<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]! &#187; tentang akhirat?</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/category/tentang-akhirat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2010 05:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>AGAMIS VS AGAMA</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/agamis-vs-agama/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/agamis-vs-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2007 09:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/agamis-vs-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Resapi dulu apa maknaku itu! Hanya eksistensi hurufkah? Agama bukan jalan, bukan pula sampah Tapi agama yang bagaimana? Nalarku berbisik &#8216;AGAMA ITU SAMPAH&#8217;! Untuk apa aku bertobat dengan kata-kataku, untuk sebuah fakta dunia yang basi&#8230; Silakan aku setan yang mempersetani agama, agama apa? Setubuhi, telanjangi puisiku yang bukan puisi! Imej itu memuakkan, aku bersumpah&#8230;! Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Resapi dulu apa maknaku itu!<br />
Hanya eksistensi hurufkah?<br />
Agama bukan jalan, bukan pula sampah<br />
Tapi agama yang bagaimana?<br />
Nalarku berbisik &#8216;AGAMA ITU SAMPAH&#8217;!</p>
<p>Untuk apa aku bertobat dengan kata-kataku,<br />
untuk sebuah fakta dunia yang basi&#8230;<br />
Silakan aku setan yang mempersetani agama, agama apa?<br />
Setubuhi, telanjangi puisiku yang bukan puisi!</p>
<p>Imej itu memuakkan, aku bersumpah&#8230;!<br />
Tapi apa di balik imej, jangan tanya kenapa?<br />
Terlalu instan dan menjijikan&#8230;<br />
Parang bukan jawaban.</p>
<p>EZY DISEASE<br />
BANDUNG<br />
KONTAK: njrenx@yahoo.com</p>
<p>note : puisi ini adalah puisi lanjutan sekaligus tanggapan dari penulisnya atas berbagai komentar terhadap puisi sebelumnya berjudul <strong><a href="http://anarchoi.gudbug.com/2007/01/05/agama-itu-sampah-2/">Agama itu Sampah</a></strong></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2007/05/08/agamis-vs-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mustahilnya Tuhan</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Nov 2006 09:25:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut ini diambil dari majalah Free Inquiry, Vol. 18, No. 3. BANYAK dari yang dilakukan orang, dilakukan atas nama Tuhan. Orang Irlandia marah kepada satu sama lain atas nama Tuhan. Orang Arab mengutuki dirinya sendiri atas nama Tuhan. Para imam dan ayatollah menindas perempuan atas nama Tuhan. Para paus dan pendeta yang hidup membujang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Artikel berikut ini diambil dari majalah <em>Free Inquiry</em>, Vol. 18, No. 3.</strong></p>
<p>BANYAK dari yang dilakukan orang, dilakukan atas nama Tuhan. Orang Irlandia marah kepada satu sama lain atas nama Tuhan. Orang Arab mengutuki dirinya sendiri atas nama Tuhan. Para imam dan ayatollah menindas perempuan atas nama Tuhan. Para paus dan pendeta yang hidup membujang mengacaukan kehidupan seks orang lain atas nama Tuhan. Para shohet Yahudi memotong tenggorokan binatang-binatang hidup atas nama Tuhan. Prestasi agama dalam sejarah masa lalu—perang-perang berdarah, inkuisisi yang penuh penyiksaan, para penakluk yang melakukan pembunuhan massal, para misionaris yang menghancurkan kebudayaan, perlawanan hingga detik terakhir yang diperkuat secara hukum terhadap setiap keping baru kebenaran ilmiah—bahkan lebih mengesankan. Dan apa manfaat dari itu semua? Saya yakin bahwa kini menjadi semakin jelas, jawabannya: tidak ada samasekali. Tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa semacam apapun dari Tuhan itu eksis, dan justru ada alasan yang sangat kuat untuk meyakini bahwa Tuhan-Tuhan itu tidak eksis, dan tak pernah eksis. Segala macam kepercayaan tentang Tuhan itu merupakan penyia-nyiaan waktu yang sangat besar, bahkan penyia-nyiaan hidup. Kepercayaan itu hanya akan menjadi lelucon dengan proporsi kosmis, kalau bukan malah sangat tragis.</p>
<p><span id="more-117"></span>Mengapa orang percaya Tuhan? Bagi kebanyakan orang, jawabannya tetap adalah suatu versi kuno dari Argumen berdasarkan Bentuk-Rancang. Kita melihat di sekitar kita adanya keindahan dan seluk-beluk dunia — adanya sayap burung layang-layang yang aerodinamis, adanya keindahan bunga-bunga dan kupu-kupu yang menyuburkannya, lewat sebuah mikroskop kita melihat begitu padatnya kehidupan dalam setiap tetes air kolam, lewat sebuah teleskop kita melihat pucuk sebuah pohon redwood raksasa. Kita berefleksi pada kompleksitas elektronik dan kesempurnaan optik dari mata kita sendiri yang melakukan aktivitas melihat. Jika kita punya imajinasi apapun, maka hal-hal ini mendorong kita pada suatu perasaan terpesona dan keta’ziman. Terlebih lagi, kita tidak bisa mengelak dari fakta adanya kemiripan yang nyata pada organ-organ hidup, hingga kita harus mengakui adanya bentuk-rancang yang direncanakan dengan sangat cermat oleh perekayasa manusia. Argumen ini paling masyhur diungkapkan dalam analogi tentang pembuat arloji oleh pendeta abad ke delapanbelas, William Paley. Kendati anda tidak tahu apa itu arloji, namun sifat dari gigi-gigi roda dan pegas-pegasnya yang jelas dirancang—dan cara bagaimana elemen-elemen itu ditautkan—untuk satu tujuan tertentu akan memaksa anda untuk menyimpulkan bahwa “arloji itu pasti ada pembuatnya: bahwa pastilah pernah ada pada suatu waktu, dan di tempat tertentu ataupun kondisi lainnya, satu pencipta dari segala pencipta, yang membentuknya untuk tujuan tertentu, hal mana kita benar-benar mendapatkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan siapa yang mengerti konstruksinya dan merancang kegunaannya.” Jika ini benar berlaku untuk sebuah arloji yang sederhana, bukankah ia makin benar berlaku untuk mata, telinga, ginjal, sendi siku, otak? Struktur-struktur yang indah, rumit, sangat berlika-liku, dan jelas-jelas dibuat untuk tujuan tertentu ini pastilah memiliki perancangnya sendiri, pembuat arlojinya sendiri — Tuhan.</p>
