<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anarch[Oi]!</title>
	<atom:link href="http://anarchoi.gudbug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anarchoi.gudbug.com</link>
	<description>Anarch[Oi]! adalah media publikasi bebas tanpa batas, membahas berbagai analisa positif-negatif sebuah ide baik dalam segmen politik, sosial, ekonomi, maupun kultural. Anarch[Oi]! bukanlah media opini perseorangan (blog???), karenanya beragam wacana didalamnya adalah juga milik kamu, kamu, dan kamu….</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jun 2009 07:13:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>MENJELANG HILANG</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/menjelang-hilang/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/menjelang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 07:13:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Pipa itu membelah jalan kecil sepanjang 2 KM di Dusun Janganasem, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Pipa yang diperuntukkan bagi distribusi gas yang dikelola oleh Pertamina bagi pabrik-pabrik yang berada di wilayah Pasuruan, ditanam tak lebih dari 5 meter di depan rumah para warga. Bagaimana para warga tidak uring-uringan dan protes, pihak PT. PGN Tbk. saja tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pipa itu membelah jalan kecil sepanjang 2 KM di Dusun Janganasem, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Pipa yang diperuntukkan bagi distribusi gas yang dikelola oleh Pertamina bagi pabrik-pabrik yang berada di wilayah Pasuruan, ditanam tak lebih dari 5 meter di depan rumah para warga. Bagaimana para warga tidak uring-uringan dan protes, pihak PT. PGN Tbk. saja tidak pernah mensosialisasikan dampak-dampak negatif dari proyek tersebut – selain hanya ilusi kebaikan yang sama sekali tidak dapat dirasakan oleh warga.</p>
<p>Proyek pipanisasi ini mulai dicetuskan pada April 2008, yang rencana awalnya membelah 5 desa: Desa Permisan, Desa Tambak kalisongo, Desa Balong Tani, Desa Jemirahan, dan Desa Trompoasri Kecamatan Jabon – tetangga Kecamatan Porong dan Tanggulangin di mana 13.000 kepala keluarga harus menderita kehilangan rumah, sejarah, dan harta benda akibat luapan lumpur panas Lapindo. Dusun Janganasem, yang merupakan bagian dari Kelurahan Trompoasri sama sekali tidak dilirik. Pada kenyataannya, beberapa bulan lalu, proyek ini mengambil tumbal para warga Dusun Janganasem, yang mulai kini di dalam hidup mereka telah ditanamkan ketakutan dan rasa was-was akan adanya kebocoran maupun resiko-resiko lainnya dari proyek pipanisasi ini.</p>
<p><span id="more-256"></span></p>
<p>PT. PGN Tbk. juga sama sekali tidak mensosialisasikan ganti-rugi bagi para warga. Seolah manusia-manusia yang tinggal di dusun tersebut merupakan properti yang bisa seenaknya ditumbalkan dan diam. Rencana pipanisasi awalnya ditolak oleh 70 persen dari 438 kepala keluarga yang tinggal di sana. Dalam perjalanannya, PT. PGN Tbk. melakukan intimidasi dari yang implisit sampai yang eksplisit. Politik uang juga mulai bermain. Para warga yang menolak proyek ini diberi uang Rp. 250.000 agar diam dan menerima. Tak hanya itu, pihak PT. PGN Tbk. yang berkolaborasi dengan pemerintah (dari Bupati sampai Camat, dari polisi sampai tentara) juga memalsukan data. Mereka mengklaim 600an kepala keluarga telah menyepakati proyek ini dan karenanya mereka yang tetap menolak proyek ini tidak diindahkan sama sekali. Sekali lagi, eksistensi negara dan korporasi adalah menghisap dan menghancurkan masyarakat – merekalah krisis itu sendiri.</p>
<p>Pembangunan proyek ini sendiri tidak kurang dari melecehkan kemanusiaan. Mereka bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 04.00 dinihari. Tentu saja aktifitas ini meresahkan dan mengganggu para warga yang butuh istirahat. Di tengah dunia di mana kompetisi dan hukum jual-beli berkuasa, kerja upahan untuk bertahan hidup adalah keharusan. Para warga umumnya adalah para petani dan pekerja pabrik, yang dari pagi sampai senja menjelang harus menghabiskan tenaga dengan bekerja. Dengan aktifitas yang cukup melelahkan tersebut mereka masih harus diperas lagi untuk tidak dapat beristirahat dengan tenang akibat aktifitas penyambungan pipa, pengelasan, maupun suara bising dari eskavator. Bayangkan juga bagaimana perasaan para bayi dan anak-anak yang paginya harus bersekolah.</p>
<p>Tak sekali para warga melaporkan PT. PGN Tbk. ke pihak-pihak pemerintah, dari birokrasi terkecil seperti Kecamatan, Bupati, sampai Kapolres Sidoarjo. Tapi seperti yang telah diketahui dalam rahasia umum, pihak-pihak tersebut tak pernah mengambil tindakan apa pun, selain hanya melindungi korporasi karena mereka pun memiliki kepentingan untuk menghancurkan masyarakat. Aksi langsung yang spontan sampai aksi blokade pun telah dilakukan oleh para warga yang mayoritasnya kaum perempuan. Terakkhir, aksi blokade untuk menghentikan aktifitas pipanisasi yang dilakukan pada tanggal 04 Juni 09, yang disingkirkan dengan paksa oleh tentara dibantu polisi yang memerkan alat kekerasan modern: senjata api laras panjang. Kaum perempuan yang paling banyak dalam komposisi perlawanan ini pun dibuat takut. Tak sedikit juga yang diseret menjauh dari lokasi agar proyek ini tetap berlangsung. Salah seorang anggota divisi keamanan PT. PGN Tbk. yang tanggungjawabnya menyingkirkan penolakan proyek ini sempat mengancam para warga yang menolak. Orang ini pun dengan bangganya mengaku bahwa dirinya adalah anggota Koppasus. Alat kekerasan memang tak pernah netral.</p>
<p>Proyek pipanisasi ini merupakan pemindahan jalur pipa dari Desa Renokenongo yang meledak akibat terendam lumpur panas Lapindo pada November 06 lalu. Berangkat dari pengalaman itulah para warga Dusun Janganasem menolak pipa gas memasuki wilayah mereka, apalagi mengingat pipa tersebut ditanam di tengah pemukiman padat warga. Pengerjaan pipa tersebut pun sepertinya jauh dari standar keamanan yang ketat. Tak jarang sambungan pipa yang dalamnya kurang dari 2 meter tersebut tampak bengkok. Belum lagi pengelasannya yang terlihat asal-asalan menguber setoran borongan.</p>
<p>Kini, tinggal 200an meter pipa tersebut selesai ditanam. Para warga Dusun Janganasem masih belum kehilangan semangat meski banyak teman-teman mereka yang telah dibeli dan pro-pipanisasi. Dengan kekuatan yang tersisa dari kurang lebih 20 orang, yang banyak kaum perempuannya, mereka akan terus memaksimalkan kekuatan mereka untuk menolak proyek pipanisasi ini, setidaknya untuk memberi penghormatan bagi kemanusiaan mereka yang masih percaya dunia tanpa industri – beserta segala ilusi dan penghancuran-penghancuran yang menyertainya. Mari saling bersolidaritas.</p>
<p>Panjangumur perjuangan masyarakat yang menolak jadi korban. Panjangumur perjuangan masyarakat anti-korporasi.</p>
<p>p/s: jika kawan-kawan sekalian merasa menjadi bagian dari perjuangan ini, kontak teman kami Sdr. Fadholly untuk menyampaikan dukungan dan semangat lewat nomor handphone: 081 231 571 800</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/menjelang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>We are Back!</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/we-are-back/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/we-are-back/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 07:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[technical issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Setelah bergumul dengan banyaknya file2 diserver, proses backup dan restore database, mengembalikan user account yang (ternyata) hilang, memilah kembali beberapa plugins wordpress yang dirasa masih dibutuhkan untuk fitur Anarch[Oi]!&#8230;akhirnya kini Anarch[Oi]! telah rampung 250% dari masa-masa berdarahnya&#8230;
Gw juga udah coba akses blog ini secara keseluruhan dari beberapa warnet didunia (halah!!!) untuk mengetes performa Anarch[Oi]! disana&#8230;hasilnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah bergumul dengan banyaknya file2 diserver, proses backup dan restore database, mengembalikan user account yang (ternyata) hilang, memilah kembali beberapa plugins wordpress yang dirasa masih dibutuhkan untuk fitur Anarch[Oi]!&#8230;akhirnya kini Anarch[Oi]! telah rampung 250% dari masa-masa berdarahnya&#8230;</p>
<p>Gw juga udah coba akses blog ini secara keseluruhan dari beberapa warnet didunia (halah!!!) untuk mengetes performa Anarch[Oi]! disana&#8230;hasilnya, sepertinya Anarch[Oi]! sudah NORMAL gak GILA lagi kayak kemaren.</p>
<p>Semua user yang merasa udah pernah mendaftar&#8230;tetep dapat menikmati 100% semua fitur disini, tulisan yang pernah dibuat oleh member juga 100% masih menjadi milik penulisnya&#8230;dan satu lagi semua rules yang pernah berlaku disini&#8230;juga masih berlaku <img src='http://anarchoi.gudbug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  yaitu &#8220;kalo emang gak ada makhluk dan alam yang terluka&#8230;maka&#8230;abaikan saja aturan mainnya!!!&#8221;</p>
<p>Solidaritas,</p>
<p>Anarchy, Love and PUNX&#8230;</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/09/we-are-back/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problem di anarchoi.gudbug.com</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/08/problem-di-anarchoigudbugcom/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/08/problem-di-anarchoigudbugcom/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 17:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[technical issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa minggu ini banyak sekali yang mengeluhkan susahnya mengakses anarchoi.gudbug.com. Keluar error, loading lambat, dsb.
