemungkinan yang perlu terus dijajaki.</p>
<p>Apa yang perlu juga dijajaki adalah tentang bagaimana nyaris seluruh gerakan  militan masa kini masih terilusi oleh ‘keberhasilan’ revolusi tipe Bolshevik.  Waktu telah berlalu sejak Lenin dan kegagalannya, yang dilanjutkan oleh  degradasi Leninisme yang diekspresikan oleh para militan Kiri yang saling  beraliansi dan bertempur antara sesamanya sendiri dari berbagai macam  variannya—Khrushchevo-Brezhnevis, Tan Malakais, Maois, Sukarnois, Castrois,  sub-Togliatis, Stalinis dan semi-Stalinis serta berbagai sisi Trotskisme, dsb.  Semua dari mereka menolak dan dipaksa menolak, wajah yang jelas dari  ‘sosialisme’ (dengan kata lain: kekuatan kelas) di Russia, China, Kuba dan  konsekwensinya, Venezuela. Kelemahan utama mereka dalam perjuangan dalam  perebutan kekuasaan negara adalah juga garansi utama untuk transformasi peran  menjadi kontra-revolusioner setiap saat dari mereka mendapatkan kekuasaan  absolut. Para militan Kiri tersebut akan menghadirkan dirinya sebagai sebuah  kelanjutan alamiah dari kemelut politik perjuangan kelas; tapi perjuangan kelas  yang nyata di Venezuela telah semakin dekat.</p>
<p>Pusat perjuangan, baik yang tercadar maupun yang terbuka, sedikit demi  sedikit mulai pecah antar para representatif kelas penguasa baru dan para  pekerja yang berjuang atas isu swakelola. Para Chávista menyadari penuh hal ini,  sehingga mereka berusaha merebut kembali akar rumput dengan menggunakan  bahasa-bahasa radikal, berorasi tentang “kekuatan popular”, “parlementer di  jalanan” (dimana para elit datang ke jalan-jalan dan mendengarkan berbagai  keluhan publik). Dalam hal ini kecenderungan tentang pemerintahan yang lebih  baik, lebih sehat, lebih mendorong partisipasi, memang ada. Tetapi secara  keseluruhan, yang dibutuhkan adalah inisiatif untuk sebuah gerakan pembebasan  yang nyata yang tak dapat diperlambat hanya dengan dikuasainya sebuah negara.  Para Chavista tersebut memang tidak berbohong, tapi itu semua tidak cukup bagi  kepentingan kelas pekerja.</p>
<p>Contoh kasus, pada akhir tahun 2005 dimana banyak pekerja tambang emas di  selatan Venezuela berada dalam pusaran konflik melawan multinasional, 14 pekerja  tambang telah terbunuh tapi hanya sedikit orang yang tahu tentang hal ini karena  tak ada media yang memberitakannya termasuk media pemerintah. Bulan November  2005 terjadi pembunuhan oleh sicarios (preman yang dipersenjatai) dan  paramiliter yang dibiayai serta dipersenjatai oleh multinasional sehingga  terjadi konfrontasi yang sengit. Seluruh pekerja tambang adalah pendukung  Chávez, terlihat dalam aksi mereka yang membawa foto Chávez saat mobilisasinya.  Tetapi masalahnya belum ada sedikitpun tindakan dari negara.</p>
<p>Maka pihak oposisi yang kini berada di Venezuela mulai terbentuk babak  keduanya. Di satu sisi, dilancarkan oleh para pendukung kebijakan neo-liberal  dan kaum kaya raya yang pro-kudeta militer sayap Kanan tahun 2002 yang berusaha  mengembalikan Venezuela pada bentuk lamanya. Di sisi lain, adalah para pekerja  yang mempertahankan diri mereka dalam bentuk organisasi-organisasi otonom,  melawan kaum neoliberal dan korporat sekaligus menentang kemandegan pemerintahan  Chávez; merekalah yang menjadi kontestan utamanya. Seperti Movimiento 13 de  Abril Comuneros—bukan sebuah partai politik—yang beranggotakan 1000-2000 orang  pekerja dan penganggur ataupun serikat pekerja yang menduduki pabrik kertas di  Invepal. Gerakan 13 April adalah organisasi pekerja dan penganggur yang  beraktifitas di tempat-tempat kerja dan lingkungan ketetanggaan, mendiskusikan  relasi kera dan pekerja, serta memiliki ide untuk membentuk sebuah gerakan  pekerja popular. Sekelompok intelektual juga membantu pembentukan formasi ini  tetapi organisasi ini tetap otonom. Sebagian proyek mereka adalah pendudukan  pabrik. Mereka beraliansi dengan Chávez tapi secara taktis, bukan strategis.  