<p>Begitulah argumen Paley; dan ini adalah sebuah argumen yang mana hampir semua orang yang berpikir dan sensitif menemuinya pada suatu saat tertentu dari masa kanak-kanak mereka. Di sepanjang sebagian besar sejarah, argumen Paley ini pastilah dianggap sangat meyakinkan, dianggap oleh diri sendiri sebagai terbukti benar. Namun demikian, sebagai hasil dari salah satu revolusi intelektual yang paling menakjubkan dalam sejarah, kini kita tahu bahwa hal itu salah, atau setidaknya berlebihan. Kini kita mengetahui bahwa tatanan dan tujuan nyata dari dunia hidup telah muncul melalui sebuah proses yang samasekali berbeda, sebuah proses yang berlangsung tanpa perlu adanya perancang macam apapun, dan sebuah proses yang merupakan konsekuensi dari hukum-hukum fisika yang pada dasarnya sangatlah sederhana. Ini adalah proses evolusi dengan seleksi alam yang telah diungkap oleh Charles Darwin, dan secara terpisah juga oleh Alfred Russel Wallace.</p>
<p>Apa yang sama dimiliki oleh semua benda yang nampak seolah pasti memiliki satu perancang itu? Jawabannya adalah kemustahilan statistik. Jika kita mendapati sebuah batu koral transparan yang digerus oleh air laut hingga menjadi sebentuk lensa kasar, kita tidak akan menyimpulkan bahwa ia pasti telah dirancang oleh seorang ahli optik: hukum-hukum fisika yang tak mendapat intervensi apapun mampu mencapai hasil sedemikian itu; bukanlah terlalu mustahil untuk mendapatinya telah “begitu saja terjadi”. Tetapi, kalau kita menemukan sebuah lensa gabungan yang terperinci, yang telah teratur sangat teliti untuk mencegah terjadinya penyimpangan bentuk lingkaran dan kromatis, telah dilapisi untuk mencegah kesilauan, dan ada tulisan “Carl Zeiss” yang dibubuhkan di tepi lingkarannya, maka kita tahu bahwa benda itu tak mungkin begitu saja terwujud secara kebetulan. Jika anda mengambil semua atom dari sebuah lensa gabungan seperti itu, di bawah pengaruh gaya aksi-reaksi hukum-hukum fisika alam yang biasa, maka secara teoritis adalah mungkin bahwa, dengan keberuntungan belaka, atom-atom tersebut akan begitu saja tiba dalam pola lensa gabungan tipe Zeiss, bahkan bisa saja atom-atom tersebut membentuk lingkaran sedemikian rupa sehingga nama Carl Zeiss pun tertorehkan. Akan tetapi, jumlah cara-cara lain yang dengan itu atom-atom tersebut bisa—dengan peluang yang setara—tersusun adalah begitu banyak, sangat luas, tak terhitung banyaknya hingga kita bisa samasekali mengabaikan hipotesis peluang. Peluang adalah di luar pembahasan sebagai sebuah penjelasan.</p>
<p>Ngomong-ngomong, ini bukanlah argumen yang tak berujung-pangkal. Ini barangkali nampak tak berujung-pangkal karena, bisa dikatakan, susunan partikular apapun dari atom-atom adalah—jika ditinjau ke belakang—sangat mustahil. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ketika sebuah bola mendarat di atas sehelai rumput tertentu di lapangan golf, maka adalah bodoh bila kita menyatakan: “Dari jutaan helai rumput di atas mana bola itu bisa jatuh, sebenarnya bola itu memang akan jatuh ke atas rumput yang satu ini. Luarbiasa mustahil!” Sesat-fikir-nya di sini, tentu saja ialah, bahwa bola itu (dikatakan) harus mendarat di suatu tempat. Kita hanya bisa takjub pada kejadian yang seharusnya mustahil terjadi, jika kita terlebih dahulu telah mengkhususkannya: sebagai contoh, jika seseorang yang matanya ditutup rapat berjalan memutari tee , kemudian memukul bola itu secara sembarang dan mampu mencapai hole in one , itu baru benar-benar menakjubkan, karena sasaran yang dituju bola telah dikhususkan sebelumnya.</p>
<p>Dari trilyunan cara berbeda untuk menyusun atom-atom dari sebuah teleskop, hanya suatu minoritas yang benar-benar akan berfungsi dalam suatu cara yang berguna. Hanya suatu minoritas kecil yang akan mengukir kata Carl Zeiss di atas lensanya, atau kata-kata apapun yang bisa dikenali dari bahasa manusia manapun. Hal yang sama juga berlaku untuk bagian-bagian dari sebuah arloji: dari milyaran cara yang mungkin untuk menyusun elemen-elemen itu menjadi satu, hanya suatu minoritas kecil yang akan menunjukkan waktu atau melakukan apapun yang berguna. Dan tentu saja hal yang sama berlaku, secara a fortiori, untuk bagian-bagian sebuah badan yang hidup. Dari trilyunan cara untuk menyusun bagian-bagian dari sebuah badan, hanya minoritas sangat kecil yang akan hidup, mencari makanan dan ber-reproduksi. Benar bahwa memang ada banyak cara berbeda untuk hidup—setidaknya ada sepuluh juta cara berbeda bila kita menghitung jumlah spesies tersendiri yang hidup sekarang ini—tetapi, betapapun banyaknya cara yang mungkin untuk hidup, yang pasti ialah bahwa ada jauh lebih banyak cara untuk mati!</p>
<p>Kita bisa dengan aman menyimpulkan bahwa benda-benda hidup adalah milyaran kali terlalu rumit—secara statistik terlalu mustahil—untuk muncul ke keberadaan secara kebetulan belaka. Lantas, bagaimana benda-benda hidup itu muncul ke keberadaan? Jawabannya ialah, bahwa peluang memang masuk ke dalam cerita, tetapi bukan satu babak peluang yang tunggal, monolitik. Bukan itu, melainkan keseluruhan rangkaian langkah peluang yang kecil, masing-masingnya cukup kecil untuk menjadi produk yang bisa dipercaya dari pendahulunya, yang terjadi satu per satu secara berurutan. Langkah-langkah peluang yang kecil ini disebabkan oleh mutasi-mutasi genetik, perubahan-perubahan acak—sungguh merupakan kesalahan-kesalahan—dalam materi genetik. Hal-hal tersebut memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam struktur jasmaniah yang kini ada. Sebagian besar dari perubahan-perubahan ini bersifat merugikan dan menggiring pada kematian. Suatu minoritas di antaranya berubah hingga mengalami penyempurnaan-penyempurnaan kecil, yang menggiring pada daya tahan hidup serta reproduksi yang meningkat. Dengan proses seleksi alam ini, perubahan-perubahan acak yang jadi menguntungkan itu pada akhirnya menyebar lewat spesies dan menjadi norma. Tahapan pun kemudian tersetel untuk perubahan kecil berikutnya dalam proses evolusioner. Setelah, katakanlah, seribuan dari perubahan-perubahan kecil dalam rangkaian ini, yang mana masing-masing perubahan menyediakan basis bagi perubahan berikutnya, maka hasil akhirnya telah jadi—lewat sebuah proses akumulasi—terlalu kompleks untuk bisa muncul dalam sebuah babak peluang yang tunggal.</p>