Parahnya lagi, bukan hanya dari sisi front-end (halaman muka) saja masalah ini terjadi, dari sisi back-end (panel administratif blog) saya mengalami masalah yang jauh lebih rumit lagi. Selain loading yang lambat, berbagai fungsi panel administratif bahkan tidak bisa diakses sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa minggu ini banyak sekali yang mengeluhkan susahnya mengakses anarchoi.gudbug.com. Keluar error, loading lambat, dsb.</p>
<p>Parahnya lagi, bukan hanya dari sisi front-end (halaman muka) saja masalah ini terjadi, dari sisi back-end (panel administratif blog) saya mengalami masalah yang jauh lebih rumit lagi. Selain loading yang lambat, berbagai fungsi panel administratif bahkan tidak bisa diakses sama sekali.</p>
<p>Oleh karena itu, saat ini saya sedang mengupayakan untuk mengembalikan Anarch[Oi]! seperti semula. So&#8230;mungkin dalam beberapa hari ini, Anarch[Oi]! memang benar2 akan sulit diakses. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya!</p>
<p>Salam Bebas!</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/06/08/problem-di-anarchoigudbugcom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Bumi &#8211; Sama, Korban Kapitalisme</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 02:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kevlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[anti-kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Redefinisi Kapitalisme
 
Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia.
Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang pemilik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><strong><span lang="IN">Redefinisi Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang pemilik modal besar. Tidak sukar membayangkannya. Perumpamaannya<span> </span>seperti ini, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia kemudian membentuk lingkaran setan yang rapat sehingga orang–orang di dalamnya sulit keluar karena seolah dimanjakan (padahal diperbudak) segelintir pemilik modal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia melegitimasi penghisapan manusia atas manusia lain karena hanya cara tersebut yang ampuh mempertahankan eksistensinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia pintar, cerdas, tapi satu hal yang dapat menghancurkannya, ia licik dan culas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kepintarannya dapat dilihat dari bagaimana ia berperan sebagai tuhan ketika hamba mengemis, meminta kepadanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, mari kita masuk dalam lingkup ekonomi kapitalisme. Kasarnya seperti ini, daripada dapur kosong, tidak berasap, akhirnya hamba menuhankannya sembari bersabar dan berharap hari esok jauh lebih baik, padahal itu semua nihil jikalau kawan–kawan tidak frontal melawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kelicikan Humanisme Kapitalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lebih jauh, konsep ekonomi tersebut melahirkan kelas–kelas sosial dalam masyarakat atau pengotakan status manusia. Dikotomi si kaya dan si miskin adalah manifestasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tidak berhenti di sini. Ironis ketika percabangan tersebut tidak lagi berperikemanusiaan. Yang kaya semakin merajalela, yang miskin semakin menjerit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kawan–kawan tahu bahwa idealnya kondisi tersebut dapat memunculkan kedermawanan. Ingat ! Pilantropis murni tanpa embel-embel bukanlah seorang kapitalis, walaupun kebanyakan orang menganggap mereka kapitalis. Ia tahu betul ketidakseimbangan ajaran kapitalisme dan kemudian memilih menjadi pilantropis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia-kapitalisme melegalkan penghisapan yang dilakukan si kaya atas si miskin (baca: perbudakan). Sungguh sempit humanisme yang diartikulasikan kapitalisme. Bahkan perbudakan tersebut seolah dikondisikan terjadi dan bersifat tidak memaksa. Mengapa hal ini bisa terjadi ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kenyamanan semu perbudakan dalam lingkaran setan dapat menjadi sebuah jawaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Oleh karena itu, marilah sama-sama matangkan idealisme untuk keluar dari lingkaran tersebut walaupun terasa berat, lebih khusus bagi kapitalis muda mapan yang sudah merasa nyaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kapitalisasi Pendidikan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Kapitalisme tidak segan–segan melebarkan sayap di dunia pendidikan, tentu dengan idealismenya bahwa kepemilikan modal adalah segalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ia berhasil mendisfungsikan esensi pendidikan, mensubstitusi ruang kelas menjadi sebuah perusahaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Bagaimana tidak ? Kawan-kawan dapat melihat kondisi saat ini, yang bersekolah hanya yang mampu membayar, bagaimana dengan yang ingin sekolah tetapi tidak mampu membayar ? Kenyataan di lapangan, mereka tidak dapat menikmati bahkan sekedar untuk mencicipi suasana ruang kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ya, itu tadi sekelumit tentang pra-ruang<span> </span>kelas. Sekarang bagaimana dengan yang sedang menikmati ruang kelas ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aura intelektualisme pun didistorsi menjadi sebuah rutinitas formalitas berbuah kemalasan kontinu. Memang hal tersebut merupakan pilihan masing-masing individu<strong>. </strong>Tetapi penting diingat ! Jikalau ruang kelas masih dipenuhi perasaan dan aktivitas yang “salah”, adalah mimpi di siang bolong melahirkan individu-individu berkualitas unggul. Akhirnya, peserta didik hanya mencari nilai tetapi tidak lagi memikirkan, memanifestasikan apalagi mensyukuri arti sebuah proses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Lanjut dengan pascaruang kelas. Walhasil, lulusan ruang kelas pencari nilai akhir akan berpenyakit mental bahkan cenderung amoral. Di kemudian hari mereka enggan berpikir dan berusaha. Pragmatisme sempit akan melekat di masing-masing individu dengan meniadakan nilai-nilai murni yang dianugrahi di dalam diri. Korupsi adalah salah satu contoh sederhana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Sungguh, hal-hal tersebut yang diinginkan kapitalisme. Sebuah bahan perenungan perihal agenda busuk kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Kontinuitas Pergerakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Jadi, pergerakan radikal, frontal tanpa melupakan hal–hal fundamental adalah syarat mutlak menghancurkan eksistensinya-kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Aksi kolektif cerdas pemogokan kerja<span> </span>yang dilakukan kawan-kawan pekerja secara besar–besaran adalah salah satu cara membuatnya kebakaran jenggot walaupun tak sampai membuatnya mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Perlu sebuah kontinuitas sabar sembari melakukan pengecekan ulang terhadap infiltrasi yang dilakukan kapitalis dalam pergerakan (hal ini sangat penting demi menjaga kemurnian cita–cita pergerakan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mengapa pergerakan harus bersifat kolektif, cerdas, tulus, dan murni ? Ya, karena jikalau dilakukan tanpa konsep matang, anorganisir akan melahirkan pergerakan bersifat emosional saja, kemudian mengonsekuensikan sebuah stagnasi pergerakan yang tidak diharapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mari kawan, singsingkan lengan baju, kencangkan ikat pinggang dan jangan lupa rapatkan barisan !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ingat ! Pergerakan emosional terorganisir tidak lebih baik ketimbang pergerakan cerdas terkonsep.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan dimulai saat ini !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Ayo, tunggu apa lagi !!! Bangun dari tidur panjang !!! Wujudkan impian !!! Bergerak !!<strong></strong></span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/04/30/satu-bumi-sama-korban-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Negeri Kaya Tapi Miskin</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/30/negeri-kaya-tapi-miskin/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/30/negeri-kaya-tapi-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 02:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kevlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[tentang hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[
Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin menjerit. Mungkin kalimat tersebut dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya di negeri kita, Indonesia. Dunia menganggap Indonesia adalah negara berkembang atau lebih kasarnya negara miskin. Persepsi tersebut setengah benar dan setengah salah. Benar ketika banyak orang di Indonesia hidup di garis kemiskinan dan bahkan di bawah garis kemiskinan. Sementara persepsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin menjerit. Mungkin kalimat tersebut dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya di negeri kita, Indonesia. Dunia menganggap Indonesia adalah negara berkembang atau lebih kasarnya negara miskin. Persepsi tersebut setengah benar dan setengah salah. Benar ketika banyak orang di Indonesia hidup di garis kemiskinan dan bahkan di bawah garis kemiskinan. Sementara persepsi tersebut dikatakan salah bila dilihat dari sudut pandang lain. Banyak orang kaya, bisnis perumahan elit merajalela, pengusaha kaya yang sarat dengan modal tersenyum manis melihat bisnisnya berkembang pesat di atas penderitaan pengusaha kecil yang berpaham “ hidup enggan mati tak mau “. Hal – hal tersebut sudah bisa menggambarkan bahwa Indonesia negeri yang kaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sekarang pertanyaannya adalah mengapa rakyat semakin susah ?, mengapa rakyat semakin menjerit ? Jawabannya bisa beragam. Salah satunya adalah rakyat sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Kita ketahui bersama bahwa lapangan kerja di Indonesia atau lebih tepat di Jakarta sudah semakin menyempit. Hal tersebut dikarenakan Jakarta masih menjadi surga bagi pencari pekerjaan dari seluruh penjuru nusantara. Ironis ketika semangat mencari pekerjaan tidak dibarengi dengan kemampuan memadai. Sebuah konsekuensi logis adalah pengangguran menjamur di mana – mana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Penderitaan rakyat semakin sempurna ketika pemerintah seenak udelnya menaikkan harga bahan kebutuhan pokok dan harga bahan bakar. Hal tersebut semakin mengeratkan cekikan di leher rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Rakyat semakin susah jelas karena pemerintah tidak mengerti dan mengurusi rakyatnya dengan baik. Lihat saja saudara kita di Yahukimo yang kelaparan masal. Padahal di Papua kaya sumber daya alam. Kelihatannya saudara kita di Papua hanya berhak menjadi tamu di rumahnya sendiri. Hal tersebut tidak perlu terjadi apabila pemerintah tegas, tidak mau didikte pihak asing yang mengeruk sumber daya alam melimpah di Papua dan dibawa pulang ke negara mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Apa yang Salah ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Rakyat semakin menderita jelas karena pemerintah salah urus. Banyak program pemerintah yang salah sasaran. Pemerintah hanya menyisakan