Mereka memang mempertahankan posisi Chávez dan menjadikannya simbol kekuatan,  tapi mereka tetap menyimpan banyak keraguan terhadap absolutisme kekuatan  presiden sebuah negara. Sementara, Invepal adalah pabrik kertas yang berjarak  100 mil dari Caracas, ibukota negara Venezuela. Para pekerja di sana telah  mengambil alih pabrik secara penuh sejak akhir tahun 2004 dan memaksa negara  untuk mendanai pengembangan hariannya. Profit yang ada dibagi antara 49% bagi  para pekerja pabriknya sendiri dan 51% diserahkan untuk negara. Tidak puas  dengan hal ini, para pekerja mendeklarasikan bahwa mereka menginginkan  kepemilikan atas pabrik 100%, dimana dari profit tersebut, para pekerja  sendirilah yang berhak menentukan kemana dana tersebut akan disalurkan untuk  memperkuat arus revolusioner.</p>
<p>Jalan satu-satunya menuju masyarakat bebas, di Venezuela atau dimanapun juga,  berjalan melewati “sebuah pakta ofensif dan defensif” sebagaimana seorang  intelektual Hungaria kemukakan saat insureksi melanda negara Eropa Timur  tersebut tahun 1956. Di negara tetangganya, Bolivia, Evo Morales memang  melancarkan isu nasionalisasi tambang minyak bertepatan dengan perayaan May Day  1 Mei 2006 lalu, tapi kebanyakan mengesampingkan fakta bahwa keputusan tersebut  dilakukan atas desakan organisasi-organisasi popular otonom yang merasa bahwa  pemerintah Morales semenjak kemenangan atas pemilu tak sekalipun mendorong pada  isu utama masyarakat Bolivia seperti pengambil alihan kontrol dari seluruh badan  multinasional. Publik di Bolivia telah mengerti penuh soal peran yang harus  mereka ambil. Begitu juga di Venezuela. Saat kondisi-kondisi revolusioner  praksis merebak, tak ada satu teoripun yang dirasa terlalu sulit. Villiers de  l’Isle-Adam, seorang saksi mata dari Komune Paris, mencatat, “Untuk pertama  kalinya seseorang akan mendengar para pekerja bertukar opini tentang berbagai  masalah yang selama ini hanya diperdebatkan oleh para filsuf.”</p>
<p>Realisasi filsafat, kritik dan rekonstruksi atas segala nilai, kebiasaan dan  perilaku yang didorong oleh kehidupan yang teralienasi—adalah program utama dari  swakelola umum. Para militan Kiri yang birokratis akan berkata bahwa tesis  seperti di atas memang benar, tapi itu semua belum tiba waktunya untuk berbicara  pada massa tentang segala-galanya. Tapi mereka yang melancarkan argumen tersebut  tidak memperhatikan bahwa waktu tersebut telah tiba, dan mereka malah beroposisi  menentang tibanya waktu tersebut, dengan alasan Leninis klasik, “Belum waktunya  bagi massa untuk mengetahui semuanya.” Adalah penting untuk memberitahukan pada  publik tentang apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Para intelektual  spesialisasi revolusi adalah para spesialis dari kesadaran palsu, yang pada  momen-momen revolusioner akan menyadari bahwa mereka telah membicarakan sesuatu  yang berbeda dengan yang mereka lakukan. Alienasi politik adalah juga tetap  alienasi. Dan swakelola tidak dapat berharap banyak dari cucu-cucu Bolshevik,  baik yang terang-terangan mengaku Leninis maupun kaum Kiri secara umum.</p>
<p>Swakelola harus menjadi bagian dari proses maupun akhir perjuangan kelas. Dan  di Venezuela, seperti juga di Bolivia, ia adalah satu-satunya kekuatan radikal  modern yang paling advance. Basis-basis produksi swakelola akan secara spontan  terbentuk begitu momen revolusioner hadir—seperti juga di Spanyol tahun 1936,  Paris tahun 1871, Russia 1917 atau juga di pabrik-pabrik yang ditinggalkan di  Argentina 2001 lalu—saat para pemiliknya melarikan diri mengikuti kekalahan  politisnya. Pendudukan tersebut adalah sebuah liburan dari kepemilikan dan  penindasan, sebuah rehat temporer dari kehidupan yang teralienasi.</p>