<p>Sebagai contoh, secara teoritis adalah mungkin bagi sebuah mata untuk muncul ke keberadaan—dalam satu langkah tunggal yang beruntung—dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa: katakanlah hanya dari kulit saja. Ini secara teoritis mungkin dalam arti bahwa, sebuah formula bisa saja dituliskan dalam bentuk sejumlah besar mutasi. Apabila semua mutasi ini terjadi secara serentak, maka sungguh sebuah mata yang sempurna bisa muncul dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa. Tetapi, meski secara teoritis mungkin, namun hal ini dalam prakteknya tak terbayangkan. Kuantitas faktor keberuntungan yang terlibat terlalu besar. Formula yang “tepat” melibatkan perubahan-perubahan dalam sejumlah sangat besar gen-gen secara serentak. Formula yang tepat adalah satu kombinasi tertentu perubahan-perubahan dari trilyunan kombinasi peluang yang setara kemungkinannya. Kita tentu saja bisa tidak mengakui kebetulan yang ajaib seperti itu. Akan tetapi, sangat masuk akal bahwa mata moderen bisajadi terwujud dari sesuatu yang hampir sama dengan mata moderen, namun tidak persis sama: sebuah mata yang sedikit sekali kurang-terperincinya [dibandingkan mata moderen]. Dengan argumen yang sama, mata yang sedikit sekali kurang-terperincinya ini juga terwujud dari sebuah mata sebelumnya yang sedikit sekali kurang-terperincinya, dan begitu seterusnya. Jika anda mengasumsikan suatu jumlah yang cukup besar dari perbedaan-perbedaan yang cukup kecil di antara masing-masing tahap evolusioner dan pendahulunya, maka anda—mau tidak mau—harus mengakui bahwa sebuah mata moderen yang sempurna bisa berasal dari kulit melulu. Ada berapa banyak tahap-antara yang bisa kita dalilkan? Itu tergantung pada berapa panjang rentang waktu yang harus kita bahas. Apakah ada cukup banyak waktu bagi mata untuk berevolusi dengan langkah-langkah kecil dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa?</p>
<p>Fosil-fosil menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan telah dan sedang berevolusi di bumi ini selama lebih dari 3.000 juta tahun. Nyaris mustahil bagi pikiran manusia untuk menjangkau panjangnya rentang waktu seperti itu. Kita, secara alami dan untungnya memang seperti ini, cenderung melihat masa hidup kita yang kita harapkan sendiri sebagai suatu masa yang cukup panjang, tetapi kita jelas tidak bisa berharap untuk hidup sampai satu abad. Kini telah 2.000 tahun berlalu sejak masa Yesus hidup — suatu rentang waktu yang cukup panjang untuk mengaburkan garis pemisah antara sejarah dan mitos. Bisakah anda membayangkan satu juta periode waktu seperti itu sejak pangkal hingga ujungnya? Misalkan kita ingin menulis keseluruhan sejarah di atas sebuah gulungan kertas tunggal yang panjang. Jika kita menjejalkan seluruh sejarah Common Era dalam gulungan kertas sepanjang satu meter, berapa panjang bagian pra-Common Era di gulungan itu? Lalu masa permulaan evolusi, berapa panjang? Jawabannya ialah, bahwa bagian pra-Common Era di gulungan itu akan membentang dari Milan ke Moskow. Pikirkanlah implikasi-implikasi dari hal ini terhadap kuantitas perubahan evolusioner yang bisa diakomodir. Semua keturunan domestik anjing—peking, pudel, spaniel, Saint Bernard dan chihuahua—berasal dari srigala dalam suatu rentang waktu yang diukur dalam ratusan atau paling banter ribuan tahun: tak lebih dari dua meter sepanjang jalan dari Milan ke Moskow. Pikirkanlah kuantitas perubahan yang terlibat dalam proses beranjak dari seekor srigala menjadi seekor anjing peking; kemudian kalikan kuantitas itu dengan satu juta. Kalau anda memandangnya seperti itu, maka mudahlah untuk mempercayai bahwa sebuah mata bisajadi telah berevolusi dari tidak ada mata, dengan tingkat-tingkat yang kecil.</p>
<p>Tetaplah saja perlu kiranya memuaskan rasa ingin tahu kita bahwa setiap orang di masa-masa antara dalam jalur evolusioner, katakanlah dari hanya kulit menjadi sebuah mata moderen, telah diuntungkan oleh seleksi alam; bisajadi berupa suatu penyempurnaan dari pendahulunya dalam deretan itu, atau, setidaknya, bentuk yang mampu bertahan. Tidaklah baik kiranya berupaya membuktikan kepada diri kita bahwa, secara teoritis ada sebuah mata rantai dari masa-masa antara yang nyaris jelas, yang menggiring pada sebuah mata, jika banyak dari masa-masa antara itu bisa saja telah mati. Kadang-kadang ada yang berargumen bahwa bagian-bagian dari sebuah mata harus ada lengkap semuanya, atau, jika tidak, maka mata itu samasekali tidak bisa berfungsi. Sebelah mata, lanjut argumen itu, tidaklah lebih baik daripada tidak ada mata samasekali. Anda tidak bisa terbang hanya dengan sebelah sayap; anda tidak bisa mendengar hanya dengan sebelah telinga. Karenanya, tak mungkin ada serangkaian masa-antara setahap demi setahap yang menggiring pada terwujudnya sebuah mata, sayap ataupun telinga moderen.</p>
<p>Tipe argumen seperti ini begitu naifnya, hingga orang hanya bisa penasaran dalam dorongan bawah-sadar untuk mempercayainya. Jelas tidaklah benar bahwa sebelah mata itu tidak berguna. Para penderita katarak, yang lensa-lensa matanya telah diangkat lewat operasi, tidak bisa melihat dengan baik tanpa kacamata, tapi nasib mereka jauh lebih baik ketimbang orang yang tidak punya mata samasekali. Tanpa sebuah lensa, anda tidak bisa memfokuskan penglihatan pada suatu sosok yang detil, namun anda bisa menghindar untuk tidak menabrak rintangan-rintangan dan bisa mendeteksi bayangan sesosok predator yang sedang melintas.</p>
<p>Adapun argumen bahwa anda tidak bisa terbang dengan hanya sebelah sayap, ini disangkal oleh sejumlah besar hewan peluncur yang sangat sukses, termasuk mamalia dari banyak jenis berbeda, kadal, katak, ular dan cumi-cumi. Banyak jenis berbeda dari hewan penghuni pohon memiliki kepak kulit di antara sendi-sendinya yang betul-betul merupakan sayap fraksional. Jika anda terjatuh dari sebuah pohon, maka kepak kulit atau bagian datar dari tubuh yang meningkatkan luas daerah permukaan anda bisa menyelamatkan nyawa anda. Dan, betapapun kecil atau besarnya kepak anda, pasti akan selalu ada ketinggian kritis sedemikian rupa hingga jika anda terjatuh dari sebuah pohon dengan ketinggian seperti itu, maka nyawa anda akan terselamatkan hanya dengan daerah permukaan yang sedikit lebih luas. Lalu, ketika anak-keturunan anda telah meng-evolusi-kan daerah permukaan tambahan itu, maka nyawa mereka akan terselamatkan hanya oleh sedikit perluasan daerah permukaan lagi apabila mereka terjatuh dari pohon yang agak lebih tinggi. Dan begitu seterusnya, lewat langkah-langkah bertahap yang tak terbayangkan sampai ratusan generasi berikutnya, kita sampai pada sayap yang lengkap (sempurna).</p>