setengah hatinya untuk rakyat. Walhasil, rakyat semakin menjerit karena banyak masalah yang harus mereka hadapi dan selesaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Banyak program pemerintah yang bertujuan meringankan beban rakyat justru menambah berat beban yang harus dipikul rakyat. Operasi pasar yang dilakukan pemerintah banyak yang salah sasaran dan terbukti tidak ampuh menurunkan harga bahan kebutuhan pokok. Bantuan Langsung Tunai yang diperuntukkan bagi rakyat yang benar – benar miskin justru diterima ibu gemuk yang mengendarai motor dengan kalung emas menggantung di lehernya. Sungguh ironis mendengarnya bukan&#8230;? Inilah Indonesia&#8230; Begitupula dengan program konversi minyak tanah ke gas. Tabung gas untuk rakyat miskin diterima dengan senang hati oleh keluarga berkecukupan ketika rakyat yang benar – benar membutuhkan sulit mendapatkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jumlah tenaga tidak terdidik yang banyak juga menjadi kesalahan fatal dalam sebuah negara. Banyak rakyat Indonesia yang tidak sempat menyicipi bangku sekolah penuh selama 9 tahun, seperti program yang dicanangkan pemerintah. Hal tersebut jelas menjadi faktor utama pengangguran di Indonesia. Banyak dari ratusan juta rakyat Indonesia hanya bisa sekolah sampai tahap SD, bahkan tidak bisa sekolah sama sekali karena kekurangan biaya. Kita tahu bahwa negara Indonesia masih mewajibkan rakyatnya membayar untuk mendapatkan pendidikan di bangku sekolah yang seharusnya hal tersebut merupakan hak bagi rakyat Indonesia dan kewajiban pemerintah untuk membiayainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Solusi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Semua masalah pasti ada solusi. Kita tidak perlu takut, karena Allah S.W.T memberikan masalah satu paket beserta jalan keluarnya. Semangat inilah yang harus kita junjung tinggi untuk membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan dan ketidakberdayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Reasumsi saya, ada banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyenangkan hati rakyat. Pertama, pemerintah harus benar – benar tulus turun ke bawah sembari menghilangkan mental – mental pragmatis sempit. Kedua, pemerintah harus memperbanyak lahan pekerjaan untuk rakyat yang semakin susah. Ketiga, ini adalah faktor penentu kemajuan rakyat. Pemerintah harus menyekolahkan rakyat sampai ke jenjang SMA atau perguruan tinggi. Dananya bisa didapat dari pajak yang dikelola secara baik dan bijaksana. Keempat, pemerintah harus berusaha membebaskan biaya perawatan di rumahsakit untuk rakyat miskin yang benar – benar membutuhkan, jangan lagi salah sasaran. Kelima, jangan lagi ada kecemburuan seperti saudara kita di Papua. Pemerintah harus tegas menasionalisasikan perusahaan milik negara untuk kepentingan rakyat umum. Keenam, perlahan, sedikit demi sedikit kurangi ketergantungan dengan pihak asing. Giatkan sektor perekonomian lokal agar dapat memenuhi kebutuhan rakyat tanpa tekanan pihak asing. Dan akhir tidak terakhir, pemerintah harus menjadi suri tauladan yang baik bagi rakyat. Meliputi hal mental, gaya hidup, kejujuran, dan terutama akhlak yang mulia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri “.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">( sebuah persembahan untuk apa yang dinamakan indonesia dari seorang di seberang sana ).</span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/30/negeri-kaya-tapi-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anomali Ruang Kelas</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/24/anomali-ruang-kelas/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/24/anomali-ruang-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 10:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kevlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas!]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[

” Pendidikan… bukanlah perusahaan yang orientasinya uang… Pendidikan… bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan “.
Tersebut di atas adalah potongan lirik lagu Marjinal yang berjudul ” Aku Mau Sekolah Gratis “. Jelas kutipan tersebut menggambarkan wajah bulan dunia pendidikan Indonesia.
Institusi sekolah tidak lagi menjadi agen pencari bakat, pengembang potensi, dan melahirkan calon &#8211; calon pemimpin berakhlak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>” Pendidikan… bukanlah perusahaan yang orientasinya uang… Pendidikan… bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan “.</p>
<p>Tersebut di atas adalah potongan lirik lagu Marjinal yang berjudul ” Aku Mau Sekolah Gratis “. Jelas kutipan tersebut menggambarkan wajah bulan dunia pendidikan Indonesia.</p>
<p>Institusi sekolah tidak lagi menjadi agen pencari bakat, pengembang potensi, dan melahirkan calon &#8211; calon pemimpin berakhlak mulia. Kini, ia hanya sebuah korporasi yang memikirkan bagaimana menghasilkan keuntungan besar tanpa peningkatan kualitas internal. Kenyataan di lapangan, ia hanya menjadi tempat menghabiskan waktu anak didik tanpa memberi makna positif.</p>
<p>Lebih parah adalah kini ia kosong melompong walaupun ada terlihat aktivitas berjalan di sana. Kalau ia sudah seperti ini, adalah mimpi siang bolong ketika Anda yakin berpikir tentang keberadaan sebuah bangsa bermartabat.</p>
<p>Akhir &#8211; akhir ini,  media massa sedang senang menjual berita perilaku ganjil warga ruang kelas ( semoga konsumen, pirsawan tidak kecanduan berita yang dijual ), seperti kekerasan geng, video mesum, aksi amoral memalukan berkedok senioritas, dan hal lain yang berkaitan. Bahkan pendidik tak sungkan melakukan aksi serupa.</p>
<p>Sebuah pertanyaan adalah apakah pantas perilaku &#8211; perilaku tersebut mensubstitusi dan kemudian mencitrakan definisi sejati sekolah atau aktivitas pendidikan, lebih khusus di Indonesia ? Jawabannya mudah, tidak pantas, sungguh tidak pantas.</p>
<p>Jelas pemerintah telah gagal mendefinisikan sebuah sistem pendidikan yang membangun, merdeka, pelopor, visioner, bukan sekedar rutinitas formalitas, dan berakhlak mulia.</p>
<p>Sebuah harapan &#8211; harapan positif adalah ruang kelas ramai seperti pasar ( positif ), papan tulis kotor ( positif ), buku robek ( positif ), warga ruang kelas saling bertukar ilmu ( positif ), warga ruang kelas tidak menantikan jam istirahat dan pulang ( positif ), dan warga ruang kelas saling menasehati dalam kebaikan.</p>
<p>Ketika harapan &#8211; harapan tersebut terwujud, adalah benar ketika Anda berpikir tentang keberadaan sebuah bangsa bermartabat.</p>
<p>Untuk kesekian kali, ini pekerjaan rumah kita bersama.</p></div>
</div>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/24/anomali-ruang-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarki, Anarkis, Anarkisme dan Anarkistik</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/22/anarki_anarkis_anarkisme_dan_anarkistik/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/22/anarki_anarkis_anarkisme_dan_anarkistik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 17:38:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Bulan ini, istilah anarki dan anarkis menjadi suatu istilah yang &#8220;menonjol&#8221; di banyak media massa. Penulis memperhatikan bahwa sebagian besar media massa itu, telah menggeserkan makna dalam penggunaan kata anarki dan anarkis. Yah, tulisan ini sekadar mengingatkan kembali makna sebenarnya dari kata anarki dan kata-kata derivatnya.
Cobalah membuka beberapa kamus, seperti kamus Oxford, Kamus Besar Bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan ini, istilah anarki dan anarkis menjadi suatu istilah yang &#8220;menonjol&#8221; di banyak media massa. Penulis memperhatikan bahwa sebagian besar media massa itu, telah menggeserkan makna dalam penggunaan kata anarki dan anarkis. Yah, tulisan ini sekadar mengingatkan kembali makna sebenarnya dari kata anarki dan kata-kata derivatnya.</p>
<p>Cobalah membuka beberapa kamus, seperti kamus Oxford, Kamus Besar Bahasa Indonesia, berbagai kamus Inggris-Indonesia, Kamus Tesaurus dan lain-lain. Maka kita akan menemukan makna kata-kata (anarki dan derivatnya ini) sebagai berikut:</p>
<p>Anarki (dari kata anarchy), artinya ialah suatu keadaan dimana  tidak ada  kontrol kekuasaan atau hukum atau ketiadaan pemerintah/penguasa.</p>
<p><strong>Sedangkan kata anarkis bermakna orang (anarkis=kata benda/noun, jadi bukan kata sifat) sebagai terjemahan dari kata anarchist, yang artinya penganut faham anarkisme.</strong></p>
<p><span id="more-237"></span>Kemudian ada kata anarkik (dari kata anarchic) yang bermakna kurang lebih tindakan atau perilaku dari kaum anarkis.</p>
<p>Selanjutnya ada kata anarkisme (dari anarchism) yang bermakna faham atau ide atau ajaran tentang peniadaan/pembatalan kontrol kekuasaan pada masyarakat/negara, yang oleh kaum anarkis dicitakan untuk mengganti sistem ini dengan sustu sistem voluntir/kesukarelaan, atau faham akan sistem masyarakat berbasis kooperasi.</p>
<p>Sedangkan makna anarkistik, adalah sifat/kondisi atau situasi yang ingin diciptakan oleh faham anarkisme.</p>
<p><strong>JADI</strong>, jika di media massa disebutkan istilah demontrasi anarkis, ini bermakna sebuah demontrasi yang dilakukan para anarkis atau para penganut faham anarkisme (sekali lagi, kata anarkis bukan kata sifat, tetapi kata benda/noun).</p>
<p>Jika yang dimaksudkan oleh beberapa media massa adalah demontrasi yang bersifat anarki, maka seharusnya kata yang digunakan adalah anarkistik (anarkistik = bersifat anarki, kata sifat/<em>adjective</em>).</p>
<p>Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, arti anarki (noun/kata benda) adalah kehuru-haraan, kekacauan, kerusuhan, keruwetan, dan pemberontakan. Sedangkan arti kata anarkis (noun/kata benda) adalah pemberontak, pengacau, perusuh (jadi anarkis=menunjuk pada orangnya).</p>
<p>Sebenarnya, kesalahan dalam penggunaan kata semacam ini, juga sering kita lakukan dalam istilah/kata <strong>optimis </strong>dan <strong>optimistik</strong>. Sering kita <strong>tidak mengira</strong> bahwa kata/istilah optimis = kata benda/<em>noun</em>, yakni menunjuk pada subjeknya (orangnya). Sedangkan untuk menunjukkan sifatnya, dipakailah kata/istilah optimistik (terjemahan dari optimistic).</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=13065" target="_blank">http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=13065</a></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/22/anarki_anarkis_anarkisme_dan_anarkistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telah terbit &#8220;Perang Melawan Negara&#8221;</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/21/telah-terbit-perang-melawan-negara/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/21/telah-terbit-perang-melawan-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 15:14:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[terbitan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[kontinum]]></category>
		<category><![CDATA[Saul Newman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[
Telah terbit buku berjudul &#8220;Perang Melawan Negara &#8211; Anarkisme dalam Pemikiran Gilles Deleuze dan Max Stirner&#8221;, sebuah terjemahan dari karya Saul Newman yang memiliki judul asli &#8220;War on the State: Stirner&#8217;s and Deleuze&#8217;s Anarchism&#8221;.