<p>Kini memang telah terbentuk organisasi-organisasi otonom seperti CTU  (Committee of Urban Lands), Komite Kesehatan, Lingkar Bolivarian di berbagai  distrik Caracas, kolektif-kolektif ketetanggaan, Popular Revolutionary Assembly  of Coche, kelompok-kelompok afinitas penyiar dari ANMCLA dan Radio Ali Primera,  Antiescualidos.com, anggota-anggota Catio TV, UTOPIA, Tupamaros de El Valle,  M13-PNA, Movimiento 13 de Abril Comuneros, AIPO, para militan MOBARE, MDD,  barisan muda MEP, Asosiasi Pengacara Bolivarian, Revolutionary Marxist Current,  di antara lainnya. Tapi itu semua masih jauh dari cukup. Mereka harus juga  belajar untuk membangun jaringan dengan mendelegasikan setiap organisasi otonom  swakelola yang bergerak di berbagai sektor, mempublikasikan seluruh informasi  perjuangan pekerja dan bentuk otonom organisasi yang membentuk mereka, dengan  tujuan mempopularkannya.</p>
<p>Mempopularkan swakelola sehingga “menguasai seluruh alat produksi dan segala  aspek kehidupan sosial” sebagaimana yang ditunjukkan oleh Marx, maka hal  tersebut tidak hanya akhir dari pengangguran yang meliputi sebagian besar kaum  muda Venezuela, tapi juga akhir seluruh aspek kehidupan orde dunia lama,  penindasan spiritual maupun material dan bahkan juga merupakan pengabolisian  sistem relasi tuan-hamba. Swakelola harus menjadi satu-satunya solusi bagi  misteri kekuatan Venezuela, dan mereka juga harus tahu bahwa itulah satu-satunya  solusi yang tersisa.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/13/ilusi-chavizmo-%e2%80%93-perjuangan-kelas-di-venezuela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Barisan Rakyat Oaxaca Mencapai Mexico City</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Oct 2006 17:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/</guid>
		<description><![CDATA[Mexico City &#8211; Mereka telah menempuh 480 kilo meter selama 19 hari dan melalui 25 kota untuk tiba di Ibu Kota. Dewan Masyarakat Oaxaca (APPO) dan organisasi guru SNTE divisi 22 menuduh Gubernur Oaxaca, Ulises Ruiz terpilih secara tidak sah dan menggunakan cara-cara brutal untuk menindas protes masyarakat. Dalam demonstrasi masyarakat yang telah berlangsung sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="327" height="216" id="image109" alt="oaxaca" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/2006/10/oaxaca.jpg" /></p>
<p>Mexico City &#8211; Mereka telah menempuh 480 kilo meter selama 19 hari dan melalui 25 kota untuk tiba di Ibu Kota. Dewan Masyarakat Oaxaca (APPO) dan organisasi guru SNTE divisi 22 menuduh Gubernur Oaxaca, Ulises Ruiz terpilih secara tidak sah dan menggunakan cara-cara brutal untuk menindas protes masyarakat.</p>
<p>Dalam demonstrasi masyarakat yang telah berlangsung sejak bulan Mei, 5 pejuang telah gugur di tangan aparat keamanan Meksiko.</p>
<p>Sementara, Gubernur Ruiz menyatakan tidak bertanggung jawab atas kekerasan yang dituduhkan dan menolak untuk turun dari jabatannya.</p>
<p>Demonstrasi yang bermula dari tuntutan upah layak par aguru berkembang menjadi pendudukan kota Oaxaca dan perebutan kekuasaan</p>
<p>The demonstrators have walked from Oaxaca city, waving banners and shouting slogans.</p>
<p>Aksi berjalan kaki ke Ibu Kota ini dimaksudkan untuk menekan Senat agar mendesak Ruiz mundur dari jabatan.</p>
<p>sumber : <a target="_blank" href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=1080">IMC Jakarta</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=n" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/14/barisan-rakyat-oaxaca-mencapai-mexico-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pustaka Otonomis pindah alamat</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/11/pustaka-otonomis-pindah-alamat/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/11/pustaka-otonomis-pindah-alamat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Oct 2006 17:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/11/pustaka-otonomis-pindah-alamat/</guid>