<p>Mata dan sayap tidak bisa muncul ke keberadaan dengan sebuah langkah tunggal. Itu akan sama saja dengan tak terhingganya keberuntungan untuk bisa memutar kombinasi angka yang membuka sebuah lemari besi besar di bank. Tetapi jika anda memutar angka-angka kunci secara acak, dan setiap kali anda tiba sedikit lebih mendekati angka keberuntungan itu, celah pintu pun terbuka sedikit demi sedikit, maka anda akan segera mendapati pintu lemari besi itu terbuka! Secara esensial, itulah rahasia bagaimana evolusi oleh seleksi alam bisa mencapai apa yang dahulu nampak mustahil. Hal-hal yang secara masuk akal tidak mungkin berasal dari para pendahulu yang sangat berbeda, bisa secara masuk akal berasal dari pendahulu-pendahulu yang hanya sedikit berbeda. Jika saja ada serangkaian cukup panjang pendahulu-pendahulu yang hanya sedikit berbeda seperti itu, maka anda bisa menelusuri asal apapun dari apapun lainnya.</p>
<p>Lantas, evolusi secara teoritis mampu melakukan pekerjaan yang, pada suatu ketika dahulu, nampaknya hanya merupakan kewenangan mutlak Tuhan. Akan tetapi, apakah ada bukti bahwa evolusi benar-benar telah terjadi? Jawabannya adalah ya; buktinya sangat berlimpah. Jutaan fosil ditemukan di tempat-tempat serta kedalaman-kedalaman persis seperti yang kita perkirakan apabila evolusi benar telah terjadi. Tak ada satupun fosil pernah ditemukan di tempat yang mana teori evolusi tidak memperkirakannya, meski hal ini bisa saja dengan sangat mudah terjadi: sebuah fosil mamalia di bebatuan karang yang begitu tuanya sampai-sampai ikan pun belum tiba, misalnya, sudah cukup untuk menggugurkan teori evolusi.</p>
<p>Pola-pola persebaran hewan dan tumbuhan hidup di benua-benua dan kepulauan-kepulauan dunia adalah tepat seperti yang diperkirakan apabila mereka berevolusi dari nenek moyang yang sama dengan tingkat-tingkat yang lambat dan perlahan. Pola-pola kemiripan di kalangan hewan dan tumbuhan adalah tepat seperti yang kita perkirakan apabila beberapa diantaranya merupakan kerabat dekat, dan beberapa lainnya merupakan kerabat jauh satu sama lain. Fakta bahwa kode genetik adalah sama pada semua mahluk hidup, sungguh menunjukkan bahwa semuanya diturunkan dari satu nenek moyang tunggal. Bukti untuk evolusi begitu kuat, sehingga satu-satunya cara untuk menyelamatkan teori penciptaan adalah dengan mengasumsikan bahwa Tuhan telah dengan sengaja menanamkan sejumlah besar bukti untuk membuatnya nampak seolah-olah evolusi telah terjadi. Dengan kata lain, fosil-fosil, persebaran geografis hewan, dan sebagainya, semua itu adalah satu trik keyakinan yang maha besar. Apakah orang mau menyembah suatu Tuhan yang mampu memainkan trik seperti itu? Tentu saja jauh lebih terhormat, juga secara ilmiah jauh lebih masuk akal, bila kita menerima segala bukti yang ada. Semua mahluk hidup adalah kerabat dari satu sama lain, dan diturunkan dari satu nenek moyang jauh yang hidup lebih dari 3.000 juta tahun yang lalu.</p>
<p>Dengan demikian, Argumen berdasarkan Bentuk-Rancang pun gugur sebagai sebuah alasan untuk mempercayai adanya suatu Tuhan. Adakah argumen lainnya? Beberapa orang percaya akan Tuhan dikarenakan apa yang nampak bagi mereka sebagai pewahyuan yang bersifat pribadi. Wahyu-wahyu seperti itu tidak selalu mendatangkan manfaat, tapi tak ragu lagi terasa nyata bagi individu yang meyakininya. Banyak penghuni rumah sakit jiwa yang memiliki keyakinan pribadi yang tak tergoyahkan bahwa dirinya adalah Napoleon, atau bahkan Tuhan itu sendiri. Tak ragu lagi bahwa keyakinan seperti itu punya kekuatan sangat dahsyat bagi mereka yang memilikinya, namun ini bukanlah alasan bagi orang-orang lain di antara kita untuk mempercayainya. Sesungguhnya, karena kepercayaan-kepercayaan seperti itu bertentangan satu sama lain, maka kita tidak bisa mempercayainya sama sekali.</p>
<p>Ada sedikit lagi yang perlu disampaikan disini. Evolusi melalui seleksi alam menjelaskan banyak hal, namun evolusi ini tidak bisa mulai terjadi dari kondisi semula yang tidak ada apa-apa. Evolusi tidak bisa mulai sampai ada semacam reproduksi dan hereditas elementer. Hereditas moderen didasarkan atas kode DNA, yang ini sendiri terlalu rumit untuk muncul secara spontan ke keberadaan lewat sebuah aktivitas tunggal yang bersifat kebetulan. Nampaknya ini berarti bahwa pasti telah ada suatu sistem hereditas terdahulu—kini telah sirna—yang pada waktu itu cukup sederhana untuk muncul secara kebetulan, dan hukum-hukum kimia yang menyediakan medium di mana suatu bentuk primitif seleksi alam kumulatif bisa mulai berlangsung. DNA adalah produk berikutnya dari seleksi kumulatif yang terdahulu ini. Sebelum sebentuk seleksi alam awal ini, ada suatu periode ketika campuran-campuran kimiawi yang kompleks tersusun dari campuran-campuran yang lebih sederhana, dan sebelum itu ada suatu periode ketika unsur-unsur kimiawi tersusun dari unsur-unsur yang lebih sederhana, mengikuti hukum-hukum fisika yang secara umum sudah sangat dipahami. Sebelum itu, pada akhirnya segala sesuatu tersusun dari hidrogen murni sebagai akibat segera dari dentuman besar, yang telah memulakan alam semesta.</p>
<p>Ada godaan untuk berargumen bahwa, meski Tuhan mungkin tidak diperlukan untuk menjelaskan evolusi tatanan kompleks yang mana alam semesta—dengan hukum-hukum fisikanya yang fundamental—suatu ketika dulu telah mulai, namun kita memerlukan suatu Tuhan untuk menjelaskan asal-usul segala sesuatu. Ide ini tidaklah menghasilkan Tuhan dengan banyak hal yang dilakukan-Nya: hanya menyetel dentuman besar, kemudian duduk santai menunggu segalanya terjadi. Ahli kimia fisikal, Peter Atkins, dalam bukunya yang ditulis dengan indah, Penciptaan, mendalilkan adanya suatu Tuhan pemalas yang berupaya keras untuk melakukan sesedikit mungkin kerja agar bisa memulakan segala sesuatu. Atkins menjelaskan bagaimana setiap langkah dalam sejarah alam semesta merupakan lanjutan—dengan hukum fisika yang sederhana—dari langkah pendahulunya. Maka, Atkins pun mengupas jumlah kerja yang akan perlu dilakukan si pencipta yang malas ini, dan akhirnya menyimpulkan bahwa si pencipta ini pada kenyataannya tidak perlu melakukan apa-apa samasekali!</p>
<p>Detil-detil fase awal alam semesta merupakan bagian dari dunia ilmu fisika, sedangkan saya adalah seorang ahli biologi, lebih memusatkan perhatian pada fase-fase berikutnya dari evolusi kompleksitas. Bagi saya, poin pentingnya ialah bahwa, kendatipun ahli fisika perlu mendalilkan suatu titik minimum yang tak bisa dibagi lagi, yang harus hadir pada permulaan agar alam semesta bisa mulai, namun titik minimum itu tentu saja sangat sederhana. Secara pengertian dasar (definisi), penjelasan yang dibangun berdasarkan dalil-dalil yang sederhana adalah lebih masuk akal serta lebih memuaskan ketimbang penjelasan yang harus mendalilkan permulaan-permulaan yang kompleks dan secara statistik tidak mungkin. Dan anda tidak bisa mendapatkan yang jauh lebih kompleks selain suatu Tuhan Yang Maha Kuasa!</p>