Karya dengan 61 halaman ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Tim Media Kontinum, dapat dibeli dengan harga Rp.10.000. Untuk pemesanan, bisa dilakukan langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/perangmelawannegara.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-234" title="perangmelawannegara" src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/uploads/perangmelawannegara.jpg" alt="perangmelawannegara" width="351" /></a></p>
<p>Telah terbit buku berjudul &#8220;Perang Melawan Negara &#8211; Anarkisme dalam Pemikiran Gilles Deleuze dan Max Stirner&#8221;, sebuah terjemahan dari karya Saul Newman yang memiliki judul asli &#8220;War on the State: Stirner&#8217;s and Deleuze&#8217;s Anarchism&#8221;.</p>
<p>Karya dengan 61 halaman ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Tim Media Kontinum, dapat dibeli dengan harga Rp.10.000. Untuk pemesanan, bisa dilakukan langsung dengan mengontak Tim Media Kontinum melalui email ke kontinum@yahoo.com.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/21/telah-terbit-perang-melawan-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A global mayday call</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/15/a-global-mayday-call/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/15/a-global-mayday-call/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 04:52:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme global]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[mayday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[To All Those Who Fight 4: Anarchy, Autonomy, Ecology, Queerness
To all media activists, creative workers, radical artists, union organizers, immigrant and precarious youth
In 2009, as millions are made unemployed by stupidity and greed, we call onto all insurgent people and networks out there to unite on the 1st of May for a global mayday against [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>To All Those Who Fight 4: Anarchy, Autonomy, Ecology, Queerness</p>
<p>To all media activists, creative workers, radical artists, union organizers, immigrant and precarious youth</p>
<p>In 2009, as millions are made unemployed by stupidity and greed, we call onto all insurgent people and networks out there to unite on the 1st of May for a global mayday against financial capitalism and state repression, and for social redistribution and self-emancipation.</p>
<p><span id="more-228"></span><br />
<strong>MAYDAY, MAYDAY, MAYDAY, THE FIRST OF MAY WE&#8217;LL MAKE YOU PAY!</strong></p>
<p>YOU, the financial and political élites, we&#8217;ll make YOU pay for your crisis.</p>
<p>The economic and moral collapse of capitalism is for all to see. But it&#8217;s us who&#8217;s paying for the crisis with our money and jobs. They&#8217;re robbing us blind! States are throwing trillions at bankers, while jobs, wages, incomes, services are savagely cut, and millions are thrown into poverty.</p>
<p>We can fight and reverse this process. The Great Recession, the biggest crisis of capitalism in 80 years, opens up opportunities for social conflict and radical transformation.</p>
<p>We the Precarious, We the Unemployed, We the Immigrants, We the Antiracist, We the Antiauthoritarians, we are already fighting together from Athens to Reykjavik, from Capetown to Gaza, from Los Angeles to Buenos Aires, to Tokyo, from Shanghai to Mumbai, and across all seas and states where migrants risk their lives and freedom, in all the cities where dissident and discriminated people are fighting for social equality, autonomous culture, a better life.</p>
<p>Let&#8217;s unite in an ideal world brotherhood all our actions and demonstrations on the 1st of may in all the cities large and small around the globe. Let&#8217;s make our states and corporations know that at least on that day we are ONE against their capitalist crisis that threatens us all.</p>
<p>Let&#8217;s make&#8217;em pay on the 1st of May, and in London (vs G20) and Strasbourg (vs NATO) in the coming weeks.</p>
<p>MAYDAY: make&#8217;em pay&#8230;</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/03/15/a-global-mayday-call/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ORGANISASIKAN KOMUNITASMU: JANGAN MEMILIH!</title>
		<link>http://anarchoi.gudbug.com/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/</link>
		<comments>http://anarchoi.gudbug.com/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 06:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anarch[Oi]!</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini & analisis]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anarchoi.gudbug.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton, Program Musik Dahsyat di RCTI 19 Feb 09
Semua revolusi modern telah berakhir dengan kembalinya kekuatan negara—Albert Camus
Dewasa ini, “demokrasi” menguasai dunia. Runtuhnya rezim komunis Rusia, pendudukan di Afghanistan dan Irak yang mengatasnamakan demokrasi, sistem Pemilu multipartai yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia Ketiga, pertemuan-pertemuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton, Program Musik Dahsyat di RCTI 19 Feb 09</p>
<p>Semua revolusi modern telah berakhir dengan kembalinya kekuatan negara—Albert Camus</p>
<p>Dewasa ini, “demokrasi” menguasai dunia. Runtuhnya rezim komunis Rusia, pendudukan di Afghanistan dan Irak yang mengatasnamakan demokrasi, sistem Pemilu multipartai yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia Ketiga, pertemuan-pertemuan tingkat dunia yang membahas persoalan demokrasi ekonomi, pembantaian warga sipil palestina di Jalur Gaza dan serangan balas dendam pada warga Israel yang tidak bersalah demi kekuasaan modal, juga jadwal Pemilu pada bulan April 2009 di Indonesia—yang selalu diklaim dan digembar-gemborkan sebagai pesta demokrasi. Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah kita dan dunia? Kenyataannya dunia masih juga berjalan di antara kemiskinan, pengangguran, penghancuran ekologi, penghancuran hak-hak warga oleh korporasi, dan masalah-masalah lainnya. Lebih dari itu, kemandirian komunitas telah menjadi sesuatu yang benar-benar langka. Apakah ada yang salah dengan “demokrasi”? Apakah ada alternatif yang lebih memungkinkan dari “demokrasi”?<br />
<span id="more-224"></span><br />
Setiap Anak Kecil Dapat Tumbuh Menjadi Seorang Presiden</p>
<p>Bohong. Menjadi seorang Presiden berarti memegang sebuah kekuatan dalam posisi yang hierarkis, sama halnya dengan menjadi seorang milyuner: untuk ada satu orang Presiden, harus ada milyaran orang yang memiliki kekuatan lebih rendah dari dirinya. Dan seperti halnya dengan milyuner, hal yang sama berlaku juga dengan keberadaan seorang Presiden: bukan sebuah kebetulan bahwa kedua tipe tersebut saling menguntungkan, semenjak keduanya datang dari dunia yang memiliki banyak hak-hak istimewa dengan cara membatasi hak-hak kita sebagai orang-orang yang bukan bagian dari mereka. Sistem ekonomi kita, juga sebenarnya tidaklah demokratis, kita semua sudah tahu bahwa sumber kekayaan didistribusikan dengan proporsi yang secara absurd sangatlah tidak adil. Untuk menjadi seorang Presiden engkau harus memulainya dengan memiliki sumber kekayaan, atau setidaknya memiliki kedudukan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi sumber kekayaan. Walaupun apabila memang benar bahwa setiap orang dapat tumbuh menjadi seorang Presiden, hal tersebut tidaklah akan menolong milyaran dari kita yang kebetulan tidak menjadi seorang Presiden—yang masih harus hidup dalam bayang-bayang kekuasaannya. Hal inilah yang menjadi kesulitan mendasar, yang intrinsik, dalam sistem demokrasi representatif[1]—di mana kesulitan tersebut terjadi dalam level paling bawah maupun dalam level teratas. Sebagai contoh: Walikota, bersama beberapa orang politisi profesional, dapat mengagendakan pertemuan-pertemuan yang mendiskusikan masalah-masalah yang dialami oleh warga kota tersebut. Kemudian mereka menghasilkan berbagai keputusan setiap harinya untuk ditaati oleh setiap warga kota, tanpa sekalipun pernah mengkonsultasikannya dengan para warganya. Masalahnya, masalah yang dialami oleh tiap warga pasti berbeda-beda, sehingga mereka yang tidak mengalami masalah yang sama jelas akan merasa keberatan dengan diberlakukannya keputusan sepihak dari Walikota. Tidak perlu heran apabila ketidakpuasan akan terus terjadi. Para warga kota dapat memilih Walikota yang lain, walaupun pilihannya hanya akan kembali ke lingkaran yang itu-itu saja: mereka yang telah disediakan dalam daftar politisi atau calon politisi yang sudah dipilihkan untuk warga kota. Dari pilihan itu, tetap saja kepentingan dan kekuatan kelas dari para politisi tersebut akan selalu bertentangan dengan kepentingan warga kota. Lagipula, para loyalis partai politik selalu saja hanya melakukan hal-hal yang dianggap baik demi mendapatkan kursi kekuasaan dan bagaimana caranya mempertahankan kursi tersebut. Apabila tidak ada Presiden, maka bukan berarti bahwa “demokrasi” kita tersebut kurang demokratis. Masalah mendasarnya adalah korupsi, kepemilikan hak-hak istimewa dan hierarki tidak akan pernah lenyap walaupun kita telah memilih jutaan Presiden; karena cacat tersebut tidak terletak secara personal pada siapa yang menjadi Presiden, melainkan bahwa hal-hal tersebut merupakan metode-metode pemerintahan yang telah melekat erat dalam bentuk pemerintahan apa pun.</p>