		<description><![CDATA[Pustaka Otonomis, Proyek pengarsipan dan pengembangan berbagai dokumen dan literatur anti-otoritarian dan Anarkis berbahasa indonesia dalam bentuk teks yang semula beralamat di http://www.jakartaresistance.net/librari/index.php kini punya rumah baru dengan semangat baru kunjungi http://pustaka.otonomis.org kami masih mengharapkan bantuan kontribusi dari kawan-kawan sekalian dalam memperkaya Pustaka Otonomis ini. kirimkan email, artikel, saran, kritik, atau gabung di pustaka-otonomis@lists.riseup.net atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pustaka Otonomis, Proyek pengarsipan dan pengembangan berbagai dokumen dan literatur anti-otoritarian dan Anarkis berbahasa indonesia dalam bentuk teks yang semula beralamat di</p>
<p><a href="http://www.jakartaresistance.net/librari/index.php" target="_blank">http://www.jakartaresistance.net/librari/index.php</a></p>
<p>kini punya rumah baru dengan semangat baru <img src='http://anarchoi.gudbug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>kunjungi <a href="http://pustaka.otonomis.org/" target="_blank">http://pustaka.otonomis.org</a></p>
<p>kami masih mengharapkan bantuan kontribusi dari kawan-kawan sekalian dalam memperkaya Pustaka Otonomis ini.</p>
<p>kirimkan email, artikel, saran, kritik, atau gabung di <a href="http://anarchoi.gudbug.com/sm/src/compose.php?send_to=pustaka-otonomis%40lists.riseup.net">pustaka-otonomis@lists.riseup.net</a> atau kunjungi <a href="http://lists.riseup.net/www/info/pustaka-otonomis" target="_blank">http://lists.riseup.net/www/info/pustaka-otonomis</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=h" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/11/pustaka-otonomis-pindah-alamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Selasa Malam</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/04/cerita-selasa-malam/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/04/cerita-selasa-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Oct 2006 06:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/04/cerita-selasa-malam/</guid>
		<description><![CDATA[Kelas Diskusi Mingguan Buat semua teman-teman yang pusing nyari tempat tongkrongan asik sambil sharing soal macem-macem. Ada kelas diskusian tiap selasa malem, okelah kalo kelas kedengerannya lebih formil kita ganti dengan istilah tongkrongan aja deh. Tempat kongkow soal berbagai topik baik yang masih anget sampe yang basi-basi, dari mulai perspektif orang awam sampe nyoba-nyoba perspektif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kelas Diskusi Mingguan</strong></p>
<p>Buat semua teman-teman yang pusing nyari tempat tongkrongan asik sambil sharing soal macem-macem. Ada kelas diskusian tiap selasa malem, okelah kalo kelas kedengerannya lebih formil kita ganti dengan istilah tongkrongan aja deh. Tempat kongkow soal berbagai topik baik yang masih anget sampe yang basi-basi, dari mulai perspektif orang awam sampe nyoba-nyoba perspektif anti-otoritarian.</p>
<p>Diskusian ini dibuka bebas buat siapa saja, karena itulah diadakan diruang publik terbuka. Diskusian ini udah dimulai sejak tanggal 22 Agustus 2006, dan masih aktif sampai tadi malam, dan semoga selasa-selasa mendatang. Gak cuman diskusian kadang ada sesi nonton bareng, bahkan mencicipi berbagai minuman tradisional yang suka dibawa begitu saja sama teman-teman peserta diskusi <img src='http://anarchoi.gudbug.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Diskusian ini dipelopori oleh <a title="Jaringan Otonomis" target="_blank" href="http://www.otonomis.org">Jaringan Otonomis</a>, dan awal idenya merupakan sarana sharing ide dan komunikasi internal organisasi, namun lambat laun diskusian ini jadi terbuka buat siapa saja.</p>