<p>Richard Dawkins adalah seorang profesor di Universitas Oxford untuk kajian Pemahaman Publik tentang Sains. Dia adalah penulis buku Si Buta Pembuat Arloji (sebagian dari artikel ini didasarkan atas isi buku tersebut) dan Mendaki Puncak yang Mustahil. Dia adalah editor senior pada jurnal Free Inquiry.</p>
<p>Karya-karya Dawkins antara lain adalah “The Blind Watchmaker” dan “The Selfish Gene” (yang merupakan bestseller internasional yang diterbitkan dalam 13 bahasa). Dalam bidang evolusioner biologi, Dawkins merupakan ilmuwan yang diakui telah memberikan sumbangan besar dalam biologi sosial- pada telaah-telaah yang berkaitan dengan teori genetis mengenai seleksi alam (natural selection). Dawkins juga dikenal sebagai “tokoh” yang memberikan sumbangan signifikan dalam wacana sains/agama – dalam tulisan-tulisan populernya, acara-acara televisi dan debat-debat. Selain itu, Dawkins merupakan salah satu kontributor tetap pada Free Inquiry, buletin yang diterbitkan oleh Secular Humanism (www.secularhumanism.org/), sebuah organisasi yang memperjuangkan sekularisme.</p>
<p><a href="mailto:Webmaster@SecularHumanism.org">Webmaster@SecularHumanism.org</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=u" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/11/03/mustahilnya-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Philosophy of Atheism</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Oct 2006 09:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme&religi]]></category>
		<category><![CDATA[kontra kultur]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/</guid>
		<description><![CDATA[by Emma GoldmanFirst published in February 1916 in the Mother Earth journal. To give an adequate exposition of the Philosophy of Atheism, it would be necessary to go into the historical changes of the belief in a Deity, from its earliest beginning to the present day. But that is not within the scope of the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Emma Goldman</strong><strong>First published in February 1916 in the <em>Mother Earth</em> journal.</strong></p>
<p>To give an adequate exposition of the Philosophy of Atheism, it would be necessary to go into the historical changes of the belief in a Deity, from its earliest beginning to the present day. But that is not within the scope of the present paper. However, it is not out of place to mention, in passing, that the concept God, Supernatural Power, Spirit, Deity, or in whatever other term the essence of Theism may have found expression, has become more indefinite and obscure in the course of time and progress. In other words, the God idea is growing more impersonal and nebulous in- proportion as the human mind is learning to understand natural phenomena and in the degree that science progressively correlates human and social events.</p>
<p><span id="more-108"></span>God, today, no longer represents the same forces as in the beginning of His existence; neither does He direct human destiny with the same Iron hand as of yore. Rather does the God idea express a sort of spiritualistic stimalus to satisfy the fads and fancies of every shade of human weakness. In the course of human development the God idea has been forced to adapt itself to every phase of human affairs, which is perfectly consistent with the origin of the idea itself.</p>
<p>The conception of gods originated in fear and curiosity. Primitive man, unable to understand the phenomena of nature and harassed by them, saw in every terrifying manifestation some sinister force expressly directed against him; and as ignorance and fear are the parents of all superstition, the troubled fancy of primitive man wove the God idea.</p>
<p>Very aptly, the world-renowned atheist and anarchist, Michael Bakunin, says in his great work God and the State: &#8220;All religions, with their gods, their demi-gods, and their prophets, their messiahs and their saints, were created by the prejudiced fancy of men who had not attained the full development and full possession of their faculties. Consequently, the religious heaven is nothing but the mirage in which man, exalted by ignorance and faith, discovered his own image, but enlarged and reversed &#8212; that is divinised. The history of religions, of the birth, grandeur, and the decline of the gods who had succeeded one another in human belief, is nothing, therefore, but the development of the collective intelligence and conscience of mankind. As fast as they discovered, in the course of their historically progressive advance, either in themselves or in external nature, a quality, or even any great defect whatever, they attributed it to their gods, after having exaggerated and enlarged it beyond measure, after the manner of children, by an act of their religious fancy. . . . With all due respect, then, to the metaphysicians and religious idealists, philosophers, politicians or poets: the idea of God implies the abdication of human reason and justice; it is the most decisive negation of human liberty, and necessarily ends in the enslavement of mankind, both in theory and practice.&#8221;</p>
<p>Thus the God idea, revived, readjusted, and enlarged or narrowed, according to the necessity of the time, has dominated humanity and will continue to do so until man will raise his head to the sunlit day, unafraid and with an awakened will to himself. In proportion as man learns to realize himself and mold his own destiny theism becomes superfluous. How far man will be able to find his relation to his fellows will depend entirely upon how much he can outgrow his dependence upon God.</p>
<p>Already there are indications that theism, which is the theory of speculation, is being replaced by Atheism, the science of demonstration; the one hangs in the metaphysical clouds of the Beyond, while the other has its roots firmly in the soil. It is the earth, not heaven, which man must rescue if he is truly to be saved.</p>