<p>Tirani Mayoritas</p>
<p>Apabila anda pernah mengalami suatu masa di mana anda menjadi bagian dari kelompok minoritas yang tidak masuk hitungan sama sekali, sementara kelompok mayoritas memutuskan bahwa anda harus kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi diri anda sendiri tapi dianggap tidak penting oleh kelompok mayoritas, akankah anda hanya menurut demi kepentingan mayoritas? Saat hal tersebut terjadi, benarkah seseorang akan menyadari bahwa kekuasaan sekelompok orang ada karena mereka telah menyingkirkan hak-hak orang lainnya? Kita menerima kebenaran secara mutlak bahwa kepentingan mayoritas lebih penting karena kita tidak pernah percaya bahwa hal tersebut akan mengancam kepentingan kita—dan biasanya mereka, para minoritas yang telah terancam kepentingannya, telah ditutup dulu mulutnya sebelum kita sempat mendengar langsung tentang kondisi yang mereka alami. Tak ada “masyarakat biasa” yang mengakui bahwa dirinya terancam oleh aturan mayoritas, karena setiap orang berpikir ada sebuah “kekuasaan moral” yang menyatakan bahwa kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya: sesuatu yang di dalam kenyataan disebut sebagai fakta dengan merujuk pada standarisasi nilai-nilai yang tidak pernah ditanyakan terlebih dahulu, apakah kita sepakat atau tidak dengan aturan tersebut. Kalaupun hal tersebut tidak disebut sebagai fakta, setidaknya kita begitu sering mendengar hal tersebut dari berbagai teori, yang menyatakan bahwa ide tentang kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya. Dari demokrasi tersentral ala negara-negara Komunis, demokrasi Pancasila, sampai dengan demokrasi pasar yang eksis sekarang ini, kesemuanya tidak pernah mengakomodir kepentingan yang berbeda dari kepentingan mayoritas[2], bahkan jika itu adalah sesuatu yang keliru. Demokrasi dengan aturan mayoritas selalu berakhir dengan keputusan bahwa, apabila segala fakta telah terbukti benar, maka semua orang akan dibuat melihat bahwa hanya ada satu macam cara melakukan sesuatu yang bisa dikatakan benar alias hanya ada satu macam kebenaran. Tak heran jika pola demokrasi seperti demikian tak ada bedanya dengan kediktatoran. Masalahnya, dalam banyak kasus bahkan apabila “fakta” dapat dihadirkan secara jelas pada semua orang (yang jelas tak akan mungkin) beberapa hal tak dapat disetujui begitu saja, yang merupakan bukti bahwa sebenarnya kebenaran tidak hanya satu macam saja. Ada begitu banyak kebenaran di dunia ini, karena masing-masing individu dan lingkungan yang membentuknya punya keunikannya sendiri. Memaksa kebenaran yang bervariatif menjadi kebenaran tunggal akan menghilangkan keindahan yang mewarnai hidup ini. Kita semua membutuhkan bentuk-bentuk demokrasi yang mampu menghitung peristiwa-peristiwa tentang perbedaan kebenaran, di mana kita juga bebas dari sebuah sistem kediktatoran mayoritas sebagaimana kediktatoran kelas yang memiliki hak-hak istimewa.</p>
<p>Aturan Hukum</p>
<p>Perlindungan yang disediakan oleh institusi-institusi legal yang kita miliki sama sekali tidak cukup. “Aturan dan hukum yang adil”, yang dewasa ini diberhalakan oleh mereka yang memang memerlukan perlindungan atas kepentingannya (misalnya tuan tanah atau direktur bank), tidak dapat melindungi setiap orang dari kekacauan atau ketidakadilan; hal tersebut hanya menciptakan arena spesialisasi baru, di mana potensi dan kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh komunitas akan direduksi ke dalam sebuah arena jual beli yang mahal untuk membayar hakim atau pengacara. Masyarakat yang miskin, lemah, dan tidak berdaya, adalah kelompok yang paling akhir diperhatikan oleh aturan hukum yang ada. Di bawah kondisi demikian, potensi mandiri dan kekuatan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat akan disibukkan pada persoalan pemenuhan kemampuan finansial untuk membiayai institusi pengadilan, bukan digunakan untuk merebut kembali hidup yang telah dirampas. Memapankan keadilan dalam masyarakat melalui penguatan dan pemaksaan kontrol oleh hukum tidak akan pernah berhasil: beberapa hukum hanya dapat menginstitusionalkan apa yang telah menjadi aturan dalam masyarakat. Apa yang kita butuhkan adalah meninggalkan demokrasi representatif, untuk sebuah demokrasi partisipatoris[3] sepenuhnya.</p>
<p>Bukan Sebuah Kebetulan Apabila “Kebebasan” Tak Ada Dalam Kotak Pemilu</p>
<p>Kebebasan bukanlah sebuah kondisi—melainkan sesuatu yang lebih dapat dikatakan sebagai sebuah sensasi—dan hal tersebut bukanlah sebuah konsep akan janji kesetiaan untuk dituju, sebuah sebab yang mendasari tindakan, ataupun sebuah standar yang mengharuskan kita berbaris di bawah satu bendera; melainkan sebuah pengalaman yang harus anda alami sehari-hari yang bila tidak dialami, maka kebebasan tersebut akan meninggalkan anda. Kebebasan bukanlah saat kita beraksi ketika bendera dikibarkan dan bom-bom dijatuhkan hanya demi “membuat dunia aman untuk demokrasi”, tak peduli apa pun warna bendera yang dikibarkan (bahkan juga bendera hitam). Kebebasan tak bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan ataupun doktrin filosofis apa pun. Memberikan kebebasan pada orang lain tak akan mampu memperkuat kebebasan, selain hanya mengekang kemampuan orang tersebut untuk menemukan kebebasannya sendiri. Kebebasan muncul pada saat-saat yang sederhana; saat membuat anak kecil percaya pada sesuatu yang dilakukannya, pada momen-momen bersama dengan beberapa teman dekat dan kerabat, ataupun pada saat para pekerja menolak perintah pimpinan serikat buruhnya, dan kemudian mengorganisir pemogokan mandiri tanpa pemimpin. Apabila kita memang memperjuangkan kebebasan kita, maka kita harus mulai berjanji pada diri kita sendiri untuk selalu mengejar dan menghargai momen-momen tersebut dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkannya. Hal ini jelas lebih baik daripada menghabiskan waktu kita untuk melayani kepentingan partai atau ideologi (apa pun). Kebebasan yang nyata tak akan dapat ditemui dalam kotak Pemilu. Kebebasan bukan sekedar kemampuan untuk memilih satu dari beberapa pilihan, melainkan berpartisipasi aktif untuk membuat pilihan sendiri: membentuk dan mendekor ulang lingkungan di mana pilihan-pilihan tersebut dapat terbentuk. Tanpa hal ini, kita tak akan memiliki apa pun, selain hanya menerima pilihan yang telah ada berulang-ulang kali—membuat keputusan yang hasil akhirnya juga akan selalu sama. Apabila pilihan ada di tangan kita, maka segala sesuatu berarti kemungkinan baru. Dan ketika telah tiba saatnya untuk mengambilalih kekuatan dan kekuasaan atas diri kita sendiri, maka tak akan ada seorang pun yang dapat merepresentasikan diri kita—hal itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan secara mandiri. Kedaulatan tak akan pernah bisa direpresentasikan, bukan?!</p>
<p>“Lihat, Kotak Suara Pemilu—Demokrasi!”</p>
<p>Apabila kebebasan adalah sesuatu yang berharga di mana telah banyak generasi yang berjuang dan mati untuknya, maka kotak suara Pemilu adalah sebuah pereduksian makna atas kebebasan itu sendiri; seseorang cukup memasukkan pilihan suaranya pada sebuah kotak, kemudian kembali ke tempat kerjanya di mana dirinya tak lagi memiliki kontrol atas hidupnya, yang juga berarti hal tersebut justru tidak dapat dibilang sebagai upaya untuk meneruskan perjuangan demi kebebasan yang telah dilakukan lebih dulu oleh generasi-generasi sebelum kita. Untuk gambaran yang lebih mudah mengenai kebebasan, lihatlah musisi yang sedang melakukan improvisasi musikal bersama beberapa partnernya; ia melakukannya dalam suasana yang menyenangkan, dengan kerjasama yang benar-benar tanpa paksaan, sehingga mereka dapat aktif mencari nada, tempo, dan suasana yang nyaman di mana mereka dapat eksis—semua berpartisipasi untuk mentransformasikan dunia yang sebaliknya juga mentransformasikan diri mereka. Ambil model tersebut dan terapkan pada setiap interaksi kita dengan orang lain, maka anda akan memiliki sesuatu yang secara kualitas jadi lebih baik daripada sistem yang ada saat ini: sebuah harmoni dalam hubungan dan kehidupan manusia—sebuah demokrasi yang sesungguhnya. Untuk mencapai titik tersebut, kita harus mulai menganggap Pemilu sebagai sebuah ekspresi kebebasan dan partisipasi yang telah ketinggalan zaman dan tak layak dilakukan untuk merengkuh kebebasan yang lebih nyata.</p>
<p>Demokrasi Representatif Memiliki Kontradiksi Dalam Istilahnya Sendiri</p>