<p>Oke, dateng aja tiap selasa malam rabu sekitar jam 20.00 WIB, tempatnya dihalaman Museum Fatahillah (biasanya kita nempatin wilayah sekitar bom meriam yang ada di kanan musium). Diskusian biasanya diisi dengan topik yang udah diiapkan, tapi gak jarang juga diskusi diisi dengan obrolan dadakan. Siapa aja boleh dateng, jadi dateng yahhh!!!!</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=`" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/04/cerita-selasa-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGUBAH tanpa MENGAMBIL</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/09/06/mengubah-tanpa-mengambil/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/09/06/mengubah-tanpa-mengambil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Sep 2006 07:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[otonomis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/09/06/mengubah-tanpa-mengambil/</guid>
		<description><![CDATA[Dapatkah kita mengubah dunia tanpa mengambil-alih kekuasaan? Saya tidak tahu jawabannya. Mungkin saja kita bisa mengubah dunia tanpa merebut kekuasaan. Mungkin juga tidak. Titik berangkat&#8211;bagi kita semua, menurut saya&#8211;adalah ketidakmenentuan, ketidaktahuan, sebuah pencarian bersama kedepan. Kita mencari sebuah jalan kedepan, karena sudah semakin jelas bahwa kapitalisme adalah sebuah bencana bagi kemanusiaan. Revolusi, sebagai sebuah perubahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dapatkah kita mengubah dunia tanpa mengambil-alih kekuasaan?</strong></p>
<p>Saya tidak tahu jawabannya. Mungkin saja kita bisa mengubah dunia tanpa merebut kekuasaan. Mungkin juga tidak. Titik berangkat&#8211;bagi kita semua, menurut saya&#8211;adalah ketidakmenentuan, ketidaktahuan, sebuah pencarian bersama kedepan. Kita mencari sebuah jalan kedepan, karena sudah semakin jelas bahwa kapitalisme adalah sebuah bencana bagi kemanusiaan. Revolusi, sebagai sebuah perubahan radikal dari masyarakat, adalah sesuatu yang tidak dapat menunggu. Dan revolusi ini haruslah revolusi (yang terjadi di seluruh) dunia kalau kita memang menginginkan sebuah revolusi yang efektif. Namun revolusi ini tidak dapat terjadi dengan satu kali hentakan. Ini berarti satu-satunya cara dimana kita bisa menyiapkan revolusi adalah serupa dengan revolusi insterstisial, sebuah revolusi yang akan terjadi di antara celah-celah kapitalisme, revolusi yang menduduki ruang-ruang diseluruh dunia ketika kapitalisme masih terus berjalan. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menyusun celah-celah ini, apakah di dalam bentuk negara-negara atau dengan cara-cara yang lainnya.</p>
<p><span id="more-87"></span>Di dalam memikirkannya, kita harus memulai dari dimana kita berada, dari berbagai pemberontakan dan insubordinasi yang telah membawa kita ke tempat dimana kita berada. Dunia dipenuhi dengan pemberontakan-pemberontakan, orang-orang yang berkata tidak kepada kapitalisme: <em>TIDAK, kami tidak akan menghidupi kehidupan kami menurut gerak kapitalisme, kami akan melakukan apa yang menurut kami diperlukan atau diinginkan dan tidak menurut apa yang kapital perintahkan kepada kami</em>. Terkadang kita melihat kapitalisme sebagai sebuah sistem dominasi yang meliputi semuanya dan lupa bahwa pemberontakan-pemberontakan tersebut terjadi dimana-mana. Terkadang pemberontakan semacam itu sangatlah kecil sehingga mereka yang terlibatpun tidak menganggapnya sebagai sebuah pemberontakan, tapi seringkali mereka adalah proyek-proyek kolektif yang mencari sebuah jalan alternatif kedepan dan adakalanya mereka sebesar para pemberontak di hutan Lacandon (Zapatista) atau Argentina beberapa tahun lalu serta pemberontakan di Bolivia. Berbagai bentuk insubordinasi semacam ini dikarakteristikan oleh sebuah gerak menuju kemandirian diri, sebuah impuls yang berkata <em>“Tidak, kamu tidak akan mengatakan apa yang harus kami lakukan, kami harus menentukan sendiri apa yang harus kami lakukan.”</em></p>