<p>The decline of theism is a most interesting spectacle, especially as manifested in the anxiety of the theists, whatever their particular brand. They realize, much to their distress, that the masses are growing daily more atheistic, more anti-religious; that they are quite willing to leave the Great Beyond and its heavenly domain to the angels and sparrows; because more and more the masses are becoming engrossed in the problems of their immediate existence.</p>
<p>How to bring the masses back to the God idea, the spirit, the First Cause, etc. &#8211; that is the most pressing question to all theists. Metaphysical as all these questions seem to be, they yet have a very marked physical background. Inasmuch as religion, &#8220;Divine Truth,&#8221; rewards and punishments are the trade-marks of the largest, the most corrupt and pernicious, the most powerful and lucrative industry in the world, not excepting the industry of manufacturing guns and munitions. It is the industry of befogging the human mind and stifling the human heart. Necessity knows no law; hence the majority of theists are compelled to take up every subject, even if it has no bearing upon a deity or revelation or the Great Beyond. Perhaps they sense the fact that humanity is growing weary of the hundred and one brands of God.</p>
<p>How to raise this dead level of theistic belief is really a matter of life and death for all denominations. Therefore their tolerance; but it is a tolerance not of understanding; but of weakness. Perhaps that explains the efforts fostered in all religious publications to combine variegated religious philosophies and conflicting theistic theories into one denominational trust. More and more, the various concepts &#8220;of the only tree God, the only pure spirit, &#8212; the only true religion&#8221; are tolerantly glossed over in the frantic effort to establish a common ground to rescue the modern mass from the &#8220;pernicious&#8221; influence of atheistic ideas.</p>
<p>It is characteristic of theistic &#8220;tolerance&#8221; that no one really cares what the people believe in, just so they believe or pretend to believe. To accomplish this end, the crudest and vulgarest methods are being used. Religious endeavor meetings and revivals with Billy Sunday as their champion -methods which must outrage every refined sense, and which in their effect upon the ignorant and curious often tend to create a mild state of insanity not infrequently coupled with eroto-mania. All these frantic efforts find approval and support from the earthly powers; from the Russian despot to the American President; from Rockefeller and Wanamaker down to the pettiest business man. They blow that capital invested in Billy Sunday, the Y.M.C.A., Christian Science, and various other religious institutions will return enormous profits from the subdued, tamed, and dull masses.</p>
<p>Consciously or unconsciously, most theists see in gods and devils, heaven and hell; reward and punishnient, a whip to lash the people into obedience, meekness and contentment. The truth is that theism would have lost its foeting long before this but for the combined support of Mammon and power. How thoroughly banlrupt it really is, is being demonstrated in the trenches and battlefields of Europe today.</p>
<p>Have not all theists painted their Deity as the god of love and goodness? Yet after thousands of years of such preachments the gods remain deaf to the agony of the human race. Confucius cares not for the poverty, squalor and misery of people of China. Buddha remains undisturbed in his philosophical indifference to the famine and starvation of outraged Hindoos; Jahve continues deaf to the bitter cry of Israel; while Jesus refuses to rise from the dead against his Christians who are butchering each other.</p>
<p>The burden of all song and praise &#8220;unto the Highest&#8221; has been that God stands for justice and mercy. Yet injustice among men is ever on the increase; the outrages committed against the masses in this country alone would seem enough to overflow the very heavens. But where are the gods to make an end to all these horrors, these wrongs, this inhumanity to man? No, not the gods, but MAN must rise in his mighty wrath. He, deceived by all the deities, betrayed by their emissaries, he, himself, must undertake to usher in justice upon the earth.</p>
<p>The philosophy of Atheism expresses the expansion and growth of the human mind. The philosophy of theism, if we can call it philosophy, is static and fixed. Even the mere attempt to pierce these mysteries represents, from the theistic point of view, non-belief in the all-embracing omnipotence, and even a denial of the wisdom of the divine powers outside of man. Fortunately, however, the human mind never was, and never can be, bound by fixities. Hence it is forging ahead in its restless march towards knowledge and life. The human mind is realizing &#8220;that the universe is not the result of a creative fiat by some divine intelligence, out of nothing, producing a masterpiece chaotic in perfect operation,&#8221; but that it is the product of chaotic forces operating through aeons of time, of clashes and cataclysms, of repulsion and attraction crystalizing through the principle of selection into what the theists call, &#8220;the universe guided into order and beauty.&#8221; As Joseph McCabe well points out in his Existence ot God: &#8220;a law of nature is not a formula drawn up by a legislator, but a mere summary of the observed facts &#8212; a &#8216;bundle of facts.&#8217; Things do not act in a particular way because there is a law, but we state the &#8216;law&#8217; because they act in that way.&#8221;</p>
<p>The philosophy of Atheism represents a concept of life without any metaphysical Beyond or Divine Regulator. It is the concept of an actual, real world with its liberating, expanding and beautifying possibilities, as against an unreal world, which, with its spirits, oracles, and mean contentment has kept humanity in helpless degradation.</p>