<p>Tak ada seorang pun yang dapat merepresentasikan kekuatan dan ketertarikan yang anda miliki—anda hanya akan mendapat kekuatan dengan melakukan sesuatu, dan anda hanya akan dapat tahu apa ketertarikan anda dengan cara melibatkan diri secara langsung. Para politisi telah mengembangkan karirnya dengan mengklaim bahwa mereka merepresentasikan orang lain seolah-olah kebebasan dan kekuatan politis dapat diselenggarakan oleh seorang wakil. Sejujurnya, para politisi yang sering disebut sebagai wakil rakyat, hanya orang-orang yang mewakili kepentingannya sendiri—dan kepentingan kelasnya yang berbeda dengan kita, masyarakat kebanyakan. Kepentingan para politisi yang mencari suara kita adalah mempertahankan sistem yang membeda-bedakan manusia ke dalam kelas-kelas sosial, sehingga mereka dapat menikmati hak istimewa yang hanya tersentral di sekitar mereka saja. Kepentingan kita adalah menghancurkan tersentralnya akses-akses atas hak-hak hidup dan pembagian manusia ke dalam kelas-kelas sosial, di samping memberdayakan dan memandirikan diri kita sendiri. Pemilu adalah ekspresi dari ketidakberdayaan dan ketidakmandirian kita: sebuah ijin yang kita berikan yang menyatakan bahwa kita hanya dapat mengerti kemampuan masyarakat kita melalui orang lain yang nantinya akan mewakili kita. Saat kita membiarkan para politisi tersebut menyediakan pilihan bagi kita, maka hal tersebut tak ada bedanya dengan saat kita menyerahkan urusan teknologi pada para teknokrat, urusan kesehatan pada dokter, tata kota yang kita tinggali pada ahli planologi; kita akan berakhir dengan terus hidup di sebuah dunia yang asing bagi diri kita sendiri, yang walaupun tenaga kita yang menciptakannya, kita tetap tidak mengerti apa yang sedang kita lakukan selain hanya menunggu diberitahu oleh para pemimpin dan para spesialis tentang apa saja kemungkinan yang kita miliki. Faktanya adalah kita tak perlu memilih satu di antara beberapa kandidat Presiden, merk soft-drink, channel televisi, koran, ataupun ideologi politik. Kita dapat membuat keputusan kita sendiri sebagai individu dan komunitas, kita dapat membuat makanan yang enak dengan tangan kita sendiri, membuat koalisi sendiri, media sendiri, hiburan sendiri: kita dapat menciptakan pendekatan individual kita sendiri pada hidup yang memberi kita semua keunikan masing-masing.</p>
<p>Konsensus</p>
<p>Secara radikal, demokrasi partisipatoris juga dikenal sebagai demokrasi konsensus, sesuatu yang di belahan dunia lain telah dikenal cukup akrab dan bahkan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dari komunitas adat di Amerika Latin sampai pada sel-sel aksi politis posmodern (grup affiniti atau kelompok affinitas[4]) di berbagai negara Dunia Pertama ataupun pertanian organik yang dioperasikan secara kooperatif di Australia. Demokrasi konsensus juga telah berlangsung selama sekian waktu dalam komunitas Sedulur Sikep[5] sampai pada aksi gotong-royong para petani di Kulon Progo yang menolak penambangan pasir besi. Demokrasi konsensus adalah sebuah bentuk demokrasi langsung, yang sangat berbeda dengan demokrasi representatif: para partisipan selalu terlibat dalam pengambilan keputusan harian, melalui desentralisasi ilmu pengetahuan dan kekuasaan, sehingga pengambilan kontrol atas hidup sehari-hari menjadi sesuatu yang sangat mungkin. Berbeda dengan demokrasi yang mengandalkan aturan mayoritas, nilai-nilai yang dianut demokrasi konsensus membutuhkan keterlibatan setiap individu secara setara; apabila ada satu saja orang yang tidak setuju dengan sebuah keputusan yang diambil, maka adalah tugas semuanya untuk menemukan solusi baru yang dapat diterima oleh semua. Demokrasi konsensus tidak menuntut agar seseorang menerima kekuatan orang lain atas hidupnya, walaupun hal ini juga bukan berarti bahwa tiap orang tidak membutuhkan orang lain; walaupun dalam soalan efisiensi, hal seperti ini amatlah lamban, tetapi dalam segi kebebasan dan itikad baik, hal tersebut akan mendapat poin yang sangat tinggi. Demokrasi konsensus tidak memaksa orang untuk mengikuti pemimpin ataupun standarisasi nilai, melainkan membiarkan orang lain untuk memiliki tujuannya dan cara pencapaiannya sendiri.</p>
<p>Otonomi</p>
<p>Agar demokrasi langsung dapat menjadi berarti, orang-orang harus memiliki kontrol atas hidup yang berkaitan dengan dirinya maupun sekelilingnya. Otonomi adalah ide di mana pilihan untuk menentukan apa yang terbaik bagi diri kita masing-masing ada di tangan kita, dan bukan orang lain—apalagi orang yang hanya kita kenal dari poster atau baliho yang dipasang menjelang Pemilu. Otonomi juga berarti bahwa tak ada seorang pun yang dapat menentukan pilihan tentang apa yang harus anda lakukan untuk mengisi waktu dan potensi yang anda miliki—ataupun menentukan bagaimana lingkungan sekitarmu harus dibentuk. Jangan kacaukan hal tersebut dengan “kemerdekaan” individual yang sempit—dalam kenyataannya tak ada seorang pun yang benar-benar merdeka dan mandiri sejak banyak hal dalam kehidupan kita saling terhubung dan tergantung dengan sesama kita (kita terbiasa bekerja dan menyebut diri kita mandiri, padahal kita tetap membutuhkan peran orang lain untuk membuat kita dapat hidup mandiri[6])—kedua hal tersebut hanyalah sebuah mitos individualis sempit yang membuat kita menolak mengakui perlunya keberadaan komunitas. Pemujaan yang berlebih terhadap istilah “mandiri” dalam masyarakat kompetitif menegaskan sebuah penyerangan terhadap siapa pun yang tak mau melakukan pengeksploitasian atas orang lain demi kepentingannya sendiri. Contoh jelasnya terdapat pada istilah otonomi dan mandiri seperti yang sering disebut-sebut oleh media massa dan pemerintah (seperti dalam kata “Otonomi Daerah”[7]). Otonomi yang kita tekankan adalah sebuah hubungan saling ketergantungan yang bebas di antara sesama kita yang berbagi konsensus, seperti pilihan dengan siapa kita bertindak secara bebas demi pembangunan swakelola atas seluruh aspek kehidupan, dll. Otonomi adalah sebuah antitesis dari birokrasi (sebuah hal yang jelas membuat kata “Otonomi Daerah” tampak sebagai sebuah lelucon). Agar otonomi dapat terwujud, segala aspek komunitas, dari teknologi hingga sejarah harus diorganisir ulang agar dapat diakses oleh siapa pun. Agar perjuangan ini menemui titik terang, semua orang harus menggunakan kesempatan akan akses tersebut. Grup-grup otonomis dapat dibentuk tanpa perlu sebuah agenda yang jelas, selama sesama anggotanya mendapat keuntungan dari partisipasi anggota lainnya. Beberapa grup dapat mengandung kontradiksinya sendiri, sebagaimana secara individu kita semua juga seperti itu, tetapi masih tetap dapat bekerja bersama-sama.</p>
<p>Momen-momen di mana kita semua harus diseragamkan di bawah satu bendera, satu model dan satu pola, sudah tak mampu lagi untuk menjawab kebutuhan kita akan kebebasan yang setara. Kita harus mencoba memasuki dunia baru. Grup-grup otonomis harus mengambil sikap yang jelas untuk melawan tekanan dari luar (maupun dari dalam) yang menyatakan bahwa tak ada hak bagi individu untuk menentukan hidupnya sendiri, atau mereka yang berusaha mengilfiltrasi otonomi dan konsensus dengan melakukan penghancuran struktur. Kekuasaan atas otonomi harus dilakukan dengan cara apa pun, termasuk penghancuran struktur status quo dan menggantikannya dengan struktur yang lebih demokratis secara radikal. Sangat tidak cukup saat kita menghancurkan jalanan karena menganggap pembangunan jalan hanya menimbulkan lebih banyak lagi polusi. Kita harus mampu mencari cara seperti menyediakan transportasi gratis, misalnya. Atau contoh lainnya, kita tak cukup sekedar mengkritik pola pendidikan di Indonesia tanpa mencoba membentuk sebuah sekolah dengan pola pendidikan yang berbeda. Tak perlu sekolah besar, cukup sekolah kecil non-formal yang menggunakan pola pengajaran yang progresif.</p>
<p>Aksi Langsung</p>
<p>Otonomi juga berarti aksi langsung, tidak menunggu proposal untuk disetujui oleh “jalur legal” yang selalu memakan waktu yang berkepanjangan dan dana yang mengalir terus menerus tanpa jelas ke mana akhirnya. Mari bangun jalur kita sendiri. Kalau kita ingin orang-orang yang kelaparan mendapatkan makanan, jangan berikan uangmu pada institusi legal yang biasanya membutuhkan biaya-biaya administrasi yang akhirnya uangmu akan habis untuk keperluan birokratis mereka—cari di mana sumber makanan murah dan cukup bergizi, kumpulkan, dan bagikan langsung pada mereka yang mengalami kelaparan. Kalau kamu membutuhkan makanan murah, jangan tunggu sampai ada orang kaya memberimu makanan ataupun mencari tanah kosong dan meminta ijin pada insitusi legal untuk menggunakan lahan tersebut—hal itu hanya akan memakan waktu bertahun-tahun dan jalur berbelit-belit yang malahan akan menghabiskan dana yang kamu miliki. Cari lahan-lahan kosong, tanami dengan tanaman pangan yang mampu tumbuh di tempat tersebut. Langkah berikutnya adalah memelihara dan menjaganya agar dapat tumbuh subur. Akan lebih baik jika dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut secara gotong-royong dengan lebih banyak orang. Kita akan mampu untuk memelihara dan menikmati hasilnya bersama-sama. Apabila ada tuan tanah berusaha meratakan lahan panganmu karena kamu dianggap menggunakan lahan kosongnya tanpa izin, pertahankanlah bersama-sama. Para tuan tanah tersebut terlihat benar hanya karena mereka memiliki uang yang jauh lebih banyak daripada dirimu dan hukum memang melindungi mereka, bukan kalian. Jangan tunggu sebuah ijin legal disahkan untukmu, jangan tunggu mereka yang memegang kekuasaan memberitahu padamu apa yang harus dilakukan dengan hidupmu. Lakukan sesuatu. Saat ini juga.</p>