<p>Berbagai penolakan ini dapat dipahami sebagai celah-celah, seperti halnya retakan di dalam sistem dominasi kapitalisme. Kapitalisme bukanlah (dari awalnya) sebuah sistem ekonomi, tapi sebuah sistem perintah. Kaum Kapitalis, melalui uang, memerintah kita. Untuk melakukan penolakan kita harus menghancurkan perintah dari kapital. Pertanyaan bagi kita, sekarang, adalah bagaimana kita memperluas penolakan-penolakan semacam ini, memperbanyak retakan di dalam tekstur dominasi. Ada dua cara yang bisa dipertimbangkan.</p>
<p>a) Yang pertama mengajukan bahwa gerakan-gerakan ini, berbagai macam insubordinasi ini, kurang kematangan dan efektifitas apabila tidak difokuskan, serta tidak diarahkan pada sebuah gol. Untuk bisa menjadi efektif, mereka harus diarahkan menuju pengambil-alihan kekuasaan negara&#8211;entah itu melalui pemilihan-pemilihan atau dengan menggulingkan negara dan menggantinya dengan sebuah bentuk negara baru yang revolusioner. Bentuk organisasional untuk melangkah menuju gol tersebut adalah melalui partai. Pertanyaan mengenai pengambil-alihan kekuasaan negara bukanlah sebuah pertanyaan tujuan-tujuan kedepan, tapi lebih pada bentuk organisasi yang sekarang ada. Bagaimana seharusnya kita mengorganisasikan diri kita sekarang ini? Haruskah kita bergabung dengan sebuah partai, sebuah bentuk organisasional yang memanfaatkan kesengsaraan kita untuk dapat meraih kekuasaan negara? Ataukah kita harus mengorganisasikannya dengan cara yang berbeda?</p>
<p>b) Cara kedua di dalam memikirkan tentang perluasan dan penggandaan dari insubordinasi adalah dengan berkata “Tidak, berbagai bentuk pemberontakan tersebut tidak seharusnya dihubungkan bersama di dalam sebuah bentuk partai, mereka harus berkembang secara bebas, dan melangkah kemana saja perjuangan membawa mereka. Ini bukan berarti tanpa koordinasi, namun koordinasinya harus lebih longgar. Kesimpulannya, tujuan nyatanya bukanlah negara tapi masyarakat yang ingin kita ciptakan.</p>
<p>Argumen prinsipil yang menentang bentuk pertama adalah karena itu akan membawa kita menuju arah yang keliru. Negara bukan sebuah benda, juga bukan sebuah obyek yang netral: ia adalah sebuah bentuk hubungan sosial, sebuah bentuk organisasi, sebuah cara untuk melakukan sesuatu yang telah berkembang selama beberapa abad dengan tujuan melestarikan dan mengembangkan kekuasaan kapital. Apabila kita memfokuskan perjuangan di dalam negara, atau kita menganggap negara sebagai tujuan prinsipil, kita harus memahami bahwa negara mempengaruhi kita untuk mengarah menuju sebuah jalan tertentu. Terlebih lagi, negara akan menjadi alat untuk memisahkan perjuangan kita dengan masyarakat, untuk mengubah perjuangan kita menjadi sebuah perjuangan <em>mewakili, atau atas nama (rakyat).</em> Ia memisahkan pemimpin dari massanya, sang perwakilan dari yang diwakilkan, ia menarik kita menuju sebuah cara yang berbeda di dalam berpikir dan berbicara. Ia menarik kita menuju sebuah proses rekonsiliasi dengan realita, dan realita tersebut adalah realita dari kapitalisme, sebuah bentuk organisasi sosial yang didasari atas eksploitasi dan ketidakadilan, pembantaian serta penghancuran. Ia juga akan menarik kita menuju sebuah definisi spasial mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu, sebuah definisi spasial yang menciptakan pemisahan nyata antara teritori negara dan dunia luar, dan sebuah pemisahan nyata antara warga negara dan orang asing. Ia menarik kita menuju sebuah definisi spasial mengenai perjuangan yang tidak akan sepadan dengan gerak global dari kapital.</p>