<p>It may seem a wild paradox, and yet it is pathetically true, that this real, visible world and our life should have been so long under the influence of metaphysical speculation, rather than of physical demonstrable forces. Under the lash of the theistic idea, this earth has served no other purpose than as a temporary station to test man&#8217;s capacity for immolation to the will of God. But the moment man attempted to ascertain the nature of that will, he was told that it was utterly futile for &#8220;finite human intelligence&#8221; to get beyond the all-powerful infinite will. Under the terrific weight of this omnipotence, man has been bowed into the dust &#8212; a willless creature, broken and sweating in the dark. The triumph of the philosophy of Atheism is to free man from the nightmare of gods; it means the dissolution of the phantoms of the beyond. Again and again the light of reason has dispelled the theistic nightmare, but poverty, misery and fear have recreated the phantoms &#8212; though whether old or new, whatever their external form, they differed little in their essence. Atheism, on the other hand, in its philosophic aspect refuses allegiance not merely to a definite concept of God, but it refuses all servitude to the God idea, and opposes the theistic principle as such. Gods in their individual function are not half as pernicious as the principle of theism which represents the belief in a supernatural, or even omnipotent, power to rule the earth and man upon it. It is the absolutism of theism, its pernicious influence upon humanity, its paralyzing effect upon thought and action, which Atheism is fighting with all its power.</p>
<p>The philosophy of Atheism has its root in the earth, in this life; its aim is the emancipation of the human race from all God-heads, be they Judaic, Christian, Mohammedan, Buddhistic, Brahministic, or what not. Mankind has been punished long and heavily for having created its gods; nothing but pain and persecution have been man&#8217;s lot since gods began. There is but one way out of this blunder: Man must break his fetters which have chained him to the gates of heaven and hell, so that he can begin to fashion out of his reawakened and illumined consciousness a new world upon earth.</p>
<p>Only after the triumph of the Atheistic philosophy in the minds and hearts of man will freedom and beauty be realized. Beauty as a gift from heaven has proved useless. It will, however, become the essence and impetus of life when man learns to see in the earth the only heaven fit for man. Atheism is already helping to free man from his dependence upon punishment and reward as the heavenly bargain- counter for the poor in spirit.</p>
<p>Do not all theists insist that there can be no morality, no justice, honesty or fidelity without the belief in a Divine Power? Based upon fear and hope, such morality has always been a vile product, imbued partiy with self- righteousness, partly with hypocrisy. As to truth, justice, and fidelity, who have been their brave exponents and daring proclaimers? Nearly always the godless ones: the Atheists; they lived, fought, and died for them. They knew that justice, truth, and fidelity are not, conditioned in heaven, but that they are related to and interwoven with the tremendous changes going on in the social and material life of the human race; not fixed and eternal, but fluctuating, even as life itself. To what heights the philosophy of Atheism may yet attain, no one can prophesy. But this much can already be predicted: only by its regenerating fire will human relations be purged from the horrors of the past</p>
<p>Thoughtful people are beginning to realize that moral precepts, imposed upon humanity through religious terror, have become stereotyped and have therefore lost all vitality. A glance at life today, at its disintegrating character, its conflicting interests with their hatreds, crimes, and greed, suffices to prove the sterility of theistic morality.</p>
<p>Man must get back to himself before he can learn his relation to his fellows. Prometheus chained to the Rock of Ages is doomed to remain the prey of the vultures of darkness. Unbind Prometheus, and you dispel the night and its horrors.</p>
<p>Atheism in its negation of gods is at the same time the strongest affirmation of man, and through man, the eternal yea to life, purpose, and beauty.</p>
<p>taken from <a target="_blank" href="http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/goldman/philosophyatheism.html">The Anarchy Archives </a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=l" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/10/13/the-philosophy-of-atheism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TEOLOGI OMONG KOSONG</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2006/06/14/teologi-omong-kosong/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2006/06/14/teologi-omong-kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jun 2006 11:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang akhirat?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/2006/06/14/teologi-omong-kosong/</guid>
		<description><![CDATA[&#8211;Jalur Seorang Ateis Pemikir&#8211; “Menohok Akal, Menantang Iman!!” “Lebih Rebel dari yang Rebel!!” “Lebih Melawan dari yang Melawan Otoritas!!” Prolog Pada mulanya adalah keraguan; keraguan tentang kebenaran yang ada. Keraguan memicu keyakinan; keyakinan tentang kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran itu bersama-sama denganku dan kebenaran itu adalah aku. Catatan Penulis Semua yang penulis sampaikan dan mungkin Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8211;Jalur Seorang Ateis Pemikir&#8211;</strong></p>
<p><em>“Menohok Akal, Menantang Iman!!”<br />
“Lebih Rebel dari yang Rebel!!”<br />
“Lebih Melawan dari yang Melawan Otoritas!!”</em></p>
<p><strong>Prolog</strong><br />
Pada mulanya adalah keraguan; keraguan tentang kebenaran yang ada. Keraguan memicu keyakinan; keyakinan tentang kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran itu bersama-sama denganku dan kebenaran itu adalah aku.</p>
<p><span id="more-72"></span><strong>Catatan Penulis</strong><br />
Semua yang penulis sampaikan dan mungkin Anda baca adalah semata-mata gambaran diri dan pemikiran penulis. Sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan kalangan atau konsepsi tertentu. Bukan untuk membuktikan apapun. Bukan pula untuk mempengaruhi. Tetapi bila Anda terpengaruh, itu masalah Anda!!</p>
<p><strong>PENCARIAN</strong><br />
Sepanjang masa orang mencari sesuatu yang lebih luhur daripada dirinya sendiri, yang ada di balik semua ini; sesuatu yang kita sebut kebenaran atau tuhan, sesuatu yang (mungkin) kekal. Orang juga senantiasa bertanya: “Apa arti semua ini?” “Apakah hidup punya arti?”</p>
