Anomali Ruang Kelas

” Pendidikan… bukanlah perusahaan yang orientasinya uang… Pendidikan… bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan “.

Tersebut di atas adalah potongan lirik lagu Marjinal yang berjudul ” Aku Mau Sekolah Gratis “. Jelas kutipan tersebut menggambarkan wajah bulan dunia pendidikan Indonesia.

Institusi sekolah tidak lagi menjadi agen pencari bakat, pengembang potensi, dan melahirkan calon – calon pemimpin berakhlak mulia. Kini, ia hanya sebuah korporasi yang memikirkan bagaimana menghasilkan keuntungan besar tanpa peningkatan kualitas internal. Kenyataan di lapangan, ia hanya menjadi tempat menghabiskan waktu anak didik tanpa memberi makna positif.

Lebih parah adalah kini ia kosong melompong walaupun ada terlihat aktivitas berjalan di sana. Kalau ia sudah seperti ini, adalah mimpi siang bolong ketika Anda yakin berpikir tentang keberadaan sebuah bangsa bermartabat.

Akhir – akhir ini,  media massa sedang senang menjual berita perilaku ganjil warga ruang kelas ( semoga konsumen, pirsawan tidak kecanduan berita yang dijual ), seperti kekerasan geng, video mesum, aksi amoral memalukan berkedok senioritas, dan hal lain yang berkaitan. Bahkan pendidik tak sungkan melakukan aksi serupa.

Sebuah pertanyaan adalah apakah pantas perilaku – perilaku tersebut mensubstitusi dan kemudian mencitrakan definisi sejati sekolah atau aktivitas pendidikan, lebih khusus di Indonesia ? Jawabannya mudah, tidak pantas, sungguh tidak pantas.

Jelas pemerintah telah gagal mendefinisikan sebuah sistem pendidikan yang membangun, merdeka, pelopor, visioner, bukan sekedar rutinitas formalitas, dan berakhlak mulia.

Sebuah harapan – harapan positif adalah ruang kelas ramai seperti pasar ( positif ), papan tulis kotor ( positif ), buku robek ( positif ), warga ruang kelas saling bertukar ilmu ( positif ), warga ruang kelas tidak menantikan jam istirahat dan pulang ( positif ), dan warga ruang kelas saling menasehati dalam kebaikan.

Ketika harapan – harapan tersebut terwujud, adalah benar ketika Anda berpikir tentang keberadaan sebuah bangsa bermartabat.

Untuk kesekian kali, ini pekerjaan rumah kita bersama.

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Anarki, Anarkis, Anarkisme dan Anarkistik

Bulan ini, istilah anarki dan anarkis menjadi suatu istilah yang “menonjol” di banyak media massa. Penulis memperhatikan bahwa sebagian besar media massa itu, telah menggeserkan makna dalam penggunaan kata anarki dan anarkis. Yah, tulisan ini sekadar mengingatkan kembali makna sebenarnya dari kata anarki dan kata-kata derivatnya.

Cobalah membuka beberapa kamus, seperti kamus Oxford, Kamus Besar Bahasa Indonesia, berbagai kamus Inggris-Indonesia, Kamus Tesaurus dan lain-lain. Maka kita akan menemukan makna kata-kata (anarki dan derivatnya ini) sebagai berikut:

Anarki (dari kata anarchy), artinya ialah suatu keadaan dimana  tidak ada  kontrol kekuasaan atau hukum atau ketiadaan pemerintah/penguasa.

Sedangkan kata anarkis bermakna orang (anarkis=kata benda/noun, jadi bukan kata sifat) sebagai terjemahan dari kata anarchist, yang artinya penganut faham anarkisme.

[…]

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

Telah terbit “Perang Melawan Negara”

perangmelawannegara

Telah terbit buku berjudul “Perang Melawan Negara – Anarkisme dalam Pemikiran Gilles Deleuze dan Max Stirner”, sebuah terjemahan dari karya Saul Newman yang memiliki judul asli “War on the State: Stirner’s and Deleuze’s Anarchism”.

Karya dengan 61 halaman ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Tim Media Kontinum, dapat dibeli dengan harga Rp.10.000. Untuk pemesanan, bisa dilakukan langsung dengan mengontak Tim Media Kontinum melalui email ke kontinum@yahoo.com.

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | 2 Komentar

A global mayday call

To All Those Who Fight 4: Anarchy, Autonomy, Ecology, Queerness

To all media activists, creative workers, radical artists, union organizers, immigrant and precarious youth

In 2009, as millions are made unemployed by stupidity and greed, we call onto all insurgent people and networks out there to unite on the 1st of May for a global mayday against financial capitalism and state repression, and for social redistribution and self-emancipation.

[…]

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar

ORGANISASIKAN KOMUNITASMU: JANGAN MEMILIH!

Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton, Program Musik Dahsyat di RCTI 19 Feb 09

Semua revolusi modern telah berakhir dengan kembalinya kekuatan negara—Albert Camus

Dewasa ini, “demokrasi” menguasai dunia. Runtuhnya rezim komunis Rusia, pendudukan di Afghanistan dan Irak yang mengatasnamakan demokrasi, sistem Pemilu multipartai yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia Ketiga, pertemuan-pertemuan tingkat dunia yang membahas persoalan demokrasi ekonomi, pembantaian warga sipil palestina di Jalur Gaza dan serangan balas dendam pada warga Israel yang tidak bersalah demi kekuasaan modal, juga jadwal Pemilu pada bulan April 2009 di Indonesia—yang selalu diklaim dan digembar-gemborkan sebagai pesta demokrasi. Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah kita dan dunia? Kenyataannya dunia masih juga berjalan di antara kemiskinan, pengangguran, penghancuran ekologi, penghancuran hak-hak warga oleh korporasi, dan masalah-masalah lainnya. Lebih dari itu, kemandirian komunitas telah menjadi sesuatu yang benar-benar langka. Apakah ada yang salah dengan “demokrasi”? Apakah ada alternatif yang lebih memungkinkan dari “demokrasi”?
[…]

convert this post to pdf.

Print This Post Print This Post | Tidak ada komentar