<p>Ada satu konsep kunci di dalam sejarah negara-negara yang berorientasi kekirian, dan konsep itu adalah pengkhianatan. Dari waktu ke waktu, para pemimpin selalu mengkhianati pergerakan, dan penyebabnya bukanlah karena mereka (para pemimpin tersebut) adalah orang-orang yang tidak baik, namun karena negara sebagai sebuah bentuk organisasi memisahkan para pemimpin dari pergerakan dan lebih jauh lagi, membawa mereka menuju sebuah proses rekonsiliasi dengan kapital. Pengkhianatan sudah menjadi sebuah prinsip organiasasi dari negara. Bisakah kita menolaknya? Ya, tentu saja kita bisa, dan ini adalah sesuatu yang selalu saja terjadi. Kita dapat menolak pemimpin-pemimpin atau perwakilan yang ditunjuk oleh negara untuk pergerakan, kita dapat menolak para delegasi untuk melakukan negosiasi secara tertutup dengan para perwakilan dari negara. Namun ini mengisyaratkan pemahaman bahwa bentuk organisasi kita sangatlah berbeda dengan yang ada pada negara, dan tidak ada kemiripan diantara keduanya. Negara adalah bentuk organisasi yang <em>mewakilkan, </em>dan apa yang kita inginkan adalah organisasi mandiri, sebuah organisasi yang mengizinkan kita untuk dapat mengartikulasikan apa yang kita inginkan, apa yang kita putuskan, apa yang kita pertimbangkan penting dan dihasratkan. Apa yang kita inginkan, dengan kata lain, adalah sebuah bentuk organisasi yang tidak memiliki orientasi untuk mengambil-alih negara.</p>
<p>***</p>
<p>Argumen yang menentang bentuk pengambil-alihan negara sudah jelas, tapi konsep alternatifnya seperti apa? Argumen dari mereka yang berorientasi menuju pengambil-alihan negara dapat dilihat sebagai konsepsi yang sudah pasti dari perkembangan perjuangan. Perjuangan disusun seperti halnya sebuah tujuan pasti, yaitu pengambil-alihan kekuasaan negara. Pertama kita mengkonsentrasikan setiap usaha kita untuk meraih negara, melakukan pengorganisiran untuk itu, dan baru setelah kita dapat meraih negara, kita dapat memikirkan bentuk organisasi yang lain, dan mempertimbangkan cara untuk merevolusikan masyarakat. Pertama kita bergerak kesatu arah, untuk dapat menuju arah yang lain: masalahnya adalah, dinamika pengambil-alihan pada fase pertama itu cukup sulit dan akan menjadi tidak mungkin dirubah pada fase keduanya. Konsep kedua fokus langsung pada bentuk masyarakat seperti apa yang ingin kita ciptakan, tanpa adanya fase pengambil-alihan negara. Tidak ada titik pasti disini: organisasi dipertimbangkan terlebih dahulu, dan langsung dihubungkan dengan hubungan-hubungan sosial yang ingin diciptakan. Konsep pertama melihat bahwa perubahan radikal dari masyarakat akan terjadi setelah pengambil-alihan kekuasaan, konsep yang kedua menekankan bahwa perubahan radikal itu harus dilakukan sekarang. Bukannya revolusi yang terjadi ketika waktunya sudah tepat, tetapi revolusi yang dilakukan disini dan sekarang.</p>
<p>Pertimbangan awal ini, revolusi yang dilakukan disini dan sekarang ini pada intinya melangkah menuju kemandirian diri. Kemandirian diri tidak dapat hidup di dalam sebuah masyarakat kapitalis. Apa yang bisa dan memang hidup (di dalam masyarakat kapitalis) adalah gerak menuju kemandirian sosial: pergerakan melawan keterasingan diri. Sebuah pergerakan semacam ini adalah sesuatu yang sangat eksperimental, namun ada tiga hal yang sudah jelas:</p>
<p>a) Gerak menuju kemandirian adalah sebuah gerak yang menentang pemerintahan yang dipaksakan oleh elemen lain dengan mengatasnamakan kepentingan kita. Karenanya (pergerakan) ini adalah sebuah pergerakan melawan demokrasi representatif demi penciptaan sebuah bentuk demokrasi langsung.</p>
<p>b) Gerak menuju kemandirian tidak dapat disetarakan dengan negara, yang merupakan sebuah bentuk organisasi yang memutuskannya untuk kita dan lebih lanjut mengesampingkan kita.</p>
<p>c) Gerak menuju kemandirian tidak akan berarti apabila tidak melibatkan titik utama dari kemandirian kerja dan aktivitas kita. Yang seharusnya diarahkan untuk melawan organisasi kerja kapitalis. Apa yang kami bicarakan, oleh karena itu, bukanlah hanya demokrasi tapi juga komunisme, bukan hanya pemberontakan tapi juga revolusi.</p>