<p>Karena tidak menemukan apapun, orang merasa kecewa dan mulai mengharapkan pimpinan dari seseorang yang memberitahu mereka tentang baik atau buruk, benar atau salah. Orang-orang percaya pada yang namanya Sidharta, Juru Selamat, Nabi Akhir Zaman, Whatever!! Dengan demikian orang telah menganut suatu pola atau tata tertentu sehingga kelakuan dan pikiran mereka menjadi mekanis, dan tanggapan mereka terhadap suatu peristiwa menjadi otomatis.</p>
<p>Selama berabad-abad kita telah diindoktrinasi oleh guru, pemimpin, bahkan alkitab; kemudian kita puas dengan gambaran yang mereka berikan. Itu berarti bahwa hidup kita didasarkan pada kata-kata belaka dan hidup kita bersifat dangkal dan kosong.</p>
<p>Kita tidak orisinal. Selama ini kita hidup berdasarkan pada apa yang telah diberitahukan kepada kita. Dan saya, tapi itu dulu, juga (mungkin) Anda terpaksa menerima segalanya itu karena situasi atau lingkungan. Kita merupakan hasil dari segala macam pengaruh dan tidak ada apapun yang baru di dalam diri kita, tidak ada yang kita temukan sendiri, tidak ada yang orisinal, murni, dan jelas.</p>
<p><strong>IRONI</strong><br />
Batin kita menjadi tidak mampu apa-apa, tolol, dan tidak peka. Sungguh ironis bahwa kebanyakan dari kita menentang tirani politik dan kediktatoran, tapi secara batiniah kita sebenarnya menerima otoritas; otoritas spiritual, segala upacara, ritual, dogma. Dan apabila kita mencoba menolak itu semua untuk berdiri seorang diri dan langsung bertentangan dengan masyarakat, maka kita bukan manusia yang pantas dihormati lagi.</p>
<p>Pertanyaan tentang apakah ada tuhan itu atau kebenaran atau apapun Anda menyebutnya, tidak akan pernah terjawab oleh buku, pendeta, sufi, maupun kyai. Tak seorangpun atau apapun dapat menjawab pertanyaan itu kecuali Anda sendiri. Karena itu mulailah dengan memahami diri Anda sendiri.</p>
<p>Maka untuk menemukan apakah sesungguhnya ada atau tidak sesuatu di balik kehidupan yang penuh kekhawatiran, dosa, dan ketakutan ini, orang harus menghadapinya dengan sikap yang lain, yang sama sekali berbeda.</p>
<p><strong>TRADISIONAL VS AKTUAL</strong><br />
Kita diberitahu untuk melakukan ini dan itu; dilarang untuk melakukan ini dan diwajibkan melakukan itu. Kalo begini dosa dan jika begitu dapat pahala. Kita jadi terkondisi!! Pola pikir dan cara pandang kita menjadi tidak orisinal dan sangat tradisional.</p>
<p>Kita berharap pada sesuatu yang tidak nyata dan takut akan hal-hal yang tidak kita kenal; takut mati dan sesuatu di baliknya, takut bagaimana hari esok. Sungguh bodoh!! Inilah kehidupan kita sehari-hari yang justru penuh ketakutan dan harapan kosong. Dan setiap bentukan filsafat maupun konsepsi teologi semata-mata hanya pelarian dari keadaan yang sesungguhnya. Padahal sebenarnya keadaan tersebut harus kita hadapi secara aktual. Sama aktualnya ketika kita menyadari kita lapar atau ketika kita merasa lelah.</p>
<p><strong>TEMUKAN KEBENARAN</strong><br />
Mari kita lihat situasi sekarang. Sepertinya orang-orang punya ‘lorong’-nya tersendiri untuk dilalui. Lorong untuk menuju kebenaran. Seorang hindu mempunyai lorongnya sendiri dan pada saat yang sama orang lain juga mempunyai lorong kristen atau lorong islam. Dan konon kabarnya lorong itu akan menuju pada ruang yang sama yang mereka namakan surga. Tapi pada kenyataannya orang-orang yang berbeda lorong tersebut bermusuhan dan saling menyangkal. Saya tidak dapat membayangkan kebenaran yang seperti itu. Saya rasa kita tidak perlu ikut-ikutan orang-orang, merasa dia berada di lorong yang benar sedangkan orang lain di lorong yang salah.</p>
<p>Kebenaran itu tak berlorong. Kebenaran adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang tidak terdapat dalam kuil, masjid, ataupun gereja. Dan tiada seorang pun atau konsepsi apapun yang dapat menuntun Anda kepada kebenaran.</p>
<p>Anda akan melihat bahwa kebenaran yang hidup ini adalah Anda sendiri, kita, yang sebenarnya!! Segala kesedihan kita, bahagia kita, kemarahan kita, canda tawa kita. Yang perlu Anda lakukan hanyalah memahaminya. Memahami sesuatu yang hidup ini dalam diri Anda, yang tidak mungkin Anda dapatkan melalui suatu ideologi, tirai kata-kata dalam alkitab, melalui konsepsi, ataupun melalui harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan.</p>
<p>Dengan demikian, Anda tidak bergantung pada siapa pun juga. Tidak perlu petunjuk jalan, tidak perlu guru, dan tidak ada otoritas. Yang ada hanyalah Anda, dan hubungan Anda dengan orang lain dan dunia. Ya, tidak ada apapun selain itu!!</p>
<p><strong>MUTASI PSIKOLOGIS</strong><br />
Setelah semua yang saya sampaikan, mungkin Anda akan bertanya-tanya : Kalau begitu, memangnya kita bisa—tanpa pengaruh, tanpa bujukan, tanpa takut, tanpa rasa berdosa—di dalam hati sanubari kita, membuat revolusi total, suatu mutasi psikologis, sedemikian rupa sehingga kita tidak lagi terkondisi dan terindoktrinasi?? Sehingga kita terlepas dari segala ketakutan dan perasaan berdosa?? Hanya Anda yang bisa menjawabnya!!</p>
<p>Perlu saya tegaskan, saya tidak sedang merumuskan suatu bentukan filosofis ataupun konsepsi teologis paling anyar. Bagi saya semua ideologi itu tolol sekali. Yang penting bukanlah filsafat hidup, melainkan pengamatan aktual tentang apa yang sesungguhnya sedang berlangsung, baik yang ada dalam diri kita maupun di luar diri kita.</p>
<p>Anda dan saya mempunyai apa yang disebut cipta, rasa, dan karsa. Mari kita gunakan, kita eksploitasi, kita manage sedemikian rupa sehingga kita bahagia, batin kita selalu baru, segar, selalu muda, murni, penuh semangat dan gairah. Jangan biarkan batin Anda membusuk oleh teori-teori dan konsepsi-konsepsi bodoh ribuan tahun lalu yang sudah ketinggalan zaman.</p>
<p>Tadi malam turun hujan lebat, tapi pagi ini langit cerah, hari ini baru dan segar. Marilah kita songsong hari segar ini dengan penuh gairah tanpa ketakutan. Mari kita tinggalkan semua kenangan hari kemarin, dan mulai memahami diri kita sendiri untuk pertama kalinya.</p>
<p><strong>Jakarta, Mei 2006</strong><br />
<strong>—Takeo—</strong><br />
<em><a href="mailto:arszminoru@yahoo.co.id">arszminoru@yahoo.co.id</a></em></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=H" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2006/06/14/teologi-omong-kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