<p>Federasi Tanpa Pemimpin</p>
<p>Grup-grup otonomis independen dapat bekerjasama dalam sebuah federasi tanpa satu kelompok pun yang memiliki hak lebih untuk memutuskan sesuatu yang merupakan kepentingan semua kelompok. Beberapa struktur sosial seperti demikian tampak seperti sebuah utopia. Tapi sebenarnya hal-hal seperti itu mampu direalisasikan—tak perlu berharap akan terjadi dalam skala besar, cukup kita lakukan dalam skala kecil terlebih dahulu. Hal-hal besar sendiri selalu lahir dari hal-hal kecil yang terus terakumulasi dan berkelanjutan. Individu-individu yang merasa setuju sepenuhnya dengan keputusan sebuah grup tidak boleh menutup dirinya untuk bergabung juga dengan grup lainnya untuk mengembangkan keinginannya. Agar hal-hal seperti itu dapat berjalan dalam jangka panjang, kita semua perlu untuk tetap mengembangkan sikap kooperatif, saling membutuhkan dan toleransi terhadap generasi yang muncul berikutnya—hal-hal seperti itulah yang kami usulkan saat ini.</p>
<p>Bagaimana Menyelesaikan Perbedaan Masalah Tanpa Perlu Keberadaan Pemerintah Ataupun<br />
Pemimpin?</p>
<p>Dalam struktur sosial di mana partisipasi tiap individu diutamakan, maka harus ada sebuah tekanan untuk mendorong pereduksian kebiasaan-kebiasaan yang merusak dan penuh kekerasan. Dibutuhkan sebuah pendekatan yang humanis, bukan yang penuh paksaan dan tekanan seperti yang selama ini pemerintah lakukan dengan ancaman penjara dan aparat keamanannya yang terkenal penuh kekerasan—yang hanya memupuk korupsi di antara para petugas hukum dan membenarkan tindakan kriminal yang ada. Mereka yang menolak untuk berintegrasi dengan komunitas manapun, serta menolak bantuan atau masukan dari yang lain, jelas akan menemukan kenyataan bahwa diri mereka akan tersisihkan dari interaksi manusia; tetapi hal tersebut pun lebih baik daripada pengasingan di penjara, seperti yang selama ini selalu berlaku dalam sistem sosial kita. Kekerasan seharusnya hanya dijadikan sebuah alat untuk mempertahankan diri bagi sebuah komunitas, bukannya sebagai alasan untuk menghancurkan komunitas lainnya atas pembenaran superioritas diri seperti yang selama ini juga selalu terjadi dalam sistem sosial kita. Hal ini juga diaplikasikan bagi kelompok masyarakat ataupun grup otonomis yang belum menjalin hubungan baik dengan komunitas kita. Ketidaksetujuan yang memasuki tahapan sangat serius dapat diselesaikan dengan berbagai cara seperti reorganisasi grup ataupun pembubaran. Seringkali individu-individu yang tidak dapat lagi mendapatkan kata setuju dalam sebuah grup ataupun komunitas, justru dapat lebih banyak meraih sukses dalam melakukan pola kooperatif yang dilakukan bersama individu lain di luar komunitasnya yang pertama. Apabila dalam konsensus tak dapat ditemukan kata setuju pada sebuah komunitas, maka grup tersebut perlu untuk dipecah menjadi bagian yang lebih kecil dan saling setuju dalam beberapa aktifitasnya. Hal tersebut memang kadang membuat frustrasi, tetapi hal itu tetap lebih baik daripada akhirnya keputusan dipaksakan oleh sebagian individu yang merasa memiliki kekuatan lebih dari yang lainnya. Semua komunitas independen harus selalu berurusan dengan hal tersebut, suka atau tidak suka, apabila memang tetap ingin membangun sebuah komunitas yang sehat dan terbuka.</p>
<p>Hidup (Ternyata) Tak Memerlukan Ijin</p>
<p>Ini adalah bagian tersulit, tentu saja. Tetapi bukankah kita tidak sedang membicarakan sebuah aturan sosial yang adil? Kita sedang mendiskusikan mengenai sebuah revolusi total atas hubungan manusia sehari-hari—sebuah solusi yang perlu dilakukan untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh spesies kita dewasa ini. Mari hadapi kenyataan—bahwa sebelum kita semua mampu menerapkan hal tersebut, maka tak perlu heran saat kekerasan yang terjadi dalam interaksi kita sehari-hari akan terus berlanjut, dan tak ada sistem ataupun hukum yang dapat menghentikannya dan melindungi kita. Alasan terbaik untuk menggantikan demokrasi representatif adalah dengan cara membangun demokrasi konsensus di mana tak akan ada lagi solusi palsu. Memang tak ada cara yang mudah untuk menekan angka konflik tanpa mencari akar konflik itu sendiri. Mereka semua yang terlibat harus mulai belajar untuk menjadi eksis tanpa harus merendahkan yang lain, serta mengeliminir kebiasaan-kebiasaan menyebalkan kita sendiri yang justru membuat kita lelah untuk membuat sesuatu yang lebih baik di dunia ini. Perkembangan pertama yang dapat diraih dalam dunia baru ini dapat ditemukan dalam hubungan pertemanan dan cinta kita. Saat kita semua terbebaskan dari hubungan yang dipaksakan, hubungan akan menjadi lebih nyaman. Ambil contoh ini, dan terapkan dalam seluruh masyarakat—ini arti yang dimaksud dengan kalimat “melampaui demokrasi”. Adalah sebuah prospek yang menantang untuk mencapai hal tersebut dari tempat kita berada saat ini… tetapi apa yang menjadi menarik dan indah dari konsensus dan otonomi adalah bahwa kita tidak perlu menunggu terpilihnya sebuah pemerintahan yang adil dan mengerti keinginan kita semua untuk mengaplikasikan konsep di atas—kita dapat mempraktekkannya saat ini juga, dengan orang-orang di sekitar kita dan secara langsung menerima keuntungan dari hal tersebut. Sekali saja hal tersebut dipraktekkan, maka akan terbuka jelas pola hidup tersebut bagi orang lainnya; tak perlu ada khotbah mengenai mana yang baik dan mana yang buruk saat kita menghidupi aktifitas-aktifitas secara langsung. Bentuk grup otonomismu sendiri untuk menjawab tantangan bahwa penguasa tak diperlukan untuk menentukan jalan hidupmu, dan untuk membentuk lingkungan di sekitarmu yang berarti juga hidupmu sendiri. Tak ada seorang wakil pun yang dapat melakukannya untukmu—seperti juga bahwa sejak dulu tak pernah ada seorang wakil pun yang mampu melakukan sesuatu untuk hidup kita. Dari hal-hal kecil seperti yang kita lakukanlah maka demokrasi yang sesungguhnya akan terbentuk. Maka, saat seseorang berkata kepada kita di suatu waktu, “Berterimakasihlah bahwa kamu telah hidup di dalam alam yang lebih demokratis dibanding masa lalu,” kita akan menjawabnya: “Tidak cukup sampai di situ! Kita harus mengetahui dengan lebih jelas apa yang kita inginkan dan apa yang harus kita lakukan, lewat pengalaman langsung kita sendiri.”</p>
<p>Aksi Langsung Versus Pemilu<br />
Panduan Bagi Komunitas-Masyarakat Non-Partai</p>
<p>Di Indonesia, Pemilu yang disebut sebagai pesta demokrasi di mana “masyarakat umum” akan memilih calon pemimpin mereka—yang diharapkan akan menciptakan perubahan—telah kehilangan pamornya. Ini bukan berarti bahwa masyarakat itu sendiri telah memiliki kesadaran bahwa sistem demokrasi elit ini sudah busuk dan sepatutnya diganti. Buktinya rutinitas ajang popularitas politisi dan elit borjuis terus saja berlangsung. Mengapa seperti ini? Jawaban yang mungkin paling mudah dan sederhana adalah bahwa, meskipun masyarakat “tidak percaya lagi” terhadap pemilu, mereka tidak punya pilihan lain mengenai pilihan macam apa yang dapat menciptakan perubahan yang berarti, selain memilih politisi.</p>
<p>Inilah mengapa banyak masyarakat merasa tak berdaya. Apalagi menimbang mentalitas budaya dominan masyarakat Indonesia di mana ketergantungan dan pendambaan akan pemimpin politik masih sangat kental. Artinya, rasa percaya diri masyarakat terhadap potensi diri mereka sendiri untuk membuat perubahan sangatlah rendah. Meski begitu, budaya sendiri merupakan sesuatu yang dibuat oleh relasi antar manusia, oleh aktivitas manusia itu sendiri, yang berarti mentalitas yang dihasilkan oleh budaya itu sendiri sangat mungkin untuk dirubah. Untuk merubahnya, kita harus terbiasa untuk melakukan aksi langsung.</p>
<p>Bila memang benar bahwa pemilu hanya akan memperbesar kantong para politisi dan elit borjuis, maka, adakah cara yang lebih efisien dan efektif untuk dapat merubah kehidupan kita? Jawaban yang paling mungkin dan berarti adalah bagaimana kita mewakilkan diri kita sendiri untuk memengaruhi setiap kebijakan yang akan dibuat mengenai kehidupan kita. Bagi sebagian orang, pilihan semacam ini disebut sebagai aksi langsung.</p>
<p>Untuk lebih menjelaskannya, aksi langsung bukanlah cara-cara melobi atau kembali memilih kandidat untuk partisipasi politik, sama sekali bukan. Aksi langsung adalah bagaimana kita membangun suatu cara di mana kita sendiri secara langsung berpartisipasi aktif dalam perencanaan hidup kita. Ini berarti kita memotong peranan para penengah. Aksi langsung adalah juga bagaimana kita menyelesaikan permasalahan tanpa harus kompromi atau mempercayai peranan para elit politik di DPR, kepanjangan tangan korporasi, atau siapa pun yang mengklaim memiliki kekuasaan di atas kita. Contoh konkrit aksi langsung ada di mana-mana. Ketika sekelompok orang mendistribusikan pangan secara cuma-cuma bagi tunawisma tanpa harus menunggu kucuran dana atau izin pemerintah, mereka telah melakukan aksi langsung. Ketika seseorang membuat dan mendistribusikan medianya sendiri tanpa harus tergantung pada media-media milik borjuis untuk memuatnya, dia telah melakukan aksi langsung. Ketika komunitas kampung membangun sekolah mandirinya sendiri dan menginisiatifkan pelajarnya untuk membuat kurikulum pelajaran menurut kebutuhan mereka masing-masing tanpa harus bersandar atau tergantung pada lembaga pendidikan resmi, itu adalah aksi langsung. Aksi langsung merupakan fondasi perjuangan masyarakat yang sebenarnya, ketika mereka ingin melakukan perubahan yang berarti. Artinya, aksi langsung adalah ketika kita tidak lagi menuntut atau mengemis agar perubahan dapat dilakukan oleh seseorang yang berada di luar dari kita dan komunitas kita—tapi bagaimana kita dan komunitas kita sendiri yang mengupayakan perubahan tersebut sekarang juga.</p>