<p>Bagi saya, konsepsi kedua mengenai revolusi inilah yang harus kita konsentrasikan. Fakta bahwa kita menolak konsepsi ‘pengambil-alihan negara’ bukan berarti kalau konsepsi ‘tanpa-negara’ tidak memiliki masalahnya sendiri. Saya melihat tiga masalah prinsipil, dan tidak satupun dari argumen dibawah ini merupakan pembenaran untuk mengambil-alih kekuasaan negara:</p>
<p>a) Isu pertama adalah bagaimana cara menangani represi dari negara. Jawabannya menurut saya bukanlah mempersenjatai diri kita agar kita dapat mengalahkan negara di dalam konfrontasi terbuka: cukup diragukan kalau kita akan menang dan malahan kita akan mereproduksi hubungan-hubungan sosial otoritarian yang sedang kita lawan. Bukan juga dengan cara mengambil-alih negara agar kita dapat menguasai kekuatan militer dan polisi: penggunaan tentara dan polisi mengatasnamakan rakyat biasanya akan berakhir menjadi konflik dengan perjuangan yang tidak menginginkan siapapun untuk bertindak mewakili mereka. Ini meninggalkan kita pilihan untuk mencari cara mencegah negara mempraktikan kekerasan kepada kita: ini mungkin melibatkan beberapa tingkat dari gerakan bersenjata (seperti halnya dengan Zapatista), namun kita harus mengaitkannya dengan kekuatan pemberontakan yang berada di dalam komunitas.</p>
<p>b) Isu kedua adalah dapatkah kita membangun kerja-kerja alternatif (aktivitas produktif yang alternatif) di dalam kapitalisme, dan sampai pada tingkat berapa kita dapat menciptakan sebuah ikatan sosial antar tiap aktivitas, yang tidak berupa nilai. Banyak eksperimen yang menunjukan kepada solusi yang mirip (<em>Fabricas Recuperadas </em>di Argentina, misalnya) dan kemungkinan-kemungkinannya seperti biasa bergantung pada skala dari pergerakan itu sendiri, dan ini masih menjadi sebuah masalah yang besar. Bagaimana kita memikirkan sebuah kemandirian sosial dari produksi dan distribusi yang bergerak dari bawah keatas (melalui celah-celah pemberontakan) dan bukannya dari sebuah badan perencanaan pusat.</p>
<p>c) Isu ketiganya adalah organisasi sosial yang mandiri. Bagaimana kita mengorganisir sebuah sistem demokrasi langsung pada sebuah skala yang dapat mejangkau lebih jauh dari wilayah lokal di dalam sebuah masyarakat yang kompleks? Jawaban klasiknya adalah dibentuknya dewan-dewan yang terhubung di dalam dewan utama dimana setiap bentuk dewan dapat mengirim perwakilan yang kapan saja dapat diganti. Secara mendasar pandangan seperti ini cukup baik pada awalnya, tapi cukup jelas, bahwa di dalam kelompok yang kecilpun pelaksanaan demokrasi selalu problematis. Karena itu, menurut saya, satu-satunya cara untuk dapat melaksanakan demokrasi langsung adalah melalui sebuah proses eksperimentasi yang konstan dan refleksi sebagai bentuk pembelajaran. Jadi, dapatkah kita mengubah dunia tanpa merebut kekuasaan?</p>
<p><strong>John Holloway</strong> &#8211; Adalah seorang pemikir ekonomi Marxis yang berhubungan dekat dengan pergerakan Zapatista di Meksiko &#8211; kota yang telah menjadi kampung halamannya semenjak 1991. Holloway merupakan bagian dari lingkaran Marxis otonomis, sebuah kecenderungan varian Marxis pasca-modern untuk membangun perubahan sosial melalui bawah tanpa mengambil-alih kekuasaan. Buku pentingnya – <em>Change The World Without Taking Power – </em>telah menjadi kontroversi diantara kalangan Marxis, dimana ia mengusulkan sebuah revolusi tanpa mengambil alih negara, tapi justru dengan menghancurkan kekuasaan melalui aksi-aksi konstruktif melawan hubungan-hubungan sosial masyarakat kapitalis.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=W" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/09/06/mengubah-tanpa-mengambil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