<p>Dalam banyak hal, aksi langsung jelas lebih efektif dibandingkan pemilu. Pemilu itu seperti judi, bila salah satu kandidat tidak terpilih, maka energi yang telah diupayakan oleh komunitas-masyarakat untuk menggolkan kandidatnya akan terbuang sia-sia. Dengan aksi langsung, komunitas-masyarakat akan lebih yakin dengan kerjasama serta energi yang mereka keluarkan. Dan manfaat yang didapat dari aksi langsung akan membuat infrastruktur dalam masing-masing komunitas semakin kuat. Hubungan antar komunitas pun akan lebih hidup—serta manfaat-manfaat lainnya yang tidak akan sia-sia.</p>
<p>Pemilu memusatkan seluruh kekuatan masyarakat ke tangan segelintir politisi. Semua itu dilakukan dengan berbagai intrik, manipulasi politik, serta kongkalikong dengan para pengusaha. Mereka memaksa setiap masyarakat untuk tunduk dan tidak punya partisipasi apa-apa, selain apa yang mereka perintahkan lewat mobilisasi massa dan bayaran yang sangat kecil dibanding keuntungan yang mereka dapatkan. Dengan aksi langsung, engkau akan lebih mengenal kemampuan, inisiatif, serta sumber daya-sumber daya yang ada di sekitarmu, dan memahami sejauh mana kau bisa melakukan perubahan yang sebenarnya.</p>
<p>Pemilu juga memaksa semua orang agar menyepakati suatu landasan yang belum tentu cocok dengan kita. Berbagai bentuk koalisi akan dibangun untuk membuat kompromi—setiap faksi bersikukuh bahwa landasan merekalah yang paling benar dan faksi yang lainnya hanya menjadi perusak semenjak tidak dapat mengikuti landasan faksi tersebut. Namun dari kesemuanya, tak ada satu pun yang memperjuangkan kepentingan kita. Akan ada banyak energi yang terbuang sia-sia dalam rutinitas tuding-menuding ini. Dengan aksi langsung, kita tidak membutuhkan dagelan semacam itu: berbagai kelompok yang berbeda dapat menggunakan cara yang berbeda juga—semua itu dilakukan menurut apa yang mereka percayai dan mereka butuhkan. Berikutnya, yang lebih penting, mereka merasa nyaman melakukannya. Dengan demikian, kemungkinan untuk membangun kerjasama yang saling mengisi dapat terjadi. Masyarakat yang menggunakan aksi langsung yang berbeda-beda tidak perlu berdebat sengit, kecuali mereka memang sedang mencari konflik (mungkin karena ekses pengalaman pemilu bertahun-tahun yang membuat mereka sulit untuk menerima pendapat berbeda dari yang lain). Konflik yang terjadi di masa-masa pemilu seringkali menjadi pengalihan dari permasalahan-permasalahan yang nyata, sebagaimana ketika beberapa kelompok masyarakat terlibat dalam drama dan konflik dari partai politik tertentu. Dengan aksi langsung, permasalahan yang mendesak harus diangkat, dibahas, dan menuntut untuk diselesaikan.</p>
<p>Lagipula, Pemilu hanya dilakukan dalam kurun waktu lima tahun sekali. Aksi langsung dapat dilakukan kapan saja. Pemilu hanya mengangkat beberapa agenda politik yang dibuat oleh elit politik, sementara aksi langsung dapat dilakukan di setiap aspek kehidupanmu dan di mana saja engkau berada. Pemilu dan voting sering dilebih-lebihkan sebagai “kebebasan” yang sedang beraksi. Pemilu bukanlah kebebasan, karena kebebasan berarti secara aktif memikirkan dan memutuskan sesuatu dari awal—bukan sekedar kebebasan dalam memilih apa yang hanya disediakan oleh mereka, para elit politik yang tak pernah kita kenal. Tak ada yang dapat menggantikan aksi langsung. Dengan aksi langsung, engkau sendirilah yang membuat rencana, mencoba pilihan-pilihan dan resiko-resikonya. Dan batas dari semua itu hanyalah langit.</p>
<p>Catatan:<br />
<span> [1] Demokrasi representatif atau demokrasi perwakilan, adalah jenis demokrasi yang paling umum kita ketahui—dari yang dipraktekkan dalam kenegaraan, sampai pada komunitas kecil pada umumnya. Demokrasi model seperti ini sangat rentan terhadap pengkhianatan yang dilakukan oleh para wakil yang diklaim dipilih oleh banyak orang. Selain itu, kendali terhadap pilihan yang akan diambil sangat terpusat hanya pada para pemimpinnya, sehingga mayoritas orang, sebenarnya hanya dijadikan alat saja bagi para pemimpin tersebut. Tak heran jika kemudian demokrasi representatif melahirkan pengkhianatan-pengkhianata</span></p>
<div>n yang dilakukan oleh para pemimpinnya. Demokrasi representatif, secara mudahnya dapat diidentifikasi berbentuk piramida di mana keputusan yang dibuat berasal dari atas (minoritas) ke bawah (mayoritas).</p>
<p>[2] Pada kenyataannya, kepentingan mayoritas ini juga memiliki kontradiksi. Contohnya, saat Partai Golkar memenangkan pemilu dengan suara paling banyak, mayoritas dari para pemilihnya tetap saja berkubang dalam kemiskinan dan rasa frustasi—hanya para pemimpin dan elit-elit partai tersebut saja yang dapat menikmati hak-hak istimewanya. Siapa pun pemimpinnya, selama masyarakat tidak mempunyai kontrol langsung terhadap keputusan-keputusan yang dibuat, masyarakat hanya akan dijadikan sebagai sapi perahan oleh para pemimpin.</p>
<p>[3] Demokrasi partisipatoris atau demokrasi akar-rumput atau biasa juga disebut demokrasi konsensus, adalah kebalikan dari demokrasi representatif. Demokrasi model ini sangat menekankan pada partisipasi aktif dari anggota komunitas bukan hanya untuk menentukan pilihan saja, tapi juga dalam pembuatan pilihan-pilihan. Demokrasi partisipatoris jelas tidak dapat dipraktekkan dalam kenegaraan karena negara membutuhkan birokrasi yang bertingkat, yang memisahkan para wakil dengan para pemilihnya. Demokrasi partisipatoris adalah demokrasi dalam artian sesungguhnya, di mana masing-masing orang memiliki hak untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Jika demokrasi representatif menggunakan metode dari atas ke bawah (top-down), maka demokrasi partisipatoris lebih menekankan pengambilan keputusan dari bawah (bottom-up).</p>
<p>[4] Kelompok affinitas merupakan kelompok kecil berjumlah 5 sampai 20 orang yang bekerjasama secara otonom pada proyek-proyek aksi langsung ataupun proyek lain. Kelompok affinitas menantang pengambilan keputusan dari atas ke bawah, dan memberdayakan mereka yang terlibat untuk mengambil aksi langsung yang kreatif. Kelompok affinitas memampukan orang untuk melihat aksi mereka dengan kemerdekaan penuh dan kekuasaaan untuk pengambilan keputusan. Kelompok affinitas menggunakan prinsip-prinsip desentralis dan non-hierarki.</p>
<p>[5] Sedulur Sikep atau dikenal juga dengan sebutan Masyarakat Samin, adalah komunitas yang di awal kelahirannya memberontak untuk membayar pajak pada pemerintah kolonial Belanda. Metode perlawanan yang mereka lakukan adalah dengan melakukan pembangkangan sosial terhadap kepatuhan yang dipaksakan pada mereka. Komunitas ini menganggap setiap orang setara. Sampai sekarang komunitas ini masih eksis dan tersebar di beberapa wilayah seperti Blora, Pati, Pacitan, dll.</p>
<p>[6] Kemandirian dan keberdayaan yang kami maksud adalah kemandirian yang saling terhubung antar individu maupun antar komunitas—kemandirian yang tidak terpisah dengan hal-hal lainnya. Faktor-faktor ini perlu ditekankan karena sebenarnya setiap individu maupun komunitas punya keunikannya masing-masing. Bandingkan dengan individu maupun komunitas yang hanya bisa membebek pada komunitas-komunitas lainnya: semua hal akan menjadi seragam dan membosankan.</p>
<p>Di sisi lainnya, kemandirian yang dimaksud oleh para individualis sempit adalah kemandirian yang memutuskan relasi sosial dengan sesamanya. Mereka merasa dirinya sendiri jauh lebih baik dari orang lain. Kemandirian yang diklaim oleh para individualis sempit ini biasanya berujung pada tindakan kekerasan terhadap kelompok lain.</p>
<p>[7] Otonomi Daerah adalah sebuah parodi tak lucu akan kemandirian. Bagaimana mungkin sebuah daerah mampu otonom dalam konstelasi birokrasi yang terpusat, yang keputusannya tetap berada di tingkat paling atas? Otonomi daerah hanyalah sebuah restu yang diberikan pejabat-pejabat pusat di Jakarta agar para pejabat daerah bisa korupsi lebih banyak lagi, dan artinya, yang paling menderita lagi-lagi orang-orang seperti kita.</p>
<p>Kunjungi situs online kami:<br />
<span> www.katalis.tk | www.apokalips.org | www.affinitasonline.com | www.satubumi.co.nr | www.pustaka.otonomis.org | www.kontinum.tk | www.amorfatum.wordpress.co</span>m</div>
<div></div>
<div>Sumber tulisan http://timkatalis.blogspot.com/2009/02/organisasikan-komunitasmu-jangan.html</div>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=" rel="nofollow"><img src="http://anarchoi.gudbug.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anarchoi.gudbug.com